Wawancara Dengan MUI: VAKSIN HARAM TAPI BOLEH KARENA DARURAT

Berikut cuplikan wawancara antara Hidayatullah dan KH Ma’ruf AMin selaku Ketua Komisi Fatwa MUI (halaman 23)

H: apa benar vaksin yang diedarkan tahun lalu terdapat unsur haram? M: vaksin yang dipakai untuk imunisasi polio tahun lalu memang terdapat unsur haram (karena mengandung porcine/tripsin babi)

H: lalu, tanggapan MUI saat itu?

M: kalau (bahan babi itu) memang ada penggantinya, kita tidak akan izinkan. tapi menurut Dep Kes (pengganti itu) tidak ada. yang ada hanya bahan itu. apabila yang sepenuhnya halal tidak ada, tidak ada alternatif, padahal polio itu sangat berbahaya dan bahanya cukup besar, maka kita menyatakan itu boleh karena darurat

H: apa maksudnya boleh karena darurat?

M: zat itu (tripsin babi) tetap haram, tapi diperbolehkan karena kondisi darurat

H: apakah ini berarti vaksin menjadi halal?

M: kita tidak menghalalkan yang haram. sementara kita gunakan yang haram karena darurat. sampai sekarang belum ada (vaksin) yang halal untuk polio. karena ini darurat, ya kita pakai. begitu juga dengan (vaksin) campak

H: apakah depkes sudah meminta fatwa MUI tentang vaksin campak? M: perasaan saya belum. untuk campak, kita belum membuat apa2

H: bagaimana dengan penggunaan ginjal kera dan janin bayi hasil aborsi sebagai media pebiakan virus untuk vaksin?

M: iya, itu ya haram. itu memang tidak diperbolehkan.

H: apa pertimbangan MUI menyatakan kedaruratan masalah ini?

M: pressentasi dari depkes memang menakutkan kalau itu dibiarkan. polio merupakan bahaya. yang katanya darang fari sudan ke jeddah, lalu ke sukabumoi, terus menjalar ke mana2. bahaya polio sedemikian mengancam, generasi kita akan menjadi generasi polio kalau tidak divaksinasi

H: apakah ada rekomendasi yang MUI berikan kepada pemerintah?

M: kita minta pemerintah mengupayakan obat (vaksin) yang sepenuhnya halal. jadi, ini hanya untuk sementara

H: bagaimana dengan hadits Rasulullah saw yang menyatakan Allah tidak menjadikan obat dari yang haram?

M: itu kan kaidah umumnya. tapi, kalau yang ditemukan baru yang haram dan juka tidak ditanggulangi akan menimbulkan kesulitan, terpaksa kita gunakan. ini untuk sesaat saja. hanya untuk sementara saja. agama memberikan keluasan, kemudahan, ketidaksempitan. dalam keadanan seperti ini bisa diperbolehkan. soal zat (tripsin babi), tetap haram, tapi diperbolehkan karena kondisi darurat. dalam hal makanan juga demikian. kalau tidak ada yang bisa dimakan pada saat itu kecuali yang haram, maka diperbolehkan. famanidh thirro ghairo baaghin wa laa’aadiin falaa itsma ‘alaihi (barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. QS al-Baqarah: 173)

H: bagaimana dengan orang tua yang menolak anaknya divaksinasi

M: seharusnya tidak menolak. sebab, menurut depkes, kalau ada yang terkena polio, dampaknya akan luas sekali/ penyakit itu akan menyebar. usaha yang dilakukan pemerintah menjadi tidak berguna

H: kabarnya ada perusahaan farmasi swasta yang meminta sertifikat MUI untuk vaksin yang mereka produksi

M: memang ada, tapi kami tidak mai memberikan. karena vaksin itu hanya bisa dipakai kalau yang meminta adalah pemerintah, dalam hal ini depkes. kalau swasta, nanti malah banyak yang minta

H: mengapa demikian?

M: kita tidak mau meproduksi obat-obatan (haram) seperti itu. itu hanya karena darurat. kalau swasta, tidak jelas digunakan

37 comments

  1. jika vaksin berbahan baku dari babi atau kera dan bahan lain yang JELAS HARAM tidak ada alasan yang membolehkan, karena banyak bahan-bahan herbal seperti propolis dan spirulina yang sengat baik untuk daya tahan tubuh manusia yang sangat dikenal saat ini. jadi tidak ada alasan darurat, yang benar adalah bahwa masyarakat harus diberi tahu bahwa imunisasi polio dan campak itu haram dan dilakukan penyuluhan terhadap bahan pangan yang dapat mengatasi masalah gizi bagi anak.
    saya sendiri sebagai seorang yang berpendidikan tidak akan memberikan imunisasi haram itu kepada anak-anak saya, bukan hanya soal iman, Tapi, bahan babi dan kera itu sangat membahayakan bagi kesehatan, bukan malah sehat, malah jadi generasi penyakitan. saya berharap MUI dan Depkes bisa lebih bijak dalam menjaga masyarakat.

