Produk Suplemen Timbulkan Risiko Ginjal Kronik

http://republika.co.id/berita/89746/Produk_Suplemen_Timbulkan_Risiko_Ginjal_Kronik

Produk Suplemen Timbulkan Risiko Ginjal Kronik

By Republika Newsroom
Selasa, 17 November 2009 pukul 04:44:00

YOGYAKARTA–Berbagai produk suplemen yang beredar disinyalir mengandung satu atau lebih bahan yang dapat menimbulkan risiko penyakit ginjal kronik pada pengonsumsinya, kata ahli penyakit ginjal dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Bambang Djarwoto SpPD.

“Satu produk suplemen mengandung vitamin, mineral, bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, asam amino, dan bahan yang digunakan untuk meningkatkan kecukupan gizi seperti konsentrat, metabolit, konstituen, ekstrak, dan beberapa bahan kombinasi,” katanya di Yogyakarta, Senin.

Pada seminar penggunaan “food supplement” yang rasional, ia mengatakan, minuman suplemen engeri mengandung multivitamin, kafein, taurin, mineral, dan glukosa. Taurin hingga kini masih diragukan keamanannya, apalagi jika dikonsumsi setiap hari.

“Uji coba pada binatang, dengan memberikan minuman yang mengandung dosis taurin 462 miligram (mg) per kilogram berat badan (kgbb) per hari pada babi dapat menimbulkan infiltrasi lemak pada hepar,” katanya.

Terdapat keterkaitan kebiasaan mengonsumsi produk suplemen termasuk minuman suplemen energi dengan kejadian cuci darah akibat penyakit gagal ginjal kronik.

“Produk suplemen bersifat dose-dependence, yakni semakin banyak dikonsumsi, risiko untuk mengalami gagal ginjal kronik juga semakin tinggi,” kata dosen Fakultas Kedokteran UGM ini.

Menurut dia, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) tidak menggolongkan berbagai produk suplemen sebagai obat. Oleh karena itu, terkait dengan aspek perizinan untuk produksi dan pengontrolan peredarannya tidak seketat obat.

Dalam hal ini diperlukan sikap kehati-hatian masyarakat dalam mengonsumsi produk suplemen secara bebas. Masyarakat juga perlu mencermati komposisi dan daftar bahan-bahan yang terkandung.

Sehubungan dengan hal itu, masyarakat diharapkan mempertimbangkan kembali kebiasaan mengonsumsi produk suplemen. “Masyarakat jangan hanya merasa gengsi, terbawa tren atau memenuhi faktor sugesti. Masyarakat juga perlu melihat kondisi tubuh, manfaat yang diinginkan, dan daya beli,” katanya. ant/ahi

Jamur Kombucha Stabilkan Metabolisme Tubuh

Jamur Kombucha Stabilkan Metabolisme Tubuh

By Republika Newsroom
Selasa, 28 Juli 2009 pukul 16:18:00 <!–

Iklan 468x60

–>

Jamur Kombucha Stabilkan Metabolisme TubuhISTIMEWAJAMUR KOMBUCHA

JAKARTA– Metabolisme tubuh memegang peranan penting dalam pembentukan kualitas kesehatan. Sedikit gangguan saja, berbagai sumber penyakit bisa mengintai. Untuk menjaga metoblisme tubuh tetap stabil beragam cara bisa dilakukan termasuk salah satunya dengan mengkonsumsi teh fermentasi jamur Kombucha.

Konon jamur yang berasal dari negeri gingseng korea itu diyakini berkhasiat mempengaruhi tubuh secara menyeluruh, dengan menstabilkan metabolisme tubuh dan menawarkan racun dengan asam glukuronat. Hal ini menyebabkan peningkatan kapasitas pertahanan endogenis tubuh terhadap pengaruh beracun dan tekanan lingkungan, sehingga metabolisme sel yang rusak diperkuat, dan berlanjut dengan pemulihan kesehatan tubuh.

Hal itu diperkuat dari beberapa penelitian yang telah dilakukan mengkonsumsi teh jamur Kombucha bisa mengobati sembelit, memperbaiki kondisi tubuh, bermanfaat melawan arteriosclerosis, memulihkan fungsi alat pencernaan, bermanfaat bagi penderita stres mental, menawarkan racun dan membunuh kanker.

Hal itu dihasilkan selama proses fermentasi dan oksidasi berlangsung (8-12 hari), sehingga terjadi berbagai reaksi pada larutan teh-manis secara asimilatif dan disimilatif. Jamur teh memakan gula, dan sebagai gantinya memproduksi zat-zat bermanfaat yang dalam minuman tersebut, seperti asam glukuronat, asam laktat, vitamin, asam amino, antibiotik, serta zat-zat lain. Maka dari itu, jamur kombucha ini bagaikan sebuah pabrik biokimia mini.

Seperti apa bentuknya? Secara karakteristik, jamur tersebut terdiri dari gelatinoid serta membrane jamur yang liat dan berbentuk piringan bulat serta hidup dalam lingkungan nustrisi teh-manis yang akan tumbuh secara berulang sehingga membentuk susunan piringan berlapis.

Piringan pertama akan tumbuh pada lapisan paling atas yang akan memenuhi lapisan, kemudian disusul oleh pertumbuhan piringan berlapis-lapis dibawahnya yang akan menebal. Bila dirawat secara benar, jamur ini akan tumbuh pesat dan sehat

Di Indonesia, untuk mendapatkan Kombucha terbilang mudah. Karena sudah banyak dijual dipasaran. Rata-rata harga yang ditawarkan untuk bibit jamur Kombucha 100 ribu-150 ribu rupiah. Anda pun bisa dengan mudah membiakan dan mengkonsumsi teh fermentasi jamur Kombucha dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Siapkan ekstraksi teh 10-20 gram bubuk teh ke dalam 1 liter air. Lantas saringlah teh yang telah diseduh dan campurkan dengan gula berkisar 10% dari volume air. Lalu larutan tersebut didinginkan.
  • Kemudian masukan bibit jamur kombucha ke dalam larutan teh dengan wadah toples. Tentu pemilihan wadah patut mempertimbangkan bahan yang khusus bahan pangan.
  • Wadah ditutup dengan kain/kertas dan disimpan pada suhu kamar selama 8-12 hari. Fermentasi berlangsung sekitar 8 – 12 hari, tergantung suhu. Lebih hangat temperatur ruangan, lebih cepat proses fermentasinya.
  • Usai melalui masa fermentasi, giliran proses pemisahan dan penyaringan.Lapisan selulosa yang terbentuk dipisahkan dari seduhan teh. Hasil fermentasi dan disimpan dalam toples lainnya. Seduhan teh lalu disaring supaya bersih dari residu fermentasi. Teh kombucha siap dikonsumsi.
  • Sebaiknya sebelum dikonsumsi dan disimpan produk tersebut dipanaskan dahulu, supaya tidak terjadi fermentasi lanjutan(Cakrawala, 2007).
  • Setiap kali selesai fermentasi pada saat pemisahan selalu disisakansepersepuluh (10%) bagian untuk keperluan pembuatan teh kombucha berikutnya. Tutup botol dengan rapat dengan menggunakan kain.
  • Minuman ini memilki rasa yang enak. Menyegarkan, sedikit kecut. Minumlah tiga gelas sehari dengan ukuran satu gelas (4 to 6 ons atau lebih) pada waktu perut kosong dipagi hari, gelas kedua setelah makan siang dan gelas ketiga pada saat menjelang tidur. Menuju sehat, tak terlalu rumit bukan? Selamat mencoba. (wikipedia/cr2/rin)

Obat Herbal, Alternatif Sembuhkan Penyakit

Obat Herbal, Alternatif Sembuhkan Penyakit

By Republika Newsroom
Minggu, 09 Agustus 2009 pukul 09:10:00 <!–

Iklan 468x60

–>

PALEMBANG– Obat-obatan dengan menggunakan bahan-bahan alami (herbal) saat ini menjadi alternatif dalam penyembuhan berbagai macam penyakit, dengan efek samping yang minimal dibandingkan obat-obatan kimia. Hal itu mengemuka pada Seminar Perkembangan Herbal dan Penggunaannya dalam Bidang Kesehatan bersama Tolak Angin dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumatra Selatan (Sumsel), di Palembang, Sabtu (8/8).

Namun sejumlah pembicara kalangan ahli farmasi dan dokter maupun kalangan produsen obat herbal, mengemukakan perlunya kejelasan pemakaian dan penggunaan obat herbal yang pembuatannya juga melalui standard medis yang layak. Apalagi kenyataannya, mayoritas penduduk dunia telah menggunakan obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan sebagai bahan utama herbal untuk mengobati berbagai gejala penyakit yang mereka alami. Peluang itu, dimanfaatkan pabrik yang memproduksi obat-obatan herbal dan terus tumbuh sampai saat ini.

Menurut dr H Hibsah Ridwan MSc, Wakil Ketua IDI Sumsel, pengobatan herbal sebenarnya tidak asing lagi di Indonesia, bahkan sejarah pengobatan dan terapi di Indonesia dimulai dengan metode herbal. Berdasarkan penelitian, ternyata banyak kalangan medis juga telah menggunakan obat-obatan jenis ini. “Apalagi sejauh ini, herbal tidak bermasalah dengan tubuh,” kata nya.

Namun diingatkan, kebanyakan obat-obatan herbal yang dijual di pasaran tanpa menyertakan dosis yang tepat, sehingga tidak diketahui berapa lama waktu konsumsi mesti dijalankan. Kalangan medis juga masih meragukan obat herbal itu, terutama berkaitan dengan dosis, standardisasi, efek toksiditas serta prosedur lainnya. Karena itu, pembuatan obat-obatan herbal perlu mendapatkan regulasi yang jelas.

Regulasi

Menurut ahli farmasi dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri), Prof Dr dr MT Kamaluddin MSc SpFK, sekitar 35 persen negara belum mempunyai aturan yang jelas tentang regulasi obat-obatan herbal ini, apakah sebagai makanan tambahan, suplemen atau obat.
Dia menyebutkan pula, terdapat 109 negara yang tidak memiliki kepastian tentang khasiat obat-obatan herbal, antara lain karena material yang diambil dari tumbuh-tumbuhan untuk menyembuhkan itu tidak disertai komposisi dosis yang tepat.

Tapi dia membenarkan bahwa pada dunia kedokteran sendiri, sudah banyak obat-obatan yang menggunakan bahan-bahan herbal.
Pembuatannya dicampur dengan zat-zat ekstrak tumbuh-tumbuhan sesuai dengan dosis dan kadar yang tepat. Pasien juga cenderung memilih alternatif pengobatan herbal, dengan anggapan lebih memberi kesembuhan sempurna dibanding obat-obat farmasi umumnya. Namun penggunaan obat herbal itu, seharusnya disertai dengan petunjuk yang tepat.

Menurut Irwan Hidayat yang juga Direktur Utama PT Sido Muncul, sejumlah produk herbal yang dikeluarkan perusahaan itu seperti Tolak Angin telah mendapatkan Sertifikat Obat Herbal Berstandar (OHT). Karena itu, produk herbal tersebut telah memenuhi prosedur standardisasi penggunaan bahan-bahan dan uji preklinis sesuai dengan regulasi yang dicanangkan.

Pihaknya mengajak dunia kedokteran lebih mengenal obat-obatan herbal, mengingat semua dokter adalah ilmuwan. Apalagi potensi sumber obat herbal di Indonesia sangat melimpah, sekaligus untuk memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki negeri ini. (ant/rin)

Buang Racun Tubuh dengan Asparagus

Buang Racun Tubuh dengan Asparagus

By Republika Newsroom
Selasa, 01 September 2009 pukul 13:33:00

Buang Racun Tubuh dengan AsparagusCORBISASPARAGUS

JAKARTA– Bagi Anda pecinta menu restoran, sudah pasti mengenal sayuran asparagus. Sayangnya, sayuran bernama latin Asparagus officinalis ini memang bukan sayuran asli Indonesia melainkan Eropa, Afrika Utara dan Asia Barat. Artinya, secara umum masyarakat Indonesia mungkin belum mengetahui manfaat dan khasiat apa yang terkandung dalam sayuran ini.

