Wuih! Bocah Autis Meningkat 10 Kali Lipat

http://surabaya.detik.com/read/2008/08/09/150621/985711/466/wuih!-bocah-autis-meningkat-10-kali-lipat

Sabtu, 09/08/2008 15:06 WIB
Wuih! Bocah Autis Meningkat 10 Kali Lipat
Irawulan – detikSurabaya


Surabaya – Jumlah anak yang ditemukan terkena autis setiap tahun mengalami peningkatan. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlahnya hampir 10 kali lipat.

Hal itu dikatakan Dr Y Handojo, Ketua Yayasan Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus AGCA Center kepada wartawan di sela-sela Festival Anak Dengan Kebutuhan Khusus di GedunG Wanita Jalan Kalibokor, Surabaya, Sabtu (9/8/2008).

“Semakin banyak. Kita tengarai setiap dekade ini jumlah anak autis meningkat,” kata Dr Y Handojo. Namun dia tidak menyebutkan berapa besar peningkatan setip tahunnya.

Autis kata Handojo bisa disembuhkan asalkan para orangtua rajin melakukan terapi. Anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti itu kata Handojo dalam sehari minimal melakukan terapi selama 8 jam. Oleh karena itu biaya untuk anak autis sangat besar.

“Mereka berbeda dengan anak lain. Satu anak satu pendamping. Oleh sebab itu biayanya mahal,” tuturnya.

Anak yang menderita autis itu menurutnya bisa terdeteksi dari umur 1-2 tahun. Dan pada usia 1,5- 2 tahun itu paling bagus dimulai terapi. Karena pada saat usia itu kata dia percabangan otak belum lekat.

“Kalau tidak ada konflikasi atau infeksi terapi bisa dilakukan selama 2,5 – 3 tahun sudah selesai terapi untuk perilaku dasar,” jelasnya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi anak terkena autis kata dia adalah faktor polusi seperti logam berat, benturan pada kepala, infeksi kemudian ada kelainan pada usus dan vaksinasi serta faktor genetik.

“Tidak mengenal kaya atau miskin atau tinggal di daerah mana, anak bisa terkena autis,” ungkapnya.

Makanan bagi anak autis kata Handojo tidak boleh diberikan sembarangan. Hindari susu sapi dan tepung terigu. Ini bisa mempengaruhi pada emosi anak autis.

“Mengandung gluten sekitar 7 persen mereka tidak tahan. Ini berpengaruh pada emosi dan sulit mengontrol diri,” tandasnya.(wln/bdh)

OBAT RESEP DOKTER BELUM ADA YANG BERSERTIFIKAT HALAL

Kutipan dari Milist: Halal-Baik-Enak@yahoogroups.com
2 Agustus 2008

OBAT RESEP DOKTER BELUM ADA YANG BERSERTIFIKAT HALAL

Assalamu’alaykum wr.wb.

Saya baru saja mengikuti acara pertemuan ilmiah tahunan
bidang kebidanan & penyakit kandungan, 25-30 Juli 2008.
Perhelatan besar yang dihadiri oleh sekitar 2.000 orang
dokter spesialis kebidanan & kandungan perwakilan dari
seluruh Indonesia, tahun ini berlangsung di Balikpapan
Kalimantan Timur.

Sebagaimana biasanya, acara seperti ini selalu dimeriahkan
oleh pameran obat & teknologi bidang penyakit kandungan
dari puluhan produsen farmasi & alat kesehatan.

Hal yang menjadi teka-teka saya adalah, ternyata
tak ada satu pun produsen peserta pameran obat
ini yang menyatakan telah mendapat sertifikat halal.
Padahal, sebagaimana yang pernah saya posting
sebelumnya, yang dikutip dari koran kompas (17/4/08)
bahwa Direktur LPPOM MUI Muhamad Nadratuzzaman
Hosen menyatakan: “Dari 120 perusahaan obat, baru 5
perusahaan yang telah mengajukan sertifikasi halal”.

Akhirnya teta-teki ini terjawab, karena hampir
bersamaan dengan acara ilmiah ini, tepatnya tanggal
30 Juli 2008, di Balikpapan juga, berlangsung
seminar Kehalalan Makanan, Obat dan Kosmetika
yang berlangsung di Aula Bank Indonesia Balikpapan.

Nara sumber yang hadir yaitu: Direktur LPPOM MUI
Muhamad Nadratuzzaman Hosen PhD, Wakil Ketua Komisi
Fatwa MUI Pusat, Badan POM Kalimantan Timur, Ketua
Ikatan Dokter Indonesia wilayah Kaltim, dll.

Sebelum seminar dimulai, saya sempat berbincang dengan
Bapak Nadratuzzaman, Dir LPPOM MUI. Ketika saya tanya,
obat resep dokter yang mana saja yang telah mendapatkan
sertifikat halal? (Sebagaimana telah diberitakan koran).

Beliau menjawab: “Belum ada satu pun obat resep dokter
yang mendapatkan sertifikat halal”. Saya tentu saja
kecewa. Ternyata berita di koran tersebut tidak akurat,
wartawannya salah kutip, barangkali.

Menurut beliau, bahwa yang telah mendapatkan sertifikat
halal ini baru sebatas beberapa produk suplemen
multivitamin saja, sedangkan obat resep dokter belum
ada yang mengajukan audit.

wassalam,
Yasa

============ ====
Banyak Obat dan Kosmetik Belum Disertifikasi Halal

Selasa 17 April 2007 15:54 wib

JAKARTA, KOMPAS – Banyak obat-obatan dan kosmetika
yang beredar di pasaran belum mendapat sertifikat
halal. Padahal, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-
Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia
(LPPOM MUI) mensinyalir adanya sejumlah obat dan
kosmetik mengandung bahan yang tidak halal. Karena
itu, pemerintah didesak untuk memperketat pengawasan
beragam produk obat dan makanan demi melindungi
konsumen, khususnya kaum muslim.

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dalam
sambutannya pada seminar nasional bertema “Kehalalan
Obat-obatan dan Kosmetika LPPOM-MUI”, di auditorium
YARSI, Jakarta, Selasa (17/4), menuturkan, Indonesia
merupakan negara yang paling banyak penduduk
muslimnya, sehingga merupakan potensi pasar yang
besar untuk obat-obatan dan kosmetika lokal maupun
impor.

Wakil Ketua Pengurus Pusat MUI Din Syamsuddin
menyatakan, kehalalan kosmetika dan obat-obatan
masih jadi masalah. Dalam bidang pangan, belum
banyak restoran bersertifikat halal. Bahkan,
yang sudah mencantumkan label halal pun belum
tentu dijamin kehalalannya. “Hal ini disebabkan
belum ada dukungan dari pemerintah, tidak ada
Undang Undang yang mengatur, pencantuman label
halal masih bersifat sukarela. Sedangkan MUI
tidak berwenang mengenai hal tersebut,” ujarnya
menegaskan.

Direktur LPPOM MUI Muhamad Nadratuzzaman Hosen
menuturkan, sampai sekarang baru 16.040 produk
pangan dari 874 perusahaan yang disertifikasi
kehalalannya. Sementara untuk obat-obatan dan
kosmetika, baru lima perusahaan yang mengajukan
sertifikasi kehalalan produk mereka.
“Ini disebabkan kurangnya dukungan dari pemerintah
terhadap upaya perlindungan konsumen dari produk-
produk yang mengandung bahan tidak halal,” ujarnya.

Padahal, LPPOM-MUI mensinyalir penggunaan babi
dan turunannya maupun bagian tubuh manusia dalam
dunia kedokteran lazim terjadi. Bahan-bahan itu
dimanfaatkan dalam pembuatan produk-produk seperti
vaksin, sediaan obat dan bahan kosmetika. Perusahaan-
perusahaan farmasi yang merupakan perusahaan
multinasional juga telah menginformasikan kondisi
itu secara terbuka. “Para ulama sepakat membolehkan
penggunaan obat-obatan dan vaksin yang mengandung
babi jika jika dalam kondisi darurat,” tuturnya.

Sesuai dengan Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992
tentang kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor
71 tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat
kesehatan, sediaan farmasi termasuk di dalamnya
obat dan kosmetika harus terjamin keamanan, mutu
dan manfaatnya sebelum dapat diedarkan dan
digunakan di Indonesia. “Selain itu, masyarakat
muslim menuntut obat dan kosmetika yang digunakan
harus halal,” kata Fadilah.

“Kebutuhan dan tuntutan masyarakat makin tinggi
terhadap obat dan kosmetika yang tidak saja harus
aman, bermutu dan bermanfaat, tetapi juga harus
halal. Hal ini merupakan tantangan sekaligus
peluang bagi dunia usaha di Indonesia dan negara-
negara Islam,” ujar Fadilah. Makin terbukanya
perdagangan antar negara membuat Indonesia harus
berhati-hati terhadap produk atau bahan baku yang
tidak halal ataupun diragukan kehalalalnnya,
terutama produk atau bahan yang berasal dari hewan.

Sementara tidak semua dokter mengetahui tentang
status obat-obatan yang akan diberikan pada pasiennya,
termasuk obat-obatan yang digunakan untuk penderita
jantung koroner. Obat itu ternyata mengandung bahan
aktif yang berasal dari babi. “Sayangnya tidak
semua dokter mengerti tentang isi obat. Sementara
konsumen muslim kurang diberi akses untuk mengetahui
jenis dan merek apa obat yang akan diberikan pada
mereka, terutama pasien rawat inap,” kata Prof dr.
Jurnalis Uddin dari Universitas YARSI. ***

=====

13/03/07 18:56

120 Produsen Obat Belum Dapat Sertifikat Halal

Jakarta (ANTARA News) – Lembaga Pengkajian Pangan
Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia
(LPPOM MUI) mengatakan ada sekitar 120 perusahaan
obat-obatan dan tujuh perusahaan kosmetik belum
mendapat sertifikasi halal.

“Sebanyak 120 produsen obat-obatan belum memiliki
sertifikat halal. Baru lima produsen obat dan satu
produsen kosmetik yang sudah mendapat sertifikat
halal dari MUI,” kata Ketua LPPOM MUI Muhamad
Nadratuzzaman Hosen, di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan produsen pangan, obat-obatan, dan
kosmetika memang tidak diwajibkan mendaftar
sertifikasi halal oleh pemerintah. Tetapi untuk
menjaga ketentraman hati dan menjaga umat untuk
tidak memakan sesuatu yang haram LPPOM MUI
menghimbau setiap produsen mau mendaftarkan
produksinya.

Saat ditanya oleh wartawan produk dan produsen
obat atau kosmetik yang belum memiliki sertifikasi
halal tersebut, dia mengatakan bukan menjadi
kewenangan LPPOM MUI untuk menjawabnya, mereka
hanya memiliki wewenang untuk meneliti dan
memberikan sertifikat halal pada produsen yang
memang secara sukarela dan sadar meminta
sertifikasi tersebut.

Sementara itu, menurut Wakil Direktur Bidang
Pelatihan Sosialisasi dan Kajian Ilmiah LPPOM
MUI Pusat Anna Priangayani Roswim, terdapat
banyak sekali obat-obatan di pasaran saat ini
yang tidak jelas halal dan haramnya.

Dia mengatakan baik obat dalam dan obat luar
harus terbebas dari bahan yang tidak halal
sehingga perlu diteliti lebih lanjut dan diberi
sertifikat halal.

Oleh karena itu, dia mengatakan, dalam seminar
yang akan diadakan oleh LPPOM MUI pada 17 April
2007 nanti akan dibahas titik-titik krisis dalam
membuat obat dan kosmetik, seperti vaksin yang
mungkin terkontaminasi dari bahan yang haram.

“Walaupun bentuknya hanya media, cangkang obat
atau kapsul perlu diteliti apakah dia menggunakan
bahan yang halal atau haram,” ujar dia.

Menurut dia, pihak LPPOM MUI juga belum menanyakan
pada Komisi Fatwa apakah bahan yang terbuat dari
tulang kera, kucing, atau organ manusia haram
atau halal bila dikonsumsi untuk obat-obatan.

Padahal selama ini menurut dia, produsen obat-
obatan maupun kosmetik ada yang menggunakan
bahan dari tumbuhan, hewan, mikro sintetik kimia,
atau dari manusia untuk membuat produknya.

Selain itu dia juga mengatakan perlu dicermati
lagi masalah bahan aktif yang digunakan untuk
obat yang berasal dari tumbuhan dinyatakan halal,
belum tentu tembungkusnya atau kapsulnya yang
terbuat dari gelatin terbuat dari bahan yang halal.

Terkadang proses produksi obat sendiri juga harus
dipertanyakan. Karena bisa saja produsen obat
tersebut menggunakan alat yang digunakan juga
untuk memproses obat atau kosmetik dari bahan
yang tidak halal.(***)

Ibu Hamil Tak Wajib Minum Susu

http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/01/10374025/ibu.hamil.tak.wajib.minum.susu

Jumat, 1 Agustus 2008 | 10:37 WIB

Ibu Hamil Tak Wajib Minum Susu

Bila kebutuhan gizi sudah terpenuhi dari makanan sehari-hari, minum susu malah bisa mengakibatkan kelebihan berat badan.

SUDAH minum susu? Jangan sampai lupa lo, ini demi janinmu.” Nasihat seperti ini rasanya tak asing lagi buat kita yang berbadan dua, seolah minum susu merupakan kewajiban. Hingga, mereka yang tak doyan susu pun akhirnya memaksakan diri meminumnya. Sampai-sampai ada lo ibu hamil yang khawatir akan perkembangan janinnya hanya gara-gara perut si ibu tak bisa menerima susu alias selalu mual-muntah setiap kali minum susu.

“Memang, ibu hamil perlu makanan tambahan. Si ibu kan bukan cuma memberi makan dirinya, tapi juga janinnya,” kata dr Victor Tambunan dari bagian Gizi FKUI-RSUP Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Penambahan itu mencakup kalori, protein, kalsium, vitamin, dan mineral.

Untuk kalori, dibutuhkan sebanyak 300 kkal per hari. Kalori sangat penting untuk pembentukan energi tubuh. Sementara itu, kebutuhan protein sekitar 12 gr per hari dan berguna untuk pertumbuhan janin, plasenta, cairan amnion, jaringan uterus, hemoglobin, plasma protein, serta untuk cadangan maternal kala melahirkan dan laktasi. Suplai protein yang dianjurkan, sebagian besar hendaknya dari sumber hewani karena sumber ini menyediakan asam amino dalam kombinasi optimal.

Kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang dan gigi janin, serta peningkatan metabolisme kalsium si ibu. Ibu hamil menahan sekitar 30 gr kalsium selama kehamilan. Sebagian besar ada di tulang yang dapat dengan mudah dimobilisasi untuk pertumbuhan janin pada kehamilan lanjut.

Akan halnya vitamin, yang diperlukan per harinya: 200 mikrogram RE vitamin A; 10 mikrogram vitamin D; 10 mg vitamin E; 65 mg vitamin K; 0,2 mg tiamin; 0,2 mg riboflavin; 0,1 mg niasin; 0,3 mikrogram vitamin B12; dan 150 mg asam folat. Sedangkan mineral yang dibutuhkan per harinya: 20 mg zat besi, 5 mg seng, 400 mg kalsium, 25 mikrogram yodium, 15 mikrogram selenium.

Cukup Dua Gelas Sehari
Nah, susu yang terbuat dari susu sapi dianggap merupakan sumber nutrien yang mendekati ideal, khususnya untuk memenuhi kebutuhan protein dan kalsium bagi ibu hamil dan menyusui. Selain itu, di dalam susu juga terkandung kalori dari gula susu (laktosa), vitamin dan mineral. “Jadi, bisa dibilang susu adalah makanan yang hampir sempurna, hingga bisa dijadikan alternatif untuk mencukupi kebutuhan tambahan makanan bagi ibu hamil,” kata Victor.

Namun, bukan berarti ibu hamil wajib minum susu, lo. Apalagi sampai mengandalkan susu, amat tak dianjurkan. Soalnya, susu juga punya kelemahan, yaitu kurang zat besi. Padahal, zat besi pun amat penting untuk ibu hamil. “Kekurangan zat besi akan membuat si ibu mengalami anemia dan mempengaruhi kecerdasan si janin.” Meski tak tertutup kemungkinan si janin sehat-sehat saja sekalipun ibunya mengalami anemia berat. Artinya, janin tak mengalami kekurangan zat besi sedikitpun. Sebab, adakalanya bayi ibarat parasit, mengisap seluruh persediaan zat si ibu hingga ibu mengalami kekurangan zat-zat tertentu tapi janinnya tak kekurangan. Namun begitu, tetap harus dipikirkan kebutuhan zat besi ini, yang bisa diperoleh dari makanan sumber lain seperti hati sapi, sayur bayam atau sayur-sayuran berdaun hijau.

Lagi pula, bila terlalu banyak minum susu membuat kita jadi tak berselera makan makanan lain. Ingat, kan, susu mengandung protein tinggi? Nah, protein lebih lama diserap oleh lambung dibanding karbohidrat atau vitamin dan mineral. Makanya, hanya dengan minum susu, kadang sudah bikin kenyang. Jadi, minum susu cukup 2 gelas sehari, pagi dan malam. Namun minumnya jangan berbarengan dengan saat makan makanan pokok, tapi harus dipisah. Misal, makan malam jam 19.00, maka susu diminum sebelum tidur sekitar jam 22.00. Begitu pula bila sarapan. Minimal, jaraknya 2-3 jam, boleh diminum sebelum atau sesudah makan.

Jika susu diminum berbarengan dengan makanan pokok, maka sayuran dan beras yang kita makan bisa mengganggu penyerapan kalsium dari susu. Padahal, salah satu yang dipentingkan dari susu adalah kalsiumnya. “Pada sayuran dan kulit ari beras ada serat yang namanya asam fitat. Asam fitat inilah yang menghambat penyerapan dari kalsium itu.” Selain itu, asam fitat juga menghambat penyerapan seng dan zat besi. “Jadi, mineral juga diganggu oleh asam fitat ini.” Adapun yang dimaksud asam fitat ialah asam anorganik yang ada di biji-bijian serta gandum. Asam fitat hanya berguna untuk pertumbuhan tanaman itu sendiri, tapi tidak untuk manusia.

Kelebihan Berat Badan
Dampak lain, bila kebutuhan gizi sudah terpenuhi hanya dari makanan yang kita konsumsi tapi kita tetap ingin minum susu, bisa mengalami kelebihan BB. Padahal, selama kehamilan juga perlu dijaga agar pertambahan BB tak melebihi aturan, yaitu antara 12-15 kg. “Bukankah BB yang meningkat juga berarti mengundang bahaya lain lagi?” ujar Victor. Si ibu bisa mengalami keracunan kehamilan, preeklampsia, maupun diabetes. Bahkan, tubuhnya pun bisa mengalami bengkak, entah di kaki maupun perut, selain juga mengakibatkan si ibu lekas lelah dan sulit menjaga keseimbangan badan.

Jadi, bila kebutuhan gizi si ibu memang sudah terpenuhi dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari, ya, tak perlulah ditambah susu. Lain hal bila si ibu kekurangan gizi akibat morning sickness, misal, “tak mengapa kekurangannya itu diberikan dalam bentuk susu. Kita hitung, makanan pokok yang masuk ada berapa dan kebutuhan dia seberapa, lalu kita ambil selisihnya. Tentunya kebutuhan per individu ibu hamil tak sama, tergantung BB dan TB si ibu. Bila dia butuh 2000 kkal, misal, sedangkan makanan yang masuk hanya 1000 kkal dan yang 1000 kkal-nya lagi terbuang akibat muntah-muntah. Nah, kekurangannya ini bisa dipenuhi dengan susu.”

Namun jangan dibalik, lo Bu. Bukan susunya yang digunakan untuk mencapai kebutuhan gizi ibu hamil, melainkan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Susu hanya sekadar untuk mempermudah mencapai jumlah yang dibutuhkan. Jadi, makanan pokoklah yang harus ditambah. Untuk penambahan kalori, misal, bisa diperoleh dari bahan pokok seperti nasi, jagung, ubi, dan lainnya. Untuk protein, diperoleh dari sumber protein seperti daging, ikan, ayam, telur, tahu, tempe, dan sebagainya. Sedangkan vitamin dan mineral bisa didapat dari sayuran dan buah-buahan.

Dengan demikian, pola makan si ibu juga harus diubah: ia harus makan lebih banyak lagi. Persoalannya, tak semua ibu kuat makan banyak. Nah, bila si ibu makannya sangat sedikit, tentu ia bisa muntah jika dipaksa makan banyak. Padahal, kebutuhan tubuhnya meningkat, perlu tambahan 300 kkal setiap hari, belum lagi tambahan zat-zat lain. Otomatis, kalau makannya sedikit, tentu takkan bisa mengejar kekurangan tersebut. Hingga, sebagian ibu hamil lantas mengambil jalan pintas dengan menambahnya lewat susu. Jadi, karena kurang barulah ditambah dengan susu.

Jaga Kekurangan Makanan
Intinya, jangan menganggap kalau sudah minum susu berarti sudah sehat dan dijamin tak kekurangan apa pun. Ini pendapat yang salah karena makanan tetap harus lengkap dengan menu seimbang. Jadi, tak perlu dipaksakan harus minum susu bila ibu hamil benar-benar tak doyan susu. Asalkan si ibu bisa memenuhi kebutuhan gizinya dari makanan, tanpa minum susu pun tak masalah.

Yang penting, tegas Victor, ibu hamil jangan sampai kekurangan makanan. Soalnya, kekurangan makanan akan berdampak pada janin. Bukankah penyerapan ke janin tergantung si ibu? “Jadi, bila kebutuhan gizi si ibu kurang, ya, bayi juga bisa terkena BBLR atau berat badan lahir rendah, yang akan berdampak pada kualitas si bayi selanjutnya.”

