Kecelakaan Imunisasi,Kasus Azka Dilimpahkan ke LHB Anak

http://harian-aceh.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2397&Itemid=27

Kecelakaan Imunisasi,Kasus Azka Dilimpahkan ke LHB Anak

Senin, 31 Maret 2008
Banda Aceh | Harian Aceh—Kasus kecelakaan imunisasi pada diri bayi usia 45 hari, Muhammad Azka, berbuntut panjang. Orang tua korban akan menuntut dinas kesehatan ke lembaga hukum. Kini keluarga telah menyerahkan masalah ini ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak. Hanya saja, dinas kesehatan menyimpulkan koma yang dialami Azka bukan karena imunisasi.“Persoalan ini sudah diserahkan kepada kami,” kata Ayu, salah seorang staf LBH Anak yang dihubungi oleh Harian Aceh, kemarin.

Keluarga Azak kecewa karena analisis para dokter tersebut belum tepat dengan masih mengunakan kata-kata “kemungkinan” dan “kebetulan”. Dokter juga dianggap belum mampu memastikan penyebab pendarahan otak pada Azka serta pecahnya pembuluh kepala Azka setelah imunisasi. Kasus Azka kini telah dilimpahkan kepada LHB Anak.

“Kita kecewa karena hasil analisis Komisi Daerah Pengkajian Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komda PP-KIPI) tidak memberikan penjelasan yang tepat kepada keluarga. Atas dasar ini, kasus Azka kita serahkan pada LHB Anak untuk diselesaikan,” kata salah seorang keluarga.

Ayu mengatakan keluarga menyerahkan persoalan Azka kepada LBH. “Saat ini kita sedang melakukan investigasi lebih dalam terhadap kasus ini dan ada satu dua temuan baru namun belum dapat kita publikasikasi,” katanya.

Dia menyatakan LBH anak kecewa terhadap tim Komda PP-KIPI saat temu pers karena tidak mengizinkan LHB sebagai penanggungjawab persoalan yang mewakili keluarga.

Selain itu, Sekretaris Asosiasi Peduli Ibu dan Anak (ASPIA) Aceh Besar, Yuni, menyatakan persoalan Azka hingga kini belum mencapai titik terang biarpun sudah ada analisis dari KOMDA PP-KIPI. Masih rancu karena mereka masih berbicara penyebabnya secara kemungkinan. Sedangkan penyebab pendarahan Azka dianggap tetap masih kabur.

“Azka yang mulanya sehat disuntik sebanyak dua kali menurut keluarga dan kemudian menderita sakit serta koma. Ini sebenarnya yang harus dipertanyakan,” katanya.

Keluarga tidak membawa Azka ke dokter untuk disuntik USG tapi dokter yang datang ke rumah dan kemudian Azka koma. ”Menyangkut permasalahan ini kita meminta diagnosa penuh  dan bukan statemen ’mungkin’ serta ’kebeturan,” kata Yuni.

Kata Yuni lagi, kasus kecelakaan imunisasi seperti Azka baru pertama kalinya terjadi di Aceh yang terpublikasi. Dirinya khawatir kalau kasus ini dibiarkan maka akan banyak bayi-bayi lain yang menderita di kemudian hari. Dia juga meminta persoalan ini tidak bisa didiamkan. Dinas Kesehatan Aceh Besar dinilai sebagai lembaga yang harus bertanggung jawab penuh mengenai permasalahan ini dan bukan cuma berbicara masalah biaya,” tegasnya.

Sementara itu, Nurmala, ibu korban juga menambahkan jika persoalan Azka tidak terselesaikan tuntas dan Dinas Kesehatan Aceh Besar masih lepas tangan terhadap persoalan ini, akan menuntut secara hukum. “Jika persoalan ini tidak segera terselesaikan maka kita akan menempuh jalur hukum,” ucap Nurmala saat itu.

Dia mengatakan dokter Sulaiman, dokter keluarga yang selama ini menangani permasalahan Azka meminta kepadanya untuk memindahkan Azka ke Rumah Sakit Umum Zainun Abidin. Tapi, katanya, keluarga akan tetap mempertahankan Azka di Rumah Sakit Harapan Bunda. “Kita tetap minta di rumah sakit ini karena takut kalau Azka yang masih bayi ditanggani banyak dokter dapat berbahaya,” jelas Nurmala.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar, Erni Ramayani menyimpulkan, koma  yang dialami Azka dari Leupueng Mesjid, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, bukan karena suntikan vaksin imunisasi Bacillius Calmette Guerin (BCG).