    1. Bu…mungkin ibu tidak pernah merasakan terkena penyakit polio atau anak anda kena….saya yang kena polio dengan kaki kiri tidak bisa berkembang,tetap kecil…sehingga sampai sekarang pun susah untuk berjalan…teman-teman saya kecil juga kena polio, malah ada yang tidak bisa jalan sama sekali…mereka berjalan dengan dibantu kursi roda….apa ibu tega generasi mendatang seperti kami apabila imunisasi dihentikan karena ada unsur haramnya???apabila pingin bukti bisa saya kirim foto kondisi kaki saya yang terkena polio….trims…

  2. Jika Pemerintah memang ingin menolong rakyat dengan memberikan bantuan dalam hal gizi kepada masyarakat, saya mengusulkan agar pemerintah memperoduksi bahan pangan halal dan bergizi. Sudah saatnya Indonesia mandiri, kalau kita terus di beri orang, beginilah akibatnya, yang haram pun di makan. Semoga saran saya diterima.

    Dian Mayasari, S.TP
    Sarjana Teknologi Pertanian
    Lulusan Fakultas Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian-Universitas Syiahkuala, Nanggroe Aceh Darussalam

  3. Assalamualaikum.wr.wb
    Jika vaksin berbahan baku yang haram dibolehkan ole MUI itu kan kata KH Ma’ruf AMin karena mungkin ada pertimbangan lain disamping faktor kemanusian.
    Mungkin kata ulama lain tidak dibenarkan.., karena kalo dianggap hanya berlaku jika darurat saja itu yang haram jadi halal sepertinya berlaku dinegara/dimasyarakat yang tidak mendapatkan pendidikan / tidak mempunyai sarana dan prasarana ilmu. lah kalo diindonesia semuanya sudah pintar2,tehnologi sudah maju itu ngga ada alasan lagi. kalo nanti yang haram diperbolehkan jika kondisinya darurat maka nanti akan menyebar ke obat2an yang lainnya. saya rasa kalo pemerintah yang notabenenya umat moslem dan para ahli kesehatan itu mengambil ilmu yang ada didalam kitab suci ALQuran itu jelas dan insya ALLAH, kita akan dapat keberkahan,ridho dan pertolongan dari ALLAH SWT didalam mengatasi setiap musibah yang diberikan oleh ALLAH SWT. karena ALLAH menurunkan penyakit ALLAH juga yang menyembuhkan, bukan VAKSIN/DOKTER.

    sudah saatnya kita menggunakan kaidah pengobatan tibunnabawi / pengobatan islami yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW degan menggunakan obat herba (Alamiyah Wathoniyah Illahiyah). ALLAHHU AKBAR.

    semoga saran ini bisa dipertimbangkan.
    mohon maaf jika ada kesalahan.

    Wassalamualakum wr.wb
    Pray Al fajri. ST
    Pengamal TIBUN NABAWI (HPA)

  4. H: apa benar vaksin yang diedarkan tahun lalu terdapat unsur haram? M: vaksin yang dipakai untuk imunisasi polio tahun lalu memang terdapat unsur haram (karena mengandung porcine/tripsin babi)

    kalau taun ini bagaimana??

  5. H: apa benar vaksin yang diedarkan tahun lalu terdapat unsur haram? M: vaksin yang dipakai untuk imunisasi polio tahun lalu memang terdapat unsur haram (karena mengandung porcine/tripsin babi)

    kalau taun ini bagaimana??

    Jawab: Entahlah, khusus untuk diri saya dan keluarga, saya tidak ambil pusing apakah vaksin itu halal atau haram. Toh saya tidak memvaksin anak saya. Dan sudah hampir 4 tahun kami tidak ke dokter anak lagi.
    Islam Rules!!

    Nigella Sativa

  6. Alhamdulillah anak saya juga ga di imunisasi, karena hal yang disebutkan tadi. bagi yang melahirkan anaknya di Rs, hati2 kadang2 anka kita yg baru lahir di imun pas dia baru keluar dari rahim. jadi mending ke bidan saja insyaAlloh bisa nego masalah di kasih atau tidaknya vaksin. barakallohufikum. berobatlah dengan yang halal!!! sesungguhnya Alloh menurunkan Penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. hidup Thibunnabawi.:: Back to nature::.

  7. Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini pasti ada maksud dan tujuannya, serta untuk kemaslahatan manusia. Demikian pula dengan penciptaan babi, monyet dsb yang diharamkan, dibalik itu pasti ada hikmah dan pelajaran.

