OBAT RESEP DOKTER BELUM ADA YANG BERSERTIFIKAT HALAL

Kutipan dari Milist: Halal-Baik-Enak@yahoogroups.com
2 Agustus 2008

OBAT RESEP DOKTER BELUM ADA YANG BERSERTIFIKAT HALAL

Assalamu’alaykum wr.wb.

Saya baru saja mengikuti acara pertemuan ilmiah tahunan
bidang kebidanan & penyakit kandungan, 25-30 Juli 2008.
Perhelatan besar yang dihadiri oleh sekitar 2.000 orang
dokter spesialis kebidanan & kandungan perwakilan dari
seluruh Indonesia, tahun ini berlangsung di Balikpapan
Kalimantan Timur.

Sebagaimana biasanya, acara seperti ini selalu dimeriahkan
oleh pameran obat & teknologi bidang penyakit kandungan
dari puluhan produsen farmasi & alat kesehatan.

Hal yang menjadi teka-teka saya adalah, ternyata
tak ada satu pun produsen peserta pameran obat
ini yang menyatakan telah mendapat sertifikat halal.
Padahal, sebagaimana yang pernah saya posting
sebelumnya, yang dikutip dari koran kompas (17/4/08)
bahwa Direktur LPPOM MUI Muhamad Nadratuzzaman
Hosen menyatakan: “Dari 120 perusahaan obat, baru 5
perusahaan yang telah mengajukan sertifikasi halal”.

Akhirnya teta-teki ini terjawab, karena hampir
bersamaan dengan acara ilmiah ini, tepatnya tanggal
30 Juli 2008, di Balikpapan juga, berlangsung
seminar Kehalalan Makanan, Obat dan Kosmetika
yang berlangsung di Aula Bank Indonesia Balikpapan.

Nara sumber yang hadir yaitu: Direktur LPPOM MUI
Muhamad Nadratuzzaman Hosen PhD, Wakil Ketua Komisi
Fatwa MUI Pusat, Badan POM Kalimantan Timur, Ketua
Ikatan Dokter Indonesia wilayah Kaltim, dll.

Sebelum seminar dimulai, saya sempat berbincang dengan
Bapak Nadratuzzaman, Dir LPPOM MUI. Ketika saya tanya,
obat resep dokter yang mana saja yang telah mendapatkan
sertifikat halal? (Sebagaimana telah diberitakan koran).

Beliau menjawab: “Belum ada satu pun obat resep dokter
yang mendapatkan sertifikat halal”. Saya tentu saja
kecewa. Ternyata berita di koran tersebut tidak akurat,
wartawannya salah kutip, barangkali.

Menurut beliau, bahwa yang telah mendapatkan sertifikat
halal ini baru sebatas beberapa produk suplemen
multivitamin saja, sedangkan obat resep dokter belum
ada yang mengajukan audit.

wassalam,
Yasa

============ ====
Banyak Obat dan Kosmetik Belum Disertifikasi Halal

Selasa 17 April 2007 15:54 wib

JAKARTA, KOMPAS – Banyak obat-obatan dan kosmetika
yang beredar di pasaran belum mendapat sertifikat
halal. Padahal, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-
Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia
(LPPOM MUI) mensinyalir adanya sejumlah obat dan
kosmetik mengandung bahan yang tidak halal. Karena
itu, pemerintah didesak untuk memperketat pengawasan
beragam produk obat dan makanan demi melindungi
konsumen, khususnya kaum muslim.

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dalam
sambutannya pada seminar nasional bertema “Kehalalan
Obat-obatan dan Kosmetika LPPOM-MUI”, di auditorium
YARSI, Jakarta, Selasa (17/4), menuturkan, Indonesia
merupakan negara yang paling banyak penduduk
muslimnya, sehingga merupakan potensi pasar yang
besar untuk obat-obatan dan kosmetika lokal maupun
impor.

Wakil Ketua Pengurus Pusat MUI Din Syamsuddin
menyatakan, kehalalan kosmetika dan obat-obatan
masih jadi masalah. Dalam bidang pangan, belum
banyak restoran bersertifikat halal. Bahkan,
yang sudah mencantumkan label halal pun belum
tentu dijamin kehalalannya. “Hal ini disebabkan
belum ada dukungan dari pemerintah, tidak ada
Undang Undang yang mengatur, pencantuman label
halal masih bersifat sukarela. Sedangkan MUI
tidak berwenang mengenai hal tersebut,” ujarnya
menegaskan.

Direktur LPPOM MUI Muhamad Nadratuzzaman Hosen
menuturkan, sampai sekarang baru 16.040 produk
pangan dari 874 perusahaan yang disertifikasi
kehalalannya. Sementara untuk obat-obatan dan
kosmetika, baru lima perusahaan yang mengajukan
sertifikasi kehalalan produk mereka.
“Ini disebabkan kurangnya dukungan dari pemerintah
terhadap upaya perlindungan konsumen dari produk-
produk yang mengandung bahan tidak halal,” ujarnya.

