AUTISME

MUI Sumsel Yakini Vaksin Meningistis untuk Calhaj Haram

http://republika.co.id/berita/46652/MUI_Sumsel_Yakini_Vaksin_Meningistis_untuk_Calhaj_Haram

MUI Sumsel Yakini Vaksin Meningistis untuk Calhaj Haram

By Republika Newsroom

Senin, 27 April 2009 pukul 11:42:00

PALEMBANG — Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan (MUI Sumsel) tetap pada sikapnya, meyakini bahwa vaksin meningitis yang digunakan untuk calon jemaah haji atau umrah tersebut haram karena mengandung enzim yang berasal dari binatang babi. Ketua MUI Sumsel KH Sodikun, Senin (27/4) menegaskan, apa yang disampaikan LPPOM MUI Sumsel bersama para pakar sudah melalui diskusi dan pengkajian. “Hasil kajian MUI Sumsel ini sudah kami sampaikan ke MUI pusat melalui forum Rakernas MUI pada November 2008 di Jakarta. Namun apa yang kami sampaikan sampai kini belum ada respon baik dari Menteri Agama dan Menteri Kesehatan,” ujarnya. Menurut Sekretaris MUI Sumsel KH Ayik Farid, “Dalam Rakernas MUI sudah kami sampaikan bahwa proses pembuatan vaksin meningitis tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi. LPPOM MUI Pusat juga sudah mengakui itu, namun karena sudah ada kontrak pengadaan vaksin tersebut selama lima tahun maka penggunaannya tidak bisa diganti.” Ayik Farid juga mengakui, bahwa temuan MUI Sumsel tersebut sudah melewati forum diskusi dengan para pakar, diantaranya pakar farmakologi Prof Dr T Kamaluddin Ketua Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya (Unsri), pakar penyakit dalam dan pakar dokter anak. “Jadi apa yang kami sampaikan tentang vaksin meningitis yang mengandung enzim babi bukan tanpa melalui kajian. Kajian ini sudah kami sampaikan ke MUI Pusat melalui forum Rekernas MUI pada Novermber 2008. MUI Sumsel bukan ingin membuat keresahan di tengah masyarakat. MUI Sumsel berharap masalah ini segera menjadi perhatian serius Departemen Agama dan Departemen Kesehatan,” tambah Sodikun. Sementara itu Prof Nasruddin Iljas Ketua LPPOM MUI Sumsel menjelaskan, negara lain seperti Malaysia telah menggunakan vaksin meningitis yang halal dari sapi. “Jadi sudah seharusnya pemerintah pusat, khususnya Departemen Agama segera mencari alternatif pengganti vaksin meningitis yang tidak mengandung binatang babi.” Nasruddin mengatakan, jika produk makanan, obat-obatan serta kosmetik mengandung bahan yang tidak halal maka akan menghambat bahkan menyebabkan ibadah umat Islam sia-sia. “Ini harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang marak beredar makanan yang berasal dari daging babi,” tambahnya. Terhadap para jemaah haji yang telah menggunakan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi tersebut, Ketua MUI Sumsel menjelaskan, masuknya zat haram ke dalam tubuh para calon jemaah haji itu berakibat menghalangi kemabruran hajinya. Sebab syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga. “Kalau tubuh kita kemasukan zat yang diharamkan maka dapat menghalangi terkabulnya doa. Tapi bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap dilaksanakan,” tegasnya. oed/fif

Advertisements

Wuih! Bocah Autis Meningkat 10 Kali Lipat

http://surabaya.detik.com/read/2008/08/09/150621/985711/466/wuih!-bocah-autis-meningkat-10-kali-lipat

Sabtu, 09/08/2008 15:06 WIB
Wuih! Bocah Autis Meningkat 10 Kali Lipat
Irawulan – detikSurabaya


Surabaya – Jumlah anak yang ditemukan terkena autis setiap tahun mengalami peningkatan. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlahnya hampir 10 kali lipat.

Hal itu dikatakan Dr Y Handojo, Ketua Yayasan Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus AGCA Center kepada wartawan di sela-sela Festival Anak Dengan Kebutuhan Khusus di GedunG Wanita Jalan Kalibokor, Surabaya, Sabtu (9/8/2008).

“Semakin banyak. Kita tengarai setiap dekade ini jumlah anak autis meningkat,” kata Dr Y Handojo. Namun dia tidak menyebutkan berapa besar peningkatan setip tahunnya.

Autis kata Handojo bisa disembuhkan asalkan para orangtua rajin melakukan terapi. Anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti itu kata Handojo dalam sehari minimal melakukan terapi selama 8 jam. Oleh karena itu biaya untuk anak autis sangat besar.

“Mereka berbeda dengan anak lain. Satu anak satu pendamping. Oleh sebab itu biayanya mahal,” tuturnya.

Anak yang menderita autis itu menurutnya bisa terdeteksi dari umur 1-2 tahun. Dan pada usia 1,5- 2 tahun itu paling bagus dimulai terapi. Karena pada saat usia itu kata dia percabangan otak belum lekat.

“Kalau tidak ada konflikasi atau infeksi terapi bisa dilakukan selama 2,5 – 3 tahun sudah selesai terapi untuk perilaku dasar,” jelasnya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi anak terkena autis kata dia adalah faktor polusi seperti logam berat, benturan pada kepala, infeksi kemudian ada kelainan pada usus dan vaksinasi serta faktor genetik.

“Tidak mengenal kaya atau miskin atau tinggal di daerah mana, anak bisa terkena autis,” ungkapnya.

Makanan bagi anak autis kata Handojo tidak boleh diberikan sembarangan. Hindari susu sapi dan tepung terigu. Ini bisa mempengaruhi pada emosi anak autis.

“Mengandung gluten sekitar 7 persen mereka tidak tahan. Ini berpengaruh pada emosi dan sulit mengontrol diri,” tandasnya.(wln/bdh)

Waspadai Efek Imunisasi

http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman%7C0%7C0%7C8%7C713

Waspadai Efek Imunisasi
Mother And Baby Tue, 02 Mar 2004 14:31:00 WIB

Imunisasi memang penting untuk membangun pertahanan tubuh bayi. Tetapi, orangtua masa kini seharusnya lebih kritis terhadap efek samping imunisasi yang mungkin menimpa Si Kecil.

Pertahanan tubuh bayi dan balita belum sempurna. Itulah sebabnya pemberian imunisasi, baik wajib maupun lanjutan, dianggap penting bagi mereka untuk membangun pertahanan tubuh. Dengan imunisasi, diharapkan anak terhindar dari berbagai penyakit yang membahayakan jiwanya.

Di lain pihak, pemberian imunisasi kadang menimbukan efek samping. Demam tinggi pasca-imunisasi DPT, misalnya, kerap membuat orangtua was-was. Padahal, efek samping ini sebenarnya pertanda baik, karena membuktikan vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh tengah bekerja. Namun, kita pun tidak boleh menutup mata terhadap fakta adakalanya efek imunisasi ini bisa sangat berat, bahkan berujung kematian. Realita ini, menurut Departemen Kesehatan RI disebut “Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi”(KIPI). Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (KN PP) KIPI, KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi.

Tidak Ada yang Bebas Efek Samping
Menurut Komite KIPI, sebenarnya tidak ada satu pun jenis vaksin imunisasi yang aman tanpa efek samping. Oleh karena itu, setelah seorang bayi diimunisasi, ia harus diobservasi terlebih dahulu setidaknya 15 menit, sampai dipastikan tidak terjadi adanya KIPI (reaksi cepat).

Selain itu, menurut Prof. DR. Dr. Sri Rejeki Hadinegoro SpA.(K), untuk menghindari adanya kerancuan antara penyakit akibat imunisasi dengan yang bukan, maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu. “Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat. Dilihat dari gejalanya pun, dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya,” terang Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.

Pada umumnya, semakin cepat KIPI terjadi, semakin cepat gejalanya. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (pasca-vaksinasi rubella), bahkan 42 hari (pasca-vaksinasi campak dan polio). Reaksi juga bisa diakibatkan reaksi simpang (adverse events) terhadap obat atau vaksin, atau kejadian lain yang bukan akibat efek langsung vaksin, misalnya alergi. “Pengamatan juga ditujukan untuk efek samping yang timbul akibat kesalahan teknik pembuatan, pengadaan, distribusi serta penyimpanan vaksin. Kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul kebetulan,” demikian Sri.

Penelitian Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM), AS, melaporkan, sebagian besar KIPI terjadi karena faktor kebetulan. “Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan atau pragmatic errors),” tukas dokter yang berpraktek di RSUPN Cipto Mangunkusumo ini.

Stephanie Cave MD, ahli medis yang menulis “Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi Pada Anak” menyebutkan, peluang terjadinya efek samping vaksin pada bayi dan anak-anak adalah karena mereka dijadikan target imunisasi massal oleh pemerintah, pabrik vaksin, maupun dokter. Padahal, imunisasi massal yang memiliki sikap “satu ukuran untuk semua orang” ini sangat berbahaya. Karena, “Setiap anak adalah pribadi tersendiri, dengan bangun genetika, lingkungan sosial, riwayat kesehatan, keluarga dan pribadi yang unik, yang bisa berefek terhadap cara mereka bereaksi terhadap suatu vaksin,” demikian Cave.

Beberapa Kejadian Pasca-Imunisasi
Secara garis besar, tidak semua KIPI disebabkan oleh imunisasi. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa faktor KIPI yang bisa terjadi pasca-imunisasi:

1. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusukan jarum suntik, baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan. Sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope atau pingsan.

2. Reaksi vaksin
Gejala KIPI yang disebabkan masuknya vaksin ke dalam tubuh umumnya sudah diprediksi terlebih dahulu karena umumnya “ringan”. Misal, demam pasca-imunisasi DPT yang dapat diantisipasi dengan obat penurun panas. Meski demikian, bisa juga reaksi induksi vaksin berakibat parah karena adanya reaksi simpang di dalam tubuh (misal, keracunan), yang mungkin menyebabkan masalah persarafan, kesulitan memusatkan perhatian, nasalah perilaku seperti autisme, hingga resiko kematian.

3. Faktor kebetulan
Seperti disebut di atas, ada juga kejadian yang timbul secara kebetulan setelah bayi diimunisasi. Petunjuk “faktor kebetulan” ditandai dengan ditemukannya kejadian sama di saat bersamaan pada kelompok populasi setempat, dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi.

4. Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab, maka untuk sementara dimasukkan ke kelompok “penyebab tidak diketahui” sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya, dengan kelengkapan informasi akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.

‘Imunisasi itu Aman’ Ilmu Pengetahuan atau Fiksi?
Keraguan tentang aman-tidaknya imunisasi bukan sesuatu yang mengada-ada. Saat ini sudah ada puluhan ribu kejadian buruk akibat imunisasi yang dilaporkan, dan puluhan ribu lainnya yang tidak dilaporkan. Pada anak-anak, imunisasi (dan antibiotik) bertanggung jawab untuk sebagian besar reaksi negatif dibanding obat-obat resep lainnya. Jadi realitanya, tidak ada obat yang aman untuk setiap anak. Dan, beberapa obat lebih berbahaya daripada beberapa obat lainnya.

Keamanan imunisasi seharusnya berlandaskan pada ilmu pengetahuan yang baik, bukan hipotesa, pendapat, keyakinan perorangan, atau pengamatan. Namun faktanya, hingga kini banyak yang tidak diketahui para ilmuwan tentang cara kerja imunisasi di dalam tubuh pada tingkat sel dan molekul. Tes yang memadai untuk imunisasi juga tidak ada. Yang juga kurang, adalah pengertian tentang efek jangka panjang dari imunisasi massal bagi bayi dan anak-anak. Yang diketahui adalah, sejak akhir tahun 1950-an, ketika imunisasi massal mulai diwajibkan di Amerika Serikat, telah terjadi peningkatan kasus kelainan sistem imun dan persarafan, termasuk kesulitan memusatkan perhatian, asma, autisme, diabetes anak-anak, sindroma keletihan menahun, kesulitan belajar, rematoid artritis, multipel sklerosis, dan masalah kesehatan yang menahun lainnya.

Di Amerika Serikat dan tempat-tempat lain di dunia, adanya peningkatan besar jumlah masalah medis yang terkait dengan imunisasi yang dilaporkan orangtua dan profesional kedokteran, telah mencetuskan suatu gerakan yang menuntut dilakukannya lebih banyak kajian yang lebih baik tentang potensi efek buruk jangka panjang atau menahun dari imunisasi. (BOD/What Your Doctor May Not Tell You About Children’s Vaccination)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Boom! Autisme Terus Meningkat

Boom! Autisme Terus Meningkat

http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/08/1739470/boom.autisme.terus.meningkat

Minggu, 8 Juni 2008 | 17:39 WIB

Oleh : Elok Dyah Messwati dan Evy Rachmawati

PERKEMBANGAN autisme yang terjadi sekarang ini kian mengkhawatirkan. Mulai dari tahun 1990-an, terjadi boom autisme. Anak-anak yang mengalami gangguan autistik makin bertambah dari tahun ke tahun.