  8. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    pengambilan dalil darurat oleh mui sebenarnya tidak tepat dan jauh dari kaedah fiqih. sebab seorang bayi yang tidak di beri vaksin tidak mati, kalau memang seorang bayi tidak di vaksin bisa mati maka itu bisa di terapkan kaedah darurat, padahal tarap pemakaian vaksin adalah pencegahan, bukan sesuatu yang mendesak. seharusnya mui sebagai lembaga agama memberikan alternatif yang bijak dan menjauhkan diri dari berfatwa asal-asalan, karena yang haram tetaplah haram, qoliluhu wa katsiruhu haram (sedikit dan banyaknya barang haram tetaplah haram), laa dhororo wa laa dhiror (tidak boleh yang berbahaya dan membahayakan). masih banyak di bumi Allah ini obat yang seteril dari barang haram, jangan mempolitisir sabda Nabi yang berbunyi; Allah tidak menjadikan obat dari yang haram, bahwa itu kaidah umum. bahkan keumuman hadits diatas membantah fatwa yang memperbolehkan berobat dengan barang haram, sebab semua barang haram (apapun bentuknya, berapapun kadarnya) tidak boleh digunakan untuk berobat, sebab Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan pula penawarnya, dan penawar penyakit yang Allah turunkan bukan sesuatu yang haram, tapi yang halal. agama memang memberikan keluasan, kemudahan, ketidaksempitan, tetapi tidak berarti menghalalkan yang haram, dan memperbolehkan berobat dengan yang haram. vaksin bukan sesuatu yang darurat, tetapi sesuatu yang di ciptakan agar nampak darurat.

    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    zulkifli asyjari lc.
    alumnus fakultas hadits islamic university of el madina, saudi arabia

  9. AlhamduliLlah ada ustadz Zulkifli, sudah lama saya menunggu ada seorang ustadz yang tegas membicarakan hal ini. JazakaLlahi kyaran.

  10. maaf ni ya, daritadi sy baca yang komen ko pada menggebu gebu,sy jd mau tanya, kalau anda2 semua bilang tidak boleh, lalu apa pengganti vaksin tersebut??? ada yg bisa jawab??? yg di katakan komentator paling atas (dian) bahwa spirulina, propolis bisa dipakai, apakah rakyat kalangan bawah bisa memakainya??bisa membelinya saat ini? bersyukurlah kalau anak anda yg tidak dvaksin polio tdk terkena penyakit tersebut, lalu bagaimana yang terkena polio, apalagi kalangan bawah ?? apakah anda yang komen2 di atas itu tdk berfikir sampai kesitu? coba qt ambil sisi positif dari MUI dgn pernyataannya, hal tersebut bisa menolong ratusan keluarga atau lebih, MUI jg pasti berfikir bung! tdak semua orang di indonesia ini pintar2 seperti anda.. masih bnyk diluar sna yg tidak tahu tentang islam apalagi tentang vaksin..
    beri solusi jika memang anda peduli dengan nasib jutaan rakyat indonesia ini..
    hal ini yg harusnya menjadi pemicu qt semua untuk bangkit, mari qt doakan agar ilmuwan muslim sgra menemukan penggnti vaksin darurat ini..

    smoga Allah mengampuni dosa2 qita smua

    1. Betul sekali. Tanggung jawabnya bukan pada saya atau yang tidak setuju vaksin. Tidak merubah suatu keadaan dan bukti bahwa: Vaksin tetap Haram dan terbukti berbahaya. Apakah kemudian anda mengatakan bahwa VAKSIN HALAL (DARURAT) 100% DAN AMAN 100%? Di situlah peran saya. Tanggung jawab saya hanyalah menyebarkan informasi bahwa ada sisi lain pada vaksin yang akhirnya menjadi evaluasi kita bersama. Apakah anda tidak berfikir dan punya perasaan pada orang2 tua yang anaknya sudah terlanjur terkena kemudharatan vaksin? Apakah kemudian kami menjadi terlarang untuk berwacana? Kenapa jadi kami yang anda salahkan? Hormatilah perbedaan pendapat. Sekali lagi, belajarlah untuk berbeda pendapat.

  11. mustinya yang perlu di suntik imunisasi, adalah kepala2 anggota MUI ,yang selalu mengeluarkan fatwa2 sesat kepada umat Islam.Bikin binggung Umat.
    Sekarang kita pakai logika saja ;
    Ada segelas air mineral putih bersih,lalu kita campur dengan air satu titik bukan satu tetes lho ya,air dari comberan,apakah MUI mau minumnya ??? dimana akal mereka itu.
    Anak2 orang Eropa dan barat tidak kenal apa itu imunisasi.Mereka pinter2 cerdas2.
    Kalau di negara ini kita cari orang sebelas aja yang pinter main bola tidak ada.Yang katanya Generasi maju.apalagi kita cari ilmuwan.

  12. Mengapa Mui tidak menganjurkan pemakian Habbatussauda,yang sudah jelas rekomendasinya.Bukan dari WHO
    (organisasi milik Yahudi) dan DEPKES,tapi langsung dari lisan manusia mulia utusan ALLAH,Zat yang Maha Menciptakan segala sesuatu,yaitu Rosulullah SAW :
    “Tidak ada satupun penyakit melainkan dalam Habbatussauda (Jinten hitam),terdapat kesembuhan padanya,kecuali Kematian”(H.R Muslim)

    Sekarang tergantung umat Islam nya sendiri,percaya ama ucapan Rosulullah SAW atau WHO (organisasi milik Yahudi) dan DEPKES.

