Derita Siswa Kelas 3 SD, Lumpuh Karena Imunisasi?

http://kompas.com/kesehatan/news/0512/12/073403.htm

Derita Siswa Kelas 3 SD
Lumpuh Karena Imunisasi?

Jakarta, Senin
Beberapa hari setelah diimunisasi, Firdha terjatuh karena seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Sebulan terpaksa mendekam di rumah sakit kondisinya tak berubah.

Ayahnya menduga, hal itu terjadi akibat imunisasi dan meminta pertanggungjawaban pihak sekolah.

Rasa sedih bercampur dongkol berkecamuk dalam hati Aep Saepulloh (53). Sudah dua bulan lebih, Firdha Maulina (9), anak bungsunya, tidak bisa berjalan layaknya anak yang sehat. Firdha seperti mengalami kelumpuhan. Saat ditemui di rumah orang tuanya di daerah Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (3/12) siang, Firdha berjalan menuju ruang tamu dengan dipapah ibunya, Eulis Sunarsih (41).

Firdha berjalan pelan menuju kursi ruang tamu lalu duduk di pangkuan ayahnya. “Sekarang sudah lumayan, meskipun jalannya masih harus dipapah. Sampai saat ini, kaki kirinya masih terasa sakit,” tutur Aep sambil memandang pilu pada anaknya.

Sebelumnya, tutur Aep, kondisi fisik Firdha baik-baik saja. Layaknya anak-anak seusianya, siswi kelas 3 SD 04 Petang Ceger, Cipayung ini senang bermain bersama teman-temannya. Namun, peristiwa 20 September silam, membuat Firdha menderita. “Awalnya ketika pulang sekolah tangga 19 September, dia cerita bahwa besoknya akan ke Taman Mini (TMII) bersama teman sekelas,” kisah Eulis.

SELURUH TUBUH LEMAS

Sebetulnya, Aep tidak mengizinkan Firdha ikut berwisata lantaran sedang terserang flu. Mengingat teman-teman Firdha juga banyak yang ikut, akhirnya Aep mengizinkan.
“Saya cuma berpesan, jangan minum es dan hati-hati selama di sana,” timpal Aep.

Soal piknik itu, Aep merasakan sesuatu yang janggal. Menurutnya, acara sekolah ke TMII itu terbilang mendadak. Apalagi, sebelumnya tak ada pemberitahuan pada orang tua siswa. Aep sempat meminta istrinya mengecek ke sekolah. Namun, karena sibuk mengurus rumah, Eulis tidak pergi ke sekolah. Ia hanya membekali Firdha uang Rp 30 ribu.

Ketika Firdha sampai di rumah, Eulis menggodanya. “Duh, yang baru pulang dari Taman Mini,” ucapnya saat itu. Alih-alih bercerita tentang piknik, gadis cilik berambut panjang ini justru mengaku baru diimunisasi di sekolah. Ia menunjukkan lengan kirinya yang terasa sakit setelah disuntik. Setelah itu, hari-hari Firdha berjalan seperti biasa sampai Sabtu siang berikutnya, ia terjatuh saat bermain bersama teman-temannya.

Menurut Firdha, ia jatuh karena badannya sangat lemas. “Karena tidak berpikiran macam-macam, sore itu saya masih mengantarnya sekolah. Ternyata sejak hari itu seluruh tubuhnya lemas. Kalau digerakkan, sakit banget. Kaki dan tangannya enggak bisa bergerak,” kenang Aep seraya mengatakan anaknya masuk sore.

Minggu siang, pria berkacamata ini membawa Firdha ke Rumah Sakit Pasar Rebo. Dokter yang menangani menyarankan agar Firdha dirawat inap. Yang ternyata sampai sekitar sebulan. Selama itu pula, menurut Aep, Firdha hanya bisa tergolek di tempat tidur. Yang menggembirakan Aep, celoteh layaknya anak-anak seusianya masih terdengar dari mulut Firdha. Selera makannya pun tetap bagus. “Hanya tubuhnya yang masih lemas,” ujar Aep yang rambutnya mulai beruban.