Di Amerika Serikat saat ini perbandingan antara anak normal dan autis 1:150, di Inggris 1:100, sementara Indonesia belum punya data tentang itu. Belum pernah ada survei mengenai data anak autis di Indonesia, kata Ketua Yayasan Autisme Indonesia dr Melly Budhiman SpKJ saat diskusi mengenai autisme di harian Kompas, 5 Mei 2008.

Melly Budhiman memaparkan, autisme adalah suatu gangguan neurobiologis yang terjadi pada anak di bawah umur 3 tahun. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku.

Autisme bisa terjadi kepada siapa saja, tidak mengenal etnis, bangsa, keadaan sosial ekonomi, dan keadaan intelektualitas orangtua. Perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan yang mengalami gangguan autistik adalah 4:1. Kecerdasan anak-anak autis sangat bervariasi, dari yang sangat cerdas sampai yang sangat kurang cerdas.

”Jadi kalau dulu dikatakan kalau anak autis pasti anak-anak cerdas itu tidak benar, atau anak autis itu kebanyakan retardasi mental itu juga tidak benar,” kata Melly Budhiman.

Diagnosa ditegakkan secara murni secara klinis tanpa dengan alat pemeriksaan atau bantuan apa pun. ”Jadi kalau kita mendiagnosa anak autis murni secara klinis dengan anamnese, dengan tanya jawab itu harus sangat cermat: mulai dari kehamilan, kelahiran, dan masa kecilnya,” kata Melly Budhiman.

Sebelum 3 tahun

Untuk bisa melakukan diagnosa yang tepat, tentu saja dibutuhkan ketajaman dan pengalaman klinis. Harus benar-benar diperhatikan kriteria diagnostik yang sudah disepakati oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Jadi untuk mendiagnosa autis itu sudah ada kriterianya.

”Apakah ada gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi, juga perilaku. Kriterianya sebenarnya sudah jelas,” tegas Melly Budhiman.

Menurut Melly Budhiman, diagnosa itu harus sudah ditegakkan sebelum anak mencapai usia tiga tahun. Sering kali orangtua datang ke dokter dan dokter menyatakan sebaiknya menunggu hingga usia anak sudah tiga tahun, itu artinya sudah terlambat.

Sebelum tiga tahun diagnosa sudah harus ditegakkan. Deteksi dari permulaan gejala sudah bisa dilakukan jauh sebelum umur tiga tahun. Ada anak yang sudah menunjukkan gejala autisme sejak lahir, tetapi ada anak yang sudah berkembang secara normal namun kemudian berhenti berkembang, kehilangan kepandaian yang telah dicapainya dan timbul gejala-gejala autisme.

”Bila terdeteksi adanya gejala autisme pada umur berapa pun, mulailah dengan melakukan interaksi yang intensif dan pantau terus anak tersebut setiap bulan. Misalkan enam bulan, kok, anak ini tidak mau menatap mata, umur tujuh bulan juga harus terus dipantau,” kata Melly Budhiman.

Dalam hal ini semua pemeriksaan adalah untuk mencari kemungkinan pencetus. Jika si ibu waktu hamil mengalami rubela, maka sebaiknya dilakukan city scan MRI, mencarinya ke arah otak apakah ada kelainan. Jika seandainya waktu lahir si anak terlilit tali pusar sehingga kekurangan O2, bisa dilakukan MRI dan kemudian EEG.

”Jika ibu menyatakan kalau setelah divaksinasi, kondisi si anak kemudian makin mundur, kita cari apakah anak ini keracunan merkuri. Darahnya harus diperiksa untuk mencari tahu berapa kadar logam berat, logam merkuri, diperiksa rambutnya, apakah merkurinya sudah lama menumpuk di tubuh dan tidak bisa keluar, misalnya,” papar Melly Budhiman.

Setelah anak terdiagnosa, langkah berikutnya adalah melakukan assessment yang dilakukan oleh satu tim psikolog, speech therapist untuk menentukan kemampuan si anak sebenarnya di bidang apa.

”Misalnya speech-nya terbelakang, tetapi keseimbangannya bagus, bisa lari, bisa lompat. Jadi lebih penting ke speech therapy. Jika perilakunya enggak karuan, maka diberi terapi perilaku,” kata Melly Budhiman.

Terapi okupasi juga bisa diberikan untuk melatih motorik halus. ”Anak-anak ini biasanya tenaganya kuat. Jika memukul orang bisa keras sekali, tetapi kalau disuruh memegang pensil tidak bisa, maka dia perlu terapi okupasi,” kata Melly Budhiman. Yang terpenting penanganan terpadu harus diberikan kepada anak-anak autis ini.

Kecurigaan pada vaksin

Sejauh ini, belum diketahui pasti penyebab autisme. Namun, faktor genetik berperan penting pada tercetusnya gejala. Bila tidak ada kelemahan genetik, kemungkinan gejala-gejala autisme tidak tercetus. Konsep baru mengatakan, gejala autisme timbul akibat racun-racun dari lingkungan yang tidak bisa dibersihkan lantaran anak memiliki kelemahan genetik.

”Faktor pemicu autisme itu banyak, tidak mungkin satu pemicu saja. Selain keracunan logam berat, anak-anak penyandang autisme biasanya juga mengalami alergi, kondisi pencernaannya juga jelek,” kata Melly. Ada kecurigaan, salah satu faktor pencetus autisme adalah logam berat merkuri.

Di Palangkaraya, misalnya, ada pusat terapi autisme yang muridnya berjumlah hampir 200 anak. Padahal, jumlah penduduknya hanya sekitar 250.000 jiwa. Jadi, prevalensi autisme di daerah itu satu per 250 penduduk. Setelah ditelusuri, warga setempat sehari-hari mengonsumsi ikan dari Sungai Kahayan, padahal sungai itu jadi lokasi pertambangan liar emas sekaligus pembuangan merkurinya.

Repotnya, menurut Melly, banyak vaksin yang beredar di pasaran mengandung merkuri. Satu suntikan vaksin dari luar negeri biasanya merkuri yang dikandung 25 mikrogram. Bahkan, ada vaksin yang kandungan merkurinya lebih dari itu. ”Keterkaitan vaksin sebagai pencetus autisme masih jadi perdebatan di dunia internasional. Ini tentunya perlu penelitian lebih lanjut,” ujarnya.

Saat ini seorang anak hanya boleh menerima merkuri 0,1 mikrogram per kilogram berat badan. Jadi, anak Indonesia yang rata-rata memiliki bobot lahir 2,5-3 kilogram hanya boleh menerima 0,3 mikrogram. Akan tetapi, kenyataannya, sebagian bayi diimunisasi dengan vaksin yang mengandung merkuri sebanyak 25 mikrogram. ”Sekarang ada vaksin yang bebas merkuri, tapi harganya mahal,” kata Melly.

Terkait dengan isu bahwa vaksin MMR merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya autisme pada anak, Menteri Kesehatan Siti Fadilah tidak bersedia berkomentar mengenai masalah itu. ”Ini masih perlu pengkajian lebih mendalam lagi. Kami perlu mengecek apakah memang benar vaksin itu terkait dengan autis,” katanya menambahkan.

Dukungan pemerintah

Sejauh ini, pemerintah dinilai kurang memberi perhatian terhadap masalah autisme yang kian merebak di sejumlah daerah. Pelayanan terapi bagi penyandang autisme masih sangat terbatas dan biayanya relatif mahal sehingga sulit dijangkau para orangtua dari anak penyandang autisme.

Banyak orangtua yang kesulitan membesarkan dan memberikan terapi terbaik bagi anak mereka yang menyandang autisme. Jika tidak dideteksi dan diterapi dengan tepat sejak dini, gangguan perkembangan itu akan membuat anak-anak penyandang autisme itu tidak bisa mandiri, sulit berkomunikasi dan berkarya di lingkungan masyarakat.

Pada kesempatan terpisah, Siti Fadilah menegaskan, pemerintah mendukung layanan kesehatan bagi anak-anak yang menyandang autisme. Salah satunya dengan memberi penyuluhan dan menyediakan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas-puskesmas. Selain itu, pemerintah akan mengalokasikan dana untuk penanganan anak-anak berkebutuhan khusus termasuk autisme.

Namun diakui, penanganan kesehatan bagi para penyandang autisma masih belum jadi prioritas pembangunan bidang kesehatan. ”Indonesia masih disibukkan dengan pengendalian penyakit menular. Penanganan autisma masih belum jadi prioritas utama,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes Lily S Sulistyowati.

Sejauh ini, pemerintah belum mampu menyediakan pusat-pusat terapi bagi penyandang autisma. Tempat-tempat pelayanan terapi masih dikelola pihak swasta dengan biaya cukup mahal. Padahal, sebagian besar penyandang autisma butuh sejumlah terapi untuk mengatasi gangguan perkembangan, terutama kemampuan komunikasi.

Mengingat meningkatnya angka kasus autisma di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, Sekretaris Jenderal Depkes Sjafii Ahmad menyatakan, Depkes berencana mendirikan Pusat Inteligensia yang menangani masalah terkait gangguan inteligensia dan perkembangan termasuk autisma. ”Nantinya, pusat inteligensia juga akan didirikan di tiap provinsi,” ujarnya.

Tentunya, janji pemerintah untuk lebih serius menangani masalah autisme ditunggu realisasinya. Bagaimanapun, para penyandang autisme merupakan anak-anak bangsa yang ikut menentukan masa depan Indonesia. Jangan sampai mereka kelak jadi generasi yang hilang.

Ramai-Ramai Gugat Vaksinasi

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6830&Itemid=1

Ramai-Ramai Gugat Vaksinasi
Selasa, 13 Mei 2008
Ibu-Ibu Amerika Gugat Vaksinasi karena dianggap Berbahan Pengawet Thimerosal, Dituding Sebabkan Autisme

Hidayatullah.com–Pemberian vaksin kepada anak-anak yang bertujuan meningkatkan kekebalan tubuh malah dirasa bermasalah. Itulah yang kini terjadi pada ibu-ibu di Amerika Serikat (AS). Mereka merasa bahwa vaksin dengan bahan pengawet thimerosal yang diberikan kepada anak-anak mereka telah memicu sindrom autisme.

Thimerosal adalah senyawa organomerkuri. Di AS, thimerosal biasa digunakan untuk antiseptik dan antifugal. Kandungan merkuri thimerosal bisa mencapai 49 persen.

Ibu-ibu yang merasa dirugikan kemarin mengajukan gugatan ke pengadilan. Pengacara mereka berusaha menunjukkan bahwa bahan pengawet yang menggunakan merkuri dapat memicu gejala autisme.

Sebagai bukti nyata, seorang anak laki-laki dari Portland, Oregon, akan menjalani serangkaian tes untuk membuktikan hal itu. Pengacaranya menyatakan bahwa bocah tersebut sebelum divaksinasi dalam kondisi sehat, bahagia, dan normal.

Tapi setelah divaksinasi dengan thimerosal, kondisinya mengalami kemunduran. Jika hal itu terbukti benar, ratusan keluarga tersebut akan mendapatkan uang kompensasi.

Secara keseluruhan, hampir 4.900 keluarga telah mengajukan klaim ke Pengadilan Federal AS (pengadilan yang menangani klaim melawan pemerintah AS, Red). Mereka menyatakan bahwa vaksin tersebut menyebabkan autisme dan masalah-masalah saraf pada anak-anak mereka.

Pengacara dari keluarga yang mengajukan gugatan menyatakan bahwa mereka akan menunjukkan bukti bahwa suntikan vaksin yang mengandung thimerosal menyebabkan endapan merkuri di otak. Zat merkuri tersebut telah membangkitkan sel otak tertentu yang memicu autisme sehingga anak cenderung acuh.

“Di beberapa anak, ada cukup merkuri untuk membuat pola neuroinflammatory kronis yang dapat memicu penyakit autisme regresif,” ujar Mike Williams, salah seorang pengacara para ibu tersebut.

Badan ahli khusus dari pengadilan telah menginstruksi penggugat untuk melakukan tes untuk membuktikan teori penyebab autisme tersebut. Mereka juga menunjuk tiga ahli untuk menangani kasus itu.

Tiga kasus di kategori pertama pernah didengar dan diajukan tahun lalu, namun sampai saat ini belum ada keputusannya. Kasus yang disidangkan kemarin difokuskan pada teori kedua tentang penyebab autisme.

Teori tersebut menyatakan bahwa thimerosal yang terdapat dalam vaksin menyebabkan autisme. Para pengacara keluarga itu berharap bisa meyakinkan para ahli bahwa thimerosal menyebabkan peradangan yang memicu autisme regresif.

Namun, banyak di antara anggota komunitas medis merasa skeptis terhadap klaim tersebut. Mereka takut klaim itu akan mengakibatkan beberapa orang tidak melakukan vaksinasi atas anak-anaknya.

“Yang saya sayangkan adalah orang-orang yang antivaksin akan beralih dari satu hipotesis ke hipotesis berikutnya tanpa menengok kasus di belakangnya,” ujar Dr Paul Offit, direktur pusat pendidikan vaksinasi di rumah sakit anak Philadelphia.

Sebenarnya, beberapa tahun belakangan thimerosal telah dihilangkan dari standar vaksinasi anak-anak, kecuali dalam vaksin flu yang tidak dikemas dalam satu dosis. Pusat pengendalian penyakit AS (Centers for Disease Control/CDC) menyatakan bahwa vaksin flu yang mengandung thimerosal hanya tersedia dalam jumlah yang terbatas.

