DAMAGE

Produk Suplemen Timbulkan Risiko Ginjal Kronik

http://republika.co.id/berita/89746/Produk_Suplemen_Timbulkan_Risiko_Ginjal_Kronik

Produk Suplemen Timbulkan Risiko Ginjal Kronik

By Republika Newsroom
Selasa, 17 November 2009 pukul 04:44:00

YOGYAKARTA–Berbagai produk suplemen yang beredar disinyalir mengandung satu atau lebih bahan yang dapat menimbulkan risiko penyakit ginjal kronik pada pengonsumsinya, kata ahli penyakit ginjal dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Djarwoto SpPD.

“Satu produk suplemen mengandung vitamin, mineral, bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, asam amino, dan bahan yang digunakan untuk meningkatkan kecukupan gizi seperti konsentrat, metabolit, konstituen, ekstrak, dan beberapa bahan kombinasi,” katanya di Yogyakarta, Senin.

Pada seminar penggunaan “food supplement” yang rasional, ia mengatakan, minuman suplemen engeri mengandung multivitamin, kafein, taurin, mineral, dan glukosa. Taurin hingga kini masih diragukan keamanannya, apalagi jika dikonsumsi setiap hari.

“Uji coba pada binatang, dengan memberikan minuman yang mengandung dosis taurin 462 miligram (mg) per kilogram berat badan (kgbb) per hari pada babi dapat menimbulkan infiltrasi lemak pada hepar,” katanya.

Terdapat keterkaitan kebiasaan mengonsumsi produk suplemen termasuk minuman suplemen energi dengan kejadian cuci darah akibat penyakit gagal ginjal kronik.

“Produk suplemen bersifat dose-dependence, yakni semakin banyak dikonsumsi, risiko untuk mengalami gagal ginjal kronik juga semakin tinggi,” kata dosen Fakultas Kedokteran UGM ini.

Menurut dia, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) tidak menggolongkan berbagai produk suplemen sebagai obat. Oleh karena itu, terkait dengan aspek perizinan untuk produksi dan pengontrolan peredarannya tidak seketat obat.

Dalam hal ini diperlukan sikap kehati-hatian masyarakat dalam mengonsumsi produk suplemen secara bebas. Masyarakat juga perlu mencermati komposisi dan daftar bahan-bahan yang terkandung.

Sehubungan dengan hal itu, masyarakat diharapkan mempertimbangkan kembali kebiasaan mengonsumsi produk suplemen. “Masyarakat jangan hanya merasa gengsi, terbawa tren atau memenuhi faktor sugesti. Masyarakat juga perlu melihat kondisi tubuh, manfaat yang diinginkan, dan daya beli,” katanya. ant/ahi

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok Pulih

By Republika Newsroom
Rabu, 04 Maret 2009 pukul 14:34:00

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok PulihCORBIS.COMPEMICU: Salah satu pemicu Sindrom Stevens-Jhonson adalah obat-obatan. Pasien seharusnya mengkonsultasikan setiap obat yang akan dikonsumsi

DEPOK-Bocah penderita Stevens-Johnson Syndrome yang sempat diisukan sakit karena diimunisasi TT (tokso tetanus) di Kota Depok, Syadiah (7 tahun) dinyatakan pulih setelah 18 hari dirawat di RS Sentra Medika, Depok. Sementara pengawasan konsumsi obat-obatannya masih diperketat.

”Kondisi terakhir Syadiah memungkinkan untuk berobat jalan dan dinyatakan 99 persen sembuh,” terang dokter spesialis anak RS Sentra Medika yang merawat pasien, Indra Sugiarno, Rabu (4/3).

Setelah lepas infus lima hari lalu, ujar Indra, Syadiah langsung dikenalkan makanan padat. Bahkan, kini ia bisa makan hidangan favoritnya, mie instan. Selain itu, dokter kulit RS Sentra Medika masih terus memantau kondisi kulit ari pasien pasca pengelupasan seminggu sekali. Lantaran warna kulit Syadiah tidak rata akibat terkelupas (hipopigmentasi).