  13. Assalamu’alaikum,
    selalu ada dua sudut pandang, dalil Al-Quran dan sunnah, dan sudut pandang ilmiah kedokteran. Keduanya mengacu pada pemahaman dan penelitian (bagi yang belajar tentunya). Allah memerintahkan kita untuk mencari obat dari setiap penyakit. Disisi lain obat yang digunakan (alami maupun nonalami) tetap mengacu pada batasan yang diberikan agama. Problem akan terjadi bila ada intervensi kepentingan (pribadi, lokal bahkan internasional). Waktu akan menjawab. Karena itu,…yuk kita yang baru punya ilmu sedikit (dan memang pasti cuma sedikit-ya khan?) ini terus belajar. Gunakan bahasa yang baik, terutama bila merespon tamu. Wassalamu’alaikum

  14. @ Silent eyes. ‘alaykumussalaam. Anda benar. Saya salah. Dengan ini saya sampaikan permohonan maaf atas jawaban2 saya yang emosional. Terima Kasih sudah diingatkan, itu tanda kepedulian anda terhadap saya. Sekali lagi Terima Kasih…

  15. ass..pengen kasih pandangan lain…bagaimana dengan anak yg sudah divaksin polio. tapi tetap kena polio seperti kasus di bandung dan samarinda? berarti gajamin kan? meski vaksin toh tetap kena?ada yang g vaksin tettep sehat2 aj.seperti para tetangga saya yg kebanyakan anak2 jalanan. so..semua tergantung takdir ok?
    Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tak mau merubah nasibnya sendiri.

  16. Assalamualaikum wr.wb. Kemarin saya ke posyandu, terus saya “diomelin” karna belum pernah imunisasi padahal anak saya sudah 10 bulan. Selama ini saya hanya tau kalau imunisasi haram karena ada enzim babi, tanpa tau dengan jelas ilmunya. Saya mohon dikirimi daftar vaksin yang haram dan kandungan yang membuatnya haram, sebagai reverensi. Terimakasih.

  17. MUI memotong hadist untuk membenarkan kemauannya menghalalkan imunisasi yang berbahan dasar babi.
    Hadist lengkapnya :
    “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat dan menjadikan untuk kamu bahwa tiap penyakit itu ada obatnya, oleh karena itu berobatlah, tetapi jangan berobat dengan yang haram” (HR Abu Dawud)

    kemudian MUI memotongnya menjadi :
    “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat dan menjadikan untuk kamu bahwa tiap penyakit itu ada obatnya “(HR Abu Dawud)

    dia menghilangkan kalimat :
    “oleh karena itu berobatlah, tetapi jangan berobat dengan yang haram” (HR Abu Dawud)

  18. saya mencoba untuk ikut nimbrung komentar : ilustrasi saya, bila saya pergi masuk hutan, saya kehabisan makanan dan dalam keadaan darurat, sedangkan yang ada hanya babi maka babi itu saya embat dan saya santap itu yang namanya darurat, tetapi kalau saya mau berangkat sudah membawa babi guling, maka itu namanya bukan darurat, itu namanya menghina Allah, karena yang mengharamkan itu adalah Allah. bukankah ibadah haji itu adalah menghadap Allah,? jangankan hanya sakit, matipun sudah dipasrahkan. harusnya.!!!?? hati2lah membuat fatwa HARAM.

  19. Kaya gak punya iman saja ya…terlalu ketakutan terhadap penyakit, anehnya malah berani melanggar aturan Tuhan yang ngasih penyakit, bisa2 malah ditambah parah penyakitnya takut gak hayooo…..

    Setiap yang diharamkan pasti buruk akibatnya bagi kita, apakah Vaksin haram itu pasti aman???…atau ada kemungkinan akan mengakibatkan hal yg lebih buruk bagi kita???.

    Mungkin kaki anak kita akan aman dari polio,campak dll,
    tapi……. apakah hati dan pikiran anak kita akan aman dari kelumpuhan dengan dimasuki vaksin haram!!!
    Mungkinkah ini penjajahan untuk kualitas generasi Muslim Indonesia

  20. anak saya sudah 8 bulan belum di imunisasi, tetapi relatif lebih sehat dibanding kakaknya yang 3 tahun. kakaknya di imunisasi lengkap dan sudah dapat sertifikat. saya kira belum ada data yang akurat tentang efekktifitas imunisasi itu untuk pencegahan penyakit. jika sebuah manfaat belum jelas sedangkan madhorot sudah jelas maka kita tidak boleh melakukan perkara itu. begitu juga halnya dengan perkara imunisasi

  21. alhamdulillah byk ilmu yg sy dapat dr wacana ini…pertanyaan saya karena saya sudah mantap tidak mengimunisasikan anak saya maka dalam obat2an islam apa yag baik untuk bayai sy yang baru lahir dan anak2 balita saya agar tetap terjaga sistem imunnya dan Insya Allah dapat membentengi dari penyakit2 umumnya..mohon info lengkap…kalo perlu merknya ya…
    jazakumullah …

