RI Kecewa Tak Ditanggapi WHO

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=311806

Jumat, 09 Nov 2007,
RI Kecewa Tak Ditanggapi WHO

Kasus 58 Varian Virus Flu Burung
JAKARTA – Departemen Kesehatan kembali kecewa terhadap sikap Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang tidak mengembalikan 58 varian virus H5N1 milik Indonesia. Alasan WHO, setiap virus yang sudah dikirim tidak bisa dikembalikan lagi ke negara yang bersangkutan.

“Jadi, negara pengirim seakan tidak memiliki hak atas virus tersebut,” ujar Menkes Siti Fadilah Supari usai jumpa pers Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-43 bertema Rakyat Sehat, Negara Kuat di gedung Depkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, kemarin.

Menurut Siti, sejak Agustus lalu Depkes melayangkan surat kepada WHO untuk meminta kembali virus flu burung tersebut. Namun, tidak ada satu pun balasan dari WHO. “Kami mengirimkan 58 seed virus ke WHO dan meminta dikirim kembali ke Indonesia, tapi tidak pernah mendapat jawaban. Ini merampas, bukan menyandera lagi,” ujar Siti.

Virus yang dikirimkan Indonesia (dan beberapa negara berkembang) ke WHO, saat ini dengan mudah berpindah tangan ke institusi riset di beberapa negara adidaya. Mereka mengambil virus dengan gratis dan diteliti untuk pembuatan vaksin. Produk itu lalu dijual ke negara-negara pemilik virus dengan harga mahal.

Siti mengingatkan pengalaman Indonesia di masa lampau. Kata dia, WHO pernah meminta seluruh virus cacar Indonesia yang saat itu memiliki varian terganas yang ditemukan saat penjajahan Belanda.

“Saat itu tiba-tiba WHO mengumumkan seluruh dunia tidak boleh mempunyai virus cacar. Sampai-sampai laboratorium Biofarma (BUMN farmasi) yang punya virus cacar dirusak dan tempat virus itu dihancurkan,” kisah Siti.

Anehnya, secara mengejutkan, pada 4 hingga 5 tahun kemudian, Amerika Serikat tiba-tiba berhasil menemukan vaksin virus cacar dan meminta dunia membeli vaksin darinya. “Kalau tidak membeli, saat itu (ditakuti) ada senjata biologis virus cacar sebagai ancaman. Akibatnya, kita terseok-seok karena harga vaksinasinya mahal,” katanya.

Belajar dari pengalaman tersebut, Siti tidak mau hal itu dialami Indonesia lagi. Siti menilai mekanisme sharing sampel tersebut tidak adil dan harus diperbaiki. Menurut dia, mekanisme pengiriman virus itu seharusnya diimbangi timbal balik penyerahan vaksin kepada negara pemilik virus.

“Kalau Indonesia memiliki, Indonesia bisa meneliti virus itu untuk pengembangan vaksin, alat diagnostik, maupun antibodi,” ujarnya.

Menurut Siti, mekanisme seperti yang dilakukan WHO ini tidak adil. Virus itu milik bangsa. Tidak seorang pun yang memaksa harus diserahkan kalau memang menyusahkan negara kita. “Apa pun protokolnya, kita adalah negara yang berdaulat,” lanjutnya. (bay)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s