Obat untuk sistem kekebalan tubuh anak

http://www.informasi-obat.com/content/view/87/31/

Obat untuk sistem kekebalan tubuh anak

Written by Administrator

Wednesday, 12 March 2008
Pengasuh yang terhormat
anak saya 1 tahun lebih sering sakit plu, hidungnya meler terus, yang saya tanyakan apakah obat yang tepat untuk menambah sistem kekebalan
tubuh untuk anak kecil?
terima kasih
Pera

Jawab :

Ada, ibu bisa memberikan sirup Stimuno,Divens, Imboost, atau Vit C/Ceelin. Untuk lebih lanjut saran saya ibu berkonsultasi dengan
dokter ibu.

Semoga informasi dari kami bermanfaat,

Indri Mulyani Bunyamin,S.Farm,Apt

Hembing: Pemanfaatan Herbal Untuk Kesehatan & Pengobatan Penyakit

http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Hembing&y=cybermed%7C0%7C0%7C8%7C98

Pemanfaatan Herbal Untuk Kesehatan & Pengobatan Penyakit
Hembing Fri, 20 Jul 2007 15:45:00 WIB

Kondisi tubuh yang sehat dan bugar merupakan dambaan setiap orang, namun timbulnya penyakit terkadang tidak terduga dan tidak bisa dihindari. Ancaman penyakit bagi tubuh bisa terjadi setiap saat. Adanya perubahan pola hidup telah mengakibatkan perkembangan pola penyakit sehingga timbul berbagai macam penyakit.

Pola kehidupan modern menuntut seseorang untuk bergerak cepat dalam upaya memenuhi berbagai tuntutan kehidupan, sehingga mengakibatkan kelelahan, kurang istirahat, stres, dan faktor-faktor lain yang menyebabkan banyak orang mengalami penurunan daya tahan tubuh. Pola kehidupan modern juga berdampak pada pencemaran lingkungan serta pencemaran makanan oleh zat kimia. Kita menghirup udara kotor yang jenuh dengan asap, partikel-partikel debu, karbon monoksida dan bahan pencemar lainnya.

Kita juga mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung bakteri, zat karsinogen, dan zat-zat kimia berbahaya lainnya. Kondisi tersebut dapat menekan kerja sistem immun yang menyebabkan mikrobia patogen seperti virus dan bakteri mudah masuk menyerang tubuh sehingga menimbulkan berbagai penyakit.

Kondisi daya tahan tubuh dapat mengalami naik-turun. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain oleh pola hidup seperti pola makan, pola pikir, dan aktivitas sehari-hari. Apabila proporsi salah satu faktor tersebut tidak lagi seimbang pada tubuh, akan mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh.

Gangguan kesehatan yang dapat timbul karena menurunnya daya tahan tubuh sebenarnya dapat diminimalisasi dengan penerapan prinsip-prinsip hidup sehat alami dalam kehidupan sehari-hari, Hidup serasi dengan alam dan penerapan pola hidup alami dengan 3 G, yaitu Gizi seimbang, Gerak badan, dan Gaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari tentunya dapat meningkatkan kualitas kesehatan.

Pemanfaatan Tanaman Obat untuk Kesehatan Keluarga
Sejak dahulu bangsa Indonesia telah mengenal dan memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat atau herbal sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan. Alam Indonesia telah menyediakan berbagai solusi dalam menjaga kesehatan, salah satunya melalui terapi tumbuhan berkhasiat obat. Pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan obat tersebut merupakan warisan budaya bangsa berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang diwariskan secara turun temurun hingga ke generasi sekarang. Sekarang ini beberapa tumbuhan obat telah dikembangkan dan diantaranya telah diteliti untuk menguji efektifitasnya.

Saat ini dengan kembali maraknya gerakan kembali ke alam (back to nature), kecenderungan penggunaan bahan obat alam/ herbal di dunia semakin meningkat. Gerakan tersebut dilatarbelakangi perubahan lingkungan, pola hidup manusia, dan perkembangan pola penyakit. Slogan back to nature yang menunjukan minimnya efek negatif yang ditimbulkan dari penggunaan tumbuhan obat dan juga ekonomis menarik minat masyarakat untuk kembali menggunakan obat-obatan dari bahan alami. Saat ini, semakin banyak industri farmasi baik di negara industri maupun di negara-negara berkembang seperti di Indonesia yang mulai mengembangkan obat-obatan yang bahan bakunya diambil dari alam.

Obat dari bahan alam/herbal diposisikan sebagai antioksidan (menangkal radikal bebas), imuno-modulator (meningkatkan sistem immun) dan mencegah penyakit degeneratif.

Kondisi perekonomian yang terpuruk yang dialami bangsa kita berdampak juga dengan melonjaknya biaya pengobatan dan harga obat-obatan. Di sisi lain, adanya kenyataan bahwa tingkat kebutuhan masyarakat terhadap pengobatan semakin meningkat. Sementara taraf kehidupan sebagian masyarakat kita masih banyak yang kemampuannya pas-pasan. Maka dari itu, pengobatan tradisional yang ekonomis merupakan solusi yang baik untuk menanggulangi masalah tersebut.

Berikut ini beberapa contoh pemanfaatan tanaman obat untuk mengatasi gangguan kesehatan pada keluarga .

PANAS/DEMAM
- 15 gram pegagan + 3 siung bawang merah + 15 gram meniran, dicuci bersih, direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, tambahkan 2 sendok teh madu, diminum.
(catatan : untuk dewasa diminum sekaligus dan lakukan 2 kali sehari. Untuk anak-anak dibagi menjadi 2-3 kali minum.)

- 4 siung bawang merah dihaluskan + 1 buah air perasan jeruk nipis + minyak kayu putih. Semua bahan dicampur dan diaduk rata, lalu dikompreskan pada ubun-ubun, leher, dada dan punggung anak. (pemakaian luar untuk panas pada anak)

BATUK
5 lembar daun sirih + 25 gram kencur (diris-iris) + 10 gram kulit jeruk mandarin kering + gula batu. Semua bahan dicuci bersih lalu direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum.
(untuk dewasa diminum sekaligus dan lakukan 2 kali sehari. Untuk anak-anak 5 tahun ke atas dibagi 3 kali minum.)

SAKIT KEPALA
90 gram daun lidah buaya (dikupas kulitnya) + 15 gram jahe + gula aren, dicuci bersih dan dipotong-potong, lalu direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum hangat. Lakukan 2-3 kali sehari.

DIARE
15- 30 gram daun jambu biji segar dan 20 gram kunyit, dicuci bersih, kunyit dipotong-potong, lalu keduanya direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2-3 kali sehari.

NYERI LAMBUNG/MAAG
30 gram temu lawak + 20 gram kunyit + 25 gram kencur + 80 gram daun lidah buaya (dikupas kulitnya). Semua bahan dicuci bersih dan dipotong-potong,

Pegal Linu, Rematik
30 gram jahe merah + 30 gram temulawak + 30 gram lengkuas + 30 gram kencur + 2 batang sereh + gula aren. Semua bahan dicuci bersih dan dipotong-potong, lalu direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari.

Infeksi Saluran Kemih, Anyang-Anyangan
30 gram tumbuhan kumis kucing + 60 gram akar alang-alang segar + 60 gram rambut jagung, dicuci bersih lalu direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum 2 kali sehari.

Bila mengkonsumsi obat herbal sebaiknya tidak bersamaan dengan obat dokter, beri jarak waktu sekitar 2 jam antar keduanya. Hal tersebut untuk menghindari efek negatif atau adanya interaksi farmakokinetik dengan obat-obat konvensional.

***********

Sumber: hembing

EFEK SPIRULINA (Ganggang Biru Hijau) PADA KEKEBALAN

EFEK SPIRULINA (Ganggang Biru Hijau) PADA KEKEBALAN

http://www.blue-green-algae.org/blue-green-algae.html

Thus, multiple studies on whole blue-green-algae in humans, mice, rats, cats, and chickens have demonstrated an effect on phagocytosis, NK cell function, and inflamma­tion. Some differences exist in the data, including the mild reduction of phagocytic activity in humans after algae con­sumption, in contrast to the increase of phagocytosis among bronchoalveolar macrophages. The cell types and experimental set-ups vary, and further studies are needed to estab­lish the exact biochemical mechanisms involved.

EFFECTS OF BLUE-GREEN ALGAE ON SPECIFIC IMMUNITY
Hayashi et al7 examined the effect of an algae-supple-mented diet on the ability to build a specific immune response

Table 2. Immuno-Modulatory and Anti-Inflammatory Effects of Whole Blue-Green Algae

Algae Species

Introduced as:

Test Species

Effects Reference
Spirulina sp. Food Human Reversal of tobacco-induced oral cancer Mathew et al, 1995
Food Mouse Proportional reduction of IgE, increase of IgA Hayashi et al, 1998
Food Mouse Increased phagocytic activity Increased spleen cell proliferation Increased antibody production Hayashi et al, 1994
Food Chicken Increased phagocytic activity Increased NK cell-mediated anti-tumor activity Increased antibody production Qureshi et al, 1996
Extract

In vitro, cat

Increased phagocytic activity

Qureshi & Ali, 1996

IP injection Rat Inhibition of mast cells Decrease in local allergic reaction Decrease in serum histamine levels Reduced allergy-induced mortality Kim et al, 1998 Yang et al, 1997
Aphanizomenon flos-aquae Food Human Increased transient recruitment of NK cells into tissue Increased mobilization of T and B cells into blood Mild modulation of PMN-mediated phagocytic response Jensen et al, 2000
Food Rat Decreased serum levels of arachidonic acid Kushak et al, 2000
Food Rat Source of linolenic acid (omega-3) Increased serum levels of EPA and DHA Kushak et al, 2000
Extract

In vitro, rat

Activation of macrophages (NF-kappaB, cytokines) Pasco, in press

to sheep red blood cells. After immunizing mice (either once to measure the primary response or twice for the secondary response), they found that mice fed with the algae-supple-mented diet showed increased numbers of splenic IgM anti-body-producing cells when compared to control animals. Interestingly, this finding only held true for the primary immune response, as the IgG antibody production in the sec­ondary immune response was hardly affected. In experiments involving chickens, there were no differences observed in anti-sheep red blood cell antibodies during primary responses, while antibody titers for the secondary response in algae-fed chickens were augmented compared to control animals.8 The differences may reflect the anatomical differences between the rodent and chicken immune systems.

Hayashi et al10 examined other antibody classes such as IgA and IgE in the context of mice orally immunized with a crude shrimp extract. They found that whereby both IgA (intestinal) and IgE (in serum) levels increased with antigen challenge, only IgA levels showed a greater enhancement in secretion with concurrent treatment with Spirulina extract (five-week feeding regimen).10 From this study they con­cluded that bluegreen algae does not seem to induce or enhance food allergic IgE-dependent reactions.  Furthermore, they suggest that when ingested along with or before a poten­tial antigenic threat, bluegreen algae may enhance IgA anti- body levels to protect against food allergies.

Along the same lines, further studies have suggested that blue-green algae may inhibit mast cell-mediated type I aller­gic reactions and even the anaphylactic reaction in rats.11,12 By injecting a blue-green algae extract intraperitoneally (100-1000mg/g body weight) one hour prior to an allergic challenge, mortality induced by the anaphylactic compound 48/80 was decreased, local allergic reaction activated by anti­dinitrophenyl (anti-DNP) IgE was inhibited, and serum hist­amine levels were decreased. In vitro experiments from this group provided similar results.

The effects of blue-green-algae on IgE-production and allergic reactions are encouraging, and warrant further studies in humans.

EFFECTS OF BLUE-GREEN ALGAE ON LEUKOCYTE TRAFFICKING
Much attention with regards to dietary modulation of the immune system has been given to stimulating activity of various immune cell types such as the phagocytic activity of macrophages, or the tumoricidal activity of natural killer cells. However, immune cell trafficking and the recruitment of immune cells from the systemic circulation are of equal importance. A recent study by Jensen et al5 involving

Table 3. Bio-modulatory Effects of Purified Compounds from Blue-Green Algae

Species Compound Effects References
All blue-green algae C-Phycocyanin Anti-inflammatory (reduces leukotriene B4) Free radical scavenger Selective inhibition of COX-2 Reduced tissue damage in acetic acid-induced colitis Hepatoprotective effect Romay 1999 Bhat & Madyastha 2000 Reddy et al, 2000 Gonzalez et al, 1999 Vadiraja et al, 1998
Spirulina Calcium Spirulan (Ca-Sp) Selectively inhibits penetration of virus into host cell (Herpex Simplex, human cytomegalovirus, measles, mumps, Influenza A, HIV-1) Hayashi et al, 1996
Reduces lung metastasis of melanoma cells by inhibition of tumor cell invasion of basal membrane Mishima et al, 1998
Cyanovirin-N Irreversible inactivation of several strains of HIV (inhibited cell-to-cell and virus-to-cell fusion) Boyd, 1997

Extracellular products

Promotion of lactic acid bacteria growth in vitro Parada et al, 1998
Aphanizomenon flos aquae Unknown Polysaccharide Induces apoptosis in some human tumor cell lines Stimulate the macrophage activity Jensen, msp in prep Pasco et al, in press.
Lyngbya lagerheimii Phormidium tenue Sulfolipid Inhibits syncytium formation upon HIV infection Gustafson et al, 1989
Phormidium tenue

Digalactosyl diacylglycerols

Inhibition of chemically induced skin tumors Tokuda et al, 1996

humans demonstrated that the blue-green alga Aphanizomenon flos-aquae was able to trigger within two hours the migra­tion of nearly 40% of the circulating natural killer cells. This effect was significantly more pronounced in long-term consumers than in naïve subjects. In the same study, Aphanizomenon flos-aquae was also shown to stimulate the mobilization of T and B lymphocytes. This effect appeared cell-type specific since no changes were observed on poly­morph nucleated cells.

ANTI-INFLAMMATORY PROPERTIES OF BLUE­GREEN ALGAE
Blue-green algae in general contain a significant amount of carotenoids, namely beta carotene, lycopene, and lutein, providing it with good antioxidant properties. By their quenching action on reactive oxygen species, antioxi­dants carry intrinsic anti-inflammatory properties. However, blue green algae also contains specific anti­inflammatory properties as a result of their high phyco­cyanin content. Phycocyanin is a photoharvesting pigment that provides the intense blue color in blue green algae. It can constitute up to 15% of the dry weight of a blue green algae harvest. C-phycocyanin is a free radical scavenger,26 and has significant hepatoprotective effects.27 Phycocyanin was shown to inhibit inflammation in mouse ears28 and pre-tory effect seemed to be a result of phycocyanin to inhibit the formation of leukotriene B4, an inflammatory metabo­lite of arachidonic acid.28

In a study performed in rats, the blue-green algae Aphanizomenon flos-aquae was also shown to decrease the plasma level of arachidonic acid.30 Aphanizomenon flos­aquae contains significant amounts of the omega-3 alpha-linolenic acid. Omega-3 fatty acids have been shown to inhibit the formation of inflammatory prostaglandins and arachidonate metabolites. Since Spirulina contains signifi­cant amounts of omega-6 gamma-linolenic acid, the anti­inflammatory properties of Spirulina must be due to differ­ent biochemical pathways.

ANTI-VIRAL EFFECTS
As part of its program aimed at discovering new anti­tumor and anti-viral agents in natural sources, the National Cancer Institute isolated extracts of blue-green algae (Lyngbya lagerheimii and Phormidium tenue) that were found to protect human lymphoblastoid T cells from the cytopathic effect of HIV infection.  Upon further investigation, a new class of HIV inhibitory compounds called the sulfonic acid-containing glycolipids were isolated; the pure compounds were found to be strikingly active against the HIV virus in the p24 viral protein and syncytium formation assays.13 Since this discovery, there has been further investigation into other species of blue-green algae for compounds with anti-viral properties. Some compounds worthy of mention include a protein called cyanovirin-N which appears to irreversibly inactivate diverse strains of the HIV virus and to inhibit cell-to-cell and virus-to-cell fusion.14 Other studies using a water-soluble extract of blue-green algae have found a novel sulfat­ed polysaccharide, calcium spirulan (Ca-SP), to be an antivi­ral agent. This compound appears to selectively inhibit the penetration of enveloped viruses (Herpes simplex, human cytomegalovirus, measles virus, mumps virus, influenza A virus, and HIV-1) into host cells, thereby preventing replica-tion.15-17 A review of anti-HIV activity of extracts from blue-green algae has been recently published.18

ANTI-CANCER EFFECTS
An early study on bluegreen algae’s cancer-preventive properties in humans was performed on tobacco-induced oral leukoplakia.19 Mathew et al found that oral supplemen­tation with Spirulina fusiformis resulted in complete regres­sion of 57% of subjects with homogenous leukoplakia. After discontinuation of Spirulina supplementation, almost half of the complete responders developed recurrent lesions.

In other studies, extracts of bluegreen algae have been used to treat cancer in animal models. In one model, inges­tion of an extract of Spirulina and Dunaliella was shown to inhibit chemically-induced carcinogenesis in hamster buc­cal pouches.20,21 Earlier studies often attributed the anti­cancer effect of algae to its content in carotenoids since beta-carotene has been shown to have an effect similar to that of algae extract. A more recent study, however, showed that the sulfated polysaccharide mentioned above, Ca-SP, appears to inhibit tumor invasion and metastasis.22 Both the in vitro and in vivo effects of Ca-SP suggest that the intra­venous administration of Ca-SP reduces the lung metastasis of melanoma cells by inhibiting the tumor invasion of the basement membrane. A water-based extract of Aphanizomenon flos aquae containing high concentrations of phycocyanin inhibited the in vitro growth of one out of four tumor cell lines tested, indicating that at least some tumor cell types may be directly sensitive to killing by phycocyanin (Jensen et al, manuscript in preparation). Another fresh-water blue-green algae, Phormidium tenue, contains several diacyl­glycerol compounds which effectively inhibited chemical-ly-induced skin tumors in mice.23 In addition, Spirulina was shown to have a modulatory effect on hepatic carcinogen metabolizing enzymes.24

Of major interest to ongoing research in inflammation as well as breast cancer is the finding that C-phycocyanin selectively inhibits COX-2, but has no effect on COX-1.25 The COX enzymes are involved in prostaglandin synthesis. Since COX-2 is over-expressed in many breast cancer cells, and inhibition of COX-2 leads to a markedly reduced tumor growth and blocks angiogenesis, the finding that phyco­cyanin specifically interferes with this pathway holds promise.

BLUE-GREEN ALGAE AS A BIOMODULATOR
Besides their effects on the immune system, blue-green algae have also been reported to modulate other systems and improve metabolism. In the past few years increasing attention has been given to the study of the therapeutic effects of blue-green algae. The anecdotal claims for such effects are numer­ous. Although there is limited data from controlled animal or clinical studies, such claims include improvement in condition of Alzheimer’s patients, overall enhancement of immune response, improvement in fibromyalgia, control of hyperten­sion, alleviation of depression and chronic fatigue, increased stamina, healing of internal and external lesions, increased mental acuity, and general improvement in overall well-being. This last section will review the scientific evidence supporting the therapeutic effects of blue-green algae.

EFFECTS ON METABOLISM
Several reports from different labs have shown that cer­tain species of blue-green algae have cholesterol-lowering effects in animal and human models.  In feeding experiments in rats, two studies have reported that the elevation in total cholesterol, LDL, and VLDL cholesterol in serum caused by cholesterol feeding was reduced when the high cholesterol diet was supplemented with 16% and 5% blue-green algae, respectively.31,32 In addition, Kato found that adipohepatosis induced by a high fat and high cholesterol diet was cured rapidly when the diet was supplemented with algae.31 Investigations into the mechanism of this phenomenon led to the finding that the algae-fed group showed a statistically sig­nificant increase in the activity of lipoprotein lipase, a key enzyme in the metabolism of triglyceride-rich lipoproteins.33

The hypocholesterolemic effect of blue green algae was also observed in humans in a study conducted on 30 patients with mild hyperlipidemia and mild hypertension.34 Patients took 4.2 grams of algae or placebo per day, and were observed for two months. At the end of the study, patients taking the algae showed a significant reduction of LDL-cho-lesterol (p<0.05) compared to the control group. LDL cho­lesterol increased back to baseline levels after administration of the algae was discontinued. In addition to lowering LDL cholesterol levels, the atherogenic index (a measure of fat deposition in arteries) declined significantly after four weeks of algae consumption.

In a recent study by Kushak et al, rats were fed the blue-green alga Aphanizomenon flos-aquae and total cholesterol level was monitored. After 43 days, cholesterol levels were significantly decreased when compared to the control group.30 Although Aphanizomenon flos-aquae contains a significant amount of the omega-3 polyunsaturated linolenic

Table 4. Biomodulatory Effects of Whole Blue-Green Algae on Metabolism

Algae Species Introduced as

Test Species

Effects Reference Effects
Aphanizomenon Food Rat Reduction of cholesterol Kushak et al, 2000 Reduction of cholesterol
Food Rat Reduction of blood glucose levels Drapeau et al, 2001 Reduction of blood glucose levels
Food Human Modulation of brain activity (EEG) Walker & Valencia, 1999 Modulation of brain activity (EEG)
Spirulina Food Human Reduced body weight Becker et al, 1986 Reduced body weight
Food Rat Reduction of cholesterol Kato et al, 1984 Reduction of cholesterol
Food Rat Increased activity of lipase Iwata et al, 1990 Increased activity of lipase
Food Rat Reduced glucose levels Takai et al, 1991 Reduced glucose levels
Food Rat Inhibition of maltase and sucrase Kushak et al, 1999 Inhibition of maltase and sucrase
Food Mouse Modulation of carcinogen metabolic enzymes Mittal et al, 1999 Modulation of carcinogen metabolic enzymes
Food Mouse Modulation of lead toxicity Shastri et al, 1999 Modulation of lead toxicity
Food Rat

Increased iron status during pregnancy and lactation

Kapoor & Mehta, 1998

Increased iron status during pregnancy and lactation

Nostoc Food Rat Reduction of cholesterol Hori et al, 1994 Reduction of cholesterol

acid, the effect on cholesterol levels seemed unrelated to the lipid content of the diets. Kushak et al30 proposed that the hypocholesterolemic effect of Aphanizomenon flos-aquae may be due to its chlorophyll content which was shown to stimulate liver function and decrease blood cholesterol.35

In a double-blind crossover study involving human patients, supplementing the diets of obese outpatients with 2.8 grams of bluegreen algae three times daily over a four week period resulted in a statistically significant reduction of body weight.36 In a study measuring the effect of bluegreen algae on glucose levels in diabetic rats, the water-soluble fraction was found to be effective in lowering the serum glucose level at fasting, while the water insoluble fraction suppressed glu­cose levels at glucose loading.37 In another study investigating the effect of the blue-green alga Aphanizomenon flos-aquae on rat intestinal mucosal digestive enzymes, it was observed that this alga specifically inhibited the activity of maltase and sucrase in a dose-dependent manner.38 Furthermore, this decrease in enzymatic activity was accompanied by a dose-dependent decrease in blood glucose.

The overall conclusion is that blue-green algae may have benefits on lipid and sugar metabolism, as well as liver function. Further human studies are needed to address the feasibility of using blue-green algae in conjunction with cholesterol-lowering medication.

OTHER EFFECTS OF BLUE GREEN ALGAE
Other research studies on blue green algae consumption deserve mention. Many reports exist in the literature on its antimicrobial effects.  The secretion of anti-microbial sub­stances is an important part of the competition for ecological niches in the natural environment. However, an interesting caveat exists. In one study, Spirulina was cultured in vitro, and the extracellular medium was shown to stimulate the growth of lactic acid bacteria.39 If the growth-promoting sub-stance(s) exist in sufficient amounts intracellularly, blue green algae may play a role in vivo by supporting friendly gut bacteria. This leads to other facets of health including gut health and nutrient absorption. On that note, consumption of Spirulina was shown to support the iron status and hemoglo­bin of rats during pregnancy and lactation.40 Spirulina fusiformis had a significant protective effect against lead-induced toxicity in rats.41 Finally, a report by Valencia et al has presented evidence that Aphanizomenon flos-aquae accelerates recovery from mild traumatic brain injury.42

CONCLUSION AND SUMMARY
Research results based on the numerous isolated com­pounds from blue green algae warrant the exploration of using whole algae as conjunctive therapy due to the possible synergistic effects of many phytochemicals within the whole algae. The emergence of composite algae supple­ments in contrast to single algae supplements may also yield further anti-inflammatory, immune-boosting, and metabolic benefits. A significant body of data suggests that blue green algae immunoenhancing properties could be useful in the adjunct treatment of various diseases involving 1) sup­pressed or exhausted immune system, and 2) inappropriate immune response including allergies, autoimmune diseases, and chronic inflammatory conditions. The data presented also suggests that blue green algae could be useful as an adjunct in the treatment of cancer and AIDS, and calls for the design of controlled human clinical studies.

REFERENCES

  1. Eisenberg D, Davis R, et al. Trends in alternative medicine use in the United States. 1990-1997.” JAMA. 1998:280(18):1569-1575.
  2. Astin J. Why patients use alternative medicine. JAMA. 1998;279(19):1548-1553.
  3. Sobel D. Rethinking medicine: improving health outcomes with cost-effective psychosocial interventions. Psychosomatic Medicine. 1995;57:234-244.
  4. Furnham A. Forey J. The attitudes, behaviors, and beliefs of patients of conventional vs complementary (alternative) med­icine. J Clini Psych. 1994;50:458-469.
  5. Jensen GS, Ginsberg DI, et al. Consumption of Aphanizomenon flos aquae has rapid effects on the circulation and function of immune cells in humans. JANA. 2000;2(3):50-58.
  6. Qureshi M, Ali R. Spirulina platensis exposure enhances macrophage phagocytic function in cats. Immunopharmacol Immunotoxicol. 1996;18(3):457-463.
  7. Hayashi O, Katoh T, et al. Enhancement of antibody production in mice by dietary Spirulina platensis. J Nutr Sci Vitaminol. 1994;40:431-441.
  8. Qureshi M, Garlich J, et al. Dietary Spirulina platensis enhances humoral and cell-mediated immune function in chickens. Immunopharmacol Immunotoxicol. 1996;18(3):465-476.
  9. Pugh N, Ross SA, ElSohly HN, ElLohly MA, Pasco DS.Isolation of three high molecular weight polysaccharides with potent immunostimulatory activity from Spirulina platensis, Aphanizomenon flos-aquae and Chlorella pyrenoidosa. Planta Medica. In Press.
  10. Hayashi O, Hirahashi T, et al. Class-specific influence of dietary Spirulina platensis on antibody production in mice. J Nutr Sci Vitaminol. 1998;44(6):841-851.
  11. Kim H, Lee E, et al. Inhibitory effect of mast cell-mediated immediate-type allergic reactions in rats by Spirulina. Biochem Pharmacol. 1998;55(7):1071-1076.
  12. Yang H, Lee E, et al. Spirulina platensis inhibits anaphylactic reaction. Life Sci. 1997;61(13):1237-1244.
  13. Gustafson K, Cardellina II J, et al. AIDS-antiviral sulfolipids from cyanobacteria (blue-green algae). J National Cancer Institute.1989;81:1254-1258.
  14. Boyd M. Protein isolated from blue-green algae inactivatesHIV. Antimicrob Agents Chemother. 1997;41:1521-1530.
  15. Hayashi K, Hayashi T, et al. A natural sulfated polysaccharide, calcium spirulan, isolated from Spirulina platensis: in vitro and ex vivo evaluation of anti-herpes simplex virus and anti­human immunodeficiency virus activities. AIDS Res Hum Retrovir. 1996;12(15):1463-1471.
  16. Hayashi T, Hayashi K. Calcium spirulan, an inhibitor of enveloped virus replication, from a Blue-Green Alga Spirulina platensis. J Natural Products. 1996;59:83-87.
  17. Ayehunie S, Belay A, et al. Inhibition of HIV-1 replication by an aqueous extract of Spirulina platensis. J Aquir Immun Defic Syndr Hum Retrovirol. 1998;18(1):7-12.
  18. Schaeffer DJ, Krylov VS.  Anti-HIV activity of extracts and compounds from algae and cyanobacteria. Ecotoxicology and Environmental Safety. 2000;45:208-227.
  19. Mathew B, Sankaranarayanan R, et al. Evaluation of chemo-prevention of oral cancer with Spirulina fusiformis. Nutr Cancer. 1995;24(2):197-202.
  20. Schwartz J. Shklar G. Regression of experimental hamstercancer by beta carotene and algae extracts. J Oral Maxillofac Surg. 1987;45:510-515.
  21. Schwartz J, Shklar G, et al. Prevention of experimental oralcancer by extracts of Spirulina-Dunaliella algae. Nutr Cancer. 1988;11:127-134.
  22. Mishima T, Murata J, et al. Inhibition of tumor invasion and metastasis by calcium spirulan (Ca-SP), a novel sulfated poly­saccharide derived from a blue-green algae, Spirulina platen-sis. Clin Exp Metastasis. 1998;16(6):541-550.
  23. Tokuda H, Nishino H, et al. Inhibition of 12-O-tetrade-canoylphorbol-13-acetate promoted mouse skin papilloma by digalactosyl diacylglycerols from the fresh water cyanobacteri­um Phormidium tenue. Cancer Lett. 1996;104(1):91-95.
  24. Mittal A, Kumar PV, et al.  Modulatory potential of Spirulina fusiformis on carcinogen metabolizing enzymes in Swiss albi­no mice. Phytother Res. 1999;13(2):111-114.
  25. Reddy CM, Bhat VB, et al.              Selective inhibition of cyclooxyge-nase-2 by C-phycocyanin, a biliprotein from Spirulina platen-sis. Biochem Biophys Res Commun. 2000;277(3):599-603.
  26. Bhat VB, Madyastha KM. C-phycocyanin: a potent peroxyl radical scavenger in vivo and in vitro. Biochem Biophys Res Commun. 2000;275(1):20-25.
  27. Vadiraja BB, Gaikwad NW, Madyastha KM. Hepatoprotective effect of C-phycocyanin: protection for carbon tetrachloride and R-(+)-pulegone-mediated hepatotoxicity in rats. Biochem Biophys Res Commun. 1998;249(2):428-431.
  28. Romay C, Ledon N, Gonzalez R. Phycocyanin extract reducesleukotriene B4 levels in arachidonic acid-induced mouse-ear inflammation test. J Pharm Pharmacol. 1999;51(5):641-642.
  29. Gonzalez R, Rodriguez S, et al. Anti-inflammatory activity of phycocyanin extract in acetic acid-induced colitis in rats. Pharmacol Res. 1999;39(1):55-59.
  30. Kushak RI, Drapeau C, Van Cott EM.  Favorable effects of blue-green algae Aphanizomenon flos-aquae on rat plasma lipids. JANA. 2000;2(3):59-65.
  31. Kato T, Takemoto K, et al. Effects of Spirulina on dietary hypercholesterolemia in rats. J Jap Soc Nutr Food Science. 1984;37:323-332.
  32. Hori KG, Ishibashi G, et al. Hypocholesterolemic effect of blue-green alga, ishikurage (Nostoc commune) in rats fed atherogenic diet. Plant Foods Hum Nutr. 1994;45:63-70.
  33. Iwata K, Inayama T, et al. Effects of Spirulina platensis on plasma lipoprotein lipase activity in fructose-induced hyper­lipidemic rats. J Nutr Sci and Vitaminology. 1999;36:165-171.
  34. Nakaya N, Honma Y, et al. Cholesterol lowering effect of Spirulina Nutr Rep Int. 1988;37:1329-1337.
  35. Vlad M, Bordas E, Caseanu E, Uza G, Creteanu E, Polinicenco C. Effect of cuprofilin on experimental athero­sclerosis. Biol Trace Elem Res. 1995;48(1):99-109.
  36. Becker E, Jakover B, et al. Clinical and biochemical evalua-tions of the alga Spirulina with regard to its application in the treatment of obesity: a double blind cross-over study. Nutr Rep Int. 1986;33:565-574.
  37. Takai Y, Hosoyamada Y, et al. Effect of water soluble and water insoluble fractions of Spirulina over serum lipids and glucose resistance of rats. J Jap Soc Nutr Food Science. 1991;44:273-277.
  38. Kushak R, VanCott E, Drapeau C, Winter H. Effect of algae Aphanizomenon flos-aquae on digestive enzyme activity and polyunsaturated fatty acids level in blood plasma. Gastroenterol. 1999;116:A559.
  39. Parada JL, Zulpa de Caire G, et al. Lactic acid bacteria growthpromoters from Spirulina platensis. Int J Food Microbiol. 1998;45(3):225-228.
  40. Shastri D, Kumar M, Kumar A. Modulation of lead toxicity by Spirulina fusiformis. Phytother Res. 1999;13(3):258-260.
  41. Kapoor R, Mehta U. Supplementary effect of Spirulina on hematological status of rats during pregnancy and lactation. Plant Foods Hum Nutr. 1998;52(4):315-324.
  42. Valencia A, Walker J.  A multi-axial treatment paradigm for mild traumatic brain injury to achieve reparative functional meta-plasticity. 3rd World Congress on Brain Injury, IBIA, Quebec City, June 1999.
  43. Drapeau C, Kushak RI, Van Cott EM, Winter HH. Blue-green alga Aphanizomenon flos-aquae as a source of dietary polyun­saturated fatty acids and a hypocholesterolemic agent in rats. J Am Chem Soc. In press.

Winter 2001 Vol. 3, No. 4  JANA  28

HAK PATEN: KEGUNAAN NIGELLA SATIVA (HABBATUS SAUDA) UNTUK MENINGKATKAN FUNGSI IMUN (KEKEBALAN TUBUH)

HAK PATEN:
KEGUNAAN NIGELLA SATIVA (HABBATUS  SAUDA) UNTUK MENINGKATKAN FUNGSI IMUN (KEKEBALAN TUBUH)
Use of Nigella sativa to increase immune function

Document Type and Number:
United States Patent 5482711

Abstract:
A pharmaceutical composition containing an extract of the plant Nigella sativa is disclosed for treating cancer, preventing the side effects of anticancer chemotherapy, and for increasing the immune function in humans.