Saat ditanya tentang penyebab penyakit Syadia, Indra belum bisa memastikan karena ada beberapa faktor pemicu, seperti obat, makanan, genetik serta faktor lainnya yang belum diketahui ilmu medis. Namun, ia memastikan penyakit Syadiah ini bukan disebabkan karena imunisasi.

”Kemungkinan besar Syadiah punya faktor genetik yang menyebabkan dia rentan terkena Stevens-Johnson Syndrome dan dari obat-obatan yang diminum,” terangnya. Maka, orangtua Syadiah harus mengkonsultasikan terlebih dulu obat yang dikonsumsi. Terutama dua jenis obat yang acapkali jadi sumber penyakit ini, yaitu obat antikejang dan antiasam urat.

Beruntungnya, resiko fatal sindrom ini pada Syadiah hanya sekitar 30 persen. Sehingga ia bisa pulih lebih cepat dan terhindar dari kondisi yang memberatkan penyakit ini, seperti perlengketan saluran pernafasan dan pencernaan yang saling berhadapan di rongga dalam.

Di kesempatan yang sama, Sadiyah yang selama perawatan terkesan takut diekspos, saat jumpa pers kemarin ia mau menjawab pertanyaan wartawan dengan sedikit malu-malu. “Saya besok pengen sekolah dan ketemu teman-teman,” ujarnya.

Sementara itu, ayah Syadiah, Prasetyo merasa bersyukur atas kesembuhan putrinya. Ia juga mengaku merasa terbantu dengan penanganan medis RS Sentra Medika yang tanggap serta berterima kasih pada Dinkes Kota Depok yang membantu masalah pembiayaan melalui Jamkesmas.

Sebelumnya, kasus Syadiah ini menyeret Dinkes Kota Depok yang dituding tidak mendiagnosa terlebih dulu anak-anak yang ikut imunisasi. Akibatnya, Syadiah yang menjadi salah satu peserta imunisasi tiba-tiba mengalami sakit yang mengakibatkan kulit tubuhnya menghitam dari wajah hingga pangkal paha. c84/itz

Susu Sapi Bikin Bayi Alergi

Susu Sapi Bikin Bayi Alergi
Selasa, 12 Mei 2009 | 22:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Dokter spesialis anak ahli imunologi Dr Zakiudin Munasir mengatakan, susu sapi dan produk turunan susu sapi lainnya merupakan penyebab alergi terbesar, terutama pada bayi.

Dr Zakiudin Munasir, dalam seminar “Apakah Alergi diturunkan Secara Genetik” di Jakarta, Selasa, mengatakan, susu sapi yang merupakan protein asing utama bagi bayi pada bulan-bulan awal kehidupannya berpotensi menimbulkan reaksi alergi yang pertama kali, dengan gejala-gejala pada saluran cerna seperti diare dan muntah.

Menurut dia, adanya protein asing dalam tubuh bayi dan ditambah kondisi saluran pencernaannya yang belum sempurna, sehingga bayi rentan mengalami alergi yang diakibatkan oleh susu sapi ini.

“Makanan yang cocok untuk bayi adalah ASI (air susu ibu). Itulah sebabnya, bayi disarankan diberi ASI (air susu ibu) eksklusif, setidaknya hingga usia 6 bulan,” kata Zakiudin.

Fungsi ASI dalam mencegah alergi karena mengandung zat gizi lengkap yang dibutuhkan bayi, termasuk protein “Hypo allergenik”, DHA, probiotik dan kolostrum yang dapat melindungi bayi dari alergi.

Alergi merupakan reaksi kekebalan tubuh yang menyimpang atau berubah dari normal yang dapat menimbulkan gejala merugikan tubuh mulai dari gangguan pernafasan, kulit hingga mata.

Selain susu sapi, Zaikudin juga menyebut makanan lain, seperti telur, makanan laut, kacang-kacangan dan masih banyak lagi macamnya pemicu alergi.

