EVIDENCE

Jamur Kombucha Stabilkan Metabolisme Tubuh

Jamur Kombucha Stabilkan Metabolisme Tubuh

By Republika Newsroom
Selasa, 28 Juli 2009 pukul 16:18:00 <!–

Iklan 468x60

–>

Jamur Kombucha Stabilkan Metabolisme TubuhISTIMEWAJAMUR KOMBUCHA

JAKARTA– Metabolisme tubuh memegang peranan penting dalam pembentukan kualitas kesehatan. Sedikit gangguan saja, berbagai sumber penyakit bisa mengintai. Untuk menjaga metoblisme tubuh tetap stabil beragam cara bisa dilakukan termasuk salah satunya dengan mengkonsumsi teh fermentasi jamur Kombucha.

Konon jamur yang berasal dari negeri gingseng korea itu diyakini berkhasiat mempengaruhi tubuh secara menyeluruh, dengan menstabilkan metabolisme tubuh dan menawarkan racun dengan asam glukuronat. Hal ini menyebabkan peningkatan kapasitas pertahanan endogenis tubuh terhadap pengaruh beracun dan tekanan lingkungan, sehingga metabolisme sel yang rusak diperkuat, dan berlanjut dengan pemulihan kesehatan tubuh.

Hal itu diperkuat dari beberapa penelitian yang telah dilakukan mengkonsumsi teh jamur Kombucha bisa mengobati sembelit, memperbaiki kondisi tubuh, bermanfaat melawan arteriosclerosis, memulihkan fungsi alat pencernaan, bermanfaat bagi penderita stres mental, menawarkan racun dan membunuh kanker.

Hal itu dihasilkan selama proses fermentasi dan oksidasi berlangsung (8-12 hari), sehingga terjadi berbagai reaksi pada larutan teh-manis secara asimilatif dan disimilatif. Jamur teh memakan gula, dan sebagai gantinya memproduksi zat-zat bermanfaat yang dalam minuman tersebut, seperti asam glukuronat, asam laktat, vitamin, asam amino, antibiotik, serta zat-zat lain. Maka dari itu, jamur kombucha ini bagaikan sebuah pabrik biokimia mini.

Seperti apa bentuknya? Secara karakteristik, jamur tersebut terdiri dari gelatinoid serta membrane jamur yang liat dan berbentuk piringan bulat serta hidup dalam lingkungan nustrisi teh-manis yang akan tumbuh secara berulang sehingga membentuk susunan piringan berlapis.

Piringan pertama akan tumbuh pada lapisan paling atas yang akan memenuhi lapisan, kemudian disusul oleh pertumbuhan piringan berlapis-lapis dibawahnya yang akan menebal. Bila dirawat secara benar, jamur ini akan tumbuh pesat dan sehat

Di Indonesia, untuk mendapatkan Kombucha terbilang mudah. Karena sudah banyak dijual dipasaran. Rata-rata harga yang ditawarkan untuk bibit jamur Kombucha 100 ribu-150 ribu rupiah. Anda pun bisa dengan mudah membiakan dan mengkonsumsi teh fermentasi jamur Kombucha dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Siapkan ekstraksi teh 10-20 gram bubuk teh ke dalam 1 liter air. Lantas saringlah teh yang telah diseduh dan campurkan dengan gula berkisar 10% dari volume air. Lalu larutan tersebut didinginkan.
  • Kemudian masukan bibit jamur kombucha ke dalam larutan teh dengan wadah toples. Tentu pemilihan wadah patut mempertimbangkan bahan yang khusus bahan pangan.
  • Wadah ditutup dengan kain/kertas dan disimpan pada suhu kamar selama 8-12 hari. Fermentasi berlangsung sekitar 8 – 12 hari, tergantung suhu. Lebih hangat temperatur ruangan, lebih cepat proses fermentasinya.
  • Usai melalui masa fermentasi, giliran proses pemisahan dan penyaringan.Lapisan selulosa yang terbentuk dipisahkan dari seduhan teh. Hasil fermentasi dan disimpan dalam toples lainnya. Seduhan teh lalu disaring supaya bersih dari residu fermentasi. Teh kombucha siap dikonsumsi.
  • Sebaiknya sebelum dikonsumsi dan disimpan produk tersebut dipanaskan dahulu, supaya tidak terjadi fermentasi lanjutan(Cakrawala, 2007).
  • Setiap kali selesai fermentasi pada saat pemisahan selalu disisakansepersepuluh (10%) bagian untuk keperluan pembuatan teh kombucha berikutnya. Tutup botol dengan rapat dengan menggunakan kain.
  • Minuman ini memilki rasa yang enak. Menyegarkan, sedikit kecut. Minumlah tiga gelas sehari dengan ukuran satu gelas (4 to 6 ons atau lebih) pada waktu perut kosong dipagi hari, gelas kedua setelah makan siang dan gelas ketiga pada saat menjelang tidur. Menuju sehat, tak terlalu rumit bukan? Selamat mencoba. (wikipedia/cr2/rin)