Inventors:
Medenica, Rajko D. (One Ocean Point, Port Royal Plantation, Hilton Head Island, SC, 29928)
Application Number:
08/111631
Filing Date:
08/25/1993
Publication Date:
01/09/1996
View Patent Images:
Images are available in PDF form when logged in. To view PDFs, Login  or  Create Account (Free!)
Referenced by:
View patents that cite this patent
Export Citation:
Click for automatic bibliography generation
Primary Class:
424/776
Other Classes:
514/885, 424/725
International Classes:
A61K39/39; A61P35/00; A61K35/78
Field of Search:
424/195.1, 514/885
US Patent References:
4687761    August, 1987    Liu    514/26    Pharmaceutical composition for increasing immunity and decreasing side effects of anticancer chemotherapy
4945115    July, 1990    Liu    514/731    Process for preparing ferulic acid
Other References:
Elkadi et al. 71st Annual Meeting of the Federation of American Societies for Experimental Biology Washington D.C. Mar. 29-Apr. 2, 1987, 46(4), 1222.
Elkadi et al. Arch AIDS Res 1 (2-3), pp. 232-233, 1987.
Dey, K. L., and Bahadur, R., 1984, Indigenous Drugs of India, International Book Distributors, Dehradun, India.
Kirtikar, K. R., and Basu, B. D., 1987, Indian Medicinal Plants, vol. I, International Book Distributors, Dehradun, India.
Nadkarni, K. M., 1976, “Crocus sativus, Nigella sativa,” Indian Materia Medica, vol. I, K. M. Nadkarni (ed), Bombay Popular Prakashan, Bombay, India.
Agarwal, R.; Kharya, M.D. and Shrivastava, R., 1979, “Antimicrobial Anthelmintic Activites of the Essential Oil of Nigella Sativa Linn.,” Indian J. Exp. Biol. 17:1264-5.
Akhtar, M. S. and Riffat, S., 1991, “Field Trial of Saussurea Lappa Roots Against Nematoides and Nigella Sativa Seeds Against Cestodes in Children,” J.P.M.A. 41(8):185-7.
al-Awadi, F. M.; Khatter, M. A. and Gumaa, K. A., 1985, “On the Mechanism of the Hypoglycaemic Effect of a Plant Extract,” Diabetologia 28:432-4.
al-Awadi, F.; Fatania, H. and Shamte, U., 1991, “The Effect of a Plant’s Mixture Extract on Liver Gluconeogenesis in Streptozotocin Induced Diabetic Rats,” Diabetes Res. (Scotland) 18(4):163-8.
Aruna, K. and Sivaramakrishnan, V. M., 1990, “Plant Products as Protective Agents Against Cancer,” Indian J. Exp. Biol. 28(11):1008-11.
Aruna, K. and Sivaramakrishnan, V. M., 1992, “Anticarcinogenic Effects of Some Indian Plant Products,” Fd. Chem. Toxic. (England) 30(11) :953-6.
Bitterman, W. A.; Farhadian, H.; Abu Samra, C.; Lerner, D.; Amoun, H.; Krapf, D. and Makov, U. E., 1991, “Environmental and Nutritional Factors Significantly Associated with Cancer of the Urinary Tract among Different Ethnic Groups,” Urol. Clin. North Am. 18(3):501-8.
Datta, A. K.; Biswas, A. K. and Ghosh, P. D., 1983, “Chromosomal Variations in Callus Tissues of Two Species of Nigella,” The Nucleus 26(3):173-7.
Elkadi, A. and Kandil, O., 1987, “The Black Seed Nigella Sativa and Immunity: Its Effects on Human Cell Subsets,” Fed.Proc. 45(4):1222.
Finter, N. B., 1969, “Dye Uptake Methods for Assessing Viral Cytopathogenicity and Their Application to Interferon Assays,” J. Gen. Virol. 5:419-427.
Kumar, B. H. and Thakur, S. S., 1989, “Effect of Certain Non-Edible Seed Oils on Growth Regulation in Dysdercus Similis (F),” J. Anim. Morphol. Physiol. 36(2) pp. 209-218.
Medenica, R.; Alonso, K.; Huschart, T. and Tyler, K., 1990, “Tumor Tissue Culture for Determining Efficient Drug for Intra-Arterial, Intra-Hepatic Chemotherapy of Colon Carcinoma Liver Metastasis,” Abstract presented at Conference on Combining BRM with Cytotoxic in the Treatment of Cancer.
Merkel, D. E., Dressler, L. G. and McGuire, W. L., 1987, “Flow Cytometry Cellular DNA Contents and Prognosis in Human Malignancy,” J. Clin. Oncol., 5:1690-1703.
Metcalf, D., 1984, Clonal Culture of Hematopoietic Cells, Elsevier/North American Biomedical Press.
Metcalf, D., 1985, “The Granulocyte-Macrophage Colony-Stimulating Factors,” Science 229:16-22.
Nair, S. C.; Salomi, M. J.; Panikkar, B. and Pannikar, K. R., 1991, “Modulatory Effects of Crocus Sativus and Nigella Sativa Extracts on Cisplatin-Induced Toxicity in Mice,” J. Ethnopharmocol 31(1): 75-83.
Salmon, S. E.; Hamburger, A. W.; Soehnlein, B.; Durie, B. G.; Alberts, D. S. and Moon, T. E., 1978, “Quantitation of Differential Sensitivity of Human-Tumor Stem Cells to Anticancer Drugs,” N. Eng. J. Med. 298:1321-7.
Salomi, N. J.; Nair, S. C.; Jayawardhanan, K. K.; Varghese, C. D. and Panikkar, K. R., 1992, “Anititumour Principles from Nigella Sativa Seeds,” Cancer Lett. 63(1):41-6.
Salomi, M. J.; Nair, S. C. and Panikkar, K. R., 1991, “Inhibitory Effects of Nigella Sativa and Saffron (Crocus Sativus) on Chemical Carcinogenesis in Mice,” Nutr. Cancer 16(1): 67-72.
Sayed, M. D., “Traditional Medicine in Health Care,” 1980, J. Ethnopharmocol. 2(1): 19-22.
Shayeb, N. A. and Mabrouk, S. S., 1984, “Utilization of Some Edible and Medicinal Plants to Inhibit Aflatoxin Formation,” Nutrition Reports International 29(2): 273-289.
Siddiqui, M. B.; Alam, M. M.; Husain, W. and Sharma, G. K., 1988, “Ethno-medical Study of Plants Used for Terminating Pregnancy,” Fitoterapia LIX(3): 250-2.
Srivastava, K. C., 1989, “Extracts from Two Frequently Consumed Spices-Cumin (Cuminum cyminum) and Turmeric (Curcuma Longa)-Inhibit Platelet Aggregation and Alter Eicosanoid Biosynthesis in Human Blood Platelets,” Prostaglandins Leukot Essent Fatty Acids 37(1): 57-64.
Tennekoon, K. H.; Jeevathayaparan, S.; Kurukulasooriya, A. P. and Karunanayake, E. H., 1991, “Possible Hepatotoxicity of Nigella sativa Seeds and Dregea Volubilis Leaves,” J. Ethnopharmocol. 31(3): 283-9.
Vihan, V. S. and Panwar, H. S., 1987, “Galactopoietic Effect of Nigella Sativa (H-Kalonji) in Clinical Cases of Agalactia in Goats.” Indian Vet. J. 64:347-9.
Von Hoff, D. D.; Cowan, J.; Harris, G. and Reisdorf, G., 1981, “Human Tumor Cloning: Feasibility and Clinical Correlations,” Cancer Chemother. Pharmacol. 6:265-271.
Primary Examiner:
Robinson, Douglas W.
Assistant Examiner:
Lee, Howard C.
Attorney, Agent or Firm:
DeWitt Ross & Stevens
Claims:
I claim:

1. A method for activating immune competent cells in humans in order to increase the immune function in humans, the immune competent cells being selected from the group consisting of CD19, HLADR, NKCD3-/CD56+ and CD38, the method comprising administering to humans an effective dose of an extract from Nigella sativa at a concentration which is effective to activate the immune competent cells by reducing the presence of interferon inhibitor factor or lymphokine inhibitor factor.

2. The method of claim 1 wherein the effective dose is between about 20 and about 40 grams of the extract per day.

3. The method of claim 1 wherein the effective dose is about 30 grams of the extract per day.

4. A method for increasing antibody producing B cells in humans, the B cells having minor antigen binding sites, comprising administering to humans an effective dose of an extract from Nigella sativa, at a concentration which is effective to free the tumor antigen binding sites on the B cells thereby increasing the antibody producing B cells.

5. The method of claim 4 wherein the effective dose is between about 20 and about 40 grams of extract per day.

6. The method of claim 4 wherein the effective dose is about 30 grams of extract per day.

Description:

FIELD OF THE INVENTION

The present invention is generally directed to the fields of medicine and pharmacology, and specifically directed to using the plant seed extract of Nigella sativa Linn (N. sativa) in the treatment of cancer, viral diseases, protection from side effects of chemotherapy and growth factor for bone marrow in hematopoiesis.

CITED REFERENCES

A full bibliographic citation of the references cited in this application can be found in the section preceding the claims.

DESCRIPTION OF THE PRIOR ART

A variety of herbal and plant extracts or preparations are available today for treating any number of diseases affecting the human body. Some preparations have been known for literally thousands of years while others are just being discovered to have curative effects. Effective plant extracts are highly desired as a “natural” way to treat a disease. It is believed that natural preparations will not have as much of an adverse effect on the body as synthetic preparations.

One of the primary targets for treatment is cancer. Anticancer remedies are available today which are effective in killing cancer cells. However, many of these medicaments also damage or kill off normal cells or have other serious side effects. It is therefore vitally important to develop an anticancer program which is specific for the cancerous growth in a body, but which is not toxic to the rest of the body system. Ideally, the program will include treatment using natural plant extracts. As used in this disclosure, the term “body” or “patient” can include any warm-blooded mammal, but is specifically intended to refer to the human body.

The medicinal properties of various spices and herbs in general is known (Srivastava, 1989). U.S. Pat. No. 4,986,895 to Grossman et al. is directed to use of water-soluble plant extracts in the treatment of virus skin infections. U.S. Pat. No. 5,178,865 to Ho et al. is directed to the use of Chinese herbal extracts in the treatment of HIV related disease in vitro. A total of 56 herbal extracts were screened for anti-HIV activity using in vitro techniques.

Aruna (1990) also describes the use of spices, leafy vegetables and condiments having diverse medicinal properties. Products of 20 spices or leafy vegetables were screened for anti-carcinogenic activity using induction of glutathione-S-transferase. One of the plants utilized was Cuminum cyminum Linn (C. cyminum), also known as cumin. All of the spices and leafy vegetables were tolerated well and no toxic effects were seen.

Bitterman et al. (1991) disclose a study that was performed on a population of 964 adult patients, of which 28% suffered from malignant diseases of the urinary tract and 72% from a wide spectrum of the nine neurologic diseases. The results conclude that the use of C. cyminum in the diet may contribute to the prevention of diseases mediated by peroxidation of lipids.

Aruna and Sivaramakrishnan (1992) reported on anticarcinogenic properties of some spices. Cumin seeds (C. cyminum Linn) were studied. Cumin seed significantly inhibited some carcinogenesis.

Another plant extract from the plant N. sativa has shown a wide range of medical use. N. sativa is an annual herb belonging to family Ranunculaceae. Other species of Nigella include Nigela arvensis and Nigella damascena. Induction of callus cultures indicates considerable chromosomal variations in callus tissues between the different species of Nigella (Datta, et al. 1983).

N. sativa is characterized by an erect branched stem and alternate finely divided, feathery, grayish-green leaves. The bluish-white, star-shaped flowers are terminal and solitary. Petals are absent. The fruit is a globose capsule with small, black, rough seeds. The plant is cultivated in India, Bangladesh, Turkey, Middle-east and the Mediterranean basin mainly for its seeds or “black cumin” which is almost entirely used for edible and medical purposes, such as spices and for treatment of various diseases.

The ripe seeds of N. sativa, also known as Kalajira or Kalaonji, are known to have a wide range of medicinal uses (Kirtikar et al. 1982, and Chopra et al. 1982). The constituents of the seeds include saponin, an essential oil, a bitter compound (nigellone) and tanners. These substances have been shown to have diuretic (Nadkarni 1976), cholagogic and antispasmodic (Tennekoon, et al. 1991), carminative (Shayeb and Mabrouk, 1984), galactogogic (Vihan 1987), antibacterial (Hassan, et al. 1989), antifungal (Agarwal, et al 1979), anthelminthic (Akhtar 1991) and emmenagogic (Siddiqui et al. 1988) properties. al-Awadi, et al. (1985) have demonstrated an antidiabetic effect of N. sativa plant extract.

N. sativa has been reported to be used in Egyptian folk medicine as a diuretic and carminative (Sayed 1980). The oil is used in the treatment of asthma, respiratory oppression and coughs. The active principle, nigellone, has been isolated from the volatile oil fraction and is reported to be useful in the treatment of bronchial asthma.

The petroleum ether extract of the seeds at 1000-62.5 parts per million (ppm) concentrations was found to have the same activities as growth regulating juvenile hormone when tested against the fifth instar larvae of Dysdercus similis (Kumar et al. 1987).

al-Awadi et al. (1981) is directed to the study of the effect of a plant’s mixture extract containing N. sativa on liver gluconeogenesis. The researchers report that non-insulin dependent diabetes mellitus is treated in Kuwait by a plant mixture extract, which contains N. sativa. In this study, a powdered mixture of equal portions of N. sativa, Linn, Commiphora myrrh, Eng, Ferula Asafoetida, Linn, Aloe vera, Linn, and olibanum was boiled in distilled water for 10 minutes. Diabetic animals were given a daily dose by gastric intubation. The results indicate that the anti-diabetic action of the plant’s extract is at least partly mediated through decreased liver gluconeogenesis.

Elkadi and Kandil (1987) are directed to N. sativa and its effect on human T-cells. N. sativa was tested in volunteers with a low helper T-cell to suppressor T-cell ratio. The results indicated an increase in the helper T-cell population in the experimental group. Further, the helper T-cell to suppressor T-cell ratio increased while the ratio within the control groups remain the same.

Nair et al. (1991) investigated the effects of N. sativa as potential protective agents against cisplatin-induced toxicity in mice. Some protective effects were shown by the use of N. sativa extracts.

Salomi, N. J., et al. (1992) studied N. sativa seeds containing certain fatty acids for antitumor activities against Ehrlich ascites carcinoma (EAC), Dalton’s lymphonia ascites (DLA) and Sarcoma-180 (S-180) cells. The paper presents the results of in vitro and in-vivo antitumor experiments. The active antitumor principle was isolated. It was found that the active principle was cytotoxic for EAC cells, KB cells and lymphocytes.

Salomi et al. (1991) reported the effect of the active principle isolated from N. sativa in inhibiting chemically induced skin carcinogenesis. Intraperitoneal administration of N. sativa extract was shown to prevent the incidents of soft tissues sarcomas and reduced tumor diameters in treated groups.

Metcalf (1984, 1985) reported the inhibitory effects of N. sativa on chemical carcinogenesis in mice. However, there was no evidence in these papers of the destruction of human tumor cells.

SUMMARY OF THE INVENTION

The present invention provides an anticancer remedy and treatment which has, as its active ingredient, the extract of the plant N. sativa. When used properly, the medicament of the present invention is useful in treating cancer, preventing toxicity of anticancer drugs in human body and in increasing immune function.

The present invention is specifically directed to a pharmaceutical composition for the treatment of cancer comprising a pharmaceutical preparation consisting essentially of an extract from Nigella sativa, at a concentration which is effective to destroy cancer cells in a patient.

Additionally, the present invention is directed to a pharmaceutical composition for the treatment of the side effects of anticancer therapy consisting essentially of an extract from Nigella sativa, at a concentration of the extract which is effective to reduce the side effects of anticancer therapy.

The present invention is also directed to a method for treating humans suffering from the side effects of anticancer chemotherapy using the extract of Nigella sativa, comprising administering to humans effective doses of the composition described above.

Further, the present invention is directed to a method for increasing the immune function in humans comprising administering to humans effective doses of an extract from Nigella sativa, at a concentration of the extract which is effective to increase the immune function.

The present invention is also directed to a method for protecting the normal cells from cytopathic effects of virus, comprising administering to humans effective doses of an extract from Nigella sativa, at a concentration of the extract which is effective to protect against the cytopathic effects of the virus.

The present invention is still further directed to a method for increasing antibody producing B cells, comprising administering to humans an extract from Nigella sativa, at a concentration which is effective to increase the antibody-producing B cells.

The present invention is also directed to a process for inhibiting tumor cells without affecting normal or nontumor cells in a patient comprising administering to a patient an extract from Nigella sativa, at a concentration which is effective to inhibit the tumor cells without affecting nontumor cells.

The present invention is also directed to a method for stimulating bone marrow formation in humans comprising administering to humans effective doses of an extract from Nigella sativa, at a concentration of the extract which is effective to stimulate bone marrow formation.

In general, N. sativa extract helps stimulate bone marrow cells, protects the normal cells from cytopathic effects of virus, destroys tumor cells and increases antibody producing B cells. It protects the bone marrow against chemotherapy and at the same time, can act as an anticancer agent. All these factors makes N. sativa seed extract an ideal candidate to be used as vaccine for cancer prevention and cure.

N. sativa plant extract is more effective than standard chemotherapeutic anti-cancer drugs. N. sativa extract stimulates bone marrow cells, protects the normal cells from cytopathic effects of virus, destroys tumor cells and increases antibody producing B cells. Further, it protects the bone marrow against chemotherapy and can act as an anti-cancer agent.

N. sativa plant extract also has been found to help restore immune competent cells in immunosuppressed cancer patients and to overstimulate bone marrow formation in normal individuals.

N. sativa extract helps free tumor antigen binding sites on B cells. The administration of the N. sativa extract, rather than the increase of the immune competent cell number, has been found to help free tumor antigen binding sites on B cells, thereby elevating the CD19 and associated cell population. When the antigen binding site on the immunoglobulin molecule on the surface of B cells is free because of N. sativa treatment, it binds to the tumor associated antigen thereby generating an immune response against the antigen.

Protection of Human Amniotic “WISH” cells from cytopathic effects of vesicular stomatitis virus (VSV) was also observed upon administration of N. sativa plant extract. Additionally, the serum interferon level is found to increase; and, hence, the plant extract of N. sativa has interferon-like antiviral activity. This is an example of interferon level increasing in the circulation, preventing viral diseases and, in addition, possibly curing viral diseases.

N. sativa promotes anti-tumor activity. Data from pharmacosensitivity screening indicates anti-tumor activity of N. sativa plant extract mainly against melanoma and colon cancer types. N. sativa plant extract destroys tumor cells and leaves normal cells alone, possibly because of its ability to bind to cell surface asialofeutin (lectin) in diseased cells, which causes aggregation and clumping of tumor cells. It also blocks enzymes and inappropriate gene products involved in nucleic acid synthesis and metabolism.

Further objects, features and advantages of the invention will be apparent from the following detailed description when taken in conjunction with the accompanying drawings.

DESCRIPTION OF THE DRAWINGS

FIG. 1 is a graph illustrating the elevation in CD19, HLADR, NK CD3-/CD56+ and CD38 populations of peripheral blood cells from cancer patients upon incubation with N. sativa extract over a 18 hour period at 37° C. in 5% CO 2 incubator as shown in Experiment 2.

FIG. 2 is a graph illustrating the percent protection of 3.5×10 4 WISH cells from the cytopathic effects (CPE) of vesicular stomatitis virus (VSV) by serial dilutions of N. sativa extract as described in Experiment 3.

DETAILED DESCRIPTION OF THE INVENTION

Definitions:

The following definitions will be used for the present application:

B cells: B cells or B lymphocytes secrete proteins/antibodies that protect the human body against infections.

CD3: Cluster Differentiation 3. These are the antibodies which indicate Activated T lymphocytes which are used by the body for its protection against foreign harmful germs.

CD19: Cluster Differentiation 19. These are antibodies which help detect B lymphocytes. Elevation in CD19 indicates an elevation in B lymphocytes and vice versa.

CD56: Cluster Differentiation 56 are antibodies which inhibit Natural Killer target cell interactions in certain systems.

G-CSF: Granulocyte-Colony Stimulating Factor

GM-CSF: Granulocyte Macrophage-Colony Stimulating Factor.

HLADR: Human Leukocyte antigen DR. DR designates a genetic locus or the antigen of the major histocompatibility complex corresponding to the locus. An increase in HLADR indicates an elevation in immunological parameters against the disease.

NK: Natural Killer cells. NK is an indication to detect the Natural Killer cells.

NKCD3-/CD56+: Natural Killer Cluster Differentiation 3-/Cluster Differentiation 56+.

Preparation of N. sativa Extract:

The process for preparing the N. sativa extract comprises grinding the seeds and separating the extract of the N. sativa with appropriate solvents such as alcohol or water, removing lipids by extraction with ether or petroleum ether, crystallization or chromatographic fractionation and then mixing its components in the desired proportion. The N. sativa extract can then be prepared in 3 forms–oil, fluid and crystal–by processes known to the art. The preferred process for the preparation of N. sativa extract is described in Experiment 1.

Administration:

The extract of N. sativa may be administered by itself or in admixture with an appropriate excipient or carrier. The preparation may be administered to the patient by enteral, such as oral or rectal, and parenteral, such as intraperitoneal, intramuscular, intravenous or subcutaneous route. The preparation may also be administered in combination with supplements, such as antiviral agents, immune modulators, antibodies, other chemotherapeutic agents, or combinations thereof. The preparation may additionally be administered in dosage form, such as by capsules, tablets, suppositories or the like.

Dosages:

N. sativa has been found to be most effective when administered at a dosage of 30 g per day, with an effective range of 20-40 g per day.

N. sativa extract is also known to confer protection of human amniotic “WISH” cells against cytopathic effects of vesicular stomatitis virus (VSV). The plant extract at a dilution of 1:1000 when incubated with 3.5×10 4 WISH cells for 18 to 24 hours at 37° centigrade gave maximum protection.

Theoretically, a patient weighing 70 kg has about 7×10 13 cells in its body and N. sativa will be useful at a dosage between about 20 and 40 g per day and preferably about 30 g per day to protect against viral attack in virus endemic areas.

The invention is further illustrated by the following experiments and tests but not limited by the following experiments:

EXPERIMENTS

To evaluate the usefulness of N. sativa for cancer treatment, the activity of the N. sativa extract was measured on bone marrow and peripheral white blood cells. In vitro antiviral antitumor and growth factor like activity were also measured.

N. sativa extract was incubated with bone marrow cells to determine the growth of the cells. The results were compared with that of bone marrow growth factors and biological response modifiers (GM-CSF, G-CSF, erythropoietin, interferon, IL-2, and STS). Mouse connective cells and human amnion or “WISH” cells were also assayed.

The following calculations were used in the examples:

Calculation of Percent Elevation: ##EQU1## in which R T is the average cell count of the experimental well with extract/growth factors, R C is the average background cell count with control, R MAX is the average maximum elevation without extract/growth factor.

Calculation of Percent Inhibition: ##EQU2## in which R T is the average cell count of the experimental well with extract/Abrin control, R C is the average background cell count with control, R MAX is the average maximum inhibition without extract/Abrin control.

Following are descriptions of some procedures used in the experiments. Universal safety precautions, known to the art, must be observed when handling all biological materials.

Procedure 1

Flow Cytometry Direct Immunofluorescence Staining

Automated Flow Cytometry (FC) provides an efficient, sensitive and quantitative method to analyze cell populations, sub-populations, and their components in suspension. Cells express and shed surface antigens throughout their life indicating their classification, stage of maturation, activation state and disease state. Monoclonal antibodies (mABs) have been developed that specifically bind these surface antigens. Established clinical applications are in leukemia and lymphoma diagnosis, T-cell subset analysis, monitoring transplant rejection, monitoring the effects of chemotherapeutic agents on different cell types and measuring cellular activation.

Whole blood, bone marrow or cellular suspension is first treated with a red blood cell lysing solution, washed, and then mixed with a labeled mAB against a specific membrane antigen. The direct staining procedure is then followed by analysis with the FACSCAN Immunocytometry Systems flow cytometer (FACSCAN Users’ Guide, Becton Dickinson).

All specimens are generally labeled with the following information: 1) Patient name; 2) Date drawn; 3) Time drawn; 4) Phlebotomist’s initials; and 5) Panel number. Patient specimens are identified by the nurse or phlebotomist generally by checking the wristband to verify the name of the patient. A unique tracking number is assigned to each individual specimen to assure proper specimen tracking.

Peripheral Blood is aseptically collected in an appropriate container such as a lavender top (EDTA anti-coagulant) vacutainer tube and delivered at room temperature preferably within 48 hours. The minimum amount required is approximately 2 ml whole blood per panel ordered. The optimum amount required is approximately 3 ml whole blood per panel ordered

The bone marrow (BM) specimen is aseptically collected in a container such as a lavender top (EDTA) vacutainer tube and transported at room temperature within 48 hours. The minimum amount required is approximately 2 ml of BM specimen per panel ordered. The optimum amount is approximately 3 ml of BM specimen per panel ordered.

Solid tumors include those from the breast, lymph node, colon, ovarian, lung, and skin. Reference is made to the HTCA Pharmacosensitivity Procedure (Procedure 5, infra.) for a description of the procedures. The tumor should be delivered at room temperature within 48 hours of extraction. The minimum amount required is approximately 2 ml of cells at a concentration of 1×10 6 /ml per panel ordered. The optimum amount is approximately 3 ml of cells at a concentration of 1×10 6 /ml per panel ordered.

Materials:

The materials required are as follows:

EDTA Vacutainer Blood Collection Tubes

12×75 mm plastic test tubes

Serofuge

FACSCAN Flow Cytometer

Micropipettes (20 ul and 100 ul)

Micropipet Tips

Repeater Pipet

Small Beakers

Gauze Squares

Monoclonal Antibodies

Lysing Solution

PBS

0.5% p-Formaldehyde

Transport Media

50 ml Conical Tubes

Repeater Pipet Tips

Safety Shield

Sorvall TR6000 centrifuge

Coulter Cytotrol control cells

Reagents:

The reagents are prepared as follows:

A. Monoclonal antibodies–see package inserts for proper reconstitution and storage of various mABs. For Coulter mABs, reconstitute according to package insert and then make a 1:2 dilution in sterile water and place in an appropriate container.

B. Lysing solution–(Becton-Dickinson order #92-0002). To prepare 1× working solution, add 10 ml 10× lysing stock solution to 90 ml distilled water. Mix well. Store at room temperature. Discard after one week.

C. Phosphate Buffered Saline (PBS) without Ca++ and Mg++ (Gibco order #310-4190AJ)

D. 0.5% Paraformaldehyde. Dissolve 2.5 g paraformaldehyde (Baker S-898-7) in 500 ml of 1× PBS without Ca++ or Mg++.

E. Coulter Cytotrol control cells. Reconstitute Cytotrol control cells according to manufacturers’ package insert. These cells must be prepared fresh daily.

Quality Control:

A leukogate and a negative control tube must be run for each patient. Tubes for Cytotrol control cells should be included for each mAB used that day.

Procedure:

Label test tubes with patient name and appropriate mAB. Using a micropipet, to each tube add 20 ul of the appropriate antibody. Using a micropipet, to each tube add 100 ul of the patient whole blood. Vortex each tube. Incubate the tubes at room temperature for 15 minutes. Using the repeater pipet (set on 4) add 2 ml of 1× lysing solution to each tube. Incubate the tubes at room temperature for 10 minutes. Centrifuge tubes in serofuge set on high for 3 minutes or in Sorvall TR6000 for 5 minutes at 3000 RPM. Pour off supernatant in waste beaker, being careful not to splash. Blot top of tube on gauze square. Vortex each tube to break pellet (use safety shield). Using repeater pipet (set on 4) add 1 ml of 1× PBS to each tube and vortex each tube (use safety shield). Centrifuge tubes in a serofuge set on high for 3 minutes .or in Sorvall TR6000 for 5 minutes at 3000 RPM. Pour off supernatant in waste beaker being careful not to splash. Blot top of tube on gauze square. Vortex tubes to break pellet (use safety shield). Using repeater pipet (set on 2) add 0.5 ml of 0.5% paraformaldehyde. Vortex. Keep tubes covered with parafilm and in the refrigerator until ready for flow cytometric analysis.

Specimen Analysis:

Analyze each tube on the FACSCAN flow cytometer using Simulset software for surface marker evaluation. (Refer to FACSCAN Users’ Guide and Simulset Software Manual.) Use the complete blood count (CBC) information (be sure CBC was drawn same date and time as FC sample) to enter the total white blood count and % lymphocytes.

Procedure 2

Colony Forming Cells

In order to be able to calculate the potency of the bone marrow, the stem cell assay is performed. Information on the status of Colony Forming Units (CFU) before therapy is performed is obtained. This will allow one to precisely define the medication according to the possible toxicities developed. Also, this will allow the prediction of the toxicity of the medication. The character of CFU when stem cells are treated with different medications will help determine predominance of development of cell lines. It has been demonstrated that interferon prolongs myelopoietic differentiation; therefore, the number of CFU will increase. This will demonstrate efficiency of interferon on bone marrow recovery and confirm the protective activity of interferon to the bone marrow.

With different hemopoietic growth factors, CFU development for the different cell lines can be directed.

Specimen Requirements, Collection and Handling:

Specimen Requirements: Bone marrow sufficient to yield a minimum of 4.0 ml and an optimum of 5.0 ml mononuclear cells at a concentration of 1.0×10 6 cells/ml.

Bone Marrow collection procedure: Prepare 4-6 50 ml Falcon tubes containing 20 ml of tissue transport media. Transport the media in the cooler with frozen ice chips to the procedure. A mask, gloves and gown must be worn during the procedure. Inject 2500 units of preservative-free heparin into the media tubes using sterile technique. This must be done no earlier then 15 minutes before obtaining the bone marrow specimen. Mix well. When bone marrow is handed to the technologist in a syringe, carefully inject into the media tubes, rinsing with media twice. Discard syringe in the Sharps container. Cap tube and mix well. Label the specimen with the following: 1) Patient’s full name; 2) Date specimen was received; 3) Time specimen was received; and 4) Initials of technologist who obtained the specimen. Place in cooler with ice chips for transportation.

Materials:

The following materials are necessary:

Ficoll-Hypaque

Capped Test Tubes [Sterile] 15 ml

Falcon Tubes-50 ml

Sterile Laminar Flow Hood with UV Light

Centrifuge

Sterile Disposable Pipettes

1.0 ml

5.0 ml

10.0 ml

25.0 ml

RPMI 1640 [1×]

Iscove’s Modified Dulbecco’s Medium [1×]

Fetal Bovine Serum

Penicillin/Streptomycin

L-Glutamine [100×]

Trace Elements [100×]

2-Mercaptoethanol

Insulin Transferrin-Sodium Selenite Media Supplement (ITS)

Glass Test Tubes 12×75 ml

Trypan Blue Stain (0.4%)

Hemocytometer With Cover Slips

Microscopes (Light, Inverted)

Tissue Culture Flasks-25 CM 2

Somatostatin-50 μg/ml (Sandoz-Sandostatin)

Interferon-3×10 6 U/ml (Roferon A-Hoffman LaRoche)

Interleukin-2 (Boehringer Mannheim GMBH Cat #799068)

GM-CSF (Amgen Cat #13050)

G-CSF (Amgen Cat #10050)

Epogen (Amgen Cat #06050)

PIXY 321 (Immunex)

CO 2 Incubator

Hand Counter

Ice Chips

Media and Reagent Preparation:

After preparation of each media, the final product is labeled with the following: 1) Name of Product; 2) Preparation Date; 3) Expiration Date; 4) Storage Recommendations; and 5) Technologist’s Initials. 10% RPMI 1640 (1×) G,G Fortified:
______________________________________
AMOUNT COMPONENT
______________________________________

500.0 ml RPMI 1640 (1X) with L-Glutamine
50.0 ml Fetal Bovine Serum (Qualified, Heat
Inactivated)
5.0 ml L-Glutamine (100X), 200 mM
1.5 ml Penicillin/Streptomycin
2.0 ml Trace Element Mix (100X),
Lyophilized
0.5 ml 2-Mercaptoethanol
5.0 ml ITS Media Supplement, Lophilized,
Gamma-Irradiated
______________________________________

All components are combined under a sterile laminar flow hood, and sterilized by filtration using a 0.22 micron membrane filter with a 60 micron prefilter. The prepared media is labeled and stored at 2°-10° C.

IMDM/RMPI 1640 [1×] (Tissue Transport Media):
______________________________________
AMOUNT COMPONENT
______________________________________

500.0 ml RPMI 1640 [1X]
500.0 ml IMDM [1X]
100.0 ml FBS
5.0 ml Penicillin/Streptomycin
10.0 ml L-Glutamine (100X)
5.0 ml Trace Element Mix (100X)
5.0 ml Nonessential Amino Acids
(100X)
0.5 ml MEM Vitamins
0.5 ml 2-Mercaptoethanol
5.0 ml ITS
______________________________________

All components are combined under a sterile laminar flow hood, and sterilized by filtration using a 0.22 micron membrane filter with a 60 micron prefilter. The prepared media is labeled and stored at 2°-10° C.

Interferon:

Use 1 vial of Roferon A Interferon available from Hoffmann-LaRoche Inc. (3,000,000 U). Take 1 ml Interferon and add 39 ml of RPMI(1×) media to yield a concentration of 75,000 U/ml. Make 40 1 ml aliquots of this dilution and freeze. For the Colony Forming Assay use 1 ml of the 75,000 U/ml Interferon for each 25 cm 2 flask containing 4.0 ml of media and 0.5 ml of cells.

Interleukin-2:

Thaw interleukin-2 and take 5 ml of interleukin-2 containing 200 units per ml. Immediately freeze remaining interleukin-2 into 5 ml aliquots. Add 5 ml of RPMI(1×) media to 5 ml of interleukin-2 containing 200 units per ml to obtain a concentration of 100 units/ml. To 10 tubes containing 9 ml of the media, add 1 ml of interleukin-2 at a concentration of 100 units/ml to obtain a concentration of 10 units/ml. These aliquots are stable for 30 days at 4°-8° C. For colony forming assay, use 0.5 ml (or 5 units) for each 25 cm 2 flask containing 4.5 ml of medium and 0.5 ml of cells.

Somatostatin:

Somatostatin is available in single vials containing 50 μg/ml and 100 μg/ml from Sandoz Ltd. Store at 4°-8° C. For the Colony Forming Assay, use 1.0 ml of STS containing 50 μ/ml for each 25 cm 2 flask containing 4.0 ml of media and 0.5 ml of cells. This procedure is written for 50 μg/ml vials. If 100 μg/ml vials are used, use 0.5 ml of Somatostatin and 4.5 ml of media for a 25 cm 2 flask.

GM-CSF:

Dilute 250 ul of GM-CSF containing 50,000 units in 50 ml of media to obtain 1000 units/ml. Prepare aliquots of 5 ml each containing 5,000 units in sterile tubes with caps. Label each aliquot: GM-CSF–5,000 units (1,000 units/ml). Close nine of these aliquots with sterile adhesive and store at 4° C. Aliquot #10, containing 1,000 units/ml (total 5,000 units), will be used as follows: Pipet one ml into each of 5 sterile tubes. Add 19 ml of media to obtain 50 units/ml. (Each tube will contain a total of 1,000 units). Label each of these aliquots: GM-CSF–50 units/ml (total 1,000 units). Close 4 of these aliquots with sterile adhesive and store at 4° C. Aliquot #5 will be marked “IN USE” and stored at 4° C. For colony forming assay, use 50 ul (or 2.5 units) for 25 cm 2 flask containing 5.0 ml of medium and 0.5 ml of cells.