Zakiudin menjelaskan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat yang semakin modern.

Dia menyebut, banyaknya zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman, selain itu tingginya polusi saat ini merupakan penyebab terjadinya alergi.

“Memang alergi di Indonesia tidak sebesar di negara maju lainnya, namun ityu perlu diwaspadai,” tegasnya.

Zakiudin menyebut tiga tindakan pencegahan terjadinya alergi, yakni menghindari pencetus alergi, menjalani hidup sehat dan memakai obat-obatan.

“Jika terjadi alergi, hindari makanan atau hal lain yang menjadi pemicunya. Jika sudah terjadi yang lakukan dengan obat-obatan atau terapi,” katanya.

Terkait pengobatan alergi, dokter biasanya memberikan obat-obatan seperti antihistamin dan kortikosteroid (baik yang diberikan lewat mulut, suntikan, maupun inhalasi) untuk memperkuat dinding sel mast dalam tubuh pasien.

Akibat Imunisasi Tetanus, Jiwa Syadiah Terancam

Akibat Imunisasi Tetanus, Jiwa Syadiah Terancam

http://autos.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/02/21/1/194956/akibat-imunisasi-tetanus-jiwa-syadiah-terancam
Sabtu, 21 Februari 2009 – 11:27 wib
Marieska Harya Virdhani – Okezone

Foto: Marieska/okezone

DEPOK – Dokter spesialis anak Rumah Sakit Sentra Medika Depok menyatakan nyawa Syadiah (7), bisa saja melayang apabila tidak mendapatkan pertolongan secepatnya.

Pelajar kelas 1 sekolah dasar itu terpaksa dirawat setelah kondisi kesehatannya terus memburuk, usai mendapat imunisasi tetanus di sekolahnya. Belakangan diketahui, ternyata Syadiah menderita Stepen Jhonson Syndrome.

“Penyakit ini bisa mengancam jiwa,” ujar Indra Sugiarno, dokter spesialis anak RS Sentra Medika yang merawat Syadiah di Depok, Jawa Barat, Sabtu (21/2/2009).

Stepen Jhonson Syndrome didefinisikan sebagai kumpulan gejala yang timbul akibat reaksi hiper sensitifitas tubuh terhadap pengaruh dari luar. “Bisa dari obat-obatan, infeksi, atau hal yang lain,” terangnya.

Gejala awal penyakit ini adalah munculnya bercak-bercak hitam di tubuh yang kemudian berubah menjadi merah. Pada tahap selanjutnya lapisan kulit epidermis dan dermis akan terkelupas akibat penumpukan sel-sel yang mati.

Kendati demikian, masyarakat tidak perlu khawatir mengalami nasib serupa dengan Syadiah karena peluang kejadian kasus ini perbandingannya 1:1 satu juta orang dalam setahun. “Minimnya peluang terjadinya kasus ini karena penyakit diakibatkan kerentanan genetik,” terang dia.

(ful)

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok Pulih

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok Pulih
By Republika Newsroom
Rabu, 04 Maret 2009 pukul 14:34:00 <!–
Iklan 468x60

–>

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok PulihCORBIS.COM

PEMICU: Salah satu pemicu Sindrom Stevens-Jhonson adalah obat-obatan. Pasien seharusnya mengkonsultasikan setiap obat yang akan dikonsumsi

http://www.republika.co.id/berita/35352/Pasien_Sindrom_Stevens_Johnson_Depok_Pulih