Studi: Obat Tamiflu tak Cocok Buat Orang Dewasa Sehat

Studi: Obat Tamiflu tak Cocok Buat Orang Dewasa Sehat
By Republika Newsroom
Minggu, 23 Agustus 2009 pukul 00:49:00 <!–

Iklan 468x60

–>

Studi: Obat Tamiflu tak Cocok Buat Orang Dewasa SehatPHARMACYVIS.COM

WASHINGTON–Obat flu Tamiflu dan Relenza mungkin tak cocok untuk mengobati influenza musiman pada orang dewasa yang sehat, kata beberapa peneliti Inggris, Jumat.”Merekomendasikan penggunaan obat anti-virus bagi perawatan orang yang memiliki beberapa gejala tampaknya bukan jalur tindakan yang paling cocok,” tulis Jane Burch dari University of York, dan rekannya.

Studi mereka, yang disiarkan di dalam “Lancet Infectious Diseases”, mendukung saran dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) –yang menyatakan pasien sehat yang terserang flu babi H1N1 tanpa menderita komplikasi tak memerlukan pengobatan anti-virus.Tamiflu, yang dibuat oleh perusahaan Swiss, Roche, berdasarkan lisensi dari Gilead Sciences Inc., adalah pil yang dapat mengobati dan mencegah segala jenis virus influenza A.

Zanamivir, yang dibuat oleh GlaxoSmithKline, berdasarkan lisensi dari perusahaan Australia, Biota, dan dijual dengan merek Relenza, adalah obat hirup di klas yang sama.WHO sangat menyarankan penggunaan kedua obat itu buat perempuan hamil, pasien dengan kondisi medis yang mendasari dan anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun, karena mereka menghadapi resiko yang meningkat terhadap penyakit yang lebih parah.

Tim Burch mengkaji beragam studi yang diterbitkan mengenai Tamiflu dan Relenza. “Kami menyajikan hasilnya buat orang dewasa yang sehat dan orang yang menghadapi resiko komplikasi yang berkaitan dengan influenza,” tulis mereka.Mereka mendapati kedua obat tersebut, rata-rata, memangkas setengah hari hari saat pasien sakit. Influenza biasanya mempengaruhi orang selama sekitar satu pekan.

Obat itu memberi hasil sedikit lebih baik pada orang yang memiliki resiko komplikasi, seperti pasien yang menderita diabetes atau asme, sementara Relenza mengurangi rasa sakit hampir satu hari dan Tamiflu sebanyak tiga-perempat per hari.Itu menunjukkan obat tersebut mesti diberikan kepada orang yang paling memerlukannya, kata para peneliti tersebut.

Banyak negara telah menimbun kedua obat itu. Flu babi H1N1 telah dinyatakan sebagai wabah dan menyebar ke seluruh dunia. Para pejabat kesehatan AS, Jumat, mengatakan penyakit tersebut masih bertambah parah di Jepang, kondisi membaik di Inggris dan masih aktif di Amerika Serikat.

Flu jarang menyerang di semua ketiga negara itu pada Agustus. Pabrik global menduga tak dapat menyediakan vaksin tersebut sampai akhir September atau Oktober. ant/rtr/kpo

Susu Sapi Bikin Bayi Alergi

Susu Sapi Bikin Bayi Alergi
Selasa, 12 Mei 2009 | 22:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Dokter spesialis anak ahli imunologi Dr Zakiudin Munasir mengatakan, susu sapi dan produk turunan susu sapi lainnya merupakan penyebab alergi terbesar, terutama pada bayi.

Dr Zakiudin Munasir, dalam seminar “Apakah Alergi diturunkan Secara Genetik” di Jakarta, Selasa, mengatakan, susu sapi yang merupakan protein asing utama bagi bayi pada bulan-bulan awal kehidupannya berpotensi menimbulkan reaksi alergi yang pertama kali, dengan gejala-gejala pada saluran cerna seperti diare dan muntah.

Menurut dia, adanya protein asing dalam tubuh bayi dan ditambah kondisi saluran pencernaannya yang belum sempurna, sehingga bayi rentan mengalami alergi yang diakibatkan oleh susu sapi ini.