Selain itu, bila kebutuhan ibunya tak terpenuhi, janin pun bisa kekurangan asam folat, yang berdampak pada neural cube defect yang mengakibatkan bayi cacat atau meninggal. “Walaupun kalau dilihat dari pola makan ibu-ibu di negara kita, sebenarnya kekurangan asam folat ini jarang terjadi karena ibu-ibu kita sering makan kacang-kacangan seperti tempe dan tahu,” tutur Victor.

Tak Perlu Susu Khusus Ibu Hamil
“Toh, kandungannya tak beda dengan susu full cream biasa asalkan jangan yang skim karena berarti lemaknya sudah dibuang, padahal lemak salah satu sumber energi pula,” tutur Victor.

Memang, akunya, ada beberapa susu khusus ibu hamil yang ditambahkan zat tertentu semisal asam folat yang berguna untuk pertumbuhan otak bayi atau serabut-serabut sarafnya. Namun, bila kita makan hati sapi dan kacang-kacangan, tak perlu lagi harus minum susu mengandung asam folat.

Terlebih, dokter kandungan pun akan memberikan resep tablet asam folat buat ibu hamil jika memang si ibu membutuhkannya. Namun bila kebutuhan asam folat dalam tubuhnya sudah terpenuhi dari makanannya, dokter takkan memberikan. Jadi, tak ada alasan untuk mengonsumsi susu yang mengandung asam folat ya Bu. Apalagi harganya biasanya tak murah kan?

Susu Kedelai
Dibanding susu sapi, susu kedelai memiliki zat besi lebih banyak. Namun kekurangannya, “susu kedelai mengandung asam fitat yang bisa menghambat penyerapan zat besi. Hingga, zat besi yang banyak itu jadi tak berguna karena tetap tak terserap dengan bagus,” jelas Victor.

Selain itu, susu kedelai berasal dari nabati dan kualitasnya tak sebagus susu hewani. “Protein hewani punya nilai biologi lebih tinggi karena terdiri asam amino esensial yang komplet, sedangkan protein nabati asam aminonya tak lengkap.”

Belum lagi susu nabati tak mengandung laktosa sehingga karbohidratnya sama dengan beras, yaitu berasal dari pati. Makanya, susu ini bagus buat orang yang tak tahan laktosa atau mengalami intoleransi laktosa.

Deadline Vaksin Haram

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=7187&Itemid=1

Deadline Vaksin Haram

Kamis, 10 Juli 2008
Masa berlaku status kedaruratan vaksin berbahan baku haram yang dikeluarkan LPPOM- MUI kepada PT Bio Farma berakhir tahun 2008 ini.  Demikian ungkap LPPOM

Hidayatullah.com–Masa berlaku status kedaruratan vaksin berbahan baku haram yang dikeluarkan LPPOM- MUI kepada PT Bio Farma berakhir tahun 2008 ini.

Namun hingga kini usaha yang dilakukan perusahaan farmasi nasional produsen tunggal vaksin di Indonesia tersebut belum menghasilkan apa-apa.

Demikian diungkap Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosemetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Dr M. Nadratuzzaman Hosen kepada http://www.hidayatullah.com di sela-sela acara Pameran Halal Internasional di Jakarta, pekan lalu.

Menurut Nadratuzzaman, untuk menghasilkan vaksin halal sebenarnya tidak sulit. Yang menjadi masalah, lanjutnya, adalah lemahnya political will pemerintah terhadap masalah halal-haram ini. “Buktinya, Malaysia saja sudah bisa menghasilkan vaksin halal,” tandasnya.

Seperti dilansir Majalah Suara Hidayatullah edisi September 2007, seluruh vaksin yang beredar di dunia saat ini, termasuk vaksin meningitis yang diberikan kepada seluruh jemaah haji,  menggunakan bahan  haram dalam pembuatannya. Di antaranya adalah enzim babi, ginjal kera, ginjal babi, hingga janin bayi hasil aborsi.

Tripsin babi

Salah satu unsur haram yang terdapat dalam vaksin adalah tripsin, enzim yang didapat dari pankreas babi. Menurut penjelasan Ketua Dewan Penasihat LPPOM-MUI, Prof Jurnalis Uddin, tripsin babi sebenarnya bukanlah bahan baku vaksin. Dalam proses pembuatan vaksin, tripsin hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein).

Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan. ”Hingga jejaknya pun tidak terlihat lagi,” jelas Prof. Jurnalis. Namun karena sudah tersentuh unsur haram dan najis, status kehalalan vaksin jadi bermasalah.

Direktur Pemasaran PT Bio Farma, Sarimuddin Sulaeman mengatakan, Bio Farma sebenarnya telah mengusahakan pengganti tripsin babi sejak tahun 2006.. Penelitian ini memakan waktu tiga tahun. Namun untuk sementara tripsin tersebut masih tetap digunakan.  [surya/www.hidayatullah.com]

50 Ekor Kambing Mati Setelah Disuntik Vaksin Anthrax

08/12/2004
18:52 WIB
50 Ekor Kambing Mati Setelah Disuntik Vaksin Anthrax
*Bagus Kurniawan* – detikcom  *Yogyakarta* -

Diperkirakan lebih dari 50 ekor kambing mati setelah disuntik vaksin anthrax di Kabupaten Sleman – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Namun diperkirakan jumlahnya akan bertambah karena hewan ternak yang divaksin itu lebih dari 1.000 ekor.

Puluhan ekor kambing tersebut mati setelah disuntik vaksin anthrax oleh petugas bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman pada tanggal 29-30/11/2004 lalu.
Kambing yang mati itu sebagian besar milik warga Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem terutama di Dusun Sawungan, Purworejo, Wonorejo, Banteng dan Boyong.

“Kami mau saja ketika ada petugas mantri hewan yang memberikan vaksn anthrax pada akhir bulan November lalu,” kata Suwaryo warga dusun Purworejo Desa Hargobinangun, Rabu (8/12/2004).
Menurut dia, dari lima ekor kambing yang dimilikinya sudah dua ekor yang mati pada hari Senin (6/12/2004) dan Selasa (7/12/2004).
“Sekarang tinggal tiga ekor, kami khawatir kambing-kambing itu juga akan mati semua setelah divaksin,” katanya.

Suwaryo mengatakan, kambing-kambing yang mati itu dengan tandai di bagian dubur dan alat kelamin mengalami pembengkakan.
Kambing yang sudah divaksin, sebelum mati justru tidak mampu berjalan/lumpuh dan tidak mau makan.
Jumlah ini bisa bertambah banyak karena di Dusun Purworejo sedikitnya terdapat 6 orang yang memelihara kambing maupun hewan ternak lainnya.

Sedangkan di Desa Hargobinangun sendiri terdapat 30 orang yang punya kambing. Sementara itu menurut Kepala Desa Hargobinangun Mulyono, jumlah kambing di desa tersebut sekitar 1.000 ekor.
Jumlah hewan ternak sapi sekitar 2.300 ekor dan kuda sebanyak 3 ekor. Sedangkan babi tidak ada.

“Kami juga bingung akibat peristiwa ini. Tetapi kasus ini sudah kami laporkan kepada Dinas untuk ditindaklanjuti.
Sayangnya dinas belum memberikan penjelasan kepada warga,” kata Mulyono.
Menurut Mulyono, untuk meredakan keresahan warga, pihak desa setempat bersama Ketua DPRD Sleman Rendradi Suprihandoko dan ketua Komisi B DPRD Sleman Farchan Hariem memberikan bantuan sumbangan sebesar Rp 50 ribu kepada pemilik ternak yang mati.
“Kami juga menuntut kepada dinas ataupun pemda agar bersedia memberikan ganti rugi karena kambing bagi warga Hargobinangun merupakan harta simpanan mereka,” imbuhnya.
Akibat peristiwa itu, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman Ir Achmad Yulianto telah melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap kambing-kambing yang mati setelah divaksin.

Menurut Yulianto, program vaksin di wilayah Sleman karena merupakan daerah endemik Antraks.
Vaksinisasi hewan ternak itu telah dimulai sejak bulan Oktober 2004 dengan menggunakan vaksin yang di produksi PT Pusvepma.
“Kami belum dapat menyimpulkan apa penyebabnya. Kami masih menunggu hasil penelitian Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan di Bogor dan pengujian dilaboratorium Fakultas Kedokteran Hewan UGM,” katanya. *
(nrl)

Kasubdin Pendidikan dan Dinas Kesehatan Subang Kurang Respon atas Kematian Bocah SD Pasca Imunisasi

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&dn=20071202141005

Kasubdin Pendidikan dan Dinas Kesehatan Subang Kurang Respon atas Kematian Bocah SD Pasca Imunisasi
Oleh : Pirdaus

03-Des-2007, 11:23:49 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia – Kepala Sub Dinas Pendidikan (Kasubdin) TK/SD Kabupaten Subang, Kusdinar kurang peduli terhadap siswa sekolah dasar (SD) Cintawinaya Desa Salamjaya Kecamatan Pabuaran yang menjadi korban tewas pasca Imunisasi.

Kurang pedulinya Kasubdin muncul ketika dikonfirmasi RAKA melalui telepon selulernya, Kusdinar tidak memberikan komentar atas pertanyaan wartawan dengan tewasnya Erna Arwati Binti Taman (6) siswa kelas I SDN Cintawinaya Desa Salamjaya Kecamatan Pabuaran, warga Bakan Cingcau Rt.29/12 Desa Pringkasap Kecamatan Pabuaran. Saat itu Kusdinar menyarankan kepada RAKA agar mengklarifikasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Subang. “Coba klarifikasi ke Dinkes,” ucap Kusdinar.

Ucapan Kasubdin TK/SD Kabupaten Subang tersebut bukanlah jawaban yang diharapkan RAKA bahkan mungkin oleh semua pihak, soalnya nasib sial yang menimpa Erna Arwati siswa kelas I SDN Cintawinaya, Ketua RT, Kadus dan Aparat Desa Pringkasap semestinya pihak sekolah maupun dinas pendidikan memeberikan perhatian dan ditangani secara serius baik oleh sekolah maupun tim pelaksana Imunisasi dan dinas kesehatan Kabupaten Subang.

“Erna Arwati bicah kecil yang menjadi korban tewas pasca Imunisasi tidak mendapat perhatian serius baik dari pihak Dinkes maupun dinas Pendidikan Subang, bahkan pihak sekolah pun kurang respon adanya kejadian tersebut,” ujar Ketua RT 29/12, Enay dan Kepala Dusun (Kadus) Bakan Cingcau, Tarim.

Karena pihak terkait kurang respon terjadinya korban tewas pasca Iminisasia yang menimpa warganya Ketua RT dan Kadus mendatangi kantor Desa Pringkasap dan pihak Desa mengundang salah seorang dokter Puskesmas Pringkasap, dr.Elan, salah seorang dokter yang ikut terlibat menangani Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Terlihat kekecewaan Ketua RT dan Kadus ketika mendatangi kantor Desa Pringkasap Kepala Desa Pringkasap tidak berada ditempat dan luapan kemarahannya tertuju kepada dr.Elan yang datang kekantor Desa langsung memberikan keterangan kepada Ketua RT, Kadus dan aparat Desa dipantau RAKA. Pada pertemuan tersebut terjadi perdebatan antara dr.Elan dan aparat Desa, Ketua RT dan Kadus dipicu pembelaan dr.Elan yang dinilai tidak mau disalahkan atas tewasnya Erna.

Menurut dr. Elan tewasnya Erna tidak ada hubungannya dengan Imunisasi namun karena ada penyakit penyerta muncul pasca Imunisasi, sebab sebelum Imunisasi Erna mengalami sakit batuk dan sakit panas sembuh setelah diobati dengan obat warung kemudian ketika Erna disuntik Imunisasi (Sabtu,24/11) dalam keadaan sehat.

“Jelas sekali tim Imunisasi Puskesmas Pringkasap tidak melakukan kesalahan pada saat Imunisasi, Erna dalam keadaan sehat, tidak terjadi ketakutan yang berlebihan sebelum dan setelah disuntik. Erna sehat-sehat saja. Adapun terjadi panas itu merupakan reaksi obat suntik pada Imunisasi,” jelas dr. Elan.

Ketua RT 29/12 Keboncau, Enay, membantah keras atas pengakuan dr. Elan bahwa Erna ketika disuntik tidak terjadi ketakutan yang berlebihan, sebab ketika dirinya mengkonfirmasikan kepada kakak dan orang tua Erna, bahwa Erna ketika akan disuntik terjadi ketakutan lari dari ruangan kelas mendekati dan merangkul kakaknya bernama Laela murid kelas V di sekolah yang sama.

“Kata Kakak dan orang tua Erna, saat akan disuntik Erna merangkul kakaknya menolak untuk disuntik, dan bahkan ketakutan Erna tampak menggigil dan takut untuk disuntik. Ketika Erna diraih oleh guru kelasnya kakak Erna tidak kuasa untuk menahan adiknya dan Erna dibawa ke kelas oleh guru kelasnya seperti dipaksa di suntik Imunisasi,” ujar Enay.

Masih kata Enay, pasca Imunisasi dirinya mendapat laporan dari orang tua Erna, Taman, bahwa Erna mengalami sakit panas yang hebat, muntah-muntah dan menggigil serta seperti ketakutan ketika menghadapi orang yang tidak dikenal. Sepengetahuan Enay, kejadian seperti itu baru pertama kali dialami Erna karena sakit sebelumnya tidak terjadi sakit yang berlebihan.

“Memang Erna pernah sakit batuk dan panas, namun cukup diobati dengan obat warung sembuh, dan ketika panas tidak terjadi ada rasa takut, mengigau dan kejang-kejang. Saya menilai kondisi Erna seperti itu terjadi setelah di Imunisasi di sekolahnya dan saya sebagai Ketua RT berkewajiban untuk mengurusi atas tewasnya Erna dampak dari Imunisasi dan pihak-pihak yang berwenang untuk mempertanggungjawabkan atas kejadian tersebut,” tegas Enay.

Mendapat teguran keras seperti itu, dr. Elan bersikukuh memberikan keterangan pembelaan kepada Ketua RT, Kadus dan aparat Desa Pringkasap bahkan demikian pula terhadap wartawan, menurutnya kematian Erna tidak ada hubungannya dengan Imunisasi.

“Bapak-bapak harus mengerti bahwa pihak kami hanya melakukan tugas Imunisasi atas program rutin pemerintah, sekali lagi kematian Erna tidak ada hubungannya dengan Imunisasi,” terang dr. Elan yang terkesan membela diri.

Kesekian kalinya dr. Elan memberikan keterangan pembelaan diri kepada aparat Desa, bikin marah Kadus Bakan Cingcau, Tarim, karena menurutnya pihak Puskesmas Pringkasap harus bertanggungjawab tewasnya Erna, apapun pembelaan pihak Puskesmas merupakan pembelaan yang tidak bertanggungjawab.

“Timbulnya sakit Erna separah itu dan menimbulkan kematian Erna, sebab musababnya setelah di Imunisasi, boleh saja pihak Puskesmas memberikan jawaban pembelaan namun kebenarannya nanti setelah ada di pihak kepolisian,” ancam Tarim.

Kepada wartawan, ketua RT dan Kadus Bakan Cingcau kemarahan dan kepeduliannya timbul karena pasca Imunisasi terjadi sakit berkelanjutan yang dialami Erna tidak dipantau secara intensif oleh pihak Puskesmas Pringkasap. Hal itu diketahui, sambung Kadus Tarim, ketika dirinya menanyai orang tua Erna, pasca Imunisasi timbul sakit panas yang berkelanjutan orang tua Erna melakukan pengobatan Erna harus berlari-lari kecil sendiri tanpa mendapat respon yang serius dari pihak Puskesmas Pringkasap.

“Padahal orang tua Erna pertama kali berobat kepada Kepala Puskesmas Pringkasap, Bidan Maryam. Dan bidan Maryam tahu bahwa sakitnya Erna pasca Imunisasi, namun bidan Maryam tidak melakukan antisipasi dengan cepat dan terkesan membiarkan, hingga Erna mengalami panas yang memuncak, pihak Puskesmas Paringkasap tidak juga melakukan upaya yang optimal hingga Erna meninggal,” tegas Kadus Tarim.

Sementara Kepala Desa Pringkasap, Aji Darki Sopandi yang disebut-sebut sebagai penengah musyawarah antara keluarga korban dan pihak Puskesmas Pringkasap ketika akan ditemui wartawan tidak berada di kantornya, menurut salah seorang bawahannya bahwa Kepala Desa sedang ada keperluan keluar,” Kepala Desa sedang rapat di Desa Kedawung Kecamatan Pabuaran,” ujar salah seorang juru tulis Desa Pringkasap. (pirdaus).

Waspadai Efek Imunisasi

http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman%7C0%7C0%7C8%7C713

Waspadai Efek Imunisasi
Mother And Baby Tue, 02 Mar 2004 14:31:00 WIB

Imunisasi memang penting untuk membangun pertahanan tubuh bayi. Tetapi, orangtua masa kini seharusnya lebih kritis terhadap efek samping imunisasi yang mungkin menimpa Si Kecil.

Pertahanan tubuh bayi dan balita belum sempurna. Itulah sebabnya pemberian imunisasi, baik wajib maupun lanjutan, dianggap penting bagi mereka untuk membangun pertahanan tubuh. Dengan imunisasi, diharapkan anak terhindar dari berbagai penyakit yang membahayakan jiwanya.

Di lain pihak, pemberian imunisasi kadang menimbukan efek samping. Demam tinggi pasca-imunisasi DPT, misalnya, kerap membuat orangtua was-was. Padahal, efek samping ini sebenarnya pertanda baik, karena membuktikan vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh tengah bekerja. Namun, kita pun tidak boleh menutup mata terhadap fakta adakalanya efek imunisasi ini bisa sangat berat, bahkan berujung kematian. Realita ini, menurut Departemen Kesehatan RI disebut “Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi”(KIPI). Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (KN PP) KIPI, KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi.

Tidak Ada yang Bebas Efek Samping
Menurut Komite KIPI, sebenarnya tidak ada satu pun jenis vaksin imunisasi yang aman tanpa efek samping. Oleh karena itu, setelah seorang bayi diimunisasi, ia harus diobservasi terlebih dahulu setidaknya 15 menit, sampai dipastikan tidak terjadi adanya KIPI (reaksi cepat).

Selain itu, menurut Prof. DR. Dr. Sri Rejeki Hadinegoro SpA.(K), untuk menghindari adanya kerancuan antara penyakit akibat imunisasi dengan yang bukan, maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu. “Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat. Dilihat dari gejalanya pun, dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya,” terang Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.

Pada umumnya, semakin cepat KIPI terjadi, semakin cepat gejalanya. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (pasca-vaksinasi rubella), bahkan 42 hari (pasca-vaksinasi campak dan polio). Reaksi juga bisa diakibatkan reaksi simpang (adverse events) terhadap obat atau vaksin, atau kejadian lain yang bukan akibat efek langsung vaksin, misalnya alergi. “Pengamatan juga ditujukan untuk efek samping yang timbul akibat kesalahan teknik pembuatan, pengadaan, distribusi serta penyimpanan vaksin. Kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul kebetulan,” demikian Sri.

Penelitian Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM), AS, melaporkan, sebagian besar KIPI terjadi karena faktor kebetulan. “Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan atau pragmatic errors),” tukas dokter yang berpraktek di RSUPN Cipto Mangunkusumo ini.

Stephanie Cave MD, ahli medis yang menulis “Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi Pada Anak” menyebutkan, peluang terjadinya efek samping vaksin pada bayi dan anak-anak adalah karena mereka dijadikan target imunisasi massal oleh pemerintah, pabrik vaksin, maupun dokter. Padahal, imunisasi massal yang memiliki sikap “satu ukuran untuk semua orang” ini sangat berbahaya. Karena, “Setiap anak adalah pribadi tersendiri, dengan bangun genetika, lingkungan sosial, riwayat kesehatan, keluarga dan pribadi yang unik, yang bisa berefek terhadap cara mereka bereaksi terhadap suatu vaksin,” demikian Cave.

Beberapa Kejadian Pasca-Imunisasi
Secara garis besar, tidak semua KIPI disebabkan oleh imunisasi. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa faktor KIPI yang bisa terjadi pasca-imunisasi:

1. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusukan jarum suntik, baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan. Sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope atau pingsan.

2. Reaksi vaksin
Gejala KIPI yang disebabkan masuknya vaksin ke dalam tubuh umumnya sudah diprediksi terlebih dahulu karena umumnya “ringan”. Misal, demam pasca-imunisasi DPT yang dapat diantisipasi dengan obat penurun panas. Meski demikian, bisa juga reaksi induksi vaksin berakibat parah karena adanya reaksi simpang di dalam tubuh (misal, keracunan), yang mungkin menyebabkan masalah persarafan, kesulitan memusatkan perhatian, nasalah perilaku seperti autisme, hingga resiko kematian.

3. Faktor kebetulan
Seperti disebut di atas, ada juga kejadian yang timbul secara kebetulan setelah bayi diimunisasi. Petunjuk “faktor kebetulan” ditandai dengan ditemukannya kejadian sama di saat bersamaan pada kelompok populasi setempat, dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi.

4. Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab, maka untuk sementara dimasukkan ke kelompok “penyebab tidak diketahui” sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya, dengan kelengkapan informasi akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.

‘Imunisasi itu Aman’ Ilmu Pengetahuan atau Fiksi?
Keraguan tentang aman-tidaknya imunisasi bukan sesuatu yang mengada-ada. Saat ini sudah ada puluhan ribu kejadian buruk akibat imunisasi yang dilaporkan, dan puluhan ribu lainnya yang tidak dilaporkan. Pada anak-anak, imunisasi (dan antibiotik) bertanggung jawab untuk sebagian besar reaksi negatif dibanding obat-obat resep lainnya. Jadi realitanya, tidak ada obat yang aman untuk setiap anak. Dan, beberapa obat lebih berbahaya daripada beberapa obat lainnya.