DEPOK-Bocah penderita Stevens-Johnson Syndrome yang sempat diisukan sakit karena diimunisasi TT (tokso tetanus) di Kota Depok, Syadiah (7 tahun) dinyatakan pulih setelah 18 hari dirawat di RS Sentra Medika, Depok. Sementara pengawasan konsumsi obat-obatannya masih diperketat. ”Kondisi terakhir Syadiah memungkinkan untuk berobat jalan dan dinyatakan 99 persen sembuh,” terang dokter spesialis anak RS Sentra Medika yang merawat pasien, Indra Sugiarno, Rabu (4/3). Setelah lepas infus lima hari lalu, ujar Indra, Syadiah langsung dikenalkan makanan padat. Bahkan, kini ia bisa makan hidangan favoritnya, mie instan. Selain itu, dokter kulit RS Sentra Medika masih terus memantau kondisi kulit ari pasien pasca pengelupasan seminggu sekali. Lantaran warna kulit Syadiah tidak rata akibat terkelupas (hipopigmentasi). Saat ditanya tentang penyebab penyakit Syadia, Indra belum bisa memastikan karena ada beberapa faktor pemicu, seperti obat, makanan, genetik serta faktor lainnya yang belum diketahui ilmu medis. Namun, ia memastikan penyakit Syadiah ini bukan disebabkan karena imunisasi. ”Kemungkinan besar Syadiah punya faktor genetik yang menyebabkan dia rentan terkena Stevens-Johnson Syndrome dan dari obat-obatan yang diminum,” terangnya. Maka, orangtua Syadiah harus mengkonsultasikan terlebih dulu obat yang dikonsumsi. Terutama dua jenis obat yang acapkali jadi sumber penyakit ini, yaitu obat antikejang dan antiasam urat. Beruntungnya, resiko fatal sindrom ini pada Syadiah hanya sekitar 30 persen. Sehingga ia bisa pulih lebih cepat dan terhindar dari kondisi yang memberatkan penyakit ini, seperti perlengketan saluran pernafasan dan pencernaan yang saling berhadapan di rongga dalam. Di kesempatan yang sama, Sadiyah yang selama perawatan terkesan takut diekspos, saat jumpa pers kemarin ia mau menjawab pertanyaan wartawan dengan sedikit malu-malu. “Saya besok pengen sekolah dan ketemu teman-teman,” ujarnya. Sementara itu, ayah Syadiah, Prasetyo merasa bersyukur atas kesembuhan putrinya. Ia juga mengaku merasa terbantu dengan penanganan medis RS Sentra Medika yang tanggap serta berterima kasih pada Dinkes Kota Depok yang membantu masalah pembiayaan melalui Jamkesmas. Sebelumnya, kasus Syadiah ini menyeret Dinkes Kota Depok yang dituding tidak mendiagnosa terlebih dulu anak-anak yang ikut imunisasi. Akibatnya, Syadiah yang menjadi salah satu peserta imunisasi tiba-tiba mengalami sakit yang mengakibatkan kulit tubuhnya menghitam dari wajah hingga pangkal paha. c84/itz

Anak Lumpuh Korban Suntik Dokter Jalani Fisioterapi

http://surabaya.detik.com/read/2007/07/19/161031/807056/475/anak-lumpuh-korban-suntik-dokter-jalani-fisioterapi

Kamis, 19/07/2007 16:10 WIB
Anak Lumpuh Korban Suntik Dokter Jalani Fisioterapi
Ryma S – detikSurabaya

Jember – Laili Faradiska Ardila (12) menjalani fisioterapi di RSUD dr Soebandi Jember, Kamis (19/07/07). Anak perempuan itu lumpuh setelah disuntik oleh dokter spesialis THT rumah sakit tersebut, Juli 2003 lalu.

Selama empat tahun Laili menjalani fisioterapi untuk merangsang syaraf-syarafnya agar berfungsi kembali. Laili menjalani fisioterapi seminggu dua kali yakni tiap hari Senin dan Kamis.

Ketika keluar dari ruangan fisioterapi terlihat Laili hanya terbujur kaku di brankar yang akan membawanya ke ambulans. Mulutnya nampak kaku dan terbuka sedikit.

Dibalik selimut yang menutupi badannya, terlihat tanggan kirinya kaku dan agak tertekuk di atas badannya. Saat dipanggil namanya, Laili mengedipkan matanya. Siti Nurhasanah, ibu Laili yang mendampingi selama menjalani fisioterapi tidak mau berkomentar tentang pengobatan anaknya.

