KIPI – Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi

http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=980&Itemid=2

Pernyataan Sikap dan Rekomendasi KOMNAS PP KIPI
28 Jun 2005

Sebagai bentuk respon atas temuan Polio, adanya kesakitan dan kematian yang diduga terkait dengan Mopping-up putaran pertama, serta pelaksanaan Mopping-up putaran kedua, Komite Nasional Penanggulangan & Pengkajian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KOMNAS PP KIPI) mengeluarkan pernyataan sikap dan rekomendasi sebagai berikut.

Rekomendasi KOMNAS PP KIPI

Mengenai Imunisasi Polio dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Virus Polio Liar di Indonesia

Kami anggota KOMNAS PP KIPI yang terdiri dari para ahli dari ilmuwan kedokteran, farmasi, dan kesehatan masyarakat yang berasal dari organisasi profesi kedokteran, institusi pendidikan tinggi dan praktisi di bidang imunisasi sebagai pencegahan penyakit menular, telah mengadakan diskusi yang mendalam dengan seluruh anggota KOMNAS PP KIPI bersama KOMDA PP KIPI Jabar , DKI, dan Banten.

Kami telah melakukan pengumpulan data primer di lapangan yang langsung mencakup tempat tinggal penderita di daerah yang terkena penykait Polio maupun lumpuh layuih akut, pengumpulan data sekunder dari semua pihak (orang tua, masyarakat, dan pemerintah daaerah) yang terlibat dalam pelaksanaan program imunisasi Mopping-up Polio putaran pertama di 3 propinsi yaitu ; Jabar, DKI dan Banten. Dilanjutkan dengan diskusi mendalam dengan para ahli dari WHO Representative for Indonesia, WHO-SEARO, dan WHO Head Quarter, serta melakukan telaah literature mutahir dan melakukan kaji ulang yang mendalam pada rapat pleno KOMNAS PP KIPI di Jakarta tanggal 5, 7 dan 8 Juni 2005, untuk menghadapi maraknya isu Polio dan upaya pemberantasannya serta kajian beberapa kejadian ikutan pasca imunisasi Polio yang akhir-akhir ini banyak dimuat oleh media massa cetak dan elektronik.

Maka dengan tulus ikhlas dan niat teramat baik kami menyampaikan butir-butir sebagai berikut ;

1. Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang merupakan investais dasar bagi individu, keluarga, masyarakat, dan negara dalam pembangunan nasional yang telah eksplisit tercantum dalam UUD dan pelbagai peraturan perundang-undangan lainnya. Namun upaya pencegahan Penyakit menular juga merupakan kewajiban utama pemerintah yang dijamin oleh UUD dan peraturan perundang-undangan lainnya sebagai unsur utama dalam melindungi dan mensejahterakan masyarakat di masa kini dan mendatang.

2. Dalam rangka upaya penyelamatan nyawa rakyat dan ancaman hilangnya generasi bermutu penerus bangsa yang terjangkit Penyakit menular sehingga kondisi fisik, mental dan sosial mereka makin memerlukan uluran tangan bersama pemerintah dan masyarakat, kebijakan pemerintah yang telah melakukan upaya sebagai berikut

1. Menetapkan kejadian Infeksi virus Polio liar ini sebagai kejadian Luar Biasa (KLB) yang secara klinis ditandai dengan ditemukannya penyakit secara hampir serentak bergejala lumpuh layuh

2. Melakukan surveillans secara akurat

3. Bertindak transparan dalam mengungkapkan data secara apa adanya

4. Melakukan Moppin-up vaksinasi Polio di tiga propinsi ; Jabar, DKI dan Banten

5. Memberikan penjelasan semaksimal mungkin melalui jalur media massa

6. Menetapkan tanggal bersama dilakukannya imunisasi Mopping-up Polio

7. Melakukan persiapan imunisasi missal Mopping-up Polio putaran kedua di tiga propinsi

8. Melaksanakan imunisasi massal Mopping-up Polio putaran pertama dengan cakupan Jabar 4.496.333, DKI 923.029, dan Banten 1.096.987 balita

