Merkuri Bisa Menjadi Penyebab Autis

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=172886

Merkuri Bisa Menjadi Penyebab Autis

Sabtu, 12 Mei 2007
Ingat merkuri tentu ingat penyakit minamata. Seperti peristiwa yang terjadi pada kasus pencemaran Teluk Tokyo yang ditengarai sarat senyawa kimia merkuri. Pencemaran merkuri di kawasan itu berdampak mengerikan berupa munculnya penyakit minamata.

Di Indonesia pun ada kasus serupa walau diwarnai perdebatan. Teluk Buyat di Provinsi Sulawesi Utara ditengarai tercemar logam berat berupa merkuri. Kalangan LSM yang menyimpulkan hal tersebut. Tetapi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bantahan.

Riset di bidang kesehatan tentang merkuri tak melulu terkait dengan penyakit minamata. Sebuah riset terbaru memperlihatkan hubungan antara merkuri dengan autis yang kerap menerpa anak-anak.

Riset baru ini mungkin saja merupakan kabar gembira bagi para orangtua khususnya yang was-was tentang gejala autis. Sejauh ini tentu banyak hal sudah dilakukan berbagai pihak untuk mengatasi kelainan autis pada anak.

Paling tidak dari hal itu bisa menjadi cara untuk menghindar agar anak terbebas dari kemungkinan terkena autis. Laporan terkini tentang autis termuat dalam The Journal of Toxicology and Enviromental Health part A (2007). Hasil riset terkini tentang autis itu memang menyisakan keraguan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah terdapat hubungan kausal antara paparan merkuri dari pengawet thimerosal pada produk-produk vaksin dengan keracunan merkuri yang didiagnosis sebagai autism spectrum disorder (ASD).

Adalah Geier and Geier yang dalam jurnal tersebut menyatakan keraguan dalam penelitian tentang toksikologi orisinal. Geier and Geier menulis judul A Case Series of Children with Apparent Mercury Toxic Encephalopathies Manifesting with Clinical Symptoms of Regressive Autism Disorder.

Thimerosal merupakan senyawa merkuri toksik yang biasa digunakan sebagai pengawet pada beberapa obat bebas dan obat resep. Pengawet obat itu termasuk kebanyakan penggunaan pada suntikan flu yang diberikan kepada wanita hamil, bayi, anak-anak, dewasa dan usia lanjut.

Riset terkini Geire and Geire tersebut mulai mendapat dukungan. Sebut saja pada 19 April 2007, Kepala Organic Analitical Toxicology Branch Dr Larry L Needham menyatakan thimerosal termasuk senyawa kimia yang berkaitan dengan ASD. Needham mengatakan hal tersebut pada US National Academy of Sciences Institute of Medicine. Thimerosal dalam riset tersebut dinyatakan 49,55 persen merkuri berdasarkan berat.

Geier dan Geier (2007) menghasilkan pertama kalinya seri kasus pasien ASD yang telah dikonfirmasikan peranan pengawet obat thimerosal pada pasien-pasien yang didiagnosis ASD regresif. Sebagaimana dikutip situs resmi PT Kalbe Farma Tbk riset itu menggambarkan seri kasus dari 8 pasien yang mempunyai diagnosis ASD regresif, peningkatan kadar androgen, mengeluarkan sejumlah merkuri secara bermakna setelah pemberian obat pengelat, bukti biokimia penurunan fungsi dalam jalur glutation, tidak diketahui paparan merkuri yang bermakna selain dari pengawet vaksin thimerosal dan sediaan imunoglobulin Rho, dan penyebab alternatif ASD regresif mereka dikeluarkan

Studi klinis ini juga menemukan hubungan dosis-respons yang bermakna antara keparahan gejala ASD dan dosis merkuri total dari anak-anak yang menerima obat mengandung thimerosal.

Geier menyatakan pasien-pasien yang ditelitinya terpapar sejumlah merkuri dari obat yang mengandung thimerosal. Itu terjadi selama dalam kandungan dan perkembangan bayi ketika berusia 12-24 bulan. Semula anak-anak berkembang secara normal. Tetapi lama kelamaan menderita ensefalopatis akibat racun merkuri. Gejala itu tercermin dengan adanya gejala klinis konsisten pada diagnosis ASD regresif. Geier mengingatkan keracunan merkuri harus dipertimbangkan sebagai penyebab anak mengalami gejala ASD.

Untuk mengetahui adanya kemungkinan tersebut, setiap orangtua dapat dengan mudah meminta konfirmasi kepastian seorang anak autis non-khelat terkena racun merkuri. Kepastian tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan analisis profil porfirin urin (urinary porphyrin profile analysis/UPPA). Secara garis besar autis merupakan gangguan saat anak dalam masa perkembangan. Gangguan perkembangan pada anak ini mengakibatkan anak-anak sulit melakukan interaksi sosial. Akibatnya anak seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Gejala yang menimpa anak-anak tersebut sering disebut autis infantil.

Autis tentu berbeda dengan gangguan jiwa (schizophrenia) yang merupakan gejala pada seseorang yang membuatnya menarik diri dari dunia luar. Selanjutnya penderita schizophrenia menciptakan dunianya sendiri seperti tertawa, berbicara, menangis dan marah-marah sendiri. Schizophrenia disebabkan proses regresi karena penyakit jiwa. Adapun pada penyandang autis infantile terdapat kegagalan perkembangan.