Sementara, dokter yang merawat Laili, dr Budi Rahardjo juga tidak mau menjawab kondisi kesehatan Laili karena sedang tugas ke luar kota. “Memang dia saya tangani dan sedang menjalani fisioterapi. Tetapi untuk detailnya saya tidak bisa menjawab karena saya sedang di Jakarta,” kata Budi.

Seperti diberitakan, Laili mengalami kelumpuhan setelah mendapatkan suntikan sebelum operasi amandel 2003 silam. Setelah dua kali disuntik obat anti biaotik, tubuhnya kejang dan langsung tidak sadarkan diri.

Setelah itu tubuhnya kaku dengan organ tubuh seperti tangan dan kaki tidak bisa digerakkan. Dia hanya mampu tergolek di ranjangnya selama empat tahun ini. Dia tidak bisa meneruskan pendidikan dasarnya.

Selain Laili, Ayudyah Sasi,29 warga Kelurahan Sukorejo Kecamatan Sumbersari juga tergolek kaku di atas ranjang. Dia mengalami kelumpuhan tersebut sejak Agustus 2005 paska operasi seksio (caesar) ketika melahirkan anak keduanya di RSUD dr Soebandi Jember. Ayudyah mengalami gangguan motorik sehingga tangan dan kakunya tidak bisa digerakkan, indra pendengaran dan penglihatan juga terganggu.

Ayudyah Sasi dirawat di ruang Anggrek I (bekas kamar Laili) RSUD dr Soebandi selama dua tahun dan Selasa (17/7/2007) lalu baru dipulangkan ke rumahnya. Ayu saat ini menjalani perawatan di rumah.(mar/mar)

3 warga lumpuh setelah diimunisasi

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=24884&Itemid=34

Jumat, 01 Agustus 2008

3 warga lumpuh setelah diimunisasi

KAJEN – Tiga warga Desa Pandanarum, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan mengalami lumpuh permanen. Pihak keluarga menyatakan, korban menderita kelumpuhan setelah diimunisasi polio, namun pernyataan resmi dari pejabat Dinas Kesehatan menyebutkan, penyebab kelumpuhan karena faktor genetik.

Ketiga warga yang mengalami kelumpuhan masing-masing sepasang kakak beradik Muhamad Basuni (15) dan Hasan Bisri (12), keduanya putra Wastari (46), warga Desa Pandanarum RT 6 RW I. Sedangkan seorang lagi bernama Kasturah (55), warga Desa Pandanarum RT 8 RW I. Basuni dan Bisri menderita kelumpuhan sejak balita. Sedangkan Kasturah menunjukkan gejala kelumpuhan sejak usia belasan tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan dr Hasyim Purwadi, Kabag Sosial, Siswoyo SSos, didampingi Ketua Komisi D, HM Safrudin Huna, dan Kepala Desa Pandanarum Zubaidi Ridwan, Kamis siang (31/7), menjenguk ketiga korban dan memberikan santunan berupa uang. Namun, tidak disebutkan berapa besaran uang yang diberikan.

Wastari ditemui ditemui di sela-sela penyantunan, menerangkan, kedua putranya menunjukkan gejala lumpuh setelah demam tinggi usai diberi imunisasi saat kedua anaknya masih balita. Setelah itu, kedua anaknya berangsur-angsur mengalami kelumpuhan. Bahkan anak pertamanya, Muhamad Basuni, kondisinya kini sangat memprihatinkan.

”Kedua anak saya pada tahun 2005 sudah pernah dirawat di puskesmas, namun kami memutuskan pulang karena tidak ada biaya. Saya hanya pekerja serabutan dan harus menghidupi empat orang anak yang masih kecil-kecil,” terang Wastari.

Kasturah kondisinya lebih mengenaskan. Selama puluhan tahun, ia hanya bisa tergolek di tempat tidur di rumah keponakannya yang bekerja sebagai tukang becak.

