Bayi Tewas Setelah Imunisasi

http://www.kompas.co.id/ver1/Kesehatan/0612/16/082145.htm

Bayi Tewas Setelah Imunisasi
Sabtu, 16 Desember 2006 – 08:21 wib

CENGKARENG, WARTA KOTA- Seorang bayi lelaki berusia lima bulan meninggal dunia setelah diimunisasi polio di Puskesmas Cengkareng, Jakarta Barat. Bayi tersebut, Satria Pratama, meninggal dalam dekapan sang ibu yang berusaha memberi kehangatan ketika suhu badan anaknya turun.

Anak semata wayang pasangan Rusmanto-Sastriana tersebut meninggal Jumat (15/12) sekitar pukul 03.00. Meski menyesalkan peristiwa itu, Rusmanto (25) belum berencana membawa kasus tersebut ke jalur hukum. “Ada niatan ke sana (menggugat), tetapi buat apa? Malah akan buat saya keluar banyak uang. Kami ini orang miskin,” kata pedagang kerupuk itu, Jumat (15/12) sore.

Rusmanto berpenghasilan Rp 30.000 per hari. Pasangan itu tinggal di rumah kontrakan mungil di Jalan H Tabar RT 07/12 Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Pada Kamis (14/12) siang, kata Rusmanto, ia dan istrinya membawa Satria ke Puskesmas Cengkareng untuk imunisasi. Satria yang berbobot 6,8 kilogram dinyatakan sehat dan diimunisasi. “Kalau habis diimunisasi, badannya panas dan rewel terus. Tapi sama dokternya diberi obat jenis puyer buat penurun panas,” kata Rusmanto.

Sampai di rumah, tubuh Satria menjadi dingin. Bayi itu itu juga terus menerus menangis. Sastriana (20) terus memeluk buah hatinya agar suhu tubuh Satria kembali hangat. Maka, Satria tak lagi menangis sehingga ibunya tidur. Ketika bangun, Sastriana kaget mendapati putra tunggalnya itu tak bergerak- gerak. “Badannya dingin. Digoyang-goyang juga enggak bangun. Makanya kami panik dan panggil tetangga,” kata Rusmanto.

Rusmanto bak disambar petir ketika tahu Satria Pratama telah meninggal dunia. Pada Jumat pagi, jasad bayi montok itu kemudian dikebumikan dekat rumah orangtuanya.

Kepala Puskesmas Cengkareng dr Tri Sukati Handayani, kata Rusmanto, melayat dan memberi uang santunan Rp 300.000. “Saya pasrah saja, tetapi diharapkan kasus ini jangan terjadi lagi,” pintanya.

Sementara itu Kasudin Pelayanan Kesehatan Jakarta Barat dr Aryani Murti mengatakan kasus itu kini tengah diteliti pihak Puskesmas Cengkareng dan Tim Dinas Kesehatan Provinsi DKI. “Kami teliti dulu. Hasilnya segera mungkin didapat untuk menjelaskan penyebab kematiannya,” jelasnya semalam. (ito)
Sumber: Warta Kota

Penelitian Hib Pertama di Dunia ada di Lombok

http://anak.i2.co.id/beritabaru/berita.asp?id=123

Penelitian Hib Pertama di Dunia ada di Lombok

Lombok dipilih sebagai tempat penelitian karena angka kematian anak akibat pnemonia cukup tinggi. Haemophylus Influenzae serotypeB (Hib) adalah suatu kuman yang dapat menyebabkan peradangan pada pnemonia dan meningitis, terutama pada anak di bawah umur dua tahun. Ternyata, di negara-negara berkembang, penyakit pnemonia dan meningitis dipengaruhi oleh Hib. Kedua penyakit ini pun masih menjadi momok di Indonesia karena angka kematiannya tinggi pada bayi.

Menurut Menteri Kesehatan RI Achmad Sujudi, masalah penyakit ini menjadi persoalan kesehatan besar di negara ini. Kematian bayi dan balita masih sangat tinggi dan kecacatan akibat penyakit ini masih cukup besar.

“Karena itulah, Hib ini sangat berbahaya bagi anak-anak. Khususnya meningitis, bahayanya adalah kecacatan seperti tuli, lumpuh, terbelakang mental dan dapat menyebabkan kematian. Makanya, penelitian mendalam terhadap Hib di daerah Lombok memberikan pengetahuan yang lebih maju mengenai perkembangan Hib di negara ini,” ujar Sujudi membuka seminar tentang laporan hasil penelitian Hib di Lombok, akhir pekan lalu di Jakarta.

Tentang studi ini, menurutnya menjadi langkah penting untuk mengetahui seberapa besar masalah Hib di Asia dan khususnya Indonesia. Pada kenyataannya, sedikit negara di Asia yang memasukkan program vaksin Hib dalam imunisasi nasional.

“Penelitian ini adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan memberdayakan masyarakat. Ini jelas ilmiah. Karena itu, hasil penelitian ini bisa mendorong upaya pembentukan kebijakan dalam penatalaksanaan penyakit pnemonia dan meningitis akibat Hib. Di samping itu, bisa pula menjadi pendorong kebijakan dalam program imunisasi nasional,” papar Sujudi.

Studi Hib di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat merupakan kerjasama antara Depkes RI, pemda NTB, Program for Appropriate Technology in Health (PATH), dan Association pour l’Aide a la Medicine Preventie (AMP). Studi ini dilakukan dari tahun 1997 hingga 2003. Rancangan studi yang dilakukan adalah double blind prospective dengan kelompok intervensi dan kontrol.

Lombok dipilih sebagai tempat penelitian, menurut Ketua tim peneliti Anhari Achadi, karena angka kematian anak karena pnemonia cukup tinggi. Di sana, terdapat infrastruktur yang memadai dengan fasilitas laboratorium yang baik dan tenaga ahli yang cukup handal. “Di samping itu, ada komitmen yang kuat dari pemda untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita. Hal ini mendukung dilakukannya penelitian Hib di daerah tersebut.”

Studi tersebut, lanjutnya, merupakan upaya menetapkan beban kesakitan akibat infeksi Hib. Cara yang ditempuh adalah memperkirakan proporsi kasus pnemonia akibat Hib yang terbukti secara radiologik pada anak berusia enam minggu hingga 24 bulan yang dapat dicegah dengan vaksin Hib.

Dijelaskannya, studi yang menelan dana sebesar 8 juta dolar AS ini diawali dengan studi (I)carrier(I) pada bulan Agustus 1997. Hasil usap tenggorok (nasofaring) dari 485 anak di bawah dua tahun memperlihatkan 8 persen (I)carrier(I) Hib dan 48 persen pembawa (I)streptococcus pnemoniae(I). Studi dilanjutkan dengan survei kasus, meningkatkan rujukan ke RS, meningkatkan kelengkapan dan kemampuan diagnostik, serta meningkatkan kemampuan penanganan kasus.

Setelah itu, barulah dilakukan intervensi berupa pemberian vaksin kepada 55.073 anak di bawah dua tahun dari 818 desa. Dari jumlah itu, sebanyak 28.147 anak diberi vaksin DPT-Hib cair dan sisanya (26.926 anak)\ diberi vaksin DPT saja. Pemberian vaksin sesuai jadwal DPT yang berlaku dan dilaksanakan sejak September 1998 hingga September 2002.

Dari penelitian itu, jelas Achadi, didapatkan bahwa angka kejadian pnemonia dan meningitis pada anak di bawah dua tahun di Lombok sangat tinggi. Proporsi meningitis klinis akibat Hib cukup besar (22 persen). Sedangkan, proporsi pnemonia akibat Hib sebesar 3 persen. “Kami melihat, vaksin Hib sangat efektif dalam memberikan perlindungan terhadap meningitis Hib yang dikonfirmasi dengan laboratorium (VE 86 persen) dan meningitis klinis (VE 22 persen).”

Katanya, efek vaksin Hib terhadap pneumonia secara absolut besar, yaitu 884 anak per 100 ribu anak-tahun. Namun, secara proporsi kecil, atau tak bermakna secara statistik. Sedangkan, untuk memutuskan layak tidaknya vaksin Hib dalam program nasional, Achadi menyatakan bahwa perlu adanya studi lainnya. Contohnya saja, studi perbandingan biaya antara penggunaan vaksin dengan alternatif lain, seperti peningkatan rujukan, kemampuan temuan, dan penanganan kasus pnemonia dan meningitis. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa adanya kecenderungan daya tahan bayi perempuan lebih tinggi dari bayi laki-laki. Hal ini dikatakan oleh tim peneliti dari Lombok yang dipimpin oleh dr I Komang Gerudug MPH. Menurutnya, pihaknya masih belum menemukan secara jelas mengenai daya tahan kedua gender ini dalam kedua penyakit tersebut. “Untuk menjelaskannya, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.”

Sementara itu, dr Endang dari Kesehatan Masyarakat Depkes menyatakan bahwa penelitian ini juga memperhatikan soal kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI). Menurutnya, efek samping dari vaksin di sana adalah panas dan menggigil. Kejadian KIPI yang berat adalah kejang, lumpuh, dan meninggal. “Namun, pada penelitian kami ini, ternyata KIPI-nya rendah. Ini merupakan hasil perbandingan dari kasus-kasus yang ada. Di antara vaksin Hib dan DPT, ternyata KIPI tinggi terjadi pada DPT. Kejadian meninggal ada pada satu kasus yang disebabkan karena pengaruh lain,” ujar Endang. wed

*diambil dari Harian Republika Selasa, 18 Nopember 2003

Virus Flu Burung Semakin Ganas Karena Ulah Manusia?

09/11/2007 04:45 WIB

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/09/time/044552/idnews/850272/idkanal/10

Virus Flu Burung Semakin Ganas Karena Ulah Manusia?
Nograhany Widhi K – detikcom

<!–

Update info di seputar Anda setiap hari!
Operator Ketik Kirim ke Tarif Push
Telkomsel Reg Pol 3845 Rp 500
Indosat Reg Pol 3845 Rp 650
Xl & Flexi Reg Nat 3845 Rp 500
Konten dikirim max 2x sehari
Stop, KETIK Unreg Pol atau Unreg Nat
CS : 021-7941178

–>Jakarta – Keganasan virus tak selamanya timbul akibat mutasi genetik dari pengaruh lingkungan. Contohnya virus flu burung H5N1 muncul akibat kesengajaan dari kelompok riset di Amerika.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Kesehatana Siti Fadilah Supari di Departemen Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kamis (8/11/2007).

Lembaga yang membuat adalah Global Influenza Surveillance Network (GISN), sebuah lembaga riset di Amerika yang memiliki akses ke WHO. Lembaga itu bekerja dengan mengambil virus influenza dengan gratis dari berbagai negara di dunia selama hampir 50 tahun.

“Comot dan dicomotin saja. Setor, setor, setor, dari 110 negara,” kata Siti Fadillah.

Kemudian dari virus itu, lanjut Siti Fadilah, sebagian diteliti untuk dibuat vaksin.

“Namanya seasonal flu vaccine dan kemudian dijual dengan harga mahal sekitar US$ 30 sebagai ajang perputaran uang mereka. Semakin banyak uang, semakin mereka bisa menindas kita dengan jalan apa pun juga,” ujarnya.

Sementara sebagian lagi, lanjut Siti Fadilah, diteliti untuk membuat virus lebih ganas.

“Sehingga ketemulah H5N1. Ini juga dibegitukan lagi, sebagian dibikin vaksin sebagian dibikin lebih ganas,” urainya.

Sebelumnya Siti Fadilah geram dengan ulah WHO yang menyuruh negara pemilik untuk mengirimkan virusnya. Negara pemilik virus ini pun tidak boleh memiliki cadangan virus.

Ternyata, sejumlah negara riset di negara adidaya, GISN utamanya, telah mengambil virus dengan gratis dan dikembangkan untuk vaksin dan dijual kembali ke negara pemilik virus dengan harga mahal. Dan semua itu tanpa sepengetahuan dan seizin negara pemilik virus. Mekanisme sharing sample virus selama ini dinilai tidak adil dan tidak transparan. (mly/mly)

Menkes Kesal OKI Tidak Menerima Vaksin Berlabel Halal

15/06/07 16:26

http://www.antara.co.id/arc/2007/6/15/menkes-kesal-oki-tidak-menerima-vaksin-berlabel-halal/

Menkes Kesal OKI Tidak Menerima Vaksin Berlabel Halal

Kuala Lumpur (ANTARA News) – Menteri Kesehatan RI, DR dr Siti Fadillah Supari, menyatakan bahwa sangat kecewa dengan hasil pertemuan para menteri kesehatan negara anggota Organisasi Konperensi Islam (OKI), karena tidak menerima usulan Indonesia agar ada label halal dalam peredaran vaksin di negara anggotanya.

“Ironis, para menteri kesehatan negara-negara Islam bersidang, tetapi menolak usulan Indonesia agar negara-negara OKI perlu memberikan label halal dalam vaksin yang beredar di lingkungan OKI. Lalu apa gunanya ada pertemuan para menteri kesehatan OKI?,” kata Siti Fadilah, di tengah-tengah pertemuan menteri kesehatan OKI, di Kuala Lumpur, Jumat.

Menurut dia, Indonesia telah berhasil membuat vaksin halal, dan oleh karena itu dibutuhkan dukungan negara-negara Islam untuk membelinya, tetapi malah ditolak.

“Jika mengklaim sebagai negara Islam, janganlah sembarangan membeli vaksin. Belilah vaksin berlabel halal. Negara Islam belilah vaksin halal yang diproduksi negara Islam, tetapi malah ditolak, katanya nanti malah membuat isu menyeramkan,” katanya.

Menkes juga kecewa dengan pertemuan para menteri kesehatan OKI yang tidak mengutuk perang di Irak, Afghanistan, dan Palestina, di mana upaya meningkatkan kesehatan masyarakat terhambat akibat perang.

“Hari ini anak-anak diberi vaksin folio besoknya sudah meninggal kena bom. Belum dikasih vaksin, anak-anak sudah meninggal kena bom. Bagaimana negara-negara Islam berupaya meningkatkan kesehatan umat Islam tetapi tidak membahas masalah perang yang dihadapi negara-negara Islam saat ini,” katanya.

Ia juga mengemukakan bahwa masalah kesehatan yang minim pada negara Islam bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga politik, karena banyak anak-anak meninggal dunia karena kurang gizi akibat peperangan, tekanan politik internasional, dan politik, misalnya di negara-negara Islam Afrika, Irak, dan Iran yang akan diancam embargo ekonomi karena ingin mengembangkan nuklir untuk kepentingan umat.

“Harus diakui angka kematian bayi, angka kematian ibu di negara-negara muslim lebih tinggi dibandingkan negara-negara non-muslim, tetapi mereka meninggal bukan karena kesehatan, bukan hanya kekurangan gizi, tetapi banyak juga yang meninggal karena terkena bom,” ujarnya.

Menurut dia, hasil pertemuan para Menkes OKI yang pertama ini dan diselenggarakan Kuala Lumpur Malaysia kurang menggigit.

RI Kecewa Tak Ditanggapi WHO

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=311806

Jumat, 09 Nov 2007,
RI Kecewa Tak Ditanggapi WHO

Kasus 58 Varian Virus Flu Burung
JAKARTA – Departemen Kesehatan kembali kecewa terhadap sikap Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang tidak mengembalikan 58 varian virus H5N1 milik Indonesia. Alasan WHO, setiap virus yang sudah dikirim tidak bisa dikembalikan lagi ke negara yang bersangkutan.

“Jadi, negara pengirim seakan tidak memiliki hak atas virus tersebut,” ujar Menkes Siti Fadilah Supari usai jumpa pers Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-43 bertema Rakyat Sehat, Negara Kuat di gedung Depkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, kemarin.

Menurut Siti, sejak Agustus lalu Depkes melayangkan surat kepada WHO untuk meminta kembali virus flu burung tersebut. Namun, tidak ada satu pun balasan dari WHO. “Kami mengirimkan 58 seed virus ke WHO dan meminta dikirim kembali ke Indonesia, tapi tidak pernah mendapat jawaban. Ini merampas, bukan menyandera lagi,” ujar Siti.

Virus yang dikirimkan Indonesia (dan beberapa negara berkembang) ke WHO, saat ini dengan mudah berpindah tangan ke institusi riset di beberapa negara adidaya. Mereka mengambil virus dengan gratis dan diteliti untuk pembuatan vaksin. Produk itu lalu dijual ke negara-negara pemilik virus dengan harga mahal.

Siti mengingatkan pengalaman Indonesia di masa lampau. Kata dia, WHO pernah meminta seluruh virus cacar Indonesia yang saat itu memiliki varian terganas yang ditemukan saat penjajahan Belanda.

“Saat itu tiba-tiba WHO mengumumkan seluruh dunia tidak boleh mempunyai virus cacar. Sampai-sampai laboratorium Biofarma (BUMN farmasi) yang punya virus cacar dirusak dan tempat virus itu dihancurkan,” kisah Siti.

Anehnya, secara mengejutkan, pada 4 hingga 5 tahun kemudian, Amerika Serikat tiba-tiba berhasil menemukan vaksin virus cacar dan meminta dunia membeli vaksin darinya. “Kalau tidak membeli, saat itu (ditakuti) ada senjata biologis virus cacar sebagai ancaman. Akibatnya, kita terseok-seok karena harga vaksinasinya mahal,” katanya.

Belajar dari pengalaman tersebut, Siti tidak mau hal itu dialami Indonesia lagi. Siti menilai mekanisme sharing sampel tersebut tidak adil dan harus diperbaiki. Menurut dia, mekanisme pengiriman virus itu seharusnya diimbangi timbal balik penyerahan vaksin kepada negara pemilik virus.

“Kalau Indonesia memiliki, Indonesia bisa meneliti virus itu untuk pengembangan vaksin, alat diagnostik, maupun antibodi,” ujarnya.