“Makanan yang cocok untuk bayi adalah ASI (air susu ibu). Itulah sebabnya, bayi disarankan diberi ASI (air susu ibu) eksklusif, setidaknya hingga usia 6 bulan,” kata Zakiudin.

Fungsi ASI dalam mencegah alergi karena mengandung zat gizi lengkap yang dibutuhkan bayi, termasuk protein “Hypo allergenik”, DHA, probiotik dan kolostrum yang dapat melindungi bayi dari alergi.

Alergi merupakan reaksi kekebalan tubuh yang menyimpang atau berubah dari normal yang dapat menimbulkan gejala merugikan tubuh mulai dari gangguan pernafasan, kulit hingga mata.

Selain susu sapi, Zaikudin juga menyebut makanan lain, seperti telur, makanan laut, kacang-kacangan dan masih banyak lagi macamnya pemicu alergi.

Zakiudin menjelaskan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat yang semakin modern.

Dia menyebut, banyaknya zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman, selain itu tingginya polusi saat ini merupakan penyebab terjadinya alergi.

“Memang alergi di Indonesia tidak sebesar di negara maju lainnya, namun ityu perlu diwaspadai,” tegasnya.

Zakiudin menyebut tiga tindakan pencegahan terjadinya alergi, yakni menghindari pencetus alergi, menjalani hidup sehat dan memakai obat-obatan.

“Jika terjadi alergi, hindari makanan atau hal lain yang menjadi pemicunya. Jika sudah terjadi yang lakukan dengan obat-obatan atau terapi,” katanya.

Terkait pengobatan alergi, dokter biasanya memberikan obat-obatan seperti antihistamin dan kortikosteroid (baik yang diberikan lewat mulut, suntikan, maupun inhalasi) untuk memperkuat dinding sel mast dalam tubuh pasien.

Depkes: Vaksin Meningitis tak Berenzim Babi

http://www.republika.co.id/koran/14/48813/Depkes_Vaksin_Meningitis_tak_Berenzim_Babi

Depkes: Vaksin Meningitis tak Berenzim Babi

Kamis, 07 Mei 2009 pukul 22:45:00

MEDAN — Departemen Kesehatan RI melalui Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Prof dr Tjandra Yoga Adhitama, memastikan bahwa vaksin meningitis yang disuntikkan kepada jamaah haji dan umrah tidak mengandung bahan dari babi. Untuk itu, para calon jamaah haji atau umrah diminta agar tak ragu dengan suntik meningitis yang dilakukan Depkes.

“Kepastian tidak adanya kandungan babi ini merupakan penjelasan resmi dari Depkes RI bahwa vaksin meningitis untuk calon jamaah haji dan umrah tidak mengandung bahan dari babi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Utara, dr Candra Syafei SpOG, yang mengutip surat resmi dari Depkes tersebut, kemarin (6/5).

Dalam surat tertanggal 4 Mei 2009 yang dikeluarkan melalui Pusat Komunikasi Publik Depkes RI itu, Dirjen P2PL menyatakan, vaksin yang digunakan calon jamaah haji dan umrah Indonesia adalah vaksin meningitis Mencevax ACWY. Dalam proses pembuatannya, vaksin ini menggunakan kultur media yang bebas binatang, termasuk bebas dari >material bovine (sapi) dan porcine (babi).

“Jadi, vaksin meningitis yang digunakan jamaah haji dan umrah tidak mengandung unsur babi,” ujar Candra yang mengutip pernyataan Dirjen P2PL dalam surat tersebut. Bahkan, lanjut Candra, dalam surat tersebut, Depkes RI menyatakan, vaksin itu juga digunakan jamaah haji dari Arab Saudi, Iran, Nigeria, Yaman, Malaysia, Filipina, Singapura, Pakistan, Bangladesh, Ghana, India, Kazakstan, Kuwait, Lebanon, dan lain-lain.

Candra menambahkan, Pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap jamaah haji atau umrah divaksin meningitis agar terhindar dari penyakit radang selaput otak. Menurut dia, gejala klinis penyakit itu adalah demam (panas tinggi) mendadak, nyeri kepala, mual, muntah, ketahanan fisik melemah, dan kemerahan di kulit. Pada keadaan lanjut, kesadaran menurun sampai koma serta terjadi pendarahan.

“Berkumpulnya populasi dalam jumlah besar dari berbagai negara di Arab Saudi, seperti pada musim haji, berpotensi terhadap penyebaran kuman dan penyakit. Karena itu, pemberian vaksinasi merupakan upaya yang penting dalam memberi perlindungan kesehatan jamaah haji,” ujar Candra.