Menurutnya, ia mengalami gejala kelumpuhan saat usia 13 tahun. Saat itu, ia menderita demam tinggi usai berobat. Ia mengalami kelumpuhan permanen sejak usia 30 tahun.

Bantah malapraktik
Kepala Dinas Kesehatan dr Hasyim Purwadi, membantah jika ketiganya menderita kelumpuhan akibat malapraktik atau pun pascaimunisasi. Menurutnya, ketiga warga tersebut mengalami kelumpuhan karena faktor genetik.

”Kami akan membawa ketiganya ke RSUD Kraton, untuk diperiksa apakah ketiganya kemungkinan bisa difisioterapi. Untuk Hasan Bisri akan diusahakan bantuan alat bantu jalan berupa tripod, sedangkan dua lainnya sudah tidak mungkin dibantu dengan alat bantu jalan,” jelas Hasyim Purwadi.

Kasus kelumpuhan akibat faktor genetik dialami oleh sejumlah warga di Kabupaten Pekalongan, di antaranya Marisah (33), telah meninggal dunia, Mariyah (33), adik Marisah, Warjem (31), adik Mariyah, Caswari (24), Nafisah, dan Inayah (21), semuanya warga Desa Tegalsuruh, Kecamatan Sragi dan masih berhubungan kerabat. haw-bg

Menderita Lumpuh Setelah Jalani Operasi

http://sesama.vivanews.com/news/read/18060-menderita_lumpuh_setelah_jalani_operasi

Menderita Lumpuh Setelah Jalani Operasi
Orang tua Irfan merasa tertipu dengan rumah sakit yang mengoperasi anaknya, penghasilannya dari berdagang tanaman tidak cukup untuk bayar pengacara menuntut rumah sakit.
Jum’at, 26 Desember 2008, 17:15 WIB
Irfansyah menderita kelumpuhan (Inin Nastain/VIVAnews)

VIVAnews – Iri rasanya melihat anak-anak lain begitu riang, dapat berlari, tertawa dan bermain bersama anak-anak kecil lainnya, seperti dulu. Kini, bocah berusia 3,5 tahun itu hanya bisa terdiam dibalik kursi rodanya. Canda, tawa dan bahkan tangis kini tidak lagi terngiang di telinga keluarga pasangan suami isteri, Heri Yudi dan Atik Rohayati.

Sejak menderita kelumpuhan akibat kekurangan oksigen di tempurung otaknya, keluarganya tidak lagi melihat anaknya bersorak,
teriak, dan bermain bersama. Jangankan bergerak, bersuara saja tidak bisa. Saat ini, Irfan praktis menghabiskan hari-harinya di tempat tidur dan kursi Roda.

Kegiatan makan dan buang airpun, Irfan lakukan didua tempat tersebut. Irfan hanya bisa berbaring ditempat tidur. Bahkan, sekali-kali Irfan suka meneteskan air mata merintih kesakitan.

Kedua orang tuanya tidak tahu lagi harus berbuat apa, berbagai cara dan usaha sudah ditempuh. Bahkan mendatangi dinas sosial pemerintah daerah, layaknya pengemis pun sudah dilakoninya. Tetapi, hasilnya hingga kini Irfan masih begitu-begitu saja.

“Dulu anak itu begitu ceria, selalu membuat kami tertawa, bangga dan tenang walaupun hidup kami pas-pasan, sekarang bila melihat anak itu, yang kami lakukan hanya menangis,” ujar Atika ibu kandung Irfan.

Menurut Heri, ayah Irfan, lumpuh yang diderita anaknya bermula saat Irfan sakit panas berkepanjangan. Khawatir dengan kondisinya, Irfan dilarikan ke salah satu rumah sakit di Subang. Namun minimnya peralatan yang kurang memadai, Irfan dirujuk ke Rumah Sakit lain di Bandung yakni RS. Hasan Sadikin.