Menurut Siti, mekanisme seperti yang dilakukan WHO ini tidak adil. Virus itu milik bangsa. Tidak seorang pun yang memaksa harus diserahkan kalau memang menyusahkan negara kita. “Apa pun protokolnya, kita adalah negara yang berdaulat,” lanjutnya. (bay)

BUKA MATA BUKA HATI KATAKAN KEBENARAN

LINKS
Cancer Vaccine
Avian Bird Flu
VacLib Site:
KEYWORD INDEX
VacLiberation Index
Keyword_Index
Index_Pages
Avoid_Vaccinations
Vaccine Basic Facts
Legal
News
Events
Important_Links.
Table of Contents
Title-Index
Package Inserts
Exemptions_Forms/Laws
IntroductionToVaccination
Q_&_A
Printable_Forms/Flyers
VacLib TableContent
–>
Smallpox: Index/Articles
Smallpox Alert!
100+ Anti-Vax Links
VAX Cartoons
Products
Old Books Review/Order
Artificially Sweetened Times
VacLib Books/Video
PostCards
Bumper&Cling Stickers
Membership-Join/DonateVacLib Order Form


Tetrahedron products
–>
Reciprocal_Links
Other Great Sites:
Vaccine Info(Whale)
HealthyChild.com
Dr._SherrI_Tenpenny
(Tenpenny)_BlogSpot.com
VaccineTalk_Dr.Rohlfsen
Vaccine911.com
Well Within nccn.net
CafeMom.com-antivaccine
NationalHealthFreedom
Military_VAX_Education
Military_Vaccine_PAC
Alternative-Doctor.com
VaccineFreeWorld(ICSM)
V.Risk Awareness League
Homeopathy for Health
FindNaturalPhysician
DoctorScorecard.com
WakeUpGetHealthy
DangerousMedicine.com
Immune Suppression
The Idaho Observer
Vaccine Scandals
ThinkTwice.com
Vaccine Info/Awareness
www.knowshots.com
VaccineTruth.org/
Informed Choice
C T V I A.org
VacInfo.org
CasiQuest.org
Know-Vaccines.org
Chiropractic icpa4kids.org
VaccineAwareness.org
FamiliesForNaturalLiving
CitizensHealthFreedom
PROVE vaccineinfo.net
Yurko SBS Case
YurkoProject_Offers_Help
NVIC www.909shot.com

MUI: Vaksin Polio Halal

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/22/Jabar/1994567.htm

MUI: Vaksin Polio Halal
PIN Putaran Pertama 30 Agustus 2005

Oleh: Dwi Bayu Radius

Bandung, Kompas – Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang menghalalkan penggunaan vaksin polio oral untuk Pekan Imunisasi Nasional. Fatwa ini dikeluarkan mengingat ada keraguan kehalalan vaksin dari sejumlah kalangan akibat proses pembuatannya yang dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.

Demikian dikatakan anggota Komisi Pengkajian dan Pengembangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Utang Ranuwijaya di Bandung, Sabtu (20/8).

Hal itu tertuang dalam keputusan Komisi Fatwa MUI Nomor 16 Tahun 2005 tentang Penggunaan Vaksin Polio Oral yang ditetapkan 25 Juli lalu.

Utang mengatakan, vaksin polio bukan tidak halal, hanya saja pembuatannya masih menggunakan media dan proses yang belum sepenuhnya sesuai dengan syariat Islam. Dalam proses pembuatan vaksin, misalnya, digunakan ginjal kera sebagai media untuk perkembangbiakan virus.

Meski demikian, izin kehalalan vaksin dimungkinkan mengingat kondisi saat ini yang dinilai darurat. Bila Pekan Imunisasi Nasional (PIN) terhambat karena kendala kehalalan vaksin, kerugian yang dialami adalah cacat fisik pada generasi mendatang akibat polio.

PIN putaran pertama akan dilakukan 30 Agustus 2005 dan yang kedua 27 September 2005. Dalam keputusan fatwa tersebut disebutkan, pemberian vaksin polio oral saat ini dibolehkan, sepanjang belum ada vaksin jenis lain yang produksinya menggunakan media dan proses yang sesuai dengan syariat Islam.

Empat provinsi

Sosialisasi fatwa MUI itu dilakukan di empat provinsi yang dianggap rawan terjadi penolakan vaksin dari masyarakat setempat, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Banten.

Utang Ranuwijaya mengatakan bahwa PT Bio Farma akan mengupayakan vaksin yang sepenuhnya halal dalam tiga tahun mendatang.

Anggota staf Subdinas Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jawa Barat, Uus Sukmara, mengatakan, fatwa MUI tersebut sangat meringankan tugasnya.

Uus menambahkan, pada pemberian vaksin di Jabar (mopping up) akhir Juni 2005, sebanyak 380.000 balita tidak sempat diimunisasi. Adapun di putaran pertama akhir Mei lalu, 19.000 balita tidak mendapatkan vaksin.

Di Indonesia terdapat sekitar 24 juta balita yang rencananya akan divaksin polio, termasuk di Jabar sebanyak 4,5 juta balita.

Dana untuk penyelenggaraan PIN di Jabar Rp 24 miliar untuk setiap putaran. Dana itu dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Jabar, Organisasi Kesehatan Dunia, serta Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk anak-anak (Unicef).

Kehalalan Vaksin

http://www.halalmui.or.id/?module=article⊂=article&act=view&id=117

Kehalalan Vaksin
# by admin – 12 Feb 07 10:39:40

Kehalalan Vaksin

Vaksinasi adalah aktifitas yang tidak asing lagi pada kalangan ibu-ibu yang memiliki bayi atau balita. Kegiatan ini sesungguhnya adalah memberikan suatu zat tertentu pada tubuh si anak baik secara oral atau pun injeksi. Tujuan dari vaksinasi adalah pembentukan kekebalan tubuh si anak bayi/balita sesuai dengan vaksin yang disuplai.
Tapi apakah selama ini kita mengetahui dari bahan apa dan bagaimana cara vaksin untuk bayi atau pun balita kita dibuat? Kita mungkin lebih sering mempertimbangkan apa reaksi yang harus dipantau dari penggunaan vaksin tersebut pada bayi atau balita kita. Tetapi sangat sedikit bahkan mungkin luput dari pantauan kita dari apa vaksin-vaksin tersebut dihasilkan.
Jurnal halal edisi kali ini memaparkan beberapa informasi seputar vaksin yang digunakan di masyarakat kita, pemaparan ingredien vaksin yang umumnya digunakan ditinjau dari segi kehalalanya.

Apa itu vaksin dan vaksinasi
Vaksin adalah sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus. Terbuat dari virus yag telah dimatikan atau “dilemahkan” dengan menggunakan bahan-bahan tambahan lainnya seperti formalaldehid, thymerosal dan lainnya. Sedangkan vaksinasi adalah suatu usaha memberikan vaksin tertentu kedalam tubuh untuk menghasilkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit /virus tersebut.
Jenis-jenis vaksinasi
Jenis-jenis vaksinasi yang ada antara lain vaksin terhadap penyakit hepatitis,polio,Rubella,BCG, DPT,Measles –Mumps-Rubella (MMR) cacar air dan jenis penyakit lainnya seperti influenza. Di Indonesia sendiri praktek vaksinasi yang hampir selalu dilakukan pada bayi dan balita adalah Hepatitis B,BCG, Polio dan DPT. Selebihnya seperti vaksinasi MMR adalah bersifat tidak wajib.
Ada pun vaksinasi terhadap penyakit cacar air (smallpox) termasuk vaksinasi yang sudah tidak dilakukan lagi di Indonesia.

Vaksin dan sistem kekebalan tubuh
Pemberian vaksin dilakukan dalam rangka untuk memproduksi sistem immune (kekebalan tubuh) seseorang terhadap suatu penyakit. Berdasarkan teori antibody, ketika benda asing masuk seperti virus dan bakteri ke dalam tubuh manusia, maka tubuh akan menandai dan merekamnya sebagai suatu benda asing. Kemudian tubuh akan membuat perlawanan terhadap benda asing tersebut dengan membentuk yang namanya antibody terhadap benda asing tersebut. Antibodi yang dibentuk bersifat spesifik yang akan berfungsi pada saat tubuh kembali terekspos dengan benda asing tersebut.
Dr. J. Anthony Morris, former Chief Vaccine Control Officer and research virologist, US FDA mengatakan bahwa ada banyak hal yang membuktikan bahwa imunisasi pada anak lebih banyak dampak buruknya daripada manfaatnya.
Dr Willian Howard dari USA mengatakan bahwa tubuh telah memiliki metodenya sendiri untuk pertahanan, yang tergantung pada vitalitas tubuh pada saat tertentu. Jika vitalitas tubuh cukup, maka tubuh akan bertahan terhadap seluruh infeksi, tetapi sebaliknya jika tidak maka pertahanan akan lemah. Sesungguhnya kita tidak dapat mengubah vitalitas tubuh menjadi lebih baik justru dengan menggunakan berbagai jenis racun (vaksin) kedalam tubuh tersebut.

Vaksin dan tinjauan kehalalannya
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang diselenggarakan di Indonesia pada Agustus tahun lalu,sempat bermasalah dibeberapa wilayah di Indonesia.Permasalahannya beberapa daerah tersebut (Jawa Barat,Jawa Timur, Lampung dan Banten)menolak pemberian vaksin polio karena diragukan kehalalannya. Yaitu dalam proses pembuatan vaksin tersebut menggunakan ginjal kera sebagai media perkembangbiakan virus, demikian penjelasan dari Utang Ranuwijaya anggota Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI. Alhasil keputusan MUI No.16 tahun 2005 mengeluarkan fatwa kehalalan atas vaksin polio tersebut.
Memang kalau kita mau telaah lebih lanjut, masih banyak sekali jenis-jenis vaksin yang bersumber dari bahan-bahan yang diharamkan. Seorang pakar dari Amerika mengatakan bahwa vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda dan ekstraks mentah lambung babi.
Selain sumber-sumber diatas, beberapa vaksin juga dapat diperoleh dari aborsi calon bayi manusia yang sengaja dilakukan. Vaksin untuk cacar air, Hepatitis A dan MMR diperoleh dengan menggunakan fetal cell line yang diaborsi,MRC-5 dan WI-38.Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line diploid manusia.
Penggunaan janin bayi yang sengaja digugurkan ini bukan merupakan suatu hal yang dirahasiakan kepada publik. Sel line janin yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya diambil dari bagian paru-paru,kulit,otot,ginjal,hati,thyroid, thymus dan hati yang diperoleh dari aborsi yang terpisah. Penamaan isolat biasanya dikaitkan dengan sumber yang diperolah misalnya WI-38 adalah isolat yang diperoleh dari paru-paru bayi perempuan berumur 3 bulan.
Ada suatu kaidah usul Fiqh yang mengatakan bahwa mencegah kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil manfaatnya. Demikian alas an yang dijadikan dasar hukum pengambilan keputusan terhadap kehalalan vaksin polio sekalipun diketahui bahwa vaksin tersebut disediakan dari bahan yang tidak diperkenankan dalam Islam.
Namun demikian kita tidak bias hanya bertahan pada kondisi darurat, melainkan juga melakukan usaha untuk perbaikan. Seperti misalnya usaha yang akan dilakukan oleh PT Bio Farma yang dalam 3 tahun mendatang akan memproduksi vaksin polio halal. Masih banyak lagi area bagi masyrakat muslim yang kompeten dalam bidang tersebut, untuk melakukan perbaikan. Sehingga Indonesia, yang jumlah balitanya cukup banyak (data tahun 2005: 24 juta balita Indonesia) , dimana hamper 90 % nya adalah muslim merasa aman dan tentram untuk melakukan vaksinasi-imunisasi. Siapa dari kita yang akan menangkap peluang ini? Wallahualam bisshawab.

KONSEP IMUNISASI HALAL HALALAN THAYYIBAN

1. Memberikan asupan nutrisi atau zat gizi atau makanan tertentu yang memaksimalkan pembangunan dan pemeliharaan sistem imun atau kekebalan tubuh manusia.

2. Memberikan asupan nutrisi atau zat gizi atau makanan tertentu yang meminimalkan dan menghilangkan zat yang bersifat menurunkan kerja sistem imun atau kekebalan tubuh manusia.

3. Menjauhkan dan menghentikan asupan nutrisi yang bersifat menurunkan pembangunan dan pemeliharaan sistem imun atau kekebalan tubuh manusia.

4. Tidak memberikan vaksinasi yang mengandung Toksin/Racun bahan berbahaya yang menjadi ancaman kesehatan manusia.
a. Kimiawi Sintetis
b. Logam Berat (Heavy Metal)
c. Hasil Metaboit parsial
d. Toksin Bakteri
e. Komponen dinding sel

5. Tidak memberikan vaksinasi dan obat-obatan yang mengandung bahan yang haram secara syari’at.
a. Alkohol dan turunannya, yang bersifat seperti alkohol, yaitu yang apabila dikonsumsi secara banyak akan memabukkan.
b. Tidak mengandung Darah, daging Babi, dan hewan yang ketika disembelih tidak menyebutkan nama Allah.
c. Tidak daging yang diharamkan menurut syari’at, contoh: Binatang Buas, Bertaring, bangkai dll.
d. Tidak dikembangbiakkan di dalam darah hewan apapun, daging babi, dan di dalam makhluk hidup yang diharamkan menurut syari’at.

6. Membiasakan untuk mengkonsumsi menu makanan sehari-hari yang bersifat membangun sistem kekebalan tubuh manusia.

7. Membiasakan untuk tidak mengkonsumsi menu makanan sehari-hari yang bersifat menururnkan sistem kekebalan tubuh manusia. (Diambil dari www imunisasi halal.com)

Fatwa Penggunaan vaksin polio khusus (IPV)

http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=115

Penggunaan vaksin polio khusus (IPV)


Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelahMenimbang .

  1. bahwa anak bangsa, khususnya Balita, perlu diupayakan agar terhindar dari penyakit Polio, antara lain melalui pemberian vaksin imunisasi;
  2. bahwa dalam program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tahun 2002 ini terdapat sejumlah anak Balita yang menderita immunocompromise (kelainan sistim kekebalan tubuh) yang memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik, IPV);
  3. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi, dan belum ditemukan IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut;
  4. bahwa oleh karena itu, Komisi Fatwa MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang status hukum penggunaan IPV tersebut, sebagai pedoman bagi pemerintah, umat Islam dan pihak-pihak lain yang memerlukannya.

Mengingat .

  1. Hadis-hadis Nabi. antara lain: “Berobatlah, karena Allah tidak membuat penyakit kecuali membuat pula obatnya selain satu penyakit, yaitu pikun”(HR. Abu Daud dari Usamah bin Syarik). “Allah telah menurunkan pen yakit dan obat, serta menjadikan obat bagi setiap penyakit; maka, berobatlah dan jariganlah hero hat dengan berzda yang haram “(HR. Abu Daud dari Abu Darda ). “Sekelompok orang dari sukcu ‘Ukl atau ‘Urainah datang dan tidak cocok dengan udara Madinah (sehingga mereka jatuh sakit); maka Nabi s.a.w. memerintahkan agar mereka diberi unta perah dan (agar mereka) meminum air kencing dari unta tersebut… “(HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik). “Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan (pula) obatnya. ” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah). Sabda Nabi s.a.w. yang melarang penggunaan benda yang terkena najis sebagaimana diungkapkan dalam hadis tentang tikus yang jatuh dan mati (najis) dalam keiu : “Jika keju itu ker°as (padat), buanglah tikus itu dan keju sekitarnya, dan makanlah (sisa) keju tersebirt: namun jika keju itu cair, tumpahkaf7lah (HR alBukhari, Ahmad, dan Nasa’i dari Maimunah isteri Nabis.a.w.)
  2. . Kai dah-kai dah fiqh : “Dharar (bahaya) harus dicegah sedapat mungkin. “
    “Dharar (bahaya) harus dihilangkan. “
    “Kondisi hajah menempati kondisi darurat. “
    “Darurat membolehkan hal-hal yang dilarang. “
    “Sesuatu yang dibolehkan karena darurat dibatasi sesuai kadar (kebutuhan)-nya. “
  3. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga MUI periode 2000-2005.
  4. Pedoman Penetapan Fatwa MUI.
    1. Pendapat para ulama; antara lain : ”Imam Zuhri (w. 124 H) berkata , ”Tidak halal meminum air seni manusia karena suatu penyakit yang diderita , sebab itu adalah najis ; Allah berfirman :’…Dihalalkan bagimu yang baik-baik (suci)……’ (QS. Al-Matidah [5]: S)”; dan Ibnu Mas’ud (w 32 H) berkata tentang sakar (minuman keras) , Allah tidak menjadikan obatmu sesuatu yang diharamkan atasmu ” (Riwaayat Imam al-Bukhori)
    2. Surat Menteri Kesehatan RI nomor: 11 92/MENKES/ IX/2002, tangga124 September 2002, serta penjelasan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan, Direktur Bio Farma, Badan POM, LP. POM-MUI, pada rapat Komisi Fatwa, Selasa, 1 Sya’ban 1423/8 Oktober 2002; antara lain :
      1. Pemerintah saat ini sedang berupaya melakukan pembasmian penyakit Polio dari masyarakat secara serentak di seluruh wilayah tanah air melalui program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dengan cara pemberian dua tetes vaksin Polio oral (melalui saluran pencernaan).
      2. Penyakit (virus) Polio, jika tidak ditanggulangi, akan menyebabkan cacat fisik (kaki pincang) pada mereka yang menderitanya.
      3. Terdapat sejumlah anak Balita yang menderita immunocompromise (kelainan sistim kekebalan tubuh) yang memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik, IPV).
      4. Jika anak-anak yang menderita immunocompromise tersebut tidak diimunisasi, mereka akan menderita penyakit Polio serta sangat dikhawatirkan pula mereka akan menjadi sumber penyebaran virus.
      5. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi.
      6. Sampai saat ini belum ada IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut dan jika diproduksi sendiri, diperlukan investasi (biaya, modal) sangat besar sementara kebutuhannya sangat terbatas.
    3. Pendapat peserta rapat Komisi Fatwa d tersebut; antara lain:
      1. Sejumlah argumen keagamaan (adillah diniyyah: al-Qur’an, hadits, dan qawa’id fiqhiyyah) dan pendapat para ulama mengaj arkan; antara lain :
    4. setiap penyakit dan kecacatan yang diakibat-kan penyakit adalah dharar (bahaya) yang harus dihindarkan (dicegah) dan dihilangkan (melalui pengobatan) dengan cara yang tidak melanggar syari’ah dan dengan obat yang suci dan halal;
    5. setiap ibu yang baru melahirkan, pada dasarnya, wajib memberikan air susu yang pertama keluar (colostrum, al-liba’– kepada anaknya dan dianjurkan pula memberikan ASI sampai dengan usia dua tahun. Hal tersebut menurut para ahli kesehatan dapat memberi-kan kekebalan (imun) pada anak;
  5. Memperhatikan :

  6. Dalam proses pembuatan vaksin tersebut telah terjadi persenyawaan/persentuhan (ilhtilath antara porcine yang najis dengan media yang digunakan untuk pembiakan virus bahan vaksin dan tidak dilakukanpenyucian dengan cara van2 dibenarkan syari’ah (tathhir syar’an Hal itu menyebabkan media dan virus tersebut menjadi terkena najis (mutanadjis).
  7. Kondisi anak-anak yang menderita immunocompromise, jika tidak diberi vaksin IPV, dipandang telah berada pada posisi hajah dan dapat pula menimbulkan dharar bagi pihak lain

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

  1. FATWA TENTANG PENGGUNAAN VAKSIN POLIO KHUSUS
  2. Pertama : KetentuanHukum
    1. Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari –atau mengandung–benda naj is ataupun benda terkena naj is adalah haram.
    2. Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.
    3. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
  3. Pertama . Rekomendasi (Taushiah)
    1. Pemerintah hendaknya mengkampanyekan agar setiap ibu memberikan ASI, terutama colostrum secara memadai (sampai dengan dua tahun).
    2. Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan yang suci dan halal.

Ditetapkan di : Jakarta Padatanggal : 0 1 Sya’ban 1423 H. 08 Oktober 2002 M.