G-CSF:

Dilute 125 ul of G-CSF, containing 60,000 units in 50 ml of media to obtain 1200 units/ml. Prepare aliquots of 5 ml each containing 6,000 units in sterile tubes with caps. Label each aliquot: G-CSF–6,000 units (1,200 units/ml). Add the date. Close 9 of these aliquots with sterile adhesive and store at 4° C. Aliquot #10 containing 5 ml of 1,200 units/ml (total 6,000 units), will be used as follows: Pipet one ml into each of 5 sterile tubes. Add 19 ml of media to obtain 60 units/ml (each tube will contain a total of 1,200 units). Label each of these aliquots: G-CSF–60 units/ml (total 1,200 units). Add the date. Close 4 of these aliquots with sterile adhesive and store at 4° C. Aliquot #5 will be marked “IN USE” and stored at 4° C. For colony forming assay, use 50 μl (or 3 units) for each 25 cm 2 flask containing 5.0 ml of media and 0.5 ml of cells.

Epogen:

To one ml of epogen containing 2,000 units, add 19 ml of media to yield 20 ml of 2,000 units or 100 units/ml. Aliquot 2 ml into each of 10 cryovials. Label as follows: Epogen–100 units/ml and date. Store at 4°-8° C. For colony forming assay, use 50 μl (or 5 units) for each 25 cm 2 flask containing 5.0 ml of medium and 0.5 ml of cells.

PIXY 321-GM-CSF/IL-3:

Using 15 ml sterile capped tubes, dilute 1 ml of Pixy 321 (be sure to quantitatively transfer by rinsing vials) with 9 ml of 10% BSA and mix well. This will yield a neutralizing effect of 1.0×10 6 units/ml. Aliquot 1.0 ml of this solution of 1×10 6 units/ml into each of 9 cryovials. Label each vial with: name, concentration and expiration date. Store at -70° C. To the remaining 1 ml of 1.0×10 6 units/ml, add 9 ml of 10% BSA and mix well. This will yield a neutralizing effect of 1.0×10 5 units/ml. Aliquot 1.0 ml of this solution of 1×10 5 units/ml into each of 9 cryovials. Label each vial with: name, concentration and expiration date. Store at -70° C. To the remaining 1 ml of 1.0×10 5 units/ml, add 9 ml of 10% BSA and mix well. This will yield a neutralizing effect of 1.0×10 4 units/ml. Aliquot 1.0 ml of this solution of 1×10 4 units/ml into each of 9 cryovials. Label each with: name, concentration, and expiration date. Store at 70° C. To the remaining 1 ml of 1.0×10 4 units/ml, add 9 ml of 10% BSA and mfx well. This will yield a neutralizing effect of 1.0×10 3 units/ml. Aliquot 1.0 ml of this solution into each of 10 cryovials. Label each with: name, “Working Pixy,” concentration, and expiration date. Store at -70° C. One vial may be thawed and stored at 4° C. for use in the assay. Take 1 ml aliquot of 1.0×10 3 units/ml out of the -70° C. freezer and thaw. This will be marked “in use” and stored at 4° C. For Colony Forming Assay, use 50 μL (or 2.5 units) for 25 cm 2 flask.

PROCEDURE

Sample Processing:

Using a sterile pipet, dispense 20-25 ml of histopaque into the appropriate number of capped sterile 50 ml conical tubes. Using another sterile pipet, gently layer the bone marrow at a 45° C. angle onto the histopaque using a 1:1 ratio of histopaque to specimen. Centrifuge at 1600 RPM for 20 minutes in refrigerated centrifuge at 4° C. (brake on 2). Remove and discard the supernatant. Remove the cell interface and place in RPMI(1×) in a pre-labeled tube. Wash cells twice with RPMI(1×) media and centrifuge at 1600 RPM for 5 minutes with a brake of 2. Remove and discard the supernatant. Resuspend the cell pellet in 5 ml of RPMI(1×) medium.

Perform cell count:

In a 12×75 ml glass tube, combine:

0.1 ml of well-mixed cell suspension

0.2 ml of 0.4% Trypan Blue stain

0.7 ml of media

This is a 1:10 dilution.

Mix well and charge one chamber of the hemocytometer with the cell suspension. Under the light microscope, count the viable cells (those which have not absorbed the Trypan Blue) in the four corner 1 mm 2 squares. Count the total number of cells (stained and unstained) in the four corner 1 mm 2 squares.

Calculation for Cell Concentration:

1. Perform the viable cell count using the following equation: Average number of viable cells per square×dilution factor×hemacytometer factor =cells/ml

Sample calculation: 20 Cells (average # of viable cells per square)×10 4 ×10 (dilution factor)=2×10 6 cells/ml.

2. Determine the % viability using the following formula: Viable cell count×100=% viability total cell count

3. Adjust volume to amount needed for the appropriate cell concentration for the assay (this assay requires 1×10 6 cells/ml) using the following formula: (V 1 C 1 =V 2 C 2 )

For example:

V 1 =10 ml V 2 =?

C 1 =2×10 6 cells/mlC 2 =1×10 6 cells/ml ##EQU3## 10 ml×2×10 6 cells/ml=V 2 1×10 6 cells/ml

20 ml=V 2

20 ml-10 ml=10 ml

Ten ml of media must be added to have a volume of 1×10 6 cells/ml.

4. Prepare the flasks: label eight 25 cm 2 liquid tissue culture flasks with the following information: 1) Patient name; 2) Tracking number; 3) Date; 4) Growth Factor or BRM.

5. To each of the 25 cm 2 flasks, add bone marrow cells (BMC), growth factor or biological response modifier (BRM), and media according to Table 1:
TABLE 1
______________________________________
Growth Factor BMC BRM Media
______________________________________

BMC + M 0.5 ml — 5.0 ml
(Control)
BMC + IFN + M 0.5 ml 1.0 ml 4.0 ml
BMC + IL2 + M 0.5 ml 0.5 ml 4.5 ml
BMC + STS + M 0.5 ml 1.0 ml 4.0 ml
BMC + GM-CSF + M
0.5 ml 50 μl
5.0 ml
BMC + G-CSF + M 0.5 ml 50 μl
5.0 ml
BMC + EPO + M 0.5 ml 50 μl
5.0 ml
BMC + PIXY + M 0.5 ml 50 μl
5.0 ml
______________________________________

NOTE: The final volume in all flasks will be 5.5 ml.

NOTE: The final volume in all flasks will be 5.5 ml.

6. Incubate the flasks in the 37° C. and 5% CO 2 incubator. The flasks are to be read and fed as needed, taking care to treat each flask in the assay the same.

Reading and Reporting Results:

At days 7, 14 and 21, scan each of the flasks of the colony forming assay for colonies under the inverted microscope. A colony is defined as 40 or more cells adhering to the bottom of the flask. Floating colonies are not to be counted. Scan the entire flask and report the total number of colonies counted for each flask on the colony forming assay report form.

If no growth is seen at the end of 21 days, report as “No Growth” and hold the flasks for an additional 7 days. Flasks may be discarded after the final report is reviewed by the Medical Director.

Procedure 3

Immunomodulatory Testing

The prediction of clinical or in vitro response to cancer therapy and the corresponding determination of optimum patient treatment through the use of in vitro assays has been the goal of many investigators. The immunomodulatory assay is a procedure to determine how the patient will react to certain biological response modifiers in vitro. It is a necessary addition to other forms of testing in that it can determine if a patient’s serum naturally contains the factors which are able to suppress or activate the growth of tumor cells.

In this procedure, the patient’s serum, and/or WBC’s, is combined with various biological response modifiers (BRM) and co-cultured with a tumor cell line. The percentage of stimulation or percentage of inhibition of the tumor cell growth is determined. This information enables the oncologist to determine appropriate and customized treatment for each patient.

SPECIMEN REQUIREMENTS AND COLLECTION

Label all specimens with patient name, date drawn, time drawn, and phlebotomist’s initial. A unique tracking number will be assigned to each individual specimen to assure proper specimen tracking.

Requirements:

1. Whole blood (WB)–10 ml

2. Serum–3 ml

3. Bone Marrow (BM)–one BM aspiration in 25 ml of transport media. The optimum amount is 3 ml at 1×10 6 cells per ml.

4. Plasmapheresis specimen–3 ml

Both a whole blood specimen and a serum specimen are required for complete immunomodulatory evaluation. However, in the event that only one of the two specimens (WB or serum) is available, partial immunomodulatory testing may be performed.

Collection, Processing, and Handling:

The patient will be properly identified by the nurse or phlebotomist (i.e., check wristband, verify patient name).

Specimens will be aseptically collected by the nurse or a phlebotomist. Gloves and lab coat must be worn while drawing or handling the specimen and “universal precautions” must be observed.

1. Whole Blood

a. Collection–Add 2500 units of preservative free heparin (Calciparine) to a 10 ml red top vacutainer tube. Perform venipuncture and draw the patient’s blood into tube. Label all tubes with patient’s name, date and time collected. Invert several times to mix anticoagulant. Refrigerate tube until ready for separation of the mononuclear layer by the density gradient procedure (Reference is made to Procedure 4, infra., at part B-2).

Minimum amount whole blood=7 ml

Optimum amount whole blood=10 ml

b. Unacceptable Specimens–Clotted specimens, grossly hemolyzed specimens, or frozen specimens are unacceptable.

c. Rejection of Specimens–When any criteria are not met, the unacceptable specimens may be tested if necessary.

2. Serum

a. Collection–Use a red top vacutainer tube to perform venipuncture and draw 10 ml of the patient’s blood into the tube. Centrifuge the serum specimen at 2000 RPM for 10 minutes at 25° C. Refrigerate tube until testing. Aseptically draw off serum and place in a separate tube.

Minimum amount serum=3 ml

Optimum amount serum=5 ml

b. Unacceptable Specimens–Specimens with excessive fibrin clotting are unacceptable.

c. Rejection of Specimens–When any criteria are not met, the unacceptable specimens may be tested if necessary.

3. Plasmapheresis

a. Collection–Add 2500 units of preservative free heparin (Calciparine) to a 10 ml red top vacutainer tube. Draw from the plasma collection container at the beginning of the plasmapheresis procedure. Label tube #1. Refrigerate until testing. Minimum amount of plasma=3 ml

Optimum amount of plasma=5 ml

b. Unacceptable Specimens–Specimens with excessive fibrin clotting are unacceptable.

c. Rejection of Specimens–When any criteria are not met, the unacceptable specimens may be tested if necessary.

4. Bone Marrow

a. Collection–Not more than 15 minutes prior to the BM procedure, add 2500 units of Calciparine per 25 ml of tissue transport media using aseptic techniques. Using aseptic techniques, quickly add the BM specimens to the transport tube and mix well. Refrigerate the tube until ready for separation of the mononuclear layer by the density gradient procedure (see part IV, section B-2).

b. Unacceptable Specimens–Grossly clotted specimens, grossly hemolyzed specimens, or frozen specimens are unacceptable.

c. Rejection of Specimens–When any criteria are not met, the unacceptable specimens may be tested if necessary.

MATERIALS:

The following materials are required for this procedure:

Laminar Flow Hood

Bacto-Agar

Balance

Weighing Paper

Weighing Tools

Capped Bottles (Sterile) (-250 ml, -500 ml)

Distilled Water (Sterile)

Microwave Oven

Autoclave

RPMI 1640 Media

Gentamicin

Disposable Pipettes (Sterile) (-1 ml, -2 ml, -5 ml, -10 ml, -25 ml)

Glutamine

Trace Elements

2-Mercaptoethanol with Dulbecco’s PBS

ITS Solution

Fetal Bovine Serum

Test Tubes (Capped) (-5 ml, -10 ml)

Petri Dishes (Sterile) (Regular 100×15 mm,

Gridded 35 mm)

Falcon Tubes

Conical Tube (Sterile-Plastic)

Trypan Blue Stain (0.4.about.)

Hemocytometer with Cover Slips

Microscopes (Tissue Culture Inverted Microscope, Light Microscope)

pH Paper (Narrow Spectrum)

Graduated Cylinders (50 ml, 100 ml)

Histopaque-1077

Water Bath

Suction Pipetter

Refrigerated Centrifuge

CO 2 Incubator

Biological Response Modifiers (Recombinant Interferon Alpha 2a, Recombinant Interleukin-2, mAB to Interferon Alpha)

Vortex Mixer

Refrigerator (2-8 C.)

Hand Counter

Sharps Container

Pasteur Pipettes

Dropper Bulbs

-70° C. Freezer

Precise Surface Disinfectant

Micro Glassware Disinfectant/Cleanser

Beaker (250 ml)

Betadine Disinfecting Solution

Syringes (1 cc) (Sterile)

Needles (Various Gauges)

Vacutainer Tubes (Red Tops and “Tiger Tops”)

MEDIA AND REAGENT PREPARATION

Prepare Agar:

Lower layer (2.5% working solution): Weigh out 2.50 gm of Bacto-Agar and place in a 100 ml capped bottle. Add 100 ml distilled water. Swirl gently to mix.

Upper layer (1.5% working solution): Weigh out 1.50 gm of Bacto-Agar and place in a 100 ml capped bottle. Add 100 ml distilled water. Swirl gently to mix. Place both bottles in the microwave with caps loosened. Microwave for 60 seconds at full power, mixing every 20 seconds. Avoid boiling. The agar will appear clear when ready. If solution boils over, do not use it. Re-make the agar solution. Loosely tape cap with autoclave indicator tape and autoclave both solutions for 20 minutes at 22 psi and 250°-270° F. Place both bottles in the water bath under the hood. This bath must be kept at 45°-50° C. at all times. The agar should cool down to 50° C. before use. Swirl agar to mix well before using.

Prepare Media:

After preparation of each media, label the final product with the following: 1) Name of Product; 2) Preparation Date; 3) Expiration Date; 4) Storage Recommendations; 5) Technologist’s Initials

10% RPMI 1640 (1×) G,G fortified:
______________________________________
AMOUNT COMPONENT
______________________________________

500.0 ml RPMI 1640 (1X) with L-Glutamine
50.0 ml Fetal Bovine Serum, Qualified, Heat
Inactivated
5.0 ml L-Glutamine (100X) 200 mM
2.5 ml Penicillin/Streptomycin
2.0 ml Trace Element Mix (100X), Lyophilized
0.5 ml 2-Mercaptoethanol
5.0 ml Insulin-Transferrin-Sodium Selenite, Media
Supplement, Lyophilized, Gamma-Irradiated
______________________________________

Combine all components under a sterile laminar flow hood. Sterilize by filtration using a 0.22 micron cellulose acetate membrane filter with a 60 micron prefilter. Store the prepared media at 2°-10° C.

10% RPMI 1640 (2×) G,G Fortified:
______________________________________
AMOUNT COMPONENT
______________________________________

500.0 ml RPMI 1640 (2X) Powdered Cell Culture Medium
with L-Glutamine (Reconstitute one powder
pack with a total of 500.0 ml of sterile
distilled water)
50.0 ml Fetal Bovine Serum, Qualified, Heat
Inactivated
5.0 ml L-Glutamine (100X) 200 mM
2.5 ml Penicillin/Streptomycin
2.0 ml Trace Element Mix (100X), Lyophilized
0.5 ml 2-Mercaptoethanol
5.0 ml Insulin-Transferrin-Sodium Selenite, Media
Supplement, Lyophilized, Gamma-Irradiated
______________________________________

Under a sterile laminar flow hood, measure out 450 ml of sterile distilled water and place in a sterile 500 ml reagent bottle. Add the powdered medium to the water with gentle stirring. Rinse out the inside of the package to remove all traces of powder. Add 1.0 g of NaHCO 3 per 500 ml of medium. Dilute with sterile distilled water to 500 ml. Adjust the pH of the preparation to 0.2-0.3 below the desired final working pH (pH units will usually rise 0.1-0.3 upon filtration); use of 1N NaOH or 1N HCl is recommended. After the pH has been adjusted, keep the container closed until the medium is filtered. Sterilize immediately by membrane filtration using a 0.22 micron cellulose acetate membrane filter with a 60 micron prefilter. Store the prepared media at 2°-10° C.

Prepare Lower Layer Stock Media:
______________________________________
125 ml Fetal Bovine Serum 125 ml 2 × G, G Fortified Solution 250 ml 1 × G, G Fortified Solution
______________________________________

Mix, label, and store at 2-10° C.

Prepare Upper Layer Stock Media:
______________________________________
150 ml Fetal Bovine Serum 150 ml 2 × G, G Fortified Solution 150 ml 1 × G, G Fortified Solution
______________________________________

Preparation of Drugs:

Prepare a working concentration for the drugs to be tested. All drug dilutions are made with RPMI 1640 1× G,G Fortified.

To prepare IFN Alpha-2a in a 10 ml capped tube, mix 0.1 ml Roferon (3,000,000 units/ml) with 9.9 ml 1× G,G, Media. Label tube with name of drug, preparation date, expiration date (1 week from the day of preparation), concentration (30,000 u/ml) and technician’s initials.

To prepare IL-2 in 10 ml capped tube: Remove working stock aliquot of IL-2 (10 units/ml) from refrigerator. If the aliquot is not available in refrigerator, follow the IL-2 aliquot procedure found in the aliquot procedure book. The stock tubes are kept in the -48° C. freezer. The dosage for testing will be 0.1 ml, which will equal 1 unit of interleukin-2. Therefore, 1 unit of interleukin-2 will be tested in the immunomodulatory procedure. Interleukin-2, in this media, can be maintained for 30 days at 2°-8° C.

To prepare LI-8-ABIFN (mAB to IFN alpha 2A) in a 10 ml capped tube, remove working aliquot (neutralizing effect of 1000 units/ml from freezer). The dosage will be 0.1 ml in the assay to achieve a concentration of 100 units of neutralizing ABIFN.

PROCEDURE:

Lower Layer (2.5% agar):

Use lower layer stock media and dispense 8 ml of stock media into the appropriate number of sterile 15 ml tubes with caps. (Approximately 8 plates can be made from 1 tube.) Keep capped at room temperature until needed to prepare lower layer plates or store capped overnight at 2°-8° C. for use the following day. Warm to room temperature before use. When ready to prepare the lower layer plates work quickly to prevent premature solidification of the agar. Using a sterile 10 ml pipet draw up 2.0 ml of the 2.5% agar mixture. Dispense the 2.0 ml into one of the 15.0 ml plastic tubes containing 8 ml of lower layer media, and mix twice by drawing up and dispensing into the tube. Draw up 9.0 ml of the mixture and dispense 1.0 ml into each 35 mm gridded plate. Swirl to cover the bottom of the plate. Take care to prevent bubbles. Prepare only 8 plates at a time so that the agar does not solidify before it is plated. Allow plates to sit undisturbed on a flat surface until the agar has solidified. Discard any plates with uneven agar distribution. Store plates at room temperature for same day use or overnight in a 37° C. CO 2 incubator for use the following day.

Preparing the Cells Lines:

Generally, L929 cells are used in the assay, but colon, prostate, breast or ovarian cells may also be used.

For L929 cells, microscopically examine the liquid culture flasks of the desired cell line and determine by confluency which flasks to use. Remove supernatant with pipet and discard. Add 5 ml Trypsin. Expose to cell layer and remove 2 ml. Incubate flasks with Trypsin for minute. Hit flask with the palm of your hand to knock cells off. Add 7 ml of L929 cell media to stop reaction. Transfer cells to a sterile 50 ml conical tube, add more media (to bring to 20 ml). Centrifuge tube 1600 RPM for 5 minutes with brake on 2. Remove supernatant and resuspend pellet in L929 cell media. Centrifuge cells at 1600 RPM for 5 minutes with brake on 2. Remove supernatant, resuspend pellet in appropriate media.

Preparing the Patient Cells (from whole blood with Calciparine, or BM Specimen with Calciparine):

Into an appropriate size (depends on sample volume) capped plastic tubes labeled with each patient’s name, dispense the appropriate volume of histopague (use equal amounts of histopaque to equal amounts of whole blood, i.e., if a whole blood tube containing 8 ml of blood is received, dispense 4 ml of histopaque and 4 ml of whole blood into each of two 15 ml capped tubes. If 75 ml of BM is received, dispense approximately 18.75 of histopaque and 18.75 of BM into four 50 ml conical tubes. Layer in the whole blood very slowly at a 45° C. angle on the histopaque. Centrifuge at 1600 RPM for 20 minutes in centrifuge at 4° C., brake on 2. Remove and discard the supernatant. Remove the cell interface and place in a separate tube containing 10.about. RPMI 1× G,G media. Dilute the cells with media quickly because the histopaque is very toxic to the cells if left on them for extended periods of time. Wash cells twice with 10.about. RPMI 1× G,G media. Centrifuge at 1600 RPM for 5 minutes with the brake on 2. Remove and discard the supernatant. Resuspend the cell pellet in 5 ml RPMI 1× G,G media.

PERFORM CELL COUNT:

In a 12×75 ml glass tube, combine: 0.7 Media; 0.2; Trypan Blue; and 0.1 Cell Suspension. This is a 1:10 Dilution. Mix well. Charge one chamber of the hemocytometer with the cell suspension. Under the light microscope, count the live cells (those which have not absorbed Trypan Blue) in the 4 corner 1 mm 2 squares. The concentration of cell lines and patient cells for the IM assay will be as follows (cells per ml):

L-Cells5×10 5

Colon1×10 5

Prostate5×10 4

Breast5×10 4

Ovarian2×10 4

Patient1×10 6

Count the total number of cells (stained and unstained) in the 4 corner 1 mm 2 squares.

CALCULATION FOR CELL COUNT:

Use the following cell count formula: Cells per ml=average # cells×dilution factor×hemocytometer factor.

EXAMPLE CALCULATION:

Patient cells are brought up in 10 ml of media. 0.1 ml of cells are added to 0.2 ml of Trypan Blue and 0.7 ml of media. 4-1 mm 2 squares were counted and cell count=80 cells. 20 cells (80 cells 4-1 mm 2 squares=average # of cells)×10 (dilution factor)×10 4 =2×10 6 cells/ml.

Calculate % viability using the following formula: % of viable cells×100=% viability total # of cells

Adjust volume to amount needed for the appropriate cell concentration for the assay: (V 1 C 1 =V 2 C 2 )

V 1 =10 ml V 2 =?

C 1 =2×10 6 cells/ml C 2 =1×10 6 cells/ml ##EQU4## 20 ml=V 2 20 ml-10 ml=10 ml

Ten ml of media must be added to have a volume of 1×10 6 cells/ml.

Label the appropriate number of plates with the following information: 1) Specimen number; 2) Patient name; 3) Name of BRM; 4) Setup date.

Preparing Upper Layer:

Label and arrange 15 ml sterile capped tubes for each control, patient serum, patient whole blood sample, that you need in a test tube rack according to Table 2 (infra.). Be sure to include a cell control, and a control for each BRM to be tested. The cell control should contain everything the others contain except for BRM. A separate set of control tubes must be set up for each cell line assayed (colon, L cell, prostate). Dispense the upper layer stock media into each tube, then add appropriate amounts of BRM, ABIFN, cell line and serum or patient whole blood. See Table 2 as follows:
TABLE 2
________________________________________________________ __________________
FOLLOW THIS TABLE FOR UPPER LAYER VOLUMES (ALL IN ml): PTWBC UPPER OR L AGAR TOTAL LAYER BRM ABIFN SERUM CELLS 1.5% VOLUME
________________________________________________________ __________________

CELL 2.1 — – — 0.3 0.6 3.0 ml
CONTROL
IFN 2.0 0.1 — – 0.3 0.6 3.0 ml
CONTROL
IL2 2.0 0.1 — – 0.3 0.6 3.0 ml
CONTROL
ABIFN
CONTROL 2.0 — 0.1 — 0.3 0.6 3.0 ml
PT. SERUM
1.9 — – 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
PT. SERUM/
1.8 — 0.1 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
ABIFN
PT. SERUM/
1.8 0.1 — 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
IFN
PT. SERUM/
1.8 0.1 — 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
IL2
PT. WBC 1.9 — – 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
PT. WBC/
1.7 — – 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
SERUM 0.2
PT. WBC/
1.6 — 0.1 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
SERUM/ABIF 0.2
PT. WBC/
1.8 0.1 — 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
IFN
PT. WBC/
1.6 0.1 — 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
IFN/SERUM 0.2
PT. WBC/
1.8 0.1 — 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
IL-2
PT. WBC/
1.6 0.1 — 0.2 0.3 0.6 3.0 ml
IL-2/SERUM 0.2
________________________________________________________ __________________

Add all components except agar to the appropriate tube. For the following, one tube should be finished before moving on to the next. With a 2.0 ml pipet, draw up 0.6 ml of 1.5% agar. Dispense the agar into the tubes one at a time, starting with tube #1. Mix by aspirating and dispensing twice. Draw up 2.2 ml of solution and dispense 1.0 ml into each gridded petri plate (on top of the other layer) taking care not to produce bubbles in the agar. Gently swirl plate to allow for even distribution. Allow agar to solidify, and then add distilled water (approximately 0.5 ml) to humidity plate and place in large labeled petri plate. Repeat steps 5-7 for each plate to be set up. Incubate the cultures at 37° C. in a humid, 5% CO 2 -enriched atmosphere.

REPORTING RESULTS:

Reading semi-solid culture plates:

Read the plates after 7 days as follows: Scan the plate for colonies and aggregates. If they are present, count all the squares to obtain the number of aggregates and colonies in the plate (aggregates=4-20 cells per cluster) (colony is >20 cells per cluster). If no colonies or aggregates are present, count all individual cells (cell line and patient’s WBC’s) in 4 squares and take the average. Multiply the average by 15×13.36 (15=# of square in the center row) (13.36=area of the plate). Plates may be read at 5, 6 or 8 days. Record all data in scientific notation on the report form.

Procedure 4

Human Interferon Assay

Interferons are cytokines that have the ability to inhibit the growth of viruses and to protect infected cells against viral cytopathic effects. The immunoregulatory functions of interferons such as the increase in natural killer (NK) lymphocyte activity, the increase in histocompatibility antigens, the activation of monocyte/macrophages, and B-cell function have also proven to be of clinical importance. The first natural interferon was discovered by Isaac and Linderman in 1975, and recombinant interferon alpha 2 was registered by the FDA in 1986 ushering in a new phase of biotherapy. The goal of this assay is to determine the level of interferon in international units/ml in patient’s serum. Potency of the human interferon of serum samples and controls will be determined using WISH cells challenged with Vesicular Stomatitis Virus measuring the cytopathic effect.

SPECIMEN REQUIREMENTS, COLLECTION AND HANDLING

Specimens are labeled with the following information: 1) Patient name; 2) Date drawn; 3) Time drawn; 4) Phlebotomist’s initials; 5) Test name.

Serum-Amount required: Optimum=3.0 ml Minimum=1.0 ml

The specimen must be aseptically collected in a “tiger” top vacutainer tube, allowed to clot, then centrifuged at room temperature for 10 minutes at 2000 rpm. The serum should be poured over into a sterile plastic tube, capped, appropriately labeled, and stored frozen until the assay is performed.

Plasmapheresis–Amount required: Optimum=3.0 ml Minimum=1.0 ml

The specimen must be collected using sterile technique into a 10 ml red top vacutainer tube from the plasma bag obtained during the plasmapheresis procedure. Add 2500 units of calciparine to the 10 ml red top vacutainer tube containing the plasmapheresis sample and mix well. In addition to the information required above, the specimen should be labeled with the bag number from which it was obtained, i.e. #1, #2, etc. The specimen must be poured over into a sterile plastic tube, capped, appropriately labeled, and stored frozen until the assay is performed.

EQUIPMENT:

The following equipment is needed for this procedure:

Sterile laminar flow hood with ultra-violet light

Freezer -70° C.

Refrigerator 2°-8° C.

Autoclave

Analytical balance

Refrigerated centrifuge

CO 2 incubator

Spectrophotometer (Bio-Rad 96-well plate reader with 540 nm filter)

96-well microtiter plates–sterile flat bottom with covers Falcon 3872

Pipet aid

Micropipettes

Costar octapettes–50 ul, 100 ul, & 200 ul

Wheaton multi-channel pipet–50-200 ul range

MLA-40 ul

Sterile disposable:

Pipettes (1 ml, 5 ml, 10 ml, and 25 ml)

Pipet tips Wheaton 851247

Plastic troughs

Gauze

Cryovials

50 ml conical tubes with caps

Test tubes

Culture flasks (75 cm and 150 cm)

Kimtex wipers

Biohazardous waste can and bags

Stainless steel pan with cover

MATERIALS:

The following materials are needed for this procedure:

Basal Medium Eagle 1× (BME), 500 ml Gibco Cat. No. 320-1010AJ

Fetal Bovine Serum, 100 ml Hyclone Cat. No.

A-1111-D

L-Glutamine, Cat. No. 320-5030AG

Hepes Buffer Solution (1M), 100 ml Gibco Cat. No. 380-5630AG

Penicillin/Streptomycin

WISH cells (Human Amnion) ATCC 25-CCL

Vesicular Stomatitis Virus ATCC

Human Interferon (alpha) Reference NIAID Cat. No. Ga23-902-530

Gamma Interferon control

Neutral red dye Sigma No. N-2880

Phosphate buffered saline (PBS)

PBS without Ca++ and Mg++, Ph 7.4 Gibco

Cat. No. 310-4190AJ

PBS with Ca++ and Mg++, Ph 6.8 Gibco

Cat. No. 310-4040AJ

Glacial acetic acid Sigma Cat. No. A-6283

Distilled water

Ethyl Alcohol Aldrich Cat. No. 18,738-0

Patient sera

One-Stroke Environ Calgon Vestal No. 539708

Trypsin-EDTA 1×, 100 ml Gibco Cat. No. 610-520OAG

Trypan Blue Gibco 6305250AG

REAGENT PREPARATION:

All media must be filtered for sterility, labeled with name, preparation and expiration dates, storage information, and technician’s initials. Prepared media is stable for three months at 2°-8° C.

BME with 15% FBS:

Add 75 ml of FBS, 5.0 ml Pen/Strep 10 ml glutamine, and 5 ml hepes to a 500 ml bottle of BME. (For feeding WISH cells.)

BME with 10% FBS:

Add 50 ml of fetal bovine serum, 2.5 ml Pen/Strep, 10 ml glutamine, and 5 ml hepes to a 500 ml bottle of BME.

BME with 2% FBS:

Add 10 ml of FBS, 2.5 ml Pen/Strep, 10 ml glutamine, and 5 ml hepes to a 500 ml bottle of BME.

Vesicular Stomatitis Virus (VSV):

Prepare two 150 cm 2 culture flasks of WISH cells. Discard the media when the cells become confluent. Wash once with fresh BME with 2% FBS. Dilute a VSV stock preparation 1000 times with BME with 2% FBS. Inoculate 8-10 ml per flask of the 1:1000 VSV into each WISH cell flask such that it covers the entire cell layer. Incubate the flasks for 1 hour at 37° C. in a 5% CO2 incubator. Add 15 ml of the BME with 2% FBS to each flask and incubate at 37° C. in a 5% CO2 incubator for 1-3 days or until cell layers show nearly complete viral cytopathic effect (CPE). Harvest the culture fluid and clarify by centrifugation at 3000 RPM for 20 minutes at 4° C. Aliquot the virus containing supernatant into 10 ml tubes and store at -70° C. This virus stock usually contains 1×10 9 plaque-forming units/ml when its infectivity is quantitated in WISH cells. Dilute one 10 ml stock VSV tube 1:10 with BME with 2% FBS to yield a working VSV of 1×10 8 plaque forming units/ml. Aliquot 1 ml of working VSV into cryovials and store at -70° C. Dilutions of 1:100, 1:200, and 1:300 of working VSV should be made and inoculated onto confluent WISH cells in a 96-well plate to determine the dilution that yields nearly 100% CPE in 24-48 hours.

Human Alpha Interferon (National Institute of Health: catalog #Ga23-902-530):

Reconstitute with 1.0 ml of sterile distilled water being careful to avoid any loss of material in the neck of the ampule. Dilute to a concentration of 105 IU/ml of interferon with BME with 2% FBS (no Pen/Strep and no hepes). Aliquot 200 ul into cryovials and store in -70° C. freezer. The aliquots are stable for two years at this temperature.

Neutral Red Dye:

Prepare 0.1% stock solution of Neutral Red Dye by adding 500 mg of red dye powder to 500 ml of distilled water. Mix with magnetic stir bar at room temperature for 1 hour. Autoclave for 10 minutes at 15 psi. Cool. Label and store stock Neutral Red Dye in a brown bottle and refrigerate. Staining Solution–prepare a 15% staining solution by adding 85 ml PBS with Ca + + and MG + + (Ph 6.85) to 15 ml stock Neutral Red Dye.

Eluting Solution:

To 1 ml glacial acetic acid add 49 ml distilled water and 50 ml 100% ethanol. Label and store in glass capped bottle at room temperature.

Gamma Interferon Control:

Obtain Actimmune (3.0×10 6 units/ml). Dilute 0.05 ml (50 ul) of Actimmune with 49.95 ml of BME with 2% FBS and mix well to obtain a concentration of 3000 units/ml. Aliquot 10 ml into each of 5 sterile capped tubes and label with “stock IFN gamma,” 3000 units/ml, preparation and expiration dates. (Stable for 2 years at -70° C.). Dilute 1 ml of stock IFN gamma with 9.0 ml of BME with 2% BME for a working concentration of 300 units/ml. Aliquot 200 ul of this concentration into cryovials, label, and store at -40° C. (Stable for 2 years.). Run in parallel with current control to obtain range prior to putting into use.

PROCEDURE:

Day One:

Generate a worksheet from the interferon data base for 24 samples. Number the worksheet with #1 as the reference, patient samples #2-#25, the gamma control #26, and the alpha control #27. Retrieve the patient samples, interferon reference and controls from the freezer. Verify samples with the worksheet. Label nine sterile 96-well microtiter plates with sample numbers (run in duplicate), plate number and date. Two 150 cm 2 flasks of confluent WISH cells are harvested and washed by the liquid culture technician. The tube of cells is labeled with the name of the cells, the passage number, date, and technician’s initials. Note: The passage of WISH cells should be less than P250. Before this passage is reached, cells of younger passage should be retrieved from liquid nitrogen and started in liquid culture.

Perform the cell count in the following manner: in a 12×75 ml tube, combine 0.5 ml of WISH cells and 0.5 ml of 0.4% Trypan Blue (1:2 dilution). Mix well and charge the hemacytometer chamber. Under the light microscope, count the viable WISH cells in the four corner 1 mm 2 squares and divide by 4 to obtain the average for 1 square. Count the total number of cells in the four corner 1 mm 2 squares and divide by 4 to obtain the average for 1 square. Determine the % viability by dividing the viable cell count by the total cell count and multiplying by 100. Record the % viability on the cell count worksheet.