Pada 2004, institut obat-obatan di AS telah mengadakan penelitian tentang penggunaan thimerosal dalam vaksin. Berdasar penelitian tersebut, tidak ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan bahwa penggunaan thimerosal dapat memicu autisme pada anak-anak.

Meski demikian, ratusan keluarga yang menuntut mempunyai pendapat berbeda. Berdasar pengalaman, anak-anak mereka menderita gejala autisme setelah pemberian vaksin dengan thimerosal tersebut.
Website yang dirilis pengadilan menunjukkan bahwa lebih dari 12.500 klaim telah diajukan sejak program vaksinasi dengan thimerosal pada 1987. Dari keseluruhan klaim tersebut, 5.300 klaim adalah kasus autisme dan lebih dari USD 1,7 miliar (Rp 15,7 triliun) telah dibayarkan. Website itu juga menyatakan bahwa saat ini lebih dari USD 2,7 miliar (Rp 24,94 triliun) dana yang berasal dari pajak pertambahan nilai telah disediakan untuk meng-cover jika terjadi masalah dalam program vaksinasi. [ap/cha/berbagai sumber/www.hidayatullah.com

Kutipan terjemahan tulisan dr Tom Heller, mewakili para orang tua dan dokter atau praktisi autisme:

http://puterakembara.org/rm/mmr.shtml

01/22/2002

Kutipan terjemahan tulisan dr Tom Heller, mewakili para orang tua dan dokter atau praktisi autisme:

Salah satu tugas saya sehari hari sebagai seorang praktisi atau dokter di Inggris adalah memberikan imunisasi pada bayi dan balita. Tapi belakangan ini saya semakin tidak yakin ketika memberikan vaksinasi kombinasi MMR dan berpikir apakah saya juga harus memberikan vaksinasi ini pada anak-anak saya jika mereka ada pada usia semuda itu.

Sulit bagi saya untuk merasa yakin bahwa vaksin itu aman seperti yang di-umumkan pemerintah. Semakin keras suara para ahli saya merasa semakin ragu akan kebenarannya. Situs Departemen Kesehatan memberikan banyak bukti dan links mengenai vaksin ini hanya menghasilkan satu isu baru yaitu vaksin MMR mempunyai efek samping yang buruk.

Penggunaan bukti klinis secara tidak lengkap juga dikumandangkan oleh para ahli lainnya. Seperti pada Elliman dan Bedford yang menyerang metode riset yang digunakan oleh orang orang yang prihatin terhadap efek samping vaksin MMR. Pada saat yang sama, mereka malah tidak memperhatikan akan bahaya yang terjadi dengan hasil riset yang menyimpulkan bahwa vaksin MMR aman dipakai.

Program NHS mengkhususkan diri dalam memberikan pelayanan dan pengobatan pada masyarakat luas. Tetapi dengan alasan tertentu, ketika mencoba untuk mendiskusikan mengenai masalah vaksinasi MMR, kelihatan sangat dibatasi. Para orang tua menjadi cemas. Dan mereka yang mempunyai anak penyandang autisme menjadi semakin kuatir karena merasa kemungkinan keadaan ini disebabkab oleh vaksinasi.

Sekelompok orang tua lain merasa yakin akan hubungan antara vaksin MMR dan anak mereka dan telah membentuk kelompok dan organisasi untuk meloby. Di Inggris, organisasi ini dikenal dengan nama JABS, Justice, Awareness and Basic support. Ketika beberapa hasil observasi yang dilakukan oleh keluarga yang terkena dampak buruk vaksinasi kemudian di-kategorikan sebagai insiden terisolir, mungkinkah hasil observasi seperti ini dapat dijadikan bukti?

Saya tidak sendirian dalam keprihatinan dan mungkin kebingungan mengenai pemberian vaksinasi MMR. Beberapa penelitian mengenai pemberian vaksinasi MMR dosis kedua telah dilakukan di daerah north Wales dengan hasil menunjukkan hanya 45% profesional yang terdiri dari 54% praktisi atau dokter umum setuju untuk memberikan dosis kedua MMR pada anak. Namun hal ini tidak berpengaruh banyak terhadap jumlah anak yang di-vaksinasi MMR yang secara nasional pada tahun 1994 dan 1995 hanya turun dari 91% ke 88%. Pada tahun 1998 – 1999 dibeberapa daerah terlihat hanya 75%
Saat ini, tidaklah mudah untuk mempertanyakan hal ini pada pemerintah. Contohnya, Andrew Wakefield, penanggung jawab dari beberapa riset yang mempertanyakan mengenai pengembangan vaksin MMR telah di-vonis melakukan penyalah gunaan etika profesional. Mungkin pilihan yang paling mudah adalah dengan menundukkan kepala anda dan tidak membicarakan isu ini.

Kutipan terjemahan tulisan dr Dick Heller, mewakili pemerintah:

Para orang tua sering tidak akurat dalam mengidentifikasikan penyebab dari penyakit mereka. Anekdot atau cerita mengada ada dari seseorang tidak akan dapat berbuat banyak selain hanya menghasilkan sebuah hipotesis yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut secara klinis. Keprihatinan publik terjadi akibat ketidak mampuan untuk mengerti dan meng-ekspresikan bukti-bukti klinis. Yang kita dapati saat ini adalah hipotesis yang berdasarkan anekdot tanpa bukti klinis. Adapun bukti bukti lemah yang ada tidak dapat menunjang hipotesis.

Membandingkan resiko autisme dan resiko pemberian vaksinasi pada anak

Sangat sulit untuk mengerti, mengukur dan mengekspresikan resiko. Angka angka menunjukkan bahwa tiap 100 000 anak terdapat 91 penyandang gangguan spektrum autisme. Jika 15% dari anak-anak ini menjadi penyandang autisme sebagai akibat di-vaksinasi MMR maka sebanyak 7326 anak harus divaksinasi untuk dapat satu anak penyandang autisme. Berapa banyak kasus penyakit mumps , measles dan rubella akan timbul jika anak tidak di-vaksinasi MMR? Bagaimana rate komplikasi ? Sayang sekali, kami tidak mempunyai sistim intelejen yang canggih untuk menyelidiki efek dari perubahan pemberian imunisasi terhadap kesehatan masyarakat. Namun kami tahu bahwa untuk measles saja angka kematian 1 – 2 dari tiap 1000 orang yang terinfeksi di Amerika Serikat dan 1 dari 1000 akan terkena encephalitis beberapa diantaranya akan terkena kerusakan otak permanen. Jika semua anak yang tidak divaksinasi terjangkit measles maka rate komplikasi menyebutkan bahwa penyetopan vaksinasi akan sangat berbahaya – jauh lebih berbahaya dari pada usaha pencegahan insiden timbulnya gangguan autisme.

Dalam memerangi penyakit menular umum seperti yang disarankan oleh pemerintah untuk mendapatkan vaksinasi akan sulit untuk dapat diatasi jika tingkat pemberian imunisasi di suatu komunitas turun dibawah level kritis. Mereka yang bertanggung jawab terhadap kesehatan publik akan mempunyai kepentingan yang sah untuk meningkatkan pemberian vaksinasi.

Secara umum dapat saya katakan tidak terdapat bukti bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme dan tidak terdapat cukup bukti pula untuk mengatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme. Saya percaya bahwa dengan menyetop vaksinasi pada anak atas dasar hipotesa yang tidak lengkap akan sangat berbahaya

Kutipan tulisan Stephen Pattison menanggapi tulisan dr Tom Heller dan dr Dick Heller:

Beberapa kaum moralis akan berkata bahwa Tom Heller sedang dalam keadaan emosional tapi menurut saya keadaan gundah ini adalah bagian dari tanggung jawab moral. Tom Heller mengaplikasikan apa yang disebut the golden rule untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah ketika ia mengatakan “apakah saya juga harus memberikan vaksinasi ini pada anak-anak saya pada usia semuda itu”. Ia juga menyuarakan pendapat pemerintah dengan mengatakan bahwa pemberian vaksinasi MMR itu aman. Dan juga bagaimana keraguannya semakin tinggi yang mana bertolak belakang dengan kebanyakan ahli.

Pertanyaannya adalah bagaimana rekan kerja Tom Heller, para dokter umum dan masyarakat awam, dengan segala keterbatasan pengetahuan-nya dapat mengambil manfaat dan dapat hidup dengan kenyataan yang ada tanpa harus mengabaikan pentingnya kesehatan masyarakat?

Walaupun ilmuwan dan peneliti hidup dalam paradigma rasional dan serba korelatif sedangkan masyarakat awam termasuk dokter mempunyai pandangan yang lebih kompleks sehingga dilihat dari kaca mata kaum rasional, pengetahuan komposit masyarakat awam sering terlihat sebagai suatu yang tidak rasional dan suatu yang gaib sehingga harus di-buang dan dihilangkan.

Anda tidak dapat membatasi pengetahuan orang lain bahkan ketika anda sendiri ragu akan kemampuan ilmu pengetahuannya. Membuat keputusan untuk tidak memberikan vaksinasi adalah suatu dilema moral bagi orang tua dan ini haruslah dihormati. Melecehkan dilema moral orang lain tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Kini telah terjadi krisis kepercayaan terhadap penilaian teknis vaksinasi MMR dan juga krisis untuk dapat saling menghargai. Perlu dibuat suatu keputusan untuk mendapatkan bukti-bukti yang dapat dipertanggung jawabkan demi untuk menegakkan kenyataan yang sebenarnya. Untuk melaksanakan ini pihak ilmuwan agar tidak menanggapi ketakutan dan kekuatiran sebagai bentuk ketidak pedulian dan kemudian berusaha menghancurkannya dengan menggunakan instrumen rasional mereka.

Dalam hal ini telah terjadi ketidak seimbangan antara resiko dan kekuasaan. Pihak pemerintah menentukan strategi risk management untuk menghadapi penyakit mumps, measles dan rubella. Sedangkan para dokter dan orang tua sebagai pelaksana strategi ini harus menghadapi segala konsekuensinya. Isu vaksinasi MMR ini sempat membuat kami prihatin akan etika klinis dan pelayanan publik yang responsif dan berguna. Kami akan mencoba untuk mencari bentuk ideal dari bukti-bukti klinis yang dapat diterima baik oleh masyarakat maupun oleh individu yang menggangap hal tersebut sensitif.

Kutipan tanggapan dr Tom Heller mengenai tulisan Stephen Pattison:

Saya merasa telah menjalani suatu proses yang mirip dengan apa yang dialami para orang tua pada saat mereka memutuskan untuk memberikan vaksinasi pada anak mereka. Saya akan terus mencari untuk dapat mengerti mengenai hal ini. Tentunya, saya sangat menghargai pendapat pihak penguasa yang menyimpulkan bahwa MMR adalah aman untuk diberikan pada anak, akan tetapi keragu raguan tetap melekat pada saya seperti juga ada pada banyak orang lain.

Kesimpulan akhir saya adalah : ” Penolakan haruslah tetap menjadi pilihan yang dapat diterima di alam demokrasi yang bebas. Budaya berpendapat terkecuali yang berhubungan dengan agama dan filsafat haruslah tetap dilestarikan. Hal yang paling sulit adalah menciptakan keseimbangan antara hak suatu negara untuk mengontrol penyakit menular dan hak individual serta masyarakat awam untuk memilih.

Referensi:
FEAT Daily Newsletter dan British Medical Journal online
How Safe is MMR Vaccine – Tom Heller, general practioner, School of Health and Social Welfare at the Open University, Milton Keynes UK
Validity of Evidence – Professor of Public Health. Evidence for Population Health Unit, School of Epidemiology and Health Sciences, Medical School, University of Manchester, UK
Dealing with Uncertainty – Stephen Pattison, Head Department of Religious and Theological Studies, Cardiff University.

——————————————————————————
Puterakembara menyajikan terjemahan tulisan ini adalah sehubungan dengan pertanyaan dari salah satu orang tua mengenai vaksinasi MMR. Kami berusaha untuk memberikan informasi secara netral dan se-akurat mungkin. Puterakembara tidak bertanggung jawab atas isi artikel maupun kesalahan dalam menterjemahkan artikel tersebut kedalam bahasa Indonesia.

Artikel diatas hanya dapat digunakan sebagai informasi atau sekedar untuk menambah pengetahuan. Informasi yang ada dalam artikel ini tidak dapat digunakan untuk menggantikan advis dokter atau pengobatan dan terapi yang hanya dapat dilakukan oleh dokter ahli / praktisi profesional di-bidang imunisasi ataupun kelainan spektrum autisme.

Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak

http://www.setiabudi.name/archives/359

Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak
December 18th 2007, on Kesehatan, Ulasan Buku

Buku berjudul Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak ini adalah saduran dari buku berjudul What Your Doctor May Not Tell You About Children’s Vaccinations karangan Stephanie Cave, M.D., F.A.A.F.P bersama Deborah Mitchell.

Diterbitkan dengan ISBN 979-22-349-4 yang diterbitkan pertama kali oleh PT. Gramedia Pustaka Utama cetakan pertamanya pada tahun 2003.

