Vaksin antara Ya dan Tidak

http://www.halalmui.or.id/?module=article⊂=article&act=view&id=130

Vaksin antara Ya dan Tidak

Alasan pertama; yang sering diungkapkan diungkapkan adalah tujuan dan filosofi imunisasi itu sendiri. Kaum naturalis menilai bahwa secara alamiah tubuh manusia sudah memiliki mekanisme pembentukan kekebalan sendiri yang mampu mencegah berbagai penyakit. Penggunaan vaksin justru bisa menimbulkan efek samping yang membahayakan si anak, antara lain mereka akan rentan dan lebih mudah terkena penyakit lain.

Masalah lain yang sering menjadi alasan penolakan adalah penggunaan bahan-bahan dalam proses pembuatan vaksin yang memang tidak sepenuhnya halal. Dalam proses pembuatan vaksin tersebut banyak melibatkan bahan penolong atau media yang bersumber dari zat-zat yang haram atau subhat. Masalah inilah yang lebih rasional dan semestinya dilakukan kajian mendalam. Kalau memang harus dilakukan imunisasi menggunakan vaksin, maka sebaiknya ia diproduksi secara halal dengan bahan baku, bahan penolong dan media yang benar-benar halal.

Tidak Sepenuhnya Halal

Sampai saat ini diakui oleh pakar kedokteran dan produsen obat bahwa proses pembuatan dan produksi vaksin ini tidak sepenuhnya halal. Misalnya penggunaan media tumbuh dalam proses produksi virus yang dilemahkan yang menggunakan media dari ginjal gera, ginjal babi, bahkan juga janin manusia yang digugurkan. Selain itu pada tahapan tertentu dalam proses produksi vaksin juga digunakan enzim tripsin yang bisa bersumber dari babi.

Sebagai contoh dalam proses pembuatan Vaksin Polio Inaktif (IVP), Virus Polio dikembangbiakkan menggunakan sel vero (berasal dari ginjal kera) sebagai media. Proses produksi vaksin ini melalui tahapan sebagai berikut:
1. Penyiapan medium (sel vero) untuk pengembangbiakan virus
2. Penanaman/inokulasi virus
3. Pemanenan virus
4. Pemurnian virus
5. Inaktivasi/atenuasi virus

Penyiapan media (sel vero) untuk pengembangbiakan virus dilakukan dengan menggunakan mikrokarier, yaitu bahan pembawa yang akan mengikat sel tersebut. Bahan tersebut adalah N,N diethyl amino ethyl (DEAE). Pada proses selanjutnya sel vero ini harus dilepaskan dari mikrokarier menggunakan enzim tripsin yang berasal dari babi.

Tahap selanjutnya adalah pembuangan larutan nutrisi. Hal ini dilakukan dengan proses pencucian menggunakan larutan PBS buffer. Larutan ini kemudian dinetralkan dengan menggunakan larutan serum anak sapi (calf serum). Larutan yang tidak digunakan tersebut dibuang atau menjadi produk samping yang digunakan untuk keperluan lain.

Sel-sel vero yang sudah dimurnikan dan dinetralisasi itu kemudian ditambahkan mikrokarier yang baru dan ditempatkan di bioreactor yang lebih besar. Di dalamnya ditambahkan zat nutrisi yang sedikit berbeda untuk menumbuhkan sel vero dalam jumlah yang lebih besar. Sel vero yang sudah bertambah jumlahnya ini kemudian dilepaskan lagi dari mikrokariernya dengan tripsin babi lagi. Proses ini berlangsung secara berulang-ulang sampai dihasilkan sel vero dalam jumlah yang diinginkan.

Titik kritis ditinjau dari sudut kehalalan dalam pembuatan sel vero ini adalah penggunaan enzim tripsin. Tripsin digunakan dalam proses pembuatan vaksin sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisahan sel / protein). Tripsin dipakai dalam proses produksi OPV (Oral Polio Vaccine) dan IPV (Inactivated Polio Vaccine). Masalahnya, enzim tripsin ini merupakan unsur derivat (turunan) dari pankreas babi.

Sebenarnya dalam setiap tahapan amplifikasi sel, tripsin harus dicuci bersih oleh karena Tripsin akan menyebabkan gangguan pada saat sel vero menempel pada mikrokarier. Hal ini menyebabkan produk akhir vaksin yang dihasilkan tidak akan terdeteksi lagi unsur babinya. Namun karena digunakan sebagai bahan penolong dalam proses pembuatannya, inilah yang memerlukan kejelasan status kehalalannya.