Determine the number of cells/ml by using the following equation: Avg. # of viable cells/square×dilution factor×hemacytometer factor=cells/ml

Dilute the WISH cells to 3.5×10 5 cells/ml according to the following formula: V 1 C 1 =V 2 C 2

For example:

Volume 1 =40 ml Concentration 1 =2.0×10 6

Volume 2 =? Concentration 2 =3.5×10 5 ##EQU5## V 2 =229 ml

Add 189 ml of BME with 10% FBS to the original volume of 40 ml to obtain 3.5×10 5 cells/ml. Set aside diluted WISH cells until ready to be added to the microtiter plates. Using sterile techniques, add 100 ul of 10% BME to each well (including blanks) of the 96-well microtiter plates. To the wells in column #1, B-G, add an additional 60 ul of 10% BME. To well positions B1 and C1 of plate #1 (each sample will be run in duplicate) add 40 ul of the reference. To well positions D1 and E1 add 40 ul of patient serum. To each successive pair of wells, add 40 ul of the appropriate patient serum. In addition to the patient samples, set up a gamma interferon control and an alpha interferon control (reference) on the last plate of the assay. Make serial dilutions with the 100 ul octapet from column 1 to column 10 and rows B-G by mixing up and down several times, then carrying 100 ul to the next column through the 10th column. Discard the remaining 100 ul from the 10th column. Add 100 ul of the 3.5×10 5 cells/ml WISH cell suspension to all wells except blank wells in rows A and H. Designate column 11 as cell control and column 12 as viral control on each plate. Incubate plates 18-24 hours at 37° C. at 5% CO 2 . Lay out the stainless steel pan containing OneStroke Environ, diapers and gauze squares in hood with white light overnight.

Day Two:

Check plates under the inverted microscope for confluency. Check for toxicity of patient sera (black edges). Using sterile techniques, dump the media from the plates into the stainless steel pan containing OneStroke Environ, blot on gauze. Wash the cells by adding 100 ul of BME with 2% FBS to all the wells except the blank wells, dump, and blot. Add 50 ul of 2% BME to column 11. Add 100 ul of 2% BME to all wells (including blanks). Add 50 ul VSV (in a concentration that yields 90% CPE in the viral control in 24-48 hours) to all the sample wells in columns 1-10 and column 12. Incubate 24-48 hours at 37° C. with 5% CO 2 .

Day Three:

Check plates under the microscope for 90-100% CPE in the viral control. Look for 50% CPE in the reference and samples. The 50% CPE should fall between columns 4 and 6 for the reference. Incubate plates until this is achieved. Place the stainless steel pan containing One-Stroke Environ along with Kimtex wipers sufficient for blotting the plates under the hood. Dump plates and blot. Add 100 ul of 15% neutral red dye to all the sample wells. Incubate at 37° C. with 5% CO 2 for 45 minutes. Dump plates and blot. Rinse with 200 ul PBS at pH 6.85. Dump and blot. Plates may be left to dry inverted on Kimtex wipers on a tray for several days before eluting. Elute by adding 100 ul of the eluting solution to each sample well.

Read on the microplate reader with a 540 nm filter. Select Microman from the menu to access the Microplate Manager program. Under Analysis, select Multiple Readings.

Select:

Single Wavelength

540 nm

Mixing duration–5 seconds

Reading per plate–1

Number of plates–9

Filename–date (i.e., 0722)

Remove cover of microtiter plate #1 and place in the reader. Select Start. After all the plates have been read, print the raw data reports as follows: Under file, select Open and Lotus Results. Arrow down to filename, or type in the file name and plate number. Select Open. If message appears “Save current results . . . ,” say NO. When Raw Data Report appears on the screen, under File, select Print. Select Raw Data Report and OK. Under file select Close. Repeat for each plate to be printed.

RESULTS:

A. Average the optical density (O.D.) values for the cell controls (column 11) and viral controls (column 12).

B. Average the O.D. values for the duplicates of the patients and reference samples–i.e. average B & C for each column 1-10, average D & E for each column 1-10, etc.

C. To determine the O.D. at 50%: ##EQU6##

D. To enter the O.D. values and their corresponding IFN dilutions:

1. Enter the 1st average O.D., press X-Y

2. Enter corresponding 1st IFN dilution, press LOG, then Ε+

3. Enter the 2nd average O.D., press X-Y

4. Enter corresponding 2nd IFN dilution, press LOG, then Ε+

5. Enter the 3rd average O.D., press X-Y

6. Enter corresponding 3rd IFN dilution, press LOG, then Ε+

E. To determine the correlation coefficient (r):

1.Press 2nd, then CORR (÷)

2. The correlation coefficient (r) should be -1.0±0.1.

3. Enter O.D. 50%, press 2nd, then y’ (x)

F. To convert the titer (log 10) to units/ml, press INV, then LOG

G. To clear data, press 2nd, then STO, then CE/C

H. To convert IFN units/ml to International Reference Units/ml:

1. IFN units/ml of Reference=Factor Int’l Ref. Units/ml of Reference

2. Sample IFN units/ml=Sample titer (IRU/ml) Factor

Procedure 5

Human Tumor Colony-Forming Chemosensitivity Assay

(Pharmacosensitivity)

The Human Tumor Colony Assay (HTCA: clonogenic or tumor stem cell assay) is an in vitro culture system employing semi-solid medium support originally described by Salmon and Hamburger, et al. Using HTCA, the growth and chemosensitivity of clonogenic tumor cells present in fresh biopsy specimens of human tumors can be investigated. Since this technique was first described, there has been a marked increase in the direct study of human tumors in vitro. Excellent evidence has been obtained which establishes that colonies grown in HTCA are comprised of tumor cells and that clonogenic cells within tumor colonies have the property of self-renewal (the defining property of a tumor stem cell). Chemosensitivity testing with specific agents in HTCA has documented striking degrees of heterogeneity in drug sensitivity from patient to patient, even for tumors of the same histopathology. Clinical correlations have been made between in vitro chemosensitivity and the response of patients with metastatic cancer to chemotherapy. In a series of trials, HTCA has had a 71% true-positive rate and a 91.about. true-positive rate for predicting the drug sensitivity and resistance, respectively, of cancer patients to specific chemotherapeutic agents. The assay thus appears to be a prognostic factor which identifies chemosensitive patients and which may allow some individualization of chemotherapy.

Tumor specimens, either from solid tumor masses, malignant ascites, or bone marrow are mechanically disaggregated into a suspension which is as close to a “single-cell suspension.about.as possible. These cells along with chemotherapeutic agents, biological response modifiers, and hormones are suspended in an agar-containing culture medium and then layered or “plated” onto a semi-solid underlayer. The underlayer prevents normal human fibroblasts, a major tumor stromal component, from adhering to the culture dish bottom and forming colonies which might be confused with colonies of tumor-cell origin. After 7 days, 14 days, and 21 days of incubation in a humid, CO2-enriched atmosphere at 37° C., colonies (greater than 20 cells) and aggregates (4-20 cells) are counted. A negative control and a positive control are set up for each tumor. From this data the effect of each specific drug on the tumor can be determined.

SPECIMEN REQUIREMENTS, COLLECTION AND HANDLING:

This assay may be performed on the following specimen types:

Solid tumors obtained during surgery or biopsy

Bone marrow aspirates and biopsies

Ascites

Pleural fluids

Thoracentesis fluids

The sample should be sufficient to yield an optimum of 20 ml of 1.0×10 6 viable cells/ml. A minimum of 12 ml of 1.0×10 6 viable cells/ml is acceptable. All specimens should be labeled with patient name, collection date, tumor type, and initials of technician.

MATERIALS:

The following materials are needed for this procedure:

Laminar Flow Hood

Bacto-Agar

Analytical Balance

Weighing Paper

Weighing Tools

Sterile Capped Bottles (100 ml, 250 ml, 500 ml; and 1,000

Distilled Water

Microwave Oven

Autoclave

RPMI 1640 Media (1× and 2×)

HCL (1N)

Sodium Bicarbonate

Penicillin/Streptomycin

Disposable Pipettes (sterile) (1 ml; 2 ml; 5 ml; 10 ml, 25 ml)

Select-A-Pette Pipetter (1 ml)

Select-A-Pette Tips (sterile)

Eppendorf Pipettes

Eppendorf Combitips (sterile) (2.5 ml; 5.0 ml; 12.5 ml)

Glutamine

Trace Elements

2-Mercaptoethanol With Dulbecco’s PBS

ITS Solution

Fetal Bovine Serum

Test Tubes (12×75 Glass-disposable; 15 ml Capped-sterile and disposable)

Petri Dishes (sterile) (Routine-100×15 mm; Gridded Plates-35×10 mm)

Sterile Capped 50 ml Conical Tubes (Falcon)

Homogenizer

Trypan Blue Stain (0.4.about.)

Hemocytometer With Cover Slips

Microscopes (Inverted; Light)

Hand Tally Counter

Ph Paper (narrow spectrum)

Graduated Cylinders (50 ml and 100 ml)

Histopaque-1077

Water Bath

Pipet Suction Aide

Refrigerated Centrifuge

Liquid Culture Flasks (25 cm 2 )

CO 2 Incubator

Chemotherapeutic Drugs

Biological Response Modifiers

Hormones

Vortex Mixer

Refrigerator (2°-10° C.)

Scalpel (disposable and sterile)

Sharps Container Pasteur Pipettes 53/4″ (disposable)

Dropper Bulbs

-70° C. Freezer

Precise Surface Disinfectant

70% Alcohol In Squeeze Bottle

Contrad Glassware Disinfectant/Cleanser

Thermometer (-20° C.-120° C.)

Beaker (500 ml)

Betadine Disinfecting Solution

Syringes (disposable and sterile) (1 cc; 10 cc)

Needles (various gauges)

MEDIA AND REAGENT PREPARATION:

Agar:

Lower layer=2.5% working solution: Measure out 2.5 gm of Bacto-Agar and place in a 100 ml capped bottle. Add 100 ml distilled water. Swirl gently to mix.

Upper layer=1.5% working solution: Measure out 1.50 gm of Bacto-Agar and place in a 100 ml capped bottle. Add 100 ml distilled water. Swirl gently to mix.

Place both bottles in the microwave with caps loosened. Microwave for 60 seconds at full power, mixing every 20 seconds. Avoid boiling. The agar will appear clear when ready. If the solutions boil over, do not use, remake the agar. Place a piece of autoclave tape on each of the loosely capped bottles and autoclave the solutions for 20 minutes at 22 psi. Place both bottles in the water bath under the hood. THIS BATH MUST BE KEPT AT 45°-50° C. AT ALL TIMES. The agar should cool down to 50° C. before use. Swirl agar to mix well before using. After preparation of each media, label the final product according to procedures previously described.

MEDIA:

10% RPMI 1640 (1×):
______________________________________
AMOUNT COMPONENT
______________________________________

500.0 ml RPMI 1640 (1X) with L-Glutamine
50.0 ml Fetal Bovine Serum, Qualified, Heat
Inactivated
5.0 ml L-Glutamine (100X) 200 mM
1.5 ml Penicillin/Streptomycin
2.0 ml Trace Element Mix (100X) Lyophilized
0.5 ml 2-Mercaptoethanol
5.0 ml Insulin-Transferrin-Sodium Selenite
Media Supplement, Lophilized, Gamma-
Irradiated
______________________________________

Combine all components under a sterile laminar flow hood. Sterilize by filtration using a 0.22 micron membrane filter with a 60 micron prefilter. Label and store the prepared media at 2°-10° C.

10% RMPI 1640 (2×) G,G Fortified:
______________________________________
AMOUNT COMPONENT
______________________________________

500.0 ml RPMI 1640 (2X) Powdered Cell Culture
Medium With L-Glutamine (Reconstitute
one powder pack with a total of 500.0 ml
of sterile DISTILLED WATER)
50.0 ml Fetal Bovine Serum, Qualified, Heat
Inactivated
5.0 ml L-Glutamine (100X) 200 mM
2.5 ml Penicillin/Streptomycin
2.0 ml Trace Element Mix (100X) Lyophilized
0.5 ml 2-Mercaptoethanol
5.0 ml Insulin-Transferrin-Sodium Selenite
Media Supplement; Lophilized; Gamma-
Irradiated
______________________________________

Under a sterile laminar flow hood, measure out 450 ml of sterile distilled water and place in a sterile 500 ml reagent bottle. Add the powdered medium to the water with gentle stirring. Rinse out the inside of the package to remove all traces of powder. Add 1.0 G OF NaHCO 3 per. 500 ml of medium. Dilute with sterile DH 2 O to 500 ml volume. Adjust the pH of the preparation to 0.2-0.3 below the desired final working pH of 7.2 (pH units will usually rise 0.1-0.3 upon filtration); use of 1N NaOH or 1N HCl is recommended. After the Ph has been adjusted, keep the container closed until the medium is filtered. Sterilize immediately by membrane filtration using a 0.22 micron membrane filter with a 60 micron prefilter (positive pressure is recommended). Label and store the prepared media at 2°-10° C.

Lower Layer Stock Media:

125 mlFetal Bovine Serum

125 ml2×G,G Fortified Solution

250 ml1×G,G Fortified Solution

Mix, label, and store at 2°-10° C.

Upper Layer Stock Media:

150 mlFetal Bovine Serum

150 ml2×G,G Fortified Solution

150 ml1×G,G Fortified Solution

Mix, label, and store at 2°-10° C.

Preparation of Drugs:

Working aliquots of each drug, hormone, and biological response modifier are prepared every two weeks according to the aliquot procedure. The working aliquots are stored at 4° C. and are ready for use.

PROCEDURE:

Prepare the Lower Layer Tubes:

Pipet 8 ml of lower layer stock media into 15 ml sterile capped tubes. (NOTE: Determine the number of plates needed by multiplying the number of drugs on the testing panel ×2. One lower layer tube yields approximately 8 lower layer plates.) Keep capped at room temperature until needed to prepare lower layer plates or store capped overnight at 28° C. for use the following day. Be sure to warm to room temperature before use.

Plate the lower layer plates as follows (WORK QUICKLY TO PREVENT PREMATURE SOLIDIFICATION OF THE AGAR): With a sterile 10 ml pipet, draw up 2.0 ml of the 2.5% agar mixture. Dispense the 2.0 ml of agar into one of the 15.0 ml plastic tubes containing 8 ml of lower layer media and mix twice by drawing up and dispensing into the tube. Draw up 9.0 ml of the mixture and dispense 1.0 ml into each of eight sterile 35 mm gridded plates. Swirl to cover the bottom of the plate. Take care to prevent bubbles. Allow plates to sit undisturbed on a flat surface until the agar has solidified. Discard any plates with uneven agar distribution. Store plates at room temperature for same day use or store overnight ln a 37° C. CO2 incubator for use the following day.

Prepare the Cell Suspension:

Solid tumor: In a sterile petri dish, using sterile scalpel and forceps, cut the tumor specimen into pea-size portions. Save the original transport media for centrifugation. Place the specimen in a glass conical tube that has a matched loose-fitting homogenizer. Add 5.0 ml of transport media. Gently homogenize the tumor pieces a small portion at a time and transfer the cell suspension to a sterile 50 ml conical tube. When all of the tumor has been homogenized, mix well and then allow cell suspension to settle, undisturbed, for one minute (this will allow clumps of tissue to settle out). Pipet the supernatant into a sterile tube, dilute with RPMI 1× with 10% FBS and centrifuge at 1600 RPM for 5 minutes. Remove the supernatant, resuspend the cells in RPMI 1× with 10% FBS, and perform cell count and viability.

Liquid tumor (ascites, bone marrow, etc.): Using a sterile pipet, dispense 20-25 ml of histopaque into the appropriate number of capped sterile 50 ml conical tubes. Using another sterile pipet, gently layer the ascites, bone marrow or cell suspension at a 45° C. angle onto the histopaque using a 1:1 ratio of histopaque to specimen. Centrifuge at 1600 RPM for 20 minutes in the refrigerated centrifuge at 4° C. (brake on 2). Remove and discard the supernatant. Remove the cell interface and place in RPMI (1×) GG fortified in a pre-labeled tube. DILUTE THE CELLS WITH THE MEDIA QUICKLY BECAUSE THE HISTOPAQUE IS VERY TOXIC TO THE CELLS IF LEFT ON THEM FOR EXTENDED PERIODS OF TIME. Wash cells twice with RPMI 1640 (1×) media and centrifuge at 1600 RPM for 5 minutes with a brake of 2. Remove and discard the supernatant. Resuspend the cell pellet in 5 ml of RPMI 1× medium.

Perform Cell Count:

In a 12×75 ml glass tube, combine:

0.1 ml of well-mixed cell suspension

0.2 ml of 0.4% Trypan Blue stain

0.7 ml of media

This is a 1:10 Dilution.

Mix well and charge one chamber of the hemocytometer with the cell suspension. Under the light microscope, count the viable tumor cells (those which have not absorbed the Trypan Blue) in the four corner 1 mm 2 squares. Count the total number of tumor cells (stained and unstained) in the four corner 1 mm 2 squares.

Calculation for Cell Concentration:

Perform the viable cell count using the following equation: Average # of viable cells per square×dilution factor×hemacytometer factor

Sample calculation: 20 Cells (average # of viable cells per square)×10 4 ×10 (dilution factor)=2×10 6 cells/ml.

Determine the % viability using the following formula: ##EQU7##

Adjust volume to amount needed for the appropriate cell concentration for the assay (this assay requires 1×10 6 cells/ml) using the following formula: (V 1 C 1 =V 2 C 2 )

For example:

V 1 =10 ml V 2 =?

C 1 =2×10 6 cells/ml C 2 =1×10 6 cells/ml ##EQU8## 20ml=V 2 20 ml-10 ml=10 ml

Ten ml of media are needed to have a volume of 1×10 6 cells/ml.

Prepare Upper Layer Tubes:

Pull and arrange the prepared drugs that are to be tested against the tumor cells. Label the appropriate number of 15 ml capped tubes with the names of the drugs. Arrange the tubes in a test tube rack. Use the Table 3 as follows for upper layer volumes (all in ml):
TABLE 1
______________________________________
UPPER LAYER AGAR MEDIA CELLS DRUGS 1.5%
______________________________________

CONTROL 2.1 0.3 — 0.6
ABRIN 1.8 0.3 0.3 0.6
DRUG #1 1.8 0.3 0.3 0.6
DRUG #2 1.8 0.3 0.3 0.6
DRUG #3 1.8 0.3 0.3 0.6
______________________________________

Add all components except agar to the appropriate tubes. For the following steps, one tube should be finished before moving on to the next. With a 2.0 ml pipet, draw up 0.6 ml of 1.5% agar. Dispense the agar into the tube, one at a time, starting with tube #1. Mix by aspirating and dispensing twice. Draw up 2.2 ml of the solution and dispense 1.0 ml into each of two gridded plates (on top of the other layer) taking care not to produce bubbles in the agar. Gently swirl plate to allow even distribution. Allow agar to solidify undisturbed, and then add approximately 0.5 ml of distilled water to a third “half plate” in the large petri dish labeled with the corresponding drug. Repeat steps 5-7 for each drug to be tested. Incubate the cultures at 37° C. in a humid, 5% CO 2 enriched atmosphere.

Liquid Culture:

With the remaining cell suspension liquid cultures as follows: Label two 25 cm 2 liquid culture flasks. Add RPMI 1640 1× Fortified plus FBS and cell suspension to the flasks as follows:
______________________________________
MEDIA CELLS
______________________________________

25 cm 2 4.0 ml 0.5-1.0 ml
______________________________________

Incubate the cultures at 37° C. in a humid, 5% CO 2 enriched atmosphere. Leave the caps loose for CO 2 exchange.

DNA Analysis:

If requested by the physician, save at least 1 ml for DNA. (NOTE: The cells do not need to be alive for DNA testing.) Label the tube with the patient name, date, specimen type, and tracking number and place in the DNA beaker in the refrigerator.

Liquid Nitrogen:

Prepare a minimum of 2 cryovials for long-term storage in liquid nitrogen according to the freezing protocol.

Immunomodulation:

If requested by the physician, save at least 2.0 ml for the assay and store refrigerated until the IM assay is performed.

Reporting Results:

Within 24 hours after setting up the pharmacosensitivity, read the cell control and abrin plates under the inverted scope. Scan the plates in entirety. Count any clumps of cells and record as a background count on the worksheet. Always scan the entire plate for colonies and aggregates using a hand tally counter to record the number of each. If no colonies or aggregates are present, count the number of cells in four squares. Divide by 4 to obtain the average number of cells in one square, multiply by 15, then by 13.36 to obtain the number of cells in the entire 35 mm plate. Use scientific notation to report the colonies, aggregates and/or cells for any number greater than 3 digits. Representative colonies, aggregates, and/or cells must be photomicrographed and logged in the log book prior to discarding plates. Verify that controls fall within expected range. If not, document in the comment section and notify the Supervisor immediately. Do not discard the assay; it may be accepted at the discretion of the Medical Director.

Experiment 1

Activity of N. sativa on bone marrow cells

Preparation of N. sativa:

1. Dried seeds are finely ground, and 5 grams (5 g) of the powder is extracted with 95% ethanol 3 times, by soxhlet extraction. A Wheaton soxhlet extraction apparatus consists of 3 parts: the bottom part is the flask in which the 95% ethanol is heated; the middle portion is the extractor; and the top the Allihn condenser, in which there is an inlet and outlet for running cold water through the condenser. Dried N. sativa seed powder is packed in filter paper and placed in the extractor.

2. The pooled extracts are evaporated under reduced pressure to a known volume of 10 ml and loaded onto a silica gel (Keiselgel 60: Fluka) column and eluted with 95% methanol/water (9:1). In the column, silica gel suspended in methanol/water is layered on sand. N. sativa extract is added on top of the silica gel, followed by the eluting solvent.

3. The active fraction (as indicated by brown color) is collected and separated by preparing thin layer chromatography (TLC). On commercially available chromatography plates, a band of N. sativa active compound is spotted and run in a TLC jar using chloroform as the solvent system.

4. The active spot at the solvent front is removed, eluted with methanol (overnight), and evaporated under reduced pressure to render the product alcohol free.

5. The extract is then available as a soluble solution and is then stored at 2° C.

The approximate content of the active compound in the seed in 2.2% (w/w).

Calculation of active compound in N. sativa extract proceeded as follows: the active compound present in seed extract is 2.2% w/w. One gram of seeds was added to 10 ml assay media. Therefore, active compound added was 22 mg/ml media. Finally 40 μl from this was taken for assay. Hence, the active compound actually added was 88 μg. This was further diluted 1:10, 1:100 and 1:1000 to have a working concentration of 8.8 μg, 880 ng and 88 ng respectively.

Colony Forming Unit Assay

Specimen: Bone marrow sufficient to yield an optimum of 5.0 ml mononuclear cells at a concentration of 1.0×10 6 cells/ml was collected.

Assay: The assay was performed according to a modified process Metcalf (1984, 1985), which is incorporated herein by reference. The process is described in detail above in Procedure 2. To each 25 cm 2 flask, 1×10 6 bone marrow cells are added, and incubated at 37° C. with 5% CO 2 and 100 μl of N. sativa plant extract.

Immunofluorescence Staining of Cells: The peripheral blood cells were collected aseptically. For every panel of analysis 3.0 ml whole blood was needed. The assay was conducted according to processes disclosed in and partially modified from Karen (1989) and Merkel et al. (1987), which are incorporated herein by reference. The process is described in detail above in Procedure 1.

The N. sativa plant extract was incubated with peripheral blood cells from cancer patients over an 18 hour period at 37° C. in a 5% CO 2 incubator. Gates for the antibodies CD3, CD19, HLADR, LAK CD3+/CD56+, NK CD3-/CD56+, CD38, CD37, and CD33 surface markers were set on a Becton Dickinson FacScan serial No. 81326. These antibodies are designed to assist in the characteristics of the types of cells. The cluster designation (CD) is used to group two or more mABs that have statistically similar expression on normal and neoplastic cells and cell lines, as well as similar recognition of the same antigen or binding site (epitope). While mABs in a CD group usually define different epitopes on the same antigen, some CD groups, primarily non-lymphoid clusters, contain mABs that do not bind to the same antigen.

The results obtained from Experiment 1 were compared with that of bone marrow growth factors and biological response modifiers namely GM-CSF, G-CSF, erythropoietin, interferon, IL-2 and STS.

At days 7, 14 and 21, each flask was scanned under a Reichart Jung Biostar inverted microscope. A colony is defined as 40 or more cells adhering to the bottom of the flask.

The colony forming cell unit (CFU) assay on 1×10 6 bone marrow cells obtained from 2 cancer patients was performed with and without incubation with 100 μl of N. sativa plant extract.

Results: The colony forming cell unit assay on 1×10 6 bone marrow cells post 15 days incubation with 100 μl of plant extract showed a 600% elevation. This elevation was 125% after 21 days of incubation. Among the different growth factors/biological response modifiers, IL-2 and GM-CSF gave the maximum elevation of 120 and 115% after incubation with bone marrow cells for 15 days. There was not much detection of CFU elevation post 21-day incubation with growth factor/biological response modifiers. Interferon showed marginal elevation after a 15-day incubation, but negligible detectable response after 21 days.

N. sativa plant extract helps restore the immune competent cells in immunosuppressed cancer patients. The colony forming cell unit assay indicates increase in CFU count when bone marrow cells from cancer patients were incubated with N. sativa plant extract as well as with different growth factors indicating that N. sativa plant extracts mimic the potential application of these several growth factors. Even though the plant extract was used without dissolving, it had no toxic effects against human bone marrow cells. Hence, N. sativa plant extract helps restore the immune competent cells in immunosupressed cancer patients and over-stimulates bone marrow in normal individuals.

Experiment 2

Correlation Between Elevation in Immune Competent Cells/Hematopoiesis and
N. sativa Extract

Immunomodulatory Testing

Immunomodulatory testing evaluates the activity of patients’ sera and white blood cells in relation to interferon, interleukin and lymphokine demonstrating the presence of interferon inhibitor factor and lymphokine inhibitor factor in the experimental procedure. A detailed description of immunomodulatory testing is found above in Procedure 3.

To test for possible correlation between elevation in immune competent cells/hematopoiesis and N. sativa extract, the various surface markers of immune competent cells were analyzed by automated flow cytometry as described above in Procedure 3.

The results indicate an elevation in CD19, HLADR, NK CD3-/CD56+ and CD38 population. There was not much alteration in CD3, CD37 and CD33 surface marker index. A proliferation of connective tissue `L` cells was observed upon incubation with cancer patient serum and N. sativa extract at 37° centigrade in 5% CO 2 incubator for 7 days.

Cell Line: The mouse connective tissue L929 cells were obtained from the ATCC and grown in MEM medium (GIBCO) with 20% fetal equine serum (BioWhittaker) as described above.

Assay: The assay was conducted according to the process described in Medenica, et al. (1990), which is incorporated herein by reference. Proliferation of 5×10 5 `L` cells/ml was checked on a double layer agar procedure in which lower 1.5% agar layer media contained 125 ml FBS, 125 ml 2× G.G. fortified solution and 250 ml 1× G.G. fortified solution. The upper layer stock media contained 150 ml FBS, 150 ml 2× G.G. fortified solution and 150 ml 1× G.G. fortified solution. To 2.0 ml of upper layer, 0.1 ml of N. sativa extract, 0.3 ml of `L` cells and 0.6 ml of 1.5% agar was added to make a total volume 3.0 ml. Growth of `L` cells were analyzed under an inverted microscope type Reichert Jung biostar post incubation at 37° centigrade and 5% CO 2 after 7 days.

The results are illustrated in Table 4 as follows:
TABLE 4
______________________________________
CELL % INCUBATION MIXTURE NUMBER ELEVATION
______________________________________

`L` CELLS & MEDIA 2.0 × 10 4
0
`L` CELLS & IFN & MEDIA
2.7 × 10 4
35
`L` CELLS & IL-2 & MEDIA
2.3 × 10 4
15
`L` CELLS & SERUM & PLANT
4.7 × 10 4
135
EXTRACT
`L` CELLS & WBC & PLANT
7.4 × 10 4
270
EXTRACT
______________________________________

Connective tissue `L` cells at a concentration of 5×10 5 were incubated with IFN, IL-2 or plant extract at 37° C. in a humid 5% CO 2 incubator for 7 days. The SD of the data was <10%.

Results: Peripheral blood cells from cancer patients upon incubation with N. sativa extract over an 18-hour period at 37° C. in 5% CO 2 incubator showed elevation in CD19, HLADR, NK CD3-/CD56+ and CD38 populations as shown in FIG. 1. CD19 surface marker index showed an elevation of 90% as compared to control, while HLADR, NKCD3-/CD56+ and CD38 population showed elevations of 44, 38 and 5% respectively. There was not much alteration in the CD3 population.

N. sativa extract, rather than the increase in immune competent cell number, helped free tumor antigen binding sites on B cells, thereby elevating the CD19 and associated cell population. Data from flow cytometric analysis indicates elevation in CD19, HLADR, NK CD3-/CD56+ and CD38 population. There was not much alteration in CD3, CD37 and CD33 surface marker index. This data clearly indicates proliferation in immune competent cells, mainly the humoral response against tumor antigens. Thus, the extract, rather than the increase in immune competent cell number, helps free tumor antigen binding sites on B cells, thereby elevating the CD19 and associated cell population.

Connective tissue `L` cells at a concentration of 5×10 5 upon incubation with N. sativa plant extract and patient serum/white blood cells showed elevation in cell number. `L` cells when incubated with media alone was 2.0×10 4 , which increased to 4.7×10 4 and to 7.4×10 4 upon incubation with cancer patient serum and plant extract and cancer patient white blood cells and plant extract, respectively. This indicated an elevation of 135 and 270% respectively as shown in Table 4 (supra.) On the other hand, interferon and interleukin-2 gave marginal elevations of 35 and 15% only upon incubation with 5×10 5 `L` cells in an ideally same environment as that of N. sativa plant extract.

Immunomodulatory evaluation indicates enhanced proliferation of the connective tissue `L` cells in presence of N. sativa extract than in its absence, thereby indicating positive immunomodulatory effect of the extract. Similar results were also obtained with patient white blood cells.

Data indicates presence of an interferon inhibitor factor (IIF) in cancer patient serum due to which there is no proliferation of the `L` cells when they were incubated with patient serum alone. IIF and lymphokine inhibitor factor (LIF) in patient serum get suppressed post treatment with N. sativa plant extract, thereby exhibiting enhanced proliferation of `L` cells. The IIF cannot be identified with antibodies against interferon.

IIF is a factor which does not allow the production of autologous (self) interferon in the human body. When the inducer initiates the production of interferon, the human body produces another protein which neutralizes the possibility for production of interferon. LIF includes all factors that suppress cytokine activity, including interferons.

The increased stimulation of connective cells by the reduction of IIF and LIF allows the human body to produce its own interferon, which then interferes with controlling connective tissue cell production. For this reason, N. sativa has potential use in connective tissue diseases such as rheumatoid arthritis, lupus and autoimmune diseases.

Experiment 3

Cytopathic Effects of Vesicular Stomatitis Virus

Cell Line: The human amnion or “WISH” cells were obtained from the American Type Cell Culture facility (ATCC) and grown in Basal Eagle Medium (BEM) (GIBCO) with 15% fetal bovine serum.

Virus: Vesicular stomatitis virus (VSV) was obtained from the ATCC. The VSV stock solution was diluted 1000× with BEM containing 2% fetal bovine serum (FBS).

Assay: The assay was conducted as described above in Procedure 4. For determining the amount of protection conferred to the “WISH” cells by N. sativa plant extract, complete viral cytopathic effect (CPE) was calculated by inoculating 8-10 ml per flask of the 1:1000 VSV into each WISH cell flask (containing 3.5×10 5 cells/ml) such that it covered the entire cell layer. The flasks were incubated for 1 hour at 37° C. in a 5% CO 2 incubator. Fifteen ml of the BMEM with 2% FBS were added to each flask and incubated at 37° C. in a 5% CO 2 incubator for 1-3 days or until cell layer showed complete viral cytopathic effect (CPE). N. sativa plant extract was serially diluted in a 96-well polystyrene plate. To 40 μl of the extract was added 100 μl of the 3.5×10 5 cells/ml “WISH” cell suspension and the plates were incubated for approximately 18-24 hours at 37° C. at 5% CO 2 . In the control wells, no extract was added. Next day (after 18-24 hours) the plates were observed under Nikon TMS microscope for confluency. Fifty μl VSV were added (in a concentration to yield 100% CPE), and Incubated 24-48 hours at 37° C. with 5% CO 2 .

The next day, the plates were observed under a Nikon TMS microscope for 100% CPE in the viral control wells. Once satisfied, the plates were dumped and blotted. One hundred μl of 15% neutral red dye were added to all wells. The wells were incubated at 37° C. in 5% CO 2 incubator for 45 minutes. The plates were dumped, blotted and rinsed with 200 μl PBS at pH 6.85. The plates were again dumped and blotted. The cells were eluted by adding 100 μl of the eluting solution to each well. The plates were read on Bio-Rad Model 3550 microplate reader.

The concentration of vesicular stomatitis virus (VSV) producing 100% cytopathic effect (CPE) of human amniotic “WISH” cells was first determined, which was 1×10 5 plaque forming units. Optimum protection to WISH cells conferred by N. sativa extract was then calculated by serially diluting N. sativa extract and adding in between WISH cells and VSV.

Results: The results depicted in FIG. 2 indicate protection of “WISH” cells in the order of 25 and 65% upon incubation with 1:10 and 1:100 diluted N. sativa plant extract. There was no noticeable cytopathic effect when N. sativa was added at a dilution of 1:1000. Approximate active compound concentrations were calculated according to materials and methods. Serum interferon levels were measured after plant extract administration according a modified procedure of Finter (1969).

Protection of Human Amniotic “WISH” cells from cytopathic effects of vesicular stomatitis virus (VSV) was observed upon administration of 1:1000 diluted N. sativa plant extract. This had an active compound concentration of 88 ng. At a lower dilution, there was some effect. Theoretically, a patient weighing 70 kg has about 7×10 13 cells in its body and N. sativa will be useful in the dosage of 20-40 g to protect against viral attack in virus endemic areas. Upon administration of the extract, the serum interferon level is found to increase and hence N. sativa has interferon-like antiviral activity. The extract possibly blocks all receptor sites on “WISH” cells which are essential for attachment of the virus to cell membrane.

Experiment 4

Pharmacosensitivity Assay

The tumor specimens can be of 2 types: solid tumor and liquid tumor.

Solid tumor: 2 grams of tumor specimen were excised, cut into pea size portions and gently homogenized in a Potter-Elvehjam homogenizer with 10% FBS, centrifuged at 1600 rpm for 20 minutes in a Mistral 3000i refrigerated centrifuge at 4° C. Cells were finally suspended in media RPMI 1640 with 10% FBS into a fine suspension.

Liquid tumor: The specimen was collected from the ascitic fluid of cancer patients. The ascitic fluid was gently layered on a histopaque using a 1:1 ratio of the histopaque to specimen, and centrifuged at 1600 rpm for 20 minutes in a Mistral 3000i refrigerated centrifuge at 4° C. Cells were finally suspended in RPMI with 10% FBS.

Assay: The assay was performed according to the modified processes of Von Hoff, et al. (1981) and Salmon, et al. (1978), which are incorporated herein by reference, as described above in Procedure 5. Tumoricidal activity of N. sativa was checked on a double agar layer. The lower layer of warm 2.5% Bacto-agar working solution was poured into 35 mm grid petri dishes. The plates were then allowed to sit undisturbed on a flat surface until the agar solidified. To 2.1 ml of the upper layer media containing 150 ml FBS, 150 ml 2× G.G. fortified solution and 150 ml 1× G.G. fortified solution, 0.3 ml of the tumor cells and 0.6 ml of the 1.5% agar were added.