Buku yang sangat memukau saya karena menyajikan banyak informasi mengejutkan tentang vaksinasi yang tidak pernah ditemukan di media informasi apapun.

Selama ini setiap informasi yang kita terima mengenai vaksinasi adalah suatu hal yang harus dilakukan dan memiliki dampak nol persen terhadap kesehatan manusia.

Padahal sebagaimana tertulis dalam lembaran pertama buku ini disebutkan sebagai berikut, “Dalam hal vaksinasi anak, mencegah mungkin tidak lebih baik daripada menyembuhkan”.

Ditutup dengan kalimat berikutnya, “Jangan ambil resiko untuk kesehatan anak Anda! Pelajari lebih lanjut tentang vaksinasi yang ada pada masa kini dengan… ORANG TUA HARUS TENTANG VAKSINASI ANAK”.

Mengapa hal tersebut menjadi penting?

Karena sebagai orang tua, tentunya kita mengharapkan hal terbaik yang dapat kita berikan kepada seluruh anak kita. Hal tersebut hanya dapat diwujudkan jika dan hanya jika kita memiliki informasi yang memadai mengenai apapun yang ingin kita persembahkan kepada mereka.

Fakta-fakta mengejutkan tentang kandungan merkuri yang digunakan dalam sebagian besar vaksin anak saat ini baru salah satu contoh mengerikan tentang vaksin yang harus Anda ketahui.

Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin tidak Anda ketahui tentang vaksin:

1. Beberapa vaksin mengandung racun seperti air raksa (merkuri), almunium dan formalin
2. Di tahun 1998, Pemerintah Perancis menghentikan program vaksinasi berbasis sekolah yang memberikan vaksin Hepatitis B kepada anak-anak usia sekolah karena kasus multiple-sklerosis telah dikaitkan dengan vaksin tersebut dan lebih dari 600 kasus imunitas dan persyarafan telah dilaporkan.
3. Beberapa vaksin dibuat menggunakan bahan yang berasal dari jaringan manusia dari janin yang digugurkan.
4. Kebanyakan negara mewajibkan bahwa saat anak berusia 5 tahun, ia sudah harus menerima 33 dosis dari 10 vaksin.
5. Para dokter hanya melaporkan kurang dari 10 persen kejadian buruk yang berkaitan dengan vaksinasi dan/atau sesudah vaksinasi.

Selain itu salah satu isu keamanan yang menurut buku ini sering diabaikan adalah bahan-bahan tambahan yang terdapat dalam vaksin sebagai berikut:

1. Alumunium

Logam ini ditambahkan ke dalam vaksin dalam bentuk gel atau garam sebagai pendorong terbentuknya antibodi. Alumunium telah dikenal sebagai penyebab kejang, penyakit alzheimer, kerusakan otak dan dimensia (pikun). Logam ini biasanya digunakan pada vaksin-vaksin DPT, DaPT dan Hepatitis B.
2. Benzetonium Khlorida

Benzetonium adalah bahan pengawet dan belum dievaluasi keamanannya untuk dikonsumsi oleh manusia. Biasa digunakan sebagai campuran vaksin anthrax terutama diberikan kepada para personil militer.
3. Etilen Glikol

Biasa digunakan sebagai bahan utama produk antibeku dan digunakan sebagai pengawet vaksin DaPT, polio, Hib dan Hepatitis B.
4. Formaldehid

Bahan kimia yang terkenal sebagai zat karsinogenik (penyebab kanker) yang biasanya digunakan dalam proses pengawetan mayat, fungisida/insektisida, bahan peledak dan pewarna kain.

Selain beracun, menurut Sir Graham S. Wilson pengarang buku The Hazards of Immunization formalin tidak mamadai sebagai pembunuh kuman sehingga maksud penggunaannya sebagai penonaktif kuman dalam vaksin menjadi tidak berfungsi dengan baik.

Akibatnya adalah kuman yang seharusnya dilemahkan dalam vaksin tersebut malah menguat dan menginfeksi penggunanya.
5. Gelatin

Bahan yang dikenal sebagai alergen (bahan pemicu alergi) ini banyak ditemukan dalam vaksin cacar air atau MMR. Bagi kaum Muslim, gelatin menimbulkan isu tambahan karena biasanya bahan dasarnya berasal dari babi.
6. Glutamat

Bahan yang digunakan dalam vaksin sebagai penstabil terhadap panas, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini banyak dikenal sebagai penyebab reaksi buruk kesehatan dan ditemukan pada vaksin varicella.
7. Neomisin

Antibiotik ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan kuman di dalam biakan vaksin. Neomisin menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan sering ditemukan dalam vaksin MMR dan polio.
8. Fenol

Bahan yang berbahan dasar tar batu bara yang biasanya digunakan dalam produksi bahan pewarna non makanan, pembasmi kuman, plastik, bahan pengawet dan germisida.

Pada dosis tertentu, bahan ini sangat beracun dan lebih bersifat membahayakan daripada merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi berlawanan dengan tujuan utama pembuatan vaksin.

Fenol digunakan untuk pembuatan beberapa vaksin termasuk vaksin tifoid.
9. Streptomisin

Antibiotik ini dikenal menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan biasa ditemukan dalam vaksin polio.
10. Timerosal/Merkuri

Bahan yang sangat beracun yang selama beberapa puluh tahun digunakan pada hampir seluruh vaksin yang ada di pasaran. Padahal timerosal/merkuri adalah salah satu bahan kimia yang bertanggung jawab atas tragedi Minamata di Jepang yang menyebabkan lahirnya bayi-bayi yang cacat fisik dan mentalnya.

Berikut ini adalah beberapa kerusakan yang disebabkan keracunan merkuri:

1. Otak bayi masih mengalami perkembangan yang cepat dan merkuri bisa merusak sel otak secara menetap.
2. Sistem kekebalan tubuh bayi masih belum berkembang secara penuh sehingga bayi tidak mempunyai kemampuan melawan serangan benda asing (bakteri, virus dan racun lingkungan) secara benar.
3. Kemampuan tubuh bayi untuk membuang racun dari tubuhnya melalui hati belum berkembang sepenuhnya sehingga zat-zat berbahaya cenderung menetap di dalam tubuhnya seperti merkuri, formalin dan alumunium.
4. Penghambat darah-otak (selaput yang berada di antara darah yang beredar di tubuh dengan otak yang berfungsi bahan-bahan berbahaya mencapai otak) belum mampu menghalangi racun yang bisa merusak otak.
5. Gejala keracunan merkuri yang paling umum antara lain adalah:
* Perubahan suasana hati dan kepribadian, termasuk mudah marah dan malu
* Hilangnya sensasi dan masalah penglihatan serius
* Ketulian dan kecenderungan kesulitan berkomunikasi karenanya
* Kelemahan otot dan tidak adanya koordinasi tubuh yang baik
* Hilangnya/lemahnya ingatan
* Tremor/gemetaran

Belum lagi fakta-fakta yang disajikan dalam buku ini yang mengkaitkan vaksinasi yang berbahaya dengan meningkatnya kasus-kasus autisme saat ini.

Dimana kasus autisme ini ternyata memiliki kemiripan dengan gejala-gejala keracunan merkuri yang banyak digunakan dalam vaksin.

Hal yang menarik lainnya untuk kita di Indonesia yang sedang gencar-gencarnya melakukan vaksinasi polio melalui mulut (oral/dimakan) adalah fakta bahwa sejak tahun 2000 Sentra Pengendalian Penyakit Amerika Serikat sudah menghentikan vaksin oral dan digantikan dengan suntikan.

Mengapa? Karena vaksinasi polio oral terbukti menimbulkan sampai 10 kasus polio per tahun dan dituding menyebabkan gangguan serius pada sistem pencernaan terutama penyumbatan usus!

Lantas mengapa informasi-informasi tersebut cenderung tidak pernah terpublikasikan secara luas?

Alasannya tentu saja sederhana sekali: UANG.

Bisnis produksi dan penjualan vaksin bernilai milyaran dollar Amerika Serikat per tahun! Selain itu banyak sekali bukti-bukti yang kemudian dibungkam menelusuri bahwa penyakit-penyakit saat ini seperti HIV/AIDS, DBD (demam berdarah), flu burung, dsb adalah senjata biologi yang sengaja dikembangkan yang kemudian dilepaskan ke komunitas sehingga mendorong kebutuhan akan obat dan vaksin penyakit-penyakit tersebut.

Saya dan isteri pun akhirnya sepakat untuk tidak memvaksinasi puteri kami. Hal ini kami lakukan setelah berkonsultasi dengan banyak ahli kesehatan (kedokteran, kimia klinis, teknologi kesehatan, dsb).

Apalagi ternyata teman-teman kami yang menjadi atau sedang kuliah menjadi dokter di Eropa secara terang-terangan menyatakan “vaksinasi adalah fiksi seperti cerita manusia mendarat di bulan..”

KALAHKAN AUTISME SEKARANG

http://www.peduliautisme.org/Mainpage_Artikel3.htm

KALAHKAN AUTISME SEKARANG

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat ternyata tidak mampu mengurangi, apalagi meniadakan ancaman bertambahnya prevalensi penyandang kelainan pertumbuhan anak (pervasive development disorder). Sindroma Down misalnya, sejak diperkenalkan oleh Dr. John Longdon Down pada tahun 1866 hingga kini belum ditemukan obat penangkal dan metoda pemulihan atau rehabilitasi yang dapat menghindarkan anak dari cacat permanen yang mencemaskan orang tua dan masyarakat. Kini spektrum kelainan pertumbuhan anak makin meluas, mulai yang paling ringan tingkat kelainan namun paling tinggi prevalensinya seperti autisme hingga yang paling berat seperti penderita serangan virus rubella dan toksoplasma. Kondisi tersebut sangat mencemaskan orang tua, dan karenanya membutuhkan perhatian dan solidaritas kebersamaan untuk menghambat sebaran epidemi autistik dan merehabilitasi dampak kelainan pertumbuhan anak supaya mampu berkarya secara mandiri.

Seriusnya penyebaran autisme di negara maju telah mendorong Autism Reseach Institution yang didirikan pada 1967 untuk mendekralasikan ” Defeat Autism Now/DAN ” pada tahun 1995. Kemudian WHO menggalang gerakan pemberantasan Autisme dengan mengintegrasikan Autisme dalam International Classification of Diseases (ICD)-8 tahun 1980, kemudian ICD-9 tahun 1987, dan yang terakhir dalam ICD-10 tahun 1993. Semula Autisme dipahami sebagai kelainan perilaku, namun dalam ICD-9 tahun 1993 lingkup Autisme diperluas menjadi Kelainan Perkembangan Anak yang meliputi kelainan aspek fisikal, mental, dan kecerdasan anak secara menyeluruh atau “Pervasive Develoment Disorders”.

Oleh karena itu ” Kelainan Pertumbuhan Anak Menyeluruh atau Pervasive Develoment Disorders” menurut ICD-10 tahun 1993 meliputi 7 (tujuh ) jenis kelainan, yaitu:

1. Childhood autism adalah kelainan pertumbuhan anak sejak lahir hingga berumur 3 (tiga) tahun yang bercirikan ketidakmampuan berinteraksi sosial secara timbal balik, sulit berkomunikasi, serta berperilaku kaku, stereotip dan selalu mengulangi hal yang sama (repetitive).
2. Atypical Autism, yaitu kelainan perrtumbuhan anak setelah berumur 3 (tiga) tahun yang menyandang beberapa kelainan di atas secara yang lebih menonjol.
3. Rett’s syndrome adalah penyandang sindroma Rett yang umumnya dialami oleh anak-anak perempuan.
4. Childhood Disintegrative Disorders adalah anak yang mengalami kelainan disintegratif.
5. Overactive disorder Associated with mental retardation and stereotyped movement, adalah kelainan perilaku yang overaktif pada anak mengalamai keterlambatan perkembangan mental dan kesulitan mengendalikan gerakan atau gerakan stereotip.
6. Asperger’s Syndrome atau sindroma Asperger adalah anak-anak (mayoritas anak laki-laki) yang menyandang kelainan perilaku.
7. Other pervasive development disorder, yaitu anak-anak penyandang kelainan lainnya.

Terobsesi oleh makin meluasnya spektrum Autisme dan cepatnya sebaran epidemi ini, termasuk terutama kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, yang sangat mencemaskan, PeduliAUTISME terpanggil untuk menggalang kebersamaan orang tua, kemudian emphatiwan dan simpatisan guna menyusun program mengalahkan epidemi autisme. PeduliAUTISME menyediakan wahana berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana merawat, melatih dan merehabilitasi kelainan pertumbuhan fisik, mental dan kecerdasan anak sedini mungkin. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman tersebut akan meningkatkan kemampuan merawat dan merehabilitasi cacat akibat epidemi autisme.

Diharapkan Peduli AUTISME dapat mempelopori kegiatan yang meringankan beban orang penyandang autisme dan pelbagai usaha pelatihan dan pendidikan yang memandirikan penyandang autisme. Kepeloporan yang diharapkan terutama dalam hal menyusun program perawatan dan penyembuhan, serta program pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan penyandang autisme. Keaktifan orang tua dalam berbagai usaha dan kegiatan merawat, melatih dan mendidik untuk merehabilitasi kelainan anak akan memberikan masukan yang berharga dalam menerapkan program pengrehabilitasian dini kelainan perilaku (behavioral disorder) dan kelainan kognitif (cognitive disorder).