Keamanan imunisasi seharusnya berlandaskan pada ilmu pengetahuan yang baik, bukan hipotesa, pendapat, keyakinan perorangan, atau pengamatan. Namun faktanya, hingga kini banyak yang tidak diketahui para ilmuwan tentang cara kerja imunisasi di dalam tubuh pada tingkat sel dan molekul. Tes yang memadai untuk imunisasi juga tidak ada. Yang juga kurang, adalah pengertian tentang efek jangka panjang dari imunisasi massal bagi bayi dan anak-anak. Yang diketahui adalah, sejak akhir tahun 1950-an, ketika imunisasi massal mulai diwajibkan di Amerika Serikat, telah terjadi peningkatan kasus kelainan sistem imun dan persarafan, termasuk kesulitan memusatkan perhatian, asma, autisme, diabetes anak-anak, sindroma keletihan menahun, kesulitan belajar, rematoid artritis, multipel sklerosis, dan masalah kesehatan yang menahun lainnya.

Di Amerika Serikat dan tempat-tempat lain di dunia, adanya peningkatan besar jumlah masalah medis yang terkait dengan imunisasi yang dilaporkan orangtua dan profesional kedokteran, telah mencetuskan suatu gerakan yang menuntut dilakukannya lebih banyak kajian yang lebih baik tentang potensi efek buruk jangka panjang atau menahun dari imunisasi. (BOD/What Your Doctor May Not Tell You About Children’s Vaccination)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Diimunisasi, Balita Tewas Mengenaskan

Sabtu, 01 April 2006

Diimunisasi, Balita Tewas Mengenaskan

  • Diduga Menderita Hemofilia

WONOGIRI - Reza Pratama (50 hari), seorang bocah di Dusun Poncol RT 02/RW VII Desa Jeporo Kecamatan Jatipurno Kabupaten Wonogiri, meninggal setelah menerima imunisasi di Puskesmas Jatipurno.

Putra pertama pasangan Yuli (21) dan Ririn Handayani (23) ini, mengalami pendarahan terus-menerus setelah menerima tusukan jarum imunisasi di lengan dan pahanya.

Korban adalah cucu pertama Kepala Dusun Poncol Ny Katinah Sunardi. Jenazahnya dimakamkan di kuburan Poncol, Kamis malam (31/3) pukul 22.00, setelah nyawanya gagal diselamatkan oleh tim medis RSUD Wonogiri.

Menurut penuturan kakeknya, Sunardi, Reza sebelumnya dalam keadaan segar bugar. Dia lahir di Jakarta dan ketika berumur empat hari dibawa ibunya pulang ke Dusun Ploso. Ayahnya, Yuli, sampai sekarang masih berada di Jakarta bekerja sebagai petugas keamanan sebuah pusat perbelanjaan di Ibu Kota.

Ibu korban, Ririn, Jumat (31/3), terlihat shock dan dirundung duka mendalam. Wajar saja, lantaran mendiang merupakan putra pertama pasangan yang baru beberapa tahun menikah itu.

Meski demikian, Ririn menyatakan pasrah dan tidak akan menuntut. Menuntut pun, cucu saya tidak akan dapat hidup lagi,” ujar Sunardi sambil meneteskan air mata, kemarin.

Meski tidak berniat menuntut, Sunardi berharap tragedi kematian Reza yang terjadi setelah diimunisasi itu hendaknya dapat memberikan peringatan kepada para petugas medis. Terutama petugas kesehatan di puskesmas, agar di kemudian hari bersikap peduli serta berhati-hati dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. ”Sebab anak itu sejak dari Jakarta sehat dan segar bugar. Tapi malahan meninggal setelah diimunisasi,” keluhnya.

Kepala Puskesmas Jatipurno dokter H Hambyoko, Jumat (31/3), menjelaskan, kematian Reza bukan karena imunisasi. Dia membenarkan jika balita itu mendapatkan suntikan imunisasi pertama untuk BCG dan Hepatitis B. Namun pemberian imunisasi ini telah dilakukan sesuai prosedur medis. Penyebab kematiannya, tambah Hambyoko, disebabkan adanya kelainan darah korban yang sulit membeku atau istilah medisnya hemofili.

Untuk menyelamatkan korban yang saat itu mengucurkan darah tak berhenti, tim medis telah memberikan adrenalin sebagai upaya menghentikannya.

Usaha ini berhasil, tapi selang beberapa saat kemudian terjadi pembengkakan, karena pendarahan itu berpindah di atas daging di bawah kulit. Berkait itu, korban kemudian dirujuk ke rumah sakit. Namun belum sempat tertolong, maut lebih dahulu menjemputnya. ”Penyebab kematian karena kelainan darah yang sulit membeku. Ini sebenarnya dapat dicermati dari silsilah keluarga,” kata dokter Hambyoko.

Berkait musibah itu, Hambyoko bersama tim medis puskesmas serta Camat Jatipurno Drs Yogik Subiyakto, Jumat (31/3), mendatangi rumah korban untuk memberikan pemahaman pada keluarganya. (P27-67v)

Boom! Autisme Terus Meningkat

Boom! Autisme Terus Meningkat

http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/08/1739470/boom.autisme.terus.meningkat

Minggu, 8 Juni 2008 | 17:39 WIB

Oleh : Elok Dyah Messwati dan Evy Rachmawati

PERKEMBANGAN autisme yang terjadi sekarang ini kian mengkhawatirkan. Mulai dari tahun 1990-an, terjadi boom autisme. Anak-anak yang mengalami gangguan autistik makin bertambah dari tahun ke tahun.

Di Amerika Serikat saat ini perbandingan antara anak normal dan autis 1:150, di Inggris 1:100, sementara Indonesia belum punya data tentang itu. Belum pernah ada survei mengenai data anak autis di Indonesia, kata Ketua Yayasan Autisme Indonesia dr Melly Budhiman SpKJ saat diskusi mengenai autisme di harian Kompas, 5 Mei 2008.

Melly Budhiman memaparkan, autisme adalah suatu gangguan neurobiologis yang terjadi pada anak di bawah umur 3 tahun. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku.

Autisme bisa terjadi kepada siapa saja, tidak mengenal etnis, bangsa, keadaan sosial ekonomi, dan keadaan intelektualitas orangtua. Perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan yang mengalami gangguan autistik adalah 4:1. Kecerdasan anak-anak autis sangat bervariasi, dari yang sangat cerdas sampai yang sangat kurang cerdas.

”Jadi kalau dulu dikatakan kalau anak autis pasti anak-anak cerdas itu tidak benar, atau anak autis itu kebanyakan retardasi mental itu juga tidak benar,” kata Melly Budhiman.

Diagnosa ditegakkan secara murni secara klinis tanpa dengan alat pemeriksaan atau bantuan apa pun. ”Jadi kalau kita mendiagnosa anak autis murni secara klinis dengan anamnese, dengan tanya jawab itu harus sangat cermat: mulai dari kehamilan, kelahiran, dan masa kecilnya,” kata Melly Budhiman.

Sebelum 3 tahun

Untuk bisa melakukan diagnosa yang tepat, tentu saja dibutuhkan ketajaman dan pengalaman klinis. Harus benar-benar diperhatikan kriteria diagnostik yang sudah disepakati oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Jadi untuk mendiagnosa autis itu sudah ada kriterianya.

”Apakah ada gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi, juga perilaku. Kriterianya sebenarnya sudah jelas,” tegas Melly Budhiman.

Menurut Melly Budhiman, diagnosa itu harus sudah ditegakkan sebelum anak mencapai usia tiga tahun. Sering kali orangtua datang ke dokter dan dokter menyatakan sebaiknya menunggu hingga usia anak sudah tiga tahun, itu artinya sudah terlambat.

Sebelum tiga tahun diagnosa sudah harus ditegakkan. Deteksi dari permulaan gejala sudah bisa dilakukan jauh sebelum umur tiga tahun. Ada anak yang sudah menunjukkan gejala autisme sejak lahir, tetapi ada anak yang sudah berkembang secara normal namun kemudian berhenti berkembang, kehilangan kepandaian yang telah dicapainya dan timbul gejala-gejala autisme.

”Bila terdeteksi adanya gejala autisme pada umur berapa pun, mulailah dengan melakukan interaksi yang intensif dan pantau terus anak tersebut setiap bulan. Misalkan enam bulan, kok, anak ini tidak mau menatap mata, umur tujuh bulan juga harus terus dipantau,” kata Melly Budhiman.

Dalam hal ini semua pemeriksaan adalah untuk mencari kemungkinan pencetus. Jika si ibu waktu hamil mengalami rubela, maka sebaiknya dilakukan city scan MRI, mencarinya ke arah otak apakah ada kelainan. Jika seandainya waktu lahir si anak terlilit tali pusar sehingga kekurangan O2, bisa dilakukan MRI dan kemudian EEG.

”Jika ibu menyatakan kalau setelah divaksinasi, kondisi si anak kemudian makin mundur, kita cari apakah anak ini keracunan merkuri. Darahnya harus diperiksa untuk mencari tahu berapa kadar logam berat, logam merkuri, diperiksa rambutnya, apakah merkurinya sudah lama menumpuk di tubuh dan tidak bisa keluar, misalnya,” papar Melly Budhiman.

Setelah anak terdiagnosa, langkah berikutnya adalah melakukan assessment yang dilakukan oleh satu tim psikolog, speech therapist untuk menentukan kemampuan si anak sebenarnya di bidang apa.

”Misalnya speech-nya terbelakang, tetapi keseimbangannya bagus, bisa lari, bisa lompat. Jadi lebih penting ke speech therapy. Jika perilakunya enggak karuan, maka diberi terapi perilaku,” kata Melly Budhiman.

Terapi okupasi juga bisa diberikan untuk melatih motorik halus. ”Anak-anak ini biasanya tenaganya kuat. Jika memukul orang bisa keras sekali, tetapi kalau disuruh memegang pensil tidak bisa, maka dia perlu terapi okupasi,” kata Melly Budhiman. Yang terpenting penanganan terpadu harus diberikan kepada anak-anak autis ini.

Kecurigaan pada vaksin

Sejauh ini, belum diketahui pasti penyebab autisme. Namun, faktor genetik berperan penting pada tercetusnya gejala. Bila tidak ada kelemahan genetik, kemungkinan gejala-gejala autisme tidak tercetus. Konsep baru mengatakan, gejala autisme timbul akibat racun-racun dari lingkungan yang tidak bisa dibersihkan lantaran anak memiliki kelemahan genetik.

”Faktor pemicu autisme itu banyak, tidak mungkin satu pemicu saja. Selain keracunan logam berat, anak-anak penyandang autisme biasanya juga mengalami alergi, kondisi pencernaannya juga jelek,” kata Melly. Ada kecurigaan, salah satu faktor pencetus autisme adalah logam berat merkuri.

Di Palangkaraya, misalnya, ada pusat terapi autisme yang muridnya berjumlah hampir 200 anak. Padahal, jumlah penduduknya hanya sekitar 250.000 jiwa. Jadi, prevalensi autisme di daerah itu satu per 250 penduduk. Setelah ditelusuri, warga setempat sehari-hari mengonsumsi ikan dari Sungai Kahayan, padahal sungai itu jadi lokasi pertambangan liar emas sekaligus pembuangan merkurinya.

Repotnya, menurut Melly, banyak vaksin yang beredar di pasaran mengandung merkuri. Satu suntikan vaksin dari luar negeri biasanya merkuri yang dikandung 25 mikrogram. Bahkan, ada vaksin yang kandungan merkurinya lebih dari itu. ”Keterkaitan vaksin sebagai pencetus autisme masih jadi perdebatan di dunia internasional. Ini tentunya perlu penelitian lebih lanjut,” ujarnya.

Saat ini seorang anak hanya boleh menerima merkuri 0,1 mikrogram per kilogram berat badan. Jadi, anak Indonesia yang rata-rata memiliki bobot lahir 2,5-3 kilogram hanya boleh menerima 0,3 mikrogram. Akan tetapi, kenyataannya, sebagian bayi diimunisasi dengan vaksin yang mengandung merkuri sebanyak 25 mikrogram. ”Sekarang ada vaksin yang bebas merkuri, tapi harganya mahal,” kata Melly.

Terkait dengan isu bahwa vaksin MMR merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya autisme pada anak, Menteri Kesehatan Siti Fadilah tidak bersedia berkomentar mengenai masalah itu. ”Ini masih perlu pengkajian lebih mendalam lagi. Kami perlu mengecek apakah memang benar vaksin itu terkait dengan autis,” katanya menambahkan.

Dukungan pemerintah

Sejauh ini, pemerintah dinilai kurang memberi perhatian terhadap masalah autisme yang kian merebak di sejumlah daerah. Pelayanan terapi bagi penyandang autisme masih sangat terbatas dan biayanya relatif mahal sehingga sulit dijangkau para orangtua dari anak penyandang autisme.

Banyak orangtua yang kesulitan membesarkan dan memberikan terapi terbaik bagi anak mereka yang menyandang autisme. Jika tidak dideteksi dan diterapi dengan tepat sejak dini, gangguan perkembangan itu akan membuat anak-anak penyandang autisme itu tidak bisa mandiri, sulit berkomunikasi dan berkarya di lingkungan masyarakat.

Pada kesempatan terpisah, Siti Fadilah menegaskan, pemerintah mendukung layanan kesehatan bagi anak-anak yang menyandang autisme. Salah satunya dengan memberi penyuluhan dan menyediakan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas-puskesmas. Selain itu, pemerintah akan mengalokasikan dana untuk penanganan anak-anak berkebutuhan khusus termasuk autisme.

Namun diakui, penanganan kesehatan bagi para penyandang autisma masih belum jadi prioritas pembangunan bidang kesehatan. ”Indonesia masih disibukkan dengan pengendalian penyakit menular. Penanganan autisma masih belum jadi prioritas utama,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes Lily S Sulistyowati.

Sejauh ini, pemerintah belum mampu menyediakan pusat-pusat terapi bagi penyandang autisma. Tempat-tempat pelayanan terapi masih dikelola pihak swasta dengan biaya cukup mahal. Padahal, sebagian besar penyandang autisma butuh sejumlah terapi untuk mengatasi gangguan perkembangan, terutama kemampuan komunikasi.

Mengingat meningkatnya angka kasus autisma di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, Sekretaris Jenderal Depkes Sjafii Ahmad menyatakan, Depkes berencana mendirikan Pusat Inteligensia yang menangani masalah terkait gangguan inteligensia dan perkembangan termasuk autisma. ”Nantinya, pusat inteligensia juga akan didirikan di tiap provinsi,” ujarnya.

Tentunya, janji pemerintah untuk lebih serius menangani masalah autisme ditunggu realisasinya. Bagaimanapun, para penyandang autisme merupakan anak-anak bangsa yang ikut menentukan masa depan Indonesia. Jangan sampai mereka kelak jadi generasi yang hilang.

Menkes Jamin Vaksin Indonesia Halal Digunakan

http://www.eramuslim.com/berita/nas/8504125543-menkes-jamin-vaksi-indonesia-halal-digunakan.htm

Menkes Jamin Vaksin Indonesia Halal Digunakan

Minggu, 4 Mei 08 14:19 WIB

Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari menjamin kehalalan vaksin yang beredar di Indonesia. Menurutnya ada dugaan asing melakukan upaya pelemahan industri farmasi dalam negeri dengan menghembuskan isu vaksin haram digunakan.

“Masyarakat tidak perlu khawatir, saya jamin kehalalan vaksin yang beredar di Indonesia karena dibuat oleh Pabrik Farmasi dalam negeri Bio Farma, ” ujar Menteri Kesehatan dalam acara bedah buku karyanya: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung di Serang Banten.

Indonesia sendiri, lanjut Menkes, merupakan pasar yang menggiurkan. Namun, di sisi lain Indonesia, sebagian besar juga sudah bisa menyediakan dan memproduksi vaksin sendiri dan tidak tergantung pada negara barat yang maju.

“Hanya tiga negara berpenduduk Islam di dunia ini yang bisa memproduksi vaksin sendiri, yaitu Iran, Malaysia dan Indonesia, ” katanya.

Karena itu, menurut Siti Fadilah, ada negara atau perseorangan yang tidak suka Indonesia mampu memproduksi vaksin sendiri. Selain karena latar belakang motif ekonomi juga dikarenakan motif ideologis. “Salah satunya isu kehalalan vaksin, karena ada dugaan negara lain tidak ingin melihat kita maju, ” kata Menkes.

Yang menjadi keprihatinan Menkes, ada salah satu negara di Timur Tengah yang kurang mendukung program vaksin halal hasil riset dan produksi buatan pabrik dari negara-negara Islam.

“Kami kecewa, negara Islam paling kaya sendiri yang malah membeli vaksin dari Amerika Serikat, dan kurang mendukung upaya memajukan vaksin halal, ” kata Menkes RI yang masuk dalam anggota Menkes negara-negara OKI itu.

Sentimen persaingan bisnis dan motif ideologis dalam hal ini WHO juga disampaikan Ketua Medical Emergency for Rescue Committe (Mer-C) Joserizal Jurnalis. “Biofarma pernah didiskreditkan oleh WHO hanya karena BUMN ini menguasai pasar yang sangat besar, ” kata Jose.

Lebih jauh ia menilai Arab Saudi kurang peka terhadap isu kebersamaan dan ideologis di balik bisnis vaksin ini. Hal itu terbukti dari kewajiban masyarakat seluruh dunia menyuntikkan vaksin meningitis sebelum menunaikan ibadah haji.

“Dan anehnya Arab Saudi membeli vaksin meningitis tersebut dari Amerika Serikat, ” ujarnya. (novel)

Ramai-Ramai Gugat Vaksinasi

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6830&Itemid=1

Ramai-Ramai Gugat Vaksinasi
Selasa, 13 Mei 2008
Ibu-Ibu Amerika Gugat Vaksinasi karena dianggap Berbahan Pengawet Thimerosal, Dituding Sebabkan Autisme

Hidayatullah.com–Pemberian vaksin kepada anak-anak yang bertujuan meningkatkan kekebalan tubuh malah dirasa bermasalah. Itulah yang kini terjadi pada ibu-ibu di Amerika Serikat (AS). Mereka merasa bahwa vaksin dengan bahan pengawet thimerosal yang diberikan kepada anak-anak mereka telah memicu sindrom autisme.

Thimerosal adalah senyawa organomerkuri. Di AS, thimerosal biasa digunakan untuk antiseptik dan antifugal. Kandungan merkuri thimerosal bisa mencapai 49 persen.

Ibu-ibu yang merasa dirugikan kemarin mengajukan gugatan ke pengadilan. Pengacara mereka berusaha menunjukkan bahwa bahan pengawet yang menggunakan merkuri dapat memicu gejala autisme.

Sebagai bukti nyata, seorang anak laki-laki dari Portland, Oregon, akan menjalani serangkaian tes untuk membuktikan hal itu. Pengacaranya menyatakan bahwa bocah tersebut sebelum divaksinasi dalam kondisi sehat, bahagia, dan normal.

Tapi setelah divaksinasi dengan thimerosal, kondisinya mengalami kemunduran. Jika hal itu terbukti benar, ratusan keluarga tersebut akan mendapatkan uang kompensasi.

Secara keseluruhan, hampir 4.900 keluarga telah mengajukan klaim ke Pengadilan Federal AS (pengadilan yang menangani klaim melawan pemerintah AS, Red). Mereka menyatakan bahwa vaksin tersebut menyebabkan autisme dan masalah-masalah saraf pada anak-anak mereka.

Pengacara dari keluarga yang mengajukan gugatan menyatakan bahwa mereka akan menunjukkan bukti bahwa suntikan vaksin yang mengandung thimerosal menyebabkan endapan merkuri di otak. Zat merkuri tersebut telah membangkitkan sel otak tertentu yang memicu autisme sehingga anak cenderung acuh.

“Di beberapa anak, ada cukup merkuri untuk membuat pola neuroinflammatory kronis yang dapat memicu penyakit autisme regresif,” ujar Mike Williams, salah seorang pengacara para ibu tersebut.

Badan ahli khusus dari pengadilan telah menginstruksi penggugat untuk melakukan tes untuk membuktikan teori penyebab autisme tersebut. Mereka juga menunjuk tiga ahli untuk menangani kasus itu.

Tiga kasus di kategori pertama pernah didengar dan diajukan tahun lalu, namun sampai saat ini belum ada keputusannya. Kasus yang disidangkan kemarin difokuskan pada teori kedua tentang penyebab autisme.

Teori tersebut menyatakan bahwa thimerosal yang terdapat dalam vaksin menyebabkan autisme. Para pengacara keluarga itu berharap bisa meyakinkan para ahli bahwa thimerosal menyebabkan peradangan yang memicu autisme regresif.

Namun, banyak di antara anggota komunitas medis merasa skeptis terhadap klaim tersebut. Mereka takut klaim itu akan mengakibatkan beberapa orang tidak melakukan vaksinasi atas anak-anaknya.

“Yang saya sayangkan adalah orang-orang yang antivaksin akan beralih dari satu hipotesis ke hipotesis berikutnya tanpa menengok kasus di belakangnya,” ujar Dr Paul Offit, direktur pusat pendidikan vaksinasi di rumah sakit anak Philadelphia.

Sebenarnya, beberapa tahun belakangan thimerosal telah dihilangkan dari standar vaksinasi anak-anak, kecuali dalam vaksin flu yang tidak dikemas dalam satu dosis. Pusat pengendalian penyakit AS (Centers for Disease Control/CDC) menyatakan bahwa vaksin flu yang mengandung thimerosal hanya tersedia dalam jumlah yang terbatas.