The upper layer was carefully layered on top of the lower layer in the 35 mm grid petri dish. Tumor specimens grown without the extract and with `Abrin` were used as controls. Tumor cell growth in the presence of the plant extract was monitored 7, 14 and 21 days post incubation at 37° C. and 5% CO 2 , at which time the cells were counted under a Reichert-Jung biostar inverted microscope. Cells from tumor specimens [8.2×10 4 ] were grown with media/Abrin plant extract on a double agar layer and incubated for 7, 14 and 21 days at 37° C. in a humid 5% CO 2 incubator. The results are shown on Table 5 as follows:
TABLE 5
______________________________________
INCU- BATION INCUBATION TIME MIX- % % % TURE 7 days Inh 14 days Inh 21 days Inh
______________________________________

TUMOR 8.2 × 10 4
0 10.0 × 10 4
0 10.5 × 10 4
0
CELL &
MEDIA
TUMOR 8.1 × 10 4
1.2 9.8 × 10 4
2.0 10.3 × 10 4
1.9
CELL &
ABRIN
TUMOR 5.3 × 10 4
35.0 5.4 × 10 4
46.0 5.5 × 10 4
48.0
CELL &
EX-
TRACT
______________________________________

The SD of the data was <10%. Percentage of inhibition was calculated as described in Materials & Methods.

The results are analyzed on the basis of pharmacosensitivity assay in which tumor cell growth was monitored. Seven, 14 and 21 days post incubation with plant extract indicated tumoricidal activity. Hence, N. sativa extract possessed a multifaceted toxic-free cure for cancer.

Results: Tumor specimens (2 grams) either from solid tumor masses or malignant ascites were mechanically homogenized into a suspension containing 8.2×10 4 cells. Incubation of tumor cells at 37° C. in a humid 5% CO 2 incubator for 7, 14 and 21 days with N. sativa plant extract indicated a percent inhibition of 35, 46 and 48, respectively. Incubation with Abrin in an ideally similar condition did not exhibit any noticeable inhibition.

N. sativa promotes anti-tumor activity. Data from pharmacosensitivity screening indicates anti-tumor activity of N. sativa plant extract, as cell growth in culture was inhibited anywhere between 25-90%. In vitro tumor study report, using rapid screen for early pharmacosensitivity screening, in which cells were incubated with N. sativa plant extract for 2 hours, gave similar results. Hence, the extract indicates anti-tumor function mainly against melanoma and colon cancer types. N. sativa plant extract destroys tumor cells and leaves normal cells alone, possibly because of its ability to bind to cell surface asialofeutin (lectin) in diseased cells, which causes aggregation and clumping of tumor cells. It also blocks enzymes and inappropriate gene products involved in nucleic acid synthesis and metabolism.

It is understood that the invention is not confined to the particular construction and arrangement herein described, but embraces such modified forms thereof as come within the scope of the claims following the bibliographic citations.

BIBLIOGRAPHY

Agarwal, R., Kharya, M. D., and Shrivastava, R., 1979, “Antimicrobial anthelmintic activities of the essential oil of Nigella sativa Linn,” Indian J. Exp. Biol. 17, 1264.

Akhtar, M. S.; Riffat, S., 1991, “Field Trial of Saussurea Lappa Roots Against Nematodes and Nigella Sativa Seeds Against Cestodes in Children,” JPMA J Pak Med Assoc 41(8)185-7.

al-Awadi, F. M., Khattar, M. A. and Gumaa, K. A., 1985, “On the Mechanism of the Hypoglycemic Effect of a Plant Extract,” Diabetologia 28, 432-434.

al-Awadi, F.; Fatania, H.; Shamte, U., 1991, “The Effect of a Plant’s Mixture Extract on Liver Gluconeogenesis in Streptozotocin Induced Diabetic Rats,” Diabetes Res (Scotland) 18(4):163-8.

Aruna, K.; Sivaramakrishnan, V. M., 1990, “Plant Products as Protective Agents Against Cancer,” Indian J Exp Biol 28(11):1008-11.

Aruna, K.; Sivaramakrishnan, V. M., 1992, “Anticarcinogenic Effects of Some Indian Plant Products,” Food Chem Toxicol (England) 30(11)953-6.

Bitterman, W. A.; Farhadian, H.; Abu Samra, C.; Lerner, D.; Amoun, H.; Krapf, D;. Makov, U. E., 1991, “Environmental and Nutritional Factors Significantly Associated with Cancer of the Urinary Tract among Different Ethnic Groups,” Urol Clin North Am 18(3)501-8.

Chopra, R. N., Chopra, I. C., Handa, K. L., and Kapur, L. D., 1982, Indigenous Drugs of India, Academic Publishers; Calcutta, India.

Datta, A. K., Biswas, A. K. and Ghosh, P. D., 1983, “Chromosomal variations in callus tissues of two species of Nigella sativa, L.,” The nucleus 26(3) 173-177.

Elkadi, A ; Kandil, O., 1987, “The Black Seed Nigella sativa and Immunity Its Effects on Human Cell Subsets,” Fed Proc 45(4)1222.

Finter, N. B., 1969, “Dye Uptake Methods for Assessing Viral Cytopathogenicity and Their Application to Interferon Assays, ” J. Gen. Virol. 5, 419-427.

Karen, D. F., 1989, “Flow Cytometry in Clinical Diagnosis,” American Society of Clinical Pathology (press).

Kirtikar, K. R. and Basu, B. D., 1982, Indian Medicinal Plants, Vol. I, Bishen Singh and Mahendra Pal Singh, eds., Dehra Dun, India.

Kumar, B. H. and Thakur, S. S., 1989, “Effect of Certain Non-edible Seed Oils on Growth Regulation in Disdercus Similis (F), J. Anim. Morphol. Physiol. 36(2) pp. 209-218.

Medenica, R., Alonso, K., Huschart, T. and Tyler, K., 1990, “Tumor Tissue Culture for Determining Efficient Drug for Intra-Arterial, Intra-Hepatic Chemotherapy and Interferon of Colon Carcinoma Liver Metastasis,” Abstract presented at Conference on Combining BRM with Cytotoxic in the Treatment of Cancer.

Merkel, D. E., Dressier, L. G. and McGuire, W. L., 1987, “Flow Cytometry Cellular DNA Contents and Prognosis in Human Malignancy,” J. of Clinical Oncology, 5, 1690-1703.

Metcalf, D., 1984, Clonal Culture of Hematopoietic Cells, Elsevier/North American Biomedical Press.

Metcalf, D., 1985, “The Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factors,” Science 229, 16-22.

Nadkarni, K. M., 1976, “Crocus sativus, Nigella sativa,” Indian Materia Medica, K. M. Nadkarni (ed) Bombay, India; Popular Prakashan, Vol 1, pg. 386-411.

Nair, S. C.; Salomi, M. J.; Panikkar, B.; Pannikar, K. R., 1991, “Modulatory Effects of Crocus sativus and Nigella sativa Extracts on Cisplatin-Induced Toxicity in Mice,” J Ethnopharmocol 31(1): 75-83.

Salmon, S. E., Hamburger, A. W., Soehnlein, B., 1978, “Quantitation of Differential Sensitivity of Human Tumor Stem Cells to Anticancer Drugs, , ” N. Eng. J. Med. 298, 1321-1327.

Salomi, N. J.; Nair, S. C.; Jayawardhanan, K. K.; Varghese, C. D.; Panikkar, K. R., 1992, “Anititumour Principles from Nigella sativa Seeds,” Cancer Lett 63(1):41-6.

Salomi, M. J.; Nair, S. C.; Panikkar, K. R., 1991, “Inhibitory Effects of Nigella sativa and Saffron (Crocus Sativus) on Chemical Carcinogenesis in Mice,” Nutr Cancer 16(1):67-72.

Sayed, M. D., “Traditional Medicine in Health Care,” 1980, J Ethnopharmocol 2(1):19-22.

Shayeb, N. A. and Mabrouk, S. S., 1984, “Utilization of Some Edible and Medicinal Plants to Inhibit Aflatoxin Formation,” Nutrition Reports International 29(2).

Siddiqui, M. B., Alam, M. M., Husain, W. and Sharma, G. K., 1988, “Ethno-medical Study of Plants used for Terminating Pregnancy,” Fitoterapia V. LIX, no. 3, 250.

Salmon, S. E.; Hamburger, A. W.; Soehnlein, B.; et al., 1978, “Quantitation of differential sensitivity of human tumor stem cells to anticancer drugs,” N Engl J Med 298:1321-1327.

Srivastava, K. C., 1989, “Extracts from Two Frequently Consumed Spices–Cumin (Cuminum cyminum) and Turmeric (Curcuma Longa)–Inhibit Platelet Aggregation and Alter Eicosanoid Biosynthesis in Human Blood Platelets,” Prostaglandins Leukot Essent Fatty Acids 37(1)57-64.

Tennekoon, K. H.; Jeevathayaparan, S.; Kurukulasooriya, A. P.; Karunayake, E. H., 1991, “Possible Hepatotoxicity of Nigella sativa Seeds and Dregea Volubilis Leaves,” J Ethnopharmocol 31(3):283-9.

Vihan, V. S. and Panwar, H. S., 1987, “Galactopoietic Effect of Nigella sativa (H-Kalonji) in Clinical Cases of Agalactia in Goats, ” Indian Vet. J. 64, 347-349.

Von Hoff, D. D., Cowan, J., Harris, J. and Reisdorf, G., 1981, “Human Tumor Cloning: Feasibility and Clinical Correlations,” Cancer Chemother. Pharmacol. 6, 265-271.

Khasiat Teh Hitam

http://javanesseherbal.blogspot.com/

Rabu, 2008 Januari 23
Khasiat Teh Hitam

Zhiozaki (1997), menyatakan bahwa ekstrak teh hitam dapat meperbaiki system imun.Sistem imun yang baik dapat meningkatkan aktivitas sel, yaitu menjadi imunokompeten terhadap zat asing di dalam tubuh. Sel kanker di dalam tubuh juga merupakan zat asing, karena pada permukaannnya mengekspresikan nonself protein atau protein asing. Bila system imunologik tubuh baik, makam perkembangan sel kanker ini dapat dihambat.

Dari sumber elektronik (Creative Online Enterprises © Copyright, 1996), manfaat minum teh bagi kesehatan dapat dikelompokkan ke delapan butir, berikut;

  1. Mengurangi rasa lelah, meningkatkan daya tahan, dan membangkitkan kembali semangat untuk merangsang kecerahan berpikir
  2. Memungkinkan lacarnya pengeluaran air seni
  3. Merendahkan kolesterol darah dan tingkat LDL-nya
  4. Mencegah gigi berlubang
  5. Mempercepat hilangnya alcohol dan zat lain yang berbahaya dari organ tubuh.
  6. Berfungsi sebagai antibiotic
  7. Mencegah mutasi sel dan berperan sebagai bahan antikarsinogen
  8. Memperlambat proses penuaan dan memperpanjang rentang hidup.

Menurut Yoshino et.al. (1994), pada proses oksidasi enzimik teh hitam akan dihasilkan theaflavin (TF) dan thearubigin (TR), yaitu substansi yang sama dengan katekin yang terdapat dalam daun teh. Katekin ini mempunyai struktur kimiawi hydroxi phenol (polyphenol). Kandungan polifenol, baik pada katekin maupun pada theaflavin (TF) mempunyai aktivitas yang sama yaitu sebagai antioksidan. Menurut laporan beberapa penelitian terdahulu, seduhan teh dapat menghambat pertumbuhan sel kanker karena dapat menghambat aktivitas mutagenic senyawa-senyawa karsinogen (Bambang,1997).

Zhiozaki (1997), menyatakan bahwa ekstrak teh hitam dapat meperbaiki system imun.Sistem imun yang baik dapat meningkatkan aktivitas sel, yaitu menjadi imunokompeten terhadap zat asing di dalam tubuh. Sel kanker di dalam tubuh juga merupakan zat asing, karena pada permukaannnya mengekspresikan nonself protein atau protein asing. Bila system imunologik tubuh baik, makam perkembangan sel kanker ini dapat dihambat.

Dari sumber elektronik (Creative Online Enterprises © Copyright, 1996), manfaat minum teh bagi kesehatan dapat dikelompokkan ke delapan butir, berikut;

  1. Mengurangi rasa lelah, meningkatkan daya tahan, dan membangkitkan kembali semangat untuk merangsang kecerahan berpikir
  2. Memungkinkan lacarnya pengeluaran air seni
  3. Merendahkan kolesterol darah dan tingkat LDL-nya
  4. Mencegah gigi berlubang
  5. Mempercepat hilangnya alcohol dan zat lain yang berbahaya dari organ tubuh.
  6. Berfungsi sebagai antibiotic
  7. Mencegah mutasi sel dan berperan sebagai bahan antikarsinogen
  8. Memperlambat proses penuaan dan memperpanjang rentang hidup.

Menurut Yoshino et.al. (1994), pada proses oksidasi enzimik teh hitam akan dihasilkan theaflavin (TF) dan thearubigin (TR), yaitu substansi yang sama dengan katekin yang terdapat dalam daun teh. Katekin ini mempunyai struktur kimiawi hydroxi phenol (polyphenol). Kandungan polifenol, baik pada katekin maupun pada theaflavin (TF) mempunyai aktivitas yang sama yaitu sebagai antioksidan. Menurut laporan beberapa penelitian terdahulu, seduhan teh dapat menghambat pertumbuhan sel kanker karena dapat menghambat aktivitas mutagenic senyawa-senyawa karsinogen (Bambang,1997).

Zhiozaki (1997), menyatakan bahwa ekstrak teh hitam dapat meperbaiki system imun.Sistem imun yang baik dapat meningkatkan aktivitas sel, yaitu menjadi imunokompeten terhadap zat asing di dalam tubuh. Sel kanker di dalam tubuh juga merupakan zat asing, karena pada permukaannnya mengekspresikan nonself protein atau protein asing. Bila system imunologik tubuh baik, makam perkembangan sel kanker ini dapat dihambat.

Dari sumber elektronik (Creative Online Enterprises © Copyright, 1996), manfaat minum teh bagi kesehatan dapat dikelompokkan ke delapan butir, berikut;

  1. Mengurangi rasa lelah, meningkatkan daya tahan, dan membangkitkan kembali semangat untuk merangsang kecerahan berpikir
  2. Memungkinkan lacarnya pengeluaran air seni
  3. Merendahkan kolesterol darah dan tingkat LDL-nya
  4. Mencegah gigi berlubang
  5. Mempercepat hilangnya alcohol dan zat lain yang berbahaya dari organ tubuh.
  6. Berfungsi sebagai antibiotic
  7. Mencegah mutasi sel dan berperan sebagai bahan antikarsinogen
  8. Memperlambat proses penuaan dan memperpanjang rentang hidup.

Menurut Yoshino et.al. (1994), pada proses oksidasi enzimik teh hitam akan dihasilkan theaflavin (TF) dan thearubigin (TR), yaitu substansi yang sama dengan katekin yang terdapat dalam daun teh. Katekin ini mempunyai struktur kimiawi hydroxi phenol (polyphenol). Kandungan polifenol, baik pada katekin maupun pada theaflavin (TF) mempunyai aktivitas yang sama yaitu sebagai antioksidan. Menurut laporan beberapa penelitian terdahulu, seduhan teh dapat menghambat pertumbuhan sel kanker karena dapat menghambat aktivitas mutagenic senyawa-senyawa karsinogen (Bambang,1997)

Beberapa Jenis Herbal untuk Daya Imun

http://jicoagung.com/news.asp?l=i&id=20

16 Februari 2005

Beberapa Jenis Herbal untuk Daya Imun

Media Indonesia : PERAN pengobatan herbal telah dikenal sejak zaman dahulu. Warisan nenek moyang itu hingga kini tidak pernah lekang dimakan zaman. Sebab, baik di negara maju maupun negara berkembang, obat-obat herbal makin disukai. Di Eropa obat herbal telah dimasukkan ke dalam obat dengan lulus uji klinis ataupun masuk dalam kelompok obat ethical (harus dengan resep dokter). Sedangkan di Asia maupun Amerika obat herbal masih tergolong suplemen. Banyak tanaman yang berkhasiat untuk meningkatkan aktivitas kekebalan tubuh. Menurut Prof Dr Ali Khomsan, ahli gizi dan pengajar pada Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Faperta IPB, ginseng merupakan salah satu tanaman kuno yang hingga kini masih terus dimanfaatkan khasiatnya. “Ginseng telah digunakan di China 5.000 tahun yang lalu. Dari seratus tahun pengalaman budi daya ginseng telah ditemukan penelitian bahwa ginseng memiliki manfaat untuk mengobati batuk, pilek, rematik, gout, diabetes, antistres, dan perbaikan sistem imun,” ujar Prof Ali. Selain itu, tambahnya, ginseng juga berkhasiat sebagai antioksidan, membantu daya serap gizi dan mengurangi kadar kolesterol, sakit kepala dan kelelahan. Ginseng menurut Nutrition Almanac juga berkhasiat melancarkan peredaran darah pada sistem saraf dan jantung. “Tentu, tak kalah pentingnya ginseng membantu metabolisme vitamin dan mineral dengan baik sehingga penyerapan gizi bisa sempurna.” Komponen aktif dari ginseng adalah ginsenosida, polisakarida, dan panaxans. “Polisakarida merupakan bentuk karbohidrat jamak atau kompleks yang membantu memulihkan imun atau kekebalan tubuh. Misalnya orang yang terkena penyakit kanker dan harus menjalani penyinaran maka bisa menyebabkan sel darah putih merosot dan sistem imun pun terganggu.” Menurut Prof Khomsan, polisakarida yang digunakan dalam obat antibiotik maupun yang terkandung di dalam herbal ginseng memiliki manfaat dan khasiat sama. “Karena itu, kita juga harus memerhatikan etika dalam pemakaiannya. Kalau secara terus-menerus seseorang minum antibiotik bisa menyebabkan daya tahan tubuh terganggu pula. Tubuh menjadi kebal sehingga ketika ada virus atau kuman yang lain yang masuk, tubuh tidak bisa mengatasi.” Echinacea Tanaman lain yang juga berkhasiat dalam mengatasi infeksi dan meningkatkan imunologi adalah echinacea yang merupakan tanaman liar Amerika yang sudah lama digunakan oleh suku Indian. Masyarakat Indian biasa memanfaatkan bunga echinacea yang berbentuk kerucut dan berwarna ungu untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara alami. “Echinacea memiliki khasiat meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang ditimbulkan dari kemampuannya meningkatkan aktivitas sel darah putih.” Selain itu, dengan meningkatnya aktivitas imunologi maka akan meningkatkan phagocytosis (kemampuan sel darah putih untuk memangsa bibit penyakit). Namun, tidak seperti vaksin yang hanya bekerja melawan suatu penyakit teretentu, echinacea juga merangsang aktivitas keseluruhan sel imun yang bertanggung jawab melawan segala macam infeksi. Cara kerja echinacea berbeda dengan antibiotik yang secara langsung membunuh bakteri. Echinacea membuat sel-sel kekebalan tubuh lebih efektif menyerang bakteri, virus, dan sel-sel tidak normal termasuk sel-sel kanker. Para ahli kini menemukan bahwa echinacea selain mengandung echinacosides yang mengandung suatu substansi polisakarida yang berdasarkan studi penelitian dapat melawan sel-sel tumor. Polisakaridanya diduga mampu meningkatkan kemampuan tubuh menyerang kuman yang melemahkan sistem kekebalan. Echinacea adalah tanaman yang paling direkomendasikan di musim batuk dan flu di luar negeri. Saat wabah SARS mulai merebak, banyak orang di negara-negara yang mengalami epidemi SARS mengonsumsi obat herbal ini. Artinya, dewasa ini orang mulai back to nature setelah sekian lama terbiasa minum obat resep dokter atau obat kimia yang dijual bebas. Echinacea dari hasil penelitian di Jerman menunjukkan bahwa bunga liar ini memiliki khasiat melawan infeksi jamur dan bakteri serta memperpendek durasi dan intensitas batuk. Ada tiga jenis echinacea yang terkenal yakni Echinacea angustifolia, Echinacea purpurea, dan Echinacea pallida. Namun, hanya Echinacea angustifolia dan Echinacea purpurea yang memiliki efek terhadap kesehatan. Fungsi utama herbal untuk merangsang kekuatan alami tubuh untuk penyembuhan dengan keseimbangan dan pembersihan. Banyak herbal memberikan manfaat pengobatan seperti obat-obat sintetis pada pengobatan modern. Namun, herbal dapat memberikan penyembuhan tanpa efek samping yang tidak diinginkan, tanpa merusak keseimbangan alami tubuh jika digunakan sesuai anjuran. Selain efektif, herbal juga ekonomis dan mudah digunakan. Herbal adalah bentuk tertua pengobatan yang telah digunakan sejak zaman prasejarah. Obat-obatan yang berasal dari tanaman ini memiliki kerja yang berbeda dengan obat-obat yang diperoleh melalui resep dokter maupun obat-obatan yang dijual bebas. Tidak seperti obat kimia, herbal berperan untuk menambah dan meningkatkan penyerapan makanan, untuk mendukung serta melindungi fungsi dan sistem tubuh. Dari hasil penelitian, herbal digunakan untuk mempertahankan keseimbangan alami tubuh. Lebih lanjut, herbal merupakan langkah selanjutnya dari konsumsi vitamin dan mineral. Bila vitamin dan mineral digunakan sebagai asuransi pemenuhan nutrisi atau pencegahan alami terhadap penyakit, herbal dapat digunakan sebagai pencegahan dan membantu memulihkan keseimbangan tubuh. “Meskipun pemakaian herbal tidak menimbulkan efek samping, pemakaian herbal juga perlu kehati-hatian. Baik obat yang dengan resep dokter ataupun obat yang dijual bebas dan obat herbal harus diminum sesuai aturan. Seperti obat herbal yang mengandung echinacea diminum selama dua atau tiga minggu setelah itu dihentikan. Jangan terus-menerus,” kata Prof Ali Khomsan. Karena, tetap akan memberikan efek yang tidak baik bila terlalu sering. (Nda/V-1)

Tubuh Kebal dengan Herbal

http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=391&Itemid=3

19 Juli 2006
Sumber : Kompas CyberMedia, 27 Maret 2006
Tubuh Kebal dengan Herbal

Mirip fungsi tenaga satpam, tubuh kita juga punya aparat yang selalu bersiaga terhadap ancaman. Namanya sistem kekebalan atau imunitas tubuh (sistem imun).

Sayangnya, dalam kondisi tertentu “satpam” dengan kesiagaan 24 jam itu bisa loyo atau malah pingsan sama sekali. Untuk mengembalikannya ke kondisi siaga, ada bahan-bahan alami yang bisa dimanfaatkan.

Rasanya tidak terlalu salah, jika analogi tenaga satpam, diberikan kepada sistem imun kita. Sebab, fungsi utama sistem imun memang menghalau segala potensi gangguan kesehatan tubuh dalam bentuk apa pun. Baik dari dalam maupun luar tubuh.

Ancaman bagi tubuh bisa terjadi setiap saat. Bahkan dari situasi sehari-hari yang mungkin kedengarannya sepele. Saat kita stres, misalnya, otak mengeluarkan kortisol yang ujung-ujungnya menekan sistem imun. Kuman yang mestinya dibasmi olehnya malah merajalela.

Coba, berapa kali kira-kira Anda stres dalam sehari?

Padahal, masih banyak kondisi lain yang bisa menekan kerja sistem imun dalam membentengi diri kita. Di antaranya pengaruh alam (cuaca misalnya), wabah penyakit, pola hidup, pola makan, lingkungan yang terpolusi, atau ketika sedang menderita penyakit tertentu.

Pendeknya, manusia di zaman modern dan tinggal di perkotaan nyaris tidak bisa menghindar dari kondisi yang merugikan tubuh. Persoalannya sekarang, bagaimana mencegah agar segala bentuk gangguan tadi tidak berubah menjadi penyakit berkepanjangan.

Ronda Siskamling

  • Sejujurnya, agak rumit menjabarkan secara komplet tentang profil sistem imun tubuh.

Sistem ini amat berjasa menjaga kelangsungan hidup kita agar senantiasa dalam keadaan aman bin sentosa. Statusnya sama seperti sistem-sistem lain, misalnya sistem peredaran darah, pencernaan, atau reproduksi.

Secara spesifik lagi, ada tiga fungsi dari sistem yang juga sering disebut sebagai sistem kekebalan tubuh ini

Pertama, sebagai pertahanan tubuh. Tugasnya menangkal segala gangguan penyakit. Dalam kondisi sehat dan bugar, nyaris tak ada bibit penyakit yang bisa berbuat banyak di tubuh.

Kedua, menjaga keseimbangan pergantian sel. Seperti diketahui, sel-sel tubuh kita punya daur hidup sendiri dan secara periodik miliaran sel akan berganti dengan yang baru. Sel darah merah, misalnya, berganti setiap 40 hari. Sel kulit akan rontok setiap 21 – 28 hari. Nah, petugas yang mengatur mulusnya proses pergantian itu tidak sistem imun itu.

Ketiga, fungsi sistem imun adalah surveillance, perondaan. Ronda keliling, mirip siskamling, ke seluruh tubuh bertujuan mengecek sel-sel yang bermutasi. Jika mutasi tidak terkontrol, dikhawatirkan sel bakal berubah sifat. Dari yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi sel ganas penyebab kanker. Kalau kejadiannya sudah begitu, urusannya tentu bisa gawat.

Menyimak tiga fungsi tadi, jelas sekali betapa penting dan berjasanya sistem imun. Hanya masalahnya, sistem yang tersebar meliputi hampir seluruh tubuh ini kondisinya bisa naik-turun karena faktor-faktor di atas tadi. Yang juga tidak bisa dilupakan, sistem ini berkembang sesuai umur manusia.

Pada bayi dan balita, sistem kekebalan tubuh begitu lemah, untuk kemudian berkembang seiring usia. Kondisi optimal dicapai pada usia dewasa (17 – 50 tahun) dan setelah itu menurun kembali di usia penuaan (lebih dari 50 tahun). Maka, kelompok usia di luar kondisi optimal membutuhkan perhatian ekstra.

Bukan main gerus

  • Jika kebetulan sistem imun dirasa sedang loyo, kita sebenarnya punya banyak pilihan untuk mendongkraknya naik kembali.

Secara tradisional, banyak bahan alami yang bisa dimanfaatkan, seperti pegagan, mahkota dewa, daun dewa, sambiloto, jahe, mengkudu, atau meniran. Di masyarakat masing-masing tanaman itu sudah teruji empiris mampu membuat tubuh sehat walafiat.

Namun, tahukah Anda, penggunaan tanaman berkhasiat obat bukan asal main gerus atau rebus, lalu diminum airnya. Sebuah tanaman obat, bagaimana pun saktinya, mengandung ratusan bahan kimia yang efeknya berlainan bagi tubuh. Untuk mengetahui manfaat pastinya, dibutuhkan serangkaian pengujian di laboratorium dan klinik.

Satu contoh tanaman obat tradisional yang sudah teruji adalah meniran (Phyllanthus niruri L.). Ekstrak meniran bahkan sudah masuk kategori obat bersertifikat Fitofarmaka bermerek Stimuno, produksi PT Dexa Medica. Dokter meresepkannya sebagai imunomodulator atau obat yang diyakini mampu memperbaiki sistem imun (Fitofarmaka, Jamu Yang Naik Kelas)

Sejak zaman nenek moyang, meniran telah dimanfaatkan untuk berbagai keluhan penyakit. Radang dan batu ginjal, susah buang air kecil, disentri, ayan, penyakit liver, sampai rematik. Walau buahnya cuma se-menir (remukan butiran beras), khasiatnya ternyata jempolan.

Dari ratusan kandungan kimia dalam meniran, yang dimanfaatkan hanya flavonoidnya. Pada tanaman lain flavonoid sejenis ini sebenarnya juga ada. Bedanya, pada meniran peningkatan aktivitas sistem imunnya ternyata lebih baik.

“Rumus dasar flavonidnya sama, tapi tambahan gugusan yang dimiliki meniran berbeda,” jelas Dr. Suprapto Ma’at, peneliti dari Lab. Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.

Flavonoid perlu dipisahkan lantaran kandungan kimia lain punya efek juga bagi tubuh. Misal, ada kandungan yang berfungsi memperlancar air seni (diuretik), karenanya meniran biasa digunakan juga sebagai jamu pada penderita susah kencing. “Ini kan tidak diperlukan untuk meningkatkan sistem imun,” tutur Suprapto yang lebih dari 10 tahun meneliti meniran. “Kecuali kalau pasiennya kepingin kencing terus, biar kurus, he-he-he.”

Flavonoid dari meniran bekerja pada sel-sel tubuh yang menjadi bagian dari sistem imun. Caranya dengan mengirimkan sinyal intraseluler pada reseptor sel, sehingga sel bekerja lebih optimal. Jika sistem imun dalam sel berfungsi memakan bakteri (fagosit), maka nafsu makannya jadi tambah lahap. Jika fungsinya mengeluarkan mediator yang menambah ketahanan tubuh, hasil pengeluarannya akan lebih baik. Atau jika kerjanya mengurai sel lain, proses urainya berlangsung mulus.

“Bagusnya, ekstrak meniran bukan cuma menaikkan sistem imun, tapi mengendalikannya sehingga tetap seimbang. Di sini ada semacam prinsip yin dan yang seperti dalam pengobatan Cina,” terang Suprapto dengan dialek Suroboyoannya yang khas.

Sengaja dibikin loyo

  • Sejauh ini, obat yang berfungsi sebagai imunomodulator kebanyakan berasal dari hijau-hijauan alias bahan herbal.

Dari bahan kimia sintetik, boleh dikatakan sangat jarang, jika tak boleh dikatakan tidak ada. Salah satunya isoprenosine, obat pembasmi virus yang bekerja dengan cara menaikkan sistem imun.

Obat-obat yang melemahkan sistem imun, biasa disebut imunosupresan, justru lebih banyak. Namun hati-hati, ini bukan obat sembarangan. Hanya dipakai pada kasus di mana agresivitas sistem imun justru telah membahayakan tubuh. Seperti pada kasus pasien cangkok jantung, cangkok ginjal, dan cangkok-cangkok organ tubuh lain (jikalau kelak ada).

Pada kasus cangkok organ tubuh, sistem imun penerima donor sengaja dibikin loyo agar organ cangkokan tidak dihajar karena dianggap tamu tak diundang. Risikonya, bisa terjadi ketidakseimbangan bakteri di tubuh (mulut, usus, atau vagina) akibat tidak berfungsinya sistem imun.

Karena mendongkrak sistem imun, imunomodulator jelas tidak cocok diberikan pada kasus autoimun. Misal pada idiopatic thrombocytopenic purpura (ITP), ketika sistem imun justru menghancurkan tubuhnya sendiri. Begitu pula systemic lupus erythematosus, biasa disebut lupus saja, saat sistem imun terbutakan matanya. Gara-gara buta, dia malah menghajar organ tubuh tuannya sendiri seperti hati, jantung, paru-paru, atau ginjal.

Dalam pengobatan penyakit, kini imunomodulator juga diresepkan dokter sebagai terapi ajuvan. Artinya, obat yang dikonsumsi sebagai penunjang obat utama, bahkan diyakini bisa meningkatkan potensinya. Namun, dalam hal ini sifatnya tidak wajib.

Berdasarkan penelitian di sejumlah rumah sakit di Jakarta dan Surabaya, terapi adjuvan dengan Stimuno telah berhasil mempersingkat jangka waktu pengobatan pada beberapa penyakit seperti TBC, hepatitis, candidiasis vaginalis, dll. Jadi, flu yang biasanya butuh pengobatan seminggu, kini ada harapan bisa dituntaskan dalam tiga atau empat hari saja. Apakah kira-kira manfaatnya sebanding? Ya, semua terpulang pada keinginan pasien.

Netralkan bisa ular

  • Selain meniran, bahan alami tanaman echinacea (Echinacea angustifolia) juga diyakini dapat meningkatkan sistem imun.

Tanaman asli Amerika Utara ini pertama kali dimanfaatkan dukun-dukun Indian sebagai pencegah infeksi, sakit tenggorokan, mengobati luka, sampai menetralkan racun bisa ular. Bisa disebut inilah tanaman sakti dari negeri seberang.

Di sebuah media massa, David Gusrizal, peneliti tanaman, menulis bahwa yang berperan merangsang sistem kekebalan tubuh adalah komponen polisakarida larut air yang dikenal sebagai inulin. Kandungan inulin yang banyak terdapat pada akar ini bisa meningkatkan aktivitas produksi limfosit-T dan sel NK. Dua sel itu merupakan motor dalam sistem kekebalan tubuh kita.

Echinacea sekarang telah dikemas modern. Di Amerika dan Eropa beredar pada kategori makanan kesehatan herbal penambah daya tahan tubuh, terutama untuk mencegah flu. Belakangan, ekstraknya dikhasiatkan juga sebagai imunostimulan, atau merangsang sistem imun.

Sepintas, imunostimulan kedengarannya beda-beda tipis dengan imunomodulator. Namun, rangsangan (stimulan) terhadap sistem imun saja tanpa adanya keseimbangan (seperti pada imunomodulator) ternyata ada batasnya. Konsumsi imunostimulan sebenarnya tak boleh lebih dari seminggu, seperti ditulis dalam kemasan produknya.

Obat-obatan dari bahan herbal memang dikenal aman, karena konon tanpa efek sampingan. Namun, sebelum mengonsumsinya, alangkah bijaksana bila kita mengenalnya lebih dulu secara baik. *

Herbal, Obati Flu Plus Pacu Imun

Herbal, Obati Flu Plus Pacu Imun

http://www.melanesianews.org/suara/publish/sains/Herbal_Obati_Flu_121207.shtml

Kategori: Sains-Teknologi
Oleh Cepos
Dec 12, 2007 – 3:29:58 AM

Patut Dikembangkan di Papua Barat

MUSIM hujan begini, banyak sekali penyakit berkeliaran. Salah satu yang paling sering datang dan rutin menyerang adalah flu (common cold). Tak hanya menyiksa karena demam, pilek yang disertai hidung mampet tentu menjengkelkan.


Penyakit infeksi akibat ulah Rhino-virus itu ditandai munculnya batuk dan pilek. Biasanya, flu akan sembuh sendiri (self limiting disease) setelah 1-2 minggu. Meski begitu, flu jangan dibiarkan. Sebab, kesehatan tubuh akan ikut terganggu. Sebisanya penyakit tersebut dieliminasi secepatnya. Untuk itu, obat-obatan kimia memang bisa membantu. Namun, kalau ingin lebih natural, manfaatkan obat herbal.

Menurut dr H Arijanto Jonosewojo SpPD dari Poliklinik Obat Tradisional Indonesia (OTI) RSU dr Soetomo Surabaya, obat-obatan kimia memang akan mengurangi gejala flu lebih cepat. Tapi, karena hanya mengurangi, begitu efek obat hilang, gejala flu bisa muncul kembali.

“Lain halnya bila memanfaatkan tanaman obat,” ujar Arijanto.

Tanaman obat merangsang sistem imun dan memberi kekuatan tubuh untuk melawan virus influenza. Maka, flu bakal lebih cepat sembuh jika diobati dengan obat herbal. Di samping itu, efek samping penggunaan obat herbal lebih ringan. Meskipun jarang, pada beberapa orang, obat herbal juga bisa menyebabkan reaksi alergi.