DIJULUKI BU LURAH

Selama Firdha dirawat di rumah sakit, Eulis selalu menjaga siang malam. “Dia sering minta dibelikan majalah anak-anak, lalu minta saya membacakan cerita,” kenang Eulis sambil memandang Firdha.
Saking lamanya dirawat inap, Firdha sempat dijuluki Bu Lurah oleh keluarga pasien-pasien di sana. Di rumah sakit itu, Firdha juga sempat menderita gondongan dan campak. Setelah Firdha sembuh dari campak, dokter menyarankan untuk pulang sekitar 1,5 bulan lalu. Sampai di rumah, kondisi fisik Firdha menunjukkan perbaikan. Pelan-pelan, gadis berkulit putih itu mulai bisa menggerakkan tangan, kaki dan tubuhnya.

Saat tidur, ia juga bisa memiringkan badan dan memegang pensil lagi. “Bukan main leganya hati kami, melihat kemajuan itu. Sebelumnya, mental saya sempat drop. Kalau teman-teman saya bercerita tentang penyakit Firdha, rasanya ingin menangis,” keluh Aep.

Perubahan menuju kesembuhan, menurut Aep, tidak semata berdasarkan obat dokter. Sejak keluar dari rumah sakit, Firdha juga dibawa berobat dengan menjalani terapi di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. “Saya diizinkan dokter yang menanganinya untuk mengobati lewat terapi,” jelas Aep.

Hasilnya menurut Aep lumayan. Setelah tujuh kali diterapi, Firdha bisa berdiri. “Sekarang sudah 11 kali terapi. Dia sudah bisa berjalan meski masih harus dipapah. Sampai sekarang, pengobatan dari dokter kami selingi dengan pengobatan alternatif,” ujar Aep lega.

Namun, menurut pria berdarah Jawa ini, ia tak bisa setiap hari membawa Firdha diterapi karena keterbatasan biaya. “Untuk berobat ke dokter saja, sudah habis Rp 200 ribu sekali kunjungan. Pengobatan terapi ini memang tidak dipungut biaya, hanya menyediakan kotak amal yang bisa kita isi serelanya. Tapi ongkos taksi pulang pergi ke Kemayoran saja Rp 150 ribu.”

TANPA PEMBERITAHUAN

Kini, Aep meminta pertanggungjawaban pihak sekolah atas musibah yang menimpa Firdha. Perihal sakitnya Firdha, lanjut Aep, pihak sekolah sudah tahu sejak awal.
Sehari setelah anaknya dirawat, Aep yang bekerja di Persero Pengerukan Indonesia ini mendatangi sekolah Firdha untuk memberitahukan kejadian itu. Baru lima hari kemudian, lanjut Aep, gurunya menjenguk ke rumah sakit.

Selama Firdha dirawat di rumah sakit, hanya tiga kali gurunya, termasuk kepala sekolah, datang menjenguk. Menurutnya, pihak sekolah lah yang seharusnya bertanggung jawab, lantaran imunisasi itu terjadi di sekolah, ditambah lagi tanpa pemberitahuan pada pihak orang tua.

Aep juga dongkol karena pihak sekolah dianggapnya berbohong. “Kalau memang mau diimunisasi, jangan bilang mau diajak ke TMII. Mengapa harus berbohong?” ujar Aep sambil menambahkan, ia juga sudah melapor ke penilik sekolah mengenai peristiwa itu. “Kalau tidak ada pertanggungjawaban dari sekolah, mungkin kami akan minta bantuan ke Lembaga Bantuan Hukum.”

“Menurut laporan pihak sekolah ke Kecamatan, anak saya dikatakan kurus dan kurang sehat. Kalau memang kurang sehat, mengapa diimunisasi? Menurut pemeriksaan dokter di rumah sakit, anak saya kena virus, bukan karena imunisasi. Soal virus atau bukan, itu bukan urusan saya. Yang penting, setelah diimunisasi anak saya jadi begini,” tandas Aep.

Setelah Firdha pulang dari rumah sakit, gurunya memang sempat menjenguk. Namun, sejauh ini pihak sekolah dinilainya belum menunjukkan tanda-tanda memberikan pertanggungjawabannya. “Permintaan secara resmi pun belum. Justru pihak Puskesmas yang pertama kali datang ke rumah, dan menyampaikan permintaan maaf,” ujar Aep.