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua, Sekretaris,

K.H. MA’RUF AMIN HASANUDIN

Link Website Luar Negeri ANTI VAKSINASI

100+ Great Anti-Vax_Info Links

Suggestion: use your browser Edit/Find in Page feature to find desired topics. The page is somewhat in alphabetical order.
International links:

Another page of links: Jock Doubleday’s 120 INDEXED LINKS

KALAHKAN AUTISME SEKARANG

http://www.peduliautisme.org/Mainpage_Artikel3.htm

KALAHKAN AUTISME SEKARANG

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat ternyata tidak mampu mengurangi, apalagi meniadakan ancaman bertambahnya prevalensi penyandang kelainan pertumbuhan anak (pervasive development disorder). Sindroma Down misalnya, sejak diperkenalkan oleh Dr. John Longdon Down pada tahun 1866 hingga kini belum ditemukan obat penangkal dan metoda pemulihan atau rehabilitasi yang dapat menghindarkan anak dari cacat permanen yang mencemaskan orang tua dan masyarakat. Kini spektrum kelainan pertumbuhan anak makin meluas, mulai yang paling ringan tingkat kelainan namun paling tinggi prevalensinya seperti autisme hingga yang paling berat seperti penderita serangan virus rubella dan toksoplasma. Kondisi tersebut sangat mencemaskan orang tua, dan karenanya membutuhkan perhatian dan solidaritas kebersamaan untuk menghambat sebaran epidemi autistik dan merehabilitasi dampak kelainan pertumbuhan anak supaya mampu berkarya secara mandiri.

Seriusnya penyebaran autisme di negara maju telah mendorong Autism Reseach Institution yang didirikan pada 1967 untuk mendekralasikan ” Defeat Autism Now/DAN ” pada tahun 1995. Kemudian WHO menggalang gerakan pemberantasan Autisme dengan mengintegrasikan Autisme dalam International Classification of Diseases (ICD)-8 tahun 1980, kemudian ICD-9 tahun 1987, dan yang terakhir dalam ICD-10 tahun 1993. Semula Autisme dipahami sebagai kelainan perilaku, namun dalam ICD-9 tahun 1993 lingkup Autisme diperluas menjadi Kelainan Perkembangan Anak yang meliputi kelainan aspek fisikal, mental, dan kecerdasan anak secara menyeluruh atau “Pervasive Develoment Disorders”.

Oleh karena itu ” Kelainan Pertumbuhan Anak Menyeluruh atau Pervasive Develoment Disorders” menurut ICD-10 tahun 1993 meliputi 7 (tujuh ) jenis kelainan, yaitu:

1. Childhood autism adalah kelainan pertumbuhan anak sejak lahir hingga berumur 3 (tiga) tahun yang bercirikan ketidakmampuan berinteraksi sosial secara timbal balik, sulit berkomunikasi, serta berperilaku kaku, stereotip dan selalu mengulangi hal yang sama (repetitive).
2. Atypical Autism, yaitu kelainan perrtumbuhan anak setelah berumur 3 (tiga) tahun yang menyandang beberapa kelainan di atas secara yang lebih menonjol.
3. Rett’s syndrome adalah penyandang sindroma Rett yang umumnya dialami oleh anak-anak perempuan.
4. Childhood Disintegrative Disorders adalah anak yang mengalami kelainan disintegratif.
5. Overactive disorder Associated with mental retardation and stereotyped movement, adalah kelainan perilaku yang overaktif pada anak mengalamai keterlambatan perkembangan mental dan kesulitan mengendalikan gerakan atau gerakan stereotip.
6. Asperger’s Syndrome atau sindroma Asperger adalah anak-anak (mayoritas anak laki-laki) yang menyandang kelainan perilaku.
7. Other pervasive development disorder, yaitu anak-anak penyandang kelainan lainnya.

Terobsesi oleh makin meluasnya spektrum Autisme dan cepatnya sebaran epidemi ini, termasuk terutama kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, yang sangat mencemaskan, PeduliAUTISME terpanggil untuk menggalang kebersamaan orang tua, kemudian emphatiwan dan simpatisan guna menyusun program mengalahkan epidemi autisme. PeduliAUTISME menyediakan wahana berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana merawat, melatih dan merehabilitasi kelainan pertumbuhan fisik, mental dan kecerdasan anak sedini mungkin. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman tersebut akan meningkatkan kemampuan merawat dan merehabilitasi cacat akibat epidemi autisme.

Diharapkan Peduli AUTISME dapat mempelopori kegiatan yang meringankan beban orang penyandang autisme dan pelbagai usaha pelatihan dan pendidikan yang memandirikan penyandang autisme. Kepeloporan yang diharapkan terutama dalam hal menyusun program perawatan dan penyembuhan, serta program pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan penyandang autisme. Keaktifan orang tua dalam berbagai usaha dan kegiatan merawat, melatih dan mendidik untuk merehabilitasi kelainan anak akan memberikan masukan yang berharga dalam menerapkan program pengrehabilitasian dini kelainan perilaku (behavioral disorder) dan kelainan kognitif (cognitive disorder).

JENIS KELAINAN PERTUMBUHAN ANAK

Efektivitas penyembuhan suatu penyakitan atau rehabilitasi suatu kelainan sangat tergantung pada kedinian dan ketepatan terapi yang dilakukan. Kedinian terapi terkait erat dengan kemampuan mendiagnosa penyakit atau gejala kelainan secara tepat dan dini. Kecermatan orang tua mengenali kelainan pertumbuhan anak dan mendiagnosa penyebab kelainan sejak lahir akan mempermudah terapi dan tindak rehabilitatif selanjutnya. Pengenalan dini kelainan pertumbuhan anak dilakukan dengan memperhatikan perkembangan kemampuan anak menggerak-gerakan kaki dan tangannya, gerakan telungkup dan merangkak serta berdiri dan berjalan pada usia 6 bulan hingga 14 bulan. Selain kewajaran gerakan motorik tersebut, juga diperhatikan kewajaran fungsi sensorik anak misalnya kepekaan terhadap dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan, tatapan mata yang fokus, meniru bunyi dan kata yang didengarnya hingga mengucapkan kata-kata yang bermakna dan bercakap-cakap.

Dari dimensi waktu, ICD-10 dengan tegas membedakan dua masa terjadinya kelainan, yaitu kelainan terjadi sebelum anak berusia 3 (tiga) tahun, dan kelainan yang terjadi sesudah anak berusia 3 (tiga) tahun. Pengalaman menunjukkan bahwa ada beberapa kasus yang pada dua tahun pertama sejak kelahiran, pertumbuhan fisik, perilaku dan kecerdasan anak kelihatan normal. Sindroma Heller misalnya, hingga tahun kedua pertumbuhan anak tergolong normal, namun setelah itu kemampuan anak berbicara dan mengenali sesuatu (kognitif) terus menerus menurun secara mencemaskan hingga anak tersebut tergolong cacat permanen.

Keterlambatan mendiagnosa dan menterapi kelainan pertumbuhan anak secara tepat dapat menimbulkan cacat fisik, mental dan emosional (mental and emotional disorder) dan kelainan tingkat kecerdasan anak secara timbal balik yang bersifat permanen. Kelainan pertumbuhan fisik (physical disorder) anak dapat berupa:

1. aphasia suatu keadaan anak yang susah berbicara;
2. apraxia, suatu keadaan anak yang tidak dapat menggerakkan badannya karena gangguan saraf motorik;
3. ataxia, suatu keadaan anak yang sulit menggerakan otot-ototnya;
4. gerakan athetoid suatu keadaan anak yang tangannya terus menerus bergerak secara tidak terkendali;
5. dyslexia suatu keadaan anak yang mengalami kesulitan membaca;
6. dysphasia suatu keadaan anak yang mengalami kesulitan mengucapkan kata yang sulit atau kalimat rumit;
7. dyskinesia suatu keadaan anak yang mengalami kesulitan menggerakkan kaki dan tangan;
8. mental psikotik suatu gangguan mental berat yang butuh layanan kejiwaan terpadu.

Secara khusus Dr Andreas Rett (1966) mendeskripsikan 4 (empat) tahapan pertumbuhan kelainan anak penyandang sindroma Rett sebagai berikut:

1. pengenalan dini (early onset) sejak bayi berusia 6-18 bulan, dengan memperhatikan fokus tatapan mata, gerakan kaki dan tangan, kemampuan telungkup, merangkak, kemampuan mengucapkan dan meniru, perhatian pada mainan dan lingkungan, serta kemampuan berdiri sendiri dan berjalan.
2. Tahapan kerusakan yang cepat (rapid destructive stage) karena dalam hitungan minggu atau bulan yang terjadi pada usia 1 – 4 tahun. Pada tahapan ini keterampilan dan kemampuan anak yang semula kelihatan normal menjadi terus berkurang dan menghilang. Gejala ini makin nyata menjelang anak berusia 2 (dua) tahun. Gerakan kaki dan tangan makin tidak terkendali dan makin kaku, baru reda pada waktu tidur. Irama pernapasan makin tidak teratur.
3. Tahap kestabilan atau ketenangan palsu (plateau or pseudo-stationary stage) terjadi pada usia 2 – 10 tahun. Pada tahapan ini kelainan perilaku anak kelihatan berkurang, emosinya kelihatan lebih stabil dan terkendali. Namun perlu diwaspadai ancaman terus merosotnya kemampuan sarat sensorik dan motoriknya sehingga gejala apraxia makin nyata.
4. Tahapan makin sulit bergerak (late motor deterioration stage) terjadi bertahun-tahun bahkan beberapa dekade dimana kemampuan menggerakan otot terus berkurang karena sebagian otot-ototnya lemas tak bertenaga sedangkan bagian otot lainnya kaku dan mengarah kepada cacad phisik yang bersifat permanen. Ketidakmampuan mengatasi gangguan emosi anak, terutama setelah berumur 3 (tiga) tahun dapat memperparah kelainan tersebut hingga mengidap gangguan mental psikotik (psychotic mental disorder) dan atau kelainan kepribadian (personality disorder), sehingga menjadi penyandang kelainan atau cacat permanen. Kelainan atau cacat kepribadian dapat berupa:
1.

kelainan kepribadian paranoid yang dikuasai oleh rasa takut sehingga selalu curiga dan tidak percaya pada sesama;
2.

kelainan kepribadian schizotypal yang cenderung menyendiri dan membenam diri dalam alam pikiran dan dunia fantasinya sendiri;
3.

kelainan kepribadian histionik yang selalu minta diperhatikan, diutamakan dan semua keinginan harus dituruti.

Hingga kini intensitas usaha mengenali penyebab kelainan pertumbuhan anak terus ditingkatkan. Secara umum kelainan pertumbuhan anak dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) faktor penyebab, yaitu:

1. faktor kelainan perkembangan otak (brain development disorder) atau karena kelainan perkembangan saraf (neuro-developemt disorder),
2. virus, jamur, rubella, herpes toksoplasma dan akibat vaksin yang mengandung air raksa (mercuri) seperti vaksin MMR dan Thimerosal,
3. sistem pencernaan yang kurang baik sehingga rentan terhadap makanan tertentu,
4. karena kelainan kromosom dan faktor keturunan atau genetika.

Uraian ICD-10 dan sindroma Rett di atas mengisyaratkan betapa pentingnya pendiagnosaan dan penterapian dini bagi penyandang kelainan pertumbuhan anak, terutama bagi anak berusia kurang dari 3 (tiga) tahun. Pengenalan dini kelainan fisik anak seyogianya dilakukan oleh orang tua anak dengan mengamati kekakuan (spastic), kemampuan mengendalikan gerakan otot (athetoid), kelemasan otot (hypotonic), dan kombinasi antara kekakuan otot (spastic) dan kelemasan otot (hypotonic). Selanjutnya kekakuan otot (spastic) dapat dipilah menjadi 4 (empat) macam, yaitu :

1. kekakuan atau kelemasan semua otot- otot kaki dan tangan atau spastic quadriplegia. Pada umumnya kekakuan otot disandang oleh penderita virus rubella penyandang sindroma Down;
2. kekakuan otot kaki dan tangan pada sebelah kiri atau kanan tubuh yang dikenal sebagai spastic hemiplegia;
3. kekakuan otot kaki atau spastic diplegia, dan
4. kombinasi ketiga jenis kekakuan di atas.

Berlanjutnya gangguan pertumbuhan fisik seperti kekakuan atau ketidakberdayaan otot anggota gerak (kaki dan tangan) dapat merambat pada otot-otot leher, dagu dan muka anak sehingga menghambat gerakan leher dan kemampuan mengunyah, menelan, bercakap-cakap, menggerakkan bola mata serta kemampuan mendengarkan suara. Kelainan pertumbuhan fisik ini dapat dikenali orang tua lebih dini. sebagai contoh, seorang ibu muda yang baru melahirkan putra pertama menemukan pada bagian kiri leher terdapat sebuah benjolan kecil sebelum bayi berumur sebulan. Pendiagnosaan dini tersebut yang mempermudah tindakan penyembuhannya.

Di samping pencermatan pertumbuhan fisik anak juga dilakukan pencermatan perkembangan kejiwaan dan kepribadian anak yang dilakukan dengan memperhatikan perilaku anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Secara umum kelainan perilaku anak dapat dibedakan menjadi perilaku anak sangat aktif atau hiperaktif dan perilaku sangat tenang atau hipoaktif. Gerakan kaki dan tangan anak yang hiperaktif sangat cepat untuk mendekati dan meraih benda-benda yang ada disekitarnya, sehingga terkesan sangat nakal. Sebaliknya gerakan kaki dan tangan anak hipoaktif sangat lamban dan berperilaku sangat tenang sehingga terkesan sebagai anak manis (good boy or good girl). Kelainan fisik dan mental anak yang berlanjut akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak, sehingga bila tidak diatasi dengan tuntas anak tersebut akan terbelenggu oleh kelainan fisik (physical disorder) dan ketertinggalan mental dan intelektual (mental and intellectual disorders), yang akan menjadi beban permanen keluarga dan masyarakat.

Untuk mengatasi petaka yang mengancam generasi muda tersebut perlu penyebarluasan pengetahuan mengenai gejala umum (sindroma) kelainan pertumbuhan anak (pervasive development disorder) pada masyarakat umumnya, khususnya pada orang tua dan calon orang tua guna dapat mendiagnosa secara dini kemungkinan kelainan yang diidap oleh putra atau putri mereka. Dengan pengetahuan tersebut, orang tua dapat mengenali secara dini kewajaran atau kelainan pertumbuhan fisik, mental dan kecerdasan putra-putrinya menjelang usia 3 (tiga) tahun. Bila hasil pengamatan orang tua mengindikasikan adanya kelainan, maka orang tua dapat secara dini pula berusaha mendapatkan terapist yang tepat supaya kadar kesembuhan atau kepulihan kesehatan anak makin besar pula. Peran orang tua dalam pendiagnosaan dini dapat dikatakan mutlak.

Dalam kondisi tersebut PeduliAUTISME, selaku wadah perhimpunan orang tua penyandang autisme, emphatiwan dan simpatisan nasib penyandang kelainan pertumbuhan anak lainnya dapat berbagi pengetahuan, pengalaman dan bantuan pada orang tua yang baru menghadapi problema tersebut. Suatu kenyataan yang menggembirakan bahwa penyandang autisme pada umumnya memiliki pertumbuhan fisik dan intelektual yang normal. Penyandang autisme umumnya hanya mengalami kelainan perkembangan emosi kejiwaan. Oleh karena itu, peluang kesembuhan lebih besar terutama bila pengrehabilitasiannya dilakukan secara dini, yaitu dimulai sebelum anak berusia 3 (tiga) tahun supaya dapat disesuaikan dengan perkembangan kejiwaan anak. Setelah anak berumur tiga tahun usaha rehabilitasi kejiwaan lebih sulit, bukan tidak mungkin, karena sikap dan perilaku anak sudah terpola sesuai dengan kelainan yang disandangnya.

Pengrehabilitasian dini (sebelum berusia tiga tahun) sangat membutuhkan peranaktif orang tua. Dari konteks keadaan tersebut PeduliAUTISME memfasilitasi orang tua penyandang kelainan pertumbuhan untuk secara bersama-sama ikut aktif mengelola kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan putra-putrinya. Prinsip kebersamaan tersebut dikembangkan menjadi mitra usaha dan atau mitra kerja PeduliAUTISME. Bagi orang tua yang hartawan dapat menjadi mitra usaha dengan menyediakan dan mengelola fasilitas pengrehabilitasian, bagi orang tua yang memiliki talenta kepandaian dapat menjadi mitra kerja memajukan pelayanan pada rekan orang tua dan anak yang menghadapi problema yang sama.

TERAPI DAN REHABILITASI KELAINAN PERTUMBUHAN

Bahasan di atas mengungkapkan bahwa kelainan pertumbuhan bayi dapat diketahui beberapa bulan setelah kelahiran. Kelainan fisik dapat segara dikenali pada anak tergolong penyandang sindroma Down dan terserang virus Rubella karena secara kasat mata tampak jelas ciri kelainan pada organ tubuh, wajah atau kaki tangannya kaku. Sedangkan mengenali kelainan mental pada penyandang autisme tidaklah mudah, apalagi bayi yang belum berumur 3 (tiga) tahun. Gejala kelainan mental penyandang autisme menurut ICD-10 WHO di atas secara rinci dan tuntas dapat dipelajari pada sindroma Rett bagi anak perempuan dan sindroma Asperger bagi anak lelaki. Kelainan tersebut antara lain berasal dari kekurang-pekaan saraf sensorik dan saraf motorik bayi, berupa kelambanan gerakan kaki dan atau tangan, keterlambatan berbicara atau berjalan dibandingkan dengan kemampuan bayi seusia.