Penjelasan Depkes itu berbeda dengan hasil temuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan LPPOM MUI Sumatra Selatan. Berdasarkan hasil penelitian dengan melibatkan Universitas Sriwijaya, LPPOM MUI Sumsel menemukan adanya kandungan enzim <I>porchin<I> dalam vaksin meningitis untuk jamaah haji dan umrah.

Direktur LPPOM MUI Pusat, Muhamad Nadratuzzaman Hosen, juga sempat mengatakan, kasus vaksin meningitis mengandung enzim babi ini merupakan kasus lama. ”Departemen Kesehatan juga tahu, tapi hanya didiamkan. Banyak vaksin yang mengandung enzim babi, bukan vaksin meningitis saja,” ungkapnya.  nin/hri

MUI: Vaksin Meningitis Mengandung Enzim Babi

http://www.republika.co.id/koran/14/46293/MUI_Vaksin_Meningitis_Mengandung_Enzim_Babi

MUI: Vaksin Meningitis Mengandung Enzim Babi

Sabtu, 25 April 2009 pukul 21:26:00

LPPOM MUI Sumatra Selatan menemukan fakta vaksin meningitis mengandung enzim porchin dari babi.PALEMBANG — Majelis Ulama Indonesia Sumatra Selatan (MUI Sumsel) mengingatkan pemerintah untuk mengganti vaksin meningitis (radang selaput otak) yang biasa digunakan untuk jamaah haji dan umrah. Pasalnya, vaksin meningitis itu mengandung enzim porchin yang berasal dari babi.Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun, menegaskan, kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis terungkap setelah Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) di provinsi itu melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri).”MUI Sumsel melakukan penelitian tersebut, setelah tiga bulan lalu mendapat laporan tentang adanya kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis,” ungkap Kiai Sodikun kepada Republika, Jumat (24/4). Setelah mendapat laporan itu, papar dia, LPPOM MUI yang dipimpin langsung ketuanya, Prof Nasruddin Iljas, melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Unsri, salah satunya, Prof T Kamaludin, direktur Program Pascasarjana Unsri…

Enzim Babi di Vaksin Meningitis Haji

http://www.republika.co.id/berita/46193/Enzim_Babi_di_Vaksin_Meningitis_Haji

Enzim Babi di Vaksin Meningitis HajiBy Republika Newsroom
Jumat, 24 April 2009 pukul 17:13:00

PALEMBANG — Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan (MUI Sumsel) memperingatkan agar pemerintah mengganti vaksin meningitis yang digunakan untuk calon jemaah haji atau umrah karena vaksin tersebut diduga mengandung enzim dari babi.

Ketua MUI Sumsel KH Sodikun, Jum’at (24/4) mengatakan, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sumsel telah melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri)  ditemukan bahwa vaksin antiradang otak (antimeningitis) untuk calon jemaah haji tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi.

“MUI Sumsel melakukan penelitian tersebut setelah sekitar tiga bulan lalu mendapat laporan tentang adanya kandungan enzim babi tersebut. Lalu LPPOM MUI dengan dipimpin ketuanya Prof Nasruddin Iljas melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Unsri diantaranya Prof. T. Kamaludin Direktur Program Pasca Sarjana Unsri,” kata Sodikun memaparkan

“Hasilnya ditemukan adanya kandungan enzim porchin yang berasal dari binatang babi,” ujar Sodikun menambahkan.

Temuan tersebut menurut Sodikun sudah disampaikan kepada pemerintah dan MUI Pusat agar ditindaklanjuti.

“Kami meminta pemerintah segera mengganti vaksin yang digunakan sekarang dengan vaksin yang halal dan bebas darin enzim binatang yang diharamkan tersebut,” ujar Sodikin.

“Sampai sekarang permintaan kami tidak mendapat tanggapan. Melalui informasi yang kami sampaikan lewat media massa, MUI Sumsel berharap Menteri Agama segera tanggap,” imbuhnya.

Sebelumnya, Prof Nasruddin Iljas Ketua LPPOM MUI Sumsel menjelaskan, negara lain seperti Malaysia telah menggunakan vaksin meningitis yang halal dari sapi.

“Jadi sudah seharusnya pemerintah pusat, khususnya Departemen Agama segera mencari alternatif pengganti vaksin meningitis yang tidak mengandung binatang babi.”

Nasruddin mengatakan, jika produk makanan, obat-obatan serta kosmetik mengandung bahan yang tidak halal maka akan menghambat bahkan menyebabkan ibadah umat Islam sia-sia. “Ini harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang marak beredar makanan yang berasal dari daging babi,” tambahnya.