Pernyataan dr. Erni tersebut dikeluarkan Komite Daerah Pengkajian Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KOMDA PP-KIPI), dalam jumpa pers Sabtu (29/3) di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Dalam jumpa pers tersebut juga dihadiri, dr. Iskandar, SpBS, dr Nurjannah, SpA, Naini Fajar, Kepala Puskesmas Kuta Baro, Mardiah, SkM (Kasubdin P2P) dan Idhwar, MKes, Sekretaris KOMDA.

Menurut Erni, berdasarkan hasil rapat tim medis pada Selasa (25/8) di RSUZA Banda Aceh, yang terdiri dari Tim Ahli Perinatologi Anak, Hematologi Anak, Pathologi Klinik, Ahli Bedah Syaraf, Ahli Radiologi, Ahli Forensik dan hasil paparan pemeriksaan klinis terhadap pasien koma paska imunisasi BCG, Muhammad Azka koma secara kebetulan karena pendarahan otak.

Ketua KOMDA PP-KIPI Aceh, dr Nurjannah, SpA menjelaskan, kasus Azka dipastikan bukan karena kesalahan imunisasi, melainkan lebih dikarenakan adanya kemungkinan gangguan Hemolitik (pecah pembuluh darah) yang terjadi pada pasien. Hal tersebut dikuatkan oleh dr. Iskandar, SpBS dan beberapa tim ahli lainnya.

“Tapi masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap faktor pembekuan darah. Antara lain faktor VIII dan IX, PTT (Partial Thromboplastin Time Test), APTT (Activated Partial Thromboplastin Time Test) dan Comb Test,” ujar Nurjannah.

Lebih lanjut Nurjannah menerangkan, kemungkinan besar gejala dari imunisasi BCG itu sendiri hanya berupa reaksi lokal berupa pembengkakan dan kemerahan di lokasi tempat penyuntikan.

“Sedangkan gejala lainnya diikuti timbulnya jaringan parut pada proses penyembuhannya. Selain itu, gejala-gejala vaksinasi BCG juga mengakibatkan terinfeksinya kelenjar Limfe (Lymphadenitis suppuratif), Infeksi pada tulang khususnya pada kekebalan tubuh yang rendah. Namun itu jarang terjadi,” ungkap Nurjannah.

Menurut dia, alat penguji faktor-faktor untuk mengetahui penyebab pendarahan itu tidak tersedia di rumah sakit di Aceh. Alat tersebut hanya ada di kota-kota besar, seperti Medan dan Bandung.

Hal senada juga dikatakan dr Iskandar, SpBS (ahli bedah syaraf). Munurut dia, belum pernah terjadi kasus koma setelah peyuntikan vaksin BCG. Kemungkinan yang terjadi pada pasien tersebut ganguan fungsi otak, seperti Hydrocepallus. “Namun itu juga belum bisa dipastikan. Untuk sekarang, pasien tersebut dalam pengawasan, jika ada sesuatu yang mengkhawatirkan, dokter akan mengambil tindakan operasi,” kata Iskandar.

Ketika ditanya kondisi Azka pra imunisasi, Kepala Puskesmas Kuta Baro, Naini Fajar mengatakan, sebelumnya, kesehatan bayi tersebut sudah diperiksa ketika hendak dilakukan imunisasi. “Bayi tersebut sudah kita periksa kondisi kesehatannya ketika hendak melakukan imunisasi BCG. Tapi kejadian tersebut terjadi secara kebetulan setelah imunisasi,” ungkap Naini.

Namun, keterangan pihak medis tersebut, tidak dihadiri pihak keluarga korban dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak, selaku kuasa hukum keluarga tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, tim medis belum mengetahui pasti penyebab pendarahan otak pada pasien. Meskipun begitu, mereka mengatakan, akan terus membantu Azka sampai sembuh. Akan tetapi, untuk biaya pengobatan selama perawatan di Rumah Sakit, mereka tidak menanggungnya.

Staf Dinas Kesehatan Aceh, Idhwar MKes mengatakan, pemerintah tidak menyediakan biaya khusus untuk kasus tersebut. “Namun jika dirujuk ke RSUZA, kemungkinan ada bantuannya,” ujar Idwar. Diiyakan Kadis Kesehatan Aceh Besar, Erni Ramayani.

Sementara itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak yang diwakili Marianty, terlihat duduk di luar ruangan, karena tidak diijinkan mengikuti pertemuan tersebut. Menurutnya, KOMDA tidak mengizinkan LBH Anak ikut jumpa pers tersebut. “Keluarga sudah mempercayakan kami untuk membantu menangani kasus ini. Tapi sayangnya kita tidak diijinkan masuk pihak dokter tersebut,” ungkap Marianty.