9. Memantau setiap kejadian KIPI di Puskesmas dan Rumah Sakit rujukan

10. Melayani semua kasus KIPI secara gratis

11. Meneliti semua kasus KIPI secara cermat, hati-hati sesuai dengan kondisi dan indikasi mediknya berdasarkan standard pelayanan medik yang berlaku

12. Mengkaji semua kasus secara serentak sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan, kaidah klarifikasi lapangan yang ditetapkan WHO-PAHO serta kaidah kausalitas yang ditetapkan oleh Institute of medicine (IOM) yang telah diakui oleh dunia

3. Menerima asupan dari berbagai pihak tentang imunisasi dan KIPI

Maka bersama ini kami menyampaiakan hal-hal sebagai berikut

A. Tentang Klinis Penyakit lumpuh layuh akut dan Polio

1. Merasa prihatin atas kejadian yang menimpa anak bangsa, namun telah berupaya kuat untuk melakukan tindakan secara bijak sesuai kaidah ilmu pengetahuan dan HAM yang universal

2. Tidak semua kasus lumpuh layuh akut adalah Polio

3. Diagnosis Polio harus ditegakkan secara akurat dan merujuk pada pedoman diagnosis Penyakit Poliomyelitis

4. Sarana dan Ahli untuk menegakkan diagnosis Polio (secara pemerikasaan laboratorium) di Indonesia telah diakui Depkes, Badan POM dan sesuai standard universal dan hasilnya telah dilakukan cross-check oleh pakar independen WHO di Mumbai, India

5. Jumlah kasus Polio sangat sedikit dibandingkan dengan kasus lumpuh layuh akut

6. Mendukung semua pernyataan yang dikeluarkan oleh Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia

B. Tentang Imunisasi Polio

1. Imunisasi Polio merupakan keharusan dalam menghadapi KLB virus Polio Liar

2. Penunaian perlindungan, penghormatan dan penunaian tugas HAM rakyat Indonesia yang belum/tidak sakit namun sangat mungkin untuk tertular oleh Polio sebagai salah satu Penyakit lumpuh layu akut sangat membahayakan

3. Tidak ada bahaya apabila imunisasi Polio diberikan berlebih

4. Imunisasi Polio pada saat KLB harus diberikan dalam satu waktu yang bersamaan karena merupakan golden-standard internasional untuk pemberantasan virus Polio liar hingga tuntas

5. Imunisasi Polio aman diberikan

C. Tentang vaksin Polio yang dipergunakan dalam imunisasi Polio

1. Vaksin Bio Farma tetap valid sesuai dengan rekomendasi badan POM mengenai izin edar vaksin

2. Aman dan terbukti diakui secara internasional, dan telah berhasil menyelamatkan anak bangsa terhadap serangan virus Polio sejak sepuluh tahun yang lalu

3. Tidak ada upaya menutup-nutupi dari pihak pemerintah dalam upaya melindungi rakyatnya

D. Tentang KIPI

1.

1. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) merupakan factor risiko yang selalu ada pada setiap tindakan medik imunisasi Polio namun dari pengalaman jumlahnya sangat kecil (1:2-6 juta dosis)

2. Risiko tersebut telah terantisipasi dengan baik dalam bentuk sosialisasi prosedur penyaringan terhadap kontra indikasi vaksinasi, pelatihan juru imunisasi dan kader, pembuatan standar nasional penanggulangan KIPI, penyiapan Rumah sakit rujukan

3. Telah dilakukan audit multidisipliner KIPI terhadap 18 kasus oleh KOMDA PP KIPI Jabar yang diverivikasi oleh KOMNAS PP KIPI dengan hasil sesuai dengan klasifikasi lapangan semua kasus terjadi secara ko-insidental yakni pada saat diimunisasi kasus tersebut diduga telah menderita Penyakit lain dan bukan karena imunisasi Polio atau vaksin Polio

Dari kajian tersebut, maka KOMNAS PP KIPI merekomendasikan hasil sebagai berikut :

1.