Terhadap para jemaah haji yang telah menggunakan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi tersebut, Ketua MUI Sumsel menjelaskan, masuknya zat haram ke dalam tubuh para calon jemaah haji  itu berakibat menghalangi kemabruran hajinya. Sebab syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga.

“Kalau tubuh kita kemasukan zat yang diharamkan maka dapat menghalangi terkabulnya doa. Tapi bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap dilaksanakan,” tegasnya./oed/itz

MUI Sumsel Yakini Vaksin Meningistis untuk Calhaj Haram

http://republika.co.id/berita/46652/MUI_Sumsel_Yakini_Vaksin_Meningistis_untuk_Calhaj_Haram

MUI Sumsel Yakini Vaksin Meningistis untuk Calhaj Haram

By Republika Newsroom

Senin, 27 April 2009 pukul 11:42:00

PALEMBANG — Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan (MUI Sumsel) tetap pada sikapnya, meyakini bahwa vaksin meningitis yang digunakan untuk calon jemaah haji atau umrah tersebut haram karena mengandung enzim yang berasal dari binatang babi. Ketua MUI Sumsel KH Sodikun, Senin (27/4) menegaskan, apa yang disampaikan LPPOM MUI Sumsel bersama para pakar sudah melalui diskusi dan pengkajian. “Hasil kajian MUI Sumsel ini sudah kami sampaikan ke MUI pusat melalui forum Rakernas MUI pada November 2008 di Jakarta. Namun apa yang kami sampaikan sampai kini belum ada respon baik dari Menteri Agama dan Menteri Kesehatan,” ujarnya. Menurut Sekretaris MUI Sumsel KH Ayik Farid, “Dalam Rakernas MUI sudah kami sampaikan bahwa proses pembuatan vaksin meningitis tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi. LPPOM MUI Pusat juga sudah mengakui itu, namun karena sudah ada kontrak pengadaan vaksin tersebut selama lima tahun maka penggunaannya tidak bisa diganti.” Ayik Farid juga mengakui, bahwa temuan MUI Sumsel tersebut sudah melewati forum diskusi dengan para pakar, diantaranya pakar farmakologi Prof Dr T Kamaluddin Ketua Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya (Unsri), pakar penyakit dalam dan pakar dokter anak. “Jadi apa yang kami sampaikan tentang vaksin meningitis yang mengandung enzim babi bukan tanpa melalui kajian. Kajian ini sudah kami sampaikan ke MUI Pusat melalui forum Rekernas MUI pada Novermber 2008. MUI Sumsel bukan ingin membuat keresahan di tengah masyarakat. MUI Sumsel berharap masalah ini segera menjadi perhatian serius Departemen Agama dan Departemen Kesehatan,” tambah Sodikun. Sementara itu Prof Nasruddin Iljas Ketua LPPOM MUI Sumsel menjelaskan, negara lain seperti Malaysia telah menggunakan vaksin meningitis yang halal dari sapi. “Jadi sudah seharusnya pemerintah pusat, khususnya Departemen Agama segera mencari alternatif pengganti vaksin meningitis yang tidak mengandung binatang babi.” Nasruddin mengatakan, jika produk makanan, obat-obatan serta kosmetik mengandung bahan yang tidak halal maka akan menghambat bahkan menyebabkan ibadah umat Islam sia-sia. “Ini harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang marak beredar makanan yang berasal dari daging babi,” tambahnya. Terhadap para jemaah haji yang telah menggunakan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi tersebut, Ketua MUI Sumsel menjelaskan, masuknya zat haram ke dalam tubuh para calon jemaah haji itu berakibat menghalangi kemabruran hajinya. Sebab syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga. “Kalau tubuh kita kemasukan zat yang diharamkan maka dapat menghalangi terkabulnya doa. Tapi bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap dilaksanakan,” tegasnya. oed/fif

Ekstrak Meniran Terbukti Cegah Influenza Jemaah Haji

Ekstrak Meniran Terbukti Cegah Influenza Jemaah Haji
Senin, 30 Maret 2009 | 23:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemberian Phyllanthus niruri atau ekstrak meniran bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko Penyakit influenza-like illness (ILI) pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.

Demikian paparan DR.Masdalina Pane, SKM, MKes dan koleganya yang meneliti khasiat meniran untuk mencegah ILI pada jemaah haji Indonesia dari subdirektorat kesehatan haji Depkes RI di Jakarta, Senin (30/03).

Isu kesehatan pada jemaah haji Indonesia selalu menjadi topik hangat tiap tahunnya. Penyakit ILI yang merupakan salah satu Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang sering ditemukan pada jemaah haji Indonesia berdasarkan laporan tahunan pelaksanaan haji.