Nah, pemanfaatan herbal sebagai perangsang sistem imun itu bisa melalui berbagai cara. Salah satunya, mengolahnya menjadi minuman hangat. Jenis herbal yang bisa diolah, antara lain, jahe, serai, laos, beras kencur, atau cabai puyang. “Minuman herbal memang sebaiknya dikonsumsi hangat supaya lebih mudah diserap tubuh,” ungkap spesialis penyakit dalam tersebut.

Membuat minuman dari bahan-bahan alam itu mudah saja. Untuk membuat wedang jahe dan serai, misalnya. Kedua bahan tersebut cukup di-keprak (tumbuk kasar), lalu tuangi air mendidih. “Jangan direbus. Kandungan bahan bermanfaatnya bisa menguap,” jelas Rahma P.F., asisten Apoteker Poliklinik OTI. Jahe dan serai bisa dibuat minuman secara terpisah, tapi bisa juga dipadukan.

Membuat beras kencur juga tidak rumit. Beras yang sudah direndam semalaman ditumbuk halus bersama kencur. Nah, air sarinya disaring, kemudian direbus. Supaya wedang semakin berasa segar, selain menggunakan bahan-bahan utama, boleh juga ditambahkan bahan adiksi. Tambahan itu bisa berupa gula (baik gula putih maupun gula merah), kayu manis (untuk memberi aroma wangi), atau garam. “Garam memberi rasa gurih,” timpal Djarot Sudiro, ahli tumbuhan obat dari Poliklinik OTI.

Selain tanaman tersebut, bahan minuman yang sudah umum digunakan, seperti teh, kopi, atau cokelat, bermanfaat untuk meredakan flu. “Ketiga bahan tersebut mengandung analog xanthin yang membuat rongga hidung tidak mampet,” katanya. Dalam sehari, ketiga minuman tersebut bisa dikonsumsi dua kali.

Sementara itu, sebagai obat, pilih tanaman herbal yang memiliki efek imunomodulator (merangsang sistem imun tubuh). Misalnya, meniran atau ceplukan. “Kedua tanaman itu diolah dengan jalan yang sama,” ujar Rahma. Ambil sekitar 5 gram meniran atau ceplukan kering, tambahkan dengan 4 gelas air (4 x 200 cc), lalu rebus dengan api kecil. Konsumsi sehari tiga kali.

Tidur yang cukup juga merupakan salah satu upaya meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau memang susah tidur lantaran hidung mampet, tanaman pala bisa membantu. Djarot menjelaskan, tanaman pala mengandung miristin yang memberi efek menenangkan. Karena itu, hanya dengan mengusapkan biji pala pada kening, rasa mengantuk langsung datang dan tidur pun jadi nyenyak.

Selain diusap, pala bisa dibuat minuman hangat. Cukup seperlima biji pala, lalu siram dengan air mendidih. Bisa ditambahkan gula bila suka. “Yang perlu diingat, baik untuk dioles maupun diminum, jangan gunakan biji pala terlalu banyak. Kalau kebanyakan, tidur bisa sangat nyenyak sampai susah dibangunkan,” tegas Djarot.

Selain meningkatkan sistem imun, yang tak kalah penting adalah mencegah terjadinya infeksi ikutan. (jpnn)

Imunisasi Tambahan

http://g1s.org/hidupsehat/search/imunisasi+bcg

Imunisasi Tambahan

September 27, 2007

Masalah :

Ass.Wr.Wb.

Dokter Azhali yang terhormat.

SEJAK dulu, di SD sering diadakan imunisasi. Masalahnya sebelum masuk sekolah dasar anak telah diimunisasi, seperti halnya imunisasi campak yang menjadi salah satu program pemerintah.

Apakah pemberian imunisasi seperti itu tidak akan berakibat negatif terhadap anak yang memang sebelumnya sudah diberi imunisasi lengkap sejak bayi hingga waktu yang ditentukan? Apakah imunisasi tambahan itu akan efektif? Terima kasih atas penjelasan dokter.

Ny. Dina – Bandung

Jawaban :

Ibu Dina yang terhormat.

Campak merupakan penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus dengan karakteristik adanya demam, pilek, mata merah, batuk, dan timbul ruam kulit. Komplikasi yang timbul akibat campak seperti infeksi telinga, infeksi paru, diare yang bisa menjadi kronik sehingga anak menjadi kurang gizi, serta radang otak. Suatu hal yang harus dihindari pada anak kita.

Dalam pelayanan kesehatan anak, diprioritaskan agar anak tetap sehat melalui pencegahan terhadap tiap penyakit. Imunisasi merupakan salah satu upaya preventif yang mampu menekan angka kesakitan anak. Berbagai penyakit menular kejadiannya sangat menurun dengan imunisasi yang teratur dan cakupan pemberiannya luas. Jadi, imunisasi terhadap seorang anak tidak hanya melindungi anak tersebut, tetapi juga berdampak terhadap anak yang lain dengan menurunkan penyebaran penyakit infeksi. Untuk itu, saya sangat menghargai kesadaran dan kesediaan Ibu untuk terus memberikan imunisasi ulangan terhadap anaknya sebagai upaya mencegah penyakit infeksi yang berat.

Setiap anak yang dilakukan imunisasi, tidak memberikan jaminan ia akan kebal 100% terhadap penyakit tersebut. Ada beberapa anak kekebalannya belum timbul pada saat pertama kali dilakukan imunisasi campak, sehingga memiliki potensi untuk menjadi sakit dan menularkannya kepada anak lain yang daya tahan tubuhnya terhadap campak tidak optimal. Mudah-mudahan penjelasan saya cukup jelas dan saya harap Ibu dapat menularkan keyakinan Ibu kepada orang tua murid lain agar memberikan kesempatan pada anak untuk dilakukan imunisasi campak ulangan.

Prof. Dr. dr. H. Azhali, M.S., Sp. A.K.

Sumber : Pikiran Rakyat Online

Warga Takut Imunisasi, Wagub Banten Bagi Kalender

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/29/sh05.html

Rabu,  29 Juni 2005

Warga Takut Imunisasi, Wagub Banten Bagi Kalender

JAKARTA — Sebagian besar warga Kampung Cibelut, Kecamatan Keramatwatu, Kabupaten Serang, menolak membawa anak balita mereka untuk imunisasi polio putaran kedua Selasa (28/6). Buktinya, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di kampung itu ditutup, tak ada petugas yang mengadakan imunisasi polio.
Begitu juga di sejumlah tempat di Jakarta, seperti di Pos PIN RW 01, Kelurahan Kembangan Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Menurut Ketua RW 01, Rahmat, beberapa warganya enggan membawa balitanya ke Pos PIN karena takut nanti malah sakit setelah imunisasi polio. Alasan takut sakit juga dikemukakan oleh beberapa orang tua di Pos PIN RT 01/05 Kampung Lilinger, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, Bekasi.
Di Jawa Barat hal seperti itu juga terjadi. Ini diakui oleh Kepala Subdin Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jawa Barat, Fatimah Resmiati, bahwa beberapa hari lalu ada laporan tentang banyaknya orang tua di Sukabumi, Karawang dan Purwakarta yang enggan anaknya divaksin polio pada PIN putaran II ini.
“Semua itu karena adanya pemberitaan yang mengkaitkan vaksin polio dengan kematian balita yang marak belakangan ini,” kata Fatimah. Padahal hal tersebut tidak benar, sebab vaksin polio sama sekali tidak menimbulkan kematian terhadap balita.
Menurut keterangan yang diperoleh SH kemarin, posyandu di Kampung Cibelut, Kecamatan Keramatwatu, Kabupaten Serang, memang tidak melayani kegiatan imunisasi polio karena warga menolaknya. Padahal pada putaran pertama 31 Mei lalu posyandu ini menjadi salah satu tempat imunisasi polio.
Kemarin, para ibu di Kampung Cibelut terlihat melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, terkesan tidak ada kegiatan imunisasi polio yang “hingar-bingar” seperti yang terjadi pada putaran pertama. Mereka bekerja di rumah, pekarangan dan kebun sambil mengasuh anaknya. Bahkan mereka menunjukkan sikap curiga terhadap orang yang menanyakan apakah anaknya sudah divaksin polio atau belum.
ìMbung, anak aing paeh sanggeus divaksin polio. Loba kajadian nana jiga nu katempo di televisi jeung di koran (Enggak mau anak saya mati setelah divaksin polio seperti kejadian yang terlihat di televisi dan diberitakan di koran-koran,” kata Kursinah, seorang ibu rumah tangga.
Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Ny. Wawat. Ia yang sedang menggendong anaknya di halaman itu langsung masuk ke dalam rumah begitu ditanyakan soal imunisasi polio. Dua anaknya yang lain yang sedang bermain dipanggil dan disuruh masuk ke rumah. Pintu pun ditutup, sehingga SH hanya terbengong di halaman rumah Wawat.

Gerakan imunisasi polio pada putaran kedua di Banten memang terlihat sepi. Antusiasme keluarga ikut PIN putaran pertama lalu kini tidak ada lagi. Pada putaran pertama, keinginan memberikan vaksin pada anak didorong oleh rasa takut akibat tayangan televisi dan media cetak yang secara intensif memberitakan tentang penyakit lumpuh layu dan polio.
Maka kini, lagi-lagi televisi dan media cetak dituding berandil besar dalam menurunnya antusiasme warga untuk mengimunisasi anaknya. Gara-garanya, setelah muncul berita-berita tentang anak-anak yang justru sakit setelah diberi vaksin.
Lihatlah di Kabupaten Serang. Pos-pos pelayanan imunisasi yang digelar hingga tingkat rumah tangga (RT) menjadi sepi. Hingga pukul 12.00 WIB, banyak posyandu yang tidak memenuhi target dalam pemberian vaksin. Misalnya, Posyandu Tamansari, Kota Serang baru dikunjungi 14 anak. Padahal targetnya sekirar 75 anak. Posyandu di Kompleks Perbendaharaan Negara (KPN) Serang juga mengalami hal serupa. Dari 90 anak, baru 20 anak yang siap divaksin.
Kurangnya ibu-ibu mengantarkan anaknya juga terlihat di Pusat Kesehatan (Puskesmas) Kota Serang dan Cipocok. Para petugas medis lebih disibukkan dengan pelayanan yang rutin seperti pengobatan dan perawatan penyakit. Hingga pukul 11.00 WIB, baru 300 anak yang divaksin polio di dua puskesmas tersebut.

Kesibukan Lain
Sikap pejabat di Banten pun berbeda dalam gerakan imunisasi polio pada putaran kedua ini. Tak ada ekspose atau penjelasan resmi tentang virus polio dan tak ada acara khusus yang menandai dimulainya gerakan ini.
Pada putaran pertama, Gubernur Banten Djoko Munandar dan Wakil Gubernur Banten, Ny. Atut Chosiyah, secara bersama-sama memulai gerakan imunisasi polio di Malingping, Kabupaten Serang, dengan upacara khusus dan ekspose ke berbagai media cetak dan elektronik.
Bahkan, Dinas Kesehatan Banten segera mengajukan anggaran Rp 1,2 miliar untuk penyelenggaraan imunisasi polio. Namun anggaran itu hanya disetujui Rp 400 juta, karena dinilai banyak kegiatan yang tidak diperlukan dalam imunisasi. Namun Sekretaris Daerah Pemprov Banten, Chaeron Muchsin, tidak mau menyebutkan item apa saja yang tidak diperlukan dalam pengajuan dana dari Dinas Kesehatan Banten itu.
Kali ini imunisasi nyaris luput dari perhatian. Gubernur Banten sibuk menghadapi persidangan dalam perkara dugaan korupsi fasilitas rumah dinas dan operasional DPRD Banten sebesar Rp 14 miliar. Sedangkan Wagub Banten menghadiri acara peletakan batu pertama pendirian pendidikan agama di Tangerang. Sedangkan pegawai dinas kesehatan mulai dari kabupaten/kota hingga provinsi tidak sesibuk seperti pada PIN polio putaran pertama.
“Bagaimana ya, kita sudah berusaha mengingatkan imunisasi polio ini, tapi tetap tidak bergaung seperti awalnya. Kami juga tidak mengerti. Mungkin tayangan di media televisi dan koran tentang efek pemberian vaksin polio sangat berpengaruh terhadap keinginan ibu-ibu rumah tangga membawa anaknya ke tempat imunisasi,” kata Baihaki, Kasi Penanggulangan Penyakit Menula dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Banten.
Kepala Biro Humas Pemprov Banten, Kurdi Matin, membenarkan merosotnya minat imunisasi polio tersebut. “Kami sudah memprediksi ini, tapi belum menemukan cara yang tepat untuk mencari jalan keluarnya,” katanya. Kurdi Matin mengatakan, Pemprov Banten telah mengalokasikan dana Rp 7,9 miliar untuk menanggulangi berbagai penyakit yang menjadi kejadian luar biasa (KLB) seperti lumpuh layu, polio, kurang gizi dan muntaber. “Khusus untuk polio, kami sudah mencairkan dana Rp 400 juta untuk beli perlengkapan vaksin.”
Penyakit polio di Banten tercatat 35 balita yang tersebar di empat kabupaten dan dua kota. Dari jumlah itu, Kabupaten Lebak mencatat jumlah penderita paling banyak, yaitu 15 balita. Sedangkan penyakit mirip polio yang disebut lumpuh layu terus bertambah sehingga mencapai lebih 92 orang.
Terlepas semua itu, ada benarnya sindiran warga di Kampung Cibelut, bahwa penanganan penyakit baru menjadi perhatian pemerintah setelah menjadi KLB atau banyak yang meninggal. Dan, peristiwa ini bisa menjadikan si pejabat menjadi populer.
Bahkan kemarin, ada yang membagikan kalender yang diberikan oleh rombongan Wakil Gubernur Banten, Ny. Atut Chosiyah. Kalender itu bergambar Ny Atut.
Harap maklum, tahun 2006 sudah dekat, yang berarti pemilihan kepala daerah (pilkada) Gubernur Banten sudah diambang pintu.
(SH/iman nur rosyadi/didit ernanto/jonder sihotang/
mohamad ridwan)

Seorang Bayi Meninggal, Diduga Setelah Imunisasi

Sabtu, 18 Agustus 2007 – 16:33 WITA
Mungkinkah Mal Praktek?
Seorang Bayi Meninggal, Diduga Setelah Imunisasi

MINSEL – Seorang bayi berusia 1 bulan 5 hari, putra keluarga Kumayas Londa, warga Desa Pinamorongan Kec. Tareran Minahasa Selatan, meninggal dunia diduga setelah mendapat imunisasi pada tanggal 15 agustus 2007 lalu, di Posyandu desa Pinamorongan Kec. Tareran.

Kesedihan masih menyelimuti pasangan suami istri keluarga Kumayas Londa. Putra pertama mereka meninggal dunia diduga karena paha bekas suntikan imunisasi terus menerus mengeluarkan darah. Menurut sang ayah, tanggal 15 Agustus lalu saat di bawa untuk imunisasi, korban dalam keadaan sangat sehat. Namun setelah disuntik terjadi pendarahan tepat dibagian paha bekas suntikan. Korbanpun langsung di bawa ke Rumah Sakit Kalooran Amurang, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Bethesda Tomohon. Namun sayangnya, sang anak tetap tak tertolong.

”Adoh kasiang, kita pe anak ini padahal sebelumnya da sehat-sehat. Nintau lei kiapa so jadi bagini” isak sang ayah.

Sementara itu, Praktisi Hukum Jimmy Lelet, yang juga masih kerabat korban mengatakan pihaknya sudah melaporkan kasus ini ke Polres Minsel dan sedang di proses secara hukum karena ada kemungkinan kasus ini terkait dengan Mal Praktek.

Hingga berita ini di turunkan, jenasah sang bayi masih di otopsi di ruang pemulasaran Rumah Sakit Prof. RD. Kandau Malalayang. (urs/jel)

Ursula Pontoh – JurnalSulut.com

SERENTAK, KAMPANYE CAMPAK DIGELAR

http://www.d-infokom-jatim.go.id/news.php?id=9696

SERENTAK, KAMPANYE CAMPAK DIGELAR

Senin, 22 Januari 2007 21:50:54

Kasubdin P2P dan PL Dinkes Jatim, dr Budi Rahayu MPH, dalam Pertemuan Teknis Persiapan Pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak serta Sub PIN Polio 2007, di Dinkes Jatim, Surabaya, Senin (22/1) mengatakan, kampanye campak ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama telah dilaksanakan di empat propinsi (Papua, Irian Jaya Barat, Maluku, dan Maluku Utara) bersamaan dengan PIN V pada 12 April 2006. Tahap kedua dilaksanakan secara terpadu dengan vitamin A, malaria (pemberian kelambu), dan Polio pada 29 Agustus-29 September 2006 di sembilan propinsi (Sumbar, Riau, Kepulauan Riau, Semsel, Lampung, Babel, Jambi, Bengkulu, dan NTT). “Tahap tiga akan dilakukan pada 20 Februari hingga 20 Maret bersamaan dengan pemberian vitamin A dan Polio,” ujarnya. Kampanye itu akan dilakukan di lima Propinsi. Yakni Jabar, Jatim, Jateng, Banten, dan DKI Jakarta. Sedangkan propinsi yang belum melaksanakan kampanye imunisasi campak akan dilalukan pada Agustus 2007.
Sasaran kampanye imunisasi campak pada crash program adalah anak usia 6-59 bulan, dan catch up campaign pada anak usia sekolah dasar kelas 1-6. “Kegiatan catch up campaign hanya dilakukan di Propinsi Banten dan sebagian kabupaten di Jatim,” tuturnya. Sedangkan sasaran imunisasi polio adalah anak usia 0-59 bulan.
Berdasarkan data Dinkes Jatim, telah terjadi 4922 kasus sepanjang 2006. Penderita terbanyak berada di kisaran usia 1-4 tahun. Sementara daerah yang memiliki jumlah kasus terbanyak adalah Sidoarjo (662 kasus), Jombang (563 kasus), dan Tuban (308 kasus). Meski demikian, penyebaran campak dari tahun ke tahun mengalami penurunan.
Guru Besar FK Unair Surabaya, Prof Ismoedijanto menjelaskan, imunisasi campak dan polio yang dilakukan secara bersamaan tidak akan berdampak pada kesehatan. “Imunisasi Polio dan campak boleh dilakukan bersamaan atau dilakukan sendiri-sendiri dengan jangka waktu satu bulan,” ujarnya.
Mengenai efek yang ditimbulkan (KIPI-Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) bila kedua imunisasi itu dilakukan secara bersamaan, Prof Ismoe menuturkan, hingga saat ini belum ditemukan kasus yang berbahaya pasca imunisasi itu. Namun KIPI juga harus diwaspadai. KIPI yang sering terjadi adalah suhu badan meninggi, rash, konjungtivitas, batuk-pilek, dan diare. “Tapi skala semuanya berada di bawah 5%. Bila hal itu terjadi, perawat akan memberikan paracetamol ataupun memberikan adrenalin,” katanya.
Sementara vitamin A, sebaiknya diberikan sebelum imunisasi campak dilakukan. Hal ini untuk meningkatkan kadar antibodi campak.
Pada prinsipnya, kampanye campak ini adalah untuk menekan jumlah orang yang dapat menularkan campak di bawah titik kritis. Strateginya dengan menekan jumlah orang yang peka terhadap campak pada usia tertentu, terutama di daerah pedesaan terpencil dan daerah kumuh. Untuk keep up-nya dengan mengimunisasi lebih dari 95% bayi. “Ini karena transmisi campak liar bisa ditekan dengan imunisasi. Paling tidak diberikan dua dosis untuk menghentikan transmisinya,” katanya. *(eda)

Penyebab Kematian Balita Masih dalam Proses

http://www.suaramerdeka.com/harian/0706/22/kot29.htm

Jumat, 22 Juni 2007

Penyebab Kematian Balita Masih dalam Proses

UNGARAN - Depertemen Kesehatan (Depkes) RI menyatakan penyebab kematian dua balita di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, belum lama ini, masih dalam proses pengumpulan data penunjang lainnya. Penjelasan ini disampaikan pihak Depkes melalui Pusat Komunikasi Publik dengan surat bertanggal 18 Juni 2007 ke Kantor Suara Merdeka.

”Sehubungan dengan berita tanggal 8 Juni 2007 di Suara Merdeka, berjudul Dua Balita di Candi Meninggal (Diduga Setelah Diimunisasi) saya sampaikan penjelasan Departemen Kesehatan, bahwa Dinas Kesehatan dan Komda KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) Jateng telah melakukan investigasi terhadap kasus itu pada 2 Juni 2007. Dan saat ini masih dalam proses pengumpulan data penunjang lainnya,” jelas Dr Lily S Sulistiyowati MM Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes (Setjen). Diharapkan dalam waktu dekat kesimpulan penyebab kematian balita tersebut pasca imunisasi dapat diketahui.

Seperti diberitakan, dua balita yang meninggal, Yunita (tiga bulan) anak Suyamto (40) – Jamiah (38), warga RT 01 RW I Kalibendo, Candi, dan Zahrodin (sembilan bulan) anak Ahmad Said (38) dan Jumirah (33) warga RT 02/ RW VIII Dusun Ngipik, Desa Candi. Elva dibawa ke puskesmas pembantu (Pustu) Candi untuk imunisasi DPT sedang Zahrodin imunisasi campak, Jumat (25/ 5).

Menurut keluarga korban, besoknya (Sabtu 26/ 5) dua anak itu badannya panas dan sempat kejang-kejang. Jumirah, ibu Zahrodin, yang ditemui di rumahnya menjelaskan, setelah diimunisasi diberi obat empat butir pil. ”Lalu pil itu saya minumkan tiga butir. Anak saya lemas, keluar keringat, dan sempat kejang-kejang. Lalu Minggu (27/ 5) pagi, dia saya kirim ke RSUD Ambarawa selama dua hari,” terangnya. Zahrodin meninggal pada Minggu (3/ 6) malam dan Elva pada Senin (4/ 6) di RS Kariadi Semarang.

Evaluasi

Komisi D DPRD menduga obat yang diberikan kepada dua balita yang meninggal di Desa Candi, bukan untuk penurun panas melainkan obat diabetes. Hal ini ditegaskan Ketua Komisi D DPRD Bambang DN saat meminta keterangan para pejabat Dinas Kesehatan (Dinkes) di ruang komisi, Rabu (13/ 6). ”Prosedur memang sudah betul yaitu setelah imunisasi diberi obat tapi apakah obatnya sudah betul? Info yang saya terima, obat itu diberikan oleh tukang sapu puskesmas. Obat itu untuk diabetes,” kata Bambang DN.

Kepala Dinkes dokter Sulthoni, menjelaskan, perawat di Candi memberikan imunisasi dan obat sudah sesuai prosedur standar. Menurutnya, petugas kesehatan tidak ada penyimpangan dalam melaksanakan tugas. “Meninggalnya dua balita itu bukan disebabkan imunisasi. Kami sedang menunggu hasil laboratorium penyebab kematian dua balita itu,” kata dia kemarin. Usai kejadian itu, pihaknya sedang mengevaluasi setiap puskesmas pembantu dan induk di kabupaten ini. Selain itu Sulthoni akan mengingatkan, tidak semua obat diperbolehkan tersedia di puskesmas pembantu. ”Untuk sementara imunisasi di Pustu Candi dihentikan sambil menunggu kepercayaan masyarakat. Kami juga akan melakukan penyuluhan,” tegasnya. (H14-16)

Pernyataan Sikap dan Rekomendasi KOMNAS PP KIPI

http://202.155.5.44/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=980&Itemid=2

Pernyataan Sikap dan Rekomendasi KOMNAS PP KIPI

28 Jun 2005

Sebagai bentuk respon atas temuan Polio, adanya kesakitan dan kematian yang diduga terkait dengan Mopping-up putaran pertama, serta pelaksanaan Mopping-up putaran kedua, Komite Nasional Penanggulangan & Pengkajian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KOMNAS PP KIPI) mengeluarkan pernyataan sikap dan rekomendasi sebagai berikut.

Rekomendasi KOMNAS PP KIPI

Mengenai Imunisasi Polio dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Virus Polio Liar di Indonesia

Kami anggota KOMNAS PP KIPI yang terdiri dari para ahli dari ilmuwan kedokteran, farmasi, dan kesehatan masyarakat yang berasal dari organisasi profesi kedokteran, institusi pendidikan tinggi dan praktisi di bidang imunisasi sebagai pencegahan penyakit menular, telah mengadakan diskusi yang mendalam dengan seluruh anggota KOMNAS PP KIPI bersama KOMDA PP KIPI Jabar , DKI, dan Banten.

Kami telah melakukan pengumpulan data primer di lapangan yang langsung mencakup tempat tinggal penderita di daerah yang terkena penykait Polio maupun lumpuh layuih akut, pengumpulan data sekunder dari semua pihak (orang tua, masyarakat, dan pemerintah daaerah) yang terlibat dalam pelaksanaan program imunisasi Mopping-up Polio putaran pertama di 3 propinsi yaitu ; Jabar, DKI dan Banten. Dilanjutkan dengan diskusi mendalam dengan para ahli dari WHO Representative for Indonesia, WHO-SEARO, dan WHO Head Quarter, serta melakukan telaah literature mutahir dan melakukan kaji ulang yang mendalam pada rapat pleno KOMNAS PP KIPI di Jakarta tanggal 5, 7 dan 8 Juni 2005, untuk menghadapi maraknya isu Polio dan upaya pemberantasannya serta kajian beberapa kejadian ikutan pasca imunisasi Polio yang akhir-akhir ini banyak dimuat oleh media massa cetak dan elektronik.

Maka dengan tulus ikhlas dan niat teramat baik kami menyampaikan butir-butir sebagai berikut ;

  1. Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang merupakan investais dasar bagi individu, keluarga, masyarakat, dan negara dalam pembangunan nasional yang telah eksplisit tercantum dalam UUD dan pelbagai peraturan perundang-undangan lainnya. Namun upaya pencegahan Penyakit menular juga merupakan kewajiban utama pemerintah yang dijamin oleh UUD dan peraturan perundang-undangan lainnya sebagai unsur utama dalam melindungi dan mensejahterakan masyarakat di masa kini dan mendatang.
  2. Dalam rangka upaya penyelamatan nyawa rakyat dan ancaman hilangnya generasi bermutu penerus bangsa yang terjangkit Penyakit menular sehingga kondisi fisik, mental dan sosial mereka makin memerlukan uluran tangan bersama pemerintah dan masyarakat, kebijakan pemerintah yang telah melakukan upaya sebagai berikut

    1. Menetapkan kejadian Infeksi virus Polio liar ini sebagai kejadian Luar Biasa (KLB) yang secara klinis ditandai dengan ditemukannya penyakit secara hampir serentak bergejala lumpuh layuh
    2. Melakukan surveillans secara akurat
    3. Bertindak transparan dalam mengungkapkan data secara apa adanya
    4. Melakukan Moppin-up vaksinasi Polio di tiga propinsi ; Jabar, DKI dan Banten
    5. Memberikan penjelasan semaksimal mungkin melalui jalur media massa
    6. Menetapkan tanggal bersama dilakukannya imunisasi Mopping-up Polio
    7. Melakukan persiapan imunisasi missal Mopping-up Polio putaran kedua di tiga propinsi
    8. Melaksanakan imunisasi massal Mopping-up Polio putaran pertama dengan cakupan  Jabar 4.496.333, DKI 923.029, dan Banten 1.096.987 balita
    9. Memantau setiap kejadian KIPI di Puskesmas dan Rumah Sakit rujukan
    10. Melayani semua kasus KIPI secara gratis
    11. Meneliti semua kasus KIPI secara cermat, hati-hati sesuai dengan kondisi dan indikasi mediknya berdasarkan standard pelayanan medik yang berlaku
    12. Mengkaji semua kasus secara serentak sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan, kaidah klarifikasi lapangan yang ditetapkan WHO-PAHO serta kaidah kausalitas yang ditetapkan oleh Institute of medicine (IOM) yang telah diakui oleh dunia
  3. Menerima asupan dari berbagai pihak tentang imunisasi dan KIPI

Maka bersama ini kami menyampaiakan hal-hal sebagai berikut

A. Tentang Klinis Penyakit lumpuh layuh akut dan Polio

  1. Merasa prihatin atas kejadian yang menimpa anak bangsa, namun telah berupaya kuat untuk melakukan tindakan secara bijak sesuai kaidah ilmu pengetahuan dan HAM yang universal
  2. Tidak semua kasus lumpuh layuh akut adalah Polio
  3. Diagnosis Polio harus ditegakkan secara akurat dan merujuk pada pedoman diagnosis Penyakit Poliomyelitis
  4. Sarana dan Ahli untuk menegakkan diagnosis Polio (secara pemerikasaan laboratorium) di Indonesia telah diakui Depkes, Badan POM dan sesuai standard universal dan hasilnya telah dilakukan cross-check oleh pakar independen WHO di Mumbai, India
  5. Jumlah kasus Polio sangat sedikit dibandingkan dengan kasus lumpuh layuh akut
  6. Mendukung semua pernyataan yang dikeluarkan oleh Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia

B. Tentang Imunisasi Polio

  1. Imunisasi Polio merupakan keharusan dalam menghadapi KLB virus Polio Liar
  2. Penunaian perlindungan, penghormatan dan penunaian tugas HAM rakyat Indonesia yang belum/tidak sakit namun sangat mungkin untuk tertular oleh Polio sebagai salah satu Penyakit lumpuh layu akut sangat membahayakan
  3. Tidak ada bahaya apabila imunisasi Polio diberikan berlebih
  4. Imunisasi Polio pada saat KLB harus diberikan dalam satu waktu yang bersamaan karena merupakan golden-standard internasional untuk pemberantasan virus Polio liar hingga tuntas
  5. Imunisasi Polio aman diberikan

C. Tentang vaksin Polio yang dipergunakan dalam imunisasi Polio

  1. Vaksin Bio Farma tetap valid sesuai dengan rekomendasi badan POM mengenai izin edar vaksin
  2. Aman dan terbukti diakui secara internasional, dan telah berhasil menyelamatkan anak bangsa terhadap serangan virus Polio sejak sepuluh tahun yang lalu
  3. Tidak ada upaya menutup-nutupi dari pihak pemerintah dalam upaya melindungi rakyatnya

D. Tentang KIPI

    1. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) merupakan factor risiko yang selalu ada pada setiap tindakan medik imunisasi Polio namun dari pengalaman jumlahnya sangat kecil (1:2-6 juta dosis)
    2. Risiko tersebut telah terantisipasi dengan baik dalam bentuk sosialisasi prosedur penyaringan terhadap kontra indikasi vaksinasi, pelatihan juru imunisasi dan kader, pembuatan standar nasional penanggulangan KIPI, penyiapan Rumah sakit rujukan
    3. Telah dilakukan audit multidisipliner KIPI terhadap 18 kasus oleh KOMDA PP KIPI Jabar yang diverivikasi oleh KOMNAS PP KIPI dengan hasil sesuai dengan klasifikasi lapangan semua kasus terjadi secara ko-insidental yakni pada saat diimunisasi kasus tersebut diduga telah menderita Penyakit lain dan bukan karena imunisasi Polio atau vaksin Polio

Dari kajian tersebut, maka KOMNAS PP KIPI merekomendasikan hasil sebagai berikut :

    1. Bahwa KIPI yang terjadi pasca Imunisasi Mopping-up Polio putaran pertama bukan karena imunisasi, namun disebabkan akibat lain yang tidak berhubungan dengan pelaksanaan imunisasi Polio atau vaksin Polio
    2. Bahwa imunisasi Mopping-up Polio putaran kedua tanggal 28 Juni 2005 dapat tetap dilaksanakan
    3. Bahwa mis-komunikasi antara pelaksana dengan masyarakat yang diduga mengalami KIPI harus diselesaikan secara arif dan bijak

Jakarta 20 Juni 2005

Ketua KOMNAS PP KIPI

Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S Hadinegoro Sp.A (K)

Kecelakaan Imunisasi,Kasus Azka Dilimpahkan ke LHB Anak

http://harian-aceh.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2397&Itemid=27

Kecelakaan Imunisasi,Kasus Azka Dilimpahkan ke LHB Anak

Senin, 31 Maret 2008
Banda Aceh | Harian Aceh—Kasus kecelakaan imunisasi pada diri bayi usia 45 hari, Muhammad Azka, berbuntut panjang. Orang tua korban akan menuntut dinas kesehatan ke lembaga hukum. Kini keluarga telah menyerahkan masalah ini ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak. Hanya saja, dinas kesehatan menyimpulkan koma yang dialami Azka bukan karena imunisasi.“Persoalan ini sudah diserahkan kepada kami,” kata Ayu, salah seorang staf LBH Anak yang dihubungi oleh Harian Aceh, kemarin.

Keluarga Azak kecewa karena analisis para dokter tersebut belum tepat dengan masih mengunakan kata-kata “kemungkinan” dan “kebetulan”. Dokter juga dianggap belum mampu memastikan penyebab pendarahan otak pada Azka serta pecahnya pembuluh kepala Azka setelah imunisasi. Kasus Azka kini telah dilimpahkan kepada LHB Anak.

“Kita kecewa karena hasil analisis Komisi Daerah Pengkajian Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komda PP-KIPI) tidak memberikan penjelasan yang tepat kepada keluarga. Atas dasar ini, kasus Azka kita serahkan pada LHB Anak untuk diselesaikan,” kata salah seorang keluarga.

Ayu mengatakan keluarga menyerahkan persoalan Azka kepada LBH. “Saat ini kita sedang melakukan investigasi lebih dalam terhadap kasus ini dan ada satu dua temuan baru namun belum dapat kita publikasikasi,” katanya.

Dia menyatakan LBH anak kecewa terhadap tim Komda PP-KIPI saat temu pers karena tidak mengizinkan LHB sebagai penanggungjawab persoalan yang mewakili keluarga.

Selain itu, Sekretaris Asosiasi Peduli Ibu dan Anak (ASPIA) Aceh Besar, Yuni, menyatakan persoalan Azka hingga kini belum mencapai titik terang biarpun sudah ada analisis dari KOMDA PP-KIPI. Masih rancu karena mereka masih berbicara penyebabnya secara kemungkinan. Sedangkan penyebab pendarahan Azka dianggap tetap masih kabur.

“Azka yang mulanya sehat disuntik sebanyak dua kali menurut keluarga dan kemudian menderita sakit serta koma. Ini sebenarnya yang harus dipertanyakan,” katanya.

Keluarga tidak membawa Azka ke dokter untuk disuntik USG tapi dokter yang datang ke rumah dan kemudian Azka koma. ”Menyangkut permasalahan ini kita meminta diagnosa penuh  dan bukan statemen ’mungkin’ serta ’kebeturan,” kata Yuni.

Kata Yuni lagi, kasus kecelakaan imunisasi seperti Azka baru pertama kalinya terjadi di Aceh yang terpublikasi. Dirinya khawatir kalau kasus ini dibiarkan maka akan banyak bayi-bayi lain yang menderita di kemudian hari. Dia juga meminta persoalan ini tidak bisa didiamkan. Dinas Kesehatan Aceh Besar dinilai sebagai lembaga yang harus bertanggung jawab penuh mengenai permasalahan ini dan bukan cuma berbicara masalah biaya,” tegasnya.