1. Bahwa KIPI yang terjadi pasca Imunisasi Mopping-up Polio putaran pertama bukan karena imunisasi, namun disebabkan akibat lain yang tidak berhubungan dengan pelaksanaan imunisasi Polio atau vaksin Polio

2. Bahwa imunisasi Mopping-up Polio putaran kedua tanggal 28 Juni 2005 dapat tetap dilaksanakan

3. Bahwa mis-komunikasi antara pelaksana dengan masyarakat yang diduga mengalami KIPI harus diselesaikan secara arif dan bijak

Jakarta 20 Juni 2005

Ketua KOMNAS PP KIPI

Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S Hadinegoro Sp.A (K)

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Definisi KIPI

Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penaggulangan KIPI (KN PP KIPI), KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (arthritis kronik pasca vaksinasi rubella), atau bahkan 42 hari (infeksi virus campak vaccine-strain pada pasien imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio paralitik serta infeksi virus polio vaccine-strain pada resipien non imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio).

Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat, intoleransi, reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan.efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsure vaksin dengan latar belakang genetic. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsure lain yang terkandung dalam vaksin.

Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan. Sesuai telaah laporan KIPI oleh Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM) USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi karena kebetulan saja. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (pragmatic errors).

Etiologi

Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu unutk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai:

  1. besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu
  2. sifat kelainan tersebut lokal atau sistemik
  3. derajat sakit resipien
  4. apakah penyebab dapat dipastikan, diduga, atau tidak terbukti
  5. apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan vaksin, kesalahan produksi, atau kesalahan prosedur

KN PP KIPI membagi penyebab KIPI menjadi 5 kelompok faktor etiologi menurut klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu:

  1. Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors)

Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi, misalnya:

    • Dosis antigen (terlalu banyak)
    • Lokasi dan cara menyuntik
    • Sterilisasi semprit dan jarum suntik
    • Jarum bekas pakai
    • Tindakan aseptik dan antiseptik
    • Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik
    • Penyimpanan vaksin
    • Pemakaian sisa vaksin
    • Jenis dan jumlah pelarut vaksin
    • Tidak memperhatikan petunjuk produsen

Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan apabila terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama.

  1. Reaksi suntikan

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope.

  1. Induksi vaksin (reaksi vaksin)

Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan resiko kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atauberbagai tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi obat atau vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana imunisasi.

  1. Faktor kebetulan (koinsiden)

Seperti telah disebutkan di atas maka kejadian yang timbul ini terjadi secara kebetulan saja setelah diimunisasi. Indicator faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi.

  1. Penyebab tidak diketahui

Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan kedalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan kedalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya denagn kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.

Gejala Klinis KIPI

Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya. Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya.

Reaksi KIPI

Gejala KIPI

Lokal

Abses pada tempat suntikan

Limfadenitis

Reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis, BCG-itis

SSP

Kelumpuhan akut

Ensefalopati

Ensefalitis

Meningitis

Kejang

Lain-lain

Reaksi alergi: urtikaria, dermatitis, edema

Reaksi anafilaksis

Syok anafilaksis

Artralgia

Demam tinggi >38,5°C

Episode hipotensif-hiporesponsif

Osteomielitis

Menangis menjerit yang terus menerus (3jam)

Sindrom syok septik

Dikutip dari RT Chen, 1999

Mengingat tidak ada satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek samping, maka apabila seorang anak telah mendapatkan imunisasi perlu diobsevasi beberapa saat, sehingga dipastikan tidak terjadi KIPI (reaksi cepat). Berapa lama observasi sebenarnya sulit ditentukan, tetapi pada umumnya setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan observasi selama 15 menit.untuk menghindarkan kerancuan maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu timbulnya gejala klinis.