Asparagus dikenal sebagai tanaman herbal yang memiliki tinggi 100-150 cm, berkarakteristik tidak memiliki bunga melainkan berupa kuncup yang berada diatas. Umumnya berwarna hijau, meski ada yang berwarna hijau dengan daun berwarna ungu (Asparagus ungu) atau jenis lain yang berwarna putih ke kuning-kuningan (Asparagus Spargel). Tanaman ini merupakan asli Eropa yang kemudian pada masa kolonialisme disebar ke Afrika Utara dan Asia Barat.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari asparagus, khususnya untuk mencegah penyakit. Mulai dari radang sendi hingga memperbaiki kinerja ginjal, hati dan usus karena memiliki efek diuretic. efek ini yang membuat saluran urin menjadi lancar. Artinya, segala racun yang merugikan tubuh segera dibuang. Sebabnya, bagi yang mengkonsumsi asparagus, urin akan berbau tajam, persis saat anda usai mengkonsumsi petai atau jengkol.

Tak hanya itu, Asparagus juga kaya akan vitaminC dan E, folat, kaya serat, mengandung lemak tak jenuh,  dan anti kolesterol. Sama seperti kebanyakan sayuran, bila cara pengolahannya salah maka manfaat yang ada serta merta hilang. Sebabnya, pengolahan sayuran macam aspragus memiliki teknik tersendiri.

Masyarakat Cina, telah lama menggunakan aspragus selain sebagai sajian menu juga sebagai makanan sehat yang mengobati penyakit mulai dari arthrtis hingga masalah kesuburan.

Cara mendapatkan khasiat aspragus cukup mudah. Salah satunya, dengan membuat sup aspragus. Konon, hasil penelitian ilmiah secara modern menunjukkan bahwa asparagus organik mengandung steroidal glikosida yang memiliki efek anti pembengkakan. Satu setengah mangkuk asparagus organik yang telah dimasak mengandung sejumlah besar asam folik, vitamin C, potassium, dan beta karotin.

Asam Folik membantu mengurangi cacat bawaan pada bayi, kanker panggul, usus dan dubur, serta bermanfaat untuk mencegah penyakit-penyakit jantung. Kandungan vitamin C nya sementara itu dapat membantu tubuh mencegah kanker, penyakit jantung serta meningkatkan daya tahan tubuh. Potassium membantu meregulasikan keseimbangan elektrolit dalam sel dan menjaga fungsi jantung dan tekanan darah yang normal.

Akan tetapi, cara memasaknya jangan terlalu lama. Sebab, saat asparagus dimasak, khasiat alkaloidnya berkurang karena unsur hidrogen dan oksigen yang terdapat di dalamnya akan hilang, unsur-unsur lainnya pun menjadi rusak, dan juga akan mengganggu ginjal.

Cara lain, asparagus dicampur dengan sari wortel. Dengan cara seperti ini, sari asparagus dapat berfungsi sebagai diuretik atau pelancar air seni, tetapi pemakaiannya disarankan tidak terlalu banyak. Zat di dalam asparagus dapat menghancurkan asam-oksalat di dalam ginjal dan di dalam jaringan otot, maka asparagus juga dapat menolong penderita rematik dan radang syaraf.

Cara lainnya, dengan menggubah asparagus menjadi minuman. Ambil, 100 gram aspragus untuk dicuci bersih, kemudian direbus dengan 400 ml air mendidih hingga tersisa 200 ml. Kemudian disaring, didinginkan lalu diblender dengan menambahkan 50 ml air matang sedikit-sedikit sampai halus.cara penggunaanya, diminum 2 kali seminggu. (berbagai sumber/cr2/rin)

Studi: Obat Tamiflu tak Cocok Buat Orang Dewasa Sehat

Studi: Obat Tamiflu tak Cocok Buat Orang Dewasa Sehat
By Republika Newsroom
Minggu, 23 Agustus 2009 pukul 00:49:00 <!–

Iklan 468x60

–>

Studi: Obat Tamiflu tak Cocok Buat Orang Dewasa SehatPHARMACYVIS.COM

WASHINGTON–Obat flu Tamiflu dan Relenza mungkin tak cocok untuk mengobati influenza musiman pada orang dewasa yang sehat, kata beberapa peneliti Inggris, Jumat.”Merekomendasikan penggunaan obat anti-virus bagi perawatan orang yang memiliki beberapa gejala tampaknya bukan jalur tindakan yang paling cocok,” tulis Jane Burch dari University of York, dan rekannya.

Studi mereka, yang disiarkan di dalam “Lancet Infectious Diseases”, mendukung saran dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) –yang menyatakan pasien sehat yang terserang flu babi H1N1 tanpa menderita komplikasi tak memerlukan pengobatan anti-virus.Tamiflu, yang dibuat oleh perusahaan Swiss, Roche, berdasarkan lisensi dari Gilead Sciences Inc., adalah pil yang dapat mengobati dan mencegah segala jenis virus influenza A.

Zanamivir, yang dibuat oleh GlaxoSmithKline, berdasarkan lisensi dari perusahaan Australia, Biota, dan dijual dengan merek Relenza, adalah obat hirup di klas yang sama.WHO sangat menyarankan penggunaan kedua obat itu buat perempuan hamil, pasien dengan kondisi medis yang mendasari dan anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun, karena mereka menghadapi resiko yang meningkat terhadap penyakit yang lebih parah.

Tim Burch mengkaji beragam studi yang diterbitkan mengenai Tamiflu dan Relenza. “Kami menyajikan hasilnya buat orang dewasa yang sehat dan orang yang menghadapi resiko komplikasi yang berkaitan dengan influenza,” tulis mereka.Mereka mendapati kedua obat tersebut, rata-rata, memangkas setengah hari hari saat pasien sakit. Influenza biasanya mempengaruhi orang selama sekitar satu pekan.

Obat itu memberi hasil sedikit lebih baik pada orang yang memiliki resiko komplikasi, seperti pasien yang menderita diabetes atau asme, sementara Relenza mengurangi rasa sakit hampir satu hari dan Tamiflu sebanyak tiga-perempat per hari.Itu menunjukkan obat tersebut mesti diberikan kepada orang yang paling memerlukannya, kata para peneliti tersebut.

Banyak negara telah menimbun kedua obat itu. Flu babi H1N1 telah dinyatakan sebagai wabah dan menyebar ke seluruh dunia. Para pejabat kesehatan AS, Jumat, mengatakan penyakit tersebut masih bertambah parah di Jepang, kondisi membaik di Inggris dan masih aktif di Amerika Serikat.

Flu jarang menyerang di semua ketiga negara itu pada Agustus. Pabrik global menduga tak dapat menyediakan vaksin tersebut sampai akhir September atau Oktober. ant/rtr/kpo

Vaksinasi Flu Burung Kurang Efektif

Vaksinasi Flu Burung Kurang Efektif
Selasa, 6 Januari 2009 | 22:00 WIB

JAKARTA, SELASA – Vaksinasi flu burung pada unggas ternyata tidak efektif untuk mematikan virus itu di dalam tubuh unggas sehingga tidak bisa mengendalikan penyebaran virus itu kepada manusia. Bahkan, vaksinasi secara sembarangan justru bisa meningkatkan tingkat keganasan virus tersebut dan berpotensi besar menular kepada manusia.

Menurut peneliti dari Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC) Universitas Airlangga, drh CA Nidom, Selasa (6/1), di Jakarta, hasil riset yang dilakukan menunjukkan vaksinasi pada semua jenis ayam, baik ayam buras atau kampung maupun ayam ras pedaging, tidak ada manfaatnya untuk mencegah penularan pada manusia.

Dalam riset itu, tim peneliti membandingkan antara kelompok ayam yang diberi vaksin flu burung dan ayam yang tidak diberi vaksin. Setelah dipaparkan dengan virus flu burung, ayam yang tidak mendapat vaksin langsung mati. Adapun ayam yang telah divaksin dan terbentuk antibodinya terlihat sehat meski telah dipaparkan dengan virus itu.

Namun ternyata feses atau kotoran ayam yang sudah divaksin itu positif mengandung virus flu burung sampai hari keenam atau hari terakhir pemeriksaan laboratorium. “Jadi, dari aspek penyebaran virus itu pada manusia, vaksinasi tidak punya manfaat apa pun, tetapi bisa mencegah kematian pada unggas,” ujarnya.

Maka dari itu, pemerintah sebaiknya mengalihkan dananya yang semula untuk vaksinasi massal flu burung menjadi dana untuk kompensasi bagi para peternak yang unggasnya mati akibat terserang flu burung. Yang perlu dilakukan adalah, pengawasan flu burung secara nasional untuk memetakan daerah di mana ada unggas yang terinfeksi flu burung, ujarnya.

Selain itu, restrukturisasi industri perunggasan mendesak dilakukan. Salah satunya adalah, melarang perdagangan ayam hidup di pasar unggas, mengontrol lalu-lintas unggas antar daerah, dan melarang peternakan unggas di kawasan pemukiman.”Pengendalian flu burung tidak bisa hanya dilakukan peternak, tetapi harus berskala nasional,” kata Nidom.

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok Pulih

By Republika Newsroom
Rabu, 04 Maret 2009 pukul 14:34:00

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok PulihCORBIS.COMPEMICU: Salah satu pemicu Sindrom Stevens-Jhonson adalah obat-obatan. Pasien seharusnya mengkonsultasikan setiap obat yang akan dikonsumsi

DEPOK-Bocah penderita Stevens-Johnson Syndrome yang sempat diisukan sakit karena diimunisasi TT (tokso tetanus) di Kota Depok, Syadiah (7 tahun) dinyatakan pulih setelah 18 hari dirawat di RS Sentra Medika, Depok. Sementara pengawasan konsumsi obat-obatannya masih diperketat.

”Kondisi terakhir Syadiah memungkinkan untuk berobat jalan dan dinyatakan 99 persen sembuh,” terang dokter spesialis anak RS Sentra Medika yang merawat pasien, Indra Sugiarno, Rabu (4/3).

Setelah lepas infus lima hari lalu, ujar Indra, Syadiah langsung dikenalkan makanan padat. Bahkan, kini ia bisa makan hidangan favoritnya, mie instan. Selain itu, dokter kulit RS Sentra Medika masih terus memantau kondisi kulit ari pasien pasca pengelupasan seminggu sekali. Lantaran warna kulit Syadiah tidak rata akibat terkelupas (hipopigmentasi).

Saat ditanya tentang penyebab penyakit Syadia, Indra belum bisa memastikan karena ada beberapa faktor pemicu, seperti obat, makanan, genetik serta faktor lainnya yang belum diketahui ilmu medis. Namun, ia memastikan penyakit Syadiah ini bukan disebabkan karena imunisasi.

”Kemungkinan besar Syadiah punya faktor genetik yang menyebabkan dia rentan terkena Stevens-Johnson Syndrome dan dari obat-obatan yang diminum,” terangnya. Maka, orangtua Syadiah harus mengkonsultasikan terlebih dulu obat yang dikonsumsi. Terutama dua jenis obat yang acapkali jadi sumber penyakit ini, yaitu obat antikejang dan antiasam urat.

Beruntungnya, resiko fatal sindrom ini pada Syadiah hanya sekitar 30 persen. Sehingga ia bisa pulih lebih cepat dan terhindar dari kondisi yang memberatkan penyakit ini, seperti perlengketan saluran pernafasan dan pencernaan yang saling berhadapan di rongga dalam.

Di kesempatan yang sama, Sadiyah yang selama perawatan terkesan takut diekspos, saat jumpa pers kemarin ia mau menjawab pertanyaan wartawan dengan sedikit malu-malu. “Saya besok pengen sekolah dan ketemu teman-teman,” ujarnya.

Sementara itu, ayah Syadiah, Prasetyo merasa bersyukur atas kesembuhan putrinya. Ia juga mengaku merasa terbantu dengan penanganan medis RS Sentra Medika yang tanggap serta berterima kasih pada Dinkes Kota Depok yang membantu masalah pembiayaan melalui Jamkesmas.

Sebelumnya, kasus Syadiah ini menyeret Dinkes Kota Depok yang dituding tidak mendiagnosa terlebih dulu anak-anak yang ikut imunisasi. Akibatnya, Syadiah yang menjadi salah satu peserta imunisasi tiba-tiba mengalami sakit yang mengakibatkan kulit tubuhnya menghitam dari wajah hingga pangkal paha. c84/itz

Kontroversi Vaksin

Kontroversi Vaksin

By Republika Newsroom
Senin, 22 Desember 2008 pukul 09:22:00 <!–

Iklan 468x60

–>

Kontroversi Vaksin

Kalau kita mau telaah lebih lanjut, masih banyak sekali jenis-jenis vaksin yang bersumber dari bahan-bahan yang diharamkan.

