Penyebab Kematian Balita Masih dalam Proses

http://www.suaramerdeka.com/harian/0706/22/kot29.htm

Jumat, 22 Juni 2007

Penyebab Kematian Balita Masih dalam Proses

UNGARAN – Depertemen Kesehatan (Depkes) RI menyatakan penyebab kematian dua balita di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, belum lama ini, masih dalam proses pengumpulan data penunjang lainnya. Penjelasan ini disampaikan pihak Depkes melalui Pusat Komunikasi Publik dengan surat bertanggal 18 Juni 2007 ke Kantor Suara Merdeka.

”Sehubungan dengan berita tanggal 8 Juni 2007 di Suara Merdeka, berjudul Dua Balita di Candi Meninggal (Diduga Setelah Diimunisasi) saya sampaikan penjelasan Departemen Kesehatan, bahwa Dinas Kesehatan dan Komda KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) Jateng telah melakukan investigasi terhadap kasus itu pada 2 Juni 2007. Dan saat ini masih dalam proses pengumpulan data penunjang lainnya,” jelas Dr Lily S Sulistiyowati MM Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes (Setjen). Diharapkan dalam waktu dekat kesimpulan penyebab kematian balita tersebut pasca imunisasi dapat diketahui.

Seperti diberitakan, dua balita yang meninggal, Yunita (tiga bulan) anak Suyamto (40) – Jamiah (38), warga RT 01 RW I Kalibendo, Candi, dan Zahrodin (sembilan bulan) anak Ahmad Said (38) dan Jumirah (33) warga RT 02/ RW VIII Dusun Ngipik, Desa Candi. Elva dibawa ke puskesmas pembantu (Pustu) Candi untuk imunisasi DPT sedang Zahrodin imunisasi campak, Jumat (25/ 5).

Menurut keluarga korban, besoknya (Sabtu 26/ 5) dua anak itu badannya panas dan sempat kejang-kejang. Jumirah, ibu Zahrodin, yang ditemui di rumahnya menjelaskan, setelah diimunisasi diberi obat empat butir pil. ”Lalu pil itu saya minumkan tiga butir. Anak saya lemas, keluar keringat, dan sempat kejang-kejang. Lalu Minggu (27/ 5) pagi, dia saya kirim ke RSUD Ambarawa selama dua hari,” terangnya. Zahrodin meninggal pada Minggu (3/ 6) malam dan Elva pada Senin (4/ 6) di RS Kariadi Semarang.

Evaluasi

Komisi D DPRD menduga obat yang diberikan kepada dua balita yang meninggal di Desa Candi, bukan untuk penurun panas melainkan obat diabetes. Hal ini ditegaskan Ketua Komisi D DPRD Bambang DN saat meminta keterangan para pejabat Dinas Kesehatan (Dinkes) di ruang komisi, Rabu (13/ 6). ”Prosedur memang sudah betul yaitu setelah imunisasi diberi obat tapi apakah obatnya sudah betul? Info yang saya terima, obat itu diberikan oleh tukang sapu puskesmas. Obat itu untuk diabetes,” kata Bambang DN.

Kepala Dinkes dokter Sulthoni, menjelaskan, perawat di Candi memberikan imunisasi dan obat sudah sesuai prosedur standar. Menurutnya, petugas kesehatan tidak ada penyimpangan dalam melaksanakan tugas. “Meninggalnya dua balita itu bukan disebabkan imunisasi. Kami sedang menunggu hasil laboratorium penyebab kematian dua balita itu,” kata dia kemarin. Usai kejadian itu, pihaknya sedang mengevaluasi setiap puskesmas pembantu dan induk di kabupaten ini. Selain itu Sulthoni akan mengingatkan, tidak semua obat diperbolehkan tersedia di puskesmas pembantu. ”Untuk sementara imunisasi di Pustu Candi dihentikan sambil menunggu kepercayaan masyarakat. Kami juga akan melakukan penyuluhan,” tegasnya. (H14-16)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s