  22. Setelah membaca sekian banyak komentar dari rekan2 semua, dan menggali berbagai sumber informasi – sampai mata beler. Saya mendapati beberapa hal yang saling berkaitan, namun banyak yang ditanggapi secara emosional dan cenderung tidak proporsional. Meskipun pada dasarnya semua sepakat bahwa yang haram harus tetap haram, dan yang halal harus tetap halal, tidak bisa yang haram lantas menjadi halal, begitu pula sebaliknya. Termasuk MUI sendiri – dari informasi yang saya tangkap – pun menyatakan demikian.
    1.Vaksin
    Saya percaya kalau semua juga tahu bahwa vaksin merupakan virus yang telah dilemahkan atau di matikan guna mendapatkan kekebalan tubuh terhadap virus tersebut melalui proses imunisasi / vaksinasi. Vaksin ini telah dipilih dari penyakit2 berbahaya dan berpotensi menimbulkan akibat fatal dan atau cacat permanen.
    Pada awal ditemukannya vaksin memang banyak yang menggunakan substansi dari binatang, termasuk darah sapi, kuda, bahkan monyet dan babi. Namun kini para ahli di seluruh dunia – termasuk ahli muslim – terus berusaha memperbaiki cara pembuatan vaksin dan meminimalkan efek sampingnya. Seperti misalnya vaksin Rubella, yang dulu dibuat dari substansi darah sapi/kuda kini telah dapat di buat secara sintetis di laboratorium, tanpa menggunakan darah lagi. Semoga kedepan makin banyak vaksin2 canggih di buat tanpa melibatkan unsur2 yang haram. Proses pembuatan ini memang kadang membuat para ahli sendiri berselisih. Seperti vaksin meningitis (tahun 2009) yang dalam prosesnya sempat bersinggungan dengan enzim babi, namun hasil akhir dari vaksin tidak mengandung unsur babi (dibuktikan melalui uji DNA). Waktu itu MUI menyatakan haram. Tetapi sebuah analogi berkata lain, jika kita menanam padi, pada saat memupuk, seringkali terdapat kotoran hewan dan bangkai, bahkan mungkin juga bangkai babi. Apakah padinya menjadi haram? Memang dibutuhkan lebih banyak ilmu, bahkan dari para ahli hadist dan ahli medis. Apalagi bagi saya sebagai orang awam. Alhamdulillah sekarang vaksin dari beberapa negara telah dinyatakan halal oleh MUI.
    2. Imunisasi
    Ibarat sedia payung sebelum hujan, atau mengunci motor saat parkir. Pentingkah?
    “Ah… anak saya tidak di imunisasi sehat2 saja”. ”Anak teman saya sudah di imunisasi, masih sakit2-an”. Nah lho……
    Besyukurlah anak anda “kebetulan” jarang sakit. Masalahnya apakah kita akan selalu berharap pada “kebetulan”? Sementara kita diperintahkan Allah supaya berikhtiar dan bertawakal. Bukan hanya bertawakal saja. Tanpa payung pun kita tak akan kehujanan, karena memang tidak hujan, atau pas hujan sudah ada dirumah. Lagi2 masalahnya kita tak pernah tahu hari ini akan berhadapan dengan apa atau besok akan bertemu dengan siapa. Apa gunanya payung kalau kita sudah basah kuyub, atau kunci motor sedang motor sudah lenyap. Tak banyak lagi gunanya berobat, jika anak kita buta atau lumpuh terkena polio karena tidak di imunisasi. Sakit memang takdir Allah, namun mencegah penyakit dan obat juga Sunnatullah.
    Allah telah memberikan anugerah yang amat besar kepada kita berupa kemampuan untuk berfikir dan menganalisa berbagai penyakit beserta obat dan pencegahannya. Bahkan didalam diri kita sendiri, tanpa kita sadari telah terjadi sistem pembelajaran terhadap penyakit. Manakala kita terserang virus dan sakit, maka sistem kekebalan tubuh akan membuat antibody sehingga ketika sang virus datang lagi kita telah kebal terhadap penyakit tersebut (harus sakit dahulu disebut kekebalan aktif). Nah imunisasi ini diberikan untuk merangsang sistem tersebut bekerja tanpa membuat sakit lebih dahulu (kekebalan pasif).
    Jika penyakit2 tersebut jenis sedarhana dan tidak berbahaya tidak masalah kita mendapatkan kekebalan aktif, namun jika penyakit tersebut fatal dan berbahaya, tak berguna lagi kekebalan tersebut karena terlanjur lumpuh dan buta misalnya.
    Apakah kalau sudah di imunisasi lantas tidak sakit?
    Memakai payungpun kita masih bisa basah, namun tentu berbeda basahnya dengan jika tidak memakai payung. Bahkan mengunci motorpun, masih bisa hilang, apalagi jika tidak di kunci. Itu baru namanya takdir.
    Didunia ini ada ribuan sumber penyakit (virus, kuman, bakteri dsb). Sementara imunisasi yang diberikan hanya untuk beberapa jenis penyakit, yaitu untuk jenis2 penyakit yang berbahaya dan berakibat fatal. Jumlahnya saya rasa tidak lebih dari 10.
    Kalau begitu, masih salahkah jika sudah di imunisasi tetapi masih sakit?
    3.Fatwa MUI
    MUI merupakan representasi umat islam di Indonesia. Disana berkumpul perwakilan dari berbagai organisasi islam di Indonesia. Mereka telah diberi amanat untuk menjaga perkembangan islam di Indonesia. Oleh karena itu saya percaya bahwa MUI telah memiliki sejumlah instrumen yang memadai untuk membuat suatu fatwa. Instrumen ini termasuk para ahli hadist & Qur’an, sumber dana, dan akses informasi. Sehingga setiap fatwa yang di buat telah melalui berbagai proses & pertimbangan yang matang.