Vaksin adalah sebuah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus. Terbuat dari virus yag telah dimatikan atau “dilemahkan” dengan menggunakan bahan-bahan tambahan lainnya seperti formalaldehid, thymerosal dan lainnya. Sedangkan vaksinasi adalah suatu usaha memberikan vaksin tertentu ke dalam tubuh untuk menghasilkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit /virus tersebut.

Vaksin terdiri dari beragam jenis. Jenis-jenis vaksinasi yang ada antara lain vaksin terhadap penyakit hepatitis, polio, Rubella, BCG, DPT, Measles-Mumps-Rubella (MMR) cacar air dan jenis penyakit lainnya seperti influenza. Di Indonesia, vaksinasi yang umum dilakukan pada bayi dan balita adalah Hepatitis B, BCG, Polio dan DPT. Selebihnya seperti vaksinasi MMR adalah bersifat tidak wajib. Ada pun vaksinasi terhadap penyakit cacar air (smallpox) termasuk vaksinasi yang sudah tidak dilakukan lagi di Indonesia.

Vaksin dan sistem kekebalan tubuh
Pemberian vaksin dilakukan dalam rangka untuk memproduksi sistem immune (kekebalan tubuh) seseorang terhadap suatu penyakit. Berdasarkan teori antibodi, ketika benda asing masuk seperti virus dan bakteri ke dalam tubuh manusia, maka tubuh akan menandai dan merekamnya sebagai suatu benda asing. Kemudian tubuh akan membuat perlawanan terhadap benda asing tersebut dengan membentuk yang namanya antibodi terhadap benda asing tersebut. Antibodi yang dibentuk bersifat spesifik yang akan berfungsi pada saat tubuh kembali terekspos dengan benda asing tersebut.

Dr Willian Howard dari USA mengatakan bahwa tubuh telah memiliki metodenya sendiri untuk pertahanan, yang tergantung pada vitalitas tubuh pada saat tertentu. Jika vitalitas tubuh cukup, maka tubuh akan bertahan terhadap seluruh infeksi, tetapi sebaliknya jika tidak maka pertahanan akan lemah. Sesungguhnya kita tidak dapat mengubah vitalitas tubuh menjadi lebih baik justru dengan menggunakan berbagai jenis racun (vaksin) ke dalam tubuh tersebut.

Vaksin dan injauan kehalalannya
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang diselenggarakan di Indonesia pada Agustus tahun lalu, sempat bermasalah dibeberapa wilayah di Indonesia. Permasalahannya adalah beberapa daerah tersebut (Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung dan Banten) menolak pemberian vaksin polio karena diragukan kehalalannya. Dalam proses pembuatan vaksin tersebut menggunakan ginjal kera sebagai media perkembangbiakan virus.

Memang kalau kita mau telaah lebih lanjut, masih banyak sekali jenis-jenis vaksin yang bersumber dari bahan-bahan yang diharamkan. Seorang pakar dari Amerika mengatakan bahwa vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda dan ekstrak mentah lambung babi.

Selain sumber-sumber di atas, beberapa vaksin juga dapat diperoleh dari aborsi calon bayi manusia yang sengaja dilakukan. Vaksin untuk cacar air, Hepatitis A, dan MMR diperoleh dengan menggunakan fetal cell line yang diaborsi, MRC-5 dan WI-38. Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line diploid manusia.

Penggunaan janin bayi yang sengaja digugurkan ini bukan merupakan suatu hal yang dirahasiakan kepada publik. Sel line janin yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya diambil dari bagian paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, thyroid, thymus dan hati yang diperoleh dari aborsi yang terpisah. Penamaan isolat biasanya dikaitkan dengan sumber yang diperolah. Misalnya WI-38 adalah isolat yang diperoleh dari paru-paru bayi perempuan berumur tiga bulan.

Status Kehalalan
Di lihat dari segi bahan memang masih ada yang meragukan dalam proses pembuatan vaksin. Namun dari segi manfaat, vaksinasi ini cukup efektif dalam menekat tingkat terjangkitnya berbagai penyakit, khususnya yang berkaitan dengan serangan virus.

Di tengah kontroversi tersebut MUI telah menetapkan keputusan No 16 tahun 2005 yang mengeluarkan fatwa kehalalan atas vaksin polio. Hal ini berkaitan dengan suatu kaidah usul fikih yang mengatakan bahwa mencegah kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil manfaatnya. Demikian alasan yang dijadikan dasar hukum pengambilan keputusan terhadap kehalalan vaksin polio sekalipun diketahui bahwa vaksin tersebut disediakan dari bahan yang meragukan. Dalam keadaan darurat, di mana vaksin halal belum ditemukan, maka hal itu bisa dilakukan untuk mencegah mudharat yang lebih besar, yaitu terjangkitnya penyakit yang membahayakan.

Namun demikian kita tidak bisa hanya bertahan pada kondisi darurat, melainkan juga melakukan usaha untuk perbaikan. Seperti misalnya usaha yang akan dilakukan oleh PT Bio Farma yang dalam tiga tahun mendatang akan memproduksi vaksin polio halal. Mudah-mudahan usaha ini segera bisa diwujudkan, sehingga masyarakat bisa lebih diuntungkan dengan ketersediaan vaksin halal. Dengan demikian pencegahan penyakit itu bisa dilakukan dengan bahan-bahan yang berasal dari yang halal. Elvina Agustin Rahayu dan Nur Wahid, Auditor LPPOM MUI/dokrep/Desember 2006

Susu Sapi Bikin Bayi Alergi

Susu Sapi Bikin Bayi Alergi
Selasa, 12 Mei 2009 | 22:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dokter spesialis anak ahli imunologi Dr Zakiudin Munasir mengatakan, susu sapi dan produk turunan susu sapi lainnya merupakan penyebab alergi terbesar, terutama pada bayi.

Dr Zakiudin Munasir, dalam seminar “Apakah Alergi diturunkan Secara Genetik” di Jakarta, Selasa, mengatakan, susu sapi yang merupakan protein asing utama bagi bayi pada bulan-bulan awal kehidupannya berpotensi menimbulkan reaksi alergi yang pertama kali, dengan gejala-gejala pada saluran cerna seperti diare dan muntah.

Menurut dia, adanya protein asing dalam tubuh bayi dan ditambah kondisi saluran pencernaannya yang belum sempurna, sehingga bayi rentan mengalami alergi yang diakibatkan oleh susu sapi ini.

“Makanan yang cocok untuk bayi adalah ASI (air susu ibu). Itulah sebabnya, bayi disarankan diberi ASI (air susu ibu) eksklusif, setidaknya hingga usia 6 bulan,” kata Zakiudin.

Fungsi ASI dalam mencegah alergi karena mengandung zat gizi lengkap yang dibutuhkan bayi, termasuk protein “Hypo allergenik”, DHA, probiotik dan kolostrum yang dapat melindungi bayi dari alergi.

Alergi merupakan reaksi kekebalan tubuh yang menyimpang atau berubah dari normal yang dapat menimbulkan gejala merugikan tubuh mulai dari gangguan pernafasan, kulit hingga mata.

Selain susu sapi, Zaikudin juga menyebut makanan lain, seperti telur, makanan laut, kacang-kacangan dan masih banyak lagi macamnya pemicu alergi.

Zakiudin menjelaskan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat sejalan dengan perubahan pola hidup masyarakat yang semakin modern.

Dia menyebut, banyaknya zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman, selain itu tingginya polusi saat ini merupakan penyebab terjadinya alergi.

“Memang alergi di Indonesia tidak sebesar di negara maju lainnya, namun ityu perlu diwaspadai,” tegasnya.

Zakiudin menyebut tiga tindakan pencegahan terjadinya alergi, yakni menghindari pencetus alergi, menjalani hidup sehat dan memakai obat-obatan.

“Jika terjadi alergi, hindari makanan atau hal lain yang menjadi pemicunya. Jika sudah terjadi yang lakukan dengan obat-obatan atau terapi,” katanya.

Terkait pengobatan alergi, dokter biasanya memberikan obat-obatan seperti antihistamin dan kortikosteroid (baik yang diberikan lewat mulut, suntikan, maupun inhalasi) untuk memperkuat dinding sel mast dalam tubuh pasien.

Depkes: Vaksin Meningitis tak Berenzim Babi

http://www.republika.co.id/koran/14/48813/Depkes_Vaksin_Meningitis_tak_Berenzim_Babi

Depkes: Vaksin Meningitis tak Berenzim Babi

Kamis, 07 Mei 2009 pukul 22:45:00

MEDAN — Departemen Kesehatan RI melalui Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Prof dr Tjandra Yoga Adhitama, memastikan bahwa vaksin meningitis yang disuntikkan kepada jamaah haji dan umrah tidak mengandung bahan dari babi. Untuk itu, para calon jamaah haji atau umrah diminta agar tak ragu dengan suntik meningitis yang dilakukan Depkes.

“Kepastian tidak adanya kandungan babi ini merupakan penjelasan resmi dari Depkes RI bahwa vaksin meningitis untuk calon jamaah haji dan umrah tidak mengandung bahan dari babi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Utara, dr Candra Syafei SpOG, yang mengutip surat resmi dari Depkes tersebut, kemarin (6/5).

Dalam surat tertanggal 4 Mei 2009 yang dikeluarkan melalui Pusat Komunikasi Publik Depkes RI itu, Dirjen P2PL menyatakan, vaksin yang digunakan calon jamaah haji dan umrah Indonesia adalah vaksin meningitis Mencevax ACWY. Dalam proses pembuatannya, vaksin ini menggunakan kultur media yang bebas binatang, termasuk bebas dari >material bovine (sapi) dan porcine (babi).

“Jadi, vaksin meningitis yang digunakan jamaah haji dan umrah tidak mengandung unsur babi,” ujar Candra yang mengutip pernyataan Dirjen P2PL dalam surat tersebut. Bahkan, lanjut Candra, dalam surat tersebut, Depkes RI menyatakan, vaksin itu juga digunakan jamaah haji dari Arab Saudi, Iran, Nigeria, Yaman, Malaysia, Filipina, Singapura, Pakistan, Bangladesh, Ghana, India, Kazakstan, Kuwait, Lebanon, dan lain-lain.

Candra menambahkan, Pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap jamaah haji atau umrah divaksin meningitis agar terhindar dari penyakit radang selaput otak. Menurut dia, gejala klinis penyakit itu adalah demam (panas tinggi) mendadak, nyeri kepala, mual, muntah, ketahanan fisik melemah, dan kemerahan di kulit. Pada keadaan lanjut, kesadaran menurun sampai koma serta terjadi pendarahan.

“Berkumpulnya populasi dalam jumlah besar dari berbagai negara di Arab Saudi, seperti pada musim haji, berpotensi terhadap penyebaran kuman dan penyakit. Karena itu, pemberian vaksinasi merupakan upaya yang penting dalam memberi perlindungan kesehatan jamaah haji,” ujar Candra.

Penjelasan Depkes itu berbeda dengan hasil temuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan LPPOM MUI Sumatra Selatan. Berdasarkan hasil penelitian dengan melibatkan Universitas Sriwijaya, LPPOM MUI Sumsel menemukan adanya kandungan enzim <I>porchin<I> dalam vaksin meningitis untuk jamaah haji dan umrah.

Direktur LPPOM MUI Pusat, Muhamad Nadratuzzaman Hosen, juga sempat mengatakan, kasus vaksin meningitis mengandung enzim babi ini merupakan kasus lama. ”Departemen Kesehatan juga tahu, tapi hanya didiamkan. Banyak vaksin yang mengandung enzim babi, bukan vaksin meningitis saja,” ungkapnya.  nin/hri

MUI Desak Depkes cari Vaksin Meningitis Halal

http://www.republika.co.id/berita/48973/MUI_Desak_Depkes_cari_Vaksin_Meningitis_Halal

MUI Desak Depkes cari Vaksin Meningitis Halal

Kamis, 07 Mei 2009 pukul 17:27:00

JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak  Departemen Kesehatan untuk mencari vaksin meningitis yang tidak mengandung unsur babi. ”Masa’ darurat ini akan terus menerus, khan tidak. Kami minta pemerintah dalam hal ini Depkes untuk mengupayakan vaksin meningitis yang tidak haram,” tegas Umar Shihab, salah seorang Ketua MUI dalam konferensi pers di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (7/5).

