Yang Menjaga Benteng Kekebalan

http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=4&artid=1190

Yang Menjaga Benteng Kekebalan
Oleh trubusid
Senin, 03 Maret 2008 12:12:20

Ingat kisah prajurit Orc dalam Lord of The Ring? Orc menyerang benteng Minas Tirith milik Kerajaan Gondor. Serangan itu gagal karena kuatnya pertahanan Gondor yang dibantu kerajaan Rohan. Maka ribuan pasukan Orc kocar-kacir dan benteng Minas Tirith pun berdiri tegak. Minas Tirith bagai tubuh kita yang terus mendapat gempuran dari beragam virus atau bakteri.

Virus, bakteri, dan organisme mikroskopis lain berupaya sekuat tenaga untuk menyerang ‘benteng pertahanan’ tubuh. Keberhasilan serangan organisme patogen itu dipengaruhi oleh ketangguhan sistem kekebalan tubuh yang menjaga benteng pertahanan. Setiap menit terjadi pertempuran abadi antara sistem kekebalan tubuh dan pasukan musuh berupa penyakit.

‘Jika ada benda asing masuk, sistem imun mencoba mengenali musuhnya. Jika diidentifikasi sebagai benda asing, sel imun mempersiapkan senjata dan menyerang,’ kata Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, farmakolog dari Universitas Indonesia. Yang pertama kali bertemu musuh adalah sel makrofag. Sel itu memproduksi fagositosis untuk menelan musuh.

Kekebalan tubuh itu dapat menjalankan fungsinya jika imunitas dalam kondisi normal. Imunitas dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan kondisi lingkungan. Jika imunitas terlalu rendah, mesti ditingkatkan dan sebaliknya. ‘Hanya saja, kadang tubuh gagal menormalkan sistem imunnya sendiri,’ kata Sumali. Salah satu cara menormalkan sistem imun menggunakan imunomodulator.
Alami

Berbagai jenis obat berperan meningkatkan kekebalan seperti siklosprin, dan azathiopin. ‘Namun, tren kembali ke alam membuat konsumen mencari produk-produk berbahan alami ketimbang obat kimia,’ kata Deny Wahyudi, manajer penjualan Kimia Farma. Kini banyak dokter meresepkan herbal. Saat ini di pasaran banyak beredar suplemen untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sekadar menyebut beberapa produk imunomodulator adalah Nature Firstine MultiStart Woman, Nature Firstine Multi Start Man, Fituno, Vipro-G, Ester C, Stimuno, dan Echinacea.

Dua yang disebut pertama diproduksi oleh Kimia Farma ditujukan untuk manusia lanjut usia yang kekebalan tubuhnya kembali menurun. Dampaknya stamina berkurang dan mudah terserang penyakit. Perempuan menua menghadapi menopause yang membuat tubuh lemah lunglai, kulit mengering, dan mengeriput. Multi StartMan dan MultiStart Woman mengandung cordysep, spirulina, dan fitonutrien.

Sedangkan Fituno diperuntukkan untuk orang-orang yang aktif bekerja tanpa kenal lelah, sering bergumul dengan polusi udara, mengkonsumsi makanan cepat saji berpengawet, dan mengandung pewarna buatan. Dengan kondisi seperti itu, tubuh yang terus-menerus digempur bakal ambruk. Bahan-bahan penyusun Fituno seperti echinacea, mengkudu, dan meniran sohor sebagai imunomodulator unggul. ‘Semua bahannya sudah teruji klinis, dan bahan-bahannya diseleksi dengan baik,’ kata Eris Setiawan, manajer produksi Fituno di Kimia Farma.

Menurut Dr Suprapto Maat, dari Universitas Airlangga, meniran kaya flavonoid dan mempunyai reseptor pada sistem imun. Biasanya reseptor itu dalam bentuk gula ramnose dan arabinose, setelah itu merangsang sehingga gen aktif. Selain itu beberapa golongan rimpang seperti jahe merah, jintan, dan temulawak juga bisa dijadikan peningkat kekebalan alias imunomodulator.