Padahal, LPPOM-MUI mensinyalir penggunaan babi
dan turunannya maupun bagian tubuh manusia dalam
dunia kedokteran lazim terjadi. Bahan-bahan itu
dimanfaatkan dalam pembuatan produk-produk seperti
vaksin, sediaan obat dan bahan kosmetika. Perusahaan-
perusahaan farmasi yang merupakan perusahaan
multinasional juga telah menginformasikan kondisi
itu secara terbuka. “Para ulama sepakat membolehkan
penggunaan obat-obatan dan vaksin yang mengandung
babi jika jika dalam kondisi darurat,” tuturnya.

Sesuai dengan Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992
tentang kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor
71 tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat
kesehatan, sediaan farmasi termasuk di dalamnya
obat dan kosmetika harus terjamin keamanan, mutu
dan manfaatnya sebelum dapat diedarkan dan
digunakan di Indonesia. “Selain itu, masyarakat
muslim menuntut obat dan kosmetika yang digunakan
harus halal,” kata Fadilah.

“Kebutuhan dan tuntutan masyarakat makin tinggi
terhadap obat dan kosmetika yang tidak saja harus
aman, bermutu dan bermanfaat, tetapi juga harus
halal. Hal ini merupakan tantangan sekaligus
peluang bagi dunia usaha di Indonesia dan negara-
negara Islam,” ujar Fadilah. Makin terbukanya
perdagangan antar negara membuat Indonesia harus
berhati-hati terhadap produk atau bahan baku yang
tidak halal ataupun diragukan kehalalalnnya,
terutama produk atau bahan yang berasal dari hewan.

Sementara tidak semua dokter mengetahui tentang
status obat-obatan yang akan diberikan pada pasiennya,
termasuk obat-obatan yang digunakan untuk penderita
jantung koroner. Obat itu ternyata mengandung bahan
aktif yang berasal dari babi. “Sayangnya tidak
semua dokter mengerti tentang isi obat. Sementara
konsumen muslim kurang diberi akses untuk mengetahui
jenis dan merek apa obat yang akan diberikan pada
mereka, terutama pasien rawat inap,” kata Prof dr.
Jurnalis Uddin dari Universitas YARSI. ***

=====

13/03/07 18:56

120 Produsen Obat Belum Dapat Sertifikat Halal

Jakarta (ANTARA News) – Lembaga Pengkajian Pangan
Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia
(LPPOM MUI) mengatakan ada sekitar 120 perusahaan
obat-obatan dan tujuh perusahaan kosmetik belum
mendapat sertifikasi halal.

“Sebanyak 120 produsen obat-obatan belum memiliki
sertifikat halal. Baru lima produsen obat dan satu
produsen kosmetik yang sudah mendapat sertifikat
halal dari MUI,” kata Ketua LPPOM MUI Muhamad
Nadratuzzaman Hosen, di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan produsen pangan, obat-obatan, dan
kosmetika memang tidak diwajibkan mendaftar
sertifikasi halal oleh pemerintah. Tetapi untuk
menjaga ketentraman hati dan menjaga umat untuk
tidak memakan sesuatu yang haram LPPOM MUI
menghimbau setiap produsen mau mendaftarkan
produksinya.

Saat ditanya oleh wartawan produk dan produsen
obat atau kosmetik yang belum memiliki sertifikasi
halal tersebut, dia mengatakan bukan menjadi
kewenangan LPPOM MUI untuk menjawabnya, mereka
hanya memiliki wewenang untuk meneliti dan
memberikan sertifikat halal pada produsen yang
memang secara sukarela dan sadar meminta
sertifikasi tersebut.

Sementara itu, menurut Wakil Direktur Bidang
Pelatihan Sosialisasi dan Kajian Ilmiah LPPOM
MUI Pusat Anna Priangayani Roswim, terdapat
banyak sekali obat-obatan di pasaran saat ini
yang tidak jelas halal dan haramnya.

Dia mengatakan baik obat dalam dan obat luar
harus terbebas dari bahan yang tidak halal
sehingga perlu diteliti lebih lanjut dan diberi
sertifikat halal.

Oleh karena itu, dia mengatakan, dalam seminar
yang akan diadakan oleh LPPOM MUI pada 17 April
2007 nanti akan dibahas titik-titik krisis dalam
membuat obat dan kosmetik, seperti vaksin yang
mungkin terkontaminasi dari bahan yang haram.

“Walaupun bentuknya hanya media, cangkang obat
atau kapsul perlu diteliti apakah dia menggunakan
bahan yang halal atau haram,” ujar dia.

Menurut dia, pihak LPPOM MUI juga belum menanyakan
pada Komisi Fatwa apakah bahan yang terbuat dari
tulang kera, kucing, atau organ manusia haram
atau halal bila dikonsumsi untuk obat-obatan.

Padahal selama ini menurut dia, produsen obat-
obatan maupun kosmetik ada yang menggunakan
bahan dari tumbuhan, hewan, mikro sintetik kimia,
atau dari manusia untuk membuat produknya.

Selain itu dia juga mengatakan perlu dicermati
lagi masalah bahan aktif yang digunakan untuk
obat yang berasal dari tumbuhan dinyatakan halal,
belum tentu tembungkusnya atau kapsulnya yang
terbuat dari gelatin terbuat dari bahan yang halal.

Terkadang proses produksi obat sendiri juga harus
dipertanyakan. Karena bisa saja produsen obat
tersebut menggunakan alat yang digunakan juga
untuk memproses obat atau kosmetik dari bahan
yang tidak halal.(***)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s