JENIS KELAINAN PERTUMBUHAN ANAK

Efektivitas penyembuhan suatu penyakitan atau rehabilitasi suatu kelainan sangat tergantung pada kedinian dan ketepatan terapi yang dilakukan. Kedinian terapi terkait erat dengan kemampuan mendiagnosa penyakit atau gejala kelainan secara tepat dan dini. Kecermatan orang tua mengenali kelainan pertumbuhan anak dan mendiagnosa penyebab kelainan sejak lahir akan mempermudah terapi dan tindak rehabilitatif selanjutnya. Pengenalan dini kelainan pertumbuhan anak dilakukan dengan memperhatikan perkembangan kemampuan anak menggerak-gerakan kaki dan tangannya, gerakan telungkup dan merangkak serta berdiri dan berjalan pada usia 6 bulan hingga 14 bulan. Selain kewajaran gerakan motorik tersebut, juga diperhatikan kewajaran fungsi sensorik anak misalnya kepekaan terhadap dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan, tatapan mata yang fokus, meniru bunyi dan kata yang didengarnya hingga mengucapkan kata-kata yang bermakna dan bercakap-cakap.

Dari dimensi waktu, ICD-10 dengan tegas membedakan dua masa terjadinya kelainan, yaitu kelainan terjadi sebelum anak berusia 3 (tiga) tahun, dan kelainan yang terjadi sesudah anak berusia 3 (tiga) tahun. Pengalaman menunjukkan bahwa ada beberapa kasus yang pada dua tahun pertama sejak kelahiran, pertumbuhan fisik, perilaku dan kecerdasan anak kelihatan normal. Sindroma Heller misalnya, hingga tahun kedua pertumbuhan anak tergolong normal, namun setelah itu kemampuan anak berbicara dan mengenali sesuatu (kognitif) terus menerus menurun secara mencemaskan hingga anak tersebut tergolong cacat permanen.

Keterlambatan mendiagnosa dan menterapi kelainan pertumbuhan anak secara tepat dapat menimbulkan cacat fisik, mental dan emosional (mental and emotional disorder) dan kelainan tingkat kecerdasan anak secara timbal balik yang bersifat permanen. Kelainan pertumbuhan fisik (physical disorder) anak dapat berupa:

1. aphasia suatu keadaan anak yang susah berbicara;
2. apraxia, suatu keadaan anak yang tidak dapat menggerakkan badannya karena gangguan saraf motorik;
3. ataxia, suatu keadaan anak yang sulit menggerakan otot-ototnya;
4. gerakan athetoid suatu keadaan anak yang tangannya terus menerus bergerak secara tidak terkendali;
5. dyslexia suatu keadaan anak yang mengalami kesulitan membaca;
6. dysphasia suatu keadaan anak yang mengalami kesulitan mengucapkan kata yang sulit atau kalimat rumit;
7. dyskinesia suatu keadaan anak yang mengalami kesulitan menggerakkan kaki dan tangan;
8. mental psikotik suatu gangguan mental berat yang butuh layanan kejiwaan terpadu.

Secara khusus Dr Andreas Rett (1966) mendeskripsikan 4 (empat) tahapan pertumbuhan kelainan anak penyandang sindroma Rett sebagai berikut:

1. pengenalan dini (early onset) sejak bayi berusia 6-18 bulan, dengan memperhatikan fokus tatapan mata, gerakan kaki dan tangan, kemampuan telungkup, merangkak, kemampuan mengucapkan dan meniru, perhatian pada mainan dan lingkungan, serta kemampuan berdiri sendiri dan berjalan.
2. Tahapan kerusakan yang cepat (rapid destructive stage) karena dalam hitungan minggu atau bulan yang terjadi pada usia 1 – 4 tahun. Pada tahapan ini keterampilan dan kemampuan anak yang semula kelihatan normal menjadi terus berkurang dan menghilang. Gejala ini makin nyata menjelang anak berusia 2 (dua) tahun. Gerakan kaki dan tangan makin tidak terkendali dan makin kaku, baru reda pada waktu tidur. Irama pernapasan makin tidak teratur.
3. Tahap kestabilan atau ketenangan palsu (plateau or pseudo-stationary stage) terjadi pada usia 2 – 10 tahun. Pada tahapan ini kelainan perilaku anak kelihatan berkurang, emosinya kelihatan lebih stabil dan terkendali. Namun perlu diwaspadai ancaman terus merosotnya kemampuan sarat sensorik dan motoriknya sehingga gejala apraxia makin nyata.
4. Tahapan makin sulit bergerak (late motor deterioration stage) terjadi bertahun-tahun bahkan beberapa dekade dimana kemampuan menggerakan otot terus berkurang karena sebagian otot-ototnya lemas tak bertenaga sedangkan bagian otot lainnya kaku dan mengarah kepada cacad phisik yang bersifat permanen. Ketidakmampuan mengatasi gangguan emosi anak, terutama setelah berumur 3 (tiga) tahun dapat memperparah kelainan tersebut hingga mengidap gangguan mental psikotik (psychotic mental disorder) dan atau kelainan kepribadian (personality disorder), sehingga menjadi penyandang kelainan atau cacat permanen. Kelainan atau cacat kepribadian dapat berupa:
1.

kelainan kepribadian paranoid yang dikuasai oleh rasa takut sehingga selalu curiga dan tidak percaya pada sesama;
2.

kelainan kepribadian schizotypal yang cenderung menyendiri dan membenam diri dalam alam pikiran dan dunia fantasinya sendiri;
3.

kelainan kepribadian histionik yang selalu minta diperhatikan, diutamakan dan semua keinginan harus dituruti.

Hingga kini intensitas usaha mengenali penyebab kelainan pertumbuhan anak terus ditingkatkan. Secara umum kelainan pertumbuhan anak dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) faktor penyebab, yaitu:

1. faktor kelainan perkembangan otak (brain development disorder) atau karena kelainan perkembangan saraf (neuro-developemt disorder),
2. virus, jamur, rubella, herpes toksoplasma dan akibat vaksin yang mengandung air raksa (mercuri) seperti vaksin MMR dan Thimerosal,
3. sistem pencernaan yang kurang baik sehingga rentan terhadap makanan tertentu,
4. karena kelainan kromosom dan faktor keturunan atau genetika.

Uraian ICD-10 dan sindroma Rett di atas mengisyaratkan betapa pentingnya pendiagnosaan dan penterapian dini bagi penyandang kelainan pertumbuhan anak, terutama bagi anak berusia kurang dari 3 (tiga) tahun. Pengenalan dini kelainan fisik anak seyogianya dilakukan oleh orang tua anak dengan mengamati kekakuan (spastic), kemampuan mengendalikan gerakan otot (athetoid), kelemasan otot (hypotonic), dan kombinasi antara kekakuan otot (spastic) dan kelemasan otot (hypotonic). Selanjutnya kekakuan otot (spastic) dapat dipilah menjadi 4 (empat) macam, yaitu :

1. kekakuan atau kelemasan semua otot- otot kaki dan tangan atau spastic quadriplegia. Pada umumnya kekakuan otot disandang oleh penderita virus rubella penyandang sindroma Down;
2. kekakuan otot kaki dan tangan pada sebelah kiri atau kanan tubuh yang dikenal sebagai spastic hemiplegia;
3. kekakuan otot kaki atau spastic diplegia, dan
4. kombinasi ketiga jenis kekakuan di atas.

Berlanjutnya gangguan pertumbuhan fisik seperti kekakuan atau ketidakberdayaan otot anggota gerak (kaki dan tangan) dapat merambat pada otot-otot leher, dagu dan muka anak sehingga menghambat gerakan leher dan kemampuan mengunyah, menelan, bercakap-cakap, menggerakkan bola mata serta kemampuan mendengarkan suara. Kelainan pertumbuhan fisik ini dapat dikenali orang tua lebih dini. sebagai contoh, seorang ibu muda yang baru melahirkan putra pertama menemukan pada bagian kiri leher terdapat sebuah benjolan kecil sebelum bayi berumur sebulan. Pendiagnosaan dini tersebut yang mempermudah tindakan penyembuhannya.

Di samping pencermatan pertumbuhan fisik anak juga dilakukan pencermatan perkembangan kejiwaan dan kepribadian anak yang dilakukan dengan memperhatikan perilaku anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Secara umum kelainan perilaku anak dapat dibedakan menjadi perilaku anak sangat aktif atau hiperaktif dan perilaku sangat tenang atau hipoaktif. Gerakan kaki dan tangan anak yang hiperaktif sangat cepat untuk mendekati dan meraih benda-benda yang ada disekitarnya, sehingga terkesan sangat nakal. Sebaliknya gerakan kaki dan tangan anak hipoaktif sangat lamban dan berperilaku sangat tenang sehingga terkesan sebagai anak manis (good boy or good girl). Kelainan fisik dan mental anak yang berlanjut akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak, sehingga bila tidak diatasi dengan tuntas anak tersebut akan terbelenggu oleh kelainan fisik (physical disorder) dan ketertinggalan mental dan intelektual (mental and intellectual disorders), yang akan menjadi beban permanen keluarga dan masyarakat.

Untuk mengatasi petaka yang mengancam generasi muda tersebut perlu penyebarluasan pengetahuan mengenai gejala umum (sindroma) kelainan pertumbuhan anak (pervasive development disorder) pada masyarakat umumnya, khususnya pada orang tua dan calon orang tua guna dapat mendiagnosa secara dini kemungkinan kelainan yang diidap oleh putra atau putri mereka. Dengan pengetahuan tersebut, orang tua dapat mengenali secara dini kewajaran atau kelainan pertumbuhan fisik, mental dan kecerdasan putra-putrinya menjelang usia 3 (tiga) tahun. Bila hasil pengamatan orang tua mengindikasikan adanya kelainan, maka orang tua dapat secara dini pula berusaha mendapatkan terapist yang tepat supaya kadar kesembuhan atau kepulihan kesehatan anak makin besar pula. Peran orang tua dalam pendiagnosaan dini dapat dikatakan mutlak.

Dalam kondisi tersebut PeduliAUTISME, selaku wadah perhimpunan orang tua penyandang autisme, emphatiwan dan simpatisan nasib penyandang kelainan pertumbuhan anak lainnya dapat berbagi pengetahuan, pengalaman dan bantuan pada orang tua yang baru menghadapi problema tersebut. Suatu kenyataan yang menggembirakan bahwa penyandang autisme pada umumnya memiliki pertumbuhan fisik dan intelektual yang normal. Penyandang autisme umumnya hanya mengalami kelainan perkembangan emosi kejiwaan. Oleh karena itu, peluang kesembuhan lebih besar terutama bila pengrehabilitasiannya dilakukan secara dini, yaitu dimulai sebelum anak berusia 3 (tiga) tahun supaya dapat disesuaikan dengan perkembangan kejiwaan anak. Setelah anak berumur tiga tahun usaha rehabilitasi kejiwaan lebih sulit, bukan tidak mungkin, karena sikap dan perilaku anak sudah terpola sesuai dengan kelainan yang disandangnya.

Pengrehabilitasian dini (sebelum berusia tiga tahun) sangat membutuhkan peranaktif orang tua. Dari konteks keadaan tersebut PeduliAUTISME memfasilitasi orang tua penyandang kelainan pertumbuhan untuk secara bersama-sama ikut aktif mengelola kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan putra-putrinya. Prinsip kebersamaan tersebut dikembangkan menjadi mitra usaha dan atau mitra kerja PeduliAUTISME. Bagi orang tua yang hartawan dapat menjadi mitra usaha dengan menyediakan dan mengelola fasilitas pengrehabilitasian, bagi orang tua yang memiliki talenta kepandaian dapat menjadi mitra kerja memajukan pelayanan pada rekan orang tua dan anak yang menghadapi problema yang sama.

TERAPI DAN REHABILITASI KELAINAN PERTUMBUHAN

Bahasan di atas mengungkapkan bahwa kelainan pertumbuhan bayi dapat diketahui beberapa bulan setelah kelahiran. Kelainan fisik dapat segara dikenali pada anak tergolong penyandang sindroma Down dan terserang virus Rubella karena secara kasat mata tampak jelas ciri kelainan pada organ tubuh, wajah atau kaki tangannya kaku. Sedangkan mengenali kelainan mental pada penyandang autisme tidaklah mudah, apalagi bayi yang belum berumur 3 (tiga) tahun. Gejala kelainan mental penyandang autisme menurut ICD-10 WHO di atas secara rinci dan tuntas dapat dipelajari pada sindroma Rett bagi anak perempuan dan sindroma Asperger bagi anak lelaki. Kelainan tersebut antara lain berasal dari kekurang-pekaan saraf sensorik dan saraf motorik bayi, berupa kelambanan gerakan kaki dan atau tangan, keterlambatan berbicara atau berjalan dibandingkan dengan kemampuan bayi seusia.