‘Di Timur Tengah jintan hitam kerap digunakan sebagai peningkat daya tahan tubuh,’ kata Roni Kusworo, manajer pemasaran CV Al Manar Herbafit, Yogyakarta. Khasiat sebagai ketahanan tubuh, jintan hitam dikenal sejak peradaban Mesir kuno. Biji jintan hitam pernah ditemukan dalam peti jenazah raja Mesir kuno bernama Tutankhamen. Jintan berperan mencegah jenazah membusuk karena kontaminasi bakteri dan virus.
Diuji

‘Walau hampir semua herbal memiliki flavonoid, tetapi tidak semua jenis flavonoid bisa dijadikan imunomodulator,’ kata Suprapto. Sebagai contoh flavonoid pada daun katuk hanya berfungsi sebagai peningkat air susu ibu, tetapi tidak bisa diandalkan menjadi peningkat kekebalan tubuh. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan kekebalan tubuh dari herbal perlu pengujian terlebih dahulu.

Selain itu penggunaan imunomodulator juga ada batasan. ‘Jika berlebihan dapat menimbulkan beragam penyakit,’ ujar dr Arijanto Jonosewojo SpPD, spesialis penyakit dalam RS Dr Soetomo, Surabaya. Misalnya terlalu banyak mengkonsumsi vitamin C menyebabkan terbentuknya batu ginjal. Selain itu, imunomudulator itu ditabukan bagi penderita alergi. ‘Sebab, penderita alergi hipersensitif. Pemberian imunomodulator membuat kerja imun tubuh berlebihan,’ katanya. Obat imunomodulator juga tidak diberikan pada penderita lupus lantaran sistem imun sedang kacau.

‘Tubuh tidak boleh bergantung pada asupan luar untuk meningkatkan kekebalan tubuh,’ kata Lukas Tersono Adi, herbalis dari Herbacure, produsen ramuan untuk kekebalan tubuh. Sebab, tubuh malas untuk memproduksi kekebalan tubuh. Sebaiknya, rutinitas mengkonsumsi herbal dijeda satu bulan agar sel kekebalan tubuh beradaptasi dan membantu memperbaiki kekebalan tubuh.

Imunomodulator bukan sekadar ‘prajurit’ yang menjaga benteng kekebalan tubuh. Ia juga menjaga keseimbangan komponen tubuh. Usia sel-sel tubuh ada batasnya sehingga akan mati dalam waktu tertentu. Sel yang mati dibersihkan oleh sistem kekebalan tubuh. Jika fungsi keseimbangan terganggu, sistem kekebalan melihat struktur dalam tubuh sebagai benda asing sehingga respons ditujukan pada tubuh sendiri.

Keadaan itu disebut sebagai otoimun. ‘Bukan berarti yang mengkonsumsi imunomodulator lantas imunnya berlebihan. Yang benar, jumlah kekebalan terkontrol selalu seimbang,’ kata Drs W Djarot Sudiro, ahli tumbuhan obat di RS Dr Soetomo, Surabaya. Sedangkan fungsi kekebalan lainnya adalah perondaan. Sebagian sel-sel imun memiliki kemampuan meronda ke seluruh bagian tubuh.

Jika bertemu dengan sel-sel yang berubah sifat menjadi sel ganas dan berpotensi menjadi kanker, sel peronda membinasakannya. Itu sebabnya, terjangkitnya kanker disebabkan sel-sel imun yang bertugas sebagai peronda terganggu atau tidak bisa bekerja secara baik. Sehingga tidak ada yang melawan sekaligus mengalahkan sel-sel tubuh yang mengalami mutasi menjadi sel ganas.

Menurut dr Noor Wijayahadi, MKes PhD, farmakolog Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, imunomodulator meningkatkan sistem imun dengan cara produksi jumlah sel limfosit sel T dan sel B. ‘Jika sel T berfungsi melawan kanker, sel B berguna menghadang infeksi,’ kata Noor. Imunomodulator juga meningkatkan sekresi sitokin sekaligus merangsang sel T berkembang. Begitu pentingnya menjaga benteng kekebalan tubuh agar sehat bukan sekadar impian. (Vina Fitriani/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan & Nesia Artdiyasa)

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s