Menurut keterangan Nurjannah, pihak LBH Anak tidak diizinkan mengikuti pertemuan dengan wartawan dalam konfrensi pers tersebut supaya pernyataan yang diberikan untuk wartawan tidak membias nantinya.

“Kita meminta mereka agar tidak bicara dulu. Kita akan bicara dengan pihak LBH, setelah konferensi pers,” jawab Nurjannah, sembari menutup pembicaraannya.

Sebelumnya diberitakan, M Azka, bayi berusia satu bulan yang diduga korban salah suntik imunisasi BCG oleh tenaga medis di Puskesmas Kuta Baro, Aceh Besar hingga, Kamis (20/3) masih dirawat intensif di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) Rumah Sakit Harapan Bunda, Banda Aceh.

Sementara keluarga korban meminta pihak Dinas Kesehatan Aceh Besar memberikan pembuktian secara medis, tentang benar atau tidaknya penyakit bayi itu disebabkan infeksi jarum suntik saat imunisasi.

Ibu korban, Nurmala mengatakan, kasus itu berawal dari imunisasi yang dilakukan pihak Puskesmas Kuta Baro, Aceh Besar. Kata dia, pada 31 Maret 2008, sekitar pukul 10.00 WIB, rumahnya didatangi tiga tenaga medis dari Puskesmas Kuta Baro. Mereka menawarkan imunisasi kepada bayi yang baru dilahirkan sebulan lalu itu.

Menurut Nurmala, sekitar setengah jam kemudian, pada tangan sebelah kanan bekas imunisasi itu mengelurkan darah tak henti-hentinya. Ia panik, Nurmala kemudian memanggil perawat yang datang ke rumahnya, melalui sepupunya. Sekitar pukul 17.00 WIB atau selang waktu tujuh jam, tenaga medis itu datang. “Perawat itu terkejut melihat kondisi bayi saya. Namun, ia tidak menyarankan apa-apa,“ sebut Nurmala.

Melihat kondisi bayi kian parah disertai kejang-kejang, keesokan harinya Nurmala membawa bayinya ke dokter spesialis. “Setelah didiagnosa, ternyata bayi saya harus segera diopname,” tambahnya.

Nurmala sangat menyesalkan pernyataan pihak Dinas Kesehatan Aceh Besar, yang mengatakan bayinya bukan kesalahan suntik imunisasi BCG. “Kami turut prihatin atas musibah ini. Namun, itu bukan kesalahan suntikan imunisasi,” kata Nurmala, menirukan ucapan Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, saat itu.

Menyangkut pernyataan itu, Nurmala bisa menerimanya asalkan disertai bukti medis yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. “Jika tidak, kami akan menempuh jalur hukum,” tegas ibu tiga anak ini.(mrd/jun)

2 comments

  1. Sebaiknya untuk kasus Azkia, keluarga pasien jgn cepat negatif thingking kepada petugas kesehatan, bisa jadi immunisasi hanya faktor pemicu terjadinya penyakit yang memang sdh ada, dan kepada keluarga sanak saudaranya sebaiknya tidak terlalu membesarkan masalah walaupun memang memiliki kekuasaan untuk itu…tetaplah berdiri pada hakikat ilahi…

  2. BismiLlah…
    Hal yang “Bisa Jadi” bisa terjadi pada semua kondisi. 1. Bisa Jadi Vaksinasi sebagai faktor pemicu, 2. Bisa Jadi Azka (Bukan Azkia) memang sudah sakit sebelum diimunisasi, 3. Bisa Jadi petugasnya yang teledor, 4. Bisa Jadi obatnya yang tercemar, 5. Bisa Jadi …., 6. Bisa Jadi …., 7. Bisa Jadi ….. Tak ada yang pasti selain kebenaran dari Allah swt. Vaksinasi juga seharusnya tidak diklaim dan boleh dipaksakan secara hukum sebagai satu-satunya yang bisa mencegah penyakit sehingga yang menolak vaksinasi menjadi terpidana.
    Seharusnya siapa saja bebas untuk memvaksinasi atau tidak. Seharusnya orang yang menolak vaksin tidak dituduh salah dan bodoh. Buktinya negara yang sangat maju dalam bidang kedokteran seperti Australia dan Belanda pada seluruh rumah sakitnya memberikan 2 Alternatif terapi bagi Pasien: 1. Kimiawi Sintetis, 2. Herbal Alami.
    Kematian yang tidak wajar adalah masalah yang besar, bukan masalah kecil.
    Begitulah pendapat saya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s