Berdasarkan gejala kelainan pertumbuhan anak di atas perlu dirancang program pengrehabilitasian kelainan yang secara awam dibedakan menjadi kelainan fisik (physical disorder) dan keterlambatan mental dan intelektual (mental and intellectual retardation). Keadaan dan kebutuhan mendasar penyandang kelainan pertumbuhan anak tersebut selanjutnya menjadi masukan dan acuan perancangan program terapi dan pengrehabilitasian, yang secara teknis dikelompokkan pada tiga tahapan, yaitu:

1. Rehabilitasi dasar (basic rehablitation) yang lebih memfokuskan pada perawatan dan pemulihan kelainan fisik anak yang berumur hingga 3 (tiga) tahun. Dari pendiagnosaan dini dapat diketahui jenis kelainan yang perlu diterapi dan direhabilitasi, misalnya tergolong kekakuan atau kelemasan otot, ketidakmampuan mengendalikan gerakan otot. Program terapi dan rehabilitasi disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan kelainan yang dirancang supaya pada usia 3 (tiga) tahun gerakan anak dapat dikategorikan normal seperti anak sebayanya. Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran yang sering terkait dengan gangguan berbicara. Penyandang autisme sering mengalami kelainan pada indra pendengaran yang diikuti kesulitan menelan dan berbicara. Pada tahapan ini dilakukan perawatan dan pelatihan khusus pada kelainan, kelemahan atau kekurangwajaran gerakan phisik anak yang berusia 2 – 4 tahun sambil dibiasakan bermain dengan rekan sebayanya.
2. Rehabilitasi fungsional (functional rehabilitation) merupakan kelanjutan dari program rehabilitasi dasar di atas yang disesuaikan dengan tingkat kemajuan tiap anak serta usia dan tingkat perkembangan kejiwaan anak yang bersangkutan. Selain pelatihan phisik, program ini mulai memberikan muatan pelatihan ketrampilan, terutama ketrampilan bersosialisasi dengan mengacu kepada pola perkembangan jiwa anak dengan motto “Berlatih Sambil Bermain”. Tahapan rehabilitasi fungsional (functional rehabilitation) ini berupaya mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan cepat (rapid destructive) pada pada usia 1-4 tahun, dan kestabilan palsu (plateau or pseudo-stationary) pada usia 2-10 tahun seperti yang disinyalir oleh Dr. Andreas Rett di atas. Pada tahapan ini orang tua perlu memikirkan pendidikan putra-putrinya karena mereka memasuki usia wajib belajar. Mengingat kekhususan kondisi yang dialami putra-putrinya masing-masing, orang tua penyandang kelainan pertumbuhan perlu mempertimbangkan untuk menyelenggarakan sendiri program pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya dilengkapi alat bantu terapi wicara, alat kesenian, ketrampilan yang dapat mengoptimalkan potensi kemandirian anak.
3. Program peningkatan kemandirian anak yang dilakukan dengan menerapkan pendekatan keperilakuan (behavioral approach) dan pendekatan kognitif (cognitive approach) serta pelatihan dan pendidikan lanjutan dirancang sesuai dengan kondisi phisik, mental emosional dan intelektual penyandang kelainan. Program pelatihan dan pendidikan ini merupakan lanjutan dari program rehabilitasi fungsional sebelumnya yang lebih diarahkan pada persiapan untuk memasuki pasar tenaga kerja atau berkarya secara mandiri dengan memperhatikan bakat dan ketersediaan teknologi maju yang berbasis komputer.

Menyadari beratnya perjuangan hidup penyandang kelainan pertumbuhan anak di masa perdagangan bebas mendatang PeduliAUTISME mengajak orang tua, emphatiwan dan simpatisan secara bersama-sama untuk memikirkan dan memformulasikan langkah-langkah strategis memperjuangkan dan melindungi kepentingan jangka panjang mereka. Kiranya niat baik dan perbuatan luhur orang tua, emphatiwan dan simpatisan penyandang kelainan pertumbuhan anak merupakan karsa dan karya terbaik bagi kemulian Allah dan kesukacitaan penyandang Autisme.

Makanan Indonesia untuk Autisme

http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/common/stofriend.aspx?x=Mother+And+Baby&y=cyberwoman%7C0%7C0%7C8%7C33

Makanan Indonesia untuk Autisme
Mother And Baby Tue, 17 Jul 2001 11:47:00 WIB

Sebagian besar gejala autisme bisa dikurangi dengan berpantangan terigu dan susu. Itu berarti sumber pangan asli Indonesia seperti beras, singkong, ubi, kentang, sagu dan jagung aman dikonsumsi penyandang autisme

Autisme menurut Dr. Melly Budiman,Sp.KJ merupakan gangguan perkembangan yang kompleks dan berat pada anak. Gejalanya bersifat individual dan tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Secara garis besar gejala ini merupakan gangguan komunikasi, berinteraksi, dan gangguan perilaku.

“Anak bisa mengalami lambat bicara, omongannya sulit dipahami, tidak mau menatap mata, tak mau bermain dengan teman sebaya, tidak mau diatur, menyakiti diri sendiri, terpukau pada benad yang berputar dan banyak lagi,”ujar psikiater anak yang juga ketua Yayasan Autisme Indonesia.

Penyebab pasti autisme belum jelas diketahui. Ada pendapat, karena faktor genetik dan gangguan pertumbuhan sel otak selama dalam kandungan, serta kontaminasi logam berat menjadi sebab. Gangguan pertumbuhan sel otak pada janin bisa karena adanya virus, jamur atau zat beracun dalam makanan. Vaksin MMR (Mumps Measles Rubella) uga diperkirakan jadi penyebab. Dinyatakan vaksin ini menyebabkan kerusakan pada pencernaan dan otak. Beberapa gejala autisme juga ditemukan pada anak setelah imunisasi MMR.

Ahli Naturopati, Dr Amarullah H. Siregar, D1Hom, DNMed, MSc, PhD mengungkapkan disamping faktor genetik, autisme juga bisa disebabkan oleh trauma psikis atau fisik pada saat lahir., dan adanya intoleransi terhadap jenis protein dan gluten yang terdapat dalam gandung atau terigu, serta casein yang terkandung dalam susu. Selain pada gandum, gluten juga terdapat dalam havermut, bulger dan sejenisnya.

Anaka yang tidak diinginkan, lanjutnya bisa membawa trauma psikis disaat lahir. Sedangkan trauma fisik, misalnya pada bagian kepala, bisa terjadi selama proses kelahiran. Kondisi intoleransi terjadi karena kekurangan mineral pada sistem pembuluh saraf selama dalam kandungan.

Ada juga yang berpendapat bahwa autisme mempunyai gangguan metabolisme yaitu kekurangan enzim yang berkaitan dengan pencernaan gluten dan casein. Karena metabolisme tidak sempurna, maka proses pencernaan protein bukan menghasilkan asam amino, tapi malah menjadi zat racun semacam opioid yang jika masuk ke otak akan memicu agresivitas.

Sebuah studi di Amerika Serikat menyatakan 80 persen anak penyandang autisme alergi terhadap prduk susu dan gandum. Penelitian Dr.J.Robert Cade,M.D dari Universitas Florida menunjukkan 8 dari sepuluh anak bebas dari gejala autisme dan skizofrenia setelah menjalani terapi diet bebas susu.

Untuk yang intoleran terhadap susu bisa mengganti dengan susu kacang hijau dan jenis kacang-kacangan lain. Tapi harus tetap diingat bahwa bayi harus tetap mendapat ASI eksklusif selama empat bulan penuh. “Dengan air susu ibu, si anak malah akan punya kekebalan tubuh yang bagus.”

Dr. Siregar menegaskan, dengan memberikan vitamin dan mineral, kondisi intoleransi tersebut bisa diatasi. Dijelaskan setiap anak lahir dengan sifat inkonstitusional yang berlainan. Menurut ilmu kedokteran homeopati, sifat ini dibagi menjadi 4 (empat) yaitu

Tipe Carbonitrogenoid yang karakternya cerdas, mudah lelah fisik maupun mental, sensitif terhadap udara dingin, gejala memburuk pada siang hari. Sensitif terhadap cahaya dan suara, kulit selalu kering

Tipe Oxygenoid berkarakter, selalu ingin udara yang dingin , gejala memburuk pada malam hari, kulit berminyak dan pucat, selera makan baik, tidak suka daging, tidur memeluk guling.

Tipe Tubercular merupakan kombinasi tipe pertama dan kedua, juga cenderung rentan terhadap dingin, sulit berkonsentrasi, sangat atraktif selalu pusing dan limbung.

Tipe Hydrogenoid karakternya menyukai udara hangat, mudah tersinggung, egois, cemburu, sering diare tanpa sebab, sering muncul gangguan kulit.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

WAKEFIELD,NEEDLEMAN : BERKORBAN DEMI ILMU

http://www.autisme.or.id/berita/article.php?article_id=69
WAKEFIELD,NEEDLEMAN : BERKORBAN DEMI ILMU

NATIONAL AUTISM ASSOCIATION

Press release : June 15, 2006.
Persamaannya begitu mencolok tentang apa yang sedang terjadi saat ini dengan 30 tahun yang lalu. Seorang peneliti yang gigih mencari jawaban dan mempertanyaan keamanan dan effektivitas sebuah produk yang terkenal, menjadi bulan2an perusahaan raksasa.

Pada tahun tujuh puluhan, cat dan bensin yang dicampur timbal hitam adalah 2 produk yang terkenal. Suatu saat, seorang peneliti : Dr Herbert Needleman, melakukan studi tentang hubungan langsung antara kecerdasan anak dengan paparan timbal hitam.
Sebagai jawaban industri timbal hitam menyewa para ilmuwan yang “netral” untuk menuduh Needleman melakukan scientific misconduct dan mengadilinya.
Dikemudian hari salah seorang dari mereka mengaku telah dibayar oleh industri timbal.
Penelitian Needleman-lah yang menyebabkan dihapuskannya pemakaian timbal dalam cat dan bensin.

Tiga dekade kemudian Dr Andrew Wakefield mengalami hal yang sama. Ketika ia mengumumkan telah menemukan virus measles yang sama dengan yang disuntikkan liwat vaksin MMR dalam peradangan usus anak-anak autistik maka iapun langsung dituduh melakukan hal yang menyalahi ilmu. Ia diadili oleh para teman sejawat di negaranya dan bahkan dikeluarkan dari rumah sakit dimana ia bekerja.
Minggu yang lalu , sekali lagi penelitian Wakefield dibuktikan kebenarannya dengan penelitian serupa di Amerika dengan hasil yang sama.

Sebelumnya telah ada 2 penelitian di Amerika dengan hasil yang sama.

Dr Stephen Walker dari Wake Forest University School of Medicine, meneliti anak-anak dengan autisme regressif dan gangguan pencernaan. Dari hasil yang telah masuk sampai saat ini, semua ditemukan virus measles dengan jenis yang sama dengan vaksin MMR. Ia menemukan virus tersebut pada 87% anak-anak yang ditelitinya.
Belum ada tanggapan apapun dari pemerintahnya. Namun ia tidak mengalami nasib yang sama seperti Wakefield.
Kapan para dokter di Indonesia akan berani melakukan penelitian seperti ini ?(Red)

Merkuri Bisa Menjadi Penyebab Autis

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=172886

Merkuri Bisa Menjadi Penyebab Autis

Sabtu, 12 Mei 2007
Ingat merkuri tentu ingat penyakit minamata. Seperti peristiwa yang terjadi pada kasus pencemaran Teluk Tokyo yang ditengarai sarat senyawa kimia merkuri. Pencemaran merkuri di kawasan itu berdampak mengerikan berupa munculnya penyakit minamata.

Di Indonesia pun ada kasus serupa walau diwarnai perdebatan. Teluk Buyat di Provinsi Sulawesi Utara ditengarai tercemar logam berat berupa merkuri. Kalangan LSM yang menyimpulkan hal tersebut. Tetapi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bantahan.

Riset di bidang kesehatan tentang merkuri tak melulu terkait dengan penyakit minamata. Sebuah riset terbaru memperlihatkan hubungan antara merkuri dengan autis yang kerap menerpa anak-anak.

Riset baru ini mungkin saja merupakan kabar gembira bagi para orangtua khususnya yang was-was tentang gejala autis. Sejauh ini tentu banyak hal sudah dilakukan berbagai pihak untuk mengatasi kelainan autis pada anak.

Paling tidak dari hal itu bisa menjadi cara untuk menghindar agar anak terbebas dari kemungkinan terkena autis. Laporan terkini tentang autis termuat dalam The Journal of Toxicology and Enviromental Health part A (2007). Hasil riset terkini tentang autis itu memang menyisakan keraguan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah terdapat hubungan kausal antara paparan merkuri dari pengawet thimerosal pada produk-produk vaksin dengan keracunan merkuri yang didiagnosis sebagai autism spectrum disorder (ASD).

Adalah Geier and Geier yang dalam jurnal tersebut menyatakan keraguan dalam penelitian tentang toksikologi orisinal. Geier and Geier menulis judul A Case Series of Children with Apparent Mercury Toxic Encephalopathies Manifesting with Clinical Symptoms of Regressive Autism Disorder.

Thimerosal merupakan senyawa merkuri toksik yang biasa digunakan sebagai pengawet pada beberapa obat bebas dan obat resep. Pengawet obat itu termasuk kebanyakan penggunaan pada suntikan flu yang diberikan kepada wanita hamil, bayi, anak-anak, dewasa dan usia lanjut.

