Kasubdin Pendidikan dan Dinas Kesehatan Subang Kurang Respon atas Kematian Bocah SD Pasca Imunisasi

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&dn=20071202141005

Kasubdin Pendidikan dan Dinas Kesehatan Subang Kurang Respon atas Kematian Bocah SD Pasca Imunisasi
Oleh : Pirdaus

03-Des-2007, 11:23:49 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia – Kepala Sub Dinas Pendidikan (Kasubdin) TK/SD Kabupaten Subang, Kusdinar kurang peduli terhadap siswa sekolah dasar (SD) Cintawinaya Desa Salamjaya Kecamatan Pabuaran yang menjadi korban tewas pasca Imunisasi.

Kurang pedulinya Kasubdin muncul ketika dikonfirmasi RAKA melalui telepon selulernya, Kusdinar tidak memberikan komentar atas pertanyaan wartawan dengan tewasnya Erna Arwati Binti Taman (6) siswa kelas I SDN Cintawinaya Desa Salamjaya Kecamatan Pabuaran, warga Bakan Cingcau Rt.29/12 Desa Pringkasap Kecamatan Pabuaran. Saat itu Kusdinar menyarankan kepada RAKA agar mengklarifikasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Subang. “Coba klarifikasi ke Dinkes,” ucap Kusdinar.

Ucapan Kasubdin TK/SD Kabupaten Subang tersebut bukanlah jawaban yang diharapkan RAKA bahkan mungkin oleh semua pihak, soalnya nasib sial yang menimpa Erna Arwati siswa kelas I SDN Cintawinaya, Ketua RT, Kadus dan Aparat Desa Pringkasap semestinya pihak sekolah maupun dinas pendidikan memeberikan perhatian dan ditangani secara serius baik oleh sekolah maupun tim pelaksana Imunisasi dan dinas kesehatan Kabupaten Subang.

“Erna Arwati bicah kecil yang menjadi korban tewas pasca Imunisasi tidak mendapat perhatian serius baik dari pihak Dinkes maupun dinas Pendidikan Subang, bahkan pihak sekolah pun kurang respon adanya kejadian tersebut,” ujar Ketua RT 29/12, Enay dan Kepala Dusun (Kadus) Bakan Cingcau, Tarim.

Karena pihak terkait kurang respon terjadinya korban tewas pasca Iminisasia yang menimpa warganya Ketua RT dan Kadus mendatangi kantor Desa Pringkasap dan pihak Desa mengundang salah seorang dokter Puskesmas Pringkasap, dr.Elan, salah seorang dokter yang ikut terlibat menangani Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Terlihat kekecewaan Ketua RT dan Kadus ketika mendatangi kantor Desa Pringkasap Kepala Desa Pringkasap tidak berada ditempat dan luapan kemarahannya tertuju kepada dr.Elan yang datang kekantor Desa langsung memberikan keterangan kepada Ketua RT, Kadus dan aparat Desa dipantau RAKA. Pada pertemuan tersebut terjadi perdebatan antara dr.Elan dan aparat Desa, Ketua RT dan Kadus dipicu pembelaan dr.Elan yang dinilai tidak mau disalahkan atas tewasnya Erna.

Menurut dr. Elan tewasnya Erna tidak ada hubungannya dengan Imunisasi namun karena ada penyakit penyerta muncul pasca Imunisasi, sebab sebelum Imunisasi Erna mengalami sakit batuk dan sakit panas sembuh setelah diobati dengan obat warung kemudian ketika Erna disuntik Imunisasi (Sabtu,24/11) dalam keadaan sehat.

“Jelas sekali tim Imunisasi Puskesmas Pringkasap tidak melakukan kesalahan pada saat Imunisasi, Erna dalam keadaan sehat, tidak terjadi ketakutan yang berlebihan sebelum dan setelah disuntik. Erna sehat-sehat saja. Adapun terjadi panas itu merupakan reaksi obat suntik pada Imunisasi,” jelas dr. Elan.

Ketua RT 29/12 Keboncau, Enay, membantah keras atas pengakuan dr. Elan bahwa Erna ketika disuntik tidak terjadi ketakutan yang berlebihan, sebab ketika dirinya mengkonfirmasikan kepada kakak dan orang tua Erna, bahwa Erna ketika akan disuntik terjadi ketakutan lari dari ruangan kelas mendekati dan merangkul kakaknya bernama Laela murid kelas V di sekolah yang sama.

