Warga Takut Imunisasi, Wagub Banten Bagi Kalender

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/29/sh05.html

Rabu,  29 Juni 2005

Warga Takut Imunisasi, Wagub Banten Bagi Kalender

JAKARTA — Sebagian besar warga Kampung Cibelut, Kecamatan Keramatwatu, Kabupaten Serang, menolak membawa anak balita mereka untuk imunisasi polio putaran kedua Selasa (28/6). Buktinya, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di kampung itu ditutup, tak ada petugas yang mengadakan imunisasi polio.
Begitu juga di sejumlah tempat di Jakarta, seperti di Pos PIN RW 01, Kelurahan Kembangan Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Menurut Ketua RW 01, Rahmat, beberapa warganya enggan membawa balitanya ke Pos PIN karena takut nanti malah sakit setelah imunisasi polio. Alasan takut sakit juga dikemukakan oleh beberapa orang tua di Pos PIN RT 01/05 Kampung Lilinger, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, Bekasi.
Di Jawa Barat hal seperti itu juga terjadi. Ini diakui oleh Kepala Subdin Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jawa Barat, Fatimah Resmiati, bahwa beberapa hari lalu ada laporan tentang banyaknya orang tua di Sukabumi, Karawang dan Purwakarta yang enggan anaknya divaksin polio pada PIN putaran II ini.
“Semua itu karena adanya pemberitaan yang mengkaitkan vaksin polio dengan kematian balita yang marak belakangan ini,” kata Fatimah. Padahal hal tersebut tidak benar, sebab vaksin polio sama sekali tidak menimbulkan kematian terhadap balita.
Menurut keterangan yang diperoleh SH kemarin, posyandu di Kampung Cibelut, Kecamatan Keramatwatu, Kabupaten Serang, memang tidak melayani kegiatan imunisasi polio karena warga menolaknya. Padahal pada putaran pertama 31 Mei lalu posyandu ini menjadi salah satu tempat imunisasi polio.
Kemarin, para ibu di Kampung Cibelut terlihat melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, terkesan tidak ada kegiatan imunisasi polio yang “hingar-bingar” seperti yang terjadi pada putaran pertama. Mereka bekerja di rumah, pekarangan dan kebun sambil mengasuh anaknya. Bahkan mereka menunjukkan sikap curiga terhadap orang yang menanyakan apakah anaknya sudah divaksin polio atau belum.
ìMbung, anak aing paeh sanggeus divaksin polio. Loba kajadian nana jiga nu katempo di televisi jeung di koran (Enggak mau anak saya mati setelah divaksin polio seperti kejadian yang terlihat di televisi dan diberitakan di koran-koran,” kata Kursinah, seorang ibu rumah tangga.
Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Ny. Wawat. Ia yang sedang menggendong anaknya di halaman itu langsung masuk ke dalam rumah begitu ditanyakan soal imunisasi polio. Dua anaknya yang lain yang sedang bermain dipanggil dan disuruh masuk ke rumah. Pintu pun ditutup, sehingga SH hanya terbengong di halaman rumah Wawat.

Gerakan imunisasi polio pada putaran kedua di Banten memang terlihat sepi. Antusiasme keluarga ikut PIN putaran pertama lalu kini tidak ada lagi. Pada putaran pertama, keinginan memberikan vaksin pada anak didorong oleh rasa takut akibat tayangan televisi dan media cetak yang secara intensif memberitakan tentang penyakit lumpuh layu dan polio.
Maka kini, lagi-lagi televisi dan media cetak dituding berandil besar dalam menurunnya antusiasme warga untuk mengimunisasi anaknya. Gara-garanya, setelah muncul berita-berita tentang anak-anak yang justru sakit setelah diberi vaksin.
Lihatlah di Kabupaten Serang. Pos-pos pelayanan imunisasi yang digelar hingga tingkat rumah tangga (RT) menjadi sepi. Hingga pukul 12.00 WIB, banyak posyandu yang tidak memenuhi target dalam pemberian vaksin. Misalnya, Posyandu Tamansari, Kota Serang baru dikunjungi 14 anak. Padahal targetnya sekirar 75 anak. Posyandu di Kompleks Perbendaharaan Negara (KPN) Serang juga mengalami hal serupa. Dari 90 anak, baru 20 anak yang siap divaksin.
Kurangnya ibu-ibu mengantarkan anaknya juga terlihat di Pusat Kesehatan (Puskesmas) Kota Serang dan Cipocok. Para petugas medis lebih disibukkan dengan pelayanan yang rutin seperti pengobatan dan perawatan penyakit. Hingga pukul 11.00 WIB, baru 300 anak yang divaksin polio di dua puskesmas tersebut.