Riset terkini Geire and Geire tersebut mulai mendapat dukungan. Sebut saja pada 19 April 2007, Kepala Organic Analitical Toxicology Branch Dr Larry L Needham menyatakan thimerosal termasuk senyawa kimia yang berkaitan dengan ASD. Needham mengatakan hal tersebut pada US National Academy of Sciences Institute of Medicine. Thimerosal dalam riset tersebut dinyatakan 49,55 persen merkuri berdasarkan berat.

Geier dan Geier (2007) menghasilkan pertama kalinya seri kasus pasien ASD yang telah dikonfirmasikan peranan pengawet obat thimerosal pada pasien-pasien yang didiagnosis ASD regresif. Sebagaimana dikutip situs resmi PT Kalbe Farma Tbk riset itu menggambarkan seri kasus dari 8 pasien yang mempunyai diagnosis ASD regresif, peningkatan kadar androgen, mengeluarkan sejumlah merkuri secara bermakna setelah pemberian obat pengelat, bukti biokimia penurunan fungsi dalam jalur glutation, tidak diketahui paparan merkuri yang bermakna selain dari pengawet vaksin thimerosal dan sediaan imunoglobulin Rho, dan penyebab alternatif ASD regresif mereka dikeluarkan

Studi klinis ini juga menemukan hubungan dosis-respons yang bermakna antara keparahan gejala ASD dan dosis merkuri total dari anak-anak yang menerima obat mengandung thimerosal.

Geier menyatakan pasien-pasien yang ditelitinya terpapar sejumlah merkuri dari obat yang mengandung thimerosal. Itu terjadi selama dalam kandungan dan perkembangan bayi ketika berusia 12-24 bulan. Semula anak-anak berkembang secara normal. Tetapi lama kelamaan menderita ensefalopatis akibat racun merkuri. Gejala itu tercermin dengan adanya gejala klinis konsisten pada diagnosis ASD regresif. Geier mengingatkan keracunan merkuri harus dipertimbangkan sebagai penyebab anak mengalami gejala ASD.

Untuk mengetahui adanya kemungkinan tersebut, setiap orangtua dapat dengan mudah meminta konfirmasi kepastian seorang anak autis non-khelat terkena racun merkuri. Kepastian tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan analisis profil porfirin urin (urinary porphyrin profile analysis/UPPA). Secara garis besar autis merupakan gangguan saat anak dalam masa perkembangan. Gangguan perkembangan pada anak ini mengakibatkan anak-anak sulit melakukan interaksi sosial. Akibatnya anak seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Gejala yang menimpa anak-anak tersebut sering disebut autis infantil.

Autis tentu berbeda dengan gangguan jiwa (schizophrenia) yang merupakan gejala pada seseorang yang membuatnya menarik diri dari dunia luar. Selanjutnya penderita schizophrenia menciptakan dunianya sendiri seperti tertawa, berbicara, menangis dan marah-marah sendiri. Schizophrenia disebabkan proses regresi karena penyakit jiwa. Adapun pada penyandang autis infantile terdapat kegagalan perkembangan.

Sejumlah kalangan mengemukakan pendapat orangtua sebaiknya mulai mengamati anak-anaknya saat berusia setahun. Terlebih bila frekuensi tatap mata sang anak sangat kurang. Anak juga tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non verbal. Gejala tersebut terutama terjadi pada autis infantil sebelum anak berusia tiga tahun.

Tak heran bila langkah lain yang diperlukan adalah perhatian orang tua terhadap anaknya yang menyandang autis. Perhatian ekstra dari para orangtua menjadi penting lantaran jumlah anak autis di Indonesia kian bertambah. Agar sembuh anak autis sebenarnya tak hanya butuh perhatian orangtua tetapi semua pihak di antaranya dokter, terapis, sekolah khusus, dan dukungan masyarakat luas. Namun khusus bagi orang tua tak perlu putus asa bila anaknya autis. Kasih sayang dan kesabaran orangtua bisa menjadi kunci untuk membantu serta memandirikan anak autis.

Harapan Sembuh

Riset temuan obat terkini menjadi harapan lain bagi para orangtua yang anaknya menderita autis. Pada Oktober 2006 misalnya badan pengawas obat Amerika Serikat atau FDA menyetujui penatalaksanaan pasien autis pada anak dan dewasa. Persetujuan itu juga mencakup pemakaian obat antipsikotik golongan atipik risperidone. Keputusan FDA tersebut dikeluarkan setelah ada dukungan pembuktian dari beberapa penelitian yang ditujukan pada pasien anak dengan autis.

Obat tersebut saat ini diketahui merupakan satu-satunya yang disetujui oleh FDA. Lembaga itu memberikan approval terhadap produk risperidone pada terapi iritabilitas yang berhubungan dengan autisme anak dan dewasa.

Persetujuan oleh FDA seperti dikutip situs Kalbe menyatakan beberapa penelitian yang pernah dilakukan terhadap risperidone antara lain pada 36 pasien anak usia 5 hingga 17 tahun dengan spectrum autis. Terapi risperidone tersebut untuk mengatasi kekacauan tingkah laku pada sebagian anak autis. Riset terapi risperidone juga pernah dilakukan terhadap orang autis dewasa. Menurut riset tersebut 57 persen pasien yang diterapi dengan risperidone memperlihatkan perbaikan.

Polemik

Riset yang dimuat dalam jurnal di atas sebenarnya sudah sejak lama menjadi polemik. Beda pendapat yang tajam itu mencakup vaksin dengan bahan pengawet thimerosal yang mengandung merkuri sebagai penyebab autis pada anak-anak.

Di beberapa komunitas dunia maya pun hal ini menjadi bahan diskusi yang hangat. Seorang anggota milis Honda Tiger misalnya menyatakan percaya terhadap isi buku Children with Starving Brains buah karya Jaquelyn McCandles MD.

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit PT Gramedia. Literatur tersebut juga menyinggung kaitan antara merkuri dengan penyakit autisme spectrum disorder.

Vaksin dengan kandungan thimerosal antara lain juga ditemukan dalam vaksin hepatitis B. Thimerosal yang terdiri dari etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom autisme spectrum disorder sudah menjadi perbincangan publik sejak awal 1990-an.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri sudah sejak 2001 melarang vaksin yang mengandung thimerosal. Fakta ini membuat masyarakat mulai khawatir jika harus memvaksin anaknya untuk berbagai keperluan pencegahan penyakit.

Ironisnya Badan Kesehatan Dunia atau WHO sendiri mengenyampingkan rasa khawatir masyarakat dunia. Sebuah komite di WHO yang melakukan pertemuan pada 7 Juni 2006 menyatakan tak ada bukti thimerosal terdapat pada vaksin. Hal yang sama juga dipaparkan dalam New England Journal of Medicine. Dalam jurnal tersebut dinyatakan tak ada kaitan antara vaksinasi dengan perkembangan autis. Barangkali yang harus diingat pendapat tersebut mengemuka tahun lalu. Sedangkan pada 2007 sudah ada riset terbaru. Tak ada salahnya untuk tetap waspada. (Mangku/ berbagai sumber)

Autisme

http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme

Autisme
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Autisme diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan neuro yang menyebabkan interaksi sosial yang tidak normal, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap. Autisme bisa terdeteksi pada anak berumur paling sedikit 1 tahun. Autisme empat kali lebih banyak menyerang anak laki-laki dari pada anak perempuan.

Tanda – tanda Autisme

* – tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari
* – hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata
* – mata yang tidak jernih atau tidak bersinar
* – tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang lain
* – hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu saja yang dia mainkan)
* – serasa dia punya dunianya sendiri
* – tidak suka berbicara dengan orang lain
* – tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain

Penyebab Autisme Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti. Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan yang lainnya mengenai hal ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B yang termasuk dalam MMR (Mumps, Measles dan Rubella )bisa berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder. Tapi hal ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Hal ini berdebatkan karena tidak adanya bukti yang kuat bahwa imunisasi ini penyebab dari autisme, tetapi imunisasi ini diperkirakan ada hubungannya dengan Autisme.

Vaksin penyebab Autis (email dari seorang Ibu)

http://kumis-kucing.blogspot.com/2005/07/vaksin-penyebab-autis-email-dari.html

Friday, July 08, 2005
Vaksin penyebab Autis (email dari seorang Ibu)

Buat para Pasangan MUDA. om dan tante yang punya keponakan… atau bahkan calon ibu … perlu nih dibaca tentang autisme.. Bisa di share kepada yang masih punya anak kecil supaya berhati-hati…….. Setelah kesibukan yang menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku “Children with Starving Brains” karangan Jaquelyn McCandless,MD yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo.

Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000,- itu benar-benar membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum Disorder.

Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya menangis. Selama 6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001 –
Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin HiB. Menurut buku tersebut (halaman 54 – 55) ternyata dua macam vaksin yang diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990 an.

Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak akir tahun 2001. Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun, dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumahsakit besar yang bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan harapan memperoleh treatment yang terbaik, ternyata malah “diracuni” oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi.

Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang gluten dan casein, harus terapi ABA, Okupasi, dan nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat besar biayanya.

Saya hanya ingin menghimbau para dokter anak di Indonesia, para pejabat di Departemen Kesehatan, tolonglah baca buku tersebut di atas itu, dan tolong musnahkan semua vaksin yang masih mengandung Thimerosal. Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak habis di Amerika Serikat tersebut diekspor dengan harga murah ke Indonesia dan dikampanyekan sampai ke puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin Hepatitis B, yang sekarang sedang giat-giatnya dikampanyekan sampai ke pedesaan.

Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal.

Juga tolong e-mail ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang tua, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya. Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu generasi anak-anak penerus bangsa, apalagi jika mereka datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah yang untuk makan saja sulit apalagi untuk membiayai biaya terapi supplemen, terapi ABA, Okupasi, dokter ahli Autisme (yang daftar tunggunya sampai berbulan-bulan), yang besarnya sampai jutaaan Rupiah perbulannya.

Terakhir, mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan ribuan teman- teman senasibnya di Indonesia yang sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari belenggu Autisme.

“Let’s share with others… Show them that WE care!”

KEKHAWATIRAN TERHADAP THIMEROSAL DAN AUTISME

http://puterakembara.org/rm/Alergi5.shtml

KEKHAWATIRAN TERHADAP THIMEROSAL DAN AUTISME

oleh: dr. Widodo Judarwanto, Rumah Sakit Bunda Jakarta

Dari waktu ke waktu jumlah penyandang spektrum autisme tampaknya semakin meningkat pesat. Autisme seolah-olah mewabah ke berbagai belahan dunia. Di beberapa negara terdapat kenaikan angka kejadian penderita Autisme yang cukup tajam. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para pakar kesehatan di dunia .

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 � 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan angka kejadian autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak

Kontroversi yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan autisme dengan imunisasi anak. Banyak orang tua menolak imunisasi karena mendapatkan informasi bahwa beberapa jenis imunisasi khususnya beberapa kandungan di dalam imunisasi seperti Thimerosal dapat mengakibatkan autisme. Akibatnya anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru yang lebih berbahaya seperti hepatitis B, Difteri, Tetanus, pertusis, TBC dan sebagainya. Banyak penelitian yang dilakukan secara luas ternyata membuktikan bahwa autism tidak berkaitan dengan thimerosal. Tetapi memang terdapat teori atau kesaksian yang menunjukkan bahwa Autisme dan berhubungan dengan thimerosal.

Thimerosal atau thiomersal adalah senyawa merkuri organik atau dikenal sebagai sodium etilmerkuri thiosalisilat, yang mengandung 49,6% merkuri. Bahan ini digunakan sejak tahun 1930, sebagai bahan pengawet dan stabilizer dalam vaksin, produk biologis atau produk farmasi lainnya. Thimerosal yang merupakan derivat dari etilmerkuri, sangat efektif dalam membunuh bakteri dan jamur dan mencegah kontaminasi bakteri terutama pada kemasan vaksin multidosis yang telah terbuka. Selain sebagai bahan pengawet, thimerosal juga digunakan sebagai agen inaktivasi pada pembuatan beberapa vaksin, seperti pertusis aseluler atau pertusis �whole-cell�. Food and Drug Administration (FDA) menetapkan peraturan penggunaan thimerosal sebagai bahan pengawet vaksin yang multidosis untuk mencegah bakteri dan jamur. Vaksin tunggal tidak memerlukan bahan pengawet. Pada dosis tinggi, merkuri dan metabolitnya seperti etilmerkuri dan metilmerkuri bersifat nefrotoksis dan neurutoksis. Senyawa merkuri ini mudah sekali menembus sawar darah otak, dan dapat merusak otak.

Pendapat yang mendukung autism berkaitan dengan imunisasi :
Terdapat dan beberapa teori, penelitian dan kesaksian yang mengungkapkan Autisme mungkin berhubungan dengan imunisasi yang mengandung Thimerosal. Toksisitas merkuri pertama kali dilaporkan tahun 1960 di Minamata Jepang. Konsumsi ikan laut yang tercemari limbah industri, sehingga kadar merkuri yang dikandung ikan laut tersebut mencapai 11 mcg/kg dan kerang 36 mcg/kg (batas toleransi kontaminasi sekitar 1 mcg/kg). Pada binatang yang dilakukan pada binatang ditemukan efek neurotoksik etilmerkuri dan metil merkuri, ditemukan kadarnya di dalam otak cukup tinggi pada metil merkuri. Hal ini menunjukkan bahwa merkuri dapat menembus sawar darah otak.