Jenis Vaksin

Gejala Klinis KIPI

Saat timbul KIPI

Toksoid Tetanus (DPT, DT, TT)

Syok anafilaksis

Neuritis brakhial

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian

4 jam

2-18 hari

tidak tercatat

Pertusis whole cell (DPwT)

Syok anafilaksis

Ensefalopati

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian

4 jam

72 jam

tidak tercatat

Campak

Syok anafilaksis

Ensefalopati

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian

4 jam

5-15 hari

tidak tercatat

Trombositopenia

Klinis campak pada resipien imunokompromais

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian

7-30 hari

6 bulan

tidak tercatat

Polio hidup (OPV)

Polio paralisis

Polio paralisis pada resipien imunokompromais

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian

30 hari

6 bulan

Hepatitis B

Syok anafilaksis

Komplikasi akut termasuk kecacatan dan kematian

4 jam

tidak tercatat

BCG

BCG-itis

4-6 minggu

Dikutip dengan modifikasi dari RT Chen, 1999

Angka Kejadian KIPI

KIPI yang paling serius terjadi pada anak adalah reaksi anafilaksis. Angka kejadian reaksi anafilaktoid diperkirakan 2 dalam 100.000 dosis DPT, tetapi yang benar-benar reaksi anafilaksis hanya 1-3 kasus diantara 1 juta dosis. Anak yang lebih besar dan orang dewasa lebih banyak mengalami sinkope, segera atau lambat. Episode hipotonik/hiporesponsif juga tidak jarang terjadi, secara umum dapat terjadi 4-24 jam setelah imunisasi.

Imunisasi Pada Kelompok Resiko

Untuk mengurangi resiko timbulnya KIPI maka harus diperhatikan apakah resipien termasuk dalam kelompok resiko. Yang dimaksud dengan kelompok resiko adalah:

  1. Anak yang mendapat reaksi simpang pada imunisasi terdahulu

Hal ini harus segera dilaporkan kepada Pokja KIPI setempat dan KN PP KIPI dengan mempergunakan formulir pelaporan yang telah tersedia untuk penanganan segera

  1. Bayi berat lahir rendah

Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama dengan bayi cukup bulan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan adalah:

a) Titer imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah dar pada bayi cukup bulab

b) Apabila berat badan bayi sangat kecil (<1000 gram) imunisasi ditunda dan diberikan setelah bayi mencapai berat 2000 gram atau berumur 2 bulan; imunisasi hepatitis B diberikan pada umur 2 bulan atau lebih kecuali bila ibu mengandung HbsAg

c) Apabila bayi masih dirawat setelah umur 2 bulan, maka vaksin polio yang diberikan adalah suntikan IPV bila vaksin tersedia, sehingga tidak menyebabkan penyebaaran virus polio melaui tinja

  1. Pasien imunokompromais

Keadaan imunokompromais dapat terjadi sebagai akibat penyakit dasar atau sebagai akibat pengobatan imunosupresan (kemoterapi, kortikosteroid jangka panjang). Jenis vaksin hidup merupakan indikasi kontra untuk pasien imunokompromais dapat diberikan IVP bila vaksin tersedia. Imunisasi tetap diberikan pada pengobatan kortikosteroid dosis kecil dan pemberian dalam waktu pendek. Tetapi imunisasi harus ditunda pada anak dengan pengobatan kortikosteroid sistemik dosis 2 mg/kg berat badan/hari atau prednison 20 mg/ kg berat badan/hari selama 14 hari. Imunisasi dapat diberikan setelah 1 bulan pengobatan kortikosteroid dihentikan atau 3 bulan setelah pemberian kemoterapi selesai.

  1. Pada resipien yang mendapatkan human immunoglobulin

Imunisasi virus hidup diberikan setelah 3 bulan pengobatan utnuk menghindarkan hambatan pembentukan respons imun.

Indikasi Kontra dan Perhatian Khusus Untuk Imunisasi

Pada umumnya tidak terdapat indikasi kontra imunisasi untuk individu sehat kecuali untuk kelompok resiko. Pada setiap sediaan vaksin selalu terdapat petunjuk dari produsen yang mencantumkan indikasi kontra serta perhatian khusus terhadap vaksin. Petunjuk ini harus dibaca oleh setiap pelaksana vaksinasi. (cfs/pedoman tata laksana medik KIPI bagi petugas kesehatan)

34 comments

  1. mungkin sebagian besar KIPI disebabkan karena teknik penyuntikan dan tempat penyuntikan yg salah krn itu sangat diperlukan pelatihan bagi paramedis sebagai pelaksana Jurim,Thx…

  2. Ya .. mungkin …. Atau
    Mungkin ya, mungkin tidak …
    Mungkin … ada kemungkinan lain.
    Mungkin ini… mungkin itu…

  3. assalamualaikum wr.wb
    saya perawat pak kebetulan saya seorang vaksinator di puskesmas. tulisan kipi nya lengkap sekali persis seperti di buku yang saya baca.
    boleh tidak blog ini saya rekomendasikan di blog saya?