Umar Shihab mengungkapkan, Komisi Fatwa MUI telah memutuskan bahwa haram hukumnya menggunakan vaksin yang mengandung babi. ”Haram hukumnya, tapi karena tidak ada yang lain, maka MUI menetapkan penggunaan vaksin tersebut boleh dilakukan, karena keadaan darurat. Agar tidak ada kegelisahan atau kerisauan bagi calon jamaah haji dan umroh,” papar Umar Shihab.

Turut dalam konferensi pers itu, Ketua MUI Amidhan dan Nasri Adlani serta Ketua LP POM MUI Nadratuzzaman Hosen. Pada kesempatan itu Umar Shihab juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat akan ada pertemuan antara pemerintah dan MUI terkait vaksin meningitis mengandung babi ini.

Sementara Ketua LP POM MUI Nadratuzzaman Hosen mengungkapkan sudah merupakan standar dunia bahwa vaksin untuk penyakit-penyakit yang berasal dari virus, selalu digunakan enzim babi. ”Jadi selalu menggunakan tripcin, yang mengandung babi,” tandas Nadratuzzaman.

Alasannya menurut Nadratuzzaman, struktur DNA babi dengan struktur DNA manusia sangat mirip dan sangat dekat, bahkan mencapai angka 98 persen. Selain itu, dunia barat juga tidak peduli jika babi itu haram untuk umat Muslim.

”Salah satu dampaknya adalah penyakit-penyakit yang ada pada babi babi gampang menular ke manusia. Jadi di dunia ini hamp-ir semua menggunakan itu. Masalahnya mereka tidak mempedulikan haram atau halalnya babi bagi umat Islam,” ungkap Nadratuzzaman.

Bahkan menurutnya, justru kalangan medis dunia takut jika menggunakan enzim dari bahan sapi. ”Karena kata mereka, mereka khawatir karena banyak sapi yang terkena penyakit sapi gila,” papar Nadratuzzaman.  - osa/ahi

Tidak Ada Unsur Babi pada Vaksin Meningitis Jemaah Haji Indonesia

http://www.republika.co.id/berita/48693/Tidak_Ada_Unsur_Babi_pada_Vaksin_Meningitis_Jemaah_Haji_Indonesia

Tidak Ada Unsur Babi pada Vaksin Meningitis Jemaah Haji Indonesia

By Republika Newsroom
Rabu, 06 Mei 2009 pukul 16:36:00

JAKARTA — Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Adhitama menegaskan, vaksin meningitis yang diberikan kepada calon jemaah haji Indonesia adalah vaksin meningitis “Mencevax ACWY”. Vaksin ini di dalam proses pembuatannya menggunakan kultur media yang bebas binatang, termasuk bebas dari material bovine (sapi) dan porcine (babi).

“Jadi vaksin meningitis yang digunakan jemaah haji Indonesia tidak mengandung unsur babi,” kata Tjandra Yoga menjawab kekhawatiran adanya vaksin miningitis yang digunakan jemaah haji/umrah memiliki kandungan babi.

Dijelaskan, vaksin tersebut selain digunakan jemaah haji Indonesia juga telah digunakan oleh negara-negara yang mengirimkan jemaah haji yaitu Saudi Arabia, Iran, Nigeria, Yaman, Malaysia, Philiphina, Singapura, Pakistan Banglades, Ghana, India, Kazakstan, Kuwait, Libanon dan masih banyak lagi.

Keterangan ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan seperti dirilis situs “depkes.go.id” Senin (4/5) lalu. Selain itu Depkes juga memberikan layanan bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh agar menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id./taq

MUI: Vaksin Meningitis Mengandung Enzim Babi

http://www.republika.co.id/koran/14/46293/MUI_Vaksin_Meningitis_Mengandung_Enzim_Babi

MUI: Vaksin Meningitis Mengandung Enzim Babi

Sabtu, 25 April 2009 pukul 21:26:00

LPPOM MUI Sumatra Selatan menemukan fakta vaksin meningitis mengandung enzim porchin dari babi.PALEMBANG — Majelis Ulama Indonesia Sumatra Selatan (MUI Sumsel) mengingatkan pemerintah untuk mengganti vaksin meningitis (radang selaput otak) yang biasa digunakan untuk jamaah haji dan umrah. Pasalnya, vaksin meningitis itu mengandung enzim porchin yang berasal dari babi.Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun, menegaskan, kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis terungkap setelah Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) di provinsi itu melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri).”MUI Sumsel melakukan penelitian tersebut, setelah tiga bulan lalu mendapat laporan tentang adanya kandungan enzim babi dalam vaksin meningitis,” ungkap Kiai Sodikun kepada Republika, Jumat (24/4). Setelah mendapat laporan itu, papar dia, LPPOM MUI yang dipimpin langsung ketuanya, Prof Nasruddin Iljas, melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Unsri, salah satunya, Prof T Kamaludin, direktur Program Pascasarjana Unsri…

Enzim Babi di Vaksin Meningitis Haji

http://www.republika.co.id/berita/46193/Enzim_Babi_di_Vaksin_Meningitis_Haji

Enzim Babi di Vaksin Meningitis HajiBy Republika Newsroom
Jumat, 24 April 2009 pukul 17:13:00

PALEMBANG — Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan (MUI Sumsel) memperingatkan agar pemerintah mengganti vaksin meningitis yang digunakan untuk calon jemaah haji atau umrah karena vaksin tersebut diduga mengandung enzim dari babi.

Ketua MUI Sumsel KH Sodikun, Jum’at (24/4) mengatakan, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sumsel telah melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri)  ditemukan bahwa vaksin antiradang otak (antimeningitis) untuk calon jemaah haji tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi.

“MUI Sumsel melakukan penelitian tersebut setelah sekitar tiga bulan lalu mendapat laporan tentang adanya kandungan enzim babi tersebut. Lalu LPPOM MUI dengan dipimpin ketuanya Prof Nasruddin Iljas melakukan penelitian dengan melibatkan pakar dari Unsri diantaranya Prof. T. Kamaludin Direktur Program Pasca Sarjana Unsri,” kata Sodikun memaparkan

“Hasilnya ditemukan adanya kandungan enzim porchin yang berasal dari binatang babi,” ujar Sodikun menambahkan.

Temuan tersebut menurut Sodikun sudah disampaikan kepada pemerintah dan MUI Pusat agar ditindaklanjuti.

“Kami meminta pemerintah segera mengganti vaksin yang digunakan sekarang dengan vaksin yang halal dan bebas darin enzim binatang yang diharamkan tersebut,” ujar Sodikin.

“Sampai sekarang permintaan kami tidak mendapat tanggapan. Melalui informasi yang kami sampaikan lewat media massa, MUI Sumsel berharap Menteri Agama segera tanggap,” imbuhnya.

Sebelumnya, Prof Nasruddin Iljas Ketua LPPOM MUI Sumsel menjelaskan, negara lain seperti Malaysia telah menggunakan vaksin meningitis yang halal dari sapi.

“Jadi sudah seharusnya pemerintah pusat, khususnya Departemen Agama segera mencari alternatif pengganti vaksin meningitis yang tidak mengandung binatang babi.”

Nasruddin mengatakan, jika produk makanan, obat-obatan serta kosmetik mengandung bahan yang tidak halal maka akan menghambat bahkan menyebabkan ibadah umat Islam sia-sia. “Ini harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang marak beredar makanan yang berasal dari daging babi,” tambahnya.

Terhadap para jemaah haji yang telah menggunakan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi tersebut, Ketua MUI Sumsel menjelaskan, masuknya zat haram ke dalam tubuh para calon jemaah haji  itu berakibat menghalangi kemabruran hajinya. Sebab syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga.

“Kalau tubuh kita kemasukan zat yang diharamkan maka dapat menghalangi terkabulnya doa. Tapi bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap dilaksanakan,” tegasnya./oed/itz

MUI Sumsel Yakini Vaksin Meningistis untuk Calhaj Haram

http://republika.co.id/berita/46652/MUI_Sumsel_Yakini_Vaksin_Meningistis_untuk_Calhaj_Haram

MUI Sumsel Yakini Vaksin Meningistis untuk Calhaj Haram

By Republika Newsroom

Senin, 27 April 2009 pukul 11:42:00

PALEMBANG — Majelis Ulama Indonesia Sumatera Selatan (MUI Sumsel) tetap pada sikapnya, meyakini bahwa vaksin meningitis yang digunakan untuk calon jemaah haji atau umrah tersebut haram karena mengandung enzim yang berasal dari binatang babi. Ketua MUI Sumsel KH Sodikun, Senin (27/4) menegaskan, apa yang disampaikan LPPOM MUI Sumsel bersama para pakar sudah melalui diskusi dan pengkajian. “Hasil kajian MUI Sumsel ini sudah kami sampaikan ke MUI pusat melalui forum Rakernas MUI pada November 2008 di Jakarta. Namun apa yang kami sampaikan sampai kini belum ada respon baik dari Menteri Agama dan Menteri Kesehatan,” ujarnya. Menurut Sekretaris MUI Sumsel KH Ayik Farid, “Dalam Rakernas MUI sudah kami sampaikan bahwa proses pembuatan vaksin meningitis tersebut menggunakan enzim porchin dari binatang babi. LPPOM MUI Pusat juga sudah mengakui itu, namun karena sudah ada kontrak pengadaan vaksin tersebut selama lima tahun maka penggunaannya tidak bisa diganti.” Ayik Farid juga mengakui, bahwa temuan MUI Sumsel tersebut sudah melewati forum diskusi dengan para pakar, diantaranya pakar farmakologi Prof Dr T Kamaluddin Ketua Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya (Unsri), pakar penyakit dalam dan pakar dokter anak. “Jadi apa yang kami sampaikan tentang vaksin meningitis yang mengandung enzim babi bukan tanpa melalui kajian. Kajian ini sudah kami sampaikan ke MUI Pusat melalui forum Rekernas MUI pada Novermber 2008. MUI Sumsel bukan ingin membuat keresahan di tengah masyarakat. MUI Sumsel berharap masalah ini segera menjadi perhatian serius Departemen Agama dan Departemen Kesehatan,” tambah Sodikun. Sementara itu Prof Nasruddin Iljas Ketua LPPOM MUI Sumsel menjelaskan, negara lain seperti Malaysia telah menggunakan vaksin meningitis yang halal dari sapi. “Jadi sudah seharusnya pemerintah pusat, khususnya Departemen Agama segera mencari alternatif pengganti vaksin meningitis yang tidak mengandung binatang babi.” Nasruddin mengatakan, jika produk makanan, obat-obatan serta kosmetik mengandung bahan yang tidak halal maka akan menghambat bahkan menyebabkan ibadah umat Islam sia-sia. “Ini harus menjadi perhatian. Apalagi sekarang marak beredar makanan yang berasal dari daging babi,” tambahnya. Terhadap para jemaah haji yang telah menggunakan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi tersebut, Ketua MUI Sumsel menjelaskan, masuknya zat haram ke dalam tubuh para calon jemaah haji itu berakibat menghalangi kemabruran hajinya. Sebab syarat mabrurnya haji, selain bersih secara jiwa, para jamaah haji juga harus bersih secara raga. “Kalau tubuh kita kemasukan zat yang diharamkan maka dapat menghalangi terkabulnya doa. Tapi bagi mereka yang tidak tahu bisa dimaafkan, yang berdosa adalah orang yang mengambil kebijakan dan mengetahui hal itu tapi tetap dilaksanakan,” tegasnya. oed/fif

Ekstrak Meniran Terbukti Cegah Influenza Jemaah Haji

Ekstrak Meniran Terbukti Cegah Influenza Jemaah Haji
Senin, 30 Maret 2009 | 23:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemberian Phyllanthus niruri atau ekstrak meniran bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko Penyakit influenza-like illness (ILI) pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.

Demikian paparan DR.Masdalina Pane, SKM, MKes dan koleganya yang meneliti khasiat meniran untuk mencegah ILI pada jemaah haji Indonesia dari subdirektorat kesehatan haji Depkes RI di Jakarta, Senin (30/03).

Isu kesehatan pada jemaah haji Indonesia selalu menjadi topik hangat tiap tahunnya. Penyakit ILI yang merupakan salah satu Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang sering ditemukan pada jemaah haji Indonesia berdasarkan laporan tahunan pelaksanaan haji.