Masdiana menjelaskan influenza-like illness (ILI) secara klinis didefinisikan sebagai ISPA yang disebabkan oleh virus dengan gejala utama batuk kering, demam tinggi sekitar 38,5 derajat celcius, rasa lelah berlebihan, nyeri otot, meriang, demam, sakit kepala, tenggorokan dan hilang nafsu makan.

Ia mengatakan berdasarkan data laporan tahunan penyelenggaran haji, hampir 60% jemaah haji Indonesia tiap tahunnya terkena ISPA, dan 85% nya merupakan ILI dan hanya 15% saja yang benar-benar influenza.

Masdalina mengatakan selama ini jemaah haji Indonesia hanya diberikan vaksin Meningitis meningocous secara gratis sebelum berangkat ke tanah suci. Sementara itu bagi jemaah yang memerlukan vaksin tambahan, biasanya akan diberi vaksin influenza sesuai permintaan jemaah.

Namun menurutnya pemberian vaksin influenza juga tidak dapat mencegah individu terserang ILI, karena strain patogen virus yang menyebabkan ILI berbeda dengan influenzea.

Berangkat dari permasalahan tersebut, maka subdirektorat kesehatan haji Depkes RI bersama dengan Divisi alergi-imunologi klinik departemen penyakit dalam FK UI, RSCM dan didukung oleh PT Dexa Medica mengadakan penelitian dan uji klinis untuk pencegahan ILI pada jemaah haji Indonesia.

dr.Iris Rengganis, SpPD, KAI, salah satu peneliti yang melakukan uji klinis terhadap jemaah haji dari departemen ilmu penyakit dalam FKUI mengatakan penelitian ini dilakukan pada 309 jemaah haji Indonesia tahun 2007/2008(1428 H) dengan kisaran usia 18-65 tahun yang secara klinis dinilai sehat oleh tim kesehatan haji.

“Dalam penelitian ini jemaah dibagi sebara acak menjadi tiga kelompok,” ujar Iris. Kelompok pertama dan kedua hanya diberikan Phyllanthus niruri atau multivitamin saja. Sedangkan kelompok satunya lagi diberikan kombinasi keduanya.

“Produk uji kita berikan dengan dosis dua kali sehari untuk kapsul Phyllanthus niruri 50 mg dan sekali sehari untuk tablet multivitamin selama 40 hari yang meliputi seminggu sebelum berangkat dari tanah air dan selama perjalanan haji,” jelas Iris.

Selama mengikuti penelitian, subyek tidak diperkenankan minum suplemen lainnya. Setelah 40 hari uji coba, selanjutnnya dilakukan evaluasi klinis. Menurut Iris, dari hasil evaluasi klinis didapat data yang menunjukkan pemberian Phyllanthus niruri tunggal kepada kelompok pertama menunjukkan penurunan jumlah jamaah yang terjangkit ILI menjadi 10,5%, kelompok multivitamin tunggal sebesar 12,7 %, dan kelompok kombinasi sebesar hanya 8,1%.

“Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang mendapatkan kombinasi keduanya dapat menekan kemungkinan terkena ILI paling kecil diikuti dengan kelompok yang mendapat meniran tunggal. Baru setelah itu kelompok yang hanya mendapat multivitamin,” tutur Iris.

Menurutnya kesimpulan yang didapat adalah pemberian Phyllanthus niruri bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko ILI pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.

Sementara itu peneliti sub bagian patologi Universitas Airlangga, DR.Drs.Suprapto Maat, MS.Apoteker pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa ekstrak tanaman Phyllantus niruri telah dibuktikan secara klinis oleh peneliti yang bernama Thabrew dapat meningkatkan aktivitas sistem komplemen melalui jalur klasik yang pada akhirnya dapat meningkatkan sitotoksisitas sel natural killer (NK) untuk menambah daya tahan tubuh.

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok Pulih

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok Pulih
By Republika Newsroom
Rabu, 04 Maret 2009 pukul 14:34:00 <!–
Iklan 468x60

–>

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok PulihCORBIS.COM

PEMICU: Salah satu pemicu Sindrom Stevens-Jhonson adalah obat-obatan. Pasien seharusnya mengkonsultasikan setiap obat yang akan dikonsumsi

http://www.republika.co.id/berita/35352/Pasien_Sindrom_Stevens_Johnson_Depok_Pulih

