Vaksin DPT Tanpa Thiomersal

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=78095&kat_id=150&kat_id1=&kat_id2=

Selasa, 11 Juni 2002
Vaksin DPT Tanpa Thiomersal

Jika teknologi pembuatan vaksin sebelumnya masih menggunakan teknik konvensional yakni dengan memasukkan badan kuman secara utuh, maka kini tidak lagi. Sebuah teknologi purifikasi (pemurnian) kuman, berhasil dilakukan dengan memurnikan tubuh kuman. Caranya, kuman dimurnikan dan cukup diambil antigennya saja (tanda pengenal kuman). Cara ini terbukti mampu menurunkan efek toksin kuman beberapa derajat. Dengan teknologi ini, angka kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) seperti nyeri, merah, bengkak, demam, merah, bengkak, dan demam dengan suhu di atas 39,5 derajat bisa dihindari.

Sebelum ditemukannya tren tehnologi pembuatan vaksin terbaru akhir abad ini, beberapa produk vaksin yang telah diproduksi di berbagai negara sebelumnya tidak menggunakan teknologi purifikasi. Badan kuman utuh hanya dilemahkan. Berikutnya, dibiarkan utuh berada dalam sediaan vaksin lalu diberi bahan pengawet yang cukup keras, yakni thiomersal, merthiolate, atau themerosol yang merupakan nama lain dari etil merkuri.

Padahal kalangan medis di berbagai negara masih mempertentangkan efek kandungan bahan pengawet dalam vaksin ini. Ada sebagian kalangan yang menilai efek pengawet ini dapat menyebabkan autisme, lantaran kadar autisme dalam lingkungan yang terasup melalui makanan dan udara yang terhirup telah jauh lebih besar dari kadar merkuri dalam vaksin. Sehingga diasumsikan jika ditambah dengan vaksin berbahan pengawet ini, maka akan terakumulasi kadar merkuri dalam tubuh bayi dalam jumlah yang tidak lagi bisa ditoleransi oleh tubuh.

Sementara kubu lainnya, seperti disebut konsulen bagian psikiatri FKUI/RSCM dr Ika Widyawati SpA(K) menilai penyebab penyakit ini cukup banyak. Selain pencemaran lingkungan berupa polutan mercuri yang mencemari ikan-ikan di laut, faktor genetis, juga karena perdarahan kehamilan trimester pertama, adanya kotoran janin pada cairan amnion, penggunaan obat-obatan tertentu, komplikasi persalinan (terlambat menangis, gangguan pernapasan, dan anemia janin) dan inveksi protozoa toksoplasma (virus bulu kucing), infeksi virus rubella, herpes simplex encephalitis, dan cytomegalivirus. Sehingga, vaksin tidak bisa dikatagorikan sebagai satu-satunya penyebab penyakit gangguan otak tersebut.

Seperti diungkap dr Franciscus Chandra, manajer pemasaran perusahaan farmasi Glaxosmithkline, pihaknya berhasil menemukan teknologi baru pembuatan vaksin. Setidaknya, vaksin ini merupakan golongan vaksin DPT pertama di dunia yang bebas bahan pengawet thiomersal. Vaksin ini seperti namanya, diperuntukkan untuk menciptakan kekebalan tubuh bayi terhadap penyakit dipteri yang kerap dikenali gejalanya dalam keadaan bayi telah biru (terlambat terdeteksi). Selain itu terhadap penyakit batuk rejan oleh kuman bordotella pertusis yang menyerang bayi pada usia rata-rata kurang dari 6 bulan serta tetanus yang kebanyakan menyerang bayi pada usia kurang dari 1 tahun.

Sebuah vaksin DPaT pada tahun 1990 berhasil dibuat dengan prinsip tren baru teknologi pembuatan vaksin. Setidaknya vaksin ini menjadi generasi kedua dari vaksin DPT yang ada sebelumnya, yakni DPwT (Dipteri, Pertusis whole cell dan Tetanus, dimana badan sel pertusisnya utuh). Infanrix berisi kuman dipteri (D), tetanus (T) serta tiga antigen dari kuman Bordotella pertusis yang dimurnikan yang terdiri atas toksoid pertusis yakni kuman pertusis yang telah dilemahkan yang tidak diaktivasi, filamentus hemaaglutinin (FHA), dan pertactin (PT).

Masa penelitian pembuatan vaksin ini cukup lama mencapai 20 tahun lebih. Dipakai pertama kalinya pada bayi-bayi di Jerman pada tahun 1994. Pemerintah Indonesia baru merekomendasikan pemakaiannya oleh ketua tim pokja KIPI (Kejadian Ikutan Pascaimunisasi), Prof DR dr Sri Redjeki Hadinegoro SpA(K), April tahun ini. Vaksin ini dikemas untuk dosis tunggal atau sekali pakai. Setiap vial (tabung) sekali suntik harganya mencapai Rp 175 ribu. Harga vaksin ini cukup mahal, karena pihak konsumen juga harus ikut membayar tingginya biaya riset dan teknologi canggih yang dipakai untuk membuat produk vaksin ini.

Vaksin ini diproduksi sesuai standar puritas (kemurnian) yang direkomendasikan WHO dan european pharmacopoeia yakni preparat vaksin bebas darah manusia. Untuk meyakinkan derajat kemurnian vaksin, setiap konstituen antigen diproses secara tersendiri dan diteliti secara seksama. Ketiga antigen yang dimurnikan ini tidak diaktifkan dan diserap secara terpisah ke dalam aluminium hidroksida. Kemudian dikumpulkan serta ditambahkan ke dalamnya bahan pengawet sodium klorida dan 2 phenoksiethanol. Bahan pengawet ini merupakan golongan bahan pengawet yang lazim dipakai dalam sediaan obat-obatan sirop. Preparat ini dilarutkan dalam air untuk keperluan injeksi. Kendati produk vaksin ini bagus, ia tetap harus disimpan pada suhu rendah yakni antara 2 hingga 8 derajat celcius.

Keamanan dan imonogenesitas vaksin dosis sekali pakai ini pertama kali diujikan pada binatang sebelum diberikan pada bayi. Infanrix memenuhi syarat WHO bagi pembuatan substansi biologi untuk vaksin dipteri dan tetanus .

Vaksin ini diberikan bagi bayi mulai usia 2 bulan selama 4 hingga 5 kali dosis suntikan yakni DPat 1 hingga DPaT 5. Tidak seperti vaksi DPwT yang ada sebelumnya yakni disuntikkan 3 kali, maka vaksin DPaT ini baru menghasilkan kadar antibodi di atas ambang antibodi pencegahan jika telah diberikan dosis penyuntikan hingga yang ke-lima.

Menurut Prof Sri, kehadiran vaksin bebas thiomersal dan tanpa badan utuh kuman ini mampu mengurangi efek samping KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi). Selain itu mengurangi kekhawatiran orang tua, meningkatkan minat orang tua, dan meningkatkan cakupan pemberantasan penyakit epidemiologi dipteri, pertusis, dan tetanus pada bayi di Indonesia. c11 ()

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s