Masdiana menjelaskan influenza-like illness (ILI) secara klinis didefinisikan sebagai ISPA yang disebabkan oleh virus dengan gejala utama batuk kering, demam tinggi sekitar 38,5 derajat celcius, rasa lelah berlebihan, nyeri otot, meriang, demam, sakit kepala, tenggorokan dan hilang nafsu makan.

Ia mengatakan berdasarkan data laporan tahunan penyelenggaran haji, hampir 60% jemaah haji Indonesia tiap tahunnya terkena ISPA, dan 85% nya merupakan ILI dan hanya 15% saja yang benar-benar influenza.

Masdalina mengatakan selama ini jemaah haji Indonesia hanya diberikan vaksin Meningitis meningocous secara gratis sebelum berangkat ke tanah suci. Sementara itu bagi jemaah yang memerlukan vaksin tambahan, biasanya akan diberi vaksin influenza sesuai permintaan jemaah.

Namun menurutnya pemberian vaksin influenza juga tidak dapat mencegah individu terserang ILI, karena strain patogen virus yang menyebabkan ILI berbeda dengan influenzea.

Berangkat dari permasalahan tersebut, maka subdirektorat kesehatan haji Depkes RI bersama dengan Divisi alergi-imunologi klinik departemen penyakit dalam FK UI, RSCM dan didukung oleh PT Dexa Medica mengadakan penelitian dan uji klinis untuk pencegahan ILI pada jemaah haji Indonesia.

dr.Iris Rengganis, SpPD, KAI, salah satu peneliti yang melakukan uji klinis terhadap jemaah haji dari departemen ilmu penyakit dalam FKUI mengatakan penelitian ini dilakukan pada 309 jemaah haji Indonesia tahun 2007/2008(1428 H) dengan kisaran usia 18-65 tahun yang secara klinis dinilai sehat oleh tim kesehatan haji.

“Dalam penelitian ini jemaah dibagi sebara acak menjadi tiga kelompok,” ujar Iris. Kelompok pertama dan kedua hanya diberikan Phyllanthus niruri atau multivitamin saja. Sedangkan kelompok satunya lagi diberikan kombinasi keduanya.

“Produk uji kita berikan dengan dosis dua kali sehari untuk kapsul Phyllanthus niruri 50 mg dan sekali sehari untuk tablet multivitamin selama 40 hari yang meliputi seminggu sebelum berangkat dari tanah air dan selama perjalanan haji,” jelas Iris.

Selama mengikuti penelitian, subyek tidak diperkenankan minum suplemen lainnya. Setelah 40 hari uji coba, selanjutnnya dilakukan evaluasi klinis. Menurut Iris, dari hasil evaluasi klinis didapat data yang menunjukkan pemberian Phyllanthus niruri tunggal kepada kelompok pertama menunjukkan penurunan jumlah jamaah yang terjangkit ILI menjadi 10,5%, kelompok multivitamin tunggal sebesar 12,7 %, dan kelompok kombinasi sebesar hanya 8,1%.

“Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang mendapatkan kombinasi keduanya dapat menekan kemungkinan terkena ILI paling kecil diikuti dengan kelompok yang mendapat meniran tunggal. Baru setelah itu kelompok yang hanya mendapat multivitamin,” tutur Iris.

Menurutnya kesimpulan yang didapat adalah pemberian Phyllanthus niruri bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko ILI pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.

Sementara itu peneliti sub bagian patologi Universitas Airlangga, DR.Drs.Suprapto Maat, MS.Apoteker pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa ekstrak tanaman Phyllantus niruri telah dibuktikan secara klinis oleh peneliti yang bernama Thabrew dapat meningkatkan aktivitas sistem komplemen melalui jalur klasik yang pada akhirnya dapat meningkatkan sitotoksisitas sel natural killer (NK) untuk menambah daya tahan tubuh.

Sayuran Asli Indonesia Kandung Antioksidan Tinggi

Sayuran Asli Indonesia Kandung Antioksidan Tinggi
By Republika Newsroom
Minggu, 22 Maret 2009 pukul 14:41

Sayuran Asli Indonesia Kandung Antioksidan TinggiATHROME.WORDPRESS.COMDaun Katuk Menyehatkan

BOGOR – Kabar gembira bagi para penggemar sayur, dan lalap. Para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menemukan senyawa antioksidan alami dalam sekurangnya 11 macam sayuran “indegenous” atau asli dari Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Juru bicara IPB Ir Henny Windarti, MSi dalam penjelasannya di Bogor, Minggu (22/3) mengemukakan bahwa anggota penelitian tersebut, antara lain Dr Nuri Andarwulan, Ratna Batari, Diny Agustini Sandrasari dan Prof Hanny Wijaya.

Ke-11 sayuran tersebut antara lain, kenikir (Cosmos caudatus), beluntas (Pluchea indica), mangkokan (Nothopanax scutellarium), kecombrang (Nicolaia speciosa Horan), kemangi (Ocimum sanctum), katuk (Sauropus androgynus), kedondong cina (Polyscias pinnata).

Kemudian antaman (Centella asiatica), poh-pohan (Pilea trinervia), daun gingseng (Talinum paniculatum), dan krokot (Portulaca oleracea).

Menurut Nuri Andarwulan, peneliti di Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) IPB, senyawa antioksidan alami itu berupa senyawa fenolik (tokoferol, flavonoid, asam fenolat), senyawa nitrogen (alkaloid, turunan klorofil, asam amino, dan amina), atau karotenoid seperti asam askorbat.

Ia mengatakan bahwa dari hasil penelitian yang dilakukan dan pernah dipaparkan dalam seminar bertema “Natural Antioxidants: Chemistry, Biochemistry and Technology” itu menunjukkan nilai total flavonoid sayur-sayuran indigenous sangat bervariasi.

“Seluruh sampel sayuran indegenous mengandung komponen quercetin,” katanya.

Hasil penelitian yang dilakukan tim menunjukkan bahwa sayuran indegenous yang mempunyai flavonoid tertinggi berturut-turut ialah katuk (831,70 miligram per 100 gram), kenikir (420,85 miligram per 100 gram) dan kedondong cina (358,17 miligram per 100 gram). Sedangkan krokot mempunyai total flavonoid terkecil yaitu 4,05 miligram per 100 gram.

Komponen flavonoid pada daun katuk yang paling dominan adalah kaempferol sebesar 805,48 mi merupakan sayuran dengan nilai total flavonoid tertinggi dibandingkan sayuran indigenous lainnya, kandungan total fenol tertingi justru dimiliki kenikir (1225,88 miligram per 100 gram), diikuti beluntas 1030,03 miligram per 100 gram dan mangkokan 669,30 miligram per 100 gram.

“Nilai total fenol sayur-sayuran indigenous rata-rata jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai total flavonoid-nya. Hal ini menunjukkan di dalam sayur-sayuran tersebut terkandung senyawa fenol lain yang bukan berasal dari flavonol maupun flavone,” katanya.

Sementara itu, peneliti Universitas Tufts di Boston Amerika Serikat Bradley Bolling, PhD mengatakanm antioksidan mengurangi akumulasi produk radikal bebas, menetralisir racun, mencegah inflamasi, dan melindungi penyakit genetik.

Ia mengemukakan bahwa masalah yang sering dijumpai dalam penelitian antioksidan yaitu referensi. Sangat banyak produk para botani, yang kuran valid dalam ukuran kapasitas antioksidan pada klinik. Selain itu juga ada kelemahan kelemahan standar penggunaan ukuran kapasitas antioksidan dan kelemahan data nilai antioksidan pada para botani.

Untuk itu diperlukan strategi memecahkan masalah tersebut, antara lain, data aktivitas antioksidan dengan memperbandingkan produk para botani, mengikuti pemeringkatan pemasukan data. Di samping itu, menyediakan ukuran langsung kapasitas antioksidan dan asses tidak langsung potensi bioaktivitas, dan mengindentifikasi bagaimana dampak metabolisne bioaksi antioksidan.

Penelitan tersebut paling tidak menunjukkan perilaku makan tinggi sayuran, terutama penggemar pecel dan urap, memiliki keuntungan dari senyawa antioksidan tinggi yang dikandung sayur-sayuran tersebut.  Lagi pula jenis sayuran itu tak sulit di dapat. Tak perlu repot bukan? /ant/itz

Semanggi Merah Tangkal Kanker Prostat

Semanggi Merah Tangkal Kanker Prostat
By Republika Newsroom
Senin, 23 Maret 2009 pukul 12:37:00

Semanggi Merah Tangkal Kanker ProstatSEMANGGI MERAH: Kandung Isoflavonoid tinggi

Tak sedikit kaum pria yang takut terkena kanker prostat. Maklum saja penyakit ini tergolong ganas dan mengganggu aktivitas seksual. Kaum adam ingin terhindar dari penyakit ini, dan apapun upaya akan dilakukan untuk menghindari.

Bagi anda yang ingin mencegah kanker prostat datang menghampiri anda, ada baiknya mengikuti saran Dokter Julia Arnold, peneliti dari National Center for Complementary and Alternatif Medicine, National Institute of Health, Amerika Serikat.

Saran yang Julia anjurkan adalah untuk mengonsumsi ekstrak daun semanggi berwarna merah.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Cancer Prevention Research itu menyebutkan tanaman semanggi yang bernama latin Marsilea Drummondii, dari family Marsileaceae, mengandung isofavlon yang berperan meningkatkan level dehidroepiandrosterone (DHEA) yang berperan melindungi kesehatan prostat.

“Hormon itu dapat direkayasa secara laboratorium dengan memberikan isoflavon,” ujar Julia. Kabar gembira bukan? Lagipula semanggi adalah termasuk sayuran khas indonesia. Mengosumsi semanggi tiap hari tentu bukan kiat berat menghindari kanker prostat./naturalherbsguide.com/itz

Tomat, Si Merah Pencegah Kanker

Tomat, Si Merah Pencegah Kanker
By Republika Newsroom
Selasa, 17 Februari 2009 pukul 15:33:00 <!–

Iklan 468x60

–>

Tomat, Si Merah Pencegah KankerCORBISTOMAT: Tomat terutama jenis tomat buah kaya vitamin C vitamin A dan zat antioksidan lycopen yang efektif cegah kanker

JAKARTA – Siapapun pasti mengenal Tomat, tapi tahukan anda bila tomat pun bermacam bentuk. Pertama tomat buah, berwarna merah, berdaging tebal, dengan biji berair dan mudah didapat di pasar tradisional Indonesia sekali pun.

Sementara yang berukuran lebih kecil dan biasanya berwarna oranye kehijauan dan hijau bila belum matang, dikenal sebagal tomat sayur karena kerap digunakan dalam masakan. Selain itu ada juga yang berukuran kecil sebesar kelereng disebut tomat ceri. Jenis tomat ini juga digunakan untuk campuran membuat sambal atau dalam hidangan salad.

Tomat tak hanya sedap untuk masakan, tapi juga berkhasiat untuk kesehatan. Studi yang dimuat di Journal of the National Cancer Institute menguatkan bahwa mengkonsumsi tomat dalam jumlah cukup dapat menurunkan resiko kanker, meski tidak semua  jenis kanker. Dari 72 penelitian yang dilakukan, 57 menyatakan terdapat keterkaitan konsumsi tomat dengan penurunan resiko kanker, demikian menurut keterangan Dr. Edward Giovannucci dari Harvard Medical School.

“Data yang ada hampir semua mengaitkan konsumsi tomat dengan kanker prostat, paru-paru dan sistem pencernaan,” ungkap Giovannucci. Penemuannya juga menunjukan bahwa konsumsi tomat dapat menurunkan resiko kanker lain seperti pankreas, usus besar, payudara dan leher rahim.

“Sangat baik mengkonsumsi tomat sebagai pola makan sehat, seperti konsumsi buah atau sayuran lainnya,”  ungkap Dr Moshe Shike direktur Cancer Prevention and Wellness Program, Cancer Center, New York, kolega Giovannuci.

Giovannucci sendiri melakukan penelitian mengenai tomat dalam bentuk apapun, baik mentah, saus, pasta, sup atau salad. Khasiat ditemukan dalam semua olahan tersebut, penelitian juga menyimpulkan bahwa kandungan manfaat tomat tidak terganggu dengan pemasakan dan pengolahan.

Hanya saja, terkadang tomat dicampur dengan lemak dan gula yang tidak baik bagi kesehatan jika dikonsumsi terlalu banyak. seperti tomat segar dikonsumsi bersamaan dengan keju. Sumber lemak tinggi itulah yang harus dikurangi.