Berdasarkan gejala kelainan pertumbuhan anak di atas perlu dirancang program pengrehabilitasian kelainan yang secara awam dibedakan menjadi kelainan fisik (physical disorder) dan keterlambatan mental dan intelektual (mental and intellectual retardation). Keadaan dan kebutuhan mendasar penyandang kelainan pertumbuhan anak tersebut selanjutnya menjadi masukan dan acuan perancangan program terapi dan pengrehabilitasian, yang secara teknis dikelompokkan pada tiga tahapan, yaitu:

1. Rehabilitasi dasar (basic rehablitation) yang lebih memfokuskan pada perawatan dan pemulihan kelainan fisik anak yang berumur hingga 3 (tiga) tahun. Dari pendiagnosaan dini dapat diketahui jenis kelainan yang perlu diterapi dan direhabilitasi, misalnya tergolong kekakuan atau kelemasan otot, ketidakmampuan mengendalikan gerakan otot. Program terapi dan rehabilitasi disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan kelainan yang dirancang supaya pada usia 3 (tiga) tahun gerakan anak dapat dikategorikan normal seperti anak sebayanya. Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran yang sering terkait dengan gangguan berbicara. Penyandang autisme sering mengalami kelainan pada indra pendengaran yang diikuti kesulitan menelan dan berbicara. Pada tahapan ini dilakukan perawatan dan pelatihan khusus pada kelainan, kelemahan atau kekurangwajaran gerakan phisik anak yang berusia 2 – 4 tahun sambil dibiasakan bermain dengan rekan sebayanya.
2. Rehabilitasi fungsional (functional rehabilitation) merupakan kelanjutan dari program rehabilitasi dasar di atas yang disesuaikan dengan tingkat kemajuan tiap anak serta usia dan tingkat perkembangan kejiwaan anak yang bersangkutan. Selain pelatihan phisik, program ini mulai memberikan muatan pelatihan ketrampilan, terutama ketrampilan bersosialisasi dengan mengacu kepada pola perkembangan jiwa anak dengan motto “Berlatih Sambil Bermain”. Tahapan rehabilitasi fungsional (functional rehabilitation) ini berupaya mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerusakan cepat (rapid destructive) pada pada usia 1-4 tahun, dan kestabilan palsu (plateau or pseudo-stationary) pada usia 2-10 tahun seperti yang disinyalir oleh Dr. Andreas Rett di atas. Pada tahapan ini orang tua perlu memikirkan pendidikan putra-putrinya karena mereka memasuki usia wajib belajar. Mengingat kekhususan kondisi yang dialami putra-putrinya masing-masing, orang tua penyandang kelainan pertumbuhan perlu mempertimbangkan untuk menyelenggarakan sendiri program pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya dilengkapi alat bantu terapi wicara, alat kesenian, ketrampilan yang dapat mengoptimalkan potensi kemandirian anak.
3. Program peningkatan kemandirian anak yang dilakukan dengan menerapkan pendekatan keperilakuan (behavioral approach) dan pendekatan kognitif (cognitive approach) serta pelatihan dan pendidikan lanjutan dirancang sesuai dengan kondisi phisik, mental emosional dan intelektual penyandang kelainan. Program pelatihan dan pendidikan ini merupakan lanjutan dari program rehabilitasi fungsional sebelumnya yang lebih diarahkan pada persiapan untuk memasuki pasar tenaga kerja atau berkarya secara mandiri dengan memperhatikan bakat dan ketersediaan teknologi maju yang berbasis komputer.

Menyadari beratnya perjuangan hidup penyandang kelainan pertumbuhan anak di masa perdagangan bebas mendatang PeduliAUTISME mengajak orang tua, emphatiwan dan simpatisan secara bersama-sama untuk memikirkan dan memformulasikan langkah-langkah strategis memperjuangkan dan melindungi kepentingan jangka panjang mereka. Kiranya niat baik dan perbuatan luhur orang tua, emphatiwan dan simpatisan penyandang kelainan pertumbuhan anak merupakan karsa dan karya terbaik bagi kemulian Allah dan kesukacitaan penyandang Autisme.

Makanan Indonesia untuk Autisme

http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/common/stofriend.aspx?x=Mother+And+Baby&y=cyberwoman%7C0%7C0%7C8%7C33

Makanan Indonesia untuk Autisme
Mother And Baby Tue, 17 Jul 2001 11:47:00 WIB

Sebagian besar gejala autisme bisa dikurangi dengan berpantangan terigu dan susu. Itu berarti sumber pangan asli Indonesia seperti beras, singkong, ubi, kentang, sagu dan jagung aman dikonsumsi penyandang autisme

Autisme menurut Dr. Melly Budiman,Sp.KJ merupakan gangguan perkembangan yang kompleks dan berat pada anak. Gejalanya bersifat individual dan tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Secara garis besar gejala ini merupakan gangguan komunikasi, berinteraksi, dan gangguan perilaku.

“Anak bisa mengalami lambat bicara, omongannya sulit dipahami, tidak mau menatap mata, tak mau bermain dengan teman sebaya, tidak mau diatur, menyakiti diri sendiri, terpukau pada benad yang berputar dan banyak lagi,”ujar psikiater anak yang juga ketua Yayasan Autisme Indonesia.

Penyebab pasti autisme belum jelas diketahui. Ada pendapat, karena faktor genetik dan gangguan pertumbuhan sel otak selama dalam kandungan, serta kontaminasi logam berat menjadi sebab. Gangguan pertumbuhan sel otak pada janin bisa karena adanya virus, jamur atau zat beracun dalam makanan. Vaksin MMR (Mumps Measles Rubella) uga diperkirakan jadi penyebab. Dinyatakan vaksin ini menyebabkan kerusakan pada pencernaan dan otak. Beberapa gejala autisme juga ditemukan pada anak setelah imunisasi MMR.

Ahli Naturopati, Dr Amarullah H. Siregar, D1Hom, DNMed, MSc, PhD mengungkapkan disamping faktor genetik, autisme juga bisa disebabkan oleh trauma psikis atau fisik pada saat lahir., dan adanya intoleransi terhadap jenis protein dan gluten yang terdapat dalam gandung atau terigu, serta casein yang terkandung dalam susu. Selain pada gandum, gluten juga terdapat dalam havermut, bulger dan sejenisnya.

Anaka yang tidak diinginkan, lanjutnya bisa membawa trauma psikis disaat lahir. Sedangkan trauma fisik, misalnya pada bagian kepala, bisa terjadi selama proses kelahiran. Kondisi intoleransi terjadi karena kekurangan mineral pada sistem pembuluh saraf selama dalam kandungan.

Ada juga yang berpendapat bahwa autisme mempunyai gangguan metabolisme yaitu kekurangan enzim yang berkaitan dengan pencernaan gluten dan casein. Karena metabolisme tidak sempurna, maka proses pencernaan protein bukan menghasilkan asam amino, tapi malah menjadi zat racun semacam opioid yang jika masuk ke otak akan memicu agresivitas.

Sebuah studi di Amerika Serikat menyatakan 80 persen anak penyandang autisme alergi terhadap prduk susu dan gandum. Penelitian Dr.J.Robert Cade,M.D dari Universitas Florida menunjukkan 8 dari sepuluh anak bebas dari gejala autisme dan skizofrenia setelah menjalani terapi diet bebas susu.

Untuk yang intoleran terhadap susu bisa mengganti dengan susu kacang hijau dan jenis kacang-kacangan lain. Tapi harus tetap diingat bahwa bayi harus tetap mendapat ASI eksklusif selama empat bulan penuh. “Dengan air susu ibu, si anak malah akan punya kekebalan tubuh yang bagus.”

Dr. Siregar menegaskan, dengan memberikan vitamin dan mineral, kondisi intoleransi tersebut bisa diatasi. Dijelaskan setiap anak lahir dengan sifat inkonstitusional yang berlainan. Menurut ilmu kedokteran homeopati, sifat ini dibagi menjadi 4 (empat) yaitu

Tipe Carbonitrogenoid yang karakternya cerdas, mudah lelah fisik maupun mental, sensitif terhadap udara dingin, gejala memburuk pada siang hari. Sensitif terhadap cahaya dan suara, kulit selalu kering

Tipe Oxygenoid berkarakter, selalu ingin udara yang dingin , gejala memburuk pada malam hari, kulit berminyak dan pucat, selera makan baik, tidak suka daging, tidur memeluk guling.

Tipe Tubercular merupakan kombinasi tipe pertama dan kedua, juga cenderung rentan terhadap dingin, sulit berkonsentrasi, sangat atraktif selalu pusing dan limbung.

Tipe Hydrogenoid karakternya menyukai udara hangat, mudah tersinggung, egois, cemburu, sering diare tanpa sebab, sering muncul gangguan kulit.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Vaksin DPT Tanpa Thiomersal

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=78095&kat_id=150&kat_id1=&kat_id2=

Selasa, 11 Juni 2002
Vaksin DPT Tanpa Thiomersal

Jika teknologi pembuatan vaksin sebelumnya masih menggunakan teknik konvensional yakni dengan memasukkan badan kuman secara utuh, maka kini tidak lagi. Sebuah teknologi purifikasi (pemurnian) kuman, berhasil dilakukan dengan memurnikan tubuh kuman. Caranya, kuman dimurnikan dan cukup diambil antigennya saja (tanda pengenal kuman). Cara ini terbukti mampu menurunkan efek toksin kuman beberapa derajat. Dengan teknologi ini, angka kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) seperti nyeri, merah, bengkak, demam, merah, bengkak, dan demam dengan suhu di atas 39,5 derajat bisa dihindari.

Sebelum ditemukannya tren tehnologi pembuatan vaksin terbaru akhir abad ini, beberapa produk vaksin yang telah diproduksi di berbagai negara sebelumnya tidak menggunakan teknologi purifikasi. Badan kuman utuh hanya dilemahkan. Berikutnya, dibiarkan utuh berada dalam sediaan vaksin lalu diberi bahan pengawet yang cukup keras, yakni thiomersal, merthiolate, atau themerosol yang merupakan nama lain dari etil merkuri.

Padahal kalangan medis di berbagai negara masih mempertentangkan efek kandungan bahan pengawet dalam vaksin ini. Ada sebagian kalangan yang menilai efek pengawet ini dapat menyebabkan autisme, lantaran kadar autisme dalam lingkungan yang terasup melalui makanan dan udara yang terhirup telah jauh lebih besar dari kadar merkuri dalam vaksin. Sehingga diasumsikan jika ditambah dengan vaksin berbahan pengawet ini, maka akan terakumulasi kadar merkuri dalam tubuh bayi dalam jumlah yang tidak lagi bisa ditoleransi oleh tubuh.

Sementara kubu lainnya, seperti disebut konsulen bagian psikiatri FKUI/RSCM dr Ika Widyawati SpA(K) menilai penyebab penyakit ini cukup banyak. Selain pencemaran lingkungan berupa polutan mercuri yang mencemari ikan-ikan di laut, faktor genetis, juga karena perdarahan kehamilan trimester pertama, adanya kotoran janin pada cairan amnion, penggunaan obat-obatan tertentu, komplikasi persalinan (terlambat menangis, gangguan pernapasan, dan anemia janin) dan inveksi protozoa toksoplasma (virus bulu kucing), infeksi virus rubella, herpes simplex encephalitis, dan cytomegalivirus. Sehingga, vaksin tidak bisa dikatagorikan sebagai satu-satunya penyebab penyakit gangguan otak tersebut.

Seperti diungkap dr Franciscus Chandra, manajer pemasaran perusahaan farmasi Glaxosmithkline, pihaknya berhasil menemukan teknologi baru pembuatan vaksin. Setidaknya, vaksin ini merupakan golongan vaksin DPT pertama di dunia yang bebas bahan pengawet thiomersal. Vaksin ini seperti namanya, diperuntukkan untuk menciptakan kekebalan tubuh bayi terhadap penyakit dipteri yang kerap dikenali gejalanya dalam keadaan bayi telah biru (terlambat terdeteksi). Selain itu terhadap penyakit batuk rejan oleh kuman bordotella pertusis yang menyerang bayi pada usia rata-rata kurang dari 6 bulan serta tetanus yang kebanyakan menyerang bayi pada usia kurang dari 1 tahun.

Sebuah vaksin DPaT pada tahun 1990 berhasil dibuat dengan prinsip tren baru teknologi pembuatan vaksin. Setidaknya vaksin ini menjadi generasi kedua dari vaksin DPT yang ada sebelumnya, yakni DPwT (Dipteri, Pertusis whole cell dan Tetanus, dimana badan sel pertusisnya utuh). Infanrix berisi kuman dipteri (D), tetanus (T) serta tiga antigen dari kuman Bordotella pertusis yang dimurnikan yang terdiri atas toksoid pertusis yakni kuman pertusis yang telah dilemahkan yang tidak diaktivasi, filamentus hemaaglutinin (FHA), dan pertactin (PT).

Masa penelitian pembuatan vaksin ini cukup lama mencapai 20 tahun lebih. Dipakai pertama kalinya pada bayi-bayi di Jerman pada tahun 1994. Pemerintah Indonesia baru merekomendasikan pemakaiannya oleh ketua tim pokja KIPI (Kejadian Ikutan Pascaimunisasi), Prof DR dr Sri Redjeki Hadinegoro SpA(K), April tahun ini. Vaksin ini dikemas untuk dosis tunggal atau sekali pakai. Setiap vial (tabung) sekali suntik harganya mencapai Rp 175 ribu. Harga vaksin ini cukup mahal, karena pihak konsumen juga harus ikut membayar tingginya biaya riset dan teknologi canggih yang dipakai untuk membuat produk vaksin ini.

Vaksin ini diproduksi sesuai standar puritas (kemurnian) yang direkomendasikan WHO dan european pharmacopoeia yakni preparat vaksin bebas darah manusia. Untuk meyakinkan derajat kemurnian vaksin, setiap konstituen antigen diproses secara tersendiri dan diteliti secara seksama. Ketiga antigen yang dimurnikan ini tidak diaktifkan dan diserap secara terpisah ke dalam aluminium hidroksida. Kemudian dikumpulkan serta ditambahkan ke dalamnya bahan pengawet sodium klorida dan 2 phenoksiethanol. Bahan pengawet ini merupakan golongan bahan pengawet yang lazim dipakai dalam sediaan obat-obatan sirop. Preparat ini dilarutkan dalam air untuk keperluan injeksi. Kendati produk vaksin ini bagus, ia tetap harus disimpan pada suhu rendah yakni antara 2 hingga 8 derajat celcius.

Keamanan dan imonogenesitas vaksin dosis sekali pakai ini pertama kali diujikan pada binatang sebelum diberikan pada bayi. Infanrix memenuhi syarat WHO bagi pembuatan substansi biologi untuk vaksin dipteri dan tetanus .

Vaksin ini diberikan bagi bayi mulai usia 2 bulan selama 4 hingga 5 kali dosis suntikan yakni DPat 1 hingga DPaT 5. Tidak seperti vaksi DPwT yang ada sebelumnya yakni disuntikkan 3 kali, maka vaksin DPaT ini baru menghasilkan kadar antibodi di atas ambang antibodi pencegahan jika telah diberikan dosis penyuntikan hingga yang ke-lima.

Menurut Prof Sri, kehadiran vaksin bebas thiomersal dan tanpa badan utuh kuman ini mampu mengurangi efek samping KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi). Selain itu mengurangi kekhawatiran orang tua, meningkatkan minat orang tua, dan meningkatkan cakupan pemberantasan penyakit epidemiologi dipteri, pertusis, dan tetanus pada bayi di Indonesia. c11 ()

WAKEFIELD,NEEDLEMAN : BERKORBAN DEMI ILMU

http://www.autisme.or.id/berita/article.php?article_id=69

WAKEFIELD,NEEDLEMAN : BERKORBAN DEMI ILMU

NATIONAL AUTISM ASSOCIATION

Press release : June 15, 2006.
Persamaannya begitu mencolok tentang apa yang sedang terjadi saat ini dengan 30 tahun yang lalu. Seorang peneliti yang gigih mencari jawaban dan mempertanyaan keamanan dan effektivitas sebuah produk yang terkenal, menjadi bulan2an perusahaan raksasa.

Pada tahun tujuh puluhan, cat dan bensin yang dicampur timbal hitam adalah 2 produk yang terkenal. Suatu saat, seorang peneliti : Dr Herbert Needleman, melakukan studi tentang hubungan langsung antara kecerdasan anak dengan paparan timbal hitam.
Sebagai jawaban industri timbal hitam menyewa para ilmuwan yang “netral” untuk menuduh Needleman melakukan scientific misconduct dan mengadilinya.
Dikemudian hari salah seorang dari mereka mengaku telah dibayar oleh industri timbal.
Penelitian Needleman-lah yang menyebabkan dihapuskannya pemakaian timbal dalam cat dan bensin.

Tiga dekade kemudian Dr Andrew Wakefield mengalami hal yang sama. Ketika ia mengumumkan telah menemukan virus measles yang sama dengan yang disuntikkan liwat vaksin MMR dalam peradangan usus anak-anak autistik maka iapun langsung dituduh melakukan hal yang menyalahi ilmu. Ia diadili oleh para teman sejawat di negaranya dan bahkan dikeluarkan dari rumah sakit dimana ia bekerja.
Minggu yang lalu , sekali lagi penelitian Wakefield dibuktikan kebenarannya dengan penelitian serupa di Amerika dengan hasil yang sama.

Sebelumnya telah ada 2 penelitian di Amerika dengan hasil yang sama.

Dr Stephen Walker dari Wake Forest University School of Medicine, meneliti anak-anak dengan autisme regressif dan gangguan pencernaan. Dari hasil yang telah masuk sampai saat ini, semua ditemukan virus measles dengan jenis yang sama dengan vaksin MMR. Ia menemukan virus tersebut pada 87% anak-anak yang ditelitinya.
Belum ada tanggapan apapun dari pemerintahnya. Namun ia tidak mengalami nasib yang sama seperti Wakefield.
Kapan para dokter di Indonesia akan berani melakukan penelitian seperti ini ?(Red)

Imunisasi Anak Dan Penyakit Kronis

http://www.iwandarmansjah.web.id/medical.php?id=161

Medical Articles
Category: Safety Issues

Imunisasi Anak Dan Penyakit Kronis

Imunisasi Anak dan Hubungannya dengan Penyakit Kronis.