  4. Saya ingin bertanya, saya menjumpai kasus pada seorang balita. Terdapat benjolan seperti abses (sampai sebesar telor ayam) akibat suntikan immunisasi DPT. Mengapa ini bisa terjadi. Apakah karena kesalahan bidannya atau karena tidak sterilnya alat suntik yang digunakan. Trima kasih dan mohon responnya.

    1. Wah agak susah jawabnya, sebab saya memang tidak menyarankan vaksinasi. Kalau anaknya masih dalam keadaan menyusui, bisa diterapi lewat ibunya. Konsumsi rutin sehari 3 kali Teh Rosella dan VCO. Insya Allah bisa kempesss.

  5. Pak Daus,

    Apa itu ilmiah.Saya hanya berfikir, jika ini memang berguna, walaupun belum dilakukan uji lab ini dan itu, ya pake aja

  6. anak kedua saya baru dapat 3 imunisasi dasar aja (polio, bcg,hep B) apa yg hrs saya lakukan? kalo dia sakit, pasti ada yg komen: ” itu sih gak diimunisasi, jd gampang sakit”

    1. Sedini mungkin anak harus diakrabkan dengan Madu, jus buah, sayuran, dan herbal, contoh herbal: teh rosella. Kalau sudah bisa minum kapsul biasakan minum habbatussauda, VCO. Dari 3 anak saya, NO. 1 lengkap vaksinasi, No. 2 Separuh, No. 3. Tidak sama sekali. Pekan lalu ketiganya kena “Gondongan”, tapi yang terkena demam tinggi justeru yang No.1 yang vaksinasinya lengkap. Setelah menjalani back to nature, pola makan, obat2an non kimia sintetik (herbal), AlhamduliLlah sudah 4 tahunan tidak pernah ketemu dokter anak.

  7. Imunisasi di buat dari bahan yang haram lagi beracun, >< dengan aturan Allah. Aturan Allah tentang kesehatan ada di surat Al Baqarah ayat 168, Wahai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ada di bumi…..

    Rasulullah bersabda ” Sesungguhnya Allah tidak menciptakan kesembuhan dari hal yang di haramkan atas kalian.

    Kata WHO manusia tidak akan sehat kalo tidak di imunisasi …iniloh… bahannya .. bikinnya dari darah orang yang sakit, dimasukan di media-media seperti ginjal kera, ginjal anjing, lambung babi, lalu di masukan ke bayi aborsi dan di tambahkab pengawetnya yaitu timerosal, air raksa / merkuri , aluminium, formaldehida dll.
    nah jangan sampe ketinggalan terus imunisasi.. sesuai jadwal…

    Pertanyaannya yang menciptakan manusia siapa? WHO atau ALLAH SWT.

    masa percaya sama yang bukan pencipta manusia, yang bikin aturan sendiri?

    Coba aja anda buat aturan sendiri ke mobil anda, tangki bensin di campur bensin dengan sayur asem ? rusak gak…

    begitu juga manusia… gak bisa kalo kesehatan berdasarkan atururan bikin oleh manusia lain.. itu namanya trial and error.

    ato pengerusakan sel-sel otak dan organ tubuh manusia berdasarkan bisnis dan penjajahan… orang sakit di jadikan bisnis… Baca deh buku Jerry de gray, dan Imunisasi Dampak ,Konspirasi

  8. Apa yang di sampaikan oleh imunisasihalal itu benar.
    Coba argumentasi para dokter yang pro vaksinasi,
    tidak semua yang di imunisasi itu meninggal, 1 orang meninggal tapi menyelamatkan ribuan yang lain?? begitu kan argumennya..