Namun jika dibandingkan dari semua jenisnya tomat, yang paling baik dikonsumsi adalah tomat merah atau tomat buah. Tomat berwarna merah mengandung vitamin C dan vitamin A lima kali lebih banyak dibandingkan dengan tomat sayur. Semakin matang tomat, semakin kaya kandungan vitaminnya. Zat-zat dalam tomat saat dimasak dengan sayuran lain pun tidak hilang malah menghancurkan Radikal Bebas dalam masakan.

Selain vitamin C pigmen merah pada tomat juga mempunyai nilai lebih. Semakin merah tomat semakin banyak mengandung lycopene, nama zat antioksidan yang dapat menghancurkan radikal bebas dalam tubuh akibat rokok, polusi dan sinar ultraviolet. Kandungan  lycopene inilah yang berkhasiat membantu mencegah kerusakan sel–pemicu kanker leher rahim, kanker prostat, kanker perut dan kanker pankreas.

Berbeda dengan sayuran lain yang lebih bermanfaat jika dikonsumsi segar atau bahka mentah, ternyata tomat lebih baik dicampur dengan masakan atau dihancurkan sebelum dikonsumsi. Para peneliti menemukan lycopene yang dikeluarkan pada tomat tersebut lebih banyak dibandingkan bila langsung dimakan tanpa diolah dahulu. Sayangnya, meskipun kandungan lycopennya berlimpah, pasta tomat dan saus tomat yang dijual dipasaran sudah banyak dibubuhi zat aditif seperti pewarna atau pengawet sintetis.

Sangat dianjurkan membuat saus atau pasta tomat sendiri sehingga kandungan bermanfaat tomat tidak tercemari dengan zat-zat berbahaya yang justru memicu rusaknya sel-sel tubuh./cr1/itz

Fakta dibalik Tomat

  1. Rasa asam buah tomat berasal dari asam malik dan asam sitrat
  2. Buah tomat menstimulir keluarnya enzim pencernaan, terutama yang berasal dari pankreas. Guna meningkatkan kerja saluran cerna, minum jus tomat setiap hari sebelum makan
  3. Jus tomat berkasiat tonik bagi penderita yang sedang sakit maupun pada fase penyembuhan.
  4. Pengobatan tradisional Cina membuktikan, tomat mempunyai khasiat pereda demam (antiseptik) dan penawar racun (detoksikan)
  5. Tomat olahan seperti direbus, saus tomat, dan pasta membuat likopen lebih mudah diserap sehingga lebih berkhasiat untuk mencegah kenker prostat dan penyakit jantung.
  6. Waspada bagi orang yang sensitf terhadap tomat, sebab bisa timbul alergi di saluran cerna akibat kandungan saponin, solanin, dan histamin.

Ingin Lebih Kebal? Ayo Santap Jamur

http://www.republika.co.id/berita/37103/Ingin_Lebih_Kebal_Ayo_Santap_Jamur

Ingin Lebih Kebal? Ayo Santap Jamur
By Republika Newsroom
Jumat, 13 Maret 2009 pukul 12:09:00 <!–

Iklan 468x60

–>

<!–

SHARE
RSS

–>

Ingin Lebih Kebal? Ayo Santap JamurCORBIS.COMJAMUR MAITAKE

Mau terhindar dari penyakit kanker? Mulailah menyantap jamur maitake atau oister. Seratus gram perhari atau lebih sangat cukup. Penelitian yang dilakukan Keith Martin Dari Universitas Negara Bagian Arizona, Mesa, AS, membuktikan jamur berkhasiat mencegah kanker.

Dalam penelitian ini Martin menggunakan mencit sebagai binatang percobaan. Beberapa mencit diberi bahan kimia yang dapat menimbulkan peradangan usus besar (kolon). Peradangan tersebut bisa menumbuhkan tumor. Kemudian ia memberikan beberapa jamur dalam kadar berlebih. Ternyata hasil cukup signifikan, para mencit tersebut terhindar dari kerusakan usus.

“Jamur sepertinya bakal menjadi kunci efektif untuk merangsang sistem kekebalan tubuh,” kata Martin seperti yang dikutip oleh reuters.com. Namun ia mengatakan jumlah jamur yang dikonsumsi harus banyak agar hasil yang diperoleh maksimal. Jumlah yang disarankan yakni 100 gram atau 2,5 cangkir perhari.

Kurang dari itu, menurut Martin, meski dikonsumsi lama tidak akan memberi hasil dan belum mengubah sistem imun seseorang. Jadi, tambahkan jamur dalam menu masakan sehari-hari dari sekarang./itz

YLKI: 30 Persen Makanan Indonesia Berbahaya

http://www.republika.co.id/berita/37364/YLKI_30_Persen_Makanan_Indonesia_Berbahaya

YLKI: 30 Persen Makanan Indonesia Berbahaya
By Republika Newsroom
Sabtu, 14 Maret 2009 pukul 04:19:00 <!–

Iklan 468x60

–>

GARUT — Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Pusat, Indah Sukmaningsih menyatakan, sekitar 30 persen (sepertiga) makanan kemasan yang dipasarkan bebas di Indonesia, diindikasikan mengandung zat berbahaya.

Bahkan dari 28 jenis produk makanan yang diteliti lembaganya bersama para akhli dari Universitas Indonesia (UI), ternyata terdapat 10 jenis produk diantaranya terbukti mengandung zat berbahaya seperti melamin dan zat berbahaya lainnya, ungkap Sukmaningsih di Cipanas Garut, Jabar.

Ditemui seusai kegiatan sosialisasi tentang “jangan melahirkan di rumah”, ia juga mengemukakan angka tersebut jika dikonversikan terhadap jumlah produk makanan kemasan yang beredar di Indonesia, nyaris bisa mencapai 30 prosen mengandung zat berbahaya.

Kondisi yang memprihatinkan itu belum termasuk dengan peredaran produk makanan kadaluarsa, yang luput dari kegiatatan pengawasan pemerintah, padahal beragam jenis makanan kadaluarsa mayoritas mengandung bakteri “anaerob”, yang bisa mengakibatkan kematian, katanya.

Terkait hingga kini masih banyaknya beragam produk makanan berbahaya termasuk kadaluarsa yang masih banyak beredar ditengah masyarakat, menurutnya terjadi akibat kelalaian pemerintah dalam mengawasi peredaran barang-barang tersebut.

Malahan lembaga pengawasan milik pemerintah yakni BPOM, selama ini dinilai tidak bekerja secara maksimal, melainkan hanya melakukan pemeriksaan produk makanan yang dibersihkan , sehingga pada hasil pemeriksaan yang dilakukan tidak diketemukan bukti produk tersebut mengandung zat berbahaya.

Diperparah Departemen/ Dinas Perdagangan, yang semestinya dapat menjadi filter dari masuknya produk makanan berbahaya ini, selama ini hanya memerankan diri sebagai pembuat regulasi atau tanpa melakukan aksi yang maksimal untuk menyelamatkan konsumen dari ancaman makanan berbahaya, katanya.

Adanya ketidak sungguhan pemerintah menangani masalah ini, maka diharapkan masyarakat mulai mengerti atau memahami tentang segala produk makanan yang tersedia, agar mereka tidak terjebak dan tergiur untuk mengkonsumsinya.

Namun, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Pusat, Indah Sukmaningsih pada kesempatan tersebut tidak menyebutkan secara detail tentang beragam jenis produk makanan yang dinilai dan dituduhkannya mengandung zat berbahaya. - ant/ahi

Akibat Imunisasi Tetanus, Jiwa Syadiah Terancam

Akibat Imunisasi Tetanus, Jiwa Syadiah Terancam

http://autos.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/02/21/1/194956/akibat-imunisasi-tetanus-jiwa-syadiah-terancam
Sabtu, 21 Februari 2009 – 11:27 wib
Marieska Harya Virdhani – Okezone

Foto: Marieska/okezone

DEPOK – Dokter spesialis anak Rumah Sakit Sentra Medika Depok menyatakan nyawa Syadiah (7), bisa saja melayang apabila tidak mendapatkan pertolongan secepatnya.

Pelajar kelas 1 sekolah dasar itu terpaksa dirawat setelah kondisi kesehatannya terus memburuk, usai mendapat imunisasi tetanus di sekolahnya. Belakangan diketahui, ternyata Syadiah menderita Stepen Jhonson Syndrome.

“Penyakit ini bisa mengancam jiwa,” ujar Indra Sugiarno, dokter spesialis anak RS Sentra Medika yang merawat Syadiah di Depok, Jawa Barat, Sabtu (21/2/2009).

Stepen Jhonson Syndrome didefinisikan sebagai kumpulan gejala yang timbul akibat reaksi hiper sensitifitas tubuh terhadap pengaruh dari luar. “Bisa dari obat-obatan, infeksi, atau hal yang lain,” terangnya.

Gejala awal penyakit ini adalah munculnya bercak-bercak hitam di tubuh yang kemudian berubah menjadi merah. Pada tahap selanjutnya lapisan kulit epidermis dan dermis akan terkelupas akibat penumpukan sel-sel yang mati.

Kendati demikian, masyarakat tidak perlu khawatir mengalami nasib serupa dengan Syadiah karena peluang kejadian kasus ini perbandingannya 1:1 satu juta orang dalam setahun. “Minimnya peluang terjadinya kasus ini karena penyakit diakibatkan kerentanan genetik,” terang dia.

(ful)

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok Pulih

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok Pulih
By Republika Newsroom
Rabu, 04 Maret 2009 pukul 14:34:00 <!–
Iklan 468x60

–>

Pasien Sindrom Stevens-Johnson Depok PulihCORBIS.COM

PEMICU: Salah satu pemicu Sindrom Stevens-Jhonson adalah obat-obatan. Pasien seharusnya mengkonsultasikan setiap obat yang akan dikonsumsi

http://www.republika.co.id/berita/35352/Pasien_Sindrom_Stevens_Johnson_Depok_Pulih

DEPOK-Bocah penderita Stevens-Johnson Syndrome yang sempat diisukan sakit karena diimunisasi TT (tokso tetanus) di Kota Depok, Syadiah (7 tahun) dinyatakan pulih setelah 18 hari dirawat di RS Sentra Medika, Depok. Sementara pengawasan konsumsi obat-obatannya masih diperketat. ”Kondisi terakhir Syadiah memungkinkan untuk berobat jalan dan dinyatakan 99 persen sembuh,” terang dokter spesialis anak RS Sentra Medika yang merawat pasien, Indra Sugiarno, Rabu (4/3). Setelah lepas infus lima hari lalu, ujar Indra, Syadiah langsung dikenalkan makanan padat. Bahkan, kini ia bisa makan hidangan favoritnya, mie instan. Selain itu, dokter kulit RS Sentra Medika masih terus memantau kondisi kulit ari pasien pasca pengelupasan seminggu sekali. Lantaran warna kulit Syadiah tidak rata akibat terkelupas (hipopigmentasi). Saat ditanya tentang penyebab penyakit Syadia, Indra belum bisa memastikan karena ada beberapa faktor pemicu, seperti obat, makanan, genetik serta faktor lainnya yang belum diketahui ilmu medis. Namun, ia memastikan penyakit Syadiah ini bukan disebabkan karena imunisasi. ”Kemungkinan besar Syadiah punya faktor genetik yang menyebabkan dia rentan terkena Stevens-Johnson Syndrome dan dari obat-obatan yang diminum,” terangnya. Maka, orangtua Syadiah harus mengkonsultasikan terlebih dulu obat yang dikonsumsi. Terutama dua jenis obat yang acapkali jadi sumber penyakit ini, yaitu obat antikejang dan antiasam urat. Beruntungnya, resiko fatal sindrom ini pada Syadiah hanya sekitar 30 persen. Sehingga ia bisa pulih lebih cepat dan terhindar dari kondisi yang memberatkan penyakit ini, seperti perlengketan saluran pernafasan dan pencernaan yang saling berhadapan di rongga dalam. Di kesempatan yang sama, Sadiyah yang selama perawatan terkesan takut diekspos, saat jumpa pers kemarin ia mau menjawab pertanyaan wartawan dengan sedikit malu-malu. “Saya besok pengen sekolah dan ketemu teman-teman,” ujarnya. Sementara itu, ayah Syadiah, Prasetyo merasa bersyukur atas kesembuhan putrinya. Ia juga mengaku merasa terbantu dengan penanganan medis RS Sentra Medika yang tanggap serta berterima kasih pada Dinkes Kota Depok yang membantu masalah pembiayaan melalui Jamkesmas. Sebelumnya, kasus Syadiah ini menyeret Dinkes Kota Depok yang dituding tidak mendiagnosa terlebih dulu anak-anak yang ikut imunisasi. Akibatnya, Syadiah yang menjadi salah satu peserta imunisasi tiba-tiba mengalami sakit yang mengakibatkan kulit tubuhnya menghitam dari wajah hingga pangkal paha. c84/itz

MINUM AIR SEMBUHKAN PENYAKIT

MINUM AIR SEMBUHKAN PENYAKIT
By Republika Newsroom
Selasa, 20 Januari 2009 pukul 14:32:00 <!–

Minum Air Sembuhkan Penyakit
AMIN MADANI/ DOK REPUBLIKA

MINUM: Meminum air putih adalah aktivitas yang dibutuhkan tubuh sehari-hari. Dengan metode yang tepat, dapat membantu menyembuhkan penyakit.