Dewasa ini banyak ibu di Indonesia dan seluruh dunia mempertanyakan berapa amankah imunisasi anak mereka terhadap risiko timbulnya penyakit kronis sebagai efek samping imunisasi itu.
Imunisasi pertama di dunia ditemukan untuk penyakit cacar yang telah membunuh jutaan orang di Eropa dan seluruh dunia. Malahan pertambahan penduduk Eropa telah dihambat oleh banyaknya korban penyakit tsb. Edward Jenner di tahun 1796 telah menggunakan cacar sapi sebagai bahan untuk menimbulkan imunitas pada manusia. Walaupun hasilnya telah nyata, diperlukan imunisasi masal untuk melenyapkan penyakit cacar itu dari bumi. Seratus tahun yang lalu masih tercatat 48.000 kasus cacar per tahun di Amerika Serikat. Hari ini tidak terdapat lagi cacar di dunia, sehingga tidak diperlukan lagi pencacaran di seluruh dunia, dan anda tidak perlu memiliki surat bukti cacar bila bepergian ke negara lain. Namun, diperlukan 200 tahun untuk mencapai hasil bebas cacar seperti ini.
Statistik di Amerika Serikat di tahun 2001 mencatat bahwa hanya terdapat 2 kasus difteri, tidak satu-pun poliomielitis paralitik, dan 116 kasus campak (measles). Sebelum ditemukan vaksin untuk penyakit-penyakit ini kejadiannya di Amerika ialah ratusan ribu per tahun. Keadaan ini juga diperoleh di negara maju lainnya. Jelas, imunisasi telah melindungi anak anda secara individu, mengurangi penyakit tsb di dalam masyarakat, dan menimbulkan imunitas dalam kelompok, sehingga menjalarnya penyakit dapat dihambat secara mencolok. Tujuan akhir suatu imunisasi ialah eliminasi total dari penyakit menular yang bersangkutan dan tidak perlunya lagi vaksinasi terhadapnya. Hanya terhadap cacar hal ini telah berhasil, setelah hampir 200 tahun Sekarang dibutuhkan vaksinasi 18 kali suntikan pada anak terhadap 12 penyakit menular pada usia sebelum 2 tahun. Ini membutuhkan biaya yang sangat besar bila hendak dilakukan pada seluruh penduduk. Pemerintah di negara berkembang jelas belum dapat mengalokasikan dana untuk itu, dan masyarakatnya masih harus mengeluarkan biaya dari kantong sendiri.
Di lain pihak, imunisasi membawa risiko, walaupun kecil. Suatu vaksin poliovirus oral yang bermutasi justru telah menimbulkan poliomielitis sendiri secara sporadik. Fenomen seperti ini selalu akan dijumpai bila program imunisasi dilakukan secara besar-besaran. Vaksinasi cacar juga pernah menimbulkan penyakit cacar sendiri. Ini adalah 2 contoh yang benar telah terjadi, dan merupakan kerugian yang nyata pada sebagian kecil anak. Di mata ilmuan kesehatan masyarakat dan Badan Kesehatan Dunia yang selalu berargumentasi bahwa “the benefits still outweigh the risks” sering membenarkan program vaksinasi pemerintah seperti itu. Argumen ini juga berlaku untuk evaluasi obat untuk dipasarkan yang sering salah kaprah. Malahan, bila rokok masih menguntungkan (uang) bagi pemerintah, tapi menimbulkan banyak kerugian hingga kematian, rokok-pun tidak dilarang. Namun, untuk suatu vaksin, manfaat yang diperoleh harus jauh lebih besar dari efek yang tidak diingini. Pertimbangan kebijakan seperti dengan rokok dan obat biasa-pun tidak boleh dilakukan.
Penyakit kronis tertentu bisa terjadi setelah vaksinasi.Tetapi karena penyakit itu sendiri memang bisa terjadi tanpa vaksinasi, sulit dibuktikan apakah benar vaksin penyebabnya. Hubungan antara beberapa penyakit kronis seperti autisme dan diabetes melitus tipe 1 (diabetes yang terjadi pada usia muda) telah menimbulkan pertanyaan dan perdebatan yang kontroversial dan sengit. Kejadian yang tidak diingini itu terfokus pada 3 jenis vaksin: yang memakai mikroba yang telah mati (killed vaccine), adjuvan yang sering dipakai dalam produksi vaksin, dan vaksin yang memakai virus hidup yang diperlemah (live virus vaccine).
Kejadian yang sering dilaporkan setelah vaksinasi difteri-tetanus-pertussis ialah: menangis berkepanjangan, demam, pergerakan anak berlebihan, dan kejang sewaktu demam. Hal ini terjadi sekitar 1%. Jenis acellular pertussis vaccine , yang sekarang dianjurkan, menimbulkan reaksi yang lebih hebat, seperti kejang berkepanjangan dan koma atau syok.
Komponen vaksin berisi zat2 organik seperti formalin, albumin manusia, protein telur, antibiotik, protein ragi, aluminium dan thimerosal (yang mengandung ethyl-mercury, suatu racun saraf). Reaksi alergik juga dapat terjadi oleh komponen organik ini. Walaupun reaksi yang tidak diingini ini terjadi dalam hubungan temporal (waktu) yang jelas (artinya, benar terjadi setelah vaksinasi, dan bukan sebelumnya), telah terjadi sanggahan ilmiah yang mengatakan bahwa komponen tsb dipakai dalam jumlah yang sangat kecil, sehingga dianggap aman dan disingkirkan sebagai penyebab autisme. Menurut saya, argumen ini mengandung kelemahan, karena jumlah yang kecil dari suatu zat racun bisa saja tidak menimbulkan tanda-tanda keracunan, tetapi bisa berperan sebagai inisiator kelainan khusus tertentu dalam terjadinya suatu penyakit. Kendati demikian, ketakutan orang tua terjadi luas di seluruh dunia. Studi epidemiologis tidak menemukan hubungan antara autism dan thimerosal. Mungkin akan dihasilkan studi baru di beberapa negeri maju, karena sejak tahun 2001 thimerosal telah tidak dipakai lagi di Amerika Serikat. Nanti akan dapat kita lihat apakah penghentian pemakaian thimerosal akan berakibat pengurangan kasus autism dalam beberapa tahun mendatang.
Poliovirus-hidup sangat efektif untuk mencegah kejadian polio di dunia, namun sekarang telah direkomendasikan virus-mati untuk polio. Vaksin virus-hidup untuk measles, mumps, dan rubella (terkenal dengan MMR) dapat mengubah respons imun tubuh dengan sangat kuat dan karenanya dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit autoimun, termasuk diabetes tipe 1, yang sekarang kejadiannya lebih frekuen. Dalam sumber jurnal yang sama telah dilaporkan suatu penelitian di Denmark yang memakai data anak yang lahir antara tahun 1990-2000, yang tidak menemukan hubungan antara vaksin hidup atau mati dengan diabetes tipe 1. Penelitian ini telah dianggap konklusif, sehingga penulis jurnal tersebut berharap tidak perlu dilakukan bukti penelitian lagi tentang hubungan imunisasi dan diabetes type 1. Peneliti mungkin perlu mengarahkan studi ke faktor lingkungan lainnya yang sekarang dicurigai berperan dalam timbulnya penyakit diabetes yang menimbulkan risiko penyakit lain (terutama penyakit jantung koroner dan infark) dan kematian yang sangat besar.

(Sumber: New England Journal of Medicine, 1 April 2004)

Dr. Iwan Darmansjah

Merkuri Bisa Menjadi Penyebab Autis

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=172886

Merkuri Bisa Menjadi Penyebab Autis

Sabtu, 12 Mei 2007
Ingat merkuri tentu ingat penyakit minamata. Seperti peristiwa yang terjadi pada kasus pencemaran Teluk Tokyo yang ditengarai sarat senyawa kimia merkuri. Pencemaran merkuri di kawasan itu berdampak mengerikan berupa munculnya penyakit minamata.

Di Indonesia pun ada kasus serupa walau diwarnai perdebatan. Teluk Buyat di Provinsi Sulawesi Utara ditengarai tercemar logam berat berupa merkuri. Kalangan LSM yang menyimpulkan hal tersebut. Tetapi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bantahan.

Riset di bidang kesehatan tentang merkuri tak melulu terkait dengan penyakit minamata. Sebuah riset terbaru memperlihatkan hubungan antara merkuri dengan autis yang kerap menerpa anak-anak.

Riset baru ini mungkin saja merupakan kabar gembira bagi para orangtua khususnya yang was-was tentang gejala autis. Sejauh ini tentu banyak hal sudah dilakukan berbagai pihak untuk mengatasi kelainan autis pada anak.

Paling tidak dari hal itu bisa menjadi cara untuk menghindar agar anak terbebas dari kemungkinan terkena autis. Laporan terkini tentang autis termuat dalam The Journal of Toxicology and Enviromental Health part A (2007). Hasil riset terkini tentang autis itu memang menyisakan keraguan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah terdapat hubungan kausal antara paparan merkuri dari pengawet thimerosal pada produk-produk vaksin dengan keracunan merkuri yang didiagnosis sebagai autism spectrum disorder (ASD).

Adalah Geier and Geier yang dalam jurnal tersebut menyatakan keraguan dalam penelitian tentang toksikologi orisinal. Geier and Geier menulis judul A Case Series of Children with Apparent Mercury Toxic Encephalopathies Manifesting with Clinical Symptoms of Regressive Autism Disorder.

Thimerosal merupakan senyawa merkuri toksik yang biasa digunakan sebagai pengawet pada beberapa obat bebas dan obat resep. Pengawet obat itu termasuk kebanyakan penggunaan pada suntikan flu yang diberikan kepada wanita hamil, bayi, anak-anak, dewasa dan usia lanjut.

Riset terkini Geire and Geire tersebut mulai mendapat dukungan. Sebut saja pada 19 April 2007, Kepala Organic Analitical Toxicology Branch Dr Larry L Needham menyatakan thimerosal termasuk senyawa kimia yang berkaitan dengan ASD. Needham mengatakan hal tersebut pada US National Academy of Sciences Institute of Medicine. Thimerosal dalam riset tersebut dinyatakan 49,55 persen merkuri berdasarkan berat.

Geier dan Geier (2007) menghasilkan pertama kalinya seri kasus pasien ASD yang telah dikonfirmasikan peranan pengawet obat thimerosal pada pasien-pasien yang didiagnosis ASD regresif. Sebagaimana dikutip situs resmi PT Kalbe Farma Tbk riset itu menggambarkan seri kasus dari 8 pasien yang mempunyai diagnosis ASD regresif, peningkatan kadar androgen, mengeluarkan sejumlah merkuri secara bermakna setelah pemberian obat pengelat, bukti biokimia penurunan fungsi dalam jalur glutation, tidak diketahui paparan merkuri yang bermakna selain dari pengawet vaksin thimerosal dan sediaan imunoglobulin Rho, dan penyebab alternatif ASD regresif mereka dikeluarkan

Studi klinis ini juga menemukan hubungan dosis-respons yang bermakna antara keparahan gejala ASD dan dosis merkuri total dari anak-anak yang menerima obat mengandung thimerosal.

Geier menyatakan pasien-pasien yang ditelitinya terpapar sejumlah merkuri dari obat yang mengandung thimerosal. Itu terjadi selama dalam kandungan dan perkembangan bayi ketika berusia 12-24 bulan. Semula anak-anak berkembang secara normal. Tetapi lama kelamaan menderita ensefalopatis akibat racun merkuri. Gejala itu tercermin dengan adanya gejala klinis konsisten pada diagnosis ASD regresif. Geier mengingatkan keracunan merkuri harus dipertimbangkan sebagai penyebab anak mengalami gejala ASD.

Untuk mengetahui adanya kemungkinan tersebut, setiap orangtua dapat dengan mudah meminta konfirmasi kepastian seorang anak autis non-khelat terkena racun merkuri. Kepastian tersebut dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan analisis profil porfirin urin (urinary porphyrin profile analysis/UPPA). Secara garis besar autis merupakan gangguan saat anak dalam masa perkembangan. Gangguan perkembangan pada anak ini mengakibatkan anak-anak sulit melakukan interaksi sosial. Akibatnya anak seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Gejala yang menimpa anak-anak tersebut sering disebut autis infantil.

Autis tentu berbeda dengan gangguan jiwa (schizophrenia) yang merupakan gejala pada seseorang yang membuatnya menarik diri dari dunia luar. Selanjutnya penderita schizophrenia menciptakan dunianya sendiri seperti tertawa, berbicara, menangis dan marah-marah sendiri. Schizophrenia disebabkan proses regresi karena penyakit jiwa. Adapun pada penyandang autis infantile terdapat kegagalan perkembangan.

Sejumlah kalangan mengemukakan pendapat orangtua sebaiknya mulai mengamati anak-anaknya saat berusia setahun. Terlebih bila frekuensi tatap mata sang anak sangat kurang. Anak juga tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non verbal. Gejala tersebut terutama terjadi pada autis infantil sebelum anak berusia tiga tahun.

Tak heran bila langkah lain yang diperlukan adalah perhatian orang tua terhadap anaknya yang menyandang autis. Perhatian ekstra dari para orangtua menjadi penting lantaran jumlah anak autis di Indonesia kian bertambah. Agar sembuh anak autis sebenarnya tak hanya butuh perhatian orangtua tetapi semua pihak di antaranya dokter, terapis, sekolah khusus, dan dukungan masyarakat luas. Namun khusus bagi orang tua tak perlu putus asa bila anaknya autis. Kasih sayang dan kesabaran orangtua bisa menjadi kunci untuk membantu serta memandirikan anak autis.

Harapan Sembuh

Riset temuan obat terkini menjadi harapan lain bagi para orangtua yang anaknya menderita autis. Pada Oktober 2006 misalnya badan pengawas obat Amerika Serikat atau FDA menyetujui penatalaksanaan pasien autis pada anak dan dewasa. Persetujuan itu juga mencakup pemakaian obat antipsikotik golongan atipik risperidone. Keputusan FDA tersebut dikeluarkan setelah ada dukungan pembuktian dari beberapa penelitian yang ditujukan pada pasien anak dengan autis.

Obat tersebut saat ini diketahui merupakan satu-satunya yang disetujui oleh FDA. Lembaga itu memberikan approval terhadap produk risperidone pada terapi iritabilitas yang berhubungan dengan autisme anak dan dewasa.

Persetujuan oleh FDA seperti dikutip situs Kalbe menyatakan beberapa penelitian yang pernah dilakukan terhadap risperidone antara lain pada 36 pasien anak usia 5 hingga 17 tahun dengan spectrum autis. Terapi risperidone tersebut untuk mengatasi kekacauan tingkah laku pada sebagian anak autis. Riset terapi risperidone juga pernah dilakukan terhadap orang autis dewasa. Menurut riset tersebut 57 persen pasien yang diterapi dengan risperidone memperlihatkan perbaikan.

Polemik

Riset yang dimuat dalam jurnal di atas sebenarnya sudah sejak lama menjadi polemik. Beda pendapat yang tajam itu mencakup vaksin dengan bahan pengawet thimerosal yang mengandung merkuri sebagai penyebab autis pada anak-anak.

Di beberapa komunitas dunia maya pun hal ini menjadi bahan diskusi yang hangat. Seorang anggota milis Honda Tiger misalnya menyatakan percaya terhadap isi buku Children with Starving Brains buah karya Jaquelyn McCandles MD.

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit PT Gramedia. Literatur tersebut juga menyinggung kaitan antara merkuri dengan penyakit autisme spectrum disorder.

Vaksin dengan kandungan thimerosal antara lain juga ditemukan dalam vaksin hepatitis B. Thimerosal yang terdiri dari etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom autisme spectrum disorder sudah menjadi perbincangan publik sejak awal 1990-an.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri sudah sejak 2001 melarang vaksin yang mengandung thimerosal. Fakta ini membuat masyarakat mulai khawatir jika harus memvaksin anaknya untuk berbagai keperluan pencegahan penyakit.

Ironisnya Badan Kesehatan Dunia atau WHO sendiri mengenyampingkan rasa khawatir masyarakat dunia. Sebuah komite di WHO yang melakukan pertemuan pada 7 Juni 2006 menyatakan tak ada bukti thimerosal terdapat pada vaksin. Hal yang sama juga dipaparkan dalam New England Journal of Medicine. Dalam jurnal tersebut dinyatakan tak ada kaitan antara vaksinasi dengan perkembangan autis. Barangkali yang harus diingat pendapat tersebut mengemuka tahun lalu. Sedangkan pada 2007 sudah ada riset terbaru. Tak ada salahnya untuk tetap waspada. (Mangku/ berbagai sumber)

Bahaya Vaksin

http://abuaqila-interactive.blogspot.com/2007/08/bahaya-vaksin.html

Bahaya Vaksin

(Artikel diambil dari milis-nakita)

Jum’at 2 Juli 2004, 1:09 PM. Oleh Oloche Samuel,Associated Press Writer. Daily News.

Penularan Polio Besar-Besaran Dilaporkan Terjadi di Nigeria. Di Kano,Nigeria Penularan penyakit Polio dalam skala besar, yang menjadi tanda tanya, dilaporkan hari Jum’at, telah menyerang anak2 di Nigeria Utara yg umumnya adalah penduduk Muslim. Mereka akhirnya memboikot kampanye imunisasi dan penguasa lokal menyerukan untuk sesegera mungkin menyetop imunisasi untuk mencegah penyebaran yg lebih luas.Penularan skala besar yang mencurigakan ini terjadi di Negara bagian Kano, salah satu dari beberapa daerah di Nigeria Utara yang diberikan vaksinasi polio yang merupakan vaksin-vaksin yang diberikan Amerika Serikat sebagai sumbangan untuk penduduk muslim, yg ternyata juga membuat anak-anak menjadi steril atau tidak akan mempunyai keturunan!

Pada hari Jum’at, pejabat lokal di Negara bagian Kano, Rogo mengungkap bahwa mereka telah merekam puluhan kasus polio yang mencurigakan dalam minggu-minggu terakhir. Rogo terletak 60 mil sebelah tenggara ibukota negara bagian, yg juga bernama Kano. Setiap 15 kecamatan di Rogo terlihat rata-rata memiliki 2 kasus, Nasril Dalha, Wakil ketua Dewan Kota menyatakan kepada Radio Independen Lokal. Semua kasus memperlihatkan gejala-gejala demam,lemas, kaku di bagian leher, dan rasa sakit di bagian persendian, yang semuanya berhubungan dengan polio, dimana beberapa diantara kasus tersebut telah menyebabkan kelumpuhan.

Dahla menyerukan agar Gubernur Negara Bagian Kano dan Pemerintahannya segera melakukan intervensi. ‘Jika ini tidak segera diatasi, saya khawatir akan lebih banyak lagi anak-anak yang terkena dampaknya.’ Ia menambahkan. WHO telah mengirimkan sebuah tim ke daerahtersebut untuk mengevaluasi penularan polio yang dilaporkan, demikian seorang pejabat WHO berkata hari Jum’at, membicarakan kondisi yang belum pasti diketahui. ‘Kecuali jika dilakukan beberapa pengujian, kita tidak dapat mengatakan bahwa itu polio.’ demikian dikatakan pejabat tsb.

Pada September 2004, Shekarau menunda keikut-sertaan program imunisasi global di berbagai lokasi, karena para ilmuwan lokal telah menemukan HORMON DALAM VAKSIN yg dibuat diluar negeri yang dikhawatirkan dapat MENYEBABKAN PARA PEREMPUAN MENJADI MANDUL.

Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang muslim dengan menggunakan vaksin. Sementara WHO bersikeras menyatakan bahwa vaksin itu aman, dan menyangkal bahwa program vaksinasi dapat menimbulkan kembali ancaman penyakit kelumpuhan.

Kano kemudian melanjutkan untuk menghindari vaksinasi setelah beberapa negara bagian ikut bersama-sama MEMBUAT KAMPANYE pada bulan Maret.

Apakah Berbagai Vaksin Menyebabkan Penyakit dari pada Menyembuhkan?

(Oleh Alan Cantwell, Jr., M.D.-Berbagai Eksperimen Vaksin Terselubung)

Memanfaatkan ANAK-ANAK MANUSIA SEBAGAI TIKUS PERCOBAAN dlm berbagai eksperimen pemberian vaksin yang berpotensi membahayakan anak tersebut, merupakan mimpi terburuk bagi para orang tua.Namun hal ini telah terjadi pada 1989-1991 ketika ‘Kaiser Permanente’ di Kalifornia Selatan dan Pusat-Pusat

Pengendalian Penyakit (CDC) lainnya bersama-sama melakukan eksperimen vaksin campak. Tanpa menyingkap apa yang sebenarnya terjadi kepada para orang tua, vaksin campak ‘High Titre’ buatan Yugoslavia Edmonton-Zagreb telah diuji coba pada 1.500 anak-anak miskin keturunan orang kulit hitam dan latin, dikota Los Angeles. Vaksin tersebut SANGAT DIREKOMENDASIKAN oleh WHO, vaksin yang juga sebelumnya diuji coba untuk disuntikkan kepada para bayi di Meksiko, Haiti,dan Afrika. Program itu tidak dilanjutkan ketika kemudian didapati BANYAK ANAK-ANAK MENINGGAL DUNIA DALAM JUMLAH BESAR.

