3 Balita Lumpuh Usai Imunisasi

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-tengah-diy/3-balita-lumpuh-usai-imunisasi.html

3 Balita Lumpuh Usai Imunisasi

Sabtu, 03/03/2007

BREBES (SINDO) – Tiga balita warga Brebes tiba-tiba mengalami gejala kelumpuhan usai mendapatkan suntikan imunisasi campak dan pemberian tetes polio oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kab Brebes, kemarin.

Ketiganya adalah Pujo Santoso, 26 bulan,beralamat di Desa Lamaran, Kec Larangan, Erlinda, 4, warga Desa Kemurang,Kec Tanjung, dan Istianingsih, 4, tinggal di Desa Slatri,Kec Larangan. Ketiga bocah itu mengalami kelumpuhan dengan gejala tubuh lemah,lunglai,dan tidak bisa berbicara.

Kondisi mereka mengalami penurunan dengan rentang waktu 24-48 jam pasca mendapatkan imunisasi. Balita Pujo Santoso, putra pertama pasangan suami istri (pasutri) Wirjo,22 dan Darojah, 22, ini oleh kedua orangtuanya dibawa ke pos PIN pada Sabtu (24/2) lalu. Sesuai dengan usianya bocah ini diberi tetes polio dan suntikan imunisasi campak.

Sebelum diimunisasi, kata Darojah, suhu badan putranya agak panas. ”Tetapi kata petugas pemberi imunisasi itu tidak apaapa. Akhirnya anak saya diimunisasi. Dua malam kemudian dia langsung lumpuh,tidak bisa berjalan sama sekali.Ngomong juga tidak bisa. Badannya lemah lunglai, hanya bisa nangis,” ujar Darojah yang tengah berusaha meninabobokan anaknya di Bangsal Anak kelas III RSUD Brebes.

Menurut Darojah, sebelum dirujuk ke RSUD Brebes, ia sempat memeriksakan anaknya ke Puskesmas setempat.Namun melihat kondisi Pujo, oleh petugas dia kemudian diminta untuk segera merujuk buah hatinya itu ke RSUD Brebes. Gejala serupa juga dialami dua balita lainnya.

Hanya saja, jarak antara pemberian imunisasi dengan gejala kelumpuhan yang diderita keduanya jauh lebih cepat dibandingkan yang dialami Pujo. Erlinda, putri pasutri Wiwin, 25, dan Ganda, 29, serta Istianingsih, buah hati Wartam, 40, dan Rasneti, 35, ini tiba-tiba menderita kelumpuhan dengan tubuh lunglai sekitar 24 jam setelah diberi imunisasi pada Senin (26/2).

Gejala lain yang diderita kedua bocah ini mirip dengan yang dialami Pujo. Kedua orangtua bocah ini pun langsung membawa putri mereka ke RSUD Brebes. Di rumah sakit, Pujo selain ditunggui oleh ibunya, tampak pula kedua neneknya, Sapuroh, 50, dan Tarpiah, 52. Menurut Sapuroh, cucunya hingga dua hari setelah dirawat di rumah sakit kondisinya belum begitu membaik.

Selain masih rewel, Pujo juga belum bisa berjalan. ”Padahal dia itu tadinya sudah cekatan berjalan. Ini buat ngomong saja tidak bisa. Sudah gitu rewel terus,” ujarnya. Saat SINDO menjenguknya di ruang perawatan, Pujo oleh neneknya berusaha diangkat dan disuruh berjalan di atas pembaringan. Namun, bocah itu langsung terkulai dan menangis menjadi-jadi.

Salah satu petugas di Bangsal Anak bernama Rohimah saat dikonfirmasi mengatakan, gejala kelumpuhan yang diidap balita-balita tersebut diperkirakan bukan akibat pemberian imunisasi. ”Bukan karena imunisasi, sebelum diimunisasi dia sudah sakit terlebih dahulu,” katanya. Penegasan serupa juga disampaikan Kepala Dinkes Kab Brebes, dr. Laode Budiono.

Dia menjelaskan, kondisi lemah lunglai yang diderita tiga balita pascaimunisasi lazim disebut kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). ”Ini sebetulnya hal biasa, sesuai dengan standar WHO, dan ini bisa disembuhkan,” tandasnya. Laode meminta agar masyarakat memahami KIPI tidak berbahaya. Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tidak cemas. (untung subejo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s