DEPOK-Bocah penderita Stevens-Johnson Syndrome yang sempat diisukan sakit karena diimunisasi TT (tokso tetanus) di Kota Depok, Syadiah (7 tahun) dinyatakan pulih setelah 18 hari dirawat di RS Sentra Medika, Depok. Sementara pengawasan konsumsi obat-obatannya masih diperketat. ”Kondisi terakhir Syadiah memungkinkan untuk berobat jalan dan dinyatakan 99 persen sembuh,” terang dokter spesialis anak RS Sentra Medika yang merawat pasien, Indra Sugiarno, Rabu (4/3). Setelah lepas infus lima hari lalu, ujar Indra, Syadiah langsung dikenalkan makanan padat. Bahkan, kini ia bisa makan hidangan favoritnya, mie instan. Selain itu, dokter kulit RS Sentra Medika masih terus memantau kondisi kulit ari pasien pasca pengelupasan seminggu sekali. Lantaran warna kulit Syadiah tidak rata akibat terkelupas (hipopigmentasi). Saat ditanya tentang penyebab penyakit Syadia, Indra belum bisa memastikan karena ada beberapa faktor pemicu, seperti obat, makanan, genetik serta faktor lainnya yang belum diketahui ilmu medis. Namun, ia memastikan penyakit Syadiah ini bukan disebabkan karena imunisasi. ”Kemungkinan besar Syadiah punya faktor genetik yang menyebabkan dia rentan terkena Stevens-Johnson Syndrome dan dari obat-obatan yang diminum,” terangnya. Maka, orangtua Syadiah harus mengkonsultasikan terlebih dulu obat yang dikonsumsi. Terutama dua jenis obat yang acapkali jadi sumber penyakit ini, yaitu obat antikejang dan antiasam urat. Beruntungnya, resiko fatal sindrom ini pada Syadiah hanya sekitar 30 persen. Sehingga ia bisa pulih lebih cepat dan terhindar dari kondisi yang memberatkan penyakit ini, seperti perlengketan saluran pernafasan dan pencernaan yang saling berhadapan di rongga dalam. Di kesempatan yang sama, Sadiyah yang selama perawatan terkesan takut diekspos, saat jumpa pers kemarin ia mau menjawab pertanyaan wartawan dengan sedikit malu-malu. “Saya besok pengen sekolah dan ketemu teman-teman,” ujarnya. Sementara itu, ayah Syadiah, Prasetyo merasa bersyukur atas kesembuhan putrinya. Ia juga mengaku merasa terbantu dengan penanganan medis RS Sentra Medika yang tanggap serta berterima kasih pada Dinkes Kota Depok yang membantu masalah pembiayaan melalui Jamkesmas. Sebelumnya, kasus Syadiah ini menyeret Dinkes Kota Depok yang dituding tidak mendiagnosa terlebih dulu anak-anak yang ikut imunisasi. Akibatnya, Syadiah yang menjadi salah satu peserta imunisasi tiba-tiba mengalami sakit yang mengakibatkan kulit tubuhnya menghitam dari wajah hingga pangkal paha. c84/itz

Menderita Lumpuh Setelah Jalani Operasi

http://sesama.vivanews.com/news/read/18060-menderita_lumpuh_setelah_jalani_operasi

Menderita Lumpuh Setelah Jalani Operasi
Orang tua Irfan merasa tertipu dengan rumah sakit yang mengoperasi anaknya, penghasilannya dari berdagang tanaman tidak cukup untuk bayar pengacara menuntut rumah sakit.
Jum’at, 26 Desember 2008, 17:15 WIB
Irfansyah menderita kelumpuhan (Inin Nastain/VIVAnews)

VIVAnews – Iri rasanya melihat anak-anak lain begitu riang, dapat berlari, tertawa dan bermain bersama anak-anak kecil lainnya, seperti dulu. Kini, bocah berusia 3,5 tahun itu hanya bisa terdiam dibalik kursi rodanya. Canda, tawa dan bahkan tangis kini tidak lagi terngiang di telinga keluarga pasangan suami isteri, Heri Yudi dan Atik Rohayati.

Sejak menderita kelumpuhan akibat kekurangan oksigen di tempurung otaknya, keluarganya tidak lagi melihat anaknya bersorak,
teriak, dan bermain bersama. Jangankan bergerak, bersuara saja tidak bisa. Saat ini, Irfan praktis menghabiskan hari-harinya di tempat tidur dan kursi Roda.

Kegiatan makan dan buang airpun, Irfan lakukan didua tempat tersebut. Irfan hanya bisa berbaring ditempat tidur. Bahkan, sekali-kali Irfan suka meneteskan air mata merintih kesakitan.

Kedua orang tuanya tidak tahu lagi harus berbuat apa, berbagai cara dan usaha sudah ditempuh. Bahkan mendatangi dinas sosial pemerintah daerah, layaknya pengemis pun sudah dilakoninya. Tetapi, hasilnya hingga kini Irfan masih begitu-begitu saja.