Vaksin campak tersebut mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh anak-anak dalam waktu panjang selama 6 bulan sampai 3 tahun. Akibatnya anak-anak yg diberi vaksin mengalami penurunan kekebalan tubuh dan MENINGGAL DUNIA DALAM JUMLAH BESAR dari penyakit-penyakit lainnya, lebih banyak dari anak-anak yg tidak diberi vaksin. Lebih tragis lagi, bayi-bayi perempuan Afrika diberi dosis dua kali dari bayi laki-laki, karenanya bayi-bayi perempuan mengalami tingkat kematian yang lebih tinggi. WHO kemudian menarik vaksin-vaksin teersebut dari passar di tahun 1992. Ironis, vaksin campak E-Z yg diuji Kaiser yg seharusnya meningkatkan sistem kekebalan tubuh malah terjadi sebaliknya, yg justru menimbulkan effek penyakit. Tapi aneh, salah satu Editorial Times, LA 20 Juni 1996, menjamin para pembacanya bahwa ‘tidak ada satu pun dari 1.500 bayi cacat sebagai akibat vaksin yg tidak berlisensi’ dan menyebut Pusat Pengendali Penyakit (CDC) menjamin bahwa percobaan-percobaan vaksin campak E-Z tidak akan pernah terjadi lagi.

Seseorang mempertanyakan seberapa banyak rahasia dari eksperimen-eksperimen vaksin yg dilakukan para pejabat kesehatan yg ternyata tidak pernah diketahui masyarakat umum. Selama dua tahun eksperimen vaksin campak dilakukan, saya (Alan Cantwell) dipekerjakan oleh Kaiser dan saya tidak pernah tahu apapun mengenai percobaan itu hingga saya membacanya dalam laporan Times 5 tahun kemudian, di tahun 1996.

Di kota-kota seluruh negeri JUMLAH KASUS PENYAKIT ASMA TIBA-TIBA MELEDAK dan para pejabat keseehatan tidak tahu mengapa itu terjadi.. Menurut CDC, 5000 penderita Asma MENINGGAL DUNIA setiap tahunnya, dan diperkirakan 17,3 JUTA ORANG (4,8 juta diantaranya anak-anak) MENDERITA PENYAKIT ITU, meningkat dari 6,7 juta penderitaditahun 1980. Asma biasanya mulai menyerang pada usia dibawah 6 tahun, dan orang hitam biasanya 2 sampai 3 kali lebih banyak cenderung meninggal dunia dibandingkan penduduk berkulit putih. Di wilayah Bronx dan Harlem di New York, tingkat perawatan rumah sakit utk penyakit asma 21 kali lebih tinggi dari pada daerah-daerah lain yg terserang di New York.

Dapatkah peningkatan penyakit asma secara tajam di kalangan anak-anak hitam berkaitan dengan kerusakan kekebalan tubuh yg disebabkan serangan vaksin-vaksin? Para pejabat tidak pernah mengangkat ke permukaan keterkaitan antara kerusakan kekebalan tubuh akibat vaksin dengan berbagai penyakit seperti asma.

Dengan berbagai eksperimen vaksin yg sering dilakukan di Afrika dan sekarang terhadap orang kulit hitam Amerika, tidak heran jika satu dari empat orang amerika keturunan Afrika percaya bahwa AIDS sengaja dikembangkan sebagai upaya pemerintah amerika serikat untuk pembersiha etnik, khususnya menghabiskan penduduk berkulit hitam. Tapi percobaan-percobaan vaksin di tahun 1990-an tidak hanya terbatas pada orang hitam. JUTAAN PEREMPUAN MEKSIKO, NIKARAGUA, dan FILIPINA TELAH MENJADI KORBAN PENIPUAN yg HARUS MENGIKUTI PROGRAM VAKSIN TETANUS, dimana beberapa diantaranya diisi hormon perempuan yg dapat menyebabkan KEGUGURAN PADA IBU HAMIL DAN KEMANDULAN.

Di tahun 1995 sebuah organisasi hak asazi manusia katolik yang disebut Kehidupan Manusia Internasional (Human Life International) menuduh WHO telah mempromosikan vaksin tetanus buatan Kanada yang ditambahkan hormon kehamilan yang disebut ‘human choriogonadotropic hormone (HCG). Kecurigaan semakin meningkat ketika vaksin tetanus ditulis dalam resep yang tidak wajar yakni lima kali lebih banyak dengan suntikan dalam waktu 3 bulan, dan hanya direkomendasikan untuk perempuan diusia produktif.

Ketika sejumlah perempuan diluar normal mengalami perdarahan dan keguguran setelah mendapat suntikan, sebuah hormon tambahan dituding sebagai penyebabnya. Lalu Tiba tiba WHO melakukan percobaan vaksin anti kemandulan selama lebih dari 20 tahun. Perempuan-perempuan yang mendapat suntikan tetanus yang ditambahkan hormon bukan hanya mengembangkan antibody terhadap tetanus, tetapi juga mengembangkan antibody yang membahayakan bagi hormon kehamilan. Tanpa hormon HCG ini pertumbuhan janin akan terganggu. Akibatnya vaksin yang diberi tambahan diberikan sebagai alat kontrasepsi terselubung. Kemudian WHO menyangkal semua tuduhan itu sebagai ‘tuduhan tak berdasar yang sama sekali tidak benar’, dan SEBAGIAN BESAR MEDIA TIDAK PERNAH MEMBERITAKANNYA SEBAGAI SEBUAH KONTROVERSI. Untuk mengetahui isu ini secara lebih rinci, dapat berkonsultasi dengan situs internet Human Life International (www.hli.org).

Bukti terbaru pengujian vaksin menunjukkan resiko yang serius. Pada oktober 1999 sebuah vaksin untuk melawan infeksi ‘rotavirus’ (yg menyebabkan mayoritas kasus diare pada anak-anak) ditarik dari pasaran. Satu tahun setelah vaksin Rotashield disuntikkan kepada lebih dari satu juta bayi, ternyata dapat meningkatkan resiko gangguan perut (pencernaan). Hampir 100 kasus gangguan pencernaan dilaporkan ke pemerintah, dan 20 bayi terkena gangguan pencernaan dalam waktu satu atau dua minggu setelah mendapat vaksin.

Cacar

16 Desember 2002, menteri kesehatan dan pelayanan Masyarakat Amerika, Tommy G. Thompson menyatakan bahwa ia tidak merencanakan untuk memberi suntikan vaksin cacar, dan ia MEREKOMENDASIKAN kepada anggota kabinet lainnya untuk TIDAK MEMINTA PELAKSANAAN PENYUNTIKAN VAKSIN ITU. ‘Sejak vaksinasi secara massal diterapkan pada jutaan bayi, banyak dilaporkan BERBAGAI GANGGUAN SERIUS PADA OTAK,JANTUNG, SISTEM METABOLISME, DAN GANGGUAN LAIN MULAI MENGISI HALAMAN-HALAMAN JURNAL KESEHATAN.’. Kenyataannya vaksin untuk janin telah digunakan untuk memasukkan encephalomyelitis, dengan indikasi terjadinya pembengkakan otak dan perdarahan di dalam. (diambil dari pernyataan Viera Scheibner, PhD)

Vaksin Hepatitis B dan Diabetes

Bart Classen, seorang dokter dari Maryland, menerbitkan data yang memperlihatkan bahwa tingkat penyakit diabetes berkembang secara signifikan di Selandia Baru mengikuti kampanye vaksin hepatitis B secara massal di kalangan anak-anak, dan tingkat penyakit diabetes ini naik secara tajam di Finlandia setelah 3 vaksin anak-anak diperkenalkan.

Thimerosal

Para anggota kongres menerapkan denda tindakan kriminal untuk institusi pemerintah yang mengetahui tentang bahaya thimerosal dalam vaksin dan tidak melakukan langkah apapun untuk melindungi anak-anak Amerika. Anggota Kongres Dan Burton (R-Indiana) selama dengar pendapat di Kongres berkata: ‘Anda bermaksud menggatakan pada saya bahwa sejak 1929 kita telah menggunakan thimerosal, dan satu-satunya pengujian yang anda tahu adalah dari tahun 1929, dan SETIAP ORANG TERKENA MENINGITIS DAN MEREKA SEMUA MENINGGAL DUNIA?’ Selama hampir satu jam Burton berulang kali bertanya pada pejabat FDA dan CDC mengenai apa yang mereka ketahui dan kapan mereka mengetahuinya.

Thimerosal berisi tambahan MERCURY yang disebut ethyl mercury. Mercury adalah zat racun logam yang dapat menyebabkan disfungsi (tidak berfungsinya) kekebalan tubuh, saraf-saraf sensorik, motorik dalam berperilaku. FDA menyebutkan bahwa beberapa bayi sangat tergantung pada vaksin yang mereka dapatkan dan kapan vaksin itu diberikan, dapat memacu berkembangnya ethyl mercury diluar standar yang ditetapkan pemerintah federal, seberapa besar toleransi ethyl mercury masuk kedalam tubuh. Gejala-gejala keracunan mercury pada anak balita adalah sama persis dengan gejala pada AUTISME. Hal ini dapat menjelaskan mengapa baru-baru ini TERJADI PENINGKATAN JUMLAH ANAK YANG DIDIAGNOSA MENDERITA AUTISME SEJAK AWAL 1990-an. Semakin banyaknya anak-anak yang didiagnosa menderita autisme tampaknya MEMILIKI KORELASI DENGAN adanya rekomendasi baik untuk mendapatkan VAKSIN HEPATITIS B dan VAKSIN HIB kepada bayi-bayi diawal 1990-an. Autisme adalah tidak berfungsinya sistem syaraf ditandai dengan gangguan saat berbahasa, perkembangan kognitif (pengetahuan), dan perkembangan sosial.

Peraturan yang Mengharuskan Vaksinasi- 23 Mei 2002

Peraturan Darurat untuk yang Berwenang di Bidang Kesehatan baru diperkenalkan di negara bagian kedua, Winconsin, dan hukum itu SUDAH DITERAPKAN DI KENTUCKY. Peraturan ini juga dipertimbangkan untuk diterapkan di 48 Negara bagian lainnya. Menurut hukum di Winconsin, bagi yang menolak gerakan vaksinasi akan dikenakan denda $ 10.000 dan atau 9 bulan kurungan penjara

http://www.shirleys-wellness-cafe.com/vaccines.htm#ethnic_cleansing

Artikel-artikel tersebut hanya SALAH SATU DARI RATUSAN ARTIKEL SERUPA yang menunjukkan kemungkinan KAITAN WHO dalam BERBAGAI PENYAKIT MISTERIUS yg muncul MENGIKUTI PROGRAM-PROGRAM VAKSINASI. Anda tidak percaya? Bagus. Tidak boleh percaya begitu saja. Terlalu banyak Fitnah dan kebohongan didunia saat ini. Tapi cari tahulah segera.kalau anda tidak mencari tahu dengan informasi yang banyak dari berbagai sumber serta memilih yg ‘benar2 anda jamin sendiri’ kebenarannya, lalu mengikuti ‘sesuatu yang anda tidak tahu menahu tentangnya’, apalagi yg ber-resiko besar bagi diri anda sendiri, keluarga

Autisme

http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme

Autisme
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Autisme diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan neuro yang menyebabkan interaksi sosial yang tidak normal, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap. Autisme bisa terdeteksi pada anak berumur paling sedikit 1 tahun. Autisme empat kali lebih banyak menyerang anak laki-laki dari pada anak perempuan.

Tanda – tanda Autisme

* – tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari
* – hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata
* – mata yang tidak jernih atau tidak bersinar
* – tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang lain
* – hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu saja yang dia mainkan)
* – serasa dia punya dunianya sendiri
* – tidak suka berbicara dengan orang lain
* – tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain

Penyebab Autisme Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti. Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan yang lainnya mengenai hal ini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B yang termasuk dalam MMR (Mumps, Measles dan Rubella )bisa berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder. Tapi hal ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Hal ini berdebatkan karena tidak adanya bukti yang kuat bahwa imunisasi ini penyebab dari autisme, tetapi imunisasi ini diperkirakan ada hubungannya dengan Autisme.

Vaksin penyebab Autis (email dari seorang Ibu)

http://kumis-kucing.blogspot.com/2005/07/vaksin-penyebab-autis-email-dari.html

Friday, July 08, 2005
Vaksin penyebab Autis (email dari seorang Ibu)

Buat para Pasangan MUDA. om dan tante yang punya keponakan… atau bahkan calon ibu … perlu nih dibaca tentang autisme.. Bisa di share kepada yang masih punya anak kecil supaya berhati-hati…….. Setelah kesibukan yang menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku “Children with Starving Brains” karangan Jaquelyn McCandless,MD yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo.

Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000,- itu benar-benar membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum Disorder.

Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya menangis. Selama 6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001 -
Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin HiB. Menurut buku tersebut (halaman 54 – 55) ternyata dua macam vaksin yang diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990 an.

Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak akir tahun 2001. Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun, dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumahsakit besar yang bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan harapan memperoleh treatment yang terbaik, ternyata malah “diracuni” oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi.

Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang gluten dan casein, harus terapi ABA, Okupasi, dan nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat besar biayanya.

Saya hanya ingin menghimbau para dokter anak di Indonesia, para pejabat di Departemen Kesehatan, tolonglah baca buku tersebut di atas itu, dan tolong musnahkan semua vaksin yang masih mengandung Thimerosal. Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak habis di Amerika Serikat tersebut diekspor dengan harga murah ke Indonesia dan dikampanyekan sampai ke puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin Hepatitis B, yang sekarang sedang giat-giatnya dikampanyekan sampai ke pedesaan.

Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal.

Juga tolong e-mail ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang tua, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya. Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu generasi anak-anak penerus bangsa, apalagi jika mereka datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah yang untuk makan saja sulit apalagi untuk membiayai biaya terapi supplemen, terapi ABA, Okupasi, dokter ahli Autisme (yang daftar tunggunya sampai berbulan-bulan), yang besarnya sampai jutaaan Rupiah perbulannya.

Terakhir, mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan ribuan teman- teman senasibnya di Indonesia yang sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari belenggu Autisme.

“Let’s share with others… Show them that WE care!”

KEKHAWATIRAN TERHADAP THIMEROSAL DAN AUTISME

http://puterakembara.org/rm/Alergi5.shtml

KEKHAWATIRAN TERHADAP THIMEROSAL DAN AUTISME

oleh: dr. Widodo Judarwanto, Rumah Sakit Bunda Jakarta

Dari waktu ke waktu jumlah penyandang spektrum autisme tampaknya semakin meningkat pesat. Autisme seolah-olah mewabah ke berbagai belahan dunia. Di beberapa negara terdapat kenaikan angka kejadian penderita Autisme yang cukup tajam. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para pakar kesehatan di dunia .

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 60.000 � 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan angka kejadian autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak

Kontroversi yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan autisme dengan imunisasi anak. Banyak orang tua menolak imunisasi karena mendapatkan informasi bahwa beberapa jenis imunisasi khususnya beberapa kandungan di dalam imunisasi seperti Thimerosal dapat mengakibatkan autisme. Akibatnya anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru yang lebih berbahaya seperti hepatitis B, Difteri, Tetanus, pertusis, TBC dan sebagainya. Banyak penelitian yang dilakukan secara luas ternyata membuktikan bahwa autism tidak berkaitan dengan thimerosal. Tetapi memang terdapat teori atau kesaksian yang menunjukkan bahwa Autisme dan berhubungan dengan thimerosal.

Thimerosal atau thiomersal adalah senyawa merkuri organik atau dikenal sebagai sodium etilmerkuri thiosalisilat, yang mengandung 49,6% merkuri. Bahan ini digunakan sejak tahun 1930, sebagai bahan pengawet dan stabilizer dalam vaksin, produk biologis atau produk farmasi lainnya. Thimerosal yang merupakan derivat dari etilmerkuri, sangat efektif dalam membunuh bakteri dan jamur dan mencegah kontaminasi bakteri terutama pada kemasan vaksin multidosis yang telah terbuka. Selain sebagai bahan pengawet, thimerosal juga digunakan sebagai agen inaktivasi pada pembuatan beberapa vaksin, seperti pertusis aseluler atau pertusis �whole-cell�. Food and Drug Administration (FDA) menetapkan peraturan penggunaan thimerosal sebagai bahan pengawet vaksin yang multidosis untuk mencegah bakteri dan jamur. Vaksin tunggal tidak memerlukan bahan pengawet. Pada dosis tinggi, merkuri dan metabolitnya seperti etilmerkuri dan metilmerkuri bersifat nefrotoksis dan neurutoksis. Senyawa merkuri ini mudah sekali menembus sawar darah otak, dan dapat merusak otak.

Pendapat yang mendukung autism berkaitan dengan imunisasi :
Terdapat dan beberapa teori, penelitian dan kesaksian yang mengungkapkan Autisme mungkin berhubungan dengan imunisasi yang mengandung Thimerosal. Toksisitas merkuri pertama kali dilaporkan tahun 1960 di Minamata Jepang. Konsumsi ikan laut yang tercemari limbah industri, sehingga kadar merkuri yang dikandung ikan laut tersebut mencapai 11 mcg/kg dan kerang 36 mcg/kg (batas toleransi kontaminasi sekitar 1 mcg/kg). Pada binatang yang dilakukan pada binatang ditemukan efek neurotoksik etilmerkuri dan metil merkuri, ditemukan kadarnya di dalam otak cukup tinggi pada metil merkuri. Hal ini menunjukkan bahwa merkuri dapat menembus sawar darah otak.

Saline Bernard adalah perawat dan juga orang tua dari seorang penderita Autisme bersama beberapa orang tua penderita Autisme lainnya melakukan pengamatan terhadap imunisasi merkuri. Kemudian mereka bersaksi di depan US House of Representatif (MPR Amerika) bahwa gejala yang diperlihatkan anak autisme hampir sama dengan gejala keracunan merkuri.

Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autisme disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi. Sedangkan beberapa orang tua penderita autisme di Indonesiapun berkesaksian bahwa anaknya terkena autisme setelah diberi imunisasi

Pendapat yang menentang bahwa imunisasi menyebabkan autisme
Sedangkan penelitian yang mengungkapkan bahwa Thimerosal tidak mengakibatkan Autisme lebih banyak lagi dan lebih sistematis. Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2000 anak dengan autisme. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitisme secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita Autisme malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian Thimerazol dengan Autisme.
Eto, 2000 mengatakan bahwa manifestasi klinis autisme sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Aschner, 2002 melaporkan tidk terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak autismo. Kedua hal inilah yang membantah penelitian yang dilakukan Saline Benard dkk.
Pichichero, 2002 melakukan pnelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksi yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dolakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja.

Stehr-Green P dari Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi Thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian Thimerosal pada Autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa Thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan).
Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak pertahun didapatkan 440 kasus autisme. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pmeberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autisme.

Rekomendasi Institusi atau Badan kesehatan Dunia
Beberapa badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme.
The American Academy of Pediatrics (AAP), berdasarkan data the Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) pada tanggal 16 Mei 2003, mengungkapkan bahwa tidak ada data ilmiah yang menunjukkan hubungan antara Thimerosal dengan penyakit kelianan nerurologi (saraf) termasuk autisme.
CDC (Center for Disease Control and Prevention atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) Atlanta, Amerika Serikat pada bulan November 2003, berdasarkan Vaccine Safety Datalink (VSD) mengeluarkan rekomendasi bahwa penggunaan thimerosal di dalam vaksin tidak berkaitan dengan gangguan autisme atau gangguan neurodevelopment lainnya.

