Imunisasi Anak Dan Penyakit Kronis

http://www.iwandarmansjah.web.id/medical.php?id=161

Medical Articles
Category: Safety Issues

Imunisasi Anak Dan Penyakit Kronis

Imunisasi Anak dan Hubungannya dengan Penyakit Kronis.

Dewasa ini banyak ibu di Indonesia dan seluruh dunia mempertanyakan berapa amankah imunisasi anak mereka terhadap risiko timbulnya penyakit kronis sebagai efek samping imunisasi itu.
Imunisasi pertama di dunia ditemukan untuk penyakit cacar yang telah membunuh jutaan orang di Eropa dan seluruh dunia. Malahan pertambahan penduduk Eropa telah dihambat oleh banyaknya korban penyakit tsb. Edward Jenner di tahun 1796 telah menggunakan cacar sapi sebagai bahan untuk menimbulkan imunitas pada manusia. Walaupun hasilnya telah nyata, diperlukan imunisasi masal untuk melenyapkan penyakit cacar itu dari bumi. Seratus tahun yang lalu masih tercatat 48.000 kasus cacar per tahun di Amerika Serikat. Hari ini tidak terdapat lagi cacar di dunia, sehingga tidak diperlukan lagi pencacaran di seluruh dunia, dan anda tidak perlu memiliki surat bukti cacar bila bepergian ke negara lain. Namun, diperlukan 200 tahun untuk mencapai hasil bebas cacar seperti ini.
Statistik di Amerika Serikat di tahun 2001 mencatat bahwa hanya terdapat 2 kasus difteri, tidak satu-pun poliomielitis paralitik, dan 116 kasus campak (measles). Sebelum ditemukan vaksin untuk penyakit-penyakit ini kejadiannya di Amerika ialah ratusan ribu per tahun. Keadaan ini juga diperoleh di negara maju lainnya. Jelas, imunisasi telah melindungi anak anda secara individu, mengurangi penyakit tsb di dalam masyarakat, dan menimbulkan imunitas dalam kelompok, sehingga menjalarnya penyakit dapat dihambat secara mencolok. Tujuan akhir suatu imunisasi ialah eliminasi total dari penyakit menular yang bersangkutan dan tidak perlunya lagi vaksinasi terhadapnya. Hanya terhadap cacar hal ini telah berhasil, setelah hampir 200 tahun Sekarang dibutuhkan vaksinasi 18 kali suntikan pada anak terhadap 12 penyakit menular pada usia sebelum 2 tahun. Ini membutuhkan biaya yang sangat besar bila hendak dilakukan pada seluruh penduduk. Pemerintah di negara berkembang jelas belum dapat mengalokasikan dana untuk itu, dan masyarakatnya masih harus mengeluarkan biaya dari kantong sendiri.
Di lain pihak, imunisasi membawa risiko, walaupun kecil. Suatu vaksin poliovirus oral yang bermutasi justru telah menimbulkan poliomielitis sendiri secara sporadik. Fenomen seperti ini selalu akan dijumpai bila program imunisasi dilakukan secara besar-besaran. Vaksinasi cacar juga pernah menimbulkan penyakit cacar sendiri. Ini adalah 2 contoh yang benar telah terjadi, dan merupakan kerugian yang nyata pada sebagian kecil anak. Di mata ilmuan kesehatan masyarakat dan Badan Kesehatan Dunia yang selalu berargumentasi bahwa “the benefits still outweigh the risks” sering membenarkan program vaksinasi pemerintah seperti itu. Argumen ini juga berlaku untuk evaluasi obat untuk dipasarkan yang sering salah kaprah. Malahan, bila rokok masih menguntungkan (uang) bagi pemerintah, tapi menimbulkan banyak kerugian hingga kematian, rokok-pun tidak dilarang. Namun, untuk suatu vaksin, manfaat yang diperoleh harus jauh lebih besar dari efek yang tidak diingini. Pertimbangan kebijakan seperti dengan rokok dan obat biasa-pun tidak boleh dilakukan.
