Tak Divaksin Meningitis, 600 Jamaah Gagal Umrah

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=329652&kat_id=6

Tak Divaksin Meningitis, 600 Jamaah Gagal Umrah
Saat vaksin efektif berfungsi, jamaah sudah kembali ke Tanah Air.
Rabu, 09 April 2008

JAKARTA–Lantaran belum divaksin meningitis, sebanyak 600 jamaah gagal berangkat umrah ke Tanah Suci. Jamaah dari tujuh travel umrah itu dijaring oleh aparat kepolisian di Bandara Soekarno Hatta atas nama Departemen Kesehatan pada Selasa (8/4).

Seorang ustadz pembimbing ibadah umrah mengatakan kartu kuning dari Depkesnya dianggap palsu. Sementara seorang jamaah kepada Republika mengaku tertahan karena belum punya kartu kuning, bukti vaksin. ”Yang menarik, dari informasi yang kami dapat, vaksinasi hanya boleh dilaksanakan di dua tempat, Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Soekarno-Hatta,” jelas seorang jamaah.

Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) melalui ketuanya, Baluki Ahmad, menyayangkan terjadinya kasus ini. Baluki, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (8/4), mempertanyakan manfaat vaksin meningitis kepada jamaah umrah.

”Kami sangat menyesalkan sikap Depkes yang demikian frontal dan menggunakan tangan aparat kepolisian. Jumlah yang gagal berangkat ini bisa saja berkembang menjadi lebih banyak. Pasalnya, orang tidak lagi berani ambil paspor di Kedutaan Arab Saudi. Mereka takut digaruk dan ditangkapi lagi oleh pihak kepolisian,” tegas Baluki.

Sweeping atas keberadaan kartu kuning sebagai bukti vaksin meningitis bahkan menyentuh kawasan depan Kedutaan Arab Saudi. Puluhan aparat, kata Baluki, menangkapi orang yang baru keluar dari kedutaan untuk mengambil paspor yang telah diberikan visa sejak Senin (7/4).

Di Bandara, jamaah yang hendak berangkat umrah diminta melakukan vaksin meningitis secara mendadak di tempat. Biayanya Rp 150.000 per orang. Muhammad Ja’far dari PT Dua Ribu Wisata mengungkap akibat vaksin mendadak, jamaah merasakan ada keluhan, pusing, mata gelap, dan bahkan ada yang sampai menabrak meja dan dinding. ”Seorang jamaah kami harus mendapatkan 20 jahitan di kening karena menabrak meja dan tembok,” kata dia.

Lebih jauh Baluki mengatakan sejak tiga tahun lalu pihaknya mempertanyakan kepentingan vaksin meningitis pada jamaah umrah. ”Perjalanan umrah itu sangat pendek, berbeda dengan haji,” kata dia. Apalagi, menurut Baluki, jamaah dipaksa disuntik mendadak langsung di bandara. ”Vaksin ini punya masa inkubasi sepuluh hari. Jadi, efektifnya setelah 10 hari yang akan datang. Saat itu jamaah umrah sudah kembali ke Tanah Air. Apa manfaatnya,” kata Baluki lagi.

Menurut dia, sejauh manfaat riil dari vaksin meningitis terhadap jamaah umrah itu dapat diketahui, pengelola travel akan menerima. ”Sebelum Depkes menyiapkan perangkat dan memberi penjelasan, kami akan tetap menolak,” tegas Baluki. Dia juga menyoroti peran polisi yang menurut dia bertindak melampaui kewenangan.

Sementara itu, M Zahir, sekjen AMPHURI menegaskan bahwa Depkes harus malu pada kejadian ini. ”Saya baru dapat kabar ada 50 jamaah kami tidak mendapatkan vaksin itu. Vaksin tidak tersedia. Ini bagaimana. Kita baru bicara di Jakarta, bagaimana di daerah-daerah,” kata Zahir.

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Biaya Ibadah Haji dan Sistem Informasi Haji Departemen Agama, Abdul Ghafur Djawahir, membenarkan adanya keharusan setiap jamaah umrah untuk melakukan vaksinasi meningitis dan mendapatkan Kartu Kuning bila ingin berangkat ke Tanah Suci. ”Tapi, itu wewenang Departemen Kesehatan. Jadi bukan ada pada kami,” tandas Ghafur kepada Republika, kemarin.

( osa/dam )

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s