    Bila ada pihak2 tertentu yang tidak sepaham dengan MUI, silahkan saja. Cuma apakah dia telah memiliki sejumlah instrumen yang cukup untuk membuat fatwa sendiri?
    Saya rasa MUI telah cukup bijaksana dengan mengeluarkan fatwa imunisasi haram, tetapi boleh karena darurat. Mengingat kondisi umat islam di Indonesia yang sebagian besar bukan ahli hadist, dan bukan ahli kesehatan. Bila kita salah/berdosa karena mengikuti fatwa MUI, maka salah/dosa itu merekalah (MUI) yang tanggung.
    Saran saya supaya MUI lebih proaktif dalam menghadapi persoalan umat. Bukan hanya menunggu informasi dan laporan dari menteri.
    4.Teori konspirasi
    Sebagai seorang muslim saya berharap agar Israel dan Zionisme segera berakhir dan musnah dari muka bumi. Namun saya juga menghormati mereka yang memilih Yahudi sebagai agamanya, selagi mereka tidak memusuhi Islam. Yang mana mereka juga ada di negeri2 islam. Lakum dinukum waliyaadin.
    Bila imunisasi adalah program israel untuk memusnahkan umat Islam, maka saya jadi bertanya sehebat itukah mereka sehingga mampu mempengaruhi seluruh dunia untuk mengikuti program mereka?
    Saya hanya ingin mengajak untuk berfikir jernih dan berpendapat berdasarkan fakta dan data bukan berdasarkan isu, obrolan pinggir jalan, celoteh di facebook atau bahkan blunder pikiran sendiri. Karena jika kita berfikir seperti itu, maka tak ubahnya kita dengan mereka yang selalu menganggap Islam sebagai agama teroris. Atau mereka yang selalu menghina Islam dan Nabi Muhammad secara serampangan melalu kartun maupun blog. Picik, bodoh, ngawur, norak & kampungan.
    Saya yakin umat islam, lebih cerdas & berwawasan luas dari pada mereka2 itu.
    Beberapa contoh mengenai isu2 besar dan dianggap benar (sebuah teori konspirasi) :
    a.Tsunami Aceh adalah hasil percobaan nuklir India. Tidak ada bukti valid mengenai ini.
    b.Pendaratan manusia di bulan hanya akal-akalan pemerintah AS. Inipun belum bisa di buktikan secara meyakinkan.
    c.Imunisasi TT (Tetanus Toxoid, diberikan kepada calon pengantin wanita) adalah program terselubung untuk membuat mandul wanita muslim. Faktanya, menurut dr Arief, banyak yang telah mendapat imunisasi ini ternyata memiliki banyak anak.
    d.Program KB adalah program untuk menghentikan populasi umat islam. Faktanya, di Cina program KB dilaksanakan secara lebih ketat. Keluarga di kota hanya boleh memiliki satu anak, sedang di pinggir kota hanya boleh memiliki dua anak. Sumber : Tempo Interaktif, 15 Feb 2007.
    Saya sama sekali tidak bermaksud membela mereka yang memusuhi Islam, justru sebaliknya saya mengajak umat Islam untuk tidak terjebak pada isu2 yang tidak jelas, lantas bertindak destruktif dan merugikan kita semua.
    5.Obat alternatif
    Sejauh ini saya belum menemukan referensi yang cukup mengenai pemanfaatan bahan2 herbal, baik sebagai obat maupun sebagai suplemen. Sesuai sabda Nabi bahwa madu, minyak zaitun, dan habbatussauda memiliki manfaat yang sangat besar. Saya yakin nabi tidak salah. Hanya sejauh ini penelitian terhadap bahan2 tersebut belum dapat menjangkau semua penyakit. Karena proses pembuatan, tujuan pemanfaatan dan dosis yang tidak tepat hanya akan membuat bahan2 ini sia2 balaka. Inilah tantangan bagi para ahli kesehatan muslim untuk melakukan penelitian yang lebih canggih dan membuat standarisasi yang lebih baik. Sehingga bahan2 herbal yang beredar memiliki sasaran yang tepat, sebagai obat ataukah supleman. Mari kita do’akan semoga mereka dapat menjalankan amanatnya dengan benar.
    Sesuai ISO (Informasi Spesialite Obat Indonesia), setidaknya ada 21 kategori besar obat2-an, belum termasuk suplemen, dan lebih dari 95 kategori kecil jenis obat. Kategori besar diantaranya : antinfektikum, antineoplastikum, imunologikum, obat bantuan dan penolong,obat metabolisme, obat sistem endokrin, depresan sistem syaraf pusat, anti radang, psikotropikum, anti sistem syaraf lain, relaksasi otot, obat kardiovaskulus, obat darah, obat saluran nafas, obat saluran cerna, obat saluran urogenital, obat telinga, obat kulit, obat mata, obat mulut dan gigi, obat anti parasit, dan obat lain.
    Semoga para ahli dapat membuat obat herbal yang mampu mencakup semua kategori obat diatas.
    Akankah kita membiarkan Indonesia menjadi pandemi flu burung hanya karena kita tidak mau di vaksinasi, atau karena vaksin tersebut berasal dari negeri kafir? Beruntung Indonesia sekarang dapat membuat vaksin sendiri.
    Hingga kini, kalau sakit kepala saya masih lebih percaya kepada parasetamol 500 mg, semoga nanti obat herbal bisa menggantikannya dengan standar yang lebih baik.
    Kontroversi mengenai obat haram atau halal, saya serahkan kepada masing2 orang dalam memahaminya, karena pada akhirnya Allah yang akan menjadi hakim dan menghakimi kita semua. Bukan seseorang/sekelompok orang menghakimi orang/kelompok lain.
    Mohon maaf jika banyak salah kata maupun salah informasi.
    Sebagian dari uraian ini saya ambil dari tulisan dr Arief di http://www.drarief.com/imunisasi-haram-hukumnya-masa-sih/ .