Dua bulan dirawat, hasilnya cukup menggembirakan, Irfan pun kembali sembuh dari penyakit panasnya. Namun beberapa minggu sepulang dari RS Hasan Sadikin, Irfan kembali terserang panas namun tidak separah seperti sebelumnya.

“Dalam adat kami, kalau ada anak yang sering sakit panas harus di Segan (dipisahkan dengan orang tuanya dalam beberapa waktu). Jadi si Aa (Irfan biasa disebut Aa oleh keluarganya), dibawa sama bibinya, Nani, ke daerah Telukmibing Barat, Tanjung Perak, Surabaya,” kata Heri.

Hasilnya cukup baik, suhu badan kembali normal. Tetapi, entah mengapa, beberapa minggu kemudian, panasnya kembali meningkat, dan Irfan harus menjalani perawatan khusus, di Rumah Sakit Soetomo, Surabaya. Saat itu juga dokter bilang kalau Irfan harus menjalani operasi karena kelainan pada otaknya.

Saat itu tahun 1999, operasi berjalan lancar dan selamat. Usai operasi, Irfan dibawa kembali kerumah, di Tanjung Perak, dengan kondisi badan harus dipasang selang dari pusar hingga ke batok kepala belakang. Dokter bilang, untuk membantu oksigen yang mengalami kekurangan di tempurung kepala Irfan.

“Anehnya setelah dioperasi, Irfan justru mengalami cacat, bukanya sembuh, malah Irfan, tidak bisa jalan, bahkan tidak bisa bicara, seperti orang gagu saja,” tutur Heri.

Dokter RS Hasan Sadikin mendiagnosa bahwa Irfan menderita Ensapalitis, namun pihak RS Hasan Sadikin tidak berani
mengoperasi, karena harus dapat ijin dari RS yang melakukan operasi awal.

Kalaupun harus dioperasi ulang, tidak memungkinkan, mengingat biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Apalagi, ayah Irfan sehari-harinya hanya berdagang tanaman hias di kawasan puncak, yang dikirim temannya dari Majalengka.

Melihat kondisi anaknya yang semakin memprihatinkan, orang tua Irfan menuding pihak rumah sakit di Surabaya yang menyebabkan anaknya lumpuh.

Merasa tertipu dengan pihak rumah sakit yang salah mengoperasi anaknya, keluarga Irfan menuntut keadilan, kasus Irfan diadukan ke Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan (LBHK) untuk menuntut pihak rumah sakit yang mengoperasi Irfan.

“Dengan didampingi dari LBHK, saya menuntut pihak RS. Soetomo, Surabaya. Hasilnya, mereka acuh dan lepas tangan. Tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan kasus yang dialami anak kami,”

Walupun sempat keluarga mendapat kabar, bahwa Kapolwil Jawa Timur sudah mengirim surat ke rumah sakit untuk dimintai keterangan. Tetapi, hingga kini rumah sakit, belum juga merespons panggilan tersebut.

Keluarga pun pasrah, jangankan untuk membayar pengacara menuntut rumah sakit, untuk keperluan pengobatan dan membeli susu sehari-hari harus mengemis sana-sini.

Sampai-sampai, Irfan mengajukan bantuan ke pemerintah daerah, dan Dinas Sosial Subang. Namun lagi-lagi ditolak, dengan berbagai alasan.

Saat ini, dia berharap, ada pengusaha yang mau memberikan bantuannya untuk kesembuhan Irfan, yang sudah bertahun-tahun mengalami kelumpuhan akibat penyakit yang bersarang ditubuhnya.

Irfan yang seharusnya sudah kelas 1 tingkat SLTP, kondisinya  belum terlihat banyak perkembangan. “Teman sebayanya sudah kelas satu SMP. Suka sedih kalau melihat anak-anak lainnya pulang sekolah, kalau dia bisa ngomong, mungkin dia ngomong pengen sekolah,” kata Heri.

Reporter: Inin Nastain | Subang