Sementara itu, Nurmala, ibu korban juga menambahkan jika persoalan Azka tidak terselesaikan tuntas dan Dinas Kesehatan Aceh Besar masih lepas tangan terhadap persoalan ini, akan menuntut secara hukum. “Jika persoalan ini tidak segera terselesaikan maka kita akan menempuh jalur hukum,” ucap Nurmala saat itu.

Dia mengatakan dokter Sulaiman, dokter keluarga yang selama ini menangani permasalahan Azka meminta kepadanya untuk memindahkan Azka ke Rumah Sakit Umum Zainun Abidin. Tapi, katanya, keluarga akan tetap mempertahankan Azka di Rumah Sakit Harapan Bunda. “Kita tetap minta di rumah sakit ini karena takut kalau Azka yang masih bayi ditanggani banyak dokter dapat berbahaya,” jelas Nurmala.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar, Erni Ramayani menyimpulkan, koma  yang dialami Azka dari Leupueng Mesjid, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, bukan karena suntikan vaksin imunisasi Bacillius Calmette Guerin (BCG).

Pernyataan dr. Erni tersebut dikeluarkan Komite Daerah Pengkajian Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KOMDA PP-KIPI), dalam jumpa pers Sabtu (29/3) di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Dalam jumpa pers tersebut juga dihadiri, dr. Iskandar, SpBS, dr Nurjannah, SpA, Naini Fajar, Kepala Puskesmas Kuta Baro, Mardiah, SkM (Kasubdin P2P) dan Idhwar, MKes, Sekretaris KOMDA.

Menurut Erni, berdasarkan hasil rapat tim medis pada Selasa (25/8) di RSUZA Banda Aceh, yang terdiri dari Tim Ahli Perinatologi Anak, Hematologi Anak, Pathologi Klinik, Ahli Bedah Syaraf, Ahli Radiologi, Ahli Forensik dan hasil paparan pemeriksaan klinis terhadap pasien koma paska imunisasi BCG, Muhammad Azka koma secara kebetulan karena pendarahan otak.

Ketua KOMDA PP-KIPI Aceh, dr Nurjannah, SpA menjelaskan, kasus Azka dipastikan bukan karena kesalahan imunisasi, melainkan lebih dikarenakan adanya kemungkinan gangguan Hemolitik (pecah pembuluh darah) yang terjadi pada pasien. Hal tersebut dikuatkan oleh dr. Iskandar, SpBS dan beberapa tim ahli lainnya.

“Tapi masih diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap faktor pembekuan darah. Antara lain faktor VIII dan IX, PTT (Partial Thromboplastin Time Test), APTT (Activated Partial Thromboplastin Time Test) dan Comb Test,” ujar Nurjannah.

Lebih lanjut Nurjannah menerangkan, kemungkinan besar gejala dari imunisasi BCG itu sendiri hanya berupa reaksi lokal berupa pembengkakan dan kemerahan di lokasi tempat penyuntikan.

“Sedangkan gejala lainnya diikuti timbulnya jaringan parut pada proses penyembuhannya. Selain itu, gejala-gejala vaksinasi BCG juga mengakibatkan terinfeksinya kelenjar Limfe (Lymphadenitis suppuratif), Infeksi pada tulang khususnya pada kekebalan tubuh yang rendah. Namun itu jarang terjadi,” ungkap Nurjannah.

Menurut dia, alat penguji faktor-faktor untuk mengetahui penyebab pendarahan itu tidak tersedia di rumah sakit di Aceh. Alat tersebut hanya ada di kota-kota besar, seperti Medan dan Bandung.

Hal senada juga dikatakan dr Iskandar, SpBS (ahli bedah syaraf). Munurut dia, belum pernah terjadi kasus koma setelah peyuntikan vaksin BCG. Kemungkinan yang terjadi pada pasien tersebut ganguan fungsi otak, seperti Hydrocepallus. “Namun itu juga belum bisa dipastikan. Untuk sekarang, pasien tersebut dalam pengawasan, jika ada sesuatu yang mengkhawatirkan, dokter akan mengambil tindakan operasi,” kata Iskandar.

Ketika ditanya kondisi Azka pra imunisasi, Kepala Puskesmas Kuta Baro, Naini Fajar mengatakan, sebelumnya, kesehatan bayi tersebut sudah diperiksa ketika hendak dilakukan imunisasi. “Bayi tersebut sudah kita periksa kondisi kesehatannya ketika hendak melakukan imunisasi BCG. Tapi kejadian tersebut terjadi secara kebetulan setelah imunisasi,” ungkap Naini.

Namun, keterangan pihak medis tersebut, tidak dihadiri pihak keluarga korban dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak, selaku kuasa hukum keluarga tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, tim medis belum mengetahui pasti penyebab pendarahan otak pada pasien. Meskipun begitu, mereka mengatakan, akan terus membantu Azka sampai sembuh. Akan tetapi, untuk biaya pengobatan selama perawatan di Rumah Sakit, mereka tidak menanggungnya.

Staf Dinas Kesehatan Aceh, Idhwar MKes mengatakan, pemerintah tidak menyediakan biaya khusus untuk kasus tersebut. “Namun jika dirujuk ke RSUZA, kemungkinan ada bantuannya,” ujar Idwar. Diiyakan Kadis Kesehatan Aceh Besar, Erni Ramayani.

Sementara itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak yang diwakili Marianty, terlihat duduk di luar ruangan, karena tidak diijinkan mengikuti pertemuan tersebut. Menurutnya, KOMDA tidak mengizinkan LBH Anak ikut jumpa pers tersebut. “Keluarga sudah mempercayakan kami untuk membantu menangani kasus ini. Tapi sayangnya kita tidak diijinkan masuk pihak dokter tersebut,” ungkap Marianty.

Menurut keterangan Nurjannah, pihak LBH Anak tidak diizinkan mengikuti pertemuan dengan wartawan dalam konfrensi pers tersebut supaya pernyataan yang diberikan untuk wartawan tidak membias nantinya.

“Kita meminta mereka agar tidak bicara dulu. Kita akan bicara dengan pihak LBH, setelah konferensi pers,” jawab Nurjannah, sembari menutup pembicaraannya.

Sebelumnya diberitakan, M Azka, bayi berusia satu bulan yang diduga korban salah suntik imunisasi BCG oleh tenaga medis di Puskesmas Kuta Baro, Aceh Besar hingga, Kamis (20/3) masih dirawat intensif di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) Rumah Sakit Harapan Bunda, Banda Aceh.

Sementara keluarga korban meminta pihak Dinas Kesehatan Aceh Besar memberikan pembuktian secara medis, tentang benar atau tidaknya penyakit bayi itu disebabkan infeksi jarum suntik saat imunisasi.

Ibu korban, Nurmala mengatakan, kasus itu berawal dari imunisasi yang dilakukan pihak Puskesmas Kuta Baro, Aceh Besar. Kata dia, pada 31 Maret 2008, sekitar pukul 10.00 WIB, rumahnya didatangi tiga tenaga medis dari Puskesmas Kuta Baro. Mereka menawarkan imunisasi kepada bayi yang baru dilahirkan sebulan lalu itu.

Menurut Nurmala, sekitar setengah jam kemudian, pada tangan sebelah kanan bekas imunisasi itu mengelurkan darah tak henti-hentinya. Ia panik, Nurmala kemudian memanggil perawat yang datang ke rumahnya, melalui sepupunya. Sekitar pukul 17.00 WIB atau selang waktu tujuh jam, tenaga medis itu datang. “Perawat itu terkejut melihat kondisi bayi saya. Namun, ia tidak menyarankan apa-apa,“ sebut Nurmala.

Melihat kondisi bayi kian parah disertai kejang-kejang, keesokan harinya Nurmala membawa bayinya ke dokter spesialis. “Setelah didiagnosa, ternyata bayi saya harus segera diopname,” tambahnya.

Nurmala sangat menyesalkan pernyataan pihak Dinas Kesehatan Aceh Besar, yang mengatakan bayinya bukan kesalahan suntik imunisasi BCG. “Kami turut prihatin atas musibah ini. Namun, itu bukan kesalahan suntikan imunisasi,” kata Nurmala, menirukan ucapan Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, saat itu.

Menyangkut pernyataan itu, Nurmala bisa menerimanya asalkan disertai bukti medis yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. “Jika tidak, kami akan menempuh jalur hukum,” tegas ibu tiga anak ini.(mrd/jun)

Menkes: Tidak Takut Ancaman Barat, Tetap Tuntut Keadilan WHO

http://www.eramuslim.com/berita/nas/8316163615-menkes-tidak-takut-ancaman-barat-tetap-tuntut-keadilan-who.htm

Menkes: Tidak Takut Ancaman Barat, Tetap Tuntut Keadilan WHO

Minggu, 16 Mar 08 20:59 WIB

Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari menegaskan, tetap menuntut keadilan dan kesetaraan terkait mekanisme sistem virus sharing avian influenza (AI) yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan dunia Barat.Karena itu, pihaknya mengaku tidak takut dengan segala ancaman dan tekanan dunia Barat terkait isi bukunya, Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung yang menjadi kontroversi di dunia.

”Saya dibilang manusia nomor dua paling kejam dan brengsek setelah Ahmadinejad. Tapi tidak apa-apa, ”kata Siti saat bedah buku dan penandatanganan bukunya di Plaza Senayan, Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, buku perdana yang ditulisnya itu menjadi pembicaraan dunia lantaran disebutkan bahwa sampel virus flu burung dari Indonesia dijadikan senjata biologis oleh pemerintah Amerika Serikat AS dan WHO.

Sejak saat itu, Siti berhasil memperjuangkan mekanisme sistem virus sharing yang adil, transparan, dan setara. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. ”Padahal, mereka belum baca buku saya seutuhnya, tetapi sudah menuduh seperti itu, ”tuturnya.

Perjuangan Negara Dunia Ketiga

Menurut Menkes, apabila semua orang sudah membaca keseluruhan isi buku yang dalam versi Inggris berjudul It’s Time for the World to Change tersebut, pasti akan makin sayang padanya. Ahli jantung ini mengatakan, hanya ingin menginformasikan kenyataan apa saja yang terjadi di masyarakat. ”Buku saya ini bukan fiksi atau imajinasi saya, tetapi kenyataan seperti buku harian hidup saya, ” tegasnya.

Siti Fadilah Supari mengungkapkan, saat ini sistem ekonomi dunia telah berubah menjadi politik hegemoni, di mana negara-negara maju dapat dengan mudahnya menindas negaranegara dunia ketiga.

Namun, Ia merasa ada hikmah besar di balik semua kejadian yang menimpanya belakangan ini. ”Mungkin kalau ingin jadi tokoh besar atau selebriti harus begitu. Siap dipuja dan dibenci, ”imbuhnya.

Sementara itu, peneliti Departemen Pertahanan Isro Samiharjo mengatakan, bahwa pihaknya akan tetap waspada terhadap ancaman virus biologi yang mengancam Indonesia.

Isro mengakui bahwa Menkes RI adalah wanita hebat yang berhasil memperjuangkan kepentingan masyarakat dunia ketiga. ”Di negara maju memang standar ganda seperti itu masih terus berlangsung, ” ujarnya. (novel/siol)

Buku Siti Fadilah Supari : Menguak Konspirasi Jahat AS

Buku Siti Fadilah Supari : Menguak Konspirasi Jahat AS
Oleh : Redaksi 13 Mar 2008 – 3:30 pm

imageMenteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).

Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. (watch the US crime on WWII )

Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.

“Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.

Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya,” ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.

“Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar,” katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.

“Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan.

Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.

“Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

Mengubah Kebijakan
Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005.

Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi,” tulis The Economist.

The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.

Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.

Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.

Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.

Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.

Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan. (tribun-timur)

Tujuh Balita Alami Gejala Lumpuh setelah Imunisasi Polio

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/22/jab08.html

Tujuh Balita Alami Gejala Lumpuh setelah Imunisasi Polio

Bogor, Sinar Harapan
Jumlah balita (bawah lima tahun) yang dirujuk ke rumah sakit setelah menerima imunisasi polio tampaknya terus bertambah. Kali ini tujuh balita asal Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, dirujuk pihak puskesmas setempat ke RSU PMI Bogor karena menderita panas, kejang-kejang dan gejala lumpuh layuh.
Namun hingga Selasa (21/6) malam, hanya dua balita yang masih tetap dirawat. Lima lainnya dipaksa pulang oleh orang tuanya dengan alasan tidak jelas. Kondisi dua anak yang dirawat itu kini berangsur-angsur pulih.
Humas RSU PMI Bogor Andi Mukti, ketika dikonfirmasikan SH membenarkan pihaknya mendapat rujukan tujuh balita yang menderita panas, kejang-kejang dan gejala lumpuh layuh dari Puskesmas Caringin. Tapi hanya dua orang yang dirawat. Sedangkan lima korban, antara lain Fuji (3), Nur’aini (3), Febrianti (1,3) dan Rosita (3) dibawa pulang oleh keluarganya.
”Kita sudah meminta agar bayi-bayi itu dirawat karena kondisinya cukup serius. Tapi orang tuanya tidak mau dan mereka membawa anaknya pulang ke rumah. Saya tidak tahu apa alasannya,’’ ujar Andi.

Panas Tinggi
Menurut Ny Baidah (31), ibu kandung Nur Azizah, gejala lumpuh layuh yang menimpa anaknya berawal dari imunisasi polio yang dilaksanakan 31 Mei 2005. Balita malang ini mengalami panas yang cukup tinggi setelah mendapatkan tetesan imunisasi polio.
Tidak hanya sebatas panas, tapi Nur Azizah juga menderita kejang-kejang. Seiring dengan badan panas serta kejang-kejang, putri bungsu anak pasangan Ny Bedah dengan H Soleh (48) ini tidak bisa duduk dan tidak mampu berjalan.
”Sebelum menderita panas dan kejang-kejang, anak saya cukup lincah dan bisa duduk maupun jalan. Sekarang Nur hanya tergolek lemas. Bahkan sudah seminggu ini tidak nangis sama sekali,’’jelasnya
Nasib serupa juga menimpa Alfi. Bocah ini menderita gejala lumpuh layuh beberapa hari setelah mendapatkan imunisasi polio. Sebelum mengalami gejala lumpuh, Alfi menderita panas badan dan kejang-kejang.
Kabag Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, HM Sjahuri ketika dikonfirmasi, Selasa (21/6) siang mengatakan, kasus yang menimpa balita asal Kecamatan Caringin itu sedang dalam penelitian. Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) sedang mengambil sampel darah dan urin serta kotoran bayi tersebut untuk dikirim ke Laboratorium Bio Farma di Bandung.
Mengenai biaya perobatan balita itu, HM Sjahuri mengatakan akan menjadi tanggungan pemerintah setempat. Untuk itu, ia meminta para orang tua tidak memaksakan anaknya pulang dari rumah sakit jika kondisinya belum pulih. (gin)

Kisah Bayi-Bayi Mati usai Diimunisasi – Dari tabloid nurani

http://www.tabloidnurani.com/RUBRIK/336/kisah.html

Kisah Bayi-Bayi Mati usai Diimunisasi

Haruskah imunisasi justru berakibat kematian bayi? Pertanyaan itu kembali muncul usai kabar kematian Zahrodin dan Elva Yunita. Benarkah itu reaksi obat usai imunisasi atau ada kesalahan bidan? Berikut liputannya.

TAK banyak yang dikatakan Jumirah (33), warga Dusun Ngipik, Desa Candi, Ambarawa, Kabupaten Semarang ini. Istri Ahmad Said (38) ini masih larut dalam duka yang amat dalam. Semua itu karena anak ketiganya Zahrodin (9 bulan) meninggal dunia setelah disuntik imunisasi di Puskesmas Pembantu Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Ketika ditemui NURANi, Sabtu (09/06), wajah Jumirah masih terlihat pucat dengan mata yang berkaca-kaca menandakan ia habis menangis.

“Kami sangat kehilangan anak kami yang lucu, Mas,” paparnya sedih. Diceritakannya, Jumat (25/05) Jumirah membawa bayinya beserta beberapa tetangganya yang memiliki bayi datang berbondong-bondong ke  Puskesmas Pembantu Candi untuk mendapatkan imunisasi gratis. Pada saat itu Zahrodin akan diimunisasi campak. Semula keadaan berlangsur lancar, namun setibanya di rumah, suhu badan Zahrodin panas, badannya lemah, serta mengeluarkan keringat dingin. Melihat gejala kurang baik itu, Zahrodin diberi minum obat pemberian bidan puskesmas.

“Karena badannya (Zahrodin, red) panas, saya beri minum obat pemberian bidan puskesmas, tetapi kondisinya semakin lemah,” katanya.

Keesokan harinya suhu badan Zahrodin tidak kunjung menurun. Jumirah pun membawa anaknya ke Rumah Sakit Ambarawa. Dua hari lamanya Zahrodin menjalani perawatan di rumah sakit tersebut sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Kariadi Semarang. Sekitar satu minggu Zahrodin menjalani perawatan tetapi akhirnya, Minggu (03/06) sekitar pukul 20.00 Wib Zahrodin meninggal dunia.

“Akhirnya nyawa anak saya tak tertolong lagi,” kata Jumirah sedih.    Menurut Jumirah, setelah diimunisasi, anaknya diberi obat oleh bidan puskesmas sebanyak empat tablet.

“Tiga di antaranya sudah diminum anak saya, satu tablet lainnya diambil dokter atau tim kesehatan,” katanya.

Kepergian Zahrodin juga menyisakan duka bagi Zaini (35), pamannya. Zaini merasa sangat kehilangan kepergian kemenakannya. Sebelum kejadian nahas itu terjadi, Zaini sempat bernadar akan menggelar syukuran kecil-kecilan jika keponakannya itu sudah bisa berjalan. Namun belum terwujud cita-cita Zaini menyaksikan keponakannya berjalan, Allah telah mengambil dia untuk selamanya.
“Rencananya saya akan memfoto keponakan saya saat dia sudah bisa jalan, namun siapa sangka semua berakhir seperti ini,” ratapnya sedih.

KEJANG-KEJANG
Duka serupa juga dirasakan orangtua Elva Yunita (3 bulan), Suyamto (40) dan Jamiah (37). Ketika NURANi menyempatkan diri bertakziah di rumahnya di Dusun Kalibendo, Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Suyamto terlihat duduk termenung di sudut ruangan. Pandangannya kosong seolah menanggung beban yang teramat berat.

Setelah menghela napas panjang, Suyamto menceritakan, Jumat (25/05) lalu, Elva, sapaan untuk anaknya, mengikuti program imunisasi Depteri Pestulis Titanus (DPT) di Puskesmas Pembantu Candi. Di sana dia diimunisasi oleh bidan setempat berupa Depteri Pestulis Titanus (DPT).

Sama kejadiannya dengan Zahrodin, setelah disuntik imunisasi, suhu tubuh Elva juga panas. Kemudian oleh ibunya diberi minum obat pemberian dari bidan. Namun setelah diminumkan justru kondisinya melemah, bahkan malam harinya tubuh Elva sempat mengalami kejang-kejang.

Esok harinya, Elva dilarikan ke RS Ambarawa dan sempat menginap selama 3 hari. Karena tak kunjung membaik, Elva akhirnya dirujuk ke RS Kariadi dan sempat menjalani opname selama sepekan hingga jiwanya tidak tertolong, Senin pagi (04/06) sekitar pukul 09.30 Wib.

“Kami masih terpukul dengan kejadian ini Mas,” ungkap Suyamto.

Di tempat yang sama, Ahmad Zaini, Adik kandung Suyamto menolak untuk memperpanjang kasus ini. Ketika disinggung apakah ada maksud untuk mengadukan masalah ini ke pihak berwajib, Ahmad Zaini menggelengkan kepalanya.

DISELIDIKI
Terkait dengan kasus itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, dr Sulthoni MKes membantah bahwa meninggalnya dua balita itu bukan karena imunisasi. “Sekarang sudah ditangani tim kesehatan dari Pemprov Jateng dan Kabupaten Semarang. Kasus ini baru dalam penyelidikan tim kesehatan untuk mengetahui penyebab kematian dua balita tersebut,” kilahnya.

Lantas, apa yang menyebabkan dua balita itu mengalami kejang-kejang dan panas-dingin setelah imunisasi? Kata Sulthoni, sudah wajar setelah imunisasi seorang balita akan mengalami demam dan panas. Itu akibat reaksi obat imunisasi yang dimasukkan dalam tubuh si bayi. Obat itu akan membentuk sistem kekebalan dalam tubuh biar si bayi tidak mudah kena penyakit.  Dr Sulthoni menambahkan, pihaknya telah memeriksa vaksin maupun obat penurun panas yang diberikan kepada kedua balita.

“Tim sudah terjun untuk memeriksa vaksin dan obat yang diberikan. Saat ini vaksin dan obat sudah dibawa ke lab,” tegasnya.

Dia menyebutkan, kasus kematian balita pascaimunisasi tersebut merupakan yang kali pertama terjadi di Kabupaten Semarang. Sulthoni mengimbau agar masyarakat tidak resah dengan kejadian tersebut. Karena faktor penyebabnya bukan karena kesalahan vaksin maupun obat yang diberikan pascaimunisasi.

“Imunisasi sudah menyelamatkan berjuta-juta masyarakat Indonesia, jadi dengan adanya kejadian ini masyarakat tidak perlu takut,” tambahnya. Tapi pertanyaannya, mengapa tim dokter tidak bisa memberikan pertolongan untuk kedua bayi itu? Tentu harus ada jawaban yang benar dan menjawab kehawatiran ibu-ibu yang lain. 05/yun

Pascaimunisasi Dua Balita Meninggal

http://www.antara.co.id/arc/2007/6/7/pascaimunisasi-dua-balita-meninggal/

07/06/07 17:39
Pascaimunisasi Dua Balita Meninggal

Ungaran (ANTARA) – Dua balita asal Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jateng, diketahui meninggal dunia setelah mendapatkan imunisasi dan minum obat dari Puskesmas Pembantu Desa tersebut.

Kedua balita tersebut, Elva Yunita (tiga bulan) dan Zahrodin (sembilan bulan), mereka gejalanya hampir sama setelah diberi imunisasi kemudian badannya panas dan diberi minum obat dari bidan puskesmas justru badanya menjadi lemas kemudian dilarikan ke RS Ambarawa.

Ahmad Zaini, paman Elva warga Dusun Kalibendo, Desa Candi Kecamatan Bandungan, ketika ditemui di Desa Candi, Kamis, mengatakan, Elva Yunita anak pasangan Suyamto (40) dan Jamiah (38) meninggal di RS Kariadi, Senin (4/6) setelah menjalani perawatan tujuh hari dan rujukan dari RS Ambarawa.

Ahmad menjelaskan, Elva Yunita diimunisasi Depteri Pestulis Titanus (DPT) di Puskesmas Pembantu Di Desa Candi, Jumat (25/5), kemudian dampaknya badannya panas dan setelah diberi minum obat dari bidan justru kondisinya melemah.

Elva, lanjut Ahmad, kemudian dibawa ke RS Ambarawa dan sempat menginap hingga tiga hari. Elva dirujuk ke RS Kariadi sempat opname hingga sepekan hingga jiwanya tidak tertolong Senin pagi (4/6).

Ibunya Elva hingga sekarang masih stres tidak mau bicara atas kejadian itu,” katanya.

Pihak Dinas Kesehatan kemudian menemui keluarga Suyamto untuk mengurus surat keluarga miskin (gaskin) agar dibebaskan dari biaya selama perawatan di RS, kata Ahmad.

“Kami sebetulnya tidak setuju kalau keluarga adiknya tersebut dianggap keluarga miskin,” kata Ahmad.

Sementara korban lain, Zahrodin anak pasangan Ahmad Said (38) dan Jumirah (33) warga Dusun Ngipik, Desa Candi, kejadiannya hampir sama denga Elva Yunita. Namun, Zahrodin hanya sempat kejang-kejang setelah imunisasi campak dan diberi minum obat dari bidan puskesmas yang sama.

Jumirah, orang tua Zahrodin, mengatakan, anaknya setelah diberi imunisasi campak kemudian badannya lemah, panas, dan keluar keringat dingin. “Karena badannya panas terus saya beri minum obat pemberian bidan puskesmas, tetapi kondisinya semakin lemah,” katanya.(*)

Kasus Polio, Boikot Immunisasi dan Bias Media Cetak

http://www.geografiana.com/nasional/kesehatan/kasus-polio-boikot-immunisasi-3

Kasus Polio, Boikot Immunisasi dan Bias Media Cetak
Selasa, 10 Mei 2005

Buana Katulistiwa- Reaksi pejabat dan masyarakat di dalam dan luar negeri ternyata begitu luar biasa ketika dua kasus (spesimen virus) polio dikabarkan positif terjadi di Desa Girijaya, Sukabumi, Jawa Barat. Dari pejabat PBB dengan lembaga WHO, Amerika Serikat (AS), China, dan beberapa negara lainnya, hingga pers dalam dan luar negeri tiba-tiba begitu tertarik. Ada apa?

Merebaknya kasus ini, menurut sumber di Depkes RI, berawal dari adanya laporan yang menyebut adanya virus polio liar ditemukan di Kabupaten Sukabumi, dengan berdasarkan identifikasi awal adanya kasus lumpuh layu yang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan.

Laporan ini kemudian direspon oleh Depkes dengan menurunkan tim bersama-sama dengan WHO pada 24-27 April 2005 ke kabupaten ini, termasuk ke 17 kabupaten/kota di Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Selain memantau, mereka juga memberikan imunisasi polio massal pada anak-anak balita di lokasi. Langkah-langkah ini, sesuai dengan standar yang ditetapkan WHO.

Nah, dari pemantauan inilah, tim menemukan enam kasus lumpuh layu lain di desa tersebut. Setiap kasus telah diambil spesimen yang diperlukan untuk konfirmasi laboratorium. Dari hasil investigasi tersebut diidentifikasi adanya virus polio liar yang diikuti dengan penyebaran setempat.

Untuk memastikan, spesimen virus dirujuk ke laboratorium polio rujukan internasional di Mumbai, India, sekaligus untuk dapat mengetahui jenis dan asal virus. Untuk penelitian lebih jauh, konon virus juga dikirimkan ke laboratorium di Atlanta, AS.

Lalu pada 2 Mei 2005, laboratorium Mumbai, mengkonfirmasikan bahwa adanya polio virus liar (wild poliovirus type 1) dari acute flaccid paralysis (AFP), dari satu anak perempuan berusia 18 bulan, yang belum pernah diimmunisasi polio. Kemudian pada 4 Mei 2005, dipastikan lagi virus yang sama mengidap seorang bocah perempuan berumur 20 bulan dari lokasi yang sama.

Yang menarik, hasil laboratorium itu, sebagaimana disampaikan oleh Kepala Komunikasi Menteri Kesehatan Fahmi Achmadi, Rabu (4/5), virus itu berasal dari Afrika. Analisa lebih lanjut juga menyatakan bahwa virus itu menempuh perjalanan ke Indonesia melalui Sudan dan serupa dengan virus yang baru-baru ini ditemukan di Arab Saudi dan Yaman.

“Proses globalisasi menghasilkan banyak pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain, dan beberapa diantaranya membawa penyakit menular,” ujar Fahmi Achmadi.

Media massa kemudian ramai-ramai memberitakannya. Mulai dari CNN, BBC, Washington Post, Washington Times, dan lainnya yang mengutip Associated Press(AP) atau sumber lain, termasuk media di dalam negeri yang menempatkannya pada halaman pertama. Dari pantauan Buana Katulistiwa, beberapa media lebih menyenangi konteks Afrika dan Timur Tengah yang disebut-sebut sebagai asal virus ini, tanpa diketahui interpretasi seperti apa yang dikehendaki para pembaca.

Tampak lebih ekstrim, misalnya, apa yang ditulis oleh AP yang mewawancarai Fahmi Achmadi. Kantor berita ini menulis otoritas (kesehatan RI), mengatakan bahwa secara genetis, asal penyakit itu adalah salah satu tempat di Nigeria, dimana bibit penyakit ini menyebar dengan cepat setelah kelompok Muslim di sana memboikot vaksin tersebut pada tahun 2003 akibat rumors yang sempat beredar bahwa vaksin itu adalah bagian dari rencana Amerika Serikat untuk membuat mereka tidak subur (tidak dapat memiliki keturunan) atau sengaja untuk menularkan AIDS kepada mereka.

Masih menurut berita AP- dengan menyebut sumber expert says (pendapat ahli -Red)- dari Afrika bibit penyakit ini singgah di Timur Tengah. Pekerja migran dari Indonesia di sana kemungkinan terkontaminasi sebelum kembali ke Indonesia.

Dikutip pula pernyataan pejabat medis WHO untuk immunisasi, Bardan Rana, mengatakan bahwa kasus virus polio liar di Sukabumi itu, 99 persen kemungkinannya berasal dari Arab Saudi. Virus telah dibawa oleh orang Indonesia yang terakhir ini ke Jawa Barat. Arab Saudi, begitu AP, adalah tujuan umum bagi orang-orang Indonesia yang melakukan perjalanan dalam jumlah besar untuk bekerja atau untuk melaksanakan ibadah haji, yang kemungkinan paling akhir dilakukan pada Januari.

“Ada banyak hubungan dengan orang yang datang maupun yang pergi,” kata Rana. Dan dia menekankan, bahwa virus mungkin telah menyebar dari Arab Saudi ke negara lain sebelum dia singgah ke Indonesia.

Berita itu nyaris menenggelamkan apa pernyataan Achmadi yang mengatakan, “Saya sangat yakin bahwa tidak akan ada masalah dalam mencegah penyakit ini.”

Yang tak kalah menarik, China yang pernah diserang SARS dan Flu Burung, juga ambil posisi cepat untuk mengontak Indonesia, untuk mengetahui seperti apa kasus polio yang tiba-tiba menjadi “buah bibir” dunia itu.

Setelah 10 tahun

Sebelum ini, Menkes Dr dr. Siti Fadilah Supari, SpJP mengatakan bahwa virus polio liar tidak pernah lagi ditemukan di Indonesia sejak tahun 1995. Hal ini berarti sudah ada sepuluh tahun rentang waktu kasus ini kembali muncul.

Namun demikian untuk menghapus virus polio liar dari Indonesia, Departemen Kesehatan telah menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada tahun 1995, 1996, 1997, dan di sebagian wilayah Indonesia pada tahun 2000 dan 2001. PIN Polio kembali dilaksanakan pada tahun 2002 untuk mempertahankan tingkat kekebalan anak terhadap ancaman virus polio liar. Setiap tahun, sekitar 90 persen bayi di Indonesia mendapatkan imunisasi polio rutin.

Untuk memastikan masih ada atau tidaknya virus polio liar serta deteksi dini masuknya virus polio liar dari negara lain dilakukan sistem pemantauan lumpuh layu terhadap anak dibawah usia 15 tahun yang sesuai dengan standar WHO. Sistem pemantauan ini berdasarkan penilaian pakar internasional pada tahun 2003 menunjukkan kualitas yang memadai untuk mendeteksi adanya penyebaran virus polio liar di Indonesia.

Mengantisipasi kasus yang terjadi di Sukabumi ini, Pemerintah Indonesia sendiri telah merencanakan untuk melakukan immunisasi terhadap 5,2 juta anak berusia di bawah lima tahun di Provinsi Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.

WHO sendiri telah mencanangkan tahun 2008 sebagai tahun bebas polio di seluruh dunia. WHO bahkan telah menunjuk perusahaan PT Bio Farma sebagai penyedia vaksin polio injeksi, bukan hanya bagi konsumsi Indonesia, tapi di berbagai negara, sebagaimana pernah diakui oleh Dirut Bio Farma Marzuki Abdullah.

Negara endemik polio

Di seluruh dunia, masih terdapat 6 negara endemis polio yaitu India, Sudan, Nigeria, Afghanistan, Mesir dan Pakistan. Tetapi pada tahun 2004 dan awal tahun 2005, beberapa negara yang sudah bebas polio seperti Chad dan Yaman terserang kembali oleh virus polio liar yang berasal dari negara yang masih endemis polio. Termasuk, apa yang dikatakan pejabat WHO tadi, Arab Saudi.

Sementara untuk daerah-daerah lain di Indonesia, berdasarkan pantauan Buana Katulistiwa, belum ada laporan yang mengabarkan adanya kasus viruspolio liar seperti yang ditemukan di Jawa Barat.

Menurut data WHO, upaya pemberantasan polio global, (yang diprakarsai oleh The Global Polio Eradication Initiative yang diluncurkan tahun 1988) telah mampu mengurangi banyaknya kasus penyakit lumpuh dari 350,000 tiap-tiap tahun pada tahun 1988 menjadi 1,267 kasus pada tahun 2004.

Pada tahun 2005 ini, kasus polio yang tercatat per 4 Mei 2005 adalah: Nigeria 54 kasus (endemik), Sudan 24 kasus (re-established transmission), Yaman 22 kasus (impor), India 14 kasus (endemik), Pakistan 6 kasus (impor), Indonesia 2 kasus (impor), Ethiopia 1 kasus (impor), Kamerun 1 kasus (impor), Nigeria 1 kasus (endemik).

Menurut petinggi WHO, boikot atas immunisasi polio telah menyebabkan terjangkitnya penyakit menyebar seluruh benua, yang menyebabkan anak-anak mengalami penderitaan di berbagai negara yang tadinya sudah bebas polio.

Nah, bagaimanakah harus menyikapinya? Terserah kepada Anda. (da/bj)

Wawancara Dengan MUI: VAKSIN HARAM TAPI BOLEH KARENA DARURAT

Berikut cuplikan wawancara antara Hidayatullah dan KH Ma’ruf AMin selaku Ketua Komisi Fatwa MUI (halaman 23)

H: apa benar vaksin yang diedarkan tahun lalu terdapat unsur haram? M: vaksin yang dipakai untuk imunisasi polio tahun lalu memang terdapat unsur haram (karena mengandung porcine/tripsin babi)

H: lalu, tanggapan MUI saat itu?

M: kalau (bahan babi itu) memang ada penggantinya, kita tidak akan izinkan. tapi menurut Dep Kes (pengganti itu) tidak ada. yang ada hanya bahan itu. apabila yang sepenuhnya halal tidak ada, tidak ada alternatif, padahal polio itu sangat berbahaya dan bahanya cukup besar, maka kita menyatakan itu boleh karena darurat

H: apa maksudnya boleh karena darurat?

M: zat itu (tripsin babi) tetap haram, tapi diperbolehkan karena kondisi darurat

H: apakah ini berarti vaksin menjadi halal?

M: kita tidak menghalalkan yang haram. sementara kita gunakan yang haram karena darurat. sampai sekarang belum ada (vaksin) yang halal untuk polio. karena ini darurat, ya kita pakai. begitu juga dengan (vaksin) campak

H: apakah depkes sudah meminta fatwa MUI tentang vaksin campak? M: perasaan saya belum. untuk campak, kita belum membuat apa2

H: bagaimana dengan penggunaan ginjal kera dan janin bayi hasil aborsi sebagai media pebiakan virus untuk vaksin?