Kesibukan Lain
Sikap pejabat di Banten pun berbeda dalam gerakan imunisasi polio pada putaran kedua ini. Tak ada ekspose atau penjelasan resmi tentang virus polio dan tak ada acara khusus yang menandai dimulainya gerakan ini.
Pada putaran pertama, Gubernur Banten Djoko Munandar dan Wakil Gubernur Banten, Ny. Atut Chosiyah, secara bersama-sama memulai gerakan imunisasi polio di Malingping, Kabupaten Serang, dengan upacara khusus dan ekspose ke berbagai media cetak dan elektronik.
Bahkan, Dinas Kesehatan Banten segera mengajukan anggaran Rp 1,2 miliar untuk penyelenggaraan imunisasi polio. Namun anggaran itu hanya disetujui Rp 400 juta, karena dinilai banyak kegiatan yang tidak diperlukan dalam imunisasi. Namun Sekretaris Daerah Pemprov Banten, Chaeron Muchsin, tidak mau menyebutkan item apa saja yang tidak diperlukan dalam pengajuan dana dari Dinas Kesehatan Banten itu.
Kali ini imunisasi nyaris luput dari perhatian. Gubernur Banten sibuk menghadapi persidangan dalam perkara dugaan korupsi fasilitas rumah dinas dan operasional DPRD Banten sebesar Rp 14 miliar. Sedangkan Wagub Banten menghadiri acara peletakan batu pertama pendirian pendidikan agama di Tangerang. Sedangkan pegawai dinas kesehatan mulai dari kabupaten/kota hingga provinsi tidak sesibuk seperti pada PIN polio putaran pertama.
“Bagaimana ya, kita sudah berusaha mengingatkan imunisasi polio ini, tapi tetap tidak bergaung seperti awalnya. Kami juga tidak mengerti. Mungkin tayangan di media televisi dan koran tentang efek pemberian vaksin polio sangat berpengaruh terhadap keinginan ibu-ibu rumah tangga membawa anaknya ke tempat imunisasi,” kata Baihaki, Kasi Penanggulangan Penyakit Menula dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Banten.
Kepala Biro Humas Pemprov Banten, Kurdi Matin, membenarkan merosotnya minat imunisasi polio tersebut. “Kami sudah memprediksi ini, tapi belum menemukan cara yang tepat untuk mencari jalan keluarnya,” katanya. Kurdi Matin mengatakan, Pemprov Banten telah mengalokasikan dana Rp 7,9 miliar untuk menanggulangi berbagai penyakit yang menjadi kejadian luar biasa (KLB) seperti lumpuh layu, polio, kurang gizi dan muntaber. “Khusus untuk polio, kami sudah mencairkan dana Rp 400 juta untuk beli perlengkapan vaksin.”
Penyakit polio di Banten tercatat 35 balita yang tersebar di empat kabupaten dan dua kota. Dari jumlah itu, Kabupaten Lebak mencatat jumlah penderita paling banyak, yaitu 15 balita. Sedangkan penyakit mirip polio yang disebut lumpuh layu terus bertambah sehingga mencapai lebih 92 orang.
Terlepas semua itu, ada benarnya sindiran warga di Kampung Cibelut, bahwa penanganan penyakit baru menjadi perhatian pemerintah setelah menjadi KLB atau banyak yang meninggal. Dan, peristiwa ini bisa menjadikan si pejabat menjadi populer.
Bahkan kemarin, ada yang membagikan kalender yang diberikan oleh rombongan Wakil Gubernur Banten, Ny. Atut Chosiyah. Kalender itu bergambar Ny Atut.
Harap maklum, tahun 2006 sudah dekat, yang berarti pemilihan kepala daerah (pilkada) Gubernur Banten sudah diambang pintu.
(SH/iman nur rosyadi/didit ernanto/jonder sihotang/
mohamad ridwan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s