“Dulu anak itu begitu ceria, selalu membuat kami tertawa, bangga dan tenang walaupun hidup kami pas-pasan, sekarang bila melihat anak itu, yang kami lakukan hanya menangis,” ujar Atika ibu kandung Irfan.

Menurut Heri, ayah Irfan, lumpuh yang diderita anaknya bermula saat Irfan sakit panas berkepanjangan. Khawatir dengan kondisinya, Irfan dilarikan ke salah satu rumah sakit di Subang. Namun minimnya peralatan yang kurang memadai, Irfan dirujuk ke Rumah Sakit lain di Bandung yakni RS. Hasan Sadikin.

Dua bulan dirawat, hasilnya cukup menggembirakan, Irfan pun kembali sembuh dari penyakit panasnya. Namun beberapa minggu sepulang dari RS Hasan Sadikin, Irfan kembali terserang panas namun tidak separah seperti sebelumnya.

“Dalam adat kami, kalau ada anak yang sering sakit panas harus di Segan (dipisahkan dengan orang tuanya dalam beberapa waktu). Jadi si Aa (Irfan biasa disebut Aa oleh keluarganya), dibawa sama bibinya, Nani, ke daerah Telukmibing Barat, Tanjung Perak, Surabaya,” kata Heri.

Hasilnya cukup baik, suhu badan kembali normal. Tetapi, entah mengapa, beberapa minggu kemudian, panasnya kembali meningkat, dan Irfan harus menjalani perawatan khusus, di Rumah Sakit Soetomo, Surabaya. Saat itu juga dokter bilang kalau Irfan harus menjalani operasi karena kelainan pada otaknya.

Saat itu tahun 1999, operasi berjalan lancar dan selamat. Usai operasi, Irfan dibawa kembali kerumah, di Tanjung Perak, dengan kondisi badan harus dipasang selang dari pusar hingga ke batok kepala belakang. Dokter bilang, untuk membantu oksigen yang mengalami kekurangan di tempurung kepala Irfan.

“Anehnya setelah dioperasi, Irfan justru mengalami cacat, bukanya sembuh, malah Irfan, tidak bisa jalan, bahkan tidak bisa bicara, seperti orang gagu saja,” tutur Heri.

Dokter RS Hasan Sadikin mendiagnosa bahwa Irfan menderita Ensapalitis, namun pihak RS Hasan Sadikin tidak berani
mengoperasi, karena harus dapat ijin dari RS yang melakukan operasi awal.

Kalaupun harus dioperasi ulang, tidak memungkinkan, mengingat biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Apalagi, ayah Irfan sehari-harinya hanya berdagang tanaman hias di kawasan puncak, yang dikirim temannya dari Majalengka.

Melihat kondisi anaknya yang semakin memprihatinkan, orang tua Irfan menuding pihak rumah sakit di Surabaya yang menyebabkan anaknya lumpuh.

Merasa tertipu dengan pihak rumah sakit yang salah mengoperasi anaknya, keluarga Irfan menuntut keadilan, kasus Irfan diadukan ke Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan (LBHK) untuk menuntut pihak rumah sakit yang mengoperasi Irfan.

“Dengan didampingi dari LBHK, saya menuntut pihak RS. Soetomo, Surabaya. Hasilnya, mereka acuh dan lepas tangan. Tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan kasus yang dialami anak kami,”

Walupun sempat keluarga mendapat kabar, bahwa Kapolwil Jawa Timur sudah mengirim surat ke rumah sakit untuk dimintai keterangan. Tetapi, hingga kini rumah sakit, belum juga merespons panggilan tersebut.

Keluarga pun pasrah, jangankan untuk membayar pengacara menuntut rumah sakit, untuk keperluan pengobatan dan membeli susu sehari-hari harus mengemis sana-sini.

Sampai-sampai, Irfan mengajukan bantuan ke pemerintah daerah, dan Dinas Sosial Subang. Namun lagi-lagi ditolak, dengan berbagai alasan.

Saat ini, dia berharap, ada pengusaha yang mau memberikan bantuannya untuk kesembuhan Irfan, yang sudah bertahun-tahun mengalami kelumpuhan akibat penyakit yang bersarang ditubuhnya.

Irfan yang seharusnya sudah kelas 1 tingkat SLTP, kondisinya  belum terlihat banyak perkembangan. “Teman sebayanya sudah kelas satu SMP. Suka sedih kalau melihat anak-anak lainnya pulang sekolah, kalau dia bisa ngomong, mungkin dia ngomong pengen sekolah,” kata Heri.

Reporter: Inin Nastain | Subang