    1. komentar saya ngga usah panjang-panjang. Sebagai seorang muslim saya merasa vaksinasi adalah hal yang syubhat. Tidak jelas. Sesuai petunjuk Rasul untuk menyikapi sesuatu yang tidak jelas :

      An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.'” (HR. Bukhori)[1]

    2. Assalamu’alaikum..
      Melihat pernyataan anda yang begitu panjang lebar, saya kira pertanyaan saya yang awam ini bisa di jawab..
      mohon info:
      1. Dibuat dari apakah vaksin itu, bahan lengkapnya(termasuk pengawet kalau ada), prosesnya?
      2. Bagaimana reaksi tubuh jika dimasuki vaksin dalam jangka pendek dan jangka panjang?
      3. Apakah virus vaksin selama didalam tubuh akan mati atau akan berkembang biak atau bahkan mutasi?(prosentase masing2?)
      4. Secara empiris statistik adakah bukti orang yang di vaksinasi lebih sehat dari orang yang tidak di vaksin pada waktu masih bayi?
      5. Walaupun sedikit, ga adakah pengaruh vaksin ke otak bayi yang masih dalam masa perkembangan?

      6. Adakah dokter2/ praktisi kesehatan kita pernah melakukan penelitian bahan2 alternatif seperti Madu, Kolustrum ASI, propolis, kurma, spirulina atau bahan lainnya yang alami?kenapa hasilnya belum maksimal?
      Walaupun cara kerjanya berbeda ,tetapi kalau hasilnya sama ( menguatkan sistem kekebalan tubuh ), kenapa tidak dicoba?
      Dan lagi, percobaanya bisa langsung ke MANUSIA, bukan HEWAN…..

      Prinsip thibbun nabawi pengobatan secara holistic….sakit kepala hanya sinyal, dari penyakit atau kelainan yang lebih besar, bisa karena kecapean, atau sebab lainnya..jadi kenapa harus syaraf sakit yang dimatikan dengan parasetamol?….
      Apa penyebab alarm kebakaran berbunyi? kalau alarmnya saja yang dimatikan, apa yang akan terjadi????

      Makasih atas tanggapannya..

      wassalamu’alaikum wrwb..

      -zaki-

      1. ‘Alaykumussalaam wr. wb.

        Jawaban dari Sebagian pertanyaan Mas Zaki bisa ditemukan di blog ini, silakan diteliti satu persatu.
        Untuk diskusinya silakan dilanjutkan :)

      2. Maaf, sepertinya hanya no. 6 yang ada sedikit jawabannya,..

        Mas Agus Cyber mana?
        Untuk no 1, mohon dijelaskan sedetil detilnya apa saja bahan maupun kandungannya (biasanya karena alasan rahasia perusahaan kita ga boleh tau), prosesnya, medianya, cara pembuatannya, termasuk prosentase masing2, benarkah aman bagi tubuh manusia saat ini, esok maupun nanti?..berlanjut ke no 2, dan seterusnya…

        makasih..