Pada 2004, institut obat-obatan di AS telah mengadakan penelitian tentang penggunaan thimerosal dalam vaksin. Berdasar penelitian tersebut, tidak ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan bahwa penggunaan thimerosal dapat memicu autisme pada anak-anak.

Meski demikian, ratusan keluarga yang menuntut mempunyai pendapat berbeda. Berdasar pengalaman, anak-anak mereka menderita gejala autisme setelah pemberian vaksin dengan thimerosal tersebut.
Website yang dirilis pengadilan menunjukkan bahwa lebih dari 12.500 klaim telah diajukan sejak program vaksinasi dengan thimerosal pada 1987. Dari keseluruhan klaim tersebut, 5.300 klaim adalah kasus autisme dan lebih dari USD 1,7 miliar (Rp 15,7 triliun) telah dibayarkan. Website itu juga menyatakan bahwa saat ini lebih dari USD 2,7 miliar (Rp 24,94 triliun) dana yang berasal dari pajak pertambahan nilai telah disediakan untuk meng-cover jika terjadi masalah dalam program vaksinasi. [ap/cha/berbagai sumber/www.hidayatullah.com

35 Siswa SD Keracunan Susu Murah

35 Siswa SD Keracunan Susu Murah
Sabtu, 10 Mei 2008 | 12:40 WIB

PURWOKERTO, SABTU – Sebanyak 35 siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Bancarkembar dan SD Negeri 2 Bancarkembar, Purwokerto, Sabtu (10/5), mengalami muntah dan mual setelah minum susu isi 120 mililiter yang dipasok dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah Baturraden.

Para siswa langsung dilarikan ke Rumah Sakit DKT Wijaya Kusuma, Purwokerto. Sebanyak 10 siswa di antaranya dirawat secara intensif dan diinfus. Mereka mengaku mual dan kemudian muntah sekitar pukul 09.00, setengah jam setelah minum susu yang dibeli seharga Rp 1.000 per bungkus itu.

Arum Puspitasari (10), siswa kelas V SDN 1 Bancarkembar, mengaku, setelah meminum setengah bungkus susu dirinya mual kemudian muntah. “Perut saya langsung terasa tidak enak dan langsung muntah,” ujarnya. Ica Prianggani (9), siswa kelas IV, juga mengakui hal yang sama. Menurutnya, susu yang diminumnya terasa asam. “Rasanya tidak enak, terus bikin mual,” ucapnya.

Kepala Seksi Informasi BPPTU Baturraden Basuki mengatakan, untuk Sabtu pagi ini sebenarnya pihaknya tak hanya memasok susu ke SD Negeri 1 dan 2 Bancarkembar, melainkan juga ke tujuh SD lainnya di Kecamatan Purwokerto Utara. “Saya juga tidak tahu kenapa keluhan keracunan ini hanya muncul di SD Bancarkembar. Karena itu, nanti kami akan melihat perkembangan selanjutnya,” katanya.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Banyumas Supratini mengatakan, biaya pengobatan siswa yang mengalami keracunan akan ditanggung pemerintah. “Seluruh biaya pengobatan, pemerintah yang akan menanggungnya,” katanya.
MDN
Sumber : KOMPAS

Karima Burns: Cintaku kepada Islam tertambat di Istana Al-Hambra

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6819&Itemid=1

Karima Burns: Cintaku kepada Islam tertambat di Istana Al-Hambra

Sabtu, 10 Mei 2008

Ketika membuka Al-Quran perasaan yang hadir persis seperti orang yang baru saja menemukan kembali anggota keluarganya yang telah lama hilang

Hidayatullah.com–Karima Kristie Burns, MH, ND nama lengkapnya. Karima (39) dikenal sebagai perempuan dengan banyak bakat. Ya sebagai editor, penulis, guru, dan juga pakar herbalis. Di dunia herbalis dia sangat dikenal lewat konsultasi online di website Herb’n Muslim yang dikelolanya sejak 1994. Sejak masuk Islam, dia membuka usaha Herb’n Muslim yang dikenal dengan teknik penyembuhan alami dan islami. Dia juga telah menulis lebih dari 120 artikel kesehatan yang bisa didownload via websitenya itu. Karima menghabiskan separuh hidupnya di Midwest, Iowa (AS), tempat dia dibesarkan. Dan separuhnya lagi di kawasan Timur Tengah (Mesir dan Arab Saudi).

Karima mulai tertarik dengan metode penyembuhan alami justru ketika berupaya menyembuhkan dirinya sendiri yang mengidap penyakit asma, alergi, mudah panik, depresi, dan beberapa penyakit bagian dalam lainnya. Kala itu dia mencoba dengan terapi alami dan bantuan tumbuh-tumbuhan. Dia berkeliling hingga ke Mesir guna mencari berbagai informasi berkenaan penyembuhan tradisional. Dari kegigihannya itu, dia bahkan berhasil memperoleh gelar formal master of herbalist dan doktor bidang naturopathic tahun 1996 dari Trinity College di Dublin, Irlandia. Naturopathic adalah teknik pengobatan alamiah yang meresepkan herbal untuk para pasiennya. Namun tak banyak yang tahu, ketertarikan Karima kepada Islam justru ketika berkunjung ke Spanyol. Dia mengaku terkagum-kagum dengan tulisan Arab di Istana Al-Hambra di kota Granada. Istana itu sendiri dulunya bekas mesjid hingga bekas kaligrafinya masih ada. Berikut penuturan Karima yang disadur dari beberapa sumber.

***

Kenal Islam di Spanyol

Karima Burns awalnya adalah seorang mahasiswi program sarjana studi kawasan Arab di Universitas Iowa, AS. Karima mengaku Islam hadir di hatinya berawal dari membaca rangkaian tulisan ayat suci Al-Quran dalam rangka penyelesaian tugas kuliahnya. Dan dia tak kuasa menghindar dari bisikan hati itu.

Ceritanya, satu ketika dia dan teman-temannya mengadakan studi tur ke Granada, Spanyol. Granada merupakan salah satu bekas kawasan yang pernah dikuasai Islam selama hampir tujuh abad. Kala itu dia sedang duduk-duduk di Istana Al-Hambra. Istana itu dulunya adalah mesjid. Karima takjub melihat jejeran tulisan di dinding gedung tua itu. Baginya itulah tulisan terindah yang pernah dia lihat.

“Bahasa apa itu?” tanyanya pada salah seorang turis Spanyol. ”Bahasa Arab,” sahut turis lokal itu. Hari berikutnya, tatkala pemandu wisata menanyakan buku panduan dalam bahasa apa yang dia inginkan, Karima menjawab spontan bahasa Arab.

“Apa, bahasa Arab? Anda bisa bahasa Arab?” tanya si pemandu terkejut.

“Tidak, tapi tolong berikan juga yang dalam bahasa Inggris,” sahut Karima.

Di akhir tour tas Karima penuh dengan buku-buku petunjuk wisata dari tiap-tiap kota yang dia singgahi di seluruh Spanyol. Dan semuanya dalam bahasa Arab!

“Tas travel saya sudah terlalu penuh hingga saya bermaksud membuang beberapa potong pakaian dan beberapa barang lainnya agar tasnya bisa muat. Namun, untuk buku-buku bahasa Arab rasanya berat untuk ditinggalkan. Buku-buku itu ibarat emas bagi saya. Saya sering membolak-balik halamannya tiap malam. Kata per kata-nya saya amati dengan seksama. Huruf-hurufnya juga unik, beda dengan huruf latin biasa. Saya membayangkan andainya saja bisa menulis dengan huruf yang demikian indah itu. Waktu itu saya punya pikiran pasti akan sangat berharga jika bisa mengetahui bahasa Arab ini. Saya pun berniat dalam hati untuk belajar bahasa ini. Ya satu saat nanti kala kembali ke kampus di musim gugur,” tukas Karima.

Mencari jawaban

“Ketika itu ada sekitar dua bulan saya meninggalkan keluarga di Iowa untuk mengikuti tour sepanjang kawasan Eropa ini. Sendirian pula. Kala itu usia saya baru 16. Makanya saya kepingin jalan-jalan dulu sembari “melihat dunia”. Itu alasan yang saya katakan pada keluarga dan kawan-kawan. Tapi sebenarnya saya sedang mencari jawaban atas konsep Kristen yang sudah lama saya pendam. Saya meninggalkan gereja (baca: Kristen -red) persis beberapa bulan sebelum berangkat ke Eropa dan belum bisa menentukan pilihan (agama) lain. Saya merasa belum mendapatkan apapun dengan apa yang telah saya pelajari selama ini. Sampai kini pun belum mendapatkan alternatif-alternatif lain,” ungkapnya.

“Tempat dimana saya dibesarkan, yakni Midwest, sebenarnya sangat cocok buat saya. Misalnya hal keyakian, tidak ada yang perlu dipusingkan disana. Mau jadi bagian dari gereja silahkan. Tidak, ya juga ndak masalah. Tapi karena itu pula saya tidak punya gambaran agama lain yang bisa dijadikan alternatif. Makanya ketika ada waktu keliling Eropa saya berharap bisa berjumpa dengan “sesuatu” yang lain itu,” imbuhnya.

“Di gereja tempat kami tinggal, kami hanya boleh melakukan ibadah untuk Yesus dan menyandarkan segala sesuatu padanya agar bisa menyampaikan pesan kepada Tuhan. Secara intuitif saya merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan dogma itu,” kata dia.

“Saya kala itu dengan patuh pergi ke gereja tiap hari minggu dan sangat serius dengan apa yang saya pelajari tentang kejujuran, murah hati dan saling berkasih sayang. Tapi ada yang bikin saya bingung tatkala melihat jamaag gereja. Sikap mereka tampak begitu beda selama satu hari itu. Apakah Cuma sehari dalam sepekan bersikap jujur, murah hati dan kasih sayang? Apakah mereka cuma bahagia di hari minggu saja? Aku mencari-cari di beberapa buku panduan, namun tak menemukan apa-apa. Ada hal tentang 10 perintah Tuhan yang meliputi hal-hal yang sudah nyata sekali seperti larangan membunuh, mencuri dan berbohong. Uniknya, orang-orang ke gereja seperti tak ada etiket. Misalnya, sejauh yang saya tahu, banyak yang pakai rok mini ke gereja. Ironisnya lagi, ada juga dari mereka pergi ke sekolah minggu hanya karena ada cowok ganteng disana,” tukas Karima.

Kitab Bibel aneka versi

Satu hari Karima berkunjung ke rumah salah seorang dosennya. Disana dia melihat beberapa kitab Bibel tersusun rapi di rak lemari si dosen. “Saya tanya apa itu. Dosennya menjawab bahwa itu kitab Bibel dalam berbagai versi. Saya sebenarnya tak mau mengganggunya dengan pertanyaan seputar Bibel dalam aneka versi itu. Tapi makin dipendam makin sangat mengganggu pikiran. Saya beranikan diri mengamati beberapa dari Bibel itu. Saya terkejut. Memang ada yang benar-benar beda satu versi dengan versi lainnya. Bahkan ada beberapa bab yang tidak sama dengan Bibel kepunyaan saya. Kala itu saya benar-benar bingung. Bahkan mulai timbul perasaan bimbang,” katanya-

Ikut kelas bahasa Arab

Selepas tur Eropa Karima kembali ke kampus dengan perasaan kecewa sebab tak menemukan jawaban yang diharapkannya. Akan tetapi dengan keinginan yang begitu besar akan sebuah bahasa, Karima mengaku tertarik untuk mempelajari bahasa Arab. “Ironis ya, mendapat secercah jawaban yang saya cari-cari justru di dinding istana Al Hambra. Setelah pulang dari Spanyol, butuh dua tahun bagi saya untuk merealisasikan semua itu (masuk Islam-red),” ujarnya.

“Hal pertama sekali yang saya lakukan kala aktif kembali di kampus adalah mendaftar kelas bahasa Arab. Saya amati tampaknya kelas itu tidak begitu diminati. Entah kenapa. Buktinya peserta yang mendaftar cuma tiga. Saya dan dua mahasiswa lainnya. Tapi saya tak ambil pusing,” kata dia. Karima pun langsung tenggelam dengan pelajaran bahasa Arab. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, hingga sang dosen takjub melihatnya.

“Saya kerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan pulpen khusus untuk menulis huruf kaligrafi. Bahkan seringkali saya pinjam buku-buku dalam bahasa Arab dari dosen hanya untuk melihat huruf-huruf Arab yang ada dalam buku itu. Memasuki tahun kedua di universitas, saya putuskan untuk memilih bidang Studi Timur Tengah. Jadi dengan begitu bisa fokus pada satu kawasan saja. Nah di salah satu mata kuliahnya adalah belajar Al-Quran. Saya gembira bukan main,” aku Karima mengenang.

Kagum dengan Al-Quran

“Satu malam saya buka Al-Quran untuk mengerjakan PR. Heran campur takjub. Makin saya baca makin terasa nikmat. Sulit untuk berhenti membacanya. Persis seperti seseorang baru mendapatkan sebuah novel baru. Ketika itu saya bergumam dalam hati; wow menarik sekali. Inilah yang selama ini saya cari-cari. Semuanya ada dalam Al-Quran. Semua penjelasan betul-betul menarik. Saya sungguh kagum, kitab suci ini menguraikan semua yang juga saya percayai dan saya cari-cari jawabannya selama bertahun-tahun. Sangat jelas disebutkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang patut disembah, yakni Allah. Tidak seperti di Kristen, satu dalam tiga,” imbuhnya.

Hari berikutnya Karima kembali ke ruang kelas untuk menanyakan siapa gerangan pengarang kitab itu. Karima melihat ada sebuah nama tertulis di halaman depan Al-Quran itu. “Awalnya saya menyangka itu nama pengarangnya. Misalnya seperti kitab Gospel yang dikarang oleh St. Luke atau kitab-kitab dalam agama lain yang pernah saya pelajari sebelumnya,” kata dia.

Salah seorang dosen Karima yang beragama Kristen memberitahu bahwa itu bukan nama pengarangnya. “Ternyata itu adalah nama penerjemahnya. Masih menurut dosen itu, dia mengutip pernyataan penganut Islam, bahwa tak ada seorang pun yang mampu menulis kitab suci itu. Quran, kata orang Islam, merupakan perkataan Allah dan tidak berubah dari pertama diturunkan hingga saat ini. Al-Quran dibaca dan dihafal banyak orang. Wow…tak perlu saya katakana bagaimana gembiranya hati saya. Makin terpesona dan takjub. Setelah penjelasan itu saya tambah tertarik, bukan hanya mempelajari bahasa Arab, tapi juga mempelajari Islam. Hingga timbul keinginan pergi ke Timur Tengah,” katanya sumringah.

Masuk Islam

Di tahun terakhir kuliah akhirnya Karima mendapat kesempatan mengunjungi Mesir. Salah satu tempat favorit yang ingin dia lihat di sana adalah mesjid. “Saya merasakan seolah-olah sudah jadi bagian dari mereka. Berada di dalam mesjid, keagungan Allah semakin nyata. Dan, seperti biasanya, saya sangat menikmati rangkaian tulisan kaligrafi yang ada di dinding mesjid itu,” kata dia.

Satu hari seorang teman menanyakan kenapa tidak masuk Islam saja kalau memang sudah sangat tertarik. “Tapi saya sudah jadi seorang muslim,” kata Karima. Si teman terkejut mendengar jawaban itu. Tak cuma dia, bahkan Karima sendiri terkejut dengan jawaban spontan yang keluar dari bibirnya. “Tapi kemudian saya sadari hal itu logis dan normal. Islam telah merasuk dalam jiwa saya dan selalu memberikan perasaan lain. Begtupun pernyataan teman saya itu ada benarnya. Kenapa saya tidak masuk Islam saja?” tanya Karima pada dirinya sendiri. Temannya menyarankan agar lebih resmi (masuk Islam) sebaiknya pergi ke mesjid saja dan menyatakan keislaman di hadapan jamaah di sana sebagai saksinya.

“Tanpa menunggu lama saya ikuti sarannya. Ringkas saja, Alhamdulillah, akhirnya saya pun bersyahadat. Pihak mesjid lalu memberikan selembar sertifikat resmi selepas bersyahadat. Tapi sertifikat itu tak penting dan hanya saya simpan dilemari. Sama seperti dokumen-dokumen lain seperti asuransi, ijazah dan lainnya. Tak ada niat menggantung kertas itu di dinding rumah sebagai bukti telah ber-Islam. Bagi saya yang penting sudah jadi seorang muslim,” akunya.

“Kini saya habiskan waktu hanya untuk mempelajari Al-Quran. Ketika membuka Al-Quran perasaan yang hadir persis seperti orang yang baru saja menemukan kembali anggota keluarganya yang telah lama hilang,” ungkap Karima. Di rumahnya Karima tak lupa menggantung foto Istana Al Hambra, tempat dimana dia pertama kali melihat tulisan Arab yang membuat dirinya takjub dan jatuh cinta dengan Al-Quran. Kini, disamping mengelola praktek penyembuhan alaminya dia juga aktif menulis. Ada lebih dari 120 artikel yang telah dia tulis. Umumnya bertema kesehatan. Tulisannya yang terkenal antara lain The “Yoga” of Islamic Prayer, Vetegarian Muslim, dan banyak lainnya lagi. Begitulah. [Zulkarnain Jalil/dari berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Siti Fadilah Supari : Kalau Tidak Terhina, Kebangetan

Siti Fadilah Supari : Kalau Tidak Terhina, Kebangetan
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari tak lelah mengusik Amerika Serikat. Melalui buku berjudul Saatnya Dunia Berubah!, dia menyoal mekanisme penanganan strain virus flu burung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Amerika Serikat. Wanita kelahiran Solo, Jawa Tengah, 59 tahun lalu itu secara gamblang mengungkap kepedihan hatinya atas ketidakadilan negara kaya dan WHO dalam kasus flu burung.

Peraih doktor bidang penyakit jantung dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu yakin dengan apa yang dia sampaikan, meski hal itu mengundang kontroversi. Kini Siti Fadilah kembali mempersoalkan keberadaan Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2). Menurut dia, NAMRU dengan personel militernya membuat kita sebagai bangsa yang berdaulat jadi tidak nyaman. “Sebagai negara berdaulat, kita seperti di bawah naungan negara lain,” kata Siti Fadilah kepada Syamsul Hidayat dari Gatra dan dua wartawan televisi swasta ketika mewawancarai dia di kantornya, Kamis pekan lalu. Petikannya:

Kenapa masalah ini baru heboh sekarang?
Siapa bilang baru heboh sekarang. Saya sudah dari dulu mempermasalahkan. Media saja yang baru heboh memberitakannya sekarang.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta merilis statemen bahwa dugaan adanya intel di NAMRU itu tidak benar. Tanggapan Anda?
Pertama, yang menduga itu siapa? Kedua, wong intelijen, kok ditanyakan. Itu hal yang sangat tidak bisa ditanyakan. Misalnya, ada orang selingkuh, kok ditanya apakah ia selingkuh atau tidak. Hal tersebut tidak bisa ditanyakan atau dijawab.

Jadi, Anda menduga ada inteiljen di sana?
Saya tidak akan menjawab pertanyaan semacam itu, karena itu merupakan hak seseorang untuk menduga atau tidak menduga.

Nota kesepahaman (MoU) soal NAMRU dilanjutkan. Apakah dengan kecurigaan itu, perlu peninjauan ulang atas MoU tersebut?
MoU itu dibuat pada pertengahan 2007. Sejak enam bulan lalu sampai sekarang masih di Amerika. Dalam MoU itu disampaikan beberapa hal. Pertama, pengiriman virus harus disertai material transfer agreements (MTA). Kedua, virus tidak boleh dijadikan senjata biologi.

Ketiga, para peneliti NAMRU-2 yang berkewarganegaraan Amerika Serikat tidak boleh diberi status kekebalan diplomatik. Dan keempat, riset harus benar dan transparan serta berguna bagi kemanusiaan. Semuanya ada enam poin yang disampaikan Indonesia. MoU itu sampai sekarang belum dikembalikan.

Kenapa begitu lama?
Ya, nggak tahu. Kita tunggu saja dulu apakah mereka setuju atau tidak atas apa yang kita sampaikan. Kalau tidak, ya, sudah. Kalau setuju, mungkin akan dilanjutkan. Kecuali kalau ada hal-hal yang lain, keberatan lain. Kalau bagus untuk mereka, pasti dikembalikan. Kok, enam bulan belum dikembalikan. Mungkin itu terkait dengan empat hal dalam MoU tersebut.

Anda sudah meninjau NAMRU. Apakah peralatan mereka sangat canggih?
Biasa saja, seperti lab-lab kita. Kalau untuk tahun 1970-an, itu masih canggih. Untuk sekarang, kita punya peralatan lebih canggih. Contohnya, di Eijkman bahkan lebih canggih.

Bagi Indonesia, apakah adanya NAMRU itu menguntungkan atau tidak?
Dari sisi kesehatan, mungkin pada 1970-an ada manfaatnya. Namun, akhir-akhir ini, sejak tahun 2000-an, tidak ada sama sekali. Buktinya, penyakit-penyakit itu masih ada. Sumbangan NAMRU terhadap pemberantasan penyakit sampai sekarang tidak ada. Padahal, katanya, mereka meneliti malaria, TBC, influenza leptoness. Sampai sekarang, mana produk NAMRU yang bisa kita rasakan.

NAMRU malah mendirikan laboratorium di Papua. Lho, kenapa di Papua, kok tidak di Solo atau Padang. Alasannya, mungkin di sana banyak malaria. Tapi, apa produknya dari tahun 1986 sampai sekarang?

Kan, ada peneliti-peneliti kita yang turut dalam penelitian mereka?
Anak buah saya banyak, kok, yang terlibat dalam penelitian-peneliti an mereka. Namun penelitian itu tidak bisa mengatakan sesuatu. Penelitian kecil-kecil dan tersebar. Yang memegang secara keseluruhan, ya, mereka.