JAKARTA– Air adalah salah satu unsur utama dalam membangun makhluk-makhluk hidup. Melalui berbagai riset diketahui persentase air ditubuh manusia mencapai 71%. Angka yang sama dengan kandungan air di permukaan bumi yaitu 71%, sisanya 29% adalah daratan.

Berbagai kegiatan dan gerakan-gerakan interaksi dalam hidup, mulai dari proses pemasukan gizi, pengeluaran kotoran, proses pertumbuhan dan berkembang biak tidak akan terjadi tanpa peran air. Begitu dahsyatnya eksistensi air di kehidupan manusia.

Air juga berperan penting dalam proses menelan makanan, menghaluskan, mencerna, memindahkan dan mendistribusikannya. Bersamaan dengan itu, air juga ikut memperlancar proses penyebaran berbagai zat-zat vitamin, hormon-hormon, unsur-unsur pertahanan serta penyebaran oksigen ke seluruh bagian tubuh, menjaga suhu panas dan kelembaban tubu serta proses-proses hidup lainnya.

Allah SWT berfirman, “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiya 21:30).

Para ahli pengobatan alternatif mengatakan, penderita demam, diabetes atau penyakit-penyakit kronis lainnya akan mendapatkan manfaat dari minum air putih dalam kadar yang mereka butuhkan.

Penulis buku Terapi Air: Keampuhan Air dalam Mengatasi Aneka Penyakit Berdasarkan Wahyu dan Sains, Mahir Hasan Mahmud mengatakan, satu sendok air putih dalam setiap seperempat atau setengah jam akan membantu menyembuhkan banyak penyakit lambung dan usus.

Bagi yang memiliki masalah bau badan juga akan mendapatkan solusi dengan banyak minum air putih. Lebih dari itu, penyuapan satu sendok air putih setiap setengah jam pada orang yang sakit perut, panas tinggi atau dahaga akan banyak membantu.

Dalam bukunya, Mahmud juga menuliskan berbagai riset yang dilakukan oleh salah satu organisasi medis di Jepang menunjukkan, pengobatan dengan air memiliki efektivitas tinggi. Bahkan dalam beberapa kasus penyakit, kesuksesannya bisa mencapai 100%.

Riset-riset yang telah dilakukan antara lain untuk penyakit migrain, tekanan darah tinggi dan rendah, linu persendian, ayann, kegemukan yang disertai debaran jantung yang kencang. Serta batuk, TBC, asma, bronchitis, infeksi selapur otak dan semua penyakit yang berhubungan dengan urin dan hati.

Selain itu, riset dengan pengobatan air juga dilakukan terhadap penyakit kelebihan zat asam dan infeksi pada lambung, disentri, pemantangan, wasir dan rutinitas haid yang tidak teratur pada perempuan.

Dengan metode konsumsi air, hasil riset tentang masa penyembuhan penyakit cukup mencegangkan. Tekanan darah stabil dalam 20 hari, penyakit lambung membaik dalam 10 hari, diabetes semakin stabil dalam 30 hari, TBC sembuh dalam 3 bulan, kanker dalam jangka waktu 6 bulan yang dibuktikan dengan hasil sinar X dan pemeriksaan menyatakan perkembangan yang menggembirakan.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh manfaat maksimal air adalah sebagai berikut:

  • Minum empat gelas air putih begitu terbangun untuk shalat shubuh.
  • Berhenti mengonsumsi makanan selama 45 menit setelah minum air, baru kemudian boleh menyantap sarapan.
  • Berhenti mengonsumsi makanan selama dua jam dalam bentuk apa pun setelah makan pagi, baik berbentuk cair maupun kasar. Hal yang sama juga dilakukan pada jam makan siang dan malam.
  • Setelah makan malam tidak boleh mengonsumsi apa pun.
  • Jika empat gelas air putih dirasa terlalu berat, terutama bagi yang telah lanjut usia, dapat digantikan sedikit demi sedikit dan berhatap sampai dapat menghabiskan empat gelas sekaligus. (ri)

CEGAH PENYAKIT DEGENERATIF DENGAN GANGGANG

CEGAH PENYAKIT DEGENERATIF DENGAN GANGGANG
By Republika Newsroom
Rabu, 23 Juli 2008 pukul 15:20:00

Cegah Penyakit Degeneratif dengan Ganggang

Penyakit degeneratif (penuaan dini), baik kronis maupun tidak, selama ini sering dijumpai menimpa masyarakat modern. Ini akibat sebagian orang tidak merawat tubuh dengan baik dan pola hidup yang tidak sehat. Misalnya, kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol, kurang olah raga, kurang istirahat, stres, makan kurang proporsional, dan pencemaran lingkungan.

Tak ada obat medis yang bisa menyembuhkan penyakit ini secara ilmiah. Namun, penyakit degeneratif nyatanya bisa diminimalisasi dengan Cryptomonadales, sejenis ganggang yang hidup di air tawar bersih dan memiliki kandungan nutrisi lengkap untuk membantu meregenerasi sel-sel yang telah rusak.

Ganggang (algae) Cryptomonadales ditemukan oleh Wang Shun Tee, seorang dosen biodemikal dan guru besar di Ping Tung Technology University Taiwan. Ia telah melakukan riset selama 30 tahun sebelum akhirnya menemukan ganggang tersebut. ”Cryptomonadales adalah ganggang berbentuk elips yang merupakan produk baru yang dikembangkan melalui proses bioteknologi,” ungkap Wang Shun Tee.

Menurut Wang Shun Tee, Cryptomonadales adalah spesies dengan mutu terbaik dari jenis Chlorella sorokiniana. Cryptomonadales, lanjut dia, adalah ganggang (algae) berbentuk elips yang merupakan produk baru hasil penelitian dan pengembangan dari dua jenis ganggang unggul, yakni Chlorella dan Spirulina.

Dia mengaku mengembangbiakkan sendiri Cyptomonadales dengan prosedur, perawatan, dan seleksi yang sangat ketat. ”Cryptomonadales tumbuh sangat cepat, bibit yang stabil, dengan membran sel yang tipis, dan mengandung Cryptomonadales Growth Factor (CGF) yang tinggi, vitamin, dan elemen-elemen langka lainnya,” jelasnya.Cryptomonadales, kata Wang, memerlukan energi solar untuk membawa proses fotosintesis. Artinya, hanya memerlukan udara, air, dan matahari.

Penambahan produksi dari Cryptomonadales di setiap generasi, lanjut dia, dari satu sel dapat menjadi empat dalam waktu 24 jam. ”Perkembangannya cepat sekali dibanding buah atau sayuran yang butuh empat hingga enam bulan untuk panen. Dengan populasi penduduk di dunia yang terus bertambah, ini bakal membantu karena produksinya cepat,” tegasnya.

Wang yang juga direktur utama Chlorella International kemudian mendapat dukungan penuh Departemen Kesehatan Taiwan melalui serangkaian penelitian yang diketuai Prof Ih-Jen Su PhD, alumnus Harvard Medical School USA, serta Dr Chun Chian Yu dari Departemen Mikrobiologi dan Imunologi, dan Prof Shi Dan Jan dari Departemen Bioteknologi, Cheng Kung University, Taiwan. Dari riset itu lahirlah tablet, bubuk, dan ekstrak cairan Cryptomonadales yang sangat cepat diserap tubuh. Selain itu, dalam riset medis juga telah membuktikan bahwa Cryptomonadales mengandung konsentrasi yang tinggi dari asam lemak tak jenuh berkualitas tinggi dan aktivator PPAR (Peroxisome Proliferator Activated Receptors, Micro Lipid Activating Receptor, atau Chlorella Lipid Substance). `’Cryptomonadales juga mengandung konsentrasi protein, karbohidrat, dan asam lemak tak jenuh yang tinggi,” ujar Wang. (eye/rin)

OBAT BATUK BERALKOHOL HARAM

ASAM JAWA, USIR BATUK DEMAM

http://ng.republika.co.id/berita/21105/Asam_Jawa_Usir_Batuk_Demam

By Republika Newsroom
Kamis, 18 Desember 2008 pukul 12:22:00

JAKARTA– Asam jawa banyak digunakan sebagai bumbu masakan. Tak jarang juga digunakan sebagai bahan minuman yang dapat ditemukan pada penjual jamu. Nyatanya buah berbentuk polong dengan rasa asam itu memang memiliki khasiat yang luar biasa bagi tubuh.

Asam Jawa (Tamarindus indica) merupakan sebuah kultivar daerah tropis. Buah asam per 100 gram mengandung kalori sebesar 239 kal, protein 2,8 gram, lemak 0,6 gram, hidrat arang 62,5 gram, kalsium 74 miligram, fosfor 113 miligram, zat besi 0,6 miligram, vitamin A 30 SI, vitamin B1 0,34 miligram, dan vitamin C 2 milgram. Kulit bijinya mengandung phlobatannin dan bijinya mengandung albuminoid , serta pati.

Manfaat asam Jawa antara lain untuk menyembuhkan asma, menyembuhkan batuk, demam, reumatik (nyeri sendi), nyeri haid, alergi, sariawan dan menurunkan berat badan.

Untuk Anda yang menderita asma, rebuslah dua potong kulit asam jawa dan adas dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian disaring. Minum air rebusan dua kali sehari.

Kemudian untuk batuk kering, gunakan buah asam jawa sebanyak tiga polong dan setengah genggam daun saga. Kedua bahan tersebut direbus dengan empat gelas air hingga tinggal satu gelas, kemudian saring dan diminum dua kali sehari tiap pagi dan sore.

Jika anggota keluarga ada yang demam, jangan terburu-buru memberikan obat kimia. Cobalah dengan rebusan dari satu genggam daun asam jawa dan adas. Saring air rebusan dan minum dua kali sehari, pagi sore.

Untuk sakit perut ada beberapa pilihan resep. Resep pertama, tiga polong buah asam jawa yang sudah masak dicampur dengan kapur sirih dan minyak kayu putih. Dicampur merata dan digunakan sebagai obat gosok terutama pada perut. Jika ingin ramuan minuman, seduh tiga polong buah asam jawa dengan satu potong gula aren.

Bisul juga bisa diobati dengan asam jawa. Daging buah asam matang yang sudah diolah dan warnanya hitam, bukan coklat sebesar telur burung puyuh, direndam dalam 1 gelas air sehingga mengembang, lima iris temulawak yang dicuci dulu sebelum diiris, gula aren untuk pemanis. Semuan dididihkan sehingga airnya tinggal setengah. Diminum satu kali sehari sampai sembuh.

Untuk ditempelkan, ambil asam kawak sebesar telur burung puyuh, sedikit garam dan sedikit minyak dicampur dan dilumatkan. Tempelkan ke bisul.

Gatal pada bekas luka yang sudah kering dapat diobati dengan asam kawak yang dilembapkan dengan air matang bersih , lalu digosokkan ke bekas luka yang gatal. Cara lain, satu sendok makan penuh daun asam, sepotong empu kunyit, dicuci, dilumatkan, ditempel ke bekas luka yang gatal. (berbagai sumber/cr1/ri)

Anak Lumpuh Korban Suntik Dokter Jalani Fisioterapi

http://surabaya.detik.com/read/2007/07/19/161031/807056/475/anak-lumpuh-korban-suntik-dokter-jalani-fisioterapi

Kamis, 19/07/2007 16:10 WIB
Anak Lumpuh Korban Suntik Dokter Jalani Fisioterapi
Ryma S – detikSurabaya

Jember – Laili Faradiska Ardila (12) menjalani fisioterapi di RSUD dr Soebandi Jember, Kamis (19/07/07). Anak perempuan itu lumpuh setelah disuntik oleh dokter spesialis THT rumah sakit tersebut, Juli 2003 lalu.

