Menderita Lumpuh Setelah Jalani Operasi

http://sesama.vivanews.com/news/read/18060-menderita_lumpuh_setelah_jalani_operasi

Menderita Lumpuh Setelah Jalani Operasi
Orang tua Irfan merasa tertipu dengan rumah sakit yang mengoperasi anaknya, penghasilannya dari berdagang tanaman tidak cukup untuk bayar pengacara menuntut rumah sakit.
Jum’at, 26 Desember 2008, 17:15 WIB
Irfansyah menderita kelumpuhan (Inin Nastain/VIVAnews)

VIVAnews – Iri rasanya melihat anak-anak lain begitu riang, dapat berlari, tertawa dan bermain bersama anak-anak kecil lainnya, seperti dulu. Kini, bocah berusia 3,5 tahun itu hanya bisa terdiam dibalik kursi rodanya. Canda, tawa dan bahkan tangis kini tidak lagi terngiang di telinga keluarga pasangan suami isteri, Heri Yudi dan Atik Rohayati.

Sejak menderita kelumpuhan akibat kekurangan oksigen di tempurung otaknya, keluarganya tidak lagi melihat anaknya bersorak,
teriak, dan bermain bersama. Jangankan bergerak, bersuara saja tidak bisa. Saat ini, Irfan praktis menghabiskan hari-harinya di tempat tidur dan kursi Roda.

Kegiatan makan dan buang airpun, Irfan lakukan didua tempat tersebut. Irfan hanya bisa berbaring ditempat tidur. Bahkan, sekali-kali Irfan suka meneteskan air mata merintih kesakitan.

Kedua orang tuanya tidak tahu lagi harus berbuat apa, berbagai cara dan usaha sudah ditempuh. Bahkan mendatangi dinas sosial pemerintah daerah, layaknya pengemis pun sudah dilakoninya. Tetapi, hasilnya hingga kini Irfan masih begitu-begitu saja.

“Dulu anak itu begitu ceria, selalu membuat kami tertawa, bangga dan tenang walaupun hidup kami pas-pasan, sekarang bila melihat anak itu, yang kami lakukan hanya menangis,” ujar Atika ibu kandung Irfan.

Menurut Heri, ayah Irfan, lumpuh yang diderita anaknya bermula saat Irfan sakit panas berkepanjangan. Khawatir dengan kondisinya, Irfan dilarikan ke salah satu rumah sakit di Subang. Namun minimnya peralatan yang kurang memadai, Irfan dirujuk ke Rumah Sakit lain di Bandung yakni RS. Hasan Sadikin.

Dua bulan dirawat, hasilnya cukup menggembirakan, Irfan pun kembali sembuh dari penyakit panasnya. Namun beberapa minggu sepulang dari RS Hasan Sadikin, Irfan kembali terserang panas namun tidak separah seperti sebelumnya.

“Dalam adat kami, kalau ada anak yang sering sakit panas harus di Segan (dipisahkan dengan orang tuanya dalam beberapa waktu). Jadi si Aa (Irfan biasa disebut Aa oleh keluarganya), dibawa sama bibinya, Nani, ke daerah Telukmibing Barat, Tanjung Perak, Surabaya,” kata Heri.

Hasilnya cukup baik, suhu badan kembali normal. Tetapi, entah mengapa, beberapa minggu kemudian, panasnya kembali meningkat, dan Irfan harus menjalani perawatan khusus, di Rumah Sakit Soetomo, Surabaya. Saat itu juga dokter bilang kalau Irfan harus menjalani operasi karena kelainan pada otaknya.

Saat itu tahun 1999, operasi berjalan lancar dan selamat. Usai operasi, Irfan dibawa kembali kerumah, di Tanjung Perak, dengan kondisi badan harus dipasang selang dari pusar hingga ke batok kepala belakang. Dokter bilang, untuk membantu oksigen yang mengalami kekurangan di tempurung kepala Irfan.

“Anehnya setelah dioperasi, Irfan justru mengalami cacat, bukanya sembuh, malah Irfan, tidak bisa jalan, bahkan tidak bisa bicara, seperti orang gagu saja,” tutur Heri.

Dokter RS Hasan Sadikin mendiagnosa bahwa Irfan menderita Ensapalitis, namun pihak RS Hasan Sadikin tidak berani
mengoperasi, karena harus dapat ijin dari RS yang melakukan operasi awal.

Kalaupun harus dioperasi ulang, tidak memungkinkan, mengingat biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Apalagi, ayah Irfan sehari-harinya hanya berdagang tanaman hias di kawasan puncak, yang dikirim temannya dari Majalengka.

Melihat kondisi anaknya yang semakin memprihatinkan, orang tua Irfan menuding pihak rumah sakit di Surabaya yang menyebabkan anaknya lumpuh.

Merasa tertipu dengan pihak rumah sakit yang salah mengoperasi anaknya, keluarga Irfan menuntut keadilan, kasus Irfan diadukan ke Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan (LBHK) untuk menuntut pihak rumah sakit yang mengoperasi Irfan.

“Dengan didampingi dari LBHK, saya menuntut pihak RS. Soetomo, Surabaya. Hasilnya, mereka acuh dan lepas tangan. Tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan kasus yang dialami anak kami,”

Walupun sempat keluarga mendapat kabar, bahwa Kapolwil Jawa Timur sudah mengirim surat ke rumah sakit untuk dimintai keterangan. Tetapi, hingga kini rumah sakit, belum juga merespons panggilan tersebut.

Keluarga pun pasrah, jangankan untuk membayar pengacara menuntut rumah sakit, untuk keperluan pengobatan dan membeli susu sehari-hari harus mengemis sana-sini.

Sampai-sampai, Irfan mengajukan bantuan ke pemerintah daerah, dan Dinas Sosial Subang. Namun lagi-lagi ditolak, dengan berbagai alasan.

Saat ini, dia berharap, ada pengusaha yang mau memberikan bantuannya untuk kesembuhan Irfan, yang sudah bertahun-tahun mengalami kelumpuhan akibat penyakit yang bersarang ditubuhnya.

Irfan yang seharusnya sudah kelas 1 tingkat SLTP, kondisinya  belum terlihat banyak perkembangan. “Teman sebayanya sudah kelas satu SMP. Suka sedih kalau melihat anak-anak lainnya pulang sekolah, kalau dia bisa ngomong, mungkin dia ngomong pengen sekolah,” kata Heri.

Reporter: Inin Nastain | Subang