Apakah perlu diperbanyak peneliti kita dalam penelitian mereka untuk melihat apa yang mereka lakukan?
Saya tidak ngurus hal yang teknis.

Kalau tak ada manfaatnya, mengapa Anda tidak mengusulkan untuk tak memperpanjang perjanjian itu?
Diperpanjang atau tidak, itu bukan keputusan Menteri Kesehatan, melainkan keputusan bersama interdep, yaitu Menkes, Menlu, Menhan, dan BIN. Kemudian dengan persetujuan presiden.

Anda mengatakan tidak bermanfaat. Apa tindakan selanjutnya?
Saya tidak menyatakan tidak bermanfaat. Tapi saya, kok, belum bisa menyatakan kemanfaatannya pada saat ini. Mungkin tahun 1970-an, kemanfaatannya pada pes. Itu jelas. Pada prinsipnya, Departemen Kesehatan akan berjalan bersama-sama dengan Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri menentukan apakah ini akan dilakukan atau tidak.

Menteri Pertahanan pernah menyatakan bahwa aktivitas NAMRU perlu diawasi. Anda setuju dengan statemen itu?
Bagaimana saya mau mengawasi, pada waktu itu tidak ada klausul mengawasi. Tapi, pada prakteknya, staf-staf saya tidak bisa mengikuti peneliti-peneliti NAMRU ketika mereka pergi ke Papua atau NTT.

Mereka melarangnya?
Staf kita memang diajak, tapi disuruh membayar sendiri. Depkes tidak punya bujet untuk itu. Akhirnya staf Depkes ditinggal. Itu cerita anak buah saya kenapa dalam penelitian NAMRU tidak ada yang mendampingi. Kalaupun didampingi, seberapa efektif kita bisa mengawasinya?

Langkah apa yang dilakukan Departemen Kesehatan?
Ada sih, tapi saya tidak bisa menceritakan langkah-langkah tersebut. Saya kira, semua perjanjian dengan luar negeri itu ada undang-undangnya. Perjanjian atau kerja sama dengan luar negeri itu harus dilihat dari beberapa segi. Pertama, sisi politik, perjanjian itu baik atau tidak, sesuai atau tidak. Kedua, dari segi teknis, hukum. Dan yang terpenting, keuntungan bagi rakyat banyak. Setiap perjanjian harus dilihat dari sisi keuntungan bagi rakyat.

Jadi, apa sebenarnya persoalan mendasar tentang NAMRU ini?
Sebagai negara berdaulat, kita tentu tak nyaman karena di dalamnya ada suatu organ militer asing. Lha, yang nggak enak bagi saya, itu kok yang dipakai Departemen Kesehatan.

Andaikan bermanfaat, mereka bisa membuatkan vaksin dan lain-lain. Apakah kita rela negara kita yang berdaulat di dalamnya ada tentara asing. Kenapa sih penelitinya tentara? Artinya, kita dalam naungan negara lain. Jadi, sebenarnya bukan soal penelitian itu sendiri.

Penelitiannya sendiri sebetulnya no problem. Mau tidak transparan kek, mau apa kek, yang menjadi keberatan saya bukan soal penelitiannya, melainkan keberadaan mereka yang pakai senjata. Pakai topi Angkatan Laut. Menurut saya, sungguh menghina. Itu menurut saya. Kalau ada yang tidak terhina, ya, kebangetan.

Anda sepertinya selalu berani melawan Amerika. Tidak ada tekanan-tekanan sehubungan dengan itu?
Tidak ada. Nyatanya saya sampai sekarang masih berani. Ini masalah nasionalisme. Sudah saatnya untuk membangkitkan kembali nasionalisme kita. Ini waktu yang pas, apalagi bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Selama ini, masih banyak di antara kita yang mementingkan kelompok masing-masing sehingga melupakan kepentingan nasional. Lupa bahwa sesungguhnya kita adalah negara yang berkedaulatan. Untuk semua itu, saya akan korbankan segalanya.

Jadi, ada kemungkinan NAMRU tidak diperpanjang?
Wah, saya tidak bisa menjawab karena yang menentukan bukan saya.

[Laporan Utama, Gatra Nomor 25 Beredar Kamis, 1 Mei 2008]

Kutipan terjemahan tulisan dr Tom Heller, mewakili para orang tua dan dokter atau praktisi autisme:

http://puterakembara.org/rm/mmr.shtml

01/22/2002

Kutipan terjemahan tulisan dr Tom Heller, mewakili para orang tua dan dokter atau praktisi autisme:

Salah satu tugas saya sehari hari sebagai seorang praktisi atau dokter di Inggris adalah memberikan imunisasi pada bayi dan balita. Tapi belakangan ini saya semakin tidak yakin ketika memberikan vaksinasi kombinasi MMR dan berpikir apakah saya juga harus memberikan vaksinasi ini pada anak-anak saya jika mereka ada pada usia semuda itu.

Sulit bagi saya untuk merasa yakin bahwa vaksin itu aman seperti yang di-umumkan pemerintah. Semakin keras suara para ahli saya merasa semakin ragu akan kebenarannya. Situs Departemen Kesehatan memberikan banyak bukti dan links mengenai vaksin ini hanya menghasilkan satu isu baru yaitu vaksin MMR mempunyai efek samping yang buruk.

Penggunaan bukti klinis secara tidak lengkap juga dikumandangkan oleh para ahli lainnya. Seperti pada Elliman dan Bedford yang menyerang metode riset yang digunakan oleh orang orang yang prihatin terhadap efek samping vaksin MMR. Pada saat yang sama, mereka malah tidak memperhatikan akan bahaya yang terjadi dengan hasil riset yang menyimpulkan bahwa vaksin MMR aman dipakai.

Program NHS mengkhususkan diri dalam memberikan pelayanan dan pengobatan pada masyarakat luas. Tetapi dengan alasan tertentu, ketika mencoba untuk mendiskusikan mengenai masalah vaksinasi MMR, kelihatan sangat dibatasi. Para orang tua menjadi cemas. Dan mereka yang mempunyai anak penyandang autisme menjadi semakin kuatir karena merasa kemungkinan keadaan ini disebabkab oleh vaksinasi.

Sekelompok orang tua lain merasa yakin akan hubungan antara vaksin MMR dan anak mereka dan telah membentuk kelompok dan organisasi untuk meloby. Di Inggris, organisasi ini dikenal dengan nama JABS, Justice, Awareness and Basic support. Ketika beberapa hasil observasi yang dilakukan oleh keluarga yang terkena dampak buruk vaksinasi kemudian di-kategorikan sebagai insiden terisolir, mungkinkah hasil observasi seperti ini dapat dijadikan bukti?

Saya tidak sendirian dalam keprihatinan dan mungkin kebingungan mengenai pemberian vaksinasi MMR. Beberapa penelitian mengenai pemberian vaksinasi MMR dosis kedua telah dilakukan di daerah north Wales dengan hasil menunjukkan hanya 45% profesional yang terdiri dari 54% praktisi atau dokter umum setuju untuk memberikan dosis kedua MMR pada anak. Namun hal ini tidak berpengaruh banyak terhadap jumlah anak yang di-vaksinasi MMR yang secara nasional pada tahun 1994 dan 1995 hanya turun dari 91% ke 88%. Pada tahun 1998 – 1999 dibeberapa daerah terlihat hanya 75%
Saat ini, tidaklah mudah untuk mempertanyakan hal ini pada pemerintah. Contohnya, Andrew Wakefield, penanggung jawab dari beberapa riset yang mempertanyakan mengenai pengembangan vaksin MMR telah di-vonis melakukan penyalah gunaan etika profesional. Mungkin pilihan yang paling mudah adalah dengan menundukkan kepala anda dan tidak membicarakan isu ini.

Kutipan terjemahan tulisan dr Dick Heller, mewakili pemerintah:

Para orang tua sering tidak akurat dalam mengidentifikasikan penyebab dari penyakit mereka. Anekdot atau cerita mengada ada dari seseorang tidak akan dapat berbuat banyak selain hanya menghasilkan sebuah hipotesis yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut secara klinis. Keprihatinan publik terjadi akibat ketidak mampuan untuk mengerti dan meng-ekspresikan bukti-bukti klinis. Yang kita dapati saat ini adalah hipotesis yang berdasarkan anekdot tanpa bukti klinis. Adapun bukti bukti lemah yang ada tidak dapat menunjang hipotesis.

Membandingkan resiko autisme dan resiko pemberian vaksinasi pada anak

Sangat sulit untuk mengerti, mengukur dan mengekspresikan resiko. Angka angka menunjukkan bahwa tiap 100 000 anak terdapat 91 penyandang gangguan spektrum autisme. Jika 15% dari anak-anak ini menjadi penyandang autisme sebagai akibat di-vaksinasi MMR maka sebanyak 7326 anak harus divaksinasi untuk dapat satu anak penyandang autisme. Berapa banyak kasus penyakit mumps , measles dan rubella akan timbul jika anak tidak di-vaksinasi MMR? Bagaimana rate komplikasi ? Sayang sekali, kami tidak mempunyai sistim intelejen yang canggih untuk menyelidiki efek dari perubahan pemberian imunisasi terhadap kesehatan masyarakat. Namun kami tahu bahwa untuk measles saja angka kematian 1 – 2 dari tiap 1000 orang yang terinfeksi di Amerika Serikat dan 1 dari 1000 akan terkena encephalitis beberapa diantaranya akan terkena kerusakan otak permanen. Jika semua anak yang tidak divaksinasi terjangkit measles maka rate komplikasi menyebutkan bahwa penyetopan vaksinasi akan sangat berbahaya – jauh lebih berbahaya dari pada usaha pencegahan insiden timbulnya gangguan autisme.

Dalam memerangi penyakit menular umum seperti yang disarankan oleh pemerintah untuk mendapatkan vaksinasi akan sulit untuk dapat diatasi jika tingkat pemberian imunisasi di suatu komunitas turun dibawah level kritis. Mereka yang bertanggung jawab terhadap kesehatan publik akan mempunyai kepentingan yang sah untuk meningkatkan pemberian vaksinasi.

Secara umum dapat saya katakan tidak terdapat bukti bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme dan tidak terdapat cukup bukti pula untuk mengatakan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme. Saya percaya bahwa dengan menyetop vaksinasi pada anak atas dasar hipotesa yang tidak lengkap akan sangat berbahaya

Kutipan tulisan Stephen Pattison menanggapi tulisan dr Tom Heller dan dr Dick Heller:

Beberapa kaum moralis akan berkata bahwa Tom Heller sedang dalam keadaan emosional tapi menurut saya keadaan gundah ini adalah bagian dari tanggung jawab moral. Tom Heller mengaplikasikan apa yang disebut the golden rule untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah ketika ia mengatakan “apakah saya juga harus memberikan vaksinasi ini pada anak-anak saya pada usia semuda itu”. Ia juga menyuarakan pendapat pemerintah dengan mengatakan bahwa pemberian vaksinasi MMR itu aman. Dan juga bagaimana keraguannya semakin tinggi yang mana bertolak belakang dengan kebanyakan ahli.

Pertanyaannya adalah bagaimana rekan kerja Tom Heller, para dokter umum dan masyarakat awam, dengan segala keterbatasan pengetahuan-nya dapat mengambil manfaat dan dapat hidup dengan kenyataan yang ada tanpa harus mengabaikan pentingnya kesehatan masyarakat?

Walaupun ilmuwan dan peneliti hidup dalam paradigma rasional dan serba korelatif sedangkan masyarakat awam termasuk dokter mempunyai pandangan yang lebih kompleks sehingga dilihat dari kaca mata kaum rasional, pengetahuan komposit masyarakat awam sering terlihat sebagai suatu yang tidak rasional dan suatu yang gaib sehingga harus di-buang dan dihilangkan.

Anda tidak dapat membatasi pengetahuan orang lain bahkan ketika anda sendiri ragu akan kemampuan ilmu pengetahuannya. Membuat keputusan untuk tidak memberikan vaksinasi adalah suatu dilema moral bagi orang tua dan ini haruslah dihormati. Melecehkan dilema moral orang lain tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Kini telah terjadi krisis kepercayaan terhadap penilaian teknis vaksinasi MMR dan juga krisis untuk dapat saling menghargai. Perlu dibuat suatu keputusan untuk mendapatkan bukti-bukti yang dapat dipertanggung jawabkan demi untuk menegakkan kenyataan yang sebenarnya. Untuk melaksanakan ini pihak ilmuwan agar tidak menanggapi ketakutan dan kekuatiran sebagai bentuk ketidak pedulian dan kemudian berusaha menghancurkannya dengan menggunakan instrumen rasional mereka.

Dalam hal ini telah terjadi ketidak seimbangan antara resiko dan kekuasaan. Pihak pemerintah menentukan strategi risk management untuk menghadapi penyakit mumps, measles dan rubella. Sedangkan para dokter dan orang tua sebagai pelaksana strategi ini harus menghadapi segala konsekuensinya. Isu vaksinasi MMR ini sempat membuat kami prihatin akan etika klinis dan pelayanan publik yang responsif dan berguna. Kami akan mencoba untuk mencari bentuk ideal dari bukti-bukti klinis yang dapat diterima baik oleh masyarakat maupun oleh individu yang menggangap hal tersebut sensitif.

Kutipan tanggapan dr Tom Heller mengenai tulisan Stephen Pattison:

Saya merasa telah menjalani suatu proses yang mirip dengan apa yang dialami para orang tua pada saat mereka memutuskan untuk memberikan vaksinasi pada anak mereka. Saya akan terus mencari untuk dapat mengerti mengenai hal ini. Tentunya, saya sangat menghargai pendapat pihak penguasa yang menyimpulkan bahwa MMR adalah aman untuk diberikan pada anak, akan tetapi keragu raguan tetap melekat pada saya seperti juga ada pada banyak orang lain.

Kesimpulan akhir saya adalah : ” Penolakan haruslah tetap menjadi pilihan yang dapat diterima di alam demokrasi yang bebas. Budaya berpendapat terkecuali yang berhubungan dengan agama dan filsafat haruslah tetap dilestarikan. Hal yang paling sulit adalah menciptakan keseimbangan antara hak suatu negara untuk mengontrol penyakit menular dan hak individual serta masyarakat awam untuk memilih.

Referensi:
FEAT Daily Newsletter dan British Medical Journal online
How Safe is MMR Vaccine – Tom Heller, general practioner, School of Health and Social Welfare at the Open University, Milton Keynes UK
Validity of Evidence – Professor of Public Health. Evidence for Population Health Unit, School of Epidemiology and Health Sciences, Medical School, University of Manchester, UK
Dealing with Uncertainty – Stephen Pattison, Head Department of Religious and Theological Studies, Cardiff University.

——————————————————————————
Puterakembara menyajikan terjemahan tulisan ini adalah sehubungan dengan pertanyaan dari salah satu orang tua mengenai vaksinasi MMR. Kami berusaha untuk memberikan informasi secara netral dan se-akurat mungkin. Puterakembara tidak bertanggung jawab atas isi artikel maupun kesalahan dalam menterjemahkan artikel tersebut kedalam bahasa Indonesia.

Artikel diatas hanya dapat digunakan sebagai informasi atau sekedar untuk menambah pengetahuan. Informasi yang ada dalam artikel ini tidak dapat digunakan untuk menggantikan advis dokter atau pengobatan dan terapi yang hanya dapat dilakukan oleh dokter ahli / praktisi profesional di-bidang imunisasi ataupun kelainan spektrum autisme.

10 KIAT HIDUP SEHAT TANPA OBAT

http://halalsehat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=48&Itemid=1

10 KIAT HIDUP SEHAT TANPA OBAT

Dipublikasikan oleh syarif
Wednesday, 20 February 2008
Hidup yang multikompleks dewasa ini membuat kita bisa terlanda “penyakit” aneh yang sulit diatasi, baik oleh kekebalan tubuh sendiri maupun obat-obatan. Bagaimana kiatnya agar kita tetap sehat tanpa harus sering berobat.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa tubuh kita mempunyai sistem kekebalan yang mampu melindungi badan dari serangan penyakit. Itu kalau sistemnya bekerja! Kadang-kadang suka ngadat. Kalau sudah begitu, ya apa boleh buat! Kita terpaksa berobat. Namun, niscaya juga tidak ada salahnya, mencoba berbagai kiat hidup mencegah penyakit tanpa tergantung pada obat-obatan. Di mana-mana, yang dapat dipakai untuk itu: mencegah sebelum terjadi itu lebih baik daripada mengobati yang sudah telanjur marak. Berikut 10 tips
1. Kenali diri Anda, baik fisik maupun kejiwaan
Ini agak filosofis, memang, tetapi sebenarnya justru di sini letak kunci segalanya. Dengan mengenali diri sendiri, kita dapat mengetahui kelemahan fisik tubuh kita, lalu dapat memutuskan apa yang baik dan boleh dilakukan bagi tubuh, dan apa yang tidak. Orang yang tanpa disadari telah keenakan menyantap makanan yang asin secara berlebihan, misalnya, lama-kelamaan merasakan tubuhnya berubah, seperti cepat merasa pusing, berkurang keseimbangan tubuhnya, dan sering merasakan aneka gejala tidak enak badan. Setelah memeriksakan badan ke dokter, baru diketahui tubuhnya mulai mengidap “penyakit” tekanan darah tinggi. Kalau sejak itu ia berusaha sungguh-sungguh untuk mengurangi makanan asin dan berlemak, sambil melakukan olahraga ringan secara teratur, maka “penyakit”-nya tidak mudah kumat, dan ia tidak perlu sering pergi ke dokter lagi.

Bila Anda mempunyai keluhan seperti itu, seyogianyalah mencontoh orang yang mengenal kelemahan dirinya sendiri itu. Begitu juga orang yang mudah marah dan sukar mengendalikan diri karena tidak mengenal kekurangan dirinya sendiri. Setelah mengenal kelemahannya, dan mau memperbaiki kebiasaannya yang merugikan, lama-lama ia mahir menjaga agar tidak mudah terpancing emosinya. Itu berkat ia berusaha mengenal dirinya sendiri juga.
2. Tidak terburu-buru merasa sakit
Hanya karena bersin, batuk, atau agak demam, orang telah memutuskan untuk minum obat. Padahal acap kali setelah dibiarkan tiga hari, gejala sakit itu hilang sendiri. Tubuh memang mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan sendiri. Hanya dengan beristirahat cukup, gejala sakit itu sudah hilang sendiri. Gejala pusing kadang bahkan dapat hilang hanya karena menghirup udara segar di taman yang tidak tercemar udara knalpot.

Gejala batuk dan bersin memang merupakan tanda serius juga, bahwa tubuh sedang berusaha mengeluarkan kuman penyakit dari saluran pernapasan. Demam berkeringat merupakan tanda tubuh sedang melawan serangan kuman. Kalau gejala itu berlangsung selama tiga hari, karena beratnya serangan, ya apa boleh buat, kita ke dokter untuk konsultasi medis.
3. Mengusahakan variasi makanan sehari-hari
Melakukan variasi santapan, berangkat dari asumsi bahwa ada bahan makanan tertentu yang lebih bermanfaat daripada jenis makanan biasa sehari-hari. Kalau ini kita pakai sebagai selingan bagi jenis makanan sehari-hari, maka kedua kelompok bahan itu dapat saling melengkapi. Bila kita terbiasa makan daging ayam dan sapi, sebaiknya mengubah kebiasaan itu, dan sekali-sekali makan ikan segar, tempe, dan tahu sebagai selingan. Bahan ini mempunyai kadar lemak tak jenuh yang banyak, dan berpotensi mengurangi risiko tekanan darah tinggi. Sebaliknya, kalau kita terbiasa makan ikan, tempe, dan tahu telur saja sehari-hari, pada suatu kesempatan makan santapan istimewa pada kondangan temanten, atau arisan keluarga besar, ambil saja daging ayam atau sapi. Protein daging hewan berperan mempertahankan laju pertumbuhan tubuh dan mengganti sel-sel jaringan yang rusak.

Begitu juga dengan sayuran. Kalau hari demi hari kita makan sayur mayur hijau, karena beranggapan bahwa yang serba hijau itu pasti bagus, sesekali perlu variasi menyantap sayuran dan buah-buahan tidak hijau, seperti tomat, wortel, jagung muda, paprika merah (sebagai sayur), pisang, mangga, apel, jeruk (sebagai pencuci mulut).
4. Menyesuaikan konsumsi dengan tingkatan umur
Jumlah zat gizi yang diperlukan tubuh berbeda-beda bergantung pada umur, jenis kegiatan, dan kondisi tubuh (dalam keadaan sakit atau sehat). Pada anak-anak dan remaja yang sedang giat-giatnya tumbuh, kelima unsur dalam makanan (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, serta air) sangat diperlukan, sehingga tidak perlu dibatasi. Sebaliknya, pada orang dewasa dan lanjut usia, pembatasan itu mutlak perlu. Karbohidrat dan lemak sebagai penghasil energi harus dikurangi jumlahnya, mengingat kegiatan fisik mereka sudah menurun. Cara mengurangi karbohidrat dan lemak ialah dengan mengurangi porsi nasi dan goreng-gorengan. Sebaliknya, vitamin dan mineral serta air justru harus dimakan dengan cukup. Zat-zat ini sangat perlu untuk memperlancar metabolisme dalam tubuh, dan meningkatkan daya tahannya. Hanya perlu diingat bahwa yang paling baik ialah memakai vitamin alamiah, seperti yang terkandung dalam buah dan sayuran segar. Sedangkan air yang diminum harus yang steril, aman dari kuman, seperti air mineral yang benar memenuhi syarat sebagai air mineral. Boleh juga air biasa yang selalu sudah direbus lebih dulu. Lebih kurang 60% dari bobot badan kita berupa air atau cairan. Itu berarti kita harus minum air lebih banyak daripada unsur makanan yang lain. Orang yang sedang sakit dan terpaksa minum obat, malah harus minum air lebih banyak lagi. Penderita “penyakit” sulit buang air, bisa tertolong dari penderitaannya dengan setiap hari minum 2 – 3 gelas air putih sebelum pergi ke belakang.