  23. “Setiap penyakit ada obatnya”, jaminan ini dikeluarkan 14 abad yg lalu, disaat belum adanya vaksin. saya yakin habbatussauda, minyak zaitun, sari kurma, madu yg sudah ada saat itu bisa menjadi obat sgala macam penyakit..

    Wallahu a’lam..

  24. Artikel yang sangat menarik. dengan niat berdakwah menyebarkan berita ke khalayak tentang imunisasi dan yang lainnya. saya mohon ijin untuk copas.

  25. assalamualaikum wr.wb.
    saya sangat sependapat dengan posting bp Agus Cyber yang menelisik masalah kehalalan vaksin secara lebih bijak dan analitis, tidak hanya berdasar asumsi dan pengalaman empiris. karena vaksinasi adalah berlaku secara nasional, mencakup jutaan nyawa anak indonesia dengan segala latar belakang keadaan sosio-ekonomi, yang mungkin untuk membeli makanan yang bergizi dan susu setiap hari tidak sanggup. pernahkah terpikir apa jadinya jutaan anak2 indonesia jika vaksin diharamkan? marilah berfikir lebih bijak demi kemaslahatan bangsa, tidak hanya diri sendiri.
    Bagi yang berpendapat tidak mau memvaksin anaknya, itu hak azazi pribadi, tapi haruslah disertai pemahaman informasi yang baik. jangan sampai menyesal kemudian.
    Saya terus mendukung program vaksinasi oleh pemerintah dan diciptakannya bahan vaksin yang halal agar tidak ada lagi perselisihan paham.
    wassalamualaikum wr.wb

    1. Maaf nanya…
      kalau Konsisten dengan ASI bisa ga untuk “imun is ASI”…???
      manusia ya susunya manusia, bukan susu sapi, karena itu hanya untuk anak sapi…

      Setuju Pak imun HALAL… ga pake Logam, maupun pengawet…
      Setelah itu adakan penelitian tingkat kecerdasan otak anak yang peke imunisasi sintetis n imunisasi thibbun nabawi..

      Makasi n maaf bila tidak berkenan dengan pertanyaan saya yang masih awam ni…

  26. aslm.setelah baca artikel ini jadi tertarik ingin komentar……!!!!!!!
    1.apakah memberikan vaksin kepada bayi itu adalah keadaan darurat?
    (menurut saya yang namanya darurat itu kalau kita pergi kehutan trus kita kelaparan dan ngak ada makanan dan yang ada cuma babi,babi itu boleh kita makan seperi yang ada pada hadist.nah kalau masalah pemberian vaksin ini menurut saya boleh dikatakan darurat apabila kita sudah pegi kedokter dan memeriksakan ada tanda2 penyakit dan apabila tidak di beri vaksin akan menimbulkan penyakit yang ber bahaya nah kalau kita pegi ke dokter trus anak kita sehat2 knapa harus di beri vaksin yang pembuatanya dari bahan yang haram.menurut saya lebih baik mengunakan madu yang dapat mengobati berbagai macam penyakit dan habbatusauda yang dpat mengobati berbagai macam penyakit kecuali kematian)
    2. saya ingin bertanya kepada mas Agus Cyber.yang katanya: Mengingat kondisi umat islam di Indonesia yang sebagian besar bukan ahli hadist, dan bukan ahli kesehatan. Bila kita salah/berdosa karena mengikuti fatwa MUI, maka salah/dosa itu merekalah (MUI) yang tanggung).MENURUT SAYA dari perkataan mas agus cyber ini memang umat di indonesia bukan ahli hadist.TAPI di indonesia banyak orang yang mengerti tentang hadist dan menurut mereka pembuatan vaksin dari enzim babi adalah tidak benar, dan tidak salah juga mereka menegur MUI.karena ada hadist yang mengatakan apabila pemimpin kita menuju jalan yang sesat jangan di ikuti.MENURUT SAYA MUI belum dikatakan benar apabila dia mengeluarkan fatwa bahwa mengunakan vaksin boleh apabila dalam keadaan darurat.nah yang saya pertanyakan apakah kita menggunakan vaksin untuk bayi kita itu dikatakan darurat padahal dokter sendiri mengatakan bahwa bayi kita di vaksin adalah untuk pencegahan terhadap penyakit atau membuat kekebalan tubuh.disini saya bukan ingin menyalahkan mui tapi,memohon kepada mui dalam mengeluarkan fatwa lebih berhati2 karena fatwa mui akan berpengaruh terhadap masyarakat muslim yang ada di indonesia.
    yah……. mungkin yang terakhir dari saya.kita harus bisa membedakan yang namanya KEADAAN DARURAT sama PENCEGAHAN.karna ALLAH mengatakan kita boleh mengunakan yang haram apabila kita dalam keadaan DARURAT bukan dalam keadaan PECEGAHAN.oya….apabila ada yang kurang setuju atau ingin menyampaikan komentar degan komentar saya ini boleh kirim email ke andrik_siswanto@yahoo.com.sebelumya mohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan di hati saudara2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s