“Kata Kakak dan orang tua Erna, saat akan disuntik Erna merangkul kakaknya menolak untuk disuntik, dan bahkan ketakutan Erna tampak menggigil dan takut untuk disuntik. Ketika Erna diraih oleh guru kelasnya kakak Erna tidak kuasa untuk menahan adiknya dan Erna dibawa ke kelas oleh guru kelasnya seperti dipaksa di suntik Imunisasi,” ujar Enay.

Masih kata Enay, pasca Imunisasi dirinya mendapat laporan dari orang tua Erna, Taman, bahwa Erna mengalami sakit panas yang hebat, muntah-muntah dan menggigil serta seperti ketakutan ketika menghadapi orang yang tidak dikenal. Sepengetahuan Enay, kejadian seperti itu baru pertama kali dialami Erna karena sakit sebelumnya tidak terjadi sakit yang berlebihan.

“Memang Erna pernah sakit batuk dan panas, namun cukup diobati dengan obat warung sembuh, dan ketika panas tidak terjadi ada rasa takut, mengigau dan kejang-kejang. Saya menilai kondisi Erna seperti itu terjadi setelah di Imunisasi di sekolahnya dan saya sebagai Ketua RT berkewajiban untuk mengurusi atas tewasnya Erna dampak dari Imunisasi dan pihak-pihak yang berwenang untuk mempertanggungjawabkan atas kejadian tersebut,” tegas Enay.

Mendapat teguran keras seperti itu, dr. Elan bersikukuh memberikan keterangan pembelaan kepada Ketua RT, Kadus dan aparat Desa Pringkasap bahkan demikian pula terhadap wartawan, menurutnya kematian Erna tidak ada hubungannya dengan Imunisasi.

“Bapak-bapak harus mengerti bahwa pihak kami hanya melakukan tugas Imunisasi atas program rutin pemerintah, sekali lagi kematian Erna tidak ada hubungannya dengan Imunisasi,” terang dr. Elan yang terkesan membela diri.

Kesekian kalinya dr. Elan memberikan keterangan pembelaan diri kepada aparat Desa, bikin marah Kadus Bakan Cingcau, Tarim, karena menurutnya pihak Puskesmas Pringkasap harus bertanggungjawab tewasnya Erna, apapun pembelaan pihak Puskesmas merupakan pembelaan yang tidak bertanggungjawab.

“Timbulnya sakit Erna separah itu dan menimbulkan kematian Erna, sebab musababnya setelah di Imunisasi, boleh saja pihak Puskesmas memberikan jawaban pembelaan namun kebenarannya nanti setelah ada di pihak kepolisian,” ancam Tarim.

Kepada wartawan, ketua RT dan Kadus Bakan Cingcau kemarahan dan kepeduliannya timbul karena pasca Imunisasi terjadi sakit berkelanjutan yang dialami Erna tidak dipantau secara intensif oleh pihak Puskesmas Pringkasap. Hal itu diketahui, sambung Kadus Tarim, ketika dirinya menanyai orang tua Erna, pasca Imunisasi timbul sakit panas yang berkelanjutan orang tua Erna melakukan pengobatan Erna harus berlari-lari kecil sendiri tanpa mendapat respon yang serius dari pihak Puskesmas Pringkasap.

“Padahal orang tua Erna pertama kali berobat kepada Kepala Puskesmas Pringkasap, Bidan Maryam. Dan bidan Maryam tahu bahwa sakitnya Erna pasca Imunisasi, namun bidan Maryam tidak melakukan antisipasi dengan cepat dan terkesan membiarkan, hingga Erna mengalami panas yang memuncak, pihak Puskesmas Paringkasap tidak juga melakukan upaya yang optimal hingga Erna meninggal,” tegas Kadus Tarim.

Sementara Kepala Desa Pringkasap, Aji Darki Sopandi yang disebut-sebut sebagai penengah musyawarah antara keluarga korban dan pihak Puskesmas Pringkasap ketika akan ditemui wartawan tidak berada di kantornya, menurut salah seorang bawahannya bahwa Kepala Desa sedang ada keperluan keluar,” Kepala Desa sedang rapat di Desa Kedawung Kecamatan Pabuaran,” ujar salah seorang juru tulis Desa Pringkasap. (pirdaus).

Sumber image: oneworld.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s