M: iya, itu ya haram. itu memang tidak diperbolehkan.

H: apa pertimbangan MUI menyatakan kedaruratan masalah ini?

M: pressentasi dari depkes memang menakutkan kalau itu dibiarkan. polio merupakan bahaya. yang katanya darang fari sudan ke jeddah, lalu ke sukabumoi, terus menjalar ke mana2. bahaya polio sedemikian mengancam, generasi kita akan menjadi generasi polio kalau tidak divaksinasi

H: apakah ada rekomendasi yang MUI berikan kepada pemerintah?

M: kita minta pemerintah mengupayakan obat (vaksin) yang sepenuhnya halal. jadi, ini hanya untuk sementara

H: bagaimana dengan hadits Rasulullah saw yang menyatakan Allah tidak menjadikan obat dari yang haram?

M: itu kan kaidah umumnya. tapi, kalau yang ditemukan baru yang haram dan juka tidak ditanggulangi akan menimbulkan kesulitan, terpaksa kita gunakan. ini untuk sesaat saja. hanya untuk sementara saja. agama memberikan keluasan, kemudahan, ketidaksempitan. dalam keadanan seperti ini bisa diperbolehkan. soal zat (tripsin babi), tetap haram, tapi diperbolehkan karena kondisi darurat. dalam hal makanan juga demikian. kalau tidak ada yang bisa dimakan pada saat itu kecuali yang haram, maka diperbolehkan. famanidh thirro ghairo baaghin wa laa’aadiin falaa itsma ‘alaihi (barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. QS al-Baqarah: 173)

H: bagaimana dengan orang tua yang menolak anaknya divaksinasi

M: seharusnya tidak menolak. sebab, menurut depkes, kalau ada yang terkena polio, dampaknya akan luas sekali/ penyakit itu akan menyebar. usaha yang dilakukan pemerintah menjadi tidak berguna

H: kabarnya ada perusahaan farmasi swasta yang meminta sertifikat MUI untuk vaksin yang mereka produksi

M: memang ada, tapi kami tidak mai memberikan. karena vaksin itu hanya bisa dipakai kalau yang meminta adalah pemerintah, dalam hal ini depkes. kalau swasta, nanti malah banyak yang minta

H: mengapa demikian?

M: kita tidak mau meproduksi obat-obatan (haram) seperti itu. itu hanya karena darurat. kalau swasta, tidak jelas digunakan

DPRD akan panggil Kepala Dinas Kesehatan

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3736&Itemid=58

Sabtu, 09 Juni 2007

DPRD akan panggil Kepala Dinas Kesehatan

UNGARAN – Menyusul meninggalnya dua anak berusia bawah lima tahun (balita) setelah diimunisasi di Puskesmas Pembantu Candi, Kecamatan Bandungan, Komisi D DPRD Kabupaten Semarang segera memanggil Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Semarang untuk mengklarifikasi penyebab kematian dua balita tersebut.

Hal itu dikatakan Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Semarang, Bambang DN, di Ungaran, Jumat (8/6). “Terkait kasus kematian dua balita setelah mengikuti imunisasi itu, dalam waktu dekat kami akan memanggil Kadinkes Kabupaten Semarang,” ujarnya.

Agar tidak menimbulkan tanda tanya di masyarakat, kata Bambang, Kadinkes harus menjelaskan secara transparan penyebab kematian dua balita warga Desa Candi, Kecamatan Bandungan itu. Untuk itu, Dinkes harus menangani kasus tersebut secara profesional dan proporsional agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Peristiwa itu sangat disayangkan. Kami berharap Dinkes segera melaporkan hasil analisa lebih lanjut dan menangani kasus ini secara transparan,” tukasnya.

Menurut Bambang, pihaknya sudah menghubungi Pelayanan Kesehatan di Sumowono agar kasus tersebut dikaji supaya tidak terjadi kekeliruan persepsi. “Sebab saat ini masyarakat menilai meninggalnya dua balita itu terjadi akibat kurang cermatnya pelayanan kesehatan,” tandas dia.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Semarang, drg Muh Gunadi menjelaskan penyebab kematian dua balita setelah mengikuti imunisasi itu bukan karena kesalahan pemberian obat.

“Obat penurun panas (Paracetamol) yang diberikan kepada dua balita itu kondisinya masih baik, bukan obat kadaluwarsa, ” jelasnya.

Pertama kali
Menurutnya, kasus kematian balita akibat imunisasi tersebut baru kali pertama terjadi di Kabupaten Semarang. Namun dia berharap masyarakat tidak perlu trauma atau takut mengikuti kegiatan imunisasi. “Masyarakat tak perlu takut, karena imunisasi manfaatnya sangat besar untuk kesehatan balita,” tukas Gunadi.

Gunadi mengatakan, dalam pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Pembantu Candi, Bandungan beberapa waktu lalu tidak ada suatu pelanggaran. Karena petugas yang melakukan imunisasi merupakan tenaga kesehatan (bidan) dari Dinkes, dan obat-obatan yang diberikan juga dalam keadaan baik.

“Kasus tersebut sekarang telah ditangani oleh Bidang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Dinkes Pemprov Jateng dan Dinkes Pemkab Semarang. Karena kematian terjadi setelah imunisasi, jadi yang berwenang adalah bidang KIPI,” ujar Gunadi.

Seperti diberitakan Wawasan (8/6), dua anak balita yakni Elva Yunita (3 bulan) warga Dusun Kalibendo dan Zahrodin (9 bulan) warga Dusun Ngipik, Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang meninggal dunia setelah mengikuti imunisasi di Puskesmas Pembantu Candi, Kecamatan Bandungan. rbd/ac

Derita Siswa Kelas 3 SD, Lumpuh Karena Imunisasi?

http://kompas.com/kesehatan/news/0512/12/073403.htm

Derita Siswa Kelas 3 SD
Lumpuh Karena Imunisasi?

Jakarta, Senin
Beberapa hari setelah diimunisasi, Firdha terjatuh karena seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Sebulan terpaksa mendekam di rumah sakit kondisinya tak berubah.

Ayahnya menduga, hal itu terjadi akibat imunisasi dan meminta pertanggungjawaban pihak sekolah.

Rasa sedih bercampur dongkol berkecamuk dalam hati Aep Saepulloh (53). Sudah dua bulan lebih, Firdha Maulina (9), anak bungsunya, tidak bisa berjalan layaknya anak yang sehat. Firdha seperti mengalami kelumpuhan. Saat ditemui di rumah orang tuanya di daerah Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (3/12) siang, Firdha berjalan menuju ruang tamu dengan dipapah ibunya, Eulis Sunarsih (41).

Firdha berjalan pelan menuju kursi ruang tamu lalu duduk di pangkuan ayahnya. “Sekarang sudah lumayan, meskipun jalannya masih harus dipapah. Sampai saat ini, kaki kirinya masih terasa sakit,” tutur Aep sambil memandang pilu pada anaknya.

Sebelumnya, tutur Aep, kondisi fisik Firdha baik-baik saja. Layaknya anak-anak seusianya, siswi kelas 3 SD 04 Petang Ceger, Cipayung ini senang bermain bersama teman-temannya. Namun, peristiwa 20 September silam, membuat Firdha menderita. “Awalnya ketika pulang sekolah tangga 19 September, dia cerita bahwa besoknya akan ke Taman Mini (TMII) bersama teman sekelas,” kisah Eulis.

SELURUH TUBUH LEMAS

Sebetulnya, Aep tidak mengizinkan Firdha ikut berwisata lantaran sedang terserang flu. Mengingat teman-teman Firdha juga banyak yang ikut, akhirnya Aep mengizinkan.
“Saya cuma berpesan, jangan minum es dan hati-hati selama di sana,” timpal Aep.

Soal piknik itu, Aep merasakan sesuatu yang janggal. Menurutnya, acara sekolah ke TMII itu terbilang mendadak. Apalagi, sebelumnya tak ada pemberitahuan pada orang tua siswa. Aep sempat meminta istrinya mengecek ke sekolah. Namun, karena sibuk mengurus rumah, Eulis tidak pergi ke sekolah. Ia hanya membekali Firdha uang Rp 30 ribu.

Ketika Firdha sampai di rumah, Eulis menggodanya. “Duh, yang baru pulang dari Taman Mini,” ucapnya saat itu. Alih-alih bercerita tentang piknik, gadis cilik berambut panjang ini justru mengaku baru diimunisasi di sekolah. Ia menunjukkan lengan kirinya yang terasa sakit setelah disuntik. Setelah itu, hari-hari Firdha berjalan seperti biasa sampai Sabtu siang berikutnya, ia terjatuh saat bermain bersama teman-temannya.

Menurut Firdha, ia jatuh karena badannya sangat lemas. “Karena tidak berpikiran macam-macam, sore itu saya masih mengantarnya sekolah. Ternyata sejak hari itu seluruh tubuhnya lemas. Kalau digerakkan, sakit banget. Kaki dan tangannya enggak bisa bergerak,” kenang Aep seraya mengatakan anaknya masuk sore.

Minggu siang, pria berkacamata ini membawa Firdha ke Rumah Sakit Pasar Rebo. Dokter yang menangani menyarankan agar Firdha dirawat inap. Yang ternyata sampai sekitar sebulan. Selama itu pula, menurut Aep, Firdha hanya bisa tergolek di tempat tidur. Yang menggembirakan Aep, celoteh layaknya anak-anak seusianya masih terdengar dari mulut Firdha. Selera makannya pun tetap bagus. “Hanya tubuhnya yang masih lemas,” ujar Aep yang rambutnya mulai beruban.

DIJULUKI BU LURAH

Selama Firdha dirawat di rumah sakit, Eulis selalu menjaga siang malam. “Dia sering minta dibelikan majalah anak-anak, lalu minta saya membacakan cerita,” kenang Eulis sambil memandang Firdha.
Saking lamanya dirawat inap, Firdha sempat dijuluki Bu Lurah oleh keluarga pasien-pasien di sana. Di rumah sakit itu, Firdha juga sempat menderita gondongan dan campak. Setelah Firdha sembuh dari campak, dokter menyarankan untuk pulang sekitar 1,5 bulan lalu. Sampai di rumah, kondisi fisik Firdha menunjukkan perbaikan. Pelan-pelan, gadis berkulit putih itu mulai bisa menggerakkan tangan, kaki dan tubuhnya.

Saat tidur, ia juga bisa memiringkan badan dan memegang pensil lagi. “Bukan main leganya hati kami, melihat kemajuan itu. Sebelumnya, mental saya sempat drop. Kalau teman-teman saya bercerita tentang penyakit Firdha, rasanya ingin menangis,” keluh Aep.

Perubahan menuju kesembuhan, menurut Aep, tidak semata berdasarkan obat dokter. Sejak keluar dari rumah sakit, Firdha juga dibawa berobat dengan menjalani terapi di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. “Saya diizinkan dokter yang menanganinya untuk mengobati lewat terapi,” jelas Aep.

Hasilnya menurut Aep lumayan. Setelah tujuh kali diterapi, Firdha bisa berdiri. “Sekarang sudah 11 kali terapi. Dia sudah bisa berjalan meski masih harus dipapah. Sampai sekarang, pengobatan dari dokter kami selingi dengan pengobatan alternatif,” ujar Aep lega.

Namun, menurut pria berdarah Jawa ini, ia tak bisa setiap hari membawa Firdha diterapi karena keterbatasan biaya. “Untuk berobat ke dokter saja, sudah habis Rp 200 ribu sekali kunjungan. Pengobatan terapi ini memang tidak dipungut biaya, hanya menyediakan kotak amal yang bisa kita isi serelanya. Tapi ongkos taksi pulang pergi ke Kemayoran saja Rp 150 ribu.”

TANPA PEMBERITAHUAN

Kini, Aep meminta pertanggungjawaban pihak sekolah atas musibah yang menimpa Firdha. Perihal sakitnya Firdha, lanjut Aep, pihak sekolah sudah tahu sejak awal.
Sehari setelah anaknya dirawat, Aep yang bekerja di Persero Pengerukan Indonesia ini mendatangi sekolah Firdha untuk memberitahukan kejadian itu. Baru lima hari kemudian, lanjut Aep, gurunya menjenguk ke rumah sakit.

Selama Firdha dirawat di rumah sakit, hanya tiga kali gurunya, termasuk kepala sekolah, datang menjenguk. Menurutnya, pihak sekolah lah yang seharusnya bertanggung jawab, lantaran imunisasi itu terjadi di sekolah, ditambah lagi tanpa pemberitahuan pada pihak orang tua.

Aep juga dongkol karena pihak sekolah dianggapnya berbohong. “Kalau memang mau diimunisasi, jangan bilang mau diajak ke TMII. Mengapa harus berbohong?” ujar Aep sambil menambahkan, ia juga sudah melapor ke penilik sekolah mengenai peristiwa itu. “Kalau tidak ada pertanggungjawaban dari sekolah, mungkin kami akan minta bantuan ke Lembaga Bantuan Hukum.”

“Menurut laporan pihak sekolah ke Kecamatan, anak saya dikatakan kurus dan kurang sehat. Kalau memang kurang sehat, mengapa diimunisasi? Menurut pemeriksaan dokter di rumah sakit, anak saya kena virus, bukan karena imunisasi. Soal virus atau bukan, itu bukan urusan saya. Yang penting, setelah diimunisasi anak saya jadi begini,” tandas Aep.

Setelah Firdha pulang dari rumah sakit, gurunya memang sempat menjenguk. Namun, sejauh ini pihak sekolah dinilainya belum menunjukkan tanda-tanda memberikan pertanggungjawabannya. “Permintaan secara resmi pun belum. Justru pihak Puskesmas yang pertama kali datang ke rumah, dan menyampaikan permintaan maaf,” ujar Aep.

Firdha sendiri, saat ditanya apakah dirinya kangen bermain bersama teman-teman dan bersekolah lagi, hanya mengangguk. Ia mencuil kue di tangan dan memasukkannya ke mulut. Kini ia sudah tak kesakitan lagi menggerakkan anggota tubuhnya. “Yah… Mungkin harus begini nasib anak saya. Mudah-mudahan ia bisa sembuh seperti sedia kala,” harap Aep bercampur dongkol.

KOMPLAIN SALAH ALAMAT

Imunisasi yang dilakukan 20 September silam di SD 04 Petang Ceger, menurut Aryetti, sang kepala sekolah, merupakan program dari Puskesmas Ceger. Sedangkan sekolah yang dipimpinnya, hanya menyediakan tempat.
“Jadi, itu bukan kegiatan sekolah. Itu program tahunan Puskesmas Ceger. Kalau mau komplain, seharusnya pada pihak Puskesmas, bukan kami. Itu salah alamat,” tutur Aryetti saat ditemui di ruang guru sekolah tersebut, Sabtu (3/12).

Itu sebabnya, Aryetti mengaku tak tahu, pertanggungjawaban seperti apa yang mesti dilakukannya. “Kalau dalam bentuk materi, kami tidak bisa. Sebab, sekolah tidak punya anggaran untuk itu. Lagipula, kami tidak menarik biaya sekolah dari anak-anak,” lanjutnya.

Namun, secara moral pihaknya telah beberapa kali mengunjungi Firdha, baik saat dirawat di rumah sakit maupun setelah pulang ke rumah. “Guru kami yang berkunjung juga sudah meminta maaf. Itu otomatis mewakili pihak sekolah,” ujar wanita berjilbab tersebut.

Sebetulnya, menurut Aryetti, pihak sekolah pernah berusaha memberikan sumbangan sekadarnya pada keluarga Firdha. Setiap Jumat, menurut Aryetti, guru mengedarkan kaleng amal untuk diisi para siswa serelanya. Uang yang terkumpul digunakan untuk menyumbang siswa yang sakit, meninggal atau tertimpa musibah, termasuk Firdha.
“Tapi keluarga Firdha menolak. Malah menyuruh uang itu diberikan pada anak yatim piatu. Kabarnya, Pak Lurah Ceger juga bersedia membantu membuatkan surat keringanan biaya pengobatan, tapi ditolak juga,” lanjut Aryetti.

Menurut Suroso, guru kelas 2 yang ikut mendampingi Aryetti, ia pernah berkunjung ke rumah Firdha bersama para dokter yang menangani kasus ini. “Dokter sudah menjelaskan, sebelum diimunisasi, sebenarnya Firdha sudah tertular virus. Kebetulan saja, setelah itu Firdha diimunisasi. Jadi, bukan imunisasi yang menyebabkan Firdha sakit seperti itu. Tapi orang tua Firdha tidak bisa terima dan marah-marah,” tutur Suroso.

Soal tuduhan Aep pihak sekolah membohongi para siswa, menurut Suroso juga tidak benar. Sehari sebelum imunisasi, guru hanya meminta siswa untuk makan siang banyak-banyak. “Waktu diberitahu, ada siswa yang bertanya, apakah mereka akan piknik. Gurunya mengiyakan. Tapi dia tidak bermaksud berbohong. Kami hanya ingin anak-anak tetap masuk sekolah supaya mereka bisa diimunisasi,” jelas Suroso.

Soal imunisasi tanpa pemberitahuan pada orang tua, menurut Aryetti, sebetulnya hal itu sudah terjadi sejak dulu. Hanya saja, baru kali ini terjadi musibah seperti ini. Kebetulan pula, dari sekian banyak siswa kelas 1 – 3 yang diimunisasi pada hari itu, hanya Firdha yang mengalami kasus seperti itu. “Jadi, kami menganggap ini musibah,” ujar Aryetti yang berharap Firdha segera sembuh. (Tabloid Nova)

WHO Nilai Vaksinasi Massal Anti H5N1 Tak Diperlukan

22/12/2007 00:39 WIB

22/12/2007 00:39 WIB

WHO Nilai Vaksinasi Massal Anti H5N1 Tak Diperlukan
Indra Subagja – detikcom

Jenewa – Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) menyatakan pemberian vaksin secara massal dalam kampanye melawan flu burung tidak diperlukan. Ini karena belum terbuktinya wabah flu burung menjadi pandemic.”Belum ada bukti yang menunjukan kalau kita harus melakukan vaksinasi terhadap seluruh populasi, karena belum diketahui apa sebenarnya yang menyebabkan pandemic,” kata Asisten Direktur Jenderal WHO David Heyman seperti dikutip dari AFP, Jumat (21/12/2007).Virus H5N1, yang telah menyebabkan 209 kematian sejak 2003 lalu, adalah bukan satu-satunya jenis virus yang bisa menyebarkan pandemic. Tetapi ada jenis lainnya seperti H5, H7, atau H9 yang hampir sejenis.Heyman menjelaskan banyak negara yang menyebarkan kampanye vaksinasi masal sebagai upaya perlawanan dan perlindungan dari serangan virus flu burung. Namun hal itu justru sebaliknya, seperti contoh ketika terjadi vaksinasi wabah flu di AS pada 1976 lalu, justru memberikan efek lain.”Pemberian vaksinasi justru akan memberikan kekebalan yang lebih rendah melawan virus dan justru akan memudahkan terjadi pandemic, ini sebagai efek dari pemberian vaksin itu,” tandas Heyman.( ndr )WHO Nilai Vaksinasi Massal Anti H5N1 Tak Diperlukan
Indra Subagja – detikcom

Jenewa – Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) menyatakan pemberian vaksin secara massal dalam kampanye melawan flu burung tidak diperlukan. Ini karena belum terbuktinya wabah flu burung menjadi pandemic.”Belum ada bukti yang menunjukan kalau kita harus melakukan vaksinasi terhadap seluruh populasi, karena belum diketahui apa sebenarnya yang menyebabkan pandemic,” kata Asisten Direktur Jenderal WHO David Heyman seperti dikutip dari AFP, Jumat (21/12/2007).Virus H5N1, yang telah menyebabkan 209 kematian sejak 2003 lalu, adalah bukan satu-satunya jenis virus yang bisa menyebarkan pandemic. Tetapi ada jenis lainnya seperti H5, H7, atau H9 yang hampir sejenis.Heyman menjelaskan banyak negara yang menyebarkan kampanye vaksinasi masal sebagai upaya perlawanan dan perlindungan dari serangan virus flu burung. Namun hal itu justru sebaliknya, seperti contoh ketika terjadi vaksinasi wabah flu di AS pada 1976 lalu, justru memberikan efek lain.”Pemberian vaksinasi justru akan memberikan kekebalan yang lebih rendah melawan virus dan justru akan memudahkan terjadi pandemic, ini sebagai efek dari pemberian vaksin itu,” tandas Heyman.( ndr )

Penyebab Kematian Ita, Radang Otak Bukan Imunisasi

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/06/nus02.html

Selasa, 06 Maret 2007

Dinas Kesehatan Serang
Penyebab Kematian Ita, Radang Otak Bukan Imunisasi

Serang–Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang memastikan penyebab kematian Ita Rosita (7), murid SD Inpres Sibuyung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang adalah radang otak, bukan infeksi akibat imunisasi campak dan polio dalam Pekan Imunisasi Nasional (PIN).
“Ini hasil diagnonis dari RSUD Serang yang merawat Ita. Kalau orang tua Ita masih belum puas, kami persilakan untuk menempuh jalur hukum. Selain itu, Ita harus diotopsi untuk memastikan kematian tersebut,” kata dr Agus Gusmara, Kasubdin P3KL Dinkes Kabupaten Serang yang juga Ketua Koordinasi Pelaksanaan PIN Kabupaten Serang, Senin (5/3).
Sebelumnya, Ita Rosita (7), murid SD Inpres Sibuyung, Mancak, Serang meninggal dunia, Minggu (4/3) pukul 09.00 WIB di RSUD Serang, setelah diimunisasi polio dan campak di sekolahnya. Mariani (30) dan Ny Iti (26), orang tua Ita meyakini, kematian anaknya akibat suntikan dalam PIN.
Agus Gusmara, Kasubdin P3KL Dinkes Serang mengemukakan, vaksin campak dan polio bereaksi selama 24 jam. Sedangkan Ita sakit dan dirujuk ke RSUD Serang setelah tiga hari di rumah. “Ita diimunisasi pada hari Selasa, kemudian ke Puskesmas Mancak pada Jumat. Puskesmas ini merujuk Ita ke RSUD Serang. Dia meninggal hari Minggu siang. Menurut pengetahuan dan diagnosis dokter yang menanganinya, penyebab kematian Ita bukan infeksi, tetapi radang otak yang telah lama dialaminya,” kata Agus.
Agus mengemukakan hasil investigasi yang dilakukan timnya menyebutkan, sembilan kawan Ita ternyata tidak mengalami apa-apa setelah disuntik vaksin. “Satu botol vaksin itu untuk ukuran 10 orang. Dari 10 itu, hanya Ita yang mengalami sakit,” katanya.
Dia menjelaskan soal jarum suntik yang digunakan para medis dalam memvaksin murid-murid SD. Jenis jarum suntiknya adalah BD Soloshot, yakni hanya bisa digunakan sekali suntik.
Mariani dan Ny Iti, orang tua korban, tetap berkeyakinan anaknya meninggal karena suntikan dalam PIN. “Anak kami sudah dikuburkan, tak perlu digali lagi untuk otopsi. Kami tidak mau,” kata Mariani.
Mariani menceritakan, dua hari setelah mendapatkan imunisasi, Ita Rosita mengalami kejang-kejang dan mulut mengeluarkan busa seperti orang yang keracunan obat. Di sekujur tubuhnya terdapat bintik-bintik merah, dan kedua bola matanya pun memerah, serta lengan kiri bekas suntikan polio ada lingkaran kecil warna merah.
Khawatir dengan kondisi putrinya, Mariani yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir angkutan umum (angkot) jurusan Cilegon–Mancak membawa putri kesayangannya ke RSUD Serang atas rujukan dari Puskesmas Mancak, Jumat (2/3). Dikatakan Mariani, dari keterangan dokter di RSUD Serang, terjadi tetanus pada bekas imunisasi.
(iman nur rosyadi)

Yudha Menderita Infeksi Tulang

Yudha Menderita Infeksi Tulang

http://www.indomedia.com/sripo/2004/03/18/1803nas2.htm

PALEMBANG, SRIPO — Yudha (3,6 bulan), buah hati Yunan (43) almarhum dan Devi (21), warga Sako Kenten yang sebelumnya tinggal di Jl Sultan Mansyur Lrg Sungai Itam NO 13 RT 05 Kelurahan Bukitlama, terbaring di Ruang Ortopedi Wanita (ROW) RSMH dengan dua kaki tergantung.
Dr Rendra Leonas, SpBO, FICS (K), dokter bedah tulang, sendi, otot dan tulang belakang RSMH, yang merawat Yudha, mengatakan sakit yang dialami Yudha adalah infeksi tulang (osteomyelitis). Menurutnya, penyebab penyakit ini adalah kuman strevtocaccus atau strapilococus. “Kebanyakkan penyakit ini terjadi pada anak-anak. Kasus ini juga terjadi pada orang dewasa,” tuturnya.
Menurutnya, kuman tersebut masuk melalui saluran pernafasan atas masuk ke dalam pemburuh darah. Menyebabkan melalui darah kuman terbawa masuk ke dalam tulang dan tulang panjang (metapicis). Pada tulang panjang ini aliran darah lebih banyak dan berkelok-kelok disinilah tempat berkembang biaknya kuman. Pada anak-anak lempeng pertumbuhan yang terdapat tulang panjang berguna untuk mekanisme pertumbuhan dan pertahanan tubuh.
Lanjut Rendra, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi. Penderita bisa menderita cacat tubuh dan mengalami gangguan pertumbuhan. Asalkan hal ini ditangani secara dini, tetapi bila terlambat penderita bisa terkena kontraktur (gangguan pada sendi). “90 persen kondisi Yudha sudah baik, tetapi kita tetap mengawasi perkembangannya. Kakinya kita gantung tersebut agar supaya tidak bengkok, kalau bengkok dia akan mengalami gangguan sendi. Bengkak di kakinya itu berisi nanah,” jelas Rendra sambil menambahkan penyebab kondisi Yudha seperti ini kecil kemungkinan disebabkan oleh imunisasi.
Setelah Imunisasi
Devi, orangtua Yudha, ditemui di RSMH, mengatakan satu bulan lalu, Yudha dibawa Ida (45)–neneknya–imunisasi ke Puskemas di Makrayu, malam harinya tubuh Yudha panas dan kaki kirinya bengkak. Esok harinya Yudha dibawa lagi ke puskesmas, para medis menyarankan agar kaki dan tubuh anaknya dikompres. “Ibu yang membawa Yudha diimunisasi. Saya tak tahu imunisasi apa. Setelah itu badan Yudha panas dan bengkak,” jelasnya.
Menurutnya, dua hari setelah itu, bukan kaki yang bengkak bahkan dada dan kaki kanan serta tangannya juga. Lalu anaknya dibawa ke dokter praktek di kawasan Dempo. Dokter hanya memberikan salep dan menyarankan tubuh anaknya dikompres. Walaupun sudah ke dokter bengkak di kaki anaknya belum juga kempes, kemudian dirinya membawa Yudha ke dokter anak yan lainnya. Atas saran dokter agar anaknya diopname di RSMH.
“Dokter bilang kaki dan dada anak saya berisi cairan dan akan mengalami kelumpuhan karena tulangnya rapuh. Baru dua hari ini kami pindah dari sal anak-anak ke ROW. Sejak dirawat di sal anak, kaki Yudha dikeluarkan cairanya,” tutur Devi.
Ketika Sripo menghubungi Devi melalui ponsel semalam, mengatakan bahwa dirinya telah mengetahui dari dokter bahwa sakit yang diderita anaknya itu bukan karena imunisasi, tetapi bisa disebabkan oleh flu yang berkepanjangan dan komplikasi ke penyakit lain.
“Memang Yudha sejak kecil hingga sekarang terus terkena flu tapi dia tidak batuk. Biarlah kami atasi sendiri,” ungkap Devi. (sep)

Siswa SD Citawinaya Tewas Setelah Diimunisasi

Siswa SD Citawinaya Tewas Setelah Diimunisasi

http://news.okezone.com/index.php/news/detail/2007/11/30/1/64996

Jum’at, 30/11/2007 – 17:33 WIB

SUBANG – Seorang pelajar Kelas I Sekolah Dasar Cintawinaya Desa Salamjaya, Kecamatan Pabuaran, Erna Arnawati (6), meninggal dunia setelah mendapatkan imunisasi tim medis Puskesmas Pringkasap Kec Pabuaran pada Sabtu 24 november lalu di sekolahnya.

Menurut penuturan ayah korban, Taman (55), putri ketiga dari tiga bersaudara ini sempat mengeluh sakit pada bagian lengan bekas suntikan dan disertai panas pada tubuhnya. Mendengar keluhan yang disampaikan Erna, Taman membawa putrinya ke kediaman Bidan Maryam, Kepala Puskesmas Pringkasap.

“Setelah berobat ke bidan Maryam, sakit Erna bertambah parah. Selain badannya panas, Erna mengeluh mual dan muntah beberapa kali. Kemudian, saya bawa lagi ke Puskesmas, di sana Erna diurus oleh Bidan Ai,” papar Taman didampingi Istrinya, Rasmi di kediamannya di Kp. Bakan Cingcau RT.29/12 Desa Pringkasap, Kec Pabuaran, Subang, Jawa Barat, Jumat (30/11/2007).

Pada pengobatan yang ke dua di Puskesmas Pringkasap, kondisi Erna semakin parah. Menurut Taman, setelah dibawa ke Puskesmas Pringkasap tubuh putrinya mengalami kejang-kejang, bahkan untuk berjalan saja harus dibantu.

Namun, demi kesembuhan Erna, Taman tidak putus harapan. Dia berusaha untuk mengobati penyakit putri terakhirnya. Melihat kondisi Erna semakin memburuk, Taman berinisiatif membawa ke tempat Praktek dr. Elan di Desa Pringkasap.

Dari dr. Elan, Erna diberi obat penenang. Dr. Elan sendiri mengaku tidak sanggup menangani penyakit Erna, sebaliknya dia menyarankan Erna untuk dibawa ke Puskesmas Pabuaran.

“Belum juga berangkat ke Puskesmas, kondisi Erna semakin parah. Tubuh Erna lemas bahkan tidak bisa menggerakan anggota badannya. Kamis kemarin sekira pukul 19.45 WIB, Erna menghembuskan nafas terakhirnya,” papar Taman sambil menangis.

Atas meninggal putrinya, Taman mengaku ikhlas. Kendati demikian, secara diplomatis, Taman berharap kejadian semacam ini tidak terulang dan menimpa siswa setelah dilakukan imunisasi. “Cukup hanya Erna seperti ini, jangan sampai ada erna-erna lain,” ujarnya

Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Pringkasap, Bidan Maryam membantah penyebab kematian pelajar kelas I SD Cintawinaya Desa Pringkasap itu lantaran suntikan Imunisasi. Menurut dia, kematian Erna tidak menutup kemungkinan karena penyakit yang muncul setelah Imunisasi.

Hal ini menurut dia, sesuai hasil pemeriksaan tidak ada dampak yang cukup serius karena Erna hanya mengalami mencret dan mual. Pihak Puskesmas Pringkasap, menyerahkan uang duka cita kepada keluarga Era sebesar Rp750 ribu.

Hal yang sama juga ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan kab Subang dr. Alma Lucyati. Dia membantah, penyebab kematian pelajar kelas I SD Cintawinaya Desa Pringkasap itu dihubungkan dengan program imunisasi. Karena menurut dia, program pemerintah pusat itu sebagai upaya pencegahan dari penyakit.

“Secara teoritis, penyebab meninggalnya Erna bisa saja karena kekebalan tubuhnya lemah dan infeksi. Dengan program imunisasi ini, pemerintah mengupayakan supaya tidak mudah terkena penyakit,” ujar dr Alma Lucyana saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jalan Otista, Subang.

Sementara itu, dr. Elan yang memberikan obat penenang kepada Erna, di depan sejumlah aparat Desa menjelaskan, kematian Erna tidak ada hubungannya dengan Imunisasi namun kematian Erna adanya penyakit penyerta yang muncul setelah di suntik Imunisasi.

Hal itu dibuktikan saat waktu Erna disuntik dalam keadaan sehat, sehingga tim pelaksana Imunisasi berani menyuntik. Demikian halnya setelah disuntik, pada tubuh korban tidak terjadi tanda-tanda dan indikasi kelainan atau setelah disuntik menjadi penyebab kematian seseorang.

“Adapun setelah disuntik terjadi reaksi di tubuh menjadi panas itu hal biasa, karena setiap kali anak habis disuntik Imunisasi akan terjadi hal seperti itu.” terang Elan.

Kendati demikian, Alma Lucyati menambahkan, untuk memastikan penyebab kematian Erna, pihaknya mengutus tim kesehatan untuk mengkaji masalah itu. Sementara Wakil Ketua DPRD Kab Subang, dr Encep Sugiana menegaskan sebaiknya masyarakat tidak mudah men-judgetifikasi penyebab meninggalnya Erna karena imunisasi. Menurut dia, jika diperlukan utuk memastikan penyebab kematiannya, Encep menyarankan sebaiknya dilakukan visum.

“Saya kira kurang bijak juga kalau dikatakan penyebab meninggalnya karena imunisasi. Jika memang diperlukan, bisa saja dilakukan visum, sehingga bisa ketahuan penyebab pastinya,” jelasnya. (Annas Nasrullah / Sindo / kem)

Imunisasi polio

http://www.bbc.co.uk/indonesian/forum/story/2005/08/050826_polioungkapan.shtmlImunisasi polio



Pemerintah bekerjasama dengan UNICEF dan WHO tanggal 30 Agustus mengadakan pekan imunisasi nasional polio untuk 24 juta anak di seluruh Indonesia.

Menurut data UNICEF penyebaran kasus polio di Indonesia paling tinggi di dunia dan sangat rentan sebagai tempat penyebaran polio padahal tahun 1995, Indonesia telah dinyatakan bebas polio.

Dalam program imunisasi di beberapa daerah seperti Jakarta dan Banten bulan lalu, jumlah anak yang divaksin menurun sekitar satu juta orang dibandingkan dalam vaksinasi putaran sebelumnya, setelah beredar berbagai rumor miring, misalnya vaksin polio tidak halal dan vaksin bisa menyebabkan kematin.

Pemerintah berulangkali menegaskan rumor tersebut tidak benar dan sejumlah ulama sekarang menyatakan vaksin polio halal.

Apa yang seharusnya dilakukan orang tua dalam pekan imunisasi nasional polio ini?

Bagaimana pendapat anda tentang imunisasi polio dan kekhawatiran sebagian orang tentang keamanan vaksin?

Selain imunisasi, langkah-langkah apa yang perlu dilakukan masyarakat sendiri untuk mencegah polio?

Ramaikan Ungkapan Pendapat BBC London dengan mengirimkan komentar anda melalui situs BBCindonesia dot com lalu klik ungkapan pendapat dan isi kolom yang disediakan, atau melalui email indonesian@bbc.co.uk. Tolong sertakan nomer telpon anda kalau ada.

Anda bisa pula menelpon kami di nomer bebas pulsa 0800 140 1228 yang kami buka setiap Selasa dan Jumat malam pukul 18.30 dan 20.30 Waktu Indonesia Barat.