Sejumlah kalangan mengemukakan pendapat orangtua sebaiknya mulai mengamati anak-anaknya saat berusia setahun. Terlebih bila frekuensi tatap mata sang anak sangat kurang. Anak juga tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non verbal. Gejala tersebut terutama terjadi pada autis infantil sebelum anak berusia tiga tahun.

Tak heran bila langkah lain yang diperlukan adalah perhatian orang tua terhadap anaknya yang menyandang autis. Perhatian ekstra dari para orangtua menjadi penting lantaran jumlah anak autis di Indonesia kian bertambah. Agar sembuh anak autis sebenarnya tak hanya butuh perhatian orangtua tetapi semua pihak di antaranya dokter, terapis, sekolah khusus, dan dukungan masyarakat luas. Namun khusus bagi orang tua tak perlu putus asa bila anaknya autis. Kasih sayang dan kesabaran orangtua bisa menjadi kunci untuk membantu serta memandirikan anak autis.

Harapan Sembuh

Riset temuan obat terkini menjadi harapan lain bagi para orangtua yang anaknya menderita autis. Pada Oktober 2006 misalnya badan pengawas obat Amerika Serikat atau FDA menyetujui penatalaksanaan pasien autis pada anak dan dewasa. Persetujuan itu juga mencakup pemakaian obat antipsikotik golongan atipik risperidone. Keputusan FDA tersebut dikeluarkan setelah ada dukungan pembuktian dari beberapa penelitian yang ditujukan pada pasien anak dengan autis.

Obat tersebut saat ini diketahui merupakan satu-satunya yang disetujui oleh FDA. Lembaga itu memberikan approval terhadap produk risperidone pada terapi iritabilitas yang berhubungan dengan autisme anak dan dewasa.

Persetujuan oleh FDA seperti dikutip situs Kalbe menyatakan beberapa penelitian yang pernah dilakukan terhadap risperidone antara lain pada 36 pasien anak usia 5 hingga 17 tahun dengan spectrum autis. Terapi risperidone tersebut untuk mengatasi kekacauan tingkah laku pada sebagian anak autis. Riset terapi risperidone juga pernah dilakukan terhadap orang autis dewasa. Menurut riset tersebut 57 persen pasien yang diterapi dengan risperidone memperlihatkan perbaikan.

Polemik

Riset yang dimuat dalam jurnal di atas sebenarnya sudah sejak lama menjadi polemik. Beda pendapat yang tajam itu mencakup vaksin dengan bahan pengawet thimerosal yang mengandung merkuri sebagai penyebab autis pada anak-anak.

Di beberapa komunitas dunia maya pun hal ini menjadi bahan diskusi yang hangat. Seorang anggota milis Honda Tiger misalnya menyatakan percaya terhadap isi buku Children with Starving Brains buah karya Jaquelyn McCandles MD.

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit PT Gramedia. Literatur tersebut juga menyinggung kaitan antara merkuri dengan penyakit autisme spectrum disorder.

Vaksin dengan kandungan thimerosal antara lain juga ditemukan dalam vaksin hepatitis B. Thimerosal yang terdiri dari etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom autisme spectrum disorder sudah menjadi perbincangan publik sejak awal 1990-an.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri sudah sejak 2001 melarang vaksin yang mengandung thimerosal. Fakta ini membuat masyarakat mulai khawatir jika harus memvaksin anaknya untuk berbagai keperluan pencegahan penyakit.

Ironisnya Badan Kesehatan Dunia atau WHO sendiri mengenyampingkan rasa khawatir masyarakat dunia. Sebuah komite di WHO yang melakukan pertemuan pada 7 Juni 2006 menyatakan tak ada bukti thimerosal terdapat pada vaksin. Hal yang sama juga dipaparkan dalam New England Journal of Medicine. Dalam jurnal tersebut dinyatakan tak ada kaitan antara vaksinasi dengan perkembangan autis. Barangkali yang harus diingat pendapat tersebut mengemuka tahun lalu. Sedangkan pada 2007 sudah ada riset terbaru. Tak ada salahnya untuk tetap waspada. (Mangku/ berbagai sumber)

2 comments

  1. Penyebab autis salahsatunya keracunan..tapi saya juga punya pengalaman ..anak saya juga dulunya ASD, hiper. Luar biasa capeknya…namun saat ini ia sudah mendekati normal..ternyata pengobatannya tidak perlu ke dokter. tahukah..belum ada obatnya secara medis…0274 6520959 bila ingin sharing masalah autis

  2. saya mahasiswa yang mengambil judul skripsi PUSAT TERAPI ANAK AUTIS DI KOTA pALU,,,,hal yang paling membingungkan tentang autis yaitu sebenarnya penyakit autis itu penyakit turunan atau bukan???dipalu sendiri ada tambang emas tp blm dikelola secara besar-besaran. apakah bisa dipertanggung jawabkan secara teori seandainya saya membuat pernyataan klu mercuri yang terkandung dalam emas bisa merangsang timbulnya penyakit autis???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s