Konsumsi protein pada orang dewasa dan lansia juga perlu dikurangi, meskipun tidak sebanyak pengurangan karbohidrat dan lemak. Cara mengurangi protein ini ialah dengan mengganti menu makanan sumber protein hewani dengan makanan sumber protein nabati, yang kadar proteinnya kurang atau hanya sedikit. Misalnya, kacang-kacangan, tahu, dan tempe.
5. Berolahraga secara teratur sesuai kemampuan
Berolahraga bertujuan memperlancar peredaran darah, dan mempercepat penyebaran impuls urat saraf ke bagian tubuh atau sebaliknya, sehingga tubuh senantiasa bugar. Banyak orang berpendapat, tanpa olahraga pun kita sebenarnya juga sudah bergerak badan mirip olahraga, kalau melakukan pekerjaan fisik sehari-hari seperti menyapu lantai, membersihkan rumah, mencuci, dan menjemur pakaian. Tetapi apakah “olahraga” semacam ini dapat kita lakukan secara teratur dan berkesinambungan? Itu masalah tersendiri! Diperlukan kemauan yang kuat, berdasarkan keyakinan bahwa olahraga itu mutlak perlu agar badan tetap bugar, karena peredaran darah diperlancar tadi. Pada gilirannya ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Para penderita tekanan darah tinggi, penyakit jantung, infeksi paru-paru, dan kencing manis, hendaknya berkonsultasi ke dokter dulu untuk mengetahui jenis olahraga apa yang cocok. Biasanya olahraga yang intensitasnya rendah dan dilakukan tidak terlalu lama.

Orang normal yang tidak mengidap penyakit, sangat baik memilih olahraga yang kapasitas aerobiknya tinggi seperti renang, aerobik yang high impact, naik sepeda stasioner, dan joging.
6. Selalu menjaga kebersihan
Lingkungan bersih di rumah, halaman, dan kompleks hunian memberi suasana segar dan nyaman. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kelompok rumah yang mempunyai halaman dan lingkungan tertata baik, hijau, dan asri, mempunyai persentase kesehatan penghuninya jauh lebih baik daripada kelompok rumah miskin tanaman.

Lingkungan bersih membuat tubuh kita juga bersih, baik jasmani maupun rohani. Kondisi ini mampu mencegah penyakit jasmani seperti infeksi kulit, alergi debu, flu, bronkitis, dan “penyakit” rohani seperti stres, frustrasi dan depresi, biang kerok menurunnya sistem kekebalan tubuh.
7. Meluangkan waktu untuk bersantai
Meluangkan waktu tidak berarti minta istirahat lebih banyak daripada bekerja produktif sampai melebihi kepatutan. Tidak! Meluangkan waktu untuk istirahat itu sebentar saja, dan ini perlu, untuk setel kendo sejenak di antara ketegangan jam sibuk bekerja sehari-hari. Ini perlu dilakukan secara rutin. Bersantai juga tidak berarti harus melakukan rekreasi yang melelahkan, tetapi cukup berkumpul membicarakan masalah keseharian dengan rekan sekantor, tetangga atau keluarga di rumah. Bukan tidak mungkin, mereka dapat membantu memecahkan masalah, atau setidak-tidaknya meringankan beban pikiran. Bersantai seorang diri dengan merenung dan mawas diri juga perlu. Makin sering dan rutin ini dilakukan, makin bagus keseimbangan jiwa kita. Tidur nyaman juga bentuk bersantai seorang diri. Stamina akan pulih dengan cepat, dan keseimbangan hormon dalam tubuh juga cepat tercapai.

Tubuh letih dan pikiran kusut kalau dibiarkan berkepanjangan (sampai dibawa ke kamar tidur), akan menurunkan daya kerja sistem kekebalan tubuh. Pada gilirannya memudahkan serangan penyakit.
8. Back to nature
Trend pada awal dekade 1990-an di negeri Barat ini dilandasi pengalaman bahwa gaya hidup pada zaman modern mendorong orang mengubah kebiasaan makan, seperti misalnya lebih sering menyantap makanan kalengan, sambal botolan, atau buah awetan. Juga jarang bergerak badan karena kemudahan memakai alat bantu rumah tangga, seperti mencuci pakaian dengan mesin cuci, menyapu lantai dengan penyedot debu, bepergian dengan kendaraan, padahal cuma dekat dan lebih sehat dilakukan dengan jalan kaki. Tubuh kita jadi manja, karena jarang bergerak, sehingga mudah sakit karena lembek. Sebaliknya, seorang pendekar silat, walaupun hidup di tengah zaman modern, selalu sehat tubuhnya karena masih sering berjalan kaki, latihan rutin dengan menggerakkan badan, dan tidak memakai alat bantu hasil teknologi modern yang membuat orang jadi lembek.

Untuk kembali dekat dengan alam, kita bukannya harus ikut menjadi pendekar silat, tetapi setidak-tidaknya menghindari bahan makanan kalengan, dan malah memperbanyak makan sayuran dan buah yang segar.
9. Mengolah pernapasan
Mengolah pernapasan berarti mengatur cara dan frekuensi bernapas agar lebih efisien. Dengan menghirup udara (oksigen) perlahan-lahan dalam hitungan 15 kemudian melepaskannya kembali pelan-pelan juga dalam hitungan 15, kita bisa menahan oksigen dalam badan lebih lama daripada biasanya. Oksigen akan dipakai oleh organ tubuh secara efektif, walaupun jumlahnya cuma sedikit. Selama ini kita bernapas dengan frekuensi yang tidak teratur. Kadang lambat, kadang cepat. Oksigen yang diirup juga cepat keluar lagi. Belum sampai dimanfaatkan dengan baik, sudah keburu keluar. Dalam satu menit kita benapas lima kali atau lebih.

Tetapi, dengan latihan teratur frekuensi bernapas itu bisa kurang dari lima kali dalam semenit. Setiap kalinya selalu dalam, dan berdaya guna. Akibatnya, oksigen yang dihirup cukup sedikit saja, tetapi sudah efektif. Organ tubuh akan menyesuaikan diri dengan ketersediaan oksigen yang sedikit ini, dan itu justru menguntungkan tubuh. Sebab, dengan oksigen sedikit, tetapi toh sudah efektif itu, tubuh tidak kebanjiran hasil pernapasan berupa CO2 banyak-banyak, yang tidak baik bagi kesehatan.
10. Menggemari bacaan kesehatan
Ungkapan “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” sangat pas untuk menyindir orang yang ingin tubuhnya sehat, tetapi tidak mau bersusah payah mendekati bacaan tentang kesehatan. Kalau dekat, kita akan tahu seluk-beluk kesehatan itu lebih baik, dan kemudian dapat memakainya untuk menyusun siasat menghindari gangguan penyakit. (Nur Khalis) Sumber : Intisari

Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak

http://www.setiabudi.name/archives/359

Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak
December 18th 2007, on Kesehatan, Ulasan Buku

Buku berjudul Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak ini adalah saduran dari buku berjudul What Your Doctor May Not Tell You About Children’s Vaccinations karangan Stephanie Cave, M.D., F.A.A.F.P bersama Deborah Mitchell.

Diterbitkan dengan ISBN 979-22-349-4 yang diterbitkan pertama kali oleh PT. Gramedia Pustaka Utama cetakan pertamanya pada tahun 2003.

Buku yang sangat memukau saya karena menyajikan banyak informasi mengejutkan tentang vaksinasi yang tidak pernah ditemukan di media informasi apapun.

Selama ini setiap informasi yang kita terima mengenai vaksinasi adalah suatu hal yang harus dilakukan dan memiliki dampak nol persen terhadap kesehatan manusia.

Padahal sebagaimana tertulis dalam lembaran pertama buku ini disebutkan sebagai berikut, “Dalam hal vaksinasi anak, mencegah mungkin tidak lebih baik daripada menyembuhkan”.

Ditutup dengan kalimat berikutnya, “Jangan ambil resiko untuk kesehatan anak Anda! Pelajari lebih lanjut tentang vaksinasi yang ada pada masa kini dengan… ORANG TUA HARUS TENTANG VAKSINASI ANAK”.

Mengapa hal tersebut menjadi penting?

Karena sebagai orang tua, tentunya kita mengharapkan hal terbaik yang dapat kita berikan kepada seluruh anak kita. Hal tersebut hanya dapat diwujudkan jika dan hanya jika kita memiliki informasi yang memadai mengenai apapun yang ingin kita persembahkan kepada mereka.

Fakta-fakta mengejutkan tentang kandungan merkuri yang digunakan dalam sebagian besar vaksin anak saat ini baru salah satu contoh mengerikan tentang vaksin yang harus Anda ketahui.

Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin tidak Anda ketahui tentang vaksin:

1. Beberapa vaksin mengandung racun seperti air raksa (merkuri), almunium dan formalin
2. Di tahun 1998, Pemerintah Perancis menghentikan program vaksinasi berbasis sekolah yang memberikan vaksin Hepatitis B kepada anak-anak usia sekolah karena kasus multiple-sklerosis telah dikaitkan dengan vaksin tersebut dan lebih dari 600 kasus imunitas dan persyarafan telah dilaporkan.
3. Beberapa vaksin dibuat menggunakan bahan yang berasal dari jaringan manusia dari janin yang digugurkan.
4. Kebanyakan negara mewajibkan bahwa saat anak berusia 5 tahun, ia sudah harus menerima 33 dosis dari 10 vaksin.
5. Para dokter hanya melaporkan kurang dari 10 persen kejadian buruk yang berkaitan dengan vaksinasi dan/atau sesudah vaksinasi.

Selain itu salah satu isu keamanan yang menurut buku ini sering diabaikan adalah bahan-bahan tambahan yang terdapat dalam vaksin sebagai berikut:

1. Alumunium

Logam ini ditambahkan ke dalam vaksin dalam bentuk gel atau garam sebagai pendorong terbentuknya antibodi. Alumunium telah dikenal sebagai penyebab kejang, penyakit alzheimer, kerusakan otak dan dimensia (pikun). Logam ini biasanya digunakan pada vaksin-vaksin DPT, DaPT dan Hepatitis B.
2. Benzetonium Khlorida

Benzetonium adalah bahan pengawet dan belum dievaluasi keamanannya untuk dikonsumsi oleh manusia. Biasa digunakan sebagai campuran vaksin anthrax terutama diberikan kepada para personil militer.
3. Etilen Glikol

Biasa digunakan sebagai bahan utama produk antibeku dan digunakan sebagai pengawet vaksin DaPT, polio, Hib dan Hepatitis B.
4. Formaldehid

Bahan kimia yang terkenal sebagai zat karsinogenik (penyebab kanker) yang biasanya digunakan dalam proses pengawetan mayat, fungisida/insektisida, bahan peledak dan pewarna kain.

Selain beracun, menurut Sir Graham S. Wilson pengarang buku The Hazards of Immunization formalin tidak mamadai sebagai pembunuh kuman sehingga maksud penggunaannya sebagai penonaktif kuman dalam vaksin menjadi tidak berfungsi dengan baik.

Akibatnya adalah kuman yang seharusnya dilemahkan dalam vaksin tersebut malah menguat dan menginfeksi penggunanya.
5. Gelatin

Bahan yang dikenal sebagai alergen (bahan pemicu alergi) ini banyak ditemukan dalam vaksin cacar air atau MMR. Bagi kaum Muslim, gelatin menimbulkan isu tambahan karena biasanya bahan dasarnya berasal dari babi.
6. Glutamat

Bahan yang digunakan dalam vaksin sebagai penstabil terhadap panas, cahaya dan kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini banyak dikenal sebagai penyebab reaksi buruk kesehatan dan ditemukan pada vaksin varicella.
7. Neomisin

Antibiotik ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan kuman di dalam biakan vaksin. Neomisin menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan sering ditemukan dalam vaksin MMR dan polio.
8. Fenol

Bahan yang berbahan dasar tar batu bara yang biasanya digunakan dalam produksi bahan pewarna non makanan, pembasmi kuman, plastik, bahan pengawet dan germisida.

Pada dosis tertentu, bahan ini sangat beracun dan lebih bersifat membahayakan daripada merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi berlawanan dengan tujuan utama pembuatan vaksin.

Fenol digunakan untuk pembuatan beberapa vaksin termasuk vaksin tifoid.
9. Streptomisin

Antibiotik ini dikenal menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan biasa ditemukan dalam vaksin polio.
10. Timerosal/Merkuri

Bahan yang sangat beracun yang selama beberapa puluh tahun digunakan pada hampir seluruh vaksin yang ada di pasaran. Padahal timerosal/merkuri adalah salah satu bahan kimia yang bertanggung jawab atas tragedi Minamata di Jepang yang menyebabkan lahirnya bayi-bayi yang cacat fisik dan mentalnya.

Berikut ini adalah beberapa kerusakan yang disebabkan keracunan merkuri:

1. Otak bayi masih mengalami perkembangan yang cepat dan merkuri bisa merusak sel otak secara menetap.
2. Sistem kekebalan tubuh bayi masih belum berkembang secara penuh sehingga bayi tidak mempunyai kemampuan melawan serangan benda asing (bakteri, virus dan racun lingkungan) secara benar.
3. Kemampuan tubuh bayi untuk membuang racun dari tubuhnya melalui hati belum berkembang sepenuhnya sehingga zat-zat berbahaya cenderung menetap di dalam tubuhnya seperti merkuri, formalin dan alumunium.
4. Penghambat darah-otak (selaput yang berada di antara darah yang beredar di tubuh dengan otak yang berfungsi bahan-bahan berbahaya mencapai otak) belum mampu menghalangi racun yang bisa merusak otak.
5. Gejala keracunan merkuri yang paling umum antara lain adalah:
* Perubahan suasana hati dan kepribadian, termasuk mudah marah dan malu
* Hilangnya sensasi dan masalah penglihatan serius
* Ketulian dan kecenderungan kesulitan berkomunikasi karenanya
* Kelemahan otot dan tidak adanya koordinasi tubuh yang baik
* Hilangnya/lemahnya ingatan
* Tremor/gemetaran

Belum lagi fakta-fakta yang disajikan dalam buku ini yang mengkaitkan vaksinasi yang berbahaya dengan meningkatnya kasus-kasus autisme saat ini.

Dimana kasus autisme ini ternyata memiliki kemiripan dengan gejala-gejala keracunan merkuri yang banyak digunakan dalam vaksin.

Hal yang menarik lainnya untuk kita di Indonesia yang sedang gencar-gencarnya melakukan vaksinasi polio melalui mulut (oral/dimakan) adalah fakta bahwa sejak tahun 2000 Sentra Pengendalian Penyakit Amerika Serikat sudah menghentikan vaksin oral dan digantikan dengan suntikan.

Mengapa? Karena vaksinasi polio oral terbukti menimbulkan sampai 10 kasus polio per tahun dan dituding menyebabkan gangguan serius pada sistem pencernaan terutama penyumbatan usus!

Lantas mengapa informasi-informasi tersebut cenderung tidak pernah terpublikasikan secara luas?

Alasannya tentu saja sederhana sekali: UANG.

Bisnis produksi dan penjualan vaksin bernilai milyaran dollar Amerika Serikat per tahun! Selain itu banyak sekali bukti-bukti yang kemudian dibungkam menelusuri bahwa penyakit-penyakit saat ini seperti HIV/AIDS, DBD (demam berdarah), flu burung, dsb adalah senjata biologi yang sengaja dikembangkan yang kemudian dilepaskan ke komunitas sehingga mendorong kebutuhan akan obat dan vaksin penyakit-penyakit tersebut.

Saya dan isteri pun akhirnya sepakat untuk tidak memvaksinasi puteri kami. Hal ini kami lakukan setelah berkonsultasi dengan banyak ahli kesehatan (kedokteran, kimia klinis, teknologi kesehatan, dsb).

Apalagi ternyata teman-teman kami yang menjadi atau sedang kuliah menjadi dokter di Eropa secara terang-terangan menyatakan “vaksinasi adalah fiksi seperti cerita manusia mendarat di bulan..”

Vaksin Masih Perlukah?

http://www.ipb.ac.id/forum/viewtopic.php?f=63&t=106

Vaksin Masih Perlukah?
Pengamat Kesehatan: Ummu Salamah, Nabawi Medical Center

Sehubungan dengan adanya penyakit-penyakit yang berkembang saat ini dan telah beredarnya pemahaman metode kedokteran yang disebar luaskan oleh
metode kedokteran barat maka sebagai umat muslim sangat prihatin sekali dengan kondisi ini. Metode kesehatan ala modern dengan teori trial and error mengatakan bahwa, penyakit itu bisa disembuhkan bila disuntikkan virus dan bakteri yang bersumber dari penyakit, agar manusia kebal. Sehingga manusia dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum Allah, tetapi tidak terkena penyakitnya. Contohnya, agar anak-anak tidak terkena penyakit kelamin/HIV atau penyakit kelamin lainnya ketika mereka melakukan sex bebas, maka disuntikkan vaksin HIV pada usia anak-anak. Itulah yang dikutip dari
buku “What your doctor may not tell you about children’s vaccination”, oleh Stephanie Cave & Deborah Mitchell, keduanya dokter dari Amerika.
Sentra pengendalian penyakit di AS, pada februari 1997 (ACIP) dari CDL, berkumpul untuk membuat kebijakan vaksin bagi AS. Neal Haley MD, ketua
komite penyakit menular dari Akademi AS untuk dokter spesial anak, mengajukan topik vaksin HIV. Ia mengatakan “kami sungguh-sungguh melihat
bahwa usia 11 s/d 12 tahun sebagai usia target vaksin guna pencegahan penyakit seksual”. Jadi orang tua dari para bayi, balita atau anak kecil
akan segera menghadapi kemungkinan mendapat vaksin HIV untuk anak-anak. Vaksin ini dimaksudkan untuk mencegah penyakit yang ditularkan melalui
hubungan seksual, seperti khlamidia, herpessimpleks, neisseria gonorhea, HIV/AIDS dll.

Jadi pemikiran mereka, jika tubuh manusia disuntikkan virus yang dilemahkan, maka tubuh akan melakukan anti body terhadap virus tadi.
Virus yang disuntikkan ke tubuh itu adalah virus yang diambil dari cairan darah orang yang terkena penyakit AIDS/HIV, Hepatitis B, Herpes,
dll, yang melakukan sex bebas, peminum alkohol, narkotika dan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum Allah. Lalu dibiakkan di
media-media seperti ginjal kera, lambung babi, ginjal anjing, sapi anthrax, menggunakan jaringan janin manusia yang digugurkan, ditambahkan
merkuri/timerosal/air raksa atau logam berat sebagai bahan pengawetnya. Vaksin-vaksin yang dihasilkan antara lain adalah vaksin polio, MNR,
rabies, cacar air dll. Celakanya bayi-bayi tak berdosa yang tidak melakukan kerusakan, pelanggaran terhadap hukum Allah, sengaja diberikan virus-virus itu,
dengan pemikiran agar anak-anak itu kebal. Sehingga ketika melanggar hukum allah, dimungkinkan tidak terkena azab-Nya. Celakanya pula, ini
diberikan kepada anak-anak muslim. Sebenarnya vaksin-vaksin ini juga telah banyak memakan korban anak-anak Amerika sendiri, sehingga banyak terjadi penyakit kelainan syaraf, anak-anak cacat, autis, dll. Tetapi penjualan vaksin tetap dilakukan walau menimba protes dari rakyat Amerika. Hanya saja satu alasan yang negara Amerika pertahankan, yaitu bahwa vaksin adalah bisnis besar. Sebuah badan peneliti teknologi tinggi internasional yaitu Frost &
Sullivan, memperkirakan bahwa pangsa pasar vaksin manusia dunia akan menguat dari 2,9 miliar USD tahun 1995, melonjak menjadi lebih dari 7
miliar USD tahun 2001. Ini diambil dari ideologi kapitalis yang mereka emban, hingga membunuh bayi, anak-anak atau manusia lain, mereka lakukan demi uang dan kekuasaan. Ketika anak-anak terimunisasi, mulailah jerat obat-obatan produk AS membanjiri negeri-negeri muslim yang tunduk pada AS dan membiarkan rakyatnya sendiri teracuni akibat pemikiran kapitalis AS. Obat-obat beracun yang mahal harganya ini praktis menguras keuangan orang-orang
muslim, teracuni obat-obat kimia sintetis termasuk benda-benda haram, agar doa-doa orang miskin tertolak oleh Allah swt. Ini semua akibat
kebodohan orang-orang muslim, yang tidak percaya kepada metode kesehatan menurut Rasulullah SAW, yaitu Atibunabawy.

