Penelitian Hib Pertama di Dunia ada di Lombok

http://anak.i2.co.id/beritabaru/berita.asp?id=123

Penelitian Hib Pertama di Dunia ada di Lombok

Lombok dipilih sebagai tempat penelitian karena angka kematian anak akibat pnemonia cukup tinggi. Haemophylus Influenzae serotypeB (Hib) adalah suatu kuman yang dapat menyebabkan peradangan pada pnemonia dan meningitis, terutama pada anak di bawah umur dua tahun. Ternyata, di negara-negara berkembang, penyakit pnemonia dan meningitis dipengaruhi oleh Hib. Kedua penyakit ini pun masih menjadi momok di Indonesia karena angka kematiannya tinggi pada bayi.

Menurut Menteri Kesehatan RI Achmad Sujudi, masalah penyakit ini menjadi persoalan kesehatan besar di negara ini. Kematian bayi dan balita masih sangat tinggi dan kecacatan akibat penyakit ini masih cukup besar.

“Karena itulah, Hib ini sangat berbahaya bagi anak-anak. Khususnya meningitis, bahayanya adalah kecacatan seperti tuli, lumpuh, terbelakang mental dan dapat menyebabkan kematian. Makanya, penelitian mendalam terhadap Hib di daerah Lombok memberikan pengetahuan yang lebih maju mengenai perkembangan Hib di negara ini,” ujar Sujudi membuka seminar tentang laporan hasil penelitian Hib di Lombok, akhir pekan lalu di Jakarta.

Tentang studi ini, menurutnya menjadi langkah penting untuk mengetahui seberapa besar masalah Hib di Asia dan khususnya Indonesia. Pada kenyataannya, sedikit negara di Asia yang memasukkan program vaksin Hib dalam imunisasi nasional.

“Penelitian ini adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan memberdayakan masyarakat. Ini jelas ilmiah. Karena itu, hasil penelitian ini bisa mendorong upaya pembentukan kebijakan dalam penatalaksanaan penyakit pnemonia dan meningitis akibat Hib. Di samping itu, bisa pula menjadi pendorong kebijakan dalam program imunisasi nasional,” papar Sujudi.

Studi Hib di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat merupakan kerjasama antara Depkes RI, pemda NTB, Program for Appropriate Technology in Health (PATH), dan Association pour l’Aide a la Medicine Preventie (AMP). Studi ini dilakukan dari tahun 1997 hingga 2003. Rancangan studi yang dilakukan adalah double blind prospective dengan kelompok intervensi dan kontrol.

Lombok dipilih sebagai tempat penelitian, menurut Ketua tim peneliti Anhari Achadi, karena angka kematian anak karena pnemonia cukup tinggi. Di sana, terdapat infrastruktur yang memadai dengan fasilitas laboratorium yang baik dan tenaga ahli yang cukup handal. “Di samping itu, ada komitmen yang kuat dari pemda untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita. Hal ini mendukung dilakukannya penelitian Hib di daerah tersebut.”

Studi tersebut, lanjutnya, merupakan upaya menetapkan beban kesakitan akibat infeksi Hib. Cara yang ditempuh adalah memperkirakan proporsi kasus pnemonia akibat Hib yang terbukti secara radiologik pada anak berusia enam minggu hingga 24 bulan yang dapat dicegah dengan vaksin Hib.

Dijelaskannya, studi yang menelan dana sebesar 8 juta dolar AS ini diawali dengan studi (I)carrier(I) pada bulan Agustus 1997. Hasil usap tenggorok (nasofaring) dari 485 anak di bawah dua tahun memperlihatkan 8 persen (I)carrier(I) Hib dan 48 persen pembawa (I)streptococcus pnemoniae(I). Studi dilanjutkan dengan survei kasus, meningkatkan rujukan ke RS, meningkatkan kelengkapan dan kemampuan diagnostik, serta meningkatkan kemampuan penanganan kasus.

Setelah itu, barulah dilakukan intervensi berupa pemberian vaksin kepada 55.073 anak di bawah dua tahun dari 818 desa. Dari jumlah itu, sebanyak 28.147 anak diberi vaksin DPT-Hib cair dan sisanya (26.926 anak)\ diberi vaksin DPT saja. Pemberian vaksin sesuai jadwal DPT yang berlaku dan dilaksanakan sejak September 1998 hingga September 2002.

Dari penelitian itu, jelas Achadi, didapatkan bahwa angka kejadian pnemonia dan meningitis pada anak di bawah dua tahun di Lombok sangat tinggi. Proporsi meningitis klinis akibat Hib cukup besar (22 persen). Sedangkan, proporsi pnemonia akibat Hib sebesar 3 persen. “Kami melihat, vaksin Hib sangat efektif dalam memberikan perlindungan terhadap meningitis Hib yang dikonfirmasi dengan laboratorium (VE 86 persen) dan meningitis klinis (VE 22 persen).”

Katanya, efek vaksin Hib terhadap pneumonia secara absolut besar, yaitu 884 anak per 100 ribu anak-tahun. Namun, secara proporsi kecil, atau tak bermakna secara statistik. Sedangkan, untuk memutuskan layak tidaknya vaksin Hib dalam program nasional, Achadi menyatakan bahwa perlu adanya studi lainnya. Contohnya saja, studi perbandingan biaya antara penggunaan vaksin dengan alternatif lain, seperti peningkatan rujukan, kemampuan temuan, dan penanganan kasus pnemonia dan meningitis. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa adanya kecenderungan daya tahan bayi perempuan lebih tinggi dari bayi laki-laki. Hal ini dikatakan oleh tim peneliti dari Lombok yang dipimpin oleh dr I Komang Gerudug MPH. Menurutnya, pihaknya masih belum menemukan secara jelas mengenai daya tahan kedua gender ini dalam kedua penyakit tersebut. “Untuk menjelaskannya, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.”

Sementara itu, dr Endang dari Kesehatan Masyarakat Depkes menyatakan bahwa penelitian ini juga memperhatikan soal kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI). Menurutnya, efek samping dari vaksin di sana adalah panas dan menggigil. Kejadian KIPI yang berat adalah kejang, lumpuh, dan meninggal. “Namun, pada penelitian kami ini, ternyata KIPI-nya rendah. Ini merupakan hasil perbandingan dari kasus-kasus yang ada. Di antara vaksin Hib dan DPT, ternyata KIPI tinggi terjadi pada DPT. Kejadian meninggal ada pada satu kasus yang disebabkan karena pengaruh lain,” ujar Endang. wed

*diambil dari Harian Republika Selasa, 18 Nopember 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s