Penyakit kronis tertentu bisa terjadi setelah vaksinasi.Tetapi karena penyakit itu sendiri memang bisa terjadi tanpa vaksinasi, sulit dibuktikan apakah benar vaksin penyebabnya. Hubungan antara beberapa penyakit kronis seperti autisme dan diabetes melitus tipe 1 (diabetes yang terjadi pada usia muda) telah menimbulkan pertanyaan dan perdebatan yang kontroversial dan sengit. Kejadian yang tidak diingini itu terfokus pada 3 jenis vaksin: yang memakai mikroba yang telah mati (killed vaccine), adjuvan yang sering dipakai dalam produksi vaksin, dan vaksin yang memakai virus hidup yang diperlemah (live virus vaccine).
Kejadian yang sering dilaporkan setelah vaksinasi difteri-tetanus-pertussis ialah: menangis berkepanjangan, demam, pergerakan anak berlebihan, dan kejang sewaktu demam. Hal ini terjadi sekitar 1%. Jenis acellular pertussis vaccine , yang sekarang dianjurkan, menimbulkan reaksi yang lebih hebat, seperti kejang berkepanjangan dan koma atau syok.
Komponen vaksin berisi zat2 organik seperti formalin, albumin manusia, protein telur, antibiotik, protein ragi, aluminium dan thimerosal (yang mengandung ethyl-mercury, suatu racun saraf). Reaksi alergik juga dapat terjadi oleh komponen organik ini. Walaupun reaksi yang tidak diingini ini terjadi dalam hubungan temporal (waktu) yang jelas (artinya, benar terjadi setelah vaksinasi, dan bukan sebelumnya), telah terjadi sanggahan ilmiah yang mengatakan bahwa komponen tsb dipakai dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga dianggap aman dan disingkirkan sebagai penyebab autisme. Menurut saya, argumen ini mengandung kelemahan, karena jumlah yang kecil dari suatu zat racun bisa saja tidak menimbulkan tanda-tanda keracunan, tetapi bisa berperan sebagai inisiator kelainan khusus tertentu dalam terjadinya suatu penyakit. Kendati demikian, ketakutan orang tua terjadi luas di seluruh dunia. Studi epidemiologis tidak menemukan hubungan antara autism dan thimerosal. Mungkin akan dihasilkan studi baru di beberapa negeri maju, karena sejak tahun 2001 thimerosal telah tidak dipakai lagi di Amerika Serikat. Nanti akan dapat kita lihat apakah penghentian pemakaian thimerosal akan berakibat pengurangan kasus autism dalam beberapa tahun mendatang.
Poliovirus-hidup sangat efektif untuk mencegah kejadian polio di dunia, namun sekarang telah direkomendasikan virus-mati untuk polio. Vaksin virus-hidup untuk measles, mumps, dan rubella (terkenal dengan MMR) dapat mengubah respons imun tubuh dengan sangat kuat dan karenanya dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit autoimun, termasuk diabetes tipe 1, yang sekarang kejadiannya lebih frekuen. Dalam sumber jurnal yang sama telah dilaporkan suatu penelitian di Denmark yang memakai data anak yang lahir antara tahun 1990-2000, yang tidak menemukan hubungan antara vaksin hidup atau mati dengan diabetes tipe 1. Penelitian ini telah dianggap konklusif, sehingga penulis jurnal tersebut berharap tidak perlu dilakukan bukti penelitian lagi tentang hubungan imunisasi dan diabetes type 1. Peneliti mungkin perlu mengarahkan studi ke faktor lingkungan lainnya yang sekarang dicurigai berperan dalam timbulnya penyakit diabetes yang menimbulkan risiko penyakit lain (terutama penyakit jantung koroner dan infark) dan kematian yang sangat besar.

(Sumber: New England Journal of Medicine, 1 April 2004)

Dr. Iwan Darmansjah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s