WHO, dalam rekomendasinya yang terakhir pada bulan Agustus 2003 tetap menetapkan bahwa imunisasi yang mengandung Thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya Autisme. Kandungan yang ada di dalam vaksin adalah etilmerkuri bukan metilmerkuri. Etilmerkuri hanya mempunyai paruh waktu singkat di dalam tubuh, sekitar 1,5 jam, selanjutnya akan dibuang melalui saluran cerna. Sedangkan metilmerkuri lebih lama berada di dalam tubuh.

Bagaimana sikap kita sebaiknya ?
Bila menyimak dan mendengar kontroversi tersebut tanpa memahami dengan jelas, maka masyarakat awam bahkan beberapa klinisipun jadi bingung. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya autisme berhubungan dengan thimerosal, mungkin benar sebagai pemicu. Secara umum penderita autisme sudah mempunyai kelainan genetik (bawaan), biologis dan metabolisme tubuh sejak awal. Hal ini dibuktikan bahwa genetik tertentu sudah hampir dapat diidentifikasi, terdapat kelainan metabolisme dan penelitian terdapat kelainan otak sebelum dilakukan imunisasi. Kelainan autisme ini bisa dipicu oleh bermacam hal seperti imunisasi, alergi makanan, logam berat dan sebagainya. Jadi bukan hanya imunisasi yang dapat memicu timbulnya autisme.

Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan autism hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi) autism. Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.

Bila terpengaruh oleh pendapat yang mendukung keterkaitan autisme dan imunisasi tanpa melihat fakta penelitian lainnya yang lebih jelas, maka kita akan mengabaikan imunisasi dengan segala akibatnya yang jauh lebih berbahaya pada anak. Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentang thimerosal tidak mengakibatkan autisme secara epidemiologis lebih bisa dipercaya untuk menunjukkan sebab akibat. Sedangkan laporan beberapa penelitian dan kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna dan dalam populasi yang sempit secara umum hanya menunjukan kemungkinan hubungan tidak menunjukkan sebab akibat. Beberapa institusi atau badan kesehatan dunia yang bergengsi pun telah mengeluarkan rekomendasi untuk tetap meneruskan pemberian imunisasi MMR. Hal ini juga menambah keyakinan kita bahwa memang Thimerosal dalam vaksin memang benar aman.

Kontroversi kandungan thimerosal di dalam vaksin yang dapat mengakibatkan autsme terus bergulir. Kita harus lebih mencermati beberapa pendapat yang mendukung dan menentang tersebut. Walaupun paparan merkuri terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autisme. Peristiwa tersebut mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Metallothionein merupakan suatu rantai polipeptida liner tediri dari 61-68 asam amino, kaya sistein dan memiliki kemampuan untuk mengikat logam. Beberapa penelitian anak autisme tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan metabolisme metalotionin. Gangguan metabolisme tersebut dapat mengakibatkan gangguan ekskresi (pengeluaran) logam berat (merkuri dll) dari tubuh anak autisme. Gangguan itu mengakibatkan peningkatan logam berat dalam tubuh yang dapat mengganggu otak, meskipun anak tersebut menerima merkuri dalam batas yang masih ditoleransi. WHO (Worls Health Organization), FDA (Food and Drug Administration), EPA (US Enviromental Protection Agency), dan ATSDR US Agency for Toxis Substances and Disease Registry) mengeluarkan rekomendasi tentang batasan paparan metilmerkuri yang masih bisa ditoleransi antara 0,1 � 0,47 ug/kg berat badan/hari..

Pada anak sehat bila menerima merkuri dalam batas toleransi, tidak mengakibatkan gangguan. Melalui metabolisme metalotionin pada tubuh anak, logam berat tersebut dapat dikeluarkan oleh tubuh. Tetapi pada anak Autisme terjadi gangguan metabolisme metalotionin.Kejadian itulah yang menunjukkan bahwa imunisasi yang mengandung thimerosal harus diwaspadai pada anak yang beresiko autisme, tetapi tidak perlu dikawatirkan pada anak normal lainnya. FDA menetapkan peraturan penggunaan thimerosal sebagai bahan pengawet vaksin yang multidosis untuk mencegah bakteri dan jamur. Vaksin tunggal tidak memerlukan bahan pengawet.

Dari beberapa hal tersebut diatas, tampaknya dapat disimpulkan bahwa Timerosal tidak mengakibatkan Autisme, bila anak kita sehat dan tidak berbakat autisme. Tetapi diduga imunisasi dapat memicu memperberat timbulnya gangguan perilaku pada anak yang sudah mempunya bakat autisme secara genetik sejak lahir. Penelitian atau pendapat beberapa kasus yang mendukung keterkaitan autisme dengan imunisasi, tidak boleh diabaikan bergitu saja. Meskipun laporan penelitian yang mendukung hubungan Autisme dan imunisasi hanya dalam populasi kecil atau bahkan laporan perkasus anak autisme. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada bila anak kita sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan perkembangan atau perilaku sejak dini, memang sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi Thimerosal harus berkonsulasi dahulu dengan dokter anak. Bila anak kita sudah dicurigai ditemukan bakat kelainan Autism sejak dini atau beresiko terjadi autisme, mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi yang mengandung thimerosal sebelum dipastikan diagnosis Autisme dapat disingkirkan. Meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat Autisme bukan hanya imunisasi. Dalam hal seperti ini kita harus memahami dengan baik resiko, tanda dan gejala autisme sejak dini. Tetapi bila anak kita tidak beresiko atau tidak menunjukkan tanda tanda dini terjadinya autisme maka kita tidak perlu kawatir untuk mendapatkan imunisasi tersebut. Kekawatiran terhadap imunisasi tanpa didasari pemahaman yang baik, akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru pada anak kita. Dengan menghindari imunisasi maka akan timbul permasalahan baru yang lebih berbahaya dan mengancam jiwa, bila anak terkena infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Artikel sebelumnya: ” Kapan terapi anak autis dapat disebut “mengalami kemajuan”? – Penjelasan dari Dr. Hardiono D Pusponegoro”

Artikel berikutnya ” Menyikapi Kontroversi Autisme dan Imunisasi MMR- Kiriman artikel kedua dr. Widodo Judarwanto”

Autisme menurun setelah merkuri dikeluarkan dari vaksin

Autisme menurun setelah merkuri dikeluarkan dari vaksin
09.03.2006

http://www.autisme.or.id/berita/article.php?article_id=63

Para peneliti independen memakai database pemerintah untuk menganalisa laporan mengenai gangguan saraf pada anak, termasuk autisme, sebelum dan sesudah thimerosal dibuang dari vaksin anak.
David A. Geier BA dan Mark Geier MD PhD, menulis : “Early Downward Trends in Neurodevelopmental Disorders Following Removal of Thimerosal-containg Vaccines”
Data tulisan itu diambil dari VAERS ( Vaccine Adverse Event Reporting System) dan CDDS ( California Department of Developmental Services).

California melaporkan kejadian autisme ada 800 pada bulan Mei 2003. Kalau peningkatan ini berlanjut, maka diperkirakan bahwa angka tersebut akan meningkat lagi sampai lebih dari 1000 pada permulaan 2006. Namun Geiers melaporkan, bahwa angka itu justru menurun sampai 620, penurunan 22 %.

Analisa ini mematahkan rekomendasi dari IOM (Institute of Medicine) yang berbunyi :
IOM menyatakan bahwa bukti2 yang ada menyebabkan penolakan dari adanya hubungan antara thimerosal dan autisme, bahwa hubungan seperti itu tidak mungkin terjadi secara biologis. Karena itu penelitian tentang hal ini tidak perlu dilanjutkan.

Dengan makin banyaknya vaksin yang diberikan pada anak-anak, dosis thimerosal meningkat, sehingga penumpukan dosis tersebut melebihi dosis keracunan yang telah ditetapkan oleh beberapa badan dalam pemerintah. Merkuri diketahui merusak sel otak pada dosis yang sangat rendahpun.

Sampai tahun 1989 anak prasekolah hanya mendapatkan 3 jenis vaksin , yaitu polio, DPT dan MMR. Tahun 1999 vaksin yang direkomendasikan pada anak pra-sekolah meningkat sampai 22 vaksin yang diberikan sebelum anak mencapai kelas 1 SD. Yang berat adalah pemberian vaksin hepatitis B yang diberikan pada anak 24 jam setelah lahir. Kebanyakan vaksin ini mengandung merkuri.
Jumlah kumulatif merkuri yang diberikan pada anak mencapai 187 kali lebih dari limit yang ditetapkan oleh EPA (Environmental Protection Agency).

Antara tahun 1989 dan 2003 terdapat ledakan autisme. Insidensi autisme dan gangguan saraf lain meningkat dari 1:2500 sampai 1:166. Saat ini lebih dari setengah juta anak di Amerika menderita autisme. Gangguan ini membuat panic para keluarga.

Tahun 1999 atas rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) dan US PHS (Public Health Service) thimerosal dikeluarkan dari vaksin anak.

Geiers menyimpulkan bahwa merkuri tetap merupakan hal yang harus diwaspadai oleh karena masih saja dimasukkan sebagai pengawet pada vaksin2 seperti vaksin flu yang diberikan pada anak2 di Amerika, begitu juga pada vaksin tetanus-diphteri dan tetanus monovalen..

Mothers Battle Autism

http://www2.oprah.com/tows/slide/200709/20070918/slide_20070918_350_101.jhtml

Mothers Battle Autism

If your child stopped speaking, wouldn’t look you in the eye and completely ignored the world around them, what would you do? In her new book, Louder Than Words: A Mother’s Journey in Healing Autism, actress Jenny McCarthy shares her emotional story of diagnosis, hope, faith and recovery—a journey many thousands of parents now face.

In 2002, Jenny gave birth to a beautiful baby boy she named Evan. As an infant, Evan was full of life, making eye contact and smiling, but soon things started to change. “God was giving me many hints about my son, and I didn’t quite see them,” she says. “So I know that he had to wake me up with two really big ones.”

Jenny says the first of those “big hints” came on a typical morning when Evan was 2 1/2 years old. When Evan, who usually got up at 7 a.m., wasn’t stirring by 7:45 a.m. Jenny knew something was wrong. She ran to the nursery. “I open the door and run to his crib and I find him in his crib, convulsing, struggling to breathe, his eyeballs rolled to the back of his head,” she says. “I picked him up and I started screaming at the top of my lungs … the paramedics came, and it took about 20 minutes for the seizure to stop.”

When they arrived at the hospital, Jenny says doctors told her that her son had a febrile seizure, caused by a fever. “I said to the doctor, ‘Well, you know, he doesn’t really have a fever, so how does that play in this scenario?’” Jenny says. “[The doctor said], ‘Well, he could have been getting one.’ That was the response I got. … I went home with my baby going, ‘You know what? Something’s wrong and I don’t know what it is, but I feel it.”

Vaksin antara Ya dan Tidak

http://www.halalmui.or.id/?module=article⊂=article&act=view&id=130

Vaksin antara Ya dan Tidak

Alasan pertama; yang sering diungkapkan diungkapkan adalah tujuan dan filosofi imunisasi itu sendiri. Kaum naturalis menilai bahwa secara alamiah tubuh manusia sudah memiliki mekanisme pembentukan kekebalan sendiri yang mampu mencegah berbagai penyakit. Penggunaan vaksin justru bisa menimbulkan efek samping yang membahayakan si anak, antara lain mereka akan rentan dan lebih mudah terkena penyakit lain.

Masalah lain yang sering menjadi alasan penolakan adalah penggunaan bahan-bahan dalam proses pembuatan vaksin yang memang tidak sepenuhnya halal. Dalam proses pembuatan vaksin tersebut banyak melibatkan bahan penolong atau media yang bersumber dari zat-zat yang haram atau subhat. Masalah inilah yang lebih rasional dan semestinya dilakukan kajian mendalam. Kalau memang harus dilakukan imunisasi menggunakan vaksin, maka sebaiknya ia diproduksi secara halal dengan bahan baku, bahan penolong dan media yang benar-benar halal.

Tidak Sepenuhnya Halal

Sampai saat ini diakui oleh pakar kedokteran dan produsen obat bahwa proses pembuatan dan produksi vaksin ini tidak sepenuhnya halal. Misalnya penggunaan media tumbuh dalam proses produksi virus yang dilemahkan yang menggunakan media dari ginjal gera, ginjal babi, bahkan juga janin manusia yang digugurkan. Selain itu pada tahapan tertentu dalam proses produksi vaksin juga digunakan enzim tripsin yang bisa bersumber dari babi.

Sebagai contoh dalam proses pembuatan Vaksin Polio Inaktif (IVP), Virus Polio dikembangbiakkan menggunakan sel vero (berasal dari ginjal kera) sebagai media. Proses produksi vaksin ini melalui tahapan sebagai berikut:
1. Penyiapan medium (sel vero) untuk pengembangbiakan virus
2. Penanaman/inokulasi virus
3. Pemanenan virus
4. Pemurnian virus
5. Inaktivasi/atenuasi virus

Penyiapan media (sel vero) untuk pengembangbiakan virus dilakukan dengan menggunakan mikrokarier, yaitu bahan pembawa yang akan mengikat sel tersebut. Bahan tersebut adalah N,N diethyl amino ethyl (DEAE). Pada proses selanjutnya sel vero ini harus dilepaskan dari mikrokarier menggunakan enzim tripsin yang berasal dari babi.

Tahap selanjutnya adalah pembuangan larutan nutrisi. Hal ini dilakukan dengan proses pencucian menggunakan larutan PBS buffer. Larutan ini kemudian dinetralkan dengan menggunakan larutan serum anak sapi (calf serum). Larutan yang tidak digunakan tersebut dibuang atau menjadi produk samping yang digunakan untuk keperluan lain.

Sel-sel vero yang sudah dimurnikan dan dinetralisasi itu kemudian ditambahkan mikrokarier yang baru dan ditempatkan di bioreactor yang lebih besar. Di dalamnya ditambahkan zat nutrisi yang sedikit berbeda untuk menumbuhkan sel vero dalam jumlah yang lebih besar. Sel vero yang sudah bertambah jumlahnya ini kemudian dilepaskan lagi dari mikrokariernya dengan tripsin babi lagi. Proses ini berlangsung secara berulang-ulang sampai dihasilkan sel vero dalam jumlah yang diinginkan.

Titik kritis ditinjau dari sudut kehalalan dalam pembuatan sel vero ini adalah penggunaan enzim tripsin. Tripsin digunakan dalam proses pembuatan vaksin sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisahan sel / protein). Tripsin dipakai dalam proses produksi OPV (Oral Polio Vaccine) dan IPV (Inactivated Polio Vaccine). Masalahnya, enzim tripsin ini merupakan unsur derivat (turunan) dari pankreas babi.

Sebenarnya dalam setiap tahapan amplifikasi sel, tripsin harus dicuci bersih oleh karena Tripsin akan menyebabkan gangguan pada saat sel vero menempel pada mikrokarier. Hal ini menyebabkan produk akhir vaksin yang dihasilkan tidak akan terdeteksi lagi unsur babinya. Namun karena digunakan sebagai bahan penolong dalam proses pembuatannya, inilah yang memerlukan kejelasan status kehalalannya.

Tahap selanjutnya dalam proses pembuatan vaksin ini adalah perbiakan sel vero menjadi produk bulk yang siap digunakan. Dalam tahap ini dilakukan proses amplifikasi (pembiakan sel dengan mikrokarier), pencucian sel vero dari tripsin, inokulasi virus, panen virus, filtrasi, pemurnian dan inaktivasi. Pada proses pencucian hingga inaktivasi tersebut sebenarnya sudah tidak melibatkan unsur babi lagi.

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa proses pembuatan vaksin folio masih melibatkan unsur haram dalam proses pembuatannya sebagai bahan penolong, yaitu penggunaan enzim tripsin. Sebenarnya pada tahap selanjutnya enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan, hingga pada produk akhirnya tidak terdeteksi lagi. Namun karena sudah tersentuh unsur haram dan najis, maka hal ini masih menimbulkan keraguan pada status kehalalannya.

Sementara ini memang ada keringanan jika ditinjau dari aspek darurat dan demi kepentingan yang lebih besar. Namun dari keterangan pihak Biofarma sebagai salah satu produsennya, sedang diupayakan agar bahan-bahan yang berasal dari babi itu bisa dihilangkan. Dengan demikian kejelasan status halalnya bisa lebih bisa dipertanggungjawabkan. Pihak Biofarma meminta waktu sekitar 3 tahun untuk melakukan riset guna
mengganti bahan babi tersebut. Nah, kita tunggu saja hasilnya, agar masyarakat bisa lebih tenang dalam menggunakan faksin tersebut.

Hati-hati Vaksin mengandung Zat Pengawet Thimerosal – Penyebab Autisme Spectrum Disorder

http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=1659_0_4_9_M

Hati-hati Vaksin mengandung Zat Pengawet Thimerosal – Penyebab Autisme Spectrum Disorder

Fatwa & Info Halal Oleh : Redaksi 27 Apr 2004 – 2:00 am
imageMoms/Dads……please be alert !!!!
Setelah kesibukan Lebaran yang menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku ‘Children with Starving Brains’ karangan Jaquelyn McCandless,MD yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo. Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000,- itu benar-benar membuka mata saya, dan sayang, sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum Disorder.

Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya menangis, Selama 6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001 – Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin HiB. Menurut buku tersebut (halaman 54 – 55) ternyata dua macam vaksin yang diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990 an.

Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak akhir tahun 2001.

Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun, dilahirkan dan vaksinasi di sebuah rumahsakit besar yang bagus, terkenal,dengan harapan memperoleh treatment yang terbaik, ternyata malah \’diracuni\’ oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi.

Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang gluten dan casein, harus terapi ABA, Okupasi, dan nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat besar biayanya.

Melalui e-mail ini saya hanya ingin menghimbau para dokter anak di Indonesia, para pejabat di Departemen Kesehatan, tolonglah baca buku tersebut diatas itu, dan tolong musnahkan semua vaksin yang masih mengandung Thimerosal. Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak habis di Amerika Serikat tersebut di ekspor dengan harga murah ke Indonesia dan dikampanyekan sampai ke puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin Hepatitis B, yang sekarang sedang giat-giatnya dikampanyekan sampai ke pedesaan.

Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang
mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal. Juga tolong e-mail ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang tua, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya.

Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu generasi anak-anak penerus bangsa, apalagi jika mereka datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah yang untuk makan saja sulit apalagi untuk membiayai biaya terapi supplemen, terapi ABA, Okupasi, dokter ahli Autisme (yang daftar tunggunya sampai berbulan-bulan), yang besarnya sampai jutaaan Rupiah perbulannya.

Terakhir, mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan ribuan teman- teman senasibnya di Indonesia yang sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari belenggu Autisme.