Saline Bernard adalah perawat dan juga orang tua dari seorang penderita Autisme bersama beberapa orang tua penderita Autisme lainnya melakukan pengamatan terhadap imunisasi merkuri. Kemudian mereka bersaksi di depan US House of Representatif (MPR Amerika) bahwa gejala yang diperlihatkan anak autisme hampir sama dengan gejala keracunan merkuri.

Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi. Sedangkan beberapa orang tua penderita autisme di Indonesiapun berkesaksian bahwa anaknya terkena autisme setelah diberi imunisasi

Pendapat yang menentang bahwa imunisasi menyebabkan autisme
Sedangkan penelitian yang mengungkapkan bahwa Thimerosal tidak mengakibatkan Autisme lebih banyak lagi dan lebih sistematis. Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2000 anak dengan autisme. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitisme secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita Autisme malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian Thimerazol dengan Autisme.
Eto, 2000 mengatakan bahwa manifestasi klinis autisme sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Aschner, 2002 melaporkan tidk terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak autismo. Kedua hal inilah yang membantah penelitian yang dilakukan Saline Benard dkk.
Pichichero, 2002 melakukan pnelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksi yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dolakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja.

Stehr-Green P dari Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi Thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian Thimerosal pada Autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa Thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan).
Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak pertahun didapatkan 440 kasus autisme. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pmeberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autisme.

Rekomendasi Institusi atau Badan kesehatan Dunia
Beberapa badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme.
The American Academy of Pediatrics (AAP), berdasarkan data the Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) pada tanggal 16 Mei 2003, mengungkapkan bahwa tidak ada data ilmiah yang menunjukkan hubungan antara Thimerosal dengan penyakit kelianan nerurologi (saraf) termasuk autisme.
CDC (Center for Disease Control and Prevention atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) Atlanta, Amerika Serikat pada bulan November 2003, berdasarkan Vaccine Safety Datalink (VSD) mengeluarkan rekomendasi bahwa penggunaan thimerosal di dalam vaksin tidak berkaitan dengan gangguan autisme atau gangguan neurodevelopment lainnya.

WHO, dalam rekomendasinya yang terakhir pada bulan Agustus 2003 tetap menetapkan bahwa imunisasi yang mengandung Thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya Autisme. Kandungan yang ada di dalam vaksin adalah etilmerkuri bukan metilmerkuri. Etilmerkuri hanya mempunyai paruh waktu singkat di dalam tubuh, sekitar 1,5 jam, selanjutnya akan dibuang melalui saluran cerna. Sedangkan metilmerkuri lebih lama berada di dalam tubuh.

Bagaimana sikap kita sebaiknya ?
Bila menyimak dan mendengar kontroversi tersebut tanpa memahami dengan jelas, maka masyarakat awam bahkan beberapa klinisipun jadi bingung. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya autisme berhubungan dengan thimerosal, mungkin benar sebagai pemicu. Secara umum penderita autisme sudah mempunyai kelainan genetik (bawaan), biologis dan metabolisme tubuh sejak awal. Hal ini dibuktikan bahwa genetik tertentu sudah hampir dapat diidentifikasi, terdapat kelainan metabolisme dan penelitian terdapat kelainan otak sebelum dilakukan imunisasi. Kelainan autisme ini bisa dipicu oleh bermacam hal seperti imunisasi, alergi makanan, logam berat dan sebagainya. Jadi bukan hanya imunisasi yang dapat memicu timbulnya autisme.

Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan autism hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi) autism. Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.

Bila terpengaruh oleh pendapat yang mendukung keterkaitan autisme dan imunisasi tanpa melihat fakta penelitian lainnya yang lebih jelas, maka kita akan mengabaikan imunisasi dengan segala akibatnya yang jauh lebih berbahaya pada anak. Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentang thimerosal tidak mengakibatkan autisme secara epidemiologis lebih bisa dipercaya untuk menunjukkan sebab akibat. Sedangkan laporan beberapa penelitian dan kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna dan dalam populasi yang sempit secara umum hanya menunjukan kemungkinan hubungan tidak menunjukkan sebab akibat. Beberapa institusi atau badan kesehatan dunia yang bergengsi pun telah mengeluarkan rekomendasi untuk tetap meneruskan pemberian imunisasi MMR. Hal ini juga menambah keyakinan kita bahwa memang Thimerosal dalam vaksin memang benar aman.

Kontroversi kandungan thimerosal di dalam vaksin yang dapat mengakibatkan autsme terus bergulir. Kita harus lebih mencermati beberapa pendapat yang mendukung dan menentang tersebut. Walaupun paparan merkuri terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autisme. Peristiwa tersebut mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Metallothionein merupakan suatu rantai polipeptida liner tediri dari 61-68 asam amino, kaya sistein dan memiliki kemampuan untuk mengikat logam. Beberapa penelitian anak autisme tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan metabolisme metalotionin. Gangguan metabolisme tersebut dapat mengakibatkan gangguan ekskresi (pengeluaran) logam berat (merkuri dll) dari tubuh anak autisme. Gangguan itu mengakibatkan peningkatan logam berat dalam tubuh yang dapat mengganggu otak, meskipun anak tersebut menerima merkuri dalam batas yang masih ditoleransi. WHO (Worls Health Organization), FDA (Food and Drug Administration), EPA (US Enviromental Protection Agency), dan ATSDR US Agency for Toxis Substances and Disease Registry) mengeluarkan rekomendasi tentang batasan paparan metilmerkuri yang masih bisa ditoleransi antara 0,1 � 0,47 ug/kg berat badan/hari..

Pada anak sehat bila menerima merkuri dalam batas toleransi, tidak mengakibatkan gangguan. Melalui metabolisme metalotionin pada tubuh anak, logam berat tersebut dapat dikeluarkan oleh tubuh. Tetapi pada anak Autisme terjadi gangguan metabolisme metalotionin.Kejadian itulah yang menunjukkan bahwa imunisasi yang mengandung thimerosal harus diwaspadai pada anak yang beresiko autisme, tetapi tidak perlu dikawatirkan pada anak normal lainnya. FDA menetapkan peraturan penggunaan thimerosal sebagai bahan pengawet vaksin yang multidosis untuk mencegah bakteri dan jamur. Vaksin tunggal tidak memerlukan bahan pengawet.

Dari beberapa hal tersebut diatas, tampaknya dapat disimpulkan bahwa Timerosal tidak mengakibatkan Autisme, bila anak kita sehat dan tidak berbakat autisme. Tetapi diduga imunisasi dapat memicu memperberat timbulnya gangguan perilaku pada anak yang sudah mempunya bakat autisme secara genetik sejak lahir. Penelitian atau pendapat beberapa kasus yang mendukung keterkaitan autisme dengan imunisasi, tidak boleh diabaikan bergitu saja. Meskipun laporan penelitian yang mendukung hubungan Autisme dan imunisasi hanya dalam populasi kecil atau bahkan laporan perkasus anak autisme. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada bila anak kita sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini, memang sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi Thimerosal harus berkonsulasi dahulu dengan dokter anak. Bila anak kita sudah dicurigai ditemukan bakat kelainan Autism sejak dini atau beresiko terjadi autisme, mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi yang mengandung thimerosal sebelum dipastikan diagnosis Autisme dapat disingkirkan. Meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat Autisme bukan hanya imunisasi. Dalam hal seperti ini kita harus memahami dengan baik resiko, tanda dan gejala autisme sejak dini. Tetapi bila anak kita tidak beresiko atau tidak menunjukkan tanda tanda dini terjadinya autisme maka kita tidak perlu kawatir untuk mendapatkan imunisasi tersebut. Kekawatiran terhadap imunisasi tanpa didasari pemahaman yang baik, akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru pada anak kita. Dengan menghindari imunisasi maka akan timbul permasalahan baru yang lebih berbahaya dan mengancam jiwa, bila anak terkena infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Artikel sebelumnya: ” Kapan terapi anak autis dapat disebut “mengalami kemajuan”? – Penjelasan dari Dr. Hardiono D Pusponegoro”

Artikel berikutnya ” Menyikapi Kontroversi Autisme dan Imunisasi MMR- Kiriman artikel kedua dr. Widodo Judarwanto”

Autisme menurun setelah merkuri dikeluarkan dari vaksin

Autisme menurun setelah merkuri dikeluarkan dari vaksin
09.03.2006

http://www.autisme.or.id/berita/article.php?article_id=63

Para peneliti independen memakai database pemerintah untuk menganalisa laporan mengenai gangguan saraf pada anak, termasuk autisme, sebelum dan sesudah thimerosal dibuang dari vaksin anak.
David A. Geier BA dan Mark Geier MD PhD, menulis : “Early Downward Trends in Neurodevelopmental Disorders Following Removal of Thimerosal-containg Vaccines”
Data tulisan itu diambil dari VAERS ( Vaccine Adverse Event Reporting System) dan CDDS ( California Department of Developmental Services).

California melaporkan kejadian autisme ada 800 pada bulan Mei 2003. Kalau peningkatan ini berlanjut, maka diperkirakan bahwa angka tersebut akan meningkat lagi sampai lebih dari 1000 pada permulaan 2006. Namun Geiers melaporkan, bahwa angka itu justru menurun sampai 620, penurunan 22 %.

Analisa ini mematahkan rekomendasi dari IOM (Institute of Medicine) yang berbunyi :
IOM menyatakan bahwa bukti2 yang ada menyebabkan penolakan dari adanya hubungan antara thimerosal dan autisme, bahwa hubungan seperti itu tidak mungkin terjadi secara biologis. Karena itu penelitian tentang hal ini tidak perlu dilanjutkan.

Dengan makin banyaknya vaksin yang diberikan pada anak-anak, dosis thimerosal meningkat, sehingga penumpukan dosis tersebut melebihi dosis keracunan yang telah ditetapkan oleh beberapa badan dalam pemerintah. Merkuri diketahui merusak sel otak pada dosis yang sangat rendahpun.

Sampai tahun 1989 anak prasekolah hanya mendapatkan 3 jenis vaksin , yaitu polio, DPT dan MMR. Tahun 1999 vaksin yang direkomendasikan pada anak pra-sekolah meningkat sampai 22 vaksin yang diberikan sebelum anak mencapai kelas 1 SD. Yang berat adalah pemberian vaksin hepatitis B yang diberikan pada anak 24 jam setelah lahir. Kebanyakan vaksin ini mengandung merkuri.
Jumlah kumulatif merkuri yang diberikan pada anak mencapai 187 kali lebih dari limit yang ditetapkan oleh EPA (Environmental Protection Agency).

Antara tahun 1989 dan 2003 terdapat ledakan autisme. Insidensi autisme dan gangguan saraf lain meningkat dari 1:2500 sampai 1:166. Saat ini lebih dari setengah juta anak di Amerika menderita autisme. Gangguan ini membuat panic para keluarga.

Tahun 1999 atas rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) dan US PHS (Public Health Service) thimerosal dikeluarkan dari vaksin anak.

Geiers menyimpulkan bahwa merkuri tetap merupakan hal yang harus diwaspadai oleh karena masih saja dimasukkan sebagai pengawet pada vaksin2 seperti vaksin flu yang diberikan pada anak2 di Amerika, begitu juga pada vaksin tetanus-diphteri dan tetanus monovalen..

Mothers Battle Autism


http://www2.oprah.com/tows/slide/200709/20070918/slide_20070918_350_101.jhtml

Mothers Battle Autism

If your child stopped speaking, wouldn’t look you in the eye and completely ignored the world around them, what would you do? In her new book, Louder Than Words: A Mother’s Journey in Healing Autism, actress Jenny McCarthy shares her emotional story of diagnosis, hope, faith and recovery—a journey many thousands of parents now face.

In 2002, Jenny gave birth to a beautiful baby boy she named Evan. As an infant, Evan was full of life, making eye contact and smiling, but soon things started to change. “God was giving me many hints about my son, and I didn’t quite see them,” she says. “So I know that he had to wake me up with two really big ones.”

Jenny says the first of those “big hints” came on a typical morning when Evan was 2 1/2 years old. When Evan, who usually got up at 7 a.m., wasn’t stirring by 7:45 a.m. Jenny knew something was wrong. She ran to the nursery. “I open the door and run to his crib and I find him in his crib, convulsing, struggling to breathe, his eyeballs rolled to the back of his head,” she says. “I picked him up and I started screaming at the top of my lungs … the paramedics came, and it took about 20 minutes for the seizure to stop.”

When they arrived at the hospital, Jenny says doctors told her that her son had a febrile seizure, caused by a fever. “I said to the doctor, ‘Well, you know, he doesn’t really have a fever, so how does that play in this scenario?'” Jenny says. “[The doctor said], ‘Well, he could have been getting one.’ That was the response I got. … I went home with my baby going, ‘You know what? Something’s wrong and I don’t know what it is, but I feel it.”