Selama empat tahun Laili menjalani fisioterapi untuk merangsang syaraf-syarafnya agar berfungsi kembali. Laili menjalani fisioterapi seminggu dua kali yakni tiap hari Senin dan Kamis.

Ketika keluar dari ruangan fisioterapi terlihat Laili hanya terbujur kaku di brankar yang akan membawanya ke ambulans. Mulutnya nampak kaku dan terbuka sedikit.

Dibalik selimut yang menutupi badannya, terlihat tanggan kirinya kaku dan agak tertekuk di atas badannya. Saat dipanggil namanya, Laili mengedipkan matanya. Siti Nurhasanah, ibu Laili yang mendampingi selama menjalani fisioterapi tidak mau berkomentar tentang pengobatan anaknya.

Sementara, dokter yang merawat Laili, dr Budi Rahardjo juga tidak mau menjawab kondisi kesehatan Laili karena sedang tugas ke luar kota. “Memang dia saya tangani dan sedang menjalani fisioterapi. Tetapi untuk detailnya saya tidak bisa menjawab karena saya sedang di Jakarta,” kata Budi.

Seperti diberitakan, Laili mengalami kelumpuhan setelah mendapatkan suntikan sebelum operasi amandel 2003 silam. Setelah dua kali disuntik obat anti biaotik, tubuhnya kejang dan langsung tidak sadarkan diri.

Setelah itu tubuhnya kaku dengan organ tubuh seperti tangan dan kaki tidak bisa digerakkan. Dia hanya mampu tergolek di ranjangnya selama empat tahun ini. Dia tidak bisa meneruskan pendidikan dasarnya.

Selain Laili, Ayudyah Sasi,29 warga Kelurahan Sukorejo Kecamatan Sumbersari juga tergolek kaku di atas ranjang. Dia mengalami kelumpuhan tersebut sejak Agustus 2005 paska operasi seksio (caesar) ketika melahirkan anak keduanya di RSUD dr Soebandi Jember. Ayudyah mengalami gangguan motorik sehingga tangan dan kakunya tidak bisa digerakkan, indra pendengaran dan penglihatan juga terganggu.

Ayudyah Sasi dirawat di ruang Anggrek I (bekas kamar Laili) RSUD dr Soebandi selama dua tahun dan Selasa (17/7/2007) lalu baru dipulangkan ke rumahnya. Ayu saat ini menjalani perawatan di rumah.(mar/mar)

3 warga lumpuh setelah diimunisasi

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=24884&Itemid=34

Jumat, 01 Agustus 2008

3 warga lumpuh setelah diimunisasi

KAJEN – Tiga warga Desa Pandanarum, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan mengalami lumpuh permanen. Pihak keluarga menyatakan, korban menderita kelumpuhan setelah diimunisasi polio, namun pernyataan resmi dari pejabat Dinas Kesehatan menyebutkan, penyebab kelumpuhan karena faktor genetik.

Ketiga warga yang mengalami kelumpuhan masing-masing sepasang kakak beradik Muhamad Basuni (15) dan Hasan Bisri (12), keduanya putra Wastari (46), warga Desa Pandanarum RT 6 RW I. Sedangkan seorang lagi bernama Kasturah (55), warga Desa Pandanarum RT 8 RW I. Basuni dan Bisri menderita kelumpuhan sejak balita. Sedangkan Kasturah menunjukkan gejala kelumpuhan sejak usia belasan tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan dr Hasyim Purwadi, Kabag Sosial, Siswoyo SSos, didampingi Ketua Komisi D, HM Safrudin Huna, dan Kepala Desa Pandanarum Zubaidi Ridwan, Kamis siang (31/7), menjenguk ketiga korban dan memberikan santunan berupa uang. Namun, tidak disebutkan berapa besaran uang yang diberikan.

Wastari ditemui ditemui di sela-sela penyantunan, menerangkan, kedua putranya menunjukkan gejala lumpuh setelah demam tinggi usai diberi imunisasi saat kedua anaknya masih balita. Setelah itu, kedua anaknya berangsur-angsur mengalami kelumpuhan. Bahkan anak pertamanya, Muhamad Basuni, kondisinya kini sangat memprihatinkan.

”Kedua anak saya pada tahun 2005 sudah pernah dirawat di puskesmas, namun kami memutuskan pulang karena tidak ada biaya. Saya hanya pekerja serabutan dan harus menghidupi empat orang anak yang masih kecil-kecil,” terang Wastari.

Kasturah kondisinya lebih mengenaskan. Selama puluhan tahun, ia hanya bisa tergolek di tempat tidur di rumah keponakannya yang bekerja sebagai tukang becak.

Menurutnya, ia mengalami gejala kelumpuhan saat usia 13 tahun. Saat itu, ia menderita demam tinggi usai berobat. Ia mengalami kelumpuhan permanen sejak usia 30 tahun.

Bantah malapraktik
Kepala Dinas Kesehatan dr Hasyim Purwadi, membantah jika ketiganya menderita kelumpuhan akibat malapraktik atau pun pascaimunisasi. Menurutnya, ketiga warga tersebut mengalami kelumpuhan karena faktor genetik.

”Kami akan membawa ketiganya ke RSUD Kraton, untuk diperiksa apakah ketiganya kemungkinan bisa difisioterapi. Untuk Hasan Bisri akan diusahakan bantuan alat bantu jalan berupa tripod, sedangkan dua lainnya sudah tidak mungkin dibantu dengan alat bantu jalan,” jelas Hasyim Purwadi.

Kasus kelumpuhan akibat faktor genetik dialami oleh sejumlah warga di Kabupaten Pekalongan, di antaranya Marisah (33), telah meninggal dunia, Mariyah (33), adik Marisah, Warjem (31), adik Mariyah, Caswari (24), Nafisah, dan Inayah (21), semuanya warga Desa Tegalsuruh, Kecamatan Sragi dan masih berhubungan kerabat. haw-bg

Menderita Lumpuh Setelah Jalani Operasi

http://sesama.vivanews.com/news/read/18060-menderita_lumpuh_setelah_jalani_operasi

Menderita Lumpuh Setelah Jalani Operasi
Orang tua Irfan merasa tertipu dengan rumah sakit yang mengoperasi anaknya, penghasilannya dari berdagang tanaman tidak cukup untuk bayar pengacara menuntut rumah sakit.
Jum’at, 26 Desember 2008, 17:15 WIB
Irfansyah menderita kelumpuhan (Inin Nastain/VIVAnews)

VIVAnews – Iri rasanya melihat anak-anak lain begitu riang, dapat berlari, tertawa dan bermain bersama anak-anak kecil lainnya, seperti dulu. Kini, bocah berusia 3,5 tahun itu hanya bisa terdiam dibalik kursi rodanya. Canda, tawa dan bahkan tangis kini tidak lagi terngiang di telinga keluarga pasangan suami isteri, Heri Yudi dan Atik Rohayati.

Sejak menderita kelumpuhan akibat kekurangan oksigen di tempurung otaknya, keluarganya tidak lagi melihat anaknya bersorak,
teriak, dan bermain bersama. Jangankan bergerak, bersuara saja tidak bisa. Saat ini, Irfan praktis menghabiskan hari-harinya di tempat tidur dan kursi Roda.

Kegiatan makan dan buang airpun, Irfan lakukan didua tempat tersebut. Irfan hanya bisa berbaring ditempat tidur. Bahkan, sekali-kali Irfan suka meneteskan air mata merintih kesakitan.

Kedua orang tuanya tidak tahu lagi harus berbuat apa, berbagai cara dan usaha sudah ditempuh. Bahkan mendatangi dinas sosial pemerintah daerah, layaknya pengemis pun sudah dilakoninya. Tetapi, hasilnya hingga kini Irfan masih begitu-begitu saja.

“Dulu anak itu begitu ceria, selalu membuat kami tertawa, bangga dan tenang walaupun hidup kami pas-pasan, sekarang bila melihat anak itu, yang kami lakukan hanya menangis,” ujar Atika ibu kandung Irfan.

Menurut Heri, ayah Irfan, lumpuh yang diderita anaknya bermula saat Irfan sakit panas berkepanjangan. Khawatir dengan kondisinya, Irfan dilarikan ke salah satu rumah sakit di Subang. Namun minimnya peralatan yang kurang memadai, Irfan dirujuk ke Rumah Sakit lain di Bandung yakni RS. Hasan Sadikin.

Dua bulan dirawat, hasilnya cukup menggembirakan, Irfan pun kembali sembuh dari penyakit panasnya. Namun beberapa minggu sepulang dari RS Hasan Sadikin, Irfan kembali terserang panas namun tidak separah seperti sebelumnya.

“Dalam adat kami, kalau ada anak yang sering sakit panas harus di Segan (dipisahkan dengan orang tuanya dalam beberapa waktu). Jadi si Aa (Irfan biasa disebut Aa oleh keluarganya), dibawa sama bibinya, Nani, ke daerah Telukmibing Barat, Tanjung Perak, Surabaya,” kata Heri.

Hasilnya cukup baik, suhu badan kembali normal. Tetapi, entah mengapa, beberapa minggu kemudian, panasnya kembali meningkat, dan Irfan harus menjalani perawatan khusus, di Rumah Sakit Soetomo, Surabaya. Saat itu juga dokter bilang kalau Irfan harus menjalani operasi karena kelainan pada otaknya.

Saat itu tahun 1999, operasi berjalan lancar dan selamat. Usai operasi, Irfan dibawa kembali kerumah, di Tanjung Perak, dengan kondisi badan harus dipasang selang dari pusar hingga ke batok kepala belakang. Dokter bilang, untuk membantu oksigen yang mengalami kekurangan di tempurung kepala Irfan.

“Anehnya setelah dioperasi, Irfan justru mengalami cacat, bukanya sembuh, malah Irfan, tidak bisa jalan, bahkan tidak bisa bicara, seperti orang gagu saja,” tutur Heri.

Dokter RS Hasan Sadikin mendiagnosa bahwa Irfan menderita Ensapalitis, namun pihak RS Hasan Sadikin tidak berani
mengoperasi, karena harus dapat ijin dari RS yang melakukan operasi awal.

Kalaupun harus dioperasi ulang, tidak memungkinkan, mengingat biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Apalagi, ayah Irfan sehari-harinya hanya berdagang tanaman hias di kawasan puncak, yang dikirim temannya dari Majalengka.

Melihat kondisi anaknya yang semakin memprihatinkan, orang tua Irfan menuding pihak rumah sakit di Surabaya yang menyebabkan anaknya lumpuh.

Merasa tertipu dengan pihak rumah sakit yang salah mengoperasi anaknya, keluarga Irfan menuntut keadilan, kasus Irfan diadukan ke Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan (LBHK) untuk menuntut pihak rumah sakit yang mengoperasi Irfan.

“Dengan didampingi dari LBHK, saya menuntut pihak RS. Soetomo, Surabaya. Hasilnya, mereka acuh dan lepas tangan. Tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan kasus yang dialami anak kami,”

Walupun sempat keluarga mendapat kabar, bahwa Kapolwil Jawa Timur sudah mengirim surat ke rumah sakit untuk dimintai keterangan. Tetapi, hingga kini rumah sakit, belum juga merespons panggilan tersebut.

Keluarga pun pasrah, jangankan untuk membayar pengacara menuntut rumah sakit, untuk keperluan pengobatan dan membeli susu sehari-hari harus mengemis sana-sini.

Sampai-sampai, Irfan mengajukan bantuan ke pemerintah daerah, dan Dinas Sosial Subang. Namun lagi-lagi ditolak, dengan berbagai alasan.

Saat ini, dia berharap, ada pengusaha yang mau memberikan bantuannya untuk kesembuhan Irfan, yang sudah bertahun-tahun mengalami kelumpuhan akibat penyakit yang bersarang ditubuhnya.

Irfan yang seharusnya sudah kelas 1 tingkat SLTP, kondisinya  belum terlihat banyak perkembangan. “Teman sebayanya sudah kelas satu SMP. Suka sedih kalau melihat anak-anak lainnya pulang sekolah, kalau dia bisa ngomong, mungkin dia ngomong pengen sekolah,” kata Heri.

Reporter: Inin Nastain | Subang