Dalam hal obat-obatannya, pengobatan atibunabawy yang murni alami, tidak boleh dicampur adukkan dengan pengobatan yang menggunakan bahan kimia
sintetis (QS. 2:42). Tetapi dalam hal teknologi misalnya alat-alat radiologi, stetoskop, bladpressure (alat pengecekan tekanan darah) dll,
boleh saja kita gunakan. Jadi Indonesia membutuhkan rumah sakit dengan peralatan canggih, tetapi obat-obatan menggunakan yang alami dan bukan
dari barang/benda haram. Jemaah haji Indonesi juga diwajibkan divaksin dengan vaksin miningitis. Dimana keharusan ini adalah dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI, yang berada dibawah naungan WHO dan PBB. Menurut informasi yang di dapatkan dari Departemen Kesehatan RI bahwa vaksin miningitis ini adalah salah satu syarat untuk melaksanakan ibadah haji. Jadi setiap calon jemaah haji akan mendapatkan sertifikat telah tervaksin/terimunisasi. Kalau tidak maka tidak diberangkatkan. Apakah ini tidak berlebihan? Apakah vaksin miningitis? Vaksin ini diberikan dengan maksud (menurut mereka) untuk melindungi jemaah haji indonesia dari penyakit meninglokal, yang disebabkan oleh organisme Neisseria meningitis yang
menyebabkan infeksi pada selaput otak dan meningokomeia atau infeksi darah atau keracunan darah, yang penyebarannya melalui bersin batuk dan
bicara. Vaksin yang disuntikan ke tubuh calon jemaah haji ini adalah bakteri meningokokus yang awalnya diambil dari cairan darah orang amerika yang
terkena meningitis. Bakteri ini timbul karena pola kebiasan meminum alkohol dan perokok aktif dan kehidupan malam yang serba bebas. Vaksin
ini tidak juga memberikan perlindungan utuh. Vaksin ini hanya mengurangi resiko penyakit meningokal yang disebabkan oleh Serogroup A, C, Y dan W
135. Sehingga 30% perkiraan kasus penyakit tetap terkena pada seluruh kelompok usia. Vaksin efektif hanya untuk 3 s/d 5 tahun. Vaksin ini
mengandung timerosal/air raksa sebagai bahan pengawet serta merupakan salah satu bahan pencetus kanker (karsinogen) dan kelainan-kelainan
syarat, sehingga berdampak buruk pada sel-sel otak dan organ-organ tubuh jemaah haji. Beberapa jamaah haji Indonesia mengalami gejala-gejala
seperti biru-biru di seluruh tubuh, jantung berdebar-debar, nyawa seperti melayang, rasa ketakutan, pusing, mual, setelah divaksin. Pertanyaannya sekarang adalah apakah vaksinasi merupakan rukun haji? Kini vaksin tersebut dapat menyebabkan seseorang batal berangkat haji. Kedudukannya sudah melebihi rukun dan wajib haji. Ada apa sebenarnya di balik itu semua?

Tolak Imunisasi Polio, Dipenjara Satu Tahun

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2005053103245824

Selasa, 31 Mei 2005
KESEHATAN

Tolak Imunisasi Polio, Dipenjara Satu Tahun

JAKARTA (Lampost): Pemprov DKI Jakarta mewajibkan seluruh anak balita (bawah lima tahun) yang berada di wilayah DKI Jakarta diimunisasi polio. Bagi balita yang sakit, bahkan yang sudah diimunisasi polio sebelumnya, wajib diimunisasi lagi. Jika menolak, bisa-bisa dipenjara satu tahun.

Ancaman di atas bukan main-main. Orangtua yang menolak anaknya diimunisasi polio akan diancam penjara maksimal satu tahun seperti yang diatur dalam UU No. 4/1984 tentang Penanganan Wabah.

“Bagi warga yang tetap menolak diimunisasi padahal sudah diberi tahu, Dinas Kesehatan DKI akan memberi sanksi sesuai dengan UU No. 4/1984 tentang Penanganan Wabah. Sanksinya dipenjara maksimal 1 tahun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta Chalik Masulili di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30-5).

Hal itu diungkapkan Chalik berkaitan imunisasi massal yang akan dilakukan serempak di seluruh DKI Jakarta, 31 Mei 2005. Chalik mengimbau seluruh orangtua membawa anak balitanya untuk mendapatkan imunisasi polio itu. Termasuk balita yang sudah mendapat imunisasi polio sebelumnya.

“Balita yang sudah diimunisasi polio pun wajib diimunisasi lagi. Tujuannya, memblokir teritorial virus polio di DKI. Bahkan yang sakit juga wajib datang. Kalau yang lagi sakit, kalau sakitnya tidak parah-parah amat seperti batuk dan pilek, juga harus diimunisasi,” kata Chalik.

Kadis Dinkes mengatakan jenis vaksin polio yang akan digunakan adalah produk keluaran PT Bio Farma. Pemerintah menjamin kualitas vaksin ini, walaupun World Health Organisasi (WHO) sebelumnya men-delisting-nya.

Pemprov DKI sudah menyiapkan 8.028 pos imunisasi polio di seluruh DKI Jakarta. Semua pos itu nantinya akan memberikan imunisasi gratis kepada 705.200 balita yang tercatat di Jakarta. Setiap tiga rukun tetangga (RT), disiapkan satu pos. “Setiap pos terdiri dari lima petugas,” ujar Chalik.

Imunisasi massal ini akan dilakukan serempak mulai pukul 8.00 hingga pukul 17.00. Perinciannya, petugas imunisasi akan membuka pos sejak pukul 8.00–12.00. Kemudian petugas akan beristirahat pada pukul 12.00–13.00. Dan imunisasi akan dilanjutkan hingga pukul 17.00.

Chalik mengatakan bagi balita yang sudah tercatat mendapatkan imunisasi tetapi tidak datang, akan di-sweeping. Petugas kesehatan baik dari Dinas Kesehatan DKI dan Departemen Kesehatan RI akan sweeping dari rumah ke rumah.

“Yang tidak datang langsung di-sweeping. Maksudnya didata, dicek kenapa tidak mau melakukan imunisasi polio,” ujar Chalik.

Sweeping, kata Chalik, bertujuan agar nantinya balita yang belum diimunisasi dapat mengikuti program imunisasi polio massal yang akan berlangsung seminggu, sampai 7 Juni 2005.

Chalik mengatakan dana pelaksanaan imunisasi massal di wilayah Jakarta ini Rp2,94 miliar, di antaranya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Uang tersebut sebagian digunakan untuk transpor petugas imunisasi, pendirian pos, konsumsi petugas, dan penyusunan laporan imunisasi.

Imunisasi Polio Pertama

Istri Wakil Presiden (Wapres) Mufidah Kalla mengetes pertama vaksin polio kepada sembilan balita sebagai simbol akan dimulainya imunisasi massal polio, hari ini (31-5) di tiga provinsi.

Mufidah Kalla me ngetes vaksin polio kepada sembilan anak di rumah dinas Wapres, Jalan Diponegoro Jakarta Pusat, Senin (30-5).

Mufidah Kalla memberikan dua tetes vaksin kepada anak-anak yang antara lain berasal dari Tangerang dan karyawan Depkes.

Mufidah Kalla dalam sambutannya meminta agar para ibu tidak takut membawa anak-anaknya ke posyandu dan puskesmas untuk melakukan imunisasi polio.

Sementara itu, Staf Ahli Menkes Nyoman Kadun mengatakan imunisasi massal polio akan dilakukan di tiga provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Kini, katanya, terdata 15 anak yang terjangkit lumpuh layu.

Sementara biaya imunisasi massal mencapai Rp36 miliar, di mana Rp10 miliar berasal dari pemerintah pusat dan sisanya berasal antara lain dari pemda setempat, WHO, dan UNICEF.

Menurut rencana, imunisasi massal akan dilakukan dua kali yakni 31 Mei dan 28 Juni 2005 dimulai pukul 8.00.

Depkes mendirikan 5.290 pos pelayanan imunisasi untuk melayani 6,4 juta balita di tiga provinsi tersebut dan PT Bio Farma telah menyiapkan 13,1 juta vaksin polio untuk itu.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengatakan balita harus mendapatkan imunisasi polio pada 31 Mei dan 28 Juni 2005 di tiga provinsi itu penting karena 14 balita di Sukabumi, Bogor, dan Lebak yang tertular virus polio liar sehingga mereka kini menderita lumpuh.

Menurut Menkes, bagi balita yang telah mendapat imunisasi polio dapat mengikuti PIN polio tersebut agar menjadi lebih kebal, sedang bagi balita di luar tiga provinsi itu dapat meminta vaksin polio secara gratis di puskesmas atau rumah sakit terdekat.

“Empat belas balita terkena virus polio liar di Sukabumi, Bogor, dan Lebak, ditemukan akhir April hingga 25 Mei 2005 karena mereka belum mendapatkan imunisasi polio,” katanya.

Menkes menyatakan untuk memutus rantai penularan virus polio dari Afrika itu, imunisasi polio gratis sangat diperlukan bagi sekitar 6,4 juta anak balita di Banten, DKI, dan Jabar pada 31 Mei dan 28 Juni 2005 dengan biaya sekitar Rp38 miliar.

Dia menegaskan vaksin polio yang diberikan kepada balita adalah produksi perusahaan milik negara (BUMN) PT Bio Farma Bandung yang telah mendapat sertifikat keamanan dan mutu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).

Dengan demikian, katanya, tidak benar jika ada anggapan dari LSM bahwa vaksin produk dalam negeri itu tidak memenuhi standar internasional atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menkes mengakui vaksin produksi PT Bio Farma pada Desember 2004 tidak diikutkan dalam daftar tender pengadaan vaksin dunia karena kemasan vaksin yang belum sesuai dengan ketentuan WHO, tapi mulai Juni 2005 Bio frama sudah ikut tender vaksin WHO.

Menkes mengemukakan kemunculan wabah polio di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jabar mendorong pemerintah melakukan penelitian mendalam dan pengawasan yang intensif, untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

“Munculnya kasus poliomyelitis di Provinsi Jawa Barat pada pertengahan Maret lalu telah direspons secara terarah oleh pemerintah dan kini penelitian lebih mendalam sedang dilaksanakan,” kata Menkes.

Dia menambahkan Pemerintah Indonesia juga telah mendorong pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten untuk meningkatkan pemantauan dan pengawasan terhadap wabah tersebut di wilayah masing-masing. “Pemerintah juga menyampaikan penghargaan kepada WHO dan kantor regionalnya (SEARO) yang telah mengirimkan timnya untuk membantu pemerintah meneliti epidemis,” ujar Menkes.

Sidang WHO ini merupakan sidang tahunan World Health Organization (WHO) yang ditujukan membahas pemajuan kesehatan masyarakat secara global dan mengupayakan strategi pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit khususnya yang menular seperti HIV/AIDS, SARS, avian flu, polio, dan lainnya. S-1

Muslims urged to refuse ‘un-Islamic’ vaccinations

http://www.independent.co.uk/life-style/health-and-wellbeing/health-news/muslims-urged-to-refuse-unislamic-vaccinations-434027.html

Muslims urged to refuse ‘un-Islamic’ vaccinations
By Ruth Elkins
Sunday, 28 January 2007

A leading Islamic doctor is urging British Muslims not to vaccinate their children against diseases such as measles, mumps, and rubella because they contain substances making them unlawful for Muslims to take.

Dr Abdul Majid Katme, head of the Islamic Medical Association, says almost all vaccines contain un-Islamic “haram” derivatives of animal or human tissue, and that Muslim parents are better off letting childrens’ immune systems develop on their own.

Dr Katme, an NHS psychiatrist, said: “If you breastfeed your child for two years – as the Koran says – and you eat Koranic food like olives and black seed, and you do ablution each time you pray, then you will have a strong defence system.”

The Department of Health and the British Medical Association have criticised Dr Katme, saying his suggestions are likely to increase infection rates of children in Muslim communities. Other Muslim groups have also condemned the suggestion.

Kehalalan Obat, 99 Persen Dokter Tidak Tahu

http://republika.co.id/kirim_berita.asp?id=298327&kat_id=105&edisi=Cetak

Jumat, 29 Juni 2007

Kehalalan Obat
99 Persen Dokter Tidak Tahu ( )

Kecemasan pasien kini bertambah satu lagi. Selain cemas karena sakit dan harga obat yang terus melambung, kini kita harus dipusingkan dengan status kehalalan obat-obatan tersebut. Beberapa obat memang mencantumkan dengan jelas sumber bahannya. Misalnya pada obat Lovenox buatan Aventis yang menuliskan bersumber babi pada kemasannya. Obat tersebut merupakan hepharin (berfungsi mengencerkan darah) yang dipakai bagi penderita penyakit jantung. Namun sayangnya obat yang dipakai dengan cara disuntikkan itu hanya menginformasikannya pada kemasan luar.

Ada dokter yang memberitahukan hal tersebut pada pasien, tetapi banyak juga yang tidak memberitahukan. Akibatnya pasien yang tidak diinformasikan oleh dokter tidak akan mengetahui hal tersebut. Celakanya lagi, sebagian besar dokter tidak mengetahui status kehalalan obat-obatan yang digunakan untuk para pasiennya tersebut.

Prof dr Jurnalis Uddin bahkan menduga hampir 99 persen dokter yang ada di Indonesia tidak tahu halal dan haramnya obat yang beredar, karena memang tidak pernah diajarkan kepada mereka. Nah, kalau dokter saja tidak tahu, bagaimana pasiennya?

Minim informasi
Bagaimana dokter mendapatkan informasi tentang obat di Indonesia? Pertama adalah selama pendidikan mereka di fakultas kedokteran di berbagai universitas. Setelah jadi dokter, mereka mendapatkan informasi dari Buku ISO terbitan ISFI yang terbit tiap tahun, buku MMIS edisi Indonesia yang terbit tiap tahun, medical representative yang menyampaikan produk obat dari pabrik/distirubutor, seminar/workshop dimana peserta biasanya meniru lead doctor di bidang tertentu, jurnal cetak dan digital, serta Evidence Based Medicine yang berupa Cochrane atau Evidence Matters.

Informasi yang diberikan oleh berbagai sumber tersebut adalah menyangkut bahan aktif obat, khasiat obat, indikasi pemakaian obat, kontra indikasi, efek samping, dosis dan kemasan. Kkhusus dari evidence based medicine, memberikan pilihan obat/tindakan berdasarkan the best evidence mutakhir. Info mengenai status kehalalan atau bahan haram yang mungkin digunakannya sama sekali tidak ada.

Dari sekitar 200 perusahaan obat yang berproduksi di Indonesia, sebagian besar bahan baku obat yang digunakan dibuat di luar negeri. Prosedur pembuatan obat sesuai dengan prosedur pabrik induk di luar negeri atau beracik dari bahan-bahan yang diimpor dari luar negeri. Dengan demikian mereka juga tidak memiliki informasi yang memadai mengenai status kehalalannya. Sedangkan dari lebih kurang 10.000 jenis obat yang beredar saat ini hampir semuanya belum mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.

Dari fakta-fakta di atas, maka konsumen Muslim memang belum terlindungi secara baik, khususnya dalam penggunaan obat-obatan. Kendala ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan oleh pihak-pihak yang terkait, agar masyarakat tidak terkatung-katung dengan ketidakjelasan status kehalalan obat yang beredar. halalmui.or.id

Muslim urged to shun ‘unholy’ vaccines

http://www.sherdog.net/forums/showthread.php?t=502697

The Sunday Times January 28, 2007

Muslim urged to shun ‘unholy’ vaccines
Abul Taher
A MUSLIM doctors’ leader has provoked an outcry by urging British Muslims not to vaccinate their children against diseases such as measles, mumps and rubella because it is “un-Islamic”.

Dr Abdul Majid Katme, head of the Islamic Medical Association, is telling Muslims that almost all vaccines contain products derived from animal and human tissue, which make them “haram”, or unlawful for Muslims to take.
Islam permits only the consumption of halal products, where the animal has had its throat cut and bled to death while God’s name is invoked.

Islam also forbids the eating of any pig meat, which Katme says is another reason why vaccines should be avoided, as some contain or have been made using pork-based gelatine.

His warning has been criticised by the Department of Health and the British Medical Association, who said Katme risked increasing infections ranging from flu and measles to polio and diphtheria in Muslim communities.

Katme, a psychiatrist who has worked in the National Health Service for 15 years, wields influence as the head of one of only two national Islamic medical organisations as well as being a member of the Muslim Council of Britain. Moderate Muslims are concerned at the potential impact because other Islamic doctors will have to confirm vaccines are derived from animal and human products.

There is already evidence of lower than average vaccination rates in Muslim areas, reducing the prospect of the “herd immunity” needed to curb infectious diseases such as measles, mumps and rubella.
Katme’s appeal reflects a global movement by some hardline Islamic leaders who are telling followers torefuse vaccines from the West.

In Nigeria, Afghanistan, Pakistan and parts of India, Muslims have refused to be immunised against polio after being told that the vaccines contain products that the West has deliberately added to make the recipients infertile.

Katme said he was bringing the message to Britain after analysing the products used for the manufacture of the vaccines. He claimed that Muslims must allow their children to develop their own immune system naturally rather than rely on vaccines.

He argued that leading “Islamically healthy lives” would be enough to ward off illnesses and diseases.

“You see, God created us perfect and with a very strong defence system. If you breast-feed your child for two years — as the Koran says — and you eat Koranic food like olives and black seed, and you do ablution each time you pray, then you will have a strong defence system,” he said.

“Many vaccines, especially those given to children, are full of haram substances — human parts, gelatine from pork, alcohol, animal/monkey parts, all coming from the West who do not have knowledge of halal or haram. It is forbidden in Islam to have any of these haram substances in our bodies.”

Katme singled out vaccines such as MMR as ones to avoid, despite doctors saying that they are essential to keep a baby healthy. Others included those for diphtheria, tetanus, acellular pertussis and meningitis.

Dr Shuja Shafi, a spokesman for the health and medical committee of the Muslim Council of Britain, said: “In terms of ingredients in vaccines, there are so many things that are probably haram, but in the absence of an alternative we are allowed to take it for the sake of our health.”

http://www.timesonline.co.uk/article…570067,00.html

Banyak Obat dan Kosmetik Belum Disertifikasi Halal

http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=27114&section=58

Banyak Obat dan Kosmetik Belum Disertifikasi Halal

Selasa 17 April 2007 15:54 wib

JAKARTA, KOMPAS – Banyak obat-obatan dan kosmetika yang beredar di pasaran belum mendapat sertifikat halal. Padahal, Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) mensinyalir adanya sejumlah obat dan kosmetik mengandung bahan yang tidak halal. Karena itu, pemerintah didesak untuk memperketat pengawasan beragam produk obat dan makanan demi melindungi konsumen, khususnya kaum muslim.

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dalam sambutannya pada seminar nasional bertema “Kehalalan Obat-obatan dan Kosmetika LPPOM-MUI”, di auditorium YARSI, Jakarta, Selasa (17/4), menuturkan, Indonesia merupakan negara yang paling banyak penduduk muslimnya, sehingga merupakan potensi pasar yang besar untuk obat-obatan dan kosmetika lokal maupun impor.

Wakil Ketua Pengurus Pusat MUI Din Syamsuddin menyatakan, kehalalan kosmetika dan obat-obatan masih jadi masalah. Dalam bidang pangan, belum banyak restoran bersertifikat halal. Bahkan, yang sudah mencantumkan label halal pun belum tentu dijamin kehalalannya. ”Hal ini disebabkan belum ada dukungan dari pemerintah, tidak ada Undang Undang yang mengatur, pencantuman label halal masih bersifat sukarela. Sedangkan MUI tidak berwenang mengenai hal tersebut,” ujarnya menegaskan.

Direktur LPPOM MUI Muhamad Nadratuzzaman Hosen menuturkan, sampai sekarang baru 16.040 produk pangan dari 874 perusahaan yang disertifikasi kehalalannya. Sementara untuk obat-obatan dan kosmetika, baru lima perusahaan yang mengajukan sertifikasi kehalalan produk mereka. “Ini disebabkan kurangnya dukungan dari pemerintah terhadap upaya perlindungan konsumen dari produk-produk yang mengandung bahan tidak halal,” ujarnya.

Padahal, LPPOM-MUI mensinyalir penggunaan babi dan turunannya maupun bagian tubuh manusia dalam dunia kedokteran lazim terjadi. Bahan-bahan itu dimanfaatkan dalam pembuatan produk-produk seperti vaksin, sediaan obat dan bahan kosmetika. Perusahaan-perusahaan farmasi yang merupakan perusahaan multinasional juga telah menginformasikan kondisi itu secara terbuka. “Para ulama sepakat membolehkan penggunaan obat-obatan dan vaksin yang mengandung babi jika jika dalam kondisi darurat,” tuturnya.

Sesuai dengan Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, sediaan farmasi termasuk di dalamnya obat dan kosmetika harus terjamin keamanan, mutu dan manfaatnya sebelum dapat diedarkan dan digunakan di Indonesia. “Selain itu, masyarakat muslim menuntut obat dan kosmetika yang digunakan harus halal,” kata Fadilah.

“Kebutuhan dan tuntutan masyarakat makin tinggi terhadap obat dan kosmetika yang tidak saja harus aman, bermutu dan bermanfaat, tetapi juga harus halal. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi dunia usaha di Indonesia dan negara-negara Islam,” ujar Fadilah. Makin terbukanya perdagangan antar negara membuat Indonesia harus berhati-hati terhadap produk atau bahan baku yang tidak halal ataupun diragukan kehalalalnnya, terutama produk atau bahan yang berasal dari hewan.

Sementara tidak semua dokter mengetahui tentang status obat-obatan yang akan diberikan pada pasiennya, termasuk obat-obatan yang digunakan untuk penderita jantung koroner. Obat itu ternyata mengandung bahan aktif yang berasal dari babi. “Sayangnya tidak semua dokter mengerti tentang isi obat. Sementara konsumen muslim kurang diberi akses untuk mengetahui jenis dan merek apa obat yang akan diberikan pada mereka, terutama pasien rawat inap,” kata Prof dr Jurnalis Uddin dari Universitas YARSI.

Direktur LPPOM MUI: Hati-Hati Konsumsi Obat dan Kosmetika

http://www.eramuslim.com/berita/bc2/7427115357-direktur-lppom-mui-hati-hati-konsumsi-obat-dan-kosmetika.htm

Direktur LPPOM MUI: Hati-Hati Konsumsi Obat dan Kosmetika

Jumat, 27 Apr 07 12:07 WIB

Umat Islam dihimbau agar teliti dan hati-hati dalam mengkonsumsi obat-obatan dan kosmetika. Sebab, saat ini obat yang kita makan ketika sakit dan kosmetika yang kita pakai untuk mempercantik diri masih banyak yang belum memiliki sertifikasi halal.

Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Dr.Ir. H. Muhammad Nadratuzzaman Hosen mengatakan, sekitar 120 perusahaan obat-obatan dan tujuh perusahaan kosmetik belum mendapat sertifikasi halal, dan hanya lima perusahaan yang telah memiliki label halal.

Meskipun produsen pangan, obat-obatan, dan kosmetika memang tidak diwajibkan mendapatkan sertifikasi halal oleh pemerintah. Tetapi untuk menjaga ketentraman hati dan menjaga umat untuk tidak mengkonsumsi sesuatu yang haram, LPPOM MUI menghimbau setiap produsen mau mendaftarkan produknya.

Berikut petikan wawancara Eramuslim dengan Direktur LPPOM MUI, ditemui sela-sela Seminar Nasional Kehalalan Obat-obatan dan Kosmetika, di Auditorium Universitas Yarsi, Jakarta.

Berapa persen obat-obatan dan kosmetika yang belum disertifikasi, karena inikan mencemaskan umat Islam?

Kalau soal presentasinya saya memang tidak tahu persis ya, karena kita kan bersifat pasif, kalau ada orang yang meminta sertifikasi halal, mengajukan aplikasi kita baru memprosesnya. Tapi yang jelas mengenai obat-obatan ini, saya mendengar bahwa ada 120 perusahaan obat, belum lagi importir dan distributor. Tapi kalau kita lihat jenis obat, misalnya obat penurun panas jenis parasetamol dari berbagai merek. Kalau kita lihat sekarang, baru lima perusahaan obat-obatan dan kosmetika yang meminta sertifikasi halal. Jadi menurut kami hampir 95 persen obat-obatan tidak mempunyai sertifikasi halal, termasuk juga kosmetika.

Nah sekarang, karena halal atau haram ini otoritas ulama bukan otoritas LPPOM, kami tugasnya hanya melakukan pemeriksaan, pengkajian dan mengaudit. Jadi kami ingin mengajak dan mengingatkan masyarakat bahwa masih banyak persoalan mengenai keharaman di sektor obat-obatan dan kosmetika.

Oleh karena itu kami menghimbau BPOM dan Depkes agar melihat ini sebagai masalah yang serius, karena Indonesia adalah negara Muslim terbesar. Dan nampaknya pemerintah belum mempunyai political will untuk melindungi konsumen muslim. Kalau kami ini posisinya bukan sebagai pemerintah, hanya membantu tugas dari pemerintah. Jika uluran tangan kami belum disetujui, cobalah cari jalan keluarnya. Yang tidak saya inginkan adalah masyarakat konsumen muslim yang sudah sadar, melakukan pengadilan sendiri.

Maksudnya pengadilan sendiri?

Kalau ada pabrik obat yang diketahui jelas-jelas produknya haram, mereka lalu membakarnya atau melakukan tindakan lainnya, jadi seperti itu. Kita tidak mau seperti itulah, kita ingin ada penyelesaian bahwa namanya konsumen itu harus dilindungi, walaupun hanya menyangkut obat-obatan dan kosmetika, karena kalau kita bergantung pada dokter, ternyata dokter juga mengakui tidak pernah mendapatkan informasi lengkap tentang obat-obatan yang mengandung unsur babi atau keharaman lainnya. Jadi tidak dapat diharapkan, apalagi pasien yang tidak tahu dengan obat-obatan, yang percaya pada dokter, sedangkan dokter saja tidak tahu.

Kalau dikemasannya ditulis mengandung babi atau ada gambarnya, tidak menjadi masalah, tetapi persoalannya lagi tidak semua dokter memperhatikannya, kadang-kadang apotik yang menjualnya tidak dengan kemasannya. Langsung obatnya saja. Jadi peluang terjadinya disinformasi seperti itukan sangat besar. Karena dokter sendiri ada yang praktek sampai jam dua malam, karena jumlah pasiennya terlalu banyak, mana sempat memperhatikan.

Tapi karena masyarakat sudah percaya pada dokter, apapun yang dikasih obatnya oleh dokter, pasti diminum, tidak pernah tanya-tanya soal keharamannya. Kalau dokternya pernah diberitahukan oleh pabrik farmasi tentang kandungan obat tertentu yang diragukan kehalalannya, jika tidak memberitahukan kepada pasiennya berarti salah dong, ada mata rantainya. Oleh karena itu, kami juga menghimbau rumah sakit dan dokter untuk memperhatikan masalah ini.

Bagaimana dengan kosmetika yang banyak diiklankan, tapi belum memenuhi standar kehalalan?

Masalah penggunaan plasenta misalnya, kalau dari manusia jelas-jelas diharamkan, tapi saya dengar juga bahwa plasenta dari manusia banyak digunakan, sebab paling bagus. Tapi kembali lagi, ibu-ibu kalau kita jelaskan ini, umumnya jawaban begini “lebih baik gak dengar deh, kalau gak tahu kan boleh.” Di sini dapat kita lihat bagaimana konsumen di Indonesia yang mayoritas Muslim memiliki kemauan atau tidak. Pabrik-pabrik itu akan berubah kalau konsumen Muslimnya juga menggugat, tapi kalau konsumen Muslimnya senang-senang saja, kita mau bilang apa.

Apakah anda melihat selama ini konsumen Muslim bersikap tak peduli terhadap masalah ini?

Ya, saya pikir sepertinya begitu, tidak merasakan ini penting. Oleh karenanya berbagai cara kita lakukan, salah satunya dengan menyelenggarakan seminar untuk sosialisasi guna mengingatkan masyarakat, bukan hanya produsen, tapi juga konsumen. Jangan menganggap obat-obatan dan kosmetika ini oke-oke saja, karena halal dan haram yang tahu ulama. Dan jangan berani mengatakan ini halal, dari mana kalau bukan dari ulama, pengetahuan kitakan terbatas.

Berarti LPPOM MUI harus bersedia menjelaskannya?

Ya itulah, bicara soal tanggung jawab, seperti Wakil Ketua MUI Din Syamsuddin menyarankan, agar mengumumkan obat-obatan dan kosmetika yang jelas-jelas haram. Tidak peduli orang resah atau tidak, tapi ini tanggung jawab ulama.

Bagaimana LPPOM menyikapi tantangan ini?

Kami tetap menginginkan persuasif edukatif, kalaupun kami tahu jelas-jelas itu barang haram, akan kami buat surat, kami ingatkan. Meskipun caranya berbeda tapi tujuannya sama, dan melalui kegiatan sosialisasi melalui seminar kita, kita mencoba meluruskan kesalahpahaman dari pihak Departemen Kesehatan yang semula menganggap saya membuat isu, tapi setelah dijelaskan bahwa halal haram itu tanggung jawab ulama, mereka baru bisa mengerti. Sekarang alhamdulillah Kepala BPOM cukup mengerti bahwa memang sebelum mengedarkan obat harus mempertimbangkan masalah kehalalannya.

Bagaimana dengan peredaran obat kuat yang saat ini marak dijual bebas, apakah ini sudah memenuhi standar persyaratan?

Sebenarnya untuk pengawasan tugas BPOM, kami kan bukan pemerintah. Kami menghimbau agar obat-obatan yang menimbulkan efek negatif diawasi. Sebenarnya yang menjadi permasalahan bukan hanya kehalalan atau bisa menyembuhkan saja, namun kalau obat itu dapat menjadi racun dan menimbulkan efek yang besar, tentu akan diharamkan juga oleh agama.

Kami menghimbau agar pemerintah berani menegakkan hukum, masalahnya dinegara kita penegakan hukum ini lemah. Kami prihatin, seolah-olah negeri ini tidak punya pemerintah. Seharusnya pemerintah dapat mengatur, melindungi konsumen, seperti kalau ada obat liar, obat palsu atau berbagai macam obat yang beredar diseluruh Indonesia. Kasihan konsumen kita, tidak tahu apa-apa.

Cara ini berarti bukan hanya melindungi konsumen yang mayoritas muslim saja, tetapi juga non muslim?

Iya lah, agama inikan membuat kemaslahatan seluruh umat atau rahmatan lil alamin. Kami ingin cari yang terbaiklah untuk umat yang terdiri dari konsumen dan produsen. Kita ingin yang terbaik, jangan sampai persoalan halal haram menjadi komoditas permainan orang. Inikan masalah agama, tanggung jawabnya kepada Allah, ini yang kita mau ingatkan.(noffel)

Kasus Sinta Bela Digolongkan KIPI

http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=4523&section=58

Kasus Sinta Bela Digolongkan KIPI
Selasa | 15 Agustus 2006 | 15:39 wib | 0 Komentar | Kirim Artikel

BEKASI, KOMPAS–Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi menggolongkan peristiwa lumpuhnya Sinta Bela (9), siswi Madrasah Ibtidaiyah Al Huda, Jatimulya, Kabupaten Bekasi, adalah kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI).

Untuk itu biaya pemeriksaan dan pengobatan Sinta Bela digratiskan. Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi juga akan mengupayakan kursi roda sehingga Sinta dapat beraktifitas dan kembali bersekolah secara mandiri.

Demikian dikatakan Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dr Herry Fattah dalam jumpa pers di Kantor Komnas Perlindungan Anak, Jakarta, Selasa (15/8) siang.

Dalam jumpa pers yang difasilitasi Sekjen Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait, hadir pula Sinta Bela bersama orang tuanya dan Kepala Puskesmas Jatimulya drg Julita Emilia Payung.

Sinta secara tiba-tiba mengalami kelumpuhan setelah bocah perempuan itu mendapat suntikan antitetanus di sekolahnya bulan November 2005. Orang tua Sinta berkeyakinan putri mereka lumpuh akibat mendapat suntikan itu.

Orangtua Sinta sudah mengupayakan pengobatan bagi putrinya itu. Sebanyak empat rumah sakit sudah didatangi. Namun, jangankan sembuh, penyakit Sinta pun tak diketahui penyebabnya sampai sekarang.

Orangtua Sinta melaporkan kasus putrinya itu ke Polres Bekasi bulan Mei 2006 dan beberapa waktu lalu, mengadukan pula ke Komnas Perlindungan Anak.

Terkait upaya mencari tahu penyebab kelumpuhan Sinta, kata  Herry dalam jumpa pers itu,  Dinas Kesehatan juga akan mengambil contoh spesimen berupa sampel darah dan kotoran Sinta untuk diperiksa.

TERKAIT KASUS LUMPUH AKIBAT IMUNISASI – Diskes Pekanbaru Akan Bertanggungjawab

http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=6&id=487

TERKAIT KASUS LUMPUH AKIBAT IMUNISASI
Diskes Pekanbaru Akan Bertanggungjawab
02 Mar 2007 14:59 wib
ad

PEKANBARU (RiauInfo) – Terkait adanya kasus lumpuhnya murid SD 017 Bukitraya yang diduga akibat imunisasi yang dilakukan di sekolah, pihak Diskes Pekanbaru menyatakan akan bertanggungjawab.

Kepala Diskes Pekanbaru Syaiful Bahri Rab kepada wartawan di Pekanbaru mengatakan, pihaknya akan bertanggungjawab jika memang benar ada siswa yang mendapat dampak negatif akibat imunisasi tersebut.

Namun demikian, menurut dia, tentu harus terlebih dahulu siswa tersebut diperiksa untuk diketahui secara pasti apa penyebabnya. “Biasanya untuk pemeriksaan itu harus dilakukan oleh lembaga kesehatan independen,” ungkapnya.

Syaiful sendiri mengaku sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan atas kasus tersebut, baik dari Puskesmas Bukit Raya maupun dari pihak sekolah. “Sampai sekarang kami belum mendapatkan laporan,” ujarnya.

Namun begitu pihaknya akan melakukan pemanggilan terhadap pihak puskesmas dan pihak sekolah tentang kebenaran informasi itu. Dia mengaku kasus tersebut memang pernah terjadi di Indonesia, tapi belum ada di kota Pekanbaru.(Ad)

Bahkan Disdikpora Belum Tahu Kasus Suci

http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=6&id=450

SALING LEMPAR TANGGUNGJAWAB
Bahkan Disdikpora Belum Tahu Kasus Suci
27 Feb 2007 16:10 wib
ad

PEKANBARU (RiauInfo) – Sudah dapat dipastikan bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, semua instansi akan saling lempar tanggungjawab. Begitu pula halnya dengan kasus Suci, siswa kelas 1 SD 017 Bukitraya, Pekanbaru yang lumpuh setelah diimunisasi.

Bahkan Kadisdikpora Pekanbaru, Drs Syahril Manaf ketika dihubungi wartawan mengaku belum tahu kasus yang menimpa Suci itu. “Saya belum mendapatkan laporan atas kasus tersebut,” ungkap dia seperti dirilis oleh Metro Riau.

Karena belum adanya laporan itu dia mengaku belum bisa memberikan komentar lebih jauh. Sebab dia perlu melakukan pengecekan ke bawahannya, misalnya ke Kepala Cabang Dinas Bukitraya.

Sementara itu Kepala Cabang Dinas Bukitraya, Agussalim SPd ketika dihubungi wartawan mengatakan pihaknya telah memanggil Kepala SD 017 Bukitraya Dra Netti Herawati guna meminta keterangan berkisar kasus tersebut.

Namun dari hasil pemanggilan itu, Kepsek bersangkutan mengaku belum mendapatkan laporan dari orangtua korban. Karena itu dia belum bisa memberikan tanggapan terhadap kasus itu.

Kadis Kesehatan Pekanbaru, Syaiful Rab belum bisa dihubungi. Namun sebelum kasus ini terjadi Syaiful kepada RiauInfo pernah mengatakan bahwa bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibat imunisasi yang dilakukan di sekolah, silahnya menuntut menteri kesehatan.

Menurut dia, program imunisasi campak yang dilakukan terhadap anak-anak, termasuk di sekolah-sekolah itu merupakan program nasional. “Kami di daerah hanya menjalankan tugas saja,” ungkapnya kala itu.(Ad)

IMUNISASI DI SEKOLAH TELAN KORBAN – Suci Jadi Lumpuh Setelah Diimunisasi

http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=6&id=449

IMUNISASI DI SEKOLAH TELAN KORBAN
Suci Jadi Lumpuh Setelah Diimunisasi
27 Feb 2007 16:08 wib
ad

PEKANBARU (RiauInfo) – Imunisasi membabi buta yang dilakukan Dinas Kesehatan (Diskes) Pekanbaru di sekolah-sekolah akhirnya menelan korban juga. Suci Guntari (6) siswa Kelas 1 SD 017 Bukitraya Pekanbaru mengalami kelumpuhan setelah mengikuti imunisasi di sekolahnya.

Imunisasi itu sendiri terjadi 15 Februari lalu saat pihak Diskes Pekanbaru melakukan imunisasi di SD 017 Bukitraya tersebut. Pelaksanaan imunisasi itu sendiri tanpa pemberitahuan kepada para orangtua murid.

Malam sebelum imunisasi itu, Susi memang mengalami sedikit demam panas. Tapi karena kondisinya tidak parah, paginya dia tetap pergi ke sekolah seperti biasa. Kebetulan pada hari itu ada program imunisasi yang dilakukan Diskes Pekanbaru di sekolahnya.

Demi mengikuti aturan sekolah, Suci pun mengikuti program tersebut. Malany baginya, habis disuntik imunisasi, tubuhnya terasa semakin melemah. Namun kondisi itu kurang dihiraukannya, sehingga tidak dilaporkannya kepada guru.

Tapi sewaktu sudah pulang ke rumah, sekitar pukul 15.30 Wib, tiba-tiba tubuhnya kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan bisa serta mata membelalak. Atas inisiatif tetangga diapun dilarikan ke rumah sakit Awal Bross.

Meski telah mendapatkan perawatan intensif kondisi Suci tetap memburuk. Bahkan sebelah tubuhnya kemudian tidak bisa digerakkan lagi. “Pihak rumah sakit sampai sekarang tidak memberitahukan penyakit apa yang diderita anak kami,” ungkap Anto (39) ayah korban.

Anto sendiri tidak bisa menerima kondisi anaknya yang sekarang sudah lumpuh tersebut. Dia merasa yakin kondisi tersebut disebabkan oleh imunisasi yang diberikan kepada anaknya.

Namun Anto belum bisa memastikan apakah nantinya akan menuntut pihak sekolah dan Diskes Pekanbaru. “Yang jelas kondisi anak saya saat ini sangat menyedihkan. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa,” ujarnya sedih.(Ad)

Menderita Demam, Diimunisasi, Ariansyah Meninggal Dunia

http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=11&id=4442

Menderita Demam, Diimunisasi, Ariansyah Meninggal Dunia
28 Mar 2008 10:51 wib
ad

PEKANBARU (RiauInfo) – Kemudaratan akibat imunisasi sembarangan kembali terjadi. Kali ini kenimpa Ariansyah, bayi berusia delapan bulan warga Selatpanjang. Dia meninggal dunia setelah mendapatkan suntikan imunisasi dalam kondisi demam.

Berita ini menjadi headline Pekanbaru Pos edisi Jumat (28/3) ini. Dalam berita berjudul “Bayi Tewas Usai Imunisasi” harian ini menyebutkan, selain Ariansyah tewas, dua bocah lainnya muntah-muntah setelah mendapatkan pengobatan gratis oleh Yayasan Kelompok Sosial Masyarakat Tunas Bangsa.

Keberangan Gubernur Riau HM Rusli Zainal kepada Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau yang dinilai lamban dalam menangani banjir menjadi berita utama Riau Pos. Dalam berita berjudul “Gubernur Riau Marah” menyebutkan Rusli Zainal menilai kinerja BKS Riau sangat buruk dalam menangani korban banjir.

Perampokan yang disertai pemerkosaan terjadi di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Mimi (23) bersama adiknya Ayu (14) menjadi korban pemerkosaan itu. Sehabis puas melampiaskan nafsunya, pelakupun kemudian merampok harta benda korban. Berita itu jadi headline Pekanbaru MX berjudul “Kakak Adik Diperkosa, Harta Dirampok“.

Puluhan ribu warga Riau dikhawatirkan akan kehilangan hak pilihnya dalam Pilgubri 2008 mendatang. Hal ini muncul karena ada indikasi kecurangan yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Berita itu menjadi berita utama Riau Mandiri berjudul “Puluhan Ribu Warga tak Bisa Memilih“.

Sedangkan Metro Riau berita utamanya tentang terbongkarnya tumpukan kayu-kayu ilegal akibat banjir. Dalam berita berjudul “Timbunan Illegal Logging Mengapung” menyebutkan hal ini ditemukan petugas Polda Riau di tengah hutan wilayah Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar.

Kisruh internal yang terjadi di tubuh PKB menjadi berita utama Tribun Pekanbaru hari ini. Harian ini menyebutkan Lukam Edy bakal dipecat dari PKB karena ikut bersengkongkol dengan Muhaimin Iskandar mendongkel Gus Dur. Berita itu berjudul “Lukman Edy Bakal Dipecat“.

Sedangkan Media Riau berita utamanya hari ini tentang pemeriksaan yang dilakukan Tim Pengawasan (Was) Kejati Riau terhadap mantan Bendahara BKS Riau Ibrahim terkait kasus suap Rp 320 juta. Berita itu berjudul “Tim Was Kejati Periksa Ibrahim“.(Ad)

SERING BERDAMPAK NEGATIF – Imunisasi Massal Minta Dihentikan

http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=6&id=506

SERING BERDAMPAK NEGATIF
Imunisasi Massal Minta Dihentikan
05 Mar 2007 15:04 wib
ad

PEKANBARU (RiauInfo) – Imunisasi massal yang dilakukan di sekolah-sekolah sering menimbulkan korban. Bahkan baru-baru ini Ita Rosita (7) warga Serang, Jawa Barat tewas, diduga akibat imunisasi campak yang diikutinya di sekolah.

Sedangkan di Pekanbaru beberapa waktu lalu Susi (6) siswa kelas I SD Negeri 017 Bukitraya mengalami kelumpuhan yang juga diduga akibat imunisasi campak di sekolahnya. Sampai saat ini kondisi Susi masih sangat menyedihkan.

Seringnya muncul korban akibat imunisasi massal di sekolah-sekolah itu, sejumlah orangtua yang ditemui RiauInfo umumnya mengkhawatirkan kalau kasus yang sama akan menimpa putra-putri mereka.

Sehubungan hal itu, mereka minta pemerintah untuk menghentikan saja program imunisasi massal yang dilakukan di sekolah-sekolah tersebut. Stidaknya, kalau memang harus dilakukan di sekolah, tapi harus terlebih dahulu minta izin dari orangtua.

Ningsih (36) salah seorang warga yang anaknya tertuanya kini masih kelas 5 SD mengaku sering khawatir kalau tiba-tiba anaknya mendapatkan imunisasi saat berada di sekolah. “Tapi untung saja akhir-akhir ini sekolah anak saya minta izin dulu sebelum anak-anak diimunisasi,” ujarnya.

Dia sendiri sangat setuju jika pemerintah menghapuskan saja program imunisasi massal tersebut. Menurut dia, lebih baik program imunisasi tersebut diserahkan saja kepada orang tua masing-masing anak, karena mereka yang lebih tahu kondisi kesehatan anak-anaknya.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Viona (40) warga Gobah yang anaknya terkecilnya masih kelas 3 SD. Dia juga setuju kalau program imunisasi massal tersebut dihapuskan. “Soalnya tingkat keamanannya sangat diragukan,” ujarnya.

Viona sendiri, seluruh anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap sejak dari balita. “Jadi saya rasa tidak perlu lagi harus dimunisasi berulang-ulang. Pihak sekolah juga seharusnya tidak memaksakan imunisasi ini kepada anak-anak muridnya,” tambah dia lagi.(Ad)