Firdha sendiri, saat ditanya apakah dirinya kangen bermain bersama teman-teman dan bersekolah lagi, hanya mengangguk. Ia mencuil kue di tangan dan memasukkannya ke mulut. Kini ia sudah tak kesakitan lagi menggerakkan anggota tubuhnya. “Yah… Mungkin harus begini nasib anak saya. Mudah-mudahan ia bisa sembuh seperti sedia kala,” harap Aep bercampur dongkol.

KOMPLAIN SALAH ALAMAT

Imunisasi yang dilakukan 20 September silam di SD 04 Petang Ceger, menurut Aryetti, sang kepala sekolah, merupakan program dari Puskesmas Ceger. Sedangkan sekolah yang dipimpinnya, hanya menyediakan tempat.
“Jadi, itu bukan kegiatan sekolah. Itu program tahunan Puskesmas Ceger. Kalau mau komplain, seharusnya pada pihak Puskesmas, bukan kami. Itu salah alamat,” tutur Aryetti saat ditemui di ruang guru sekolah tersebut, Sabtu (3/12).

Itu sebabnya, Aryetti mengaku tak tahu, pertanggungjawaban seperti apa yang mesti dilakukannya. “Kalau dalam bentuk materi, kami tidak bisa. Sebab, sekolah tidak punya anggaran untuk itu. Lagipula, kami tidak menarik biaya sekolah dari anak-anak,” lanjutnya.

Namun, secara moral pihaknya telah beberapa kali mengunjungi Firdha, baik saat dirawat di rumah sakit maupun setelah pulang ke rumah. “Guru kami yang berkunjung juga sudah meminta maaf. Itu otomatis mewakili pihak sekolah,” ujar wanita berjilbab tersebut.

Sebetulnya, menurut Aryetti, pihak sekolah pernah berusaha memberikan sumbangan sekadarnya pada keluarga Firdha. Setiap Jumat, menurut Aryetti, guru mengedarkan kaleng amal untuk diisi para siswa serelanya. Uang yang terkumpul digunakan untuk menyumbang siswa yang sakit, meninggal atau tertimpa musibah, termasuk Firdha.
“Tapi keluarga Firdha menolak. Malah menyuruh uang itu diberikan pada anak yatim piatu. Kabarnya, Pak Lurah Ceger juga bersedia membantu membuatkan surat keringanan biaya pengobatan, tapi ditolak juga,” lanjut Aryetti.

Menurut Suroso, guru kelas 2 yang ikut mendampingi Aryetti, ia pernah berkunjung ke rumah Firdha bersama para dokter yang menangani kasus ini. “Dokter sudah menjelaskan, sebelum diimunisasi, sebenarnya Firdha sudah tertular virus. Kebetulan saja, setelah itu Firdha diimunisasi. Jadi, bukan imunisasi yang menyebabkan Firdha sakit seperti itu. Tapi orang tua Firdha tidak bisa terima dan marah-marah,” tutur Suroso.

Soal tuduhan Aep pihak sekolah membohongi para siswa, menurut Suroso juga tidak benar. Sehari sebelum imunisasi, guru hanya meminta siswa untuk makan siang banyak-banyak. “Waktu diberitahu, ada siswa yang bertanya, apakah mereka akan piknik. Gurunya mengiyakan. Tapi dia tidak bermaksud berbohong. Kami hanya ingin anak-anak tetap masuk sekolah supaya mereka bisa diimunisasi,” jelas Suroso.

Soal imunisasi tanpa pemberitahuan pada orang tua, menurut Aryetti, sebetulnya hal itu sudah terjadi sejak dulu. Hanya saja, baru kali ini terjadi musibah seperti ini. Kebetulan pula, dari sekian banyak siswa kelas 1 – 3 yang diimunisasi pada hari itu, hanya Firdha yang mengalami kasus seperti itu. “Jadi, kami menganggap ini musibah,” ujar Aryetti yang berharap Firdha segera sembuh. (Tabloid Nova)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s