Sumber : http://www.anakmama.com

Baca Link Bahasa Indonesia:

- Autisme, epidemi yang tak terdengar
- Kekhawatiran terhadap thimerosal dan autisme
- tanggapan untuk Thimerosal dalam vaksin Hepatitis B
- Thimerosal dan Merkuri pada Vaksinasi: Amankah?
- Subject: Hati-hati Thimerosal dalam Vaksin

Baca Link Bahasa Inggirs:

- Thimerosal in Vaccines
- Toxicity of Thimerosal An Organic Mercurial Added To
- Thimerosal Content in Some US Licensed Vaccines

Kehalalan Vaksin

http://www.halalguide.info/content/view/801/38/

Kehalalan Vaksin
Wednesday, 31 January 2007

ImageHalalGuide–Vaksinasi adalah suatu aktivitas yang bertujuan membentuk kekebalan tubuh dan biasanya dilakukan pada bayi, balita, dan ibu hamil. Tapi apakah selama ini kita mengetahui dari bahan apa vaksin itu dibuat? Selama ini kita lebih sering memperhatikan reaksi yang timbul setelah pemberian suatu vaksin ke dalam tubuh kita.

Apa itu Vaksin?

Vaksin adalah sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas atau sistem kekebalan pada tubuh terhadap virus. Terbuat dari virus yang telah dilemahkan dengan menggunakan bahan tambahan seperti formaldehid, dan thymerosal.

Jenis vaksinasi yang ada antara lain vaksin hepatitis, polio, rubella, BCG, DPT, Measles Mumps Rubella (MMR). Di Indonesia sendiri praktik vaksinasi yang dilakukan terutama pada bayi dan balita adalah hepatitis B, BCG, Polio, dan DPT. Selebihnya seperti vaksinasi MMR bersifat tidak wajib. Sedangkan, vaksinasi terhadap penyakit cacar air (smallpox) termasuk vaksinasi yang tidak dilakukan di Indonesia.

Vaksin dan Tinjauan Kehalalannya

Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang dilakukan bulan agustus tahun kemarin sempat bermasalah di beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Banten yang menolak pemberian vaksin karena diragukan kehalalannya.

Memang kalau kita telaah lebih lanjut, masih banyak jenis vaksin yang bersumber dari bahan-bahan yang diharamkan. Seorang pakar dari Amerika mengatakan bahwa vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda, dan ekstrak mentah lambung babi. Selain itu, beberapa vaksin juga diperoleh dari aborsi janin manusia yang sengaja digugurkan. Vaksin untuk cacar air, Hepatitis A, dan MMR diperoleh dengan menggunakan fetall cell line yang diaborsi, MRC-5, dan WI-38. Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line diploid manusia.

Penggunaan janin bayi yang sengaja digugurkan ini bukan merupakan suat hal yang dirahasiakan pada publik. Sel line yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya diambil dari bagian paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, thyroid, thymus, dan hati yang diperoleh dari aborsi terpisah. Penamaan isolat biasanya dikaitkan dengan sumber yang diperoleh misalnya WI-38 adalah isolat yang diperoleh dari paru-paru bayi perempuan berumur 3 bulan.

Usul Fiqh

Ada kaidah usul fiqh yang mengatakan bahwa mencegah kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil manfaatnya. Demikian alasan yang dijadikan dasar hukum pengambilan keputusan terhadap kehalalan vaksin polio sekalipun diketahui bahwa vaksin tersebut disediakan dari bahan yang tidak diperkenankan dalam Islam.

Namun demikian kita tidak boleh hanya bertahan pada kondisi darurat, melainkan juga melakukan usaha untuk perbaikan. Sudah sekian banyak Pharmacist muslim lahir di Indonesia dan kita sudah memiliki pabrik vaksin sendiri di Bandung yaitu Biofarma tentunya sudah tidak ada hal yang menjadikan kita senantiasa pada kondisi darurat. Jumlah balita di Indonesia pada tahun 2005 sebesar 24 juta jiwa, di mana 90% adalam muslim yang butuh vaksinasi yang halal dan aman dari sisi syar’i. Tentunya kita tidak ingin dalam tubuh dan aliran darah balita kita mengalir unsur-unsur haram.(kit)
Sumber Jurnal LPPOM MUI

Ratusan Juta Anak Diselamatkan Imunisasi

http://www.suaramerdeka.com/harian/0706/09/kot30.htmSabtu, 09 Juni 2007 SEMARANG

Ratusan Juta Anak Diselamatkan Imunisasi

UNGARAN - Pengaruh negatif setelah imunisasi sangat kecil dibanding dengan manfaatnya yang memberi kekebalan pada ratusan juta anak. Kejadian yang menimpa Elva Yunita (3 bulan) dan Zahrodin (9 bulan) balita di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, yang meninggal pada Senin (4/ 6) setelah diimunisasi, adalah bagian sangat kecil dari efek vaksin.

”Penyebab kematian dua balita tersebut masih dalam penelitian Komisi Daerah (Komda) Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) Jateng. Begitu kami mendengar ada KIPI segera terjun ke lapangan,” kata Kepala Dinas Kesehatan dokter Sulthoni melalui Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) dokter gigi Muhammad Gunadi di kantornya, kemarin.

Pihaknya juga melakukan pengecekan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Candi, Bandungan. Petugas medis yang memberikan imunisasi sudah dimintai keterangan. ”Kapan imunisasi, kapan balita tersebut sakit, dan dibawa ke rumah sakit sudah kami catat. Prosedurnya sudah benar. Vaksin DPT dan campak yang diberikan kepada dua bayi itu masih dalam kondisi bagus,” tandas Gunadi.

Dia menjelaskan, KIPI memang ada, dari tingkat ringan sampai berat. Menurutnya jika misalnya tidak ada KIPI maka justru akan terjadi KLB tinggi. Sebab, dengan adanya KLB tinggi berarti cakupan imunisasi rendah.

”Kami harap masyarakat tak perlu resah karena kejadian itu. Bisa jadi kematian dua balita tersebut karena memang penerimaan reaksi masing-masing anak berbeda. Kalau program imunisasi terhambat justru malah berbahaya bagi balita,” ungkapnya.

Berjalan Bagus

Ia juga nenepis anggapan bahwa dua balita tersebut salah obat dan jarum suntiknya tidak higienis. Saat imunisasi di Pustu Candi, 25 Mei lalu, terdapat 22 balita yang diimun. Gunadi menjelaskan, pihaknya juga tak menginginkan, adanya kasus tersebut. Selama ini manajemen penyimpanan vaksin sudah berjalan bagus. ”Masyarakat jangan resah dengan berita kematian dua balita itu. Sebab manfaat imunisasi lebih besar. Dan berjuta-juta diselamatkan imunisasi,” papar Gunadi.

Ia mengingatkan jika memang ada KIPI, seperti panas, lemes, dan kejang-kejang pada anak segera dibawa ke petugas medis secepatnya. ELva dan Zahrodin sebelum meninggal juga mengalami panas, lemas, dan kejang-kejang.

Elva Yunita adalah anak pasangan Suyamto (40) dan Jamiah (38) warga RT 01 RW I Kalibendo, Candi, dan Zahrodin anak Ahmad Said (38) dan Jumirah (33) warga RT 02/ RW VIII Dusun Ngipik, Desa Candi.

”Kami sudah menerima apa yang menimpa pada anak saya. Ini sudah menjadi takdir kami. Kami tidak menuntut apa-apa,” jelas Jumirah. (H14-16)

3 Balita Lumpuh Usai Imunisasi

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jawa-tengah-diy/3-balita-lumpuh-usai-imunisasi.html

3 Balita Lumpuh Usai Imunisasi

Sabtu, 03/03/2007

BREBES (SINDO) – Tiga balita warga Brebes tiba-tiba mengalami gejala kelumpuhan usai mendapatkan suntikan imunisasi campak dan pemberian tetes polio oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kab Brebes, kemarin.

Ketiganya adalah Pujo Santoso, 26 bulan,beralamat di Desa Lamaran, Kec Larangan, Erlinda, 4, warga Desa Kemurang,Kec Tanjung, dan Istianingsih, 4, tinggal di Desa Slatri,Kec Larangan. Ketiga bocah itu mengalami kelumpuhan dengan gejala tubuh lemah,lunglai,dan tidak bisa berbicara.

Kondisi mereka mengalami penurunan dengan rentang waktu 24-48 jam pasca mendapatkan imunisasi. Balita Pujo Santoso, putra pertama pasangan suami istri (pasutri) Wirjo,22 dan Darojah, 22, ini oleh kedua orangtuanya dibawa ke pos PIN pada Sabtu (24/2) lalu. Sesuai dengan usianya bocah ini diberi tetes polio dan suntikan imunisasi campak.

Sebelum diimunisasi, kata Darojah, suhu badan putranya agak panas. ”Tetapi kata petugas pemberi imunisasi itu tidak apaapa. Akhirnya anak saya diimunisasi. Dua malam kemudian dia langsung lumpuh,tidak bisa berjalan sama sekali.Ngomong juga tidak bisa. Badannya lemah lunglai, hanya bisa nangis,” ujar Darojah yang tengah berusaha meninabobokan anaknya di Bangsal Anak kelas III RSUD Brebes.

Menurut Darojah, sebelum dirujuk ke RSUD Brebes, ia sempat memeriksakan anaknya ke Puskesmas setempat.Namun melihat kondisi Pujo, oleh petugas dia kemudian diminta untuk segera merujuk buah hatinya itu ke RSUD Brebes. Gejala serupa juga dialami dua balita lainnya.

Hanya saja, jarak antara pemberian imunisasi dengan gejala kelumpuhan yang diderita keduanya jauh lebih cepat dibandingkan yang dialami Pujo. Erlinda, putri pasutri Wiwin, 25, dan Ganda, 29, serta Istianingsih, buah hati Wartam, 40, dan Rasneti, 35, ini tiba-tiba menderita kelumpuhan dengan tubuh lunglai sekitar 24 jam setelah diberi imunisasi pada Senin (26/2).

Gejala lain yang diderita kedua bocah ini mirip dengan yang dialami Pujo. Kedua orangtua bocah ini pun langsung membawa putri mereka ke RSUD Brebes. Di rumah sakit, Pujo selain ditunggui oleh ibunya, tampak pula kedua neneknya, Sapuroh, 50, dan Tarpiah, 52. Menurut Sapuroh, cucunya hingga dua hari setelah dirawat di rumah sakit kondisinya belum begitu membaik.

Selain masih rewel, Pujo juga belum bisa berjalan. ”Padahal dia itu tadinya sudah cekatan berjalan. Ini buat ngomong saja tidak bisa. Sudah gitu rewel terus,” ujarnya. Saat SINDO menjenguknya di ruang perawatan, Pujo oleh neneknya berusaha diangkat dan disuruh berjalan di atas pembaringan. Namun, bocah itu langsung terkulai dan menangis menjadi-jadi.

Salah satu petugas di Bangsal Anak bernama Rohimah saat dikonfirmasi mengatakan, gejala kelumpuhan yang diidap balita-balita tersebut diperkirakan bukan akibat pemberian imunisasi. ”Bukan karena imunisasi, sebelum diimunisasi dia sudah sakit terlebih dahulu,” katanya. Penegasan serupa juga disampaikan Kepala Dinkes Kab Brebes, dr. Laode Budiono.

Dia menjelaskan, kondisi lemah lunglai yang diderita tiga balita pascaimunisasi lazim disebut kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). ”Ini sebetulnya hal biasa, sesuai dengan standar WHO, dan ini bisa disembuhkan,” tandasnya. Laode meminta agar masyarakat memahami KIPI tidak berbahaya. Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tidak cemas. (untung subejo)

Korban Malapraktik Ingin Bertemu Presiden

http://www.liputan6.com/daerah/?id=136106

19/01/2007 19:28 Kasus Malapraktik
Korban Malapraktik Ingin Bertemu Presiden

Liputan6.com, Bogor: Kasus dugaan malapraktik kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang anak perempuan berumur sembilan tahun, Shinta Bella. Shinta mendadak lumpuh setelah disuntik antitetanus di sekolahnya, setahun lalu.

Shinta terpaksa duduk di kursi roda karena lumpuh. Jumat (19/1), Shinta hendak mengadukan nasibnya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ditemani orangtuanya serta aktivis kesehatan. Shinta datang ke kediaman Presiden di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

Memasuki kediaman Presiden begitu saja tentu bukan hal mudah. Aparat yang berjaga di luar kompleks menanyakan maksud kedatangan mereka. Kelumpuhan Shinta berawal setelah pada November 2005 ia mendapat suntikan antitetanus di sekolahnya. Menurut aktivis kesehatan dari LBH Kesehatan Jakarta Iskandar Sitorus, kejadian yang dialami Shinta sudah dilaporkan ke polisi.

Pihak keamanan Presiden akhirnya berjanji akan mengusahakan pertemuan Shinta dengan Presiden. Shinta dan keluarganya pun pulang dan berharap kabar segera datang dari kediaman Presiden. (YYT/Nahyudi)

Komda Kipi Teliti Balita yang Meninggal Pasca-imunisasi

http://kompas.com/kompas-cetak/0506/04/Jabar/1794713.htm

Komda Kipi Teliti Balita yang Meninggal Pasca-imunisasi

Bandung, Kompas – Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komda Kipi) Jawa Barat melakukan penelitian terhadap Angga, anak berusia 4,5 tahun dari Tasikmalaya yang meninggal tiga jam setelah diimunisasi polio pada hari Selasa (31/5) lalu.

“Kami sudah menurunkan tim sebanyak empat orang untuk melengkapi data dan meneliti penyebab kematiannya,” kata Dr Suganda Tanuwijaya, Ketua Komda Kipi, di Bandung, Jumat (3/6).

Suganda menduga kematian balita tersebut bukan diakibatkan pemberian imunisasi polio. “Kami menerima laporan dari Tasikmalaya bahwa ada satu anak meninggal tidak lama setelah diimunisasi polio,” ujar Suganda. Tetapi, sambung dia, penyebab kematian anak balita tersebut adalah vaksin polio. “Itu kesimpulan yang terlalu cepat. Vaksin polio tidak mematikan sebab virus dalam vaksin sudah dilemahkan, kecuali untuk melawan virus penyebab polio saja,” katanya.

Menurut Suganda, dua hari sebelum divaksin balita bernama Angga itu sakit demam tinggi. Tetapi orangtuanya tidak membawa ke dokter sehingga tidak diketahui penyebab demam tinggi itu.

Namun, saat divaksinasi, Angga sudah sembuh. Tetapi tiga jam setelah divaksinasi polio, anak tersebut minum susu lalu muntah. Lalu orangtuanya membawa ke puskesmas terdekat, tetapi kemudian Angga meninggal. Orangtuanya tidak mengizinkan anak tersebut diautopsi.

Menurut dia, dari Purwakarta juga dilaporkan ada lima anak sakit setelah diimunisasi polio. Jenis sakitnya, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), panas tinggi, dan kejang serta muntah mencret.

Suganda menduga hal tersebut bukan disebabkan vaksin polio. “Setiap hari ada anak yang meninggal terkena ISPA, panas, kejang, dan muntah mencret. Tetapi karena kebetulan ada imunisasi polio, maka dihubung-hubungkan,” tutur Suganda.

Menurut Suganda, vaksin polio tidak memicu ISPA, panas dan kejang, serta muntah mencret, apalagi kematian. “Selama 30 tahun saya menjadi dokter anak belum pernah ada anak yang alergi karena vaksin polio. Selain itu, vaksin polio aman. Tidak ada dalam literatur ada anak meninggal disebabkan vaksin polio,” ujarnya. (YNT)

Rita Tewas Setelah Imunisasi Campak

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/06/0201.htm

Rita Tewas Setelah Imunisasi Campak
Tim Forensik Belum Pastikan Penyebab Kematiannya

BANDUNG, (PR).-
Bocah perempuan bernama Dede Rita (5) meninggal dunia Senin (5/3) pagi setelah mengalami demam selama dua hari. Menurut Ny. Ita, ibunda Rita, suhu tubuh anaknya terus meninggi setelah mendapat imunisasi campak.

Ditemui di Ruang Pemulasaraan RS Hasan Sadikin (RSHS) Jln. Pasteur Kota Bandung, Ny. Ita mengatakan, Jumat (2/3) lalu, dia membawa dua anaknya, Rita (5) dan Nani (6), ke Posyandu Desa Sarimukti Kec. Cipatat Kab. Bandung untuk mendapat imunisasi campak. “Kakaknya (Nani) sempat panas juga, tapi sekarang sudah sembuh. Tapi, Rita, perut dan tangannya bengkak-bengkak dan suhu tubuh panas terus sejak Jumat (2/3) sore,” kata warga RT 3 RW 7 Desa Sarimukti Kec. Cipatat Kab. Bandung itu.

Melihat kondisi anak ke-4 dari 5 bersaudara itu sakit, Ny. Ita membawanya ke bidan setempat, Minggu (4/3). “Setelah lapor ke bidan, kemudian diberi obat. Tapi, enggak turun-turun sampai meninggal tadi pagi,” katanya.

Sebelum diimunisasi campak, Ny. Ita mengaku, anaknya dalam keadaan bugar dan tidak menderita sakit apa pun.

Untuk mengetahui penyebab pasti kematian Rita, pihak keluarga mengajukan permintaan autopsi di RSHS. “Saya hanya ingin tahu penyebab sebenarnya kenapa anak saya meninggal,” ujar Ny. Ita.

Bidan Eni yang menangani Rita dan sempat mengantarkannya ke RSHS, mengatakan, anak tersebut termasuk dalam 600 anak yang mendapat imunisasi campak di Posyandu Sarimukti. “Setelah diperiksa, saya beri obat penurun panas. Kalau ada apa-apa, dibawa lagi aja. Tapi, paginya sudah meninggal,” katanya.

Belum pasti

Atas permintaan orang tuanya, jenazah Rita diautopsi oleh tim forensik RSHS, kemarin. Namun, menurut Wakil Ketua Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Komda KIPI) Jawa Barat Prof. Dr. Suganda, Sp.A.(K) didampingi Ketua Tim Dokter Forensik RSHS dr. Norman Heriyadi, hasil autopsi yang bisa menunjukan penyebab kematian Rita baru bisa diperoleh satu bulan kemudian.

“Hasilnya masih lama, biasanya 1 bulan. Tapi, karena ini kasus langka, diharapkan cepat selesai dalam 2-3 minggu,” kata Suganda.

Mengutip keterangan Ny. Ita, yang menyebutkan bahwa Rita sempat mengeluhkan sakit di bagian ulu hati, Suganda mengatakan, untuk kasus ini, belum dapat dipastikan akibat imunisasi campak. ”Harus dilihat berdasarkan hasil autopsi agar akibat kematiannya akurat. Jangan ditebak-tebak,” katanya.

Menurut dia, hanya 10% anak yang mengalami reaksi panas setelah diimunisasi campak. “Biasanya beberapa anak mengalami panas, tapi timbulnya 6 hari setelah imunisasi. Tidak begitu disuntik langsung panas,” ujar Suganda.

Disebutkan pula, apalagi tidak diberikan imunisasi campak, 30.000 anak Indonesia bisa meninggal. “Dalam 25 menit, satu anak dapat meninggal. Selama ini, belum ada laporan kasus meninggal akibat diberi vaksin campak, karena memang tidak berbahaya,” katanya. (A-158)