    Firman Allah Swt membunuh 1 orang manusia sama dengan membunuh seluruh manusia di dunia..

    Lalu mana yang benar? Firman Allah , atau perkataan dokter pro vaksinasi?

    Kalau saya bertanya dokter, kalau yang 1 di korbankan itu adalah anak dokter.. apakah dokter mau? dokter rela..?

    Rumus kebenaran adalah : 1. Dapat di terima oleh akal. 2 menentramkan hati 3. Sesuai fitrahnya manusia.

    Jadi kalau ada salah 1 saja kondisi yang tidak sesuai dengan rumusan kebenaran, berarti itu salah.

    Semoga ini menjadi pencerahan bagi manusia yang berakal. Allah memulyakan manusia karena di tinggikan Akalnya .

  9. Jadi upaya kita sekarang menyelamatkan generasi yang telah terkena vaksin, ketika ia sudah berumur 2 tahun… silahkan di bekam di keluarkan darahnya… untuk menghilangkan pengaruh logam berat. seperti timerosal, aluminium dll

    untuk mematikan virusnya gunakan minnyak habatusauda, madu minyak zaitun, sari kura dan obatan herbal yang di rekomondasikan oleh Rasulullah.

    Makan seluruh keluarga Halalan toyiban= halal lagi baik, untuk seluruh manusia baik muslim/non muslim. karena pada dasarnya rumus manusia itu adalah sama.

    Back to nature, jangan makan pakai msg, vetsin, minum soft dring, mie instan dll yang ada pewarna, perasa, pestisida dll

    Negara Indonesia, khususnya para pejabat bertanggung jawab kepada pola perubahan ini. untuk mendapatkan generasi yang berkwalitas.

    Ingat tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah Kepada Allah…
    Tiada kerugian dalam Islam , Hidup mulia atau mati Syahid…

    Selamat berjuang…

  10. Saya mendapat tugas KTI tentang imunisasi,sebaiknya apa yang harus saya tulis di sana ya?saya jadi bingung setelah mengetahui banyak pro kontra seperti ini….

    1. Tulislah tentang kebenaran, dengan niat mengajak / persuasif dan bukan menghakimi. Perbanyaklah fakta bukan pendapat.

  11. Anak ke-4 saya waktu umur 2 bulan setelah imunisasi BCG jarak 2 mingguan terkena batuk pilek dan ternyata berlanjut sampai umur 5,5 bulan dah ke dokter 5 kali.dokter ke-5 mengatakan alergi susu sapi, padahal sebelum diimunisasi sehat-2 dan tidak menunjukkan alergi susu sapi.saya coba kasih madu, spirulina, dan kunyit karena kasihan kalau ke dokter dikasih antibiotik melulu…apalagi masih bayi.Alhamdulillah terapi minum madu, spirulina, dan kunyit saya teruskan dan saya terapi pijat tradisional baru sembuh.hanya saja sekarang alergi susu sapinya masih belum sembuh.saya tiap pagi dan malam minum madu, sari kurma, habatussauda+spirulina masing-masing 2 kapsul.apalagi yang harus saya lakukan bayi saya susah minum susu formula sekarang.asi masih jalan

    1. Tidak perlu minum susu formula!!
      Anak saya berumur 7 tahun sekarang badannya sangat imun setelah berhenti minum susu formula dan minum madu.
      Apalagi sudah minum spirulina.
      Nanti kalau sudah di atas 5 tahun minum susu cair / kemasan…..
      WaLlahu a’lam

  12. Ada penjelasan tentang KIPI perdarahan d tmpat penyuntikan imunisasi DPT-HB1 anak umur 5 bulan?
    Thanks b4 ya..
    Smg qta slalu d lindungi Oleh Allah SWT.AMIN.

  13. Saya memiliki anak yang berumur 1 tahun. Anak saya lahir pada tanggal 29 September 2009. Pada Bulan April tepatnya tanggal 13 April 2010 anak saya diberikan imunisasi DPT di posyandu akan tetapi 2 hari setelah imunisasi timbul pembengkakan pada pahanya yang disuntik saat imunisasi. Lama kelamaan semakin besar dan keras. Saya sudah bawa ke dokter tapi dokter mengatakan itu adalah tumor dan harus dibedah. Mohon penjelasan!!!