Tahap selanjutnya dalam proses pembuatan vaksin ini adalah perbiakan sel vero menjadi produk bulk yang siap digunakan. Dalam tahap ini dilakukan proses amplifikasi (pembiakan sel dengan mikrokarier), pencucian sel vero dari tripsin, inokulasi virus, panen virus, filtrasi, pemurnian dan inaktivasi. Pada proses pencucian hingga inaktivasi tersebut sebenarnya sudah tidak melibatkan unsur babi lagi.

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa proses pembuatan vaksin folio masih melibatkan unsur haram dalam proses pembuatannya sebagai bahan penolong, yaitu penggunaan enzim tripsin. Sebenarnya pada tahap selanjutnya enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan, hingga pada produk akhirnya tidak terdeteksi lagi. Namun karena sudah tersentuh unsur haram dan najis, maka hal ini masih menimbulkan keraguan pada status kehalalannya.

Sementara ini memang ada keringanan jika ditinjau dari aspek darurat dan demi kepentingan yang lebih besar. Namun dari keterangan pihak Biofarma sebagai salah satu produsennya, sedang diupayakan agar bahan-bahan yang berasal dari babi itu bisa dihilangkan. Dengan demikian kejelasan status halalnya bisa lebih bisa dipertanggungjawabkan. Pihak Biofarma meminta waktu sekitar 3 tahun untuk melakukan riset guna
mengganti bahan babi tersebut. Nah, kita tunggu saja hasilnya, agar masyarakat bisa lebih tenang dalam menggunakan faksin tersebut.

7 comments

  1. Assalamu’laikum.wr.wb.

    Terimakasih informsinya. Terus terang saya sampai saat ini belum memberikan vakasin ke anak saya. saya masih sangat takut tentang halal dan haram, dan yang paling penting pula adalah dampak dari vaksin tersebut…!! Apakan ada hubungan anatara perilaku anak dan vaksin yang diberikan. apakah ada hubungannya dengan kaadaan pada generasi saat in?. Saya melihat kok para pemuda (SD-SMA bahkan perguruan tinggi ) perilakuknya sangat jauh dari para pendahulunya yang belum tersentuh oleh vaksin.
    Mulai dari sopan santun, tatakrama, libido, pola hidup dan konsumsi.

    Mohon saya informasi yang akurat unutk memberikan masukan terhadap keputusn dan pendapat saya. Terimakasih,.

  2. Saya bukan ‘ulama yang bisa menetapkan halal dan haram. Sejauh yang saya ketahui hal yang darurat bukan halal murni melainkan Halalan Dharuratan.
    Suatu yang darurat tidak akan pernah menjadi Halalan Thayyiban sebagaimana Allah telah menjelaskannya dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.

  3. saya akhirnya menstop imunisasi untuk alin.waktu itu beritanya msh simpang siur.jd saya ragu.tp skrg tdk lg.syukron ya..

    btw,beli syrup madu dimana ya..saya sdh cari k toko2 yg jual thibun nabawi.tp g ada.mohon infonya….
    jazakillah

  4. Saudaraku, Bob, Yth:
    Dharuarat, di sisni, bukannya halal secara asal. Hanya saja, dihalalkan karena ada sesuatu yang memang baru–misalnya, wabah penyakit–dan hukum halal itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya unsur Dharurat itu. Sama halnya dengan halal memakan babi ketika tidak ada lagi makanan selain babi. Dan ketika sudah ada makanan lain, otomatis babi tadi menjadi haram Lidzatih (secara otomatis haram).

    Lagi pula, Kondisi yang ditakutkan memang belum terjadi atau masih perkiraan saja (ghairu mutawaqqi’ah), baik secara akal atau inderawi. Nah, dari sudut ini pula syarat untuk di jadikan Adh-Dharuratu Tubihul Mahdhurat saja belum bisa dipenuhi.

    Oleh karena itu, Saya lebih setuju, tanpa menganggap enteng penemuan para medis ini, lebih setuju untuk membiarkan tanpa vaksin. Waidza Maridhtu Fahuwa Yasyfin. Wallahu A’lam.

  5. Syrup madu yang saya maksud adalah racikan kita sendiri, yaitu: Air + Madu, dengan takaran seperti membuat syrup.
    Demikian, WaLlahu a’lam.

  6. kalau saya sendiri imunisasi itu halal, karena kalau tidak diimunisasi ada kemungkinan madharat lebih besar dari pada tidak.Dan itu dijelaskan dlm kitab fiqih bab at’imah bahwa orang yang khawatir akan mati atau sakit ketika tidak makan barang haram sedangkan ia tidak menemukan barang halal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s