Rio, Korban Dugaan Malapraktek di Maesan

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=148156&c=91

Sabtu, 30 Des 2006
Rio, Korban Dugaan Malapraktek di Maesan

Percuma, Nuntut pun Nyawa Anak Saya Tak Kembali. Tak ada yang menyangka ajal menjebut Muhammad Aksan Satrio Rahmadani alias Rio lebih dahulu. Diduga akibat malapraktik, bayi dua bulan tersebut meninggal dunia. Padahal sebelum disuntik imunisasi, Rio dalam keadaan segar bugar.

Pasangan Abdul Fattah dan Rike Yuliarsih kemarin masih tampak berduka. Hingga hari ketiga sejak kematian Rio, anak ketiga pasangan itu, lantai rumahnya masih dibeber tikar. Sanak saudara dan tetangga, dan tamu-tamu lainnya masih memberikan dukungan moral. Tidak ada yang menyangka jika Rio yang tampak lucu itu malah mendahului orang tua dan kedua kakaknya menghadap Sang Khalik.

“Silahkan masuk mas,” sambut Rike Yuliarsih, saat Erje mendatangi rumahnya yang terletak di belakang Kantor Kecamatan Maesan lama itu. Mata wanita itu masih tampak sembab. Serta merta, Rike menanyakan maksud kedatangan Erje ke rumahnya itu.

Setelah dijelaskan, Rike, sapaan akrabnya menerangkan terjadinya tragedi imunisasi yang membawa maut bagi Rio. “Ketika saya bawa ke Bidan Tyas, kondisi Rio sehat. Itu imunisasi ketiganya,” kata Rike mengawali ceritanya. Tanpa ada firasat apa pun, Rike Sabtu sore membawa putra ketiganya tersebut ke Bidan Tyas.

Rio langsung di-imunisasi DPT Combo. Karena Bidan Tyas masih ada tamu, akhirnya Bidan Tyas menyuruh asistennya untuk memberikan suntikan. Mungkin berawal dari suntikan itulah, akhirnya yang membawa Rio ke ujung maut.

Setelah beberapa jam di rumah, bekas suntikan di paha Rio timbul pendarahan. Awalnya hanya dianggap kejadian biasa. Setelah sempat mendapatkan perawatan Bidan Tyas pendarahan tersebut berhenti. Tapi pukul 10.00 dari bekas suntikan imunisasi keluar darah lagi. Selanjutnya, Rio dibawa ke RSUD dr Koesnadi. Setelah mendapatkan pemeriksaan, Rio diharuskan opname di RSUD dr Koesnadi.

Selama tiga hari Rio mendapatkan perawatan dari RSUD dr Koesnadi. Meski tim medis telah berupaya keras, Selasa pukul 13.00 kondisi Rio kian memburuk. Hingga akhirnya nyawa Rio tidak tertolong lagi. Kini, kematian Rio jadi perhatian serius Dinkes Bondowoso.

Kepada Erje Rike menuturkan selama dua bulan diasuhnya, Rio tidak pernah rewel atau sakit. Bayi tersebut malah mudah dirawat dibandingkan kedua kakaknya yang kadang sakit-sakitan. “Si Rio itu kalem dan rewelan,” terangnya. Karena itu, kedua orang tuanya sangat sayang.

Hanya saja, proses persalinan Rio yang mendapatkan perhatian Rike dan Abdul Fattah. Sebab, kelahiran Rio tergolong cepat tanpa ada tanda-tanda kelahiran. “Yang agak aneh, Rio itu lahir ketika saya minta pijat di Bu Pit, dukun bayi asal Sumbersari,” ungkapnya.

Yang aneh lagi, proses persalinan cepat tanpa diiringai rasa sakit. “Saya kaget, ketika dipijit Bu Put bilang jika bayi saya mau lahir. Saat itu saya tidak merasakan apa-apa,” ujarnya. Benar adanya, setelah dipijit beberapa saat kemudian anak ketiga yang akhirnya diberi nama Muhammad Aksan Satrio Rahmadani lahir.

Sama dengan kedua kakaknya, si Rio juga dimintakan imunisasi ke Bidan Tyas yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Sebab, selama ini Bidan Tyaslah yang melayani warga sekitar Maesan.

Meski nahas tertimpa musibah karena imunisasi, keluarga Abdul Fattah menegaskan tidak akan menuntut apapun terhadap Bidan Tyas. Rike mengaku ikhas akan kepergian anaknya. ’Meski saya menuntut, nyawa anak saya juga tidak akan kembali. Saya ikhlas menerimanya kok,” jelasnya.

Namun, dia berharap agar kasus yang menimpa anaknya jadi pelajaran bagi para bidan. “Saya hanya berharap semua bidan mengambil pelajaran,” terangnya. Terutama tidak menyerahkan penanganan pasien pada asistennya yang mungkin kurang pengalaman.

Abdul Fattah juga mengaku ikhlas. “Saya harap hal seperti ini tidak terjadi para orang lain,” terangnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dr Agus Suwardjito MKes menyatakan, kematian Rio sebagai KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi). Dimana, kasus KIPI jarang ditemukan. Terlepas dari penyebab, apa ada kelainan faktor pembekuan darah atau hemofilia, hingga kini belum jelas,” katanya. Tapi, dia menegaskan semua petugas harus memenuhi persyaratan tertentu untuk memberikan imunisasi. (aro)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s