  14. Ass.saya pelaksana perawat mau tanya,saya pernah melakukan imunisasi DPTHB pada anak umur 5bln setelah saya suntik si anak kakinya gk bisa di tapakin ke tanah cuma satu kaki saja sedangkan respon saraf pd kakinya bagus atau bisa d gerakan,demam krng lbh 3hari,sampai sekarang si anak tersebut kaki yg di beri suntikan vaksin tersebut gk mau d tapakin ke tanah,mohon penjelasannya terimakasih

    1. ‘Alaykumussalaam wr. wb.
      Ya itu bagian dari KIPI. Saran saya akan bisa pulih dengan metode Bekam untuk mengeluarkan toxin yang mengendap di jaringan saraf yang bersangkutan.
      Demikian.

  15. silahkan saja memilih mau vaksinasi atau tidak,sebagai dokter saya tetap menganjurkan vaksinasi,karena saya sudah berkali-kali melihat menderitanya anak yang terkena penyakit yang harusnya bisa dicegah dengan vaksinasi.ingat,tidak semua penduduk indonesia cukup pintar untuk menjaga kesehatan.mungkin semua yang posting disini dari kelompok yang berpendidikan dan tinggal di lingkungan yang layak.tapi saya dari pedalaman kalimantan dimana disini banyak keluarga tidak mampu,orangtuanya tidak sekolah,satu rumah 5×7 dihuni 12 orang anggota keluarga mulai kakek yang kena tbc hingga bayi.bila sang bayi terkena tbc selaput otak, apa kita tinggal bilang takdir?

  16. yang penting adalah penyebaran informasi yang lengkap, sehingga orang memiliki kebebasan untuk memutuskan tentang diri dan keluarganya. kesehatan dan pengobatan adalah hak asasi manusia.
    berbeda dengan pengobatan, di vaksinasi orang masih memiliki pilihan karena dia dalam keadaan sehat, sehingga informasi yang paripurna dibutuhkan untuk bisa memutuskan dengan tepat. hanya saja pada umumnya orang tidak mendapat informasi itu, seringkali dokter bilang pada pasien seakan itu sebuah keharusan (pengalaman pribadi saja, mungkin bukan general) yang harus dilaksanakan tanpa memandang resikonya.
    thanks bu, buat tambahan infonya.

    for all docs, yang lewat sini…jadilah tak hanya sekedar tukang suntik, jadilah guru bagi kami yang tidak memahami medis ini, informasikan mudharat dan manfaatnya, dan biarkan kami memilih. thanks.

  17. penanganan kipi yang salah dapat memperparah kipi tersebut bahkan dapat berakibat fatal. walaupun pada awalnya kipi tersebut ringan.

  18. anak saya mau berusia 5 bulan tgl 13 oktober ini, dia sudah di imunisasi hep 1, hep 2, bcg, di dokter. kemudian saya bawa k puskesmas untuk di imunisasi dpt 1, ternyata di puskesmas adanya dpt combo (hepatitis). saya tanya ke petugas apaboleh anak saya diimunisasi krn dia sudah di berikan hepatitis yg terpisah dengan dpt, lalu petugas itu bilang hepatitis boleh sampai 5 kali, akhirnya anak saya d vaksin dpt combo1 bulan lalu. setelah saya membaca ini saya jadi ragu karena sekarang jadwal dia di imunisasi dpt combo 2. kira-kira saya sekarang musti gimana ya? saya bingung, dan saya takut terjadi sesuatu pada anak saya, saya takut dia over dosis hepatitisnya kalau saya imunisasi, tapi kalau dia tidak diimunisasi dpt saya takut terjadi apa2 pada anak saya. gimana ya?

    1. Kita bertawakkal kepada Allah. Madu adalah obat terbaik yang disarankan Allah SWT lewat Al Qur’an. Insya